fanfiction for our soul

Posts tagged “nc-17

ESCAPE {YUNJAE COUPLE STORY} CHAPTER 4/? YAOI


title: escape

author: jung rye sun

length: 4/?

rate: NC 17, AND THIS FANFIC IS CONTAIN OF MPREG!

genre: AU, romance, angst, MPREG,straight, comedy…

DON’T TRY TO READ THIS IF U ARE NOT FUJOSHI!

 

bonjour!!!!!!!!!

this is FAST POST! kekeke……..

gk nyangka banyak yg suka neh ff, #plakk saya

saya bahagia dgn respon kalian #hug satu2

 

ps: karena saya author yg sedang belajar, saya harap kalian bisa benar2 memberikan comment dalam arti kata kalian memberikan sebuah komen kritikkan yang sifatnya membangun saya agar bisa lebih bagus lagi di chapter berikutnya, bukan cuman sekedar bilang “author daebak, lanjut, etc……” saya ingin kalian menumpahkan unek2 kalian yang membuat kalian gk nyaman dgn ff saya, dengan begitu saya bisa memperbaikinya ^^

 

 

***************************************************

 

*jaejoong POV*

 

saat ini hatiku rasanya hancur berkeping-keping, aku tak pernah merasakan rasanya sakit yang sesakit ini. sebuah penolakan…..benar-benar membuatku seakan terpuruk ke dalam jurang yang paling dalam. tatapan wajahnya saat menolakku membuatku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. harusnya aku tak akan merasa sesakit ini, tah aku akan tahu bahwa ia akan menolaknya, tapi tetap saja sakit hati ini begitu dalam.

 

perlahan bulir-bulir air mata mengalir membanjiri pipi ku yang telah basah air mata. akhir-akhir ini aku menjadi lebih sensitive, aku tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. akhir-akhir ini aku sering merasa ingin menangis, padahal aku benci menangis.

 

kuseka air mataku dengan kedua tanganku, kuhela nafasku dalam-dalam. perlahan aku bangkit dari kursi dan melangkahkan kaki dengan gontai. kulihat sekelilingku sepasang ayah dan ibu serta anak mereka sedang bermain dengan begitu bahagia. akankah suatu saat aku akan mengalaminya?

semakin kulihat mereka, semakin menambah rasa sakit dihatiku. kuputuskan untuk kembali ke rumah saja.

 

rintik-rintik hujan perlahan turun, orang-orang berlarian mencari tempat berteduh hanya aku yang berdiam dan tetap berjalan dengan santai. aku bahkan tidak merasakan kedinginan, tubuhku kebas. hujan ini seakan mewakili perasaanku yang sedang sedih. dalam hujan, air mataku mengalir menyatu bersama derasnya rintik hujan. rasa sakit dan kekecewaan bercampur di dalamnya. aku benar-benar hancur saat ini, kim jaejoong yang kini telah rapuh….

 

~~~

 

“hyung!”

junsu membukakan pintu untukku, dia hanya termangu melihatku yang acak-acakkan. tubuhku basah kuyup karena hujan deras yang mengguyur kota. junsu terlihat sangat khawatir, dan menyuruhku untuk cepat-cepat masuk.

“hyung-ahh, kau ini kenapa? basah kuyup seperti ini?! kasihan bayi-mu hyung, kalau kau sakit bagaimana?”

aku hanya terdiam mendengar ocehan junsu, tak satupun pertanyaannya yang dapat kujawab.

“bibirmu biru hyung, kau pasti kedinginan? aku akan membuatkanmu bubur hangat dan susu cokelat okay?”

buru-buru kutarik tangan junsu yang beranjak pergi.

“tidak usah, aku hanya ingin tidur……..”

junsu hanya terdiam dan membiarkanku memasuki kamar. kumasuki kamarku yang sangat gelap, namun kubiarkan lampu tak menyala, aku hanya ingin sendirian, aku hanya ingin merasakan benar-benar sendirian, aku ingin menangis sepuasnya, aku ingin mencurahkan kekesalan dan kemarahanku, biarkan aku menangis, biarkan aku meratapi nasibku yang buruk ini…..

 

“hyung?……kau sudah tidur hyung?…..kau belum makan malam,…..nanti kau sakit hyung!”

kututup telingaku dengan kedua bantal, aku tak mau mendengar suara apapun tidak junsu, yoochun atau changmin.

aku hanya ingin sendiri, benar-benar sendirian.

“baiklah…..jika kau lapar, bilang padaku hyung……”

junsu pun pergi meninggalkan kamar, kupejamkan mataku yang tidak mengantuk. aku tidak tertidur, namun aku hanya memejamkan mataku, memastikan bahwa saat aku membuka mataku semuanya akan kembali seperti dulu.

aku merindukan hidupku yang dulu…………

 

*junsu POV*

 

pagi hari jaejoong hyung yang biasanya akan menyapaku dengan ceria atau mengomeliku hanya diam saja. sejak kemarin dia tak mengatakan sepatah katapun padaku. matanya sembab seperti habis menangis semalaman.

aku yakin ada sesuatu yang sangat penting terjadi kemarin. jaejoong hyung tak pernah memangis seperti itu, aku hanya pernah melihatnya menangis sekali, itu pun saat aku masih kelas 3 SD, dia mangis karena dimarahi umma.

namun sekarang? apa yang menyebabkan ia seperti itu? dia tak pernah mau menceritakan masalahnya padaku.

 

“hyung, kau lapar? kau ingin makan? aku buatkan sarapan ya?”

hyung hanya menggelengan pelan dan mengambil air mineral. melihat hyung seperti ini membuatku merasa iba dengannya.

“hyung, kenapa kau diam saja? kau habis menangis kan?”

namun dia malah mengabaikanku dan berbalik memunggungiku pergi ke kamar. dengan kesal kususul dirinya.

aku harus tahu apa yang membuat hyung seperti ini,

 

“hyung!”

kubuka kamarnya dengan paksa saat dia akan menguncinya. ia hanya menatapku dengan jengkel.

“yak! aku bertanya padamu jawab aku hyung, apa yang membuatmu seperti ini huh?”

dia hanya melengos dan melempar tubuhnya ke tempat tidur.

“HYUNG!”

dengan kesal kuhampiri dirinya, hyung mulai menatapku kesal.

“WAE?! jangan ganggu aku!”

hyung mendorongku dengan kasar hingga terjatuh ke lantai.

“jika kau tidak mau menceritakan padaku, aku akan bilang pada changmin saja!”

dengan kesal kutinggalkan hyung-ku, kudengar teriakkannya dari dalam yang memaki namaku. namun hanya kuhiraukan dan segera ku telephone changmin, saat ini hanya dia yang dapat menangkan hyung-ku.

 

*jaejoong POV*

 

“yak hyung! kenapa kau?”

suara changmin benar-benar mengganggu tidurku. dengan kesal kulirik changmin yang menandangku aneh.

“AISHH, JANGAN GANGGU!”

kulempar bantal itu hingga mengenai wajahnya, bukannya meninggalkanku ia malah mendekat dan duduk disampingku sembari mengelus lembut rambutku.

“wae hyung? kau tidak mungkin menangis jika itu bukan masalah besar”

aku hanya terdiam, entah mengapa mendengar suaranya yang melembut membuat air mataku ingin mengalir lagi.

“bukan urusanmu min….”

ujarku dengan suara terisak, changmin perlahan mengangkat tubuhku. namun aku tidak menolaknya, dihadapkannya wajahku padanya.

“jika kau ingin menangis, mengislah hyung……menangislah di pundakku, jangan ditahan lagi……biarkan aku juga merasakan kesedihanmu hyung…….”

changmin tak pernah berbicara semanis ini padaku sebelumnya, kata-kata membuat sebulir air mata berhasil terjatuh bebas di pipiku.

perlahan ia memelukku hangat, sangat hangat…..aku tak berbicara sepatah katapun padanya, karena hanya isakkan yang berhasil kukeluarkan. hanya tangisan yang mampu mewakili perasaanku saat ini. aku tak pernah sehancur ini.

perlahan ia melepaskan pelukannya dan mengusap air mata di kedua pipiku.

“ceritakan padaku, apapun yang ingin kau ceritakan hyung…..ceritakan agar kau merasa lebih tenang,”

genggaman tangannya yang kuat pada jemari tanganku membuatku perlahan berani mengatakan dan menceritakan semua yang terjadi, terlihat wajahnya yang mulai menegang mendengar ceritaku. aku bercerita padanya layaknya seorang gadis remaja yang baru saja diputusi pacarnya. sebenarnya aku malu, tapi aku hanya ingin sedikit meringankan bebanku.

 

“begitulah min……mungkin memang aku yang salah…….”

perlahan changmin kembali memelukku erat, dia mencium tengkukku dengan lembut. aku tak pernah merasa sehangat ini di dekatnya ternyata changmin sangat menyenangkan.

“kau tidak salah hyung….yunho harus bertanggung jawab, aku berjanji akan membuatnya menyesali perbuatannya……aku akan berbicara lagi dengannya,”

kuhentakkan tubuhnya menjauh dariku,

“tidak! jangan kau berbicara apapun lagi dengannya! biarkan aku sendiri min, aku tak mau sakit hati lagi……”

changmin kembali menggenggam tanganku dengan erat,

“tapi dia harus mengakui janin itu, bagaimanapun juga kelak anakmu adalah penerus klan jung, pewaris tahta jung corp,”

kugelengkan kepalaku kuat-kuat,

“TIDAK! jangan pernah kau katakan apapun lagi padanya tentangku min! jangan ikut campur!”

melihat kemarahan pada mataku, membuat changmin akhirnya luluh dan mau mengikuti apa mauku.

“baiklah…..aku tak akan mengatakannya, tapi kau tidak boleh bersedih seperti ini lagi, aku ingin lihat hyung tersenyum lagi,”

changmin mencubit pipi-ku pelan, aku hanya tersenyum kecil.

 

changmin benar-benar memperlakukan berbeda, dia melindungiku, seakan dia adalah kekasihku. terkadang aku merasa perhatian-nya sangat berlebihan dan aku takut itu akan berdampak buruk padanya. namun, dia selalu mengelak dan berkata “aku melakukannya karena aku sayang padamu hyung!” jika ia sudah berkata begitu, aku tak bisa melarangnya melakukan apa yang ia inginkan. andai changmin adalah ayah anakku pasti aku akan sangat senang.

oohh, tidak! kim jaejoong mengapa kau berpikir seperti itu? aishh…….

 

*changmin POV*

 

saat ini aku berada di sebuah cafe dimana aku berjanji bertemu yunho-hyung. aku tahu jaejoong hyung pasti akan sangat marah padaku jika melakukan hal ini. namun, aku tak bisa membiarkannya menangis terus menerus hanya karena perlakuan kakak sepupu-ku.

“yoo, shim changmin!”

yunho hyung yang ditunggu akhirnya datang juga, ia menyapaku dengan ramah seperti biasanya.

namun hanya kubalas dengan senyum kecil,

“tumben sekali kau mengajakku bertemu? ada apa huh?”

aku tersenyum kecil, dan mengajaknya berbasa-basi sejenak. kami membicarakan bermacam-macam hal, sekaligus melepas rindu satu sama lain, dia juga mulai menceritakan rencana pernikahannya yang tinggal 3 bulan lagi.

aku tahu yunho-hyung sangat mencintai gadis itu, karena yunho hyung awalnya adalah pengagum dari gadis itu.

mendengarnya menceritakan gadis yang bernama jun jihyun itu membuatku memikirkan jaejoong-hyung. jika saat ini ia yang berada dalam posisiku tak terbayang rasa sakit hati yang begitu besar dalam hatinya, pantas saja kemarin ia menangis terus menerus, apalagi dalam kondisi-nya yang seperti itu.

 

“yak, changmin….kupikir pasti ada sesuatu yang akan kau bicarakan?”

perlahan kusesap cappucino di hadapanku, dan kutarik nafas dalam-dalam.

“hyung……kau mengenal kim jaejoong bukan?”

yunho-hyung menatapku dengan kaget, nampaknya dia terlihat sedikit panic.

“errr, tidak terlalu…..kami hanya sebatas tahu saja,”

aku tahu di dalam matanya ia berbohong, tentu ia tahu kim jaejoong.

“ada apa memangnya dengan orang itu?”

yunho-hyung mulai berbicara sedikit sarkastik tanpa menyebut nama jaejoong.

“aku mengajakmu kesini untuk membicarakan tentangnya hyung,”

yunho hanya menatapku bingung, dan kembali terlihat tak perduli.

“aku tahu hubunganmu dengan kim jaejoong, kau yang membuatnya hamil bukan?”

yunho-hyung mulai terlihat gelagapan dan menatapku takut-takut.

“t-tidak, kami tidak saling kenal….hamil? hahaha…….jangan bercanda min, pria seperti dia tak mungkin bisa hamil! dia hanya berbohong saja untuk mencari perhatian,”

BRAKK,

kugebrak meja dihadapanku membuat pengunjung lain spontan menengok ke arah kami.

“jangan jadi pengecut hyung! berani berbuat berani bertanggung jawab! kemana jung yunho yang katanya gentleman itu?! mengapa kau jadi pengecut begini”

yunho-hyung menatapku dengan murka.

“LALU KAU MAU APA HUH?! menyuruhku menikahinya?! kau bercanda! itu tak mungkin dan tak akan pernah terjadi!”

melihat hyung seperti ini rasanya sifat-nya yang baik hati seakan musnah ditelan bumi, dihadapanku saat ini hanya ada jung yunho si brengsek yang lari dari tanggung jawab.

“ya! paling tidak kau mau mengakui anakmu hyung! ANAKMU! itu milikmu hyung!”

yunho menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“TIDAK! itu bukan milikku!! bisa saja dia berbohong! dia menjebakku!”

PLAKK,

dengan kasar kutampar pipinya hingga berdarah.

“meskipun jaejoong hyung seperti itu! tapi dia tak pernah berbohong! apa lagi menyangkut masalah seperti ini! apa salahnya jika kau bertanggung jawab hyung?!”

yunho menatapku dengan murka.

“KAU TAK TAHU CHANGMIN! DIA BRENGSEK! dan aku tak sudi menikahi orang seperti dia! dia benar-benar jahanam changmin!! aku membencinya! sangat membencinya!”

kuhela nafasku dengan berat,

“tapi si brengsek itu mengandung anakmu saat ini hyung!”

yunho hyung menatapku tak percaya, di matanya aku melihat ketidak mampuannya untuk mengelak. namun rasa keras kepala membuatnya seperti ini.

“kau tak tahu min! hidupku hancur karena dia! dan aku tak akan sudi menikahinya! apalagi memiliki anak dengannya! tak akan!”

aku hanya terdiam mendengarnya,

“sebaiknya aku pergi saja sekarang, aku tak ingin membicarakan hal ini! jika kau menginginkan jaejoong ambil saja, nampaknya kau sangat perduli dengan pria itu, nikahi saja dia!”

DEG,

“apa-apaan kau hyung!”

yunho terkekeh pelan dan menatapku tajam.

“aku tahu, ada perasaan lebih dari sekedar teman di matamu min! itu sangat tersirat, jika kau suka ambil saja! aku tak membutuhkannya,”

yunho meninggalkanku dengan santai, aku tak membalasnya rasa kesal memenuhi hatiku.

 

~~~~

 

sepeninggal yunho hyung aku aku hanya terdiam memikirkan kata-katanya. aku tak dapat mengelaknya lagi.

sesungguhnya aku memang menyukai jaejoong hyung, setiap aku melihatnya timbul getar-getar cinta itu. bukan baru-baru ini aku mengalaminya, kurang lebih 15 tahun pertemanan kami aku telah merasakannya.

saat itu usiaku yang 2 tahu lebih muda darinya, dia terlihat sangat keren dia seperti superhero untukku. sosok ayah yang tidak kumiliki sejak kecil, membuatku mengaguminya lebih dalam lagi, hingga membuatku terperosok dan mencintainya.

namun, aku tak pernah berani mengungkapkannya. karena aku tahu dia bukan gay, dan aku tak mau dia membenciku karena aku mengatakan menyukainya. aku bukan sekedar menyukainya……tapi aku benar-benar mencintai sosok kim jaejoong……

 

*flashback*

 

“weekkk, dasar anak orang kaya! anak mami, huuuhh………”

sekomplotan anak yang lebih tua dariku menghampiriku, aku hanya anak yang baru berusia 12 tahun, sedangkan mereka sudah SMP, tubuh mereka juga lebih besar dariku. aku hanya bisa berdoa dan berharap ada sosok yang menolongku.

“sudah! kita ambil saja uang anak ini, pastinya dompetnya tebal!”

mereka dengan kasar menarik dan menggeledan tas-ku, mengeluarkan satu persatu barang yang ada disana dengan kasar. aku tak berkutik hanya menangis karena takut mereka melakukan sesuatu yang buruk padaku.

saat tiba-tiba, sosok anak berkulit putih dengan rambut cepak menghampiri kami. anak itu terlihat nakal dengan penampilannya yang seperti anak berandal, nampaknya anak itu satu sekolah dengan komplotan anak nakal ini. awalanya kupikir mungkin ia adalah ketua komplotan ini, karena saat dia datang komplotan itu terlihat ketakutan.

 

“YAK! beraninya kau memalak anak kecil! cari mati kau!”

dengan gaya-nya yang brandal dia membentak komplotan itu.

“a-ampun boss! ampun……..”

aku hanya ternganga tak percaya, komplotan brandal dengan pakaian menyeramkan seperti mereka takluk pada anak laki-laki ini? padahal dari ukuran tubuh jelas anak laki-laki ini lebih kecil dari mereka. bisa saja mereka mengeroyok 5 lawan 1, tah anak ini cuman sendirian.

“sudah! sana pergi kalian! jika kalian berani mengganggu anak ini! kuhabisi kalian!”

dan komplotan itu pun berlari tunggang langgang menjauhi kami.

 

“hey, kau tidak apa-apa?”

anak laki-laki itu bertanya lembut padaku,

“apa mereka menyakitimu adik kecil?”

aku hanya menggeleng pelan,

“nampaknya mereka membuatmu sedikit terluka,”

dia menyentuh luka kecil pada lututku dengan lembut.

“kau bisa infeksi, ayo aku akan mengobatimu…..”

dengan polos ku ikuti kemanapun dia mengajakku, dia memperlakukanku layaknya aku adalah adiknya sendiri.

ternyata tampang berandalnya tidak sesuai dengan tingkah lakunya, dia sangat baik.

 

*end flashback*

 

sejak hari pertemuan kami itu, aku dan jaejoong hyung semakin dekat. setiap pulang sekolah entah mengapa aku selalu mampir ke sekolahnya, meskipun seringkali aku harus bertemu komplotan anak nakal itu, aku tetap memberanikan diri mengajaknya pulang.

 

saat aku lulus SD, kuputuskan untuk masuk ke sekolah yang sama dengan jaejoong hyung agar aku tetap bisa bersamanya. ternyata dia sangat populer baik dikalangan guru ataupun siswa sekolah. meskipun dia terkenal nakal, namun ternyata dia juga cerdas, dia merupakan juara kelas berturut, calon pemegang sabuk hitam karate, atlet bulu tangkis, dan masih banyak lagi prestasi yang dia torehkan. yang tentunya membuatku semakin mengaguminya,

namun dibalik itu semua ia juga terkenal playboy, aku sering menemuinya sedang menggoda beberapa anak perempuan yang seangkatan denganku, meskipun begitu sikapnya tak membuatku kehilangan respek dengannya. karena, sejak saat itu kami bersahabat sangat dekat, dia menceritakan masalahnya padaku apapun itu aku pasti mengetahuinya, dan aku sangat senang mendengarkannya bercerita meskipun itu terkadang membuat hatiku sakit.

 

seiring berjalannya waktu, kami mulai berpisah karena jaejoong hyung memutuskan tinggal di seoul. akhirnya kami pun hanya bisa berbincang telephone atau internet, bahkan aku sempat kehilangan kontak dengannya hingga 1 tahun lebih.

dan saat kami bertemu kembali jaejoong hyung benar-benar telah berubah. dia sangat tampan, namun sekaligus cantik.

wajahnya yang polos berubah menjadi sedikit lebih keras. tubuhnya yang dulu kurus dan kecil pun terlihat sangat atletis.

dia telah menjadi bintang hallyu, pertemuan kami membuat kami dekat kembali. tapi saat itu aku yang sibuk dengan kuliah dan jaejoong hyung yang sibuk dengan karier-nya membuat kami kembali kehilangan kontak. dan saat bertemu lagi jaejoong hyung telah berusia 23 tahun, tepatnya saat itu ulang tahunnya, dan hari itu jaejoong hyung mengenalkannya pada sahabatnya park yoochun dan adiknya kim junsu. sejak hari itu kami sering bermain ber-4, yoochun yang playboy dan jaejoong hyung terkadang membuat aku dan junsu gemas dengan tingkah mereka. namun, aku tetap saja tak bisa menghilangkan perasaan terlarang itu, aku justru semakin mencintai sosoknya yang cantik saat ini.

 

tapi hatiku kembali hancur saat mendengar berita dia tengah mengandung dan itu adalah hasil perbuatan hyung-ku.

membuatnya yang menghancurkan dirinya sendiri membuatku merasa iba dan berusaha membahagiakannya. aku tahu dia tak akan pernah mencintaiku, tapi setidaknya aku ingin membahagiakannya sebagai sosok yang kucintai. setidaknya cinta tidak harus memiliki….aku mencintainya, tapi bertahan disampingnya adalah yang terpenting saat ini.

 

~~~

 

“gyaaa, changminnie………”

ahjumma memelukku dengan erat saat tahu aku yang mampir ke rumahnya. saat ini aku berada di rumah keluarga jung. tepatnya di rumah jung yunho, aku memutuskan untuk mengatakan hal ini pada ahjumma.

kupikir hanya beliau satu-satunya yang bisa menyadarkan anaknya yang bebal itu.

“minnie, tumben sekali kamu datang kemari? kamu merindukan ahjumma huh?”

ahjumma mencubit hidungku pelan. meskipun usiaku sudah 23 tahun tetapi ahjumma masih saja memperlakukanku layaknya anak berusia 10 tahun, dia bahkan lebih memanjakanku dibanding umma-ku sendiri.

“tentu saja aku merindukan ahjumma……..”

ahjumma hanya tersenyum kecil dan mempersilahkanku beristirahat sejenak.

 

“tadaaa…..minnie, ahjumma memasakkan banyak sekali makanan untukmu! ayo makan yang banyak”

aku paling menyukai berkunjung kerumah ini, karena selain ahjumma sangat baik padaku ia akan memasakkanku beragam makanan yang enak, yang jelas masakannya sangat memanjakan perut.

 

“minnie, tumben sekali kau kemari? pasti ada sesuatu yang ingin kau bicarakan bukan?”

seusai kami duduk-duduk di ruang keluarga sembari mengobrol dan bercerita.

“heummm……..ne……”

ahjumma menatapku dengan tajam, jujur aku gugup mengatakannya. aku hanya bisa berdoa semoga hal ini tidak membuat situasi semakin buruk.

“ahjumma……..aku memiliki seorang teman, namanya kim jaejoong……..”

perlahan kuceritakan satu persatu kronologis kejadian yang terjadi padanya. dan pada akhirnya tentang kehamilan jaejoong hyung yang membuat ahjumma terlihat sangat shock dan tidak percaya. kulihat dimatanya ada perasaan kesal dan tidak terima.

 

“ahjumma apa kau baik-baik saja?”

tanyaku takut-takut padanya yang terlihat menahan amarah mendengar ceritaku. tubuh tua-nya bergetar hebat mungkin menahan air mata.

“yunho…….aku tak percaya putraku melakukan hal menjijikkan itu……..dan mengapa?! mengapa itu dengan seornag pria!! kupikir anakku normal! dia tak akan seperti itu! arrrgggghhhhh……….”

ahjumma terlihat sangat terpukul, tapi lebih baik ia tahu sejak awal tentang semua ini.

setidaknya sakitnya akan sedikit berkurang karena ini di awal.

 

setelah ahjumma merasa sedikit tenang, kupastikan dirinya mau menerima jaejoong hyung. sejujurnya di matanya dia sangat menolak, tapi setelah kuyakinkan bahwa anak yang dikandung jaejoong hyung benar-benar anak jung yunho.

dia pun perlahan mulai luluh dan ingin bertemu jaejoong hyung.

“baiklah……aku ingin bertemu dengannya besok……..bisakah kau memberikan alamatnya padaku?”

dengan sedikit berat hati kuberikan alamat apartemen jaejoong hyung.

 

“terima kasih telah memberi tahu ahjumma changmin…..”

aku hanya tersenyum kecil, mendengarnya.

“aku akan memberikan perhitungan pada jung yunho, tega-teganya dia! padahal dia akan menikah sebentar lagi…….”

dengan lembut kugenggam tangan ahjumma tuk meredakan sedikit emosinya.

kuharap yang kulakukan benar, setidaknya jung yunho harus mau mengakui anak itu.

 

~~~

 

*jaejoong POV*

 

TING…TONG………

suara bell pintu membuatku terbangun dari tidurku, dengan malas aku berjalan dengan gontai menghampiri pintu.

kupikir itu pasti changmin, yoochun atau junsu. kubuka pintu dengan malas, saat aku terbelalak melihat sosok wanita yang sudah cukup tua namun sangat cantik.

 

dia tersenyum kecil padaku, melihatnya yang nampaknya datang bersama bodyguard membuatku berpikir ia pasti orang kaya. namun dia siapa?

“annyeong……jaejoong-sshi?”

mengapa dia tahu namaku?!

“n-ne……”

aku tersenyum kecil meskipun tetap bingung.

“bolehkah aku masuk?”

pertanyaannya membuatku menunduk malu karena ketidak sopanan ku.

“mianhae…..silahkan masuk……”

dia melenggang melewatiku dengan gaya-nya yang sangat anggun.

 

“aku baru menyadari kau juga aktor seperti putraku jaejoong sshi”

pernyataanya membuatku sedikit berpikir, apakah aku mengenal anaknya? diriku yang baru bangun tidur membuat diriku tak seutuhnya sekarang.

“kau mungkin bingung mengapa aku ada disini…….”

dia tersenyum kecil, dan aku hanya menatapnya takut-takut. aku hanya merasakan feeling tidak enak tentang wanita ini.

“kudengar….kau hamil??”

DUAARR,

rasanya seperti ada petir yang menyambarku saat ini, darimana ia tahu?!!

“d-darimana kau tahu?!”

dia hanya tersenyum kecil, dan perlahan mendekat padaku.

“tak penting aku mengetahuinya darimana, aku ibu dari jung yunho……dan janin itu milik anakku bukan?”

GLEK,

aku hanya bisa menelan ludah mendengar pertanyaannya.

“karena hal ini menyangkut keluargaku……..aku akan memastikan janin mu benar-benar milik keluarga jung,

jika kau benar-benar hamil aku ingin melihat buktinya, kita akan melakukan pemeriksaan, kuharap ini buka sebuah kebohongan yang konyol jaejoong sshi,”

cara bicara wanita ini benar-benar mirip dengan putranya, sangat dingin dan kaku. dia bahkan terlihat sedikit menyeramkan.

“kita akan melakukan test, dan kau harus mengikutinya……..karena kau telah mengandung janin yang mungkin penerus dari harta keluarga jung,”

aku tak bisa menolak, wanita ini akan terus memaksa. sejujurnya aku menjadi sangat takut. karena kupikir yang di inginkannya hanyalah anakku, dia hanya menginginkan penerus untuk keluarganya tapi tidak diriku.

aku takut…….sangat takut…….dan aku berharap ketakutanku tidaklah terjadi…………

 

TBC

 

Iklan

BEAUTIFULL ONE EYE {YUNJAE COUPLE STORY} CHAPTER 10/10 END YAOI


title : beautifull one eye

author: jung rye sun

 length: 10/10

 rate:  NC 17

 genre: AU, romance, NC17, MPREG, …..

 WARNING!!! MPREG!!!don’t read this! if u don’t like yaoi!

 

 

Annyeong!!

 

LAST CHAP BABY!!! YEAHHH………hahaha…….

ucapkan selamat tinggal pada ff ini, hohoho……

terakhir neh, gw mau promosi ahhh……

follow me on twitter @anaknyaYunjae

ohya, jangan lupa COMMENT okay?!

neh, ff tamat deh……goodbye my readers wkwkwk………

 

ps: untuk chap ending ini tolong komen panjangan yah ^^ anggap aja hadiah bwt saya, hehehe……..

 

 

***********************************************************************

 

 

♫ hello beautifull by the Jonas brothers

 

 

*jaejoong POV*

 

Kuamati wajahku yang pucat di dalam cermin. Tak terasa setetes air mata mengalir begitu saja  di pipiku.

Wajah itu tidak sesuci dulu, banyak noda yang kasat mata membekas di dalamnya. Bagaikan sebuah gelas bening yang telah retak untuk selamanya, tak dapat kembali lagi meskipun waktu telah diputar.

Kuamati perlahan tanggalan di kalender yang terpatri di dinding kamarku yang kecil. Kulihat lingkaran merah yang kuhiasi dengan spidol. ‘my baby birthday’ jika hari itu tiba, aku merasa sangat bahagia.

Aku bahagia karena aku merasa bayi kecilku tumbuh semakin besar, dan pasti sangat cantik. Meskipun aku tak pernah melihatnya, tapi aku selalu dapat merasakan kehadirannya di setiap mimpiku.

Sekalipun dia tak pernah mengetahui siapa aku, miris…… anakku tak pernah mengenal ibunya.

Tapi akan jauh lebih miris lagi kalau dia tahu siapa ibunya. Aku mulai merasakannya sekarang aku memang belum pantas dan belum sanggup menjadi seorang ibu. Karena aku bukan seorang wanita, dan aku tak bisa bersikap layaknya ibu kebanyakan. Andai tuhan baik padaku, dia tak akan menciptakanku sebagai pria abnormal, bukannya aku tidak bersyukur telah dilahirkan kedunia ini.

Hanya saja aku merasa tuhan salah telah menciptakanku seperti ini, karena seharusnya tidak seperti ini.

 

“tokk…..tokk……”

Suara ketukkan pintu membuyarkan lamunanku. Buru-buru kubersihkan wajahku yang membengkak karena menangis semalaman.

“masuklah!”

Kulihat ternyata junsu yang berdiri di depan pintu seperti biasa dengan senyuman khas-nya.

“waeyo junsu?”

Dia menghampiriku dan memelukku pelan.

“ehh, waeyo?”

Tak seperti biasanya dia terlihat sangat senang. Wajahnya menampilkan kebahagiaan yang luar biasa.

“hyung, I have a good news for you!”

Kuatatap wajahnya yang tersenyum nakal padaku.

“what is it?”

Tiba-tiba dia menjulurkan jari manisnya yang telah berhiaskan cincin berwarna perak keemasan.

Aku tertegun sejenak memandang cincin itu dengan seksama.

“he gave me this ring, is that beautiful?”

Aku mengangguk pelan dan memeluknya erat memberikan selamat.

“su, you should promise me something”

Dia terkekeh pelan mendengar perkataanku.

“what is that?”

Kugenggam perlahan tangannya dan kutunjukkan cincin yang melekat manis di jari manisnya.

“kau lihat tanda cinta itu?”

Dia mengangguk pelan .

“itu tandanya kau miliknya seorang, kau tidak bisa membagi tubuhmu dengan yang lain selain dengannya. Memakai cincin itu bukan hanya hiasan su, itu adalah lambang cinta abadi”

Dia menatap kosong padaku, dan perlahan mata itu mulai berkaca-kaca.

“ne, hyung…… aku tahu”

Aku tertawa kecil melihat wajah kecilnya. Kupeluk dirinya erat. Junsu bukan teman biasa bagiku, dia sahabat dan juga adikku. Kami meniti karir kami susah payah di bar ini. Melewati masalah dan asam pahitnya kehidupan disini bersama. Aku selalu menginginkan sahabatku ini bahagia. Karena aku yakin orang baik seperti dia akan selalu mendapatkan kebahagiaanya.

 

~~~

 

“hyung, kapan kau akan mencari kekasih?”

Junsu tersenyum menggodaku. Aku hanya tertawa pelan mendengar perkataanya.

“aku sedang tidak berminat”

Dia memanyunkan bibirnya sedikit mendengar penolakanku.

“nampaknya kita tak akan bisa mengadakan double date”

Aku tertawa kecil sembari menoyor kepalanya pelan.

“kau ini, aku saja belum punya pasangan. Bagaimana mau double date?”

Dia hanya terkikik pelan dan kembali memainkan cincin di jemarinya itu.

“aku bisa mencarikannya untukmu hyung,”

Dia tersenyum nakal, aku hanya membalasnya dengan gelengan kepala.

“yeah, aku tak butuh, karena aku tahu calonmu selalu yang aneh-aneh junsu”

Dia tertawa pelan mendengar jawabanku.

“karena kau membingungkan hyung, seperfect apapun orang yang kukenalkan padamu, selalu kau bilang, he’s not my type, aigoo…..”

Aku terdiam sejenak mendengar perkatannya. Ya, tak ada satupun sosok yang kuanggap sempurna selain dia. Meskipun dia menyakitiku berkali-kali. Namun, harus kuakui hatiku terlanjur jatuh padanya.

Dan mungkin hingga kapanpun aku tak akan menemukan sosok yang tepat.

“hyung??”

Dia melambaikan tangannya pelan di depan wajahku.

“kenapa kau malah diam??”

Kugelengkan kepalaku kuat-kuat.

“aniya, it’s nothing”

Aku kembali larut ke dalam pikiran-pikiranku yang sedang berkecamuk, hingga kenangan beberapa hari yang lalu terlintas kembali di benakku.

 

~flashback~

 

Pria itu memberikan secarik kertas padaku. Perlahan di dekatkannya dirinya denganku.

“datanglah ke pesta ulang tahun putri kita, aku menunggumu”

Kupandangi secarik kertas tersebut dengan tatapan kosong.

Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan pada hal ini.

“I’ll be waiting for you…..”

Perlahan dia pergi meninggalkanku yang sejak tadi hanya duduk termangu.

Kugenggam kertas kecil dalam genggamanku erat, dadaku rasanya sangat sesak. Seperti ada Sesutu yang memaksa keluar.  Rasanya dadaku begitu sesak hingga ingin menangis. Aku merasa begitu sensitive akhir-akhir ini. Dan aku sangat membenci diriku yang sensitive ini.

 

Ingin rasanya kubuang kertas ini ke tong sampah dan tak mengingat hal itu lagi. Aku tak ingin kehadiranku malah menghancurkan hari terbaik bagi putriku. Aku tak mau dia merasa malu dan kecewa dengan adanya aku. Ya! Aku ibu yang pengecut, bahkan dengan anaknya sendiri. Aku hanya tak mau dia kecewa setelah tahu siapa aku. Karena aku yakin masih banyak wanita diluar sana, yang aku yakin pantas dipanggil umma olehnya. Karena dia gadis baik-baik, dan aku menginginkan dia memiliki orang tua yang sempurna. Aku ingin anakku hidup dengan dunia yang sempurna dan berkecukupan. Aku tak ingin hidupnya menjadi sama denganku. Seorang anak yang tak pernah merasakan belaian kasih sayang orang tuanya. Aku hanya tak mau nasib burukku diulang kembali oleh anakku.

 

 

~end flashback~

 

Kutenggak sebotol minuman beralkhohol hingga tak tersisa. Mood ku yang sedang tidak baik membuatku kembali menjadi pecandu minuman keras. Karena bagiku saat ini tak ada yang lebih baik dari pada minuman yang bisa membuatmu mabuk karena itu dapat sedikit menenangkan pikiranmu yang sedang berkecamuk hebat.

“hyung, kau sudah menghabis 2 botol… kau gila,”

Kulihat yoochun yang sejak tadi menatapku dengan tatapan bingung. Wajahnya mulai sedikit kabur dari pandanganku karena terlalu mabuk. Tanpa memperdulikannya kubuka botol ketiga dan menghabiskannya seperti orang kehausan.

“yak, hyung!!”

Diambilnya botol itu dari bibirku. Dengan marah kugapai-gapai botol yang berada dalam genggamannya itu.

“give it to me!!”

Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“tidak hyung! What’s wrong with you??!”

Kudorong tubuhnya yang berada di hadapanku.

BUAGGH,

“GIVE IT TO ME!!”

Dia menjauhiku perlahan sembari memegang sebelah pipinya yang terkena tonjokkan dariku.

“YOOCHUN-AHH!!”

Teriakku frustasi memanggil namanya yang berlari menjauh.

“AAARRRRGGGGHHHHHH……………………”

Kulempar semua barang yang berada di hadapanku dengan membabi buta. Kulihat mata beberapa orang menatapku bingung. Mereka pasti berpikir sekarang aku adalah orang gila.

Ahhh, aku mau mati saja rasanya.

 

“jae?”

Sebuah suara menyadarkanku dari tidurku.

“kau mabuk??”

Kulihat wajah itu yang terlihat buram di mataku.

“ok, come on! Kau mabuk”

Dia menyeretku paksa masuk kedalam kamarku. Dibantingnya tubuhku diatas kasur.

Dilepaskannya sepatuku dan jaket yang kukenakan. Aku hanya terdiam tak berkutik, mungkin karena sudah terlalu lelah.

“kau ingin kubuatkan susu hangat?”

Ujarnya pelan sembari menatap wajahnku dalam. Aku hanya membalasnya dengan gelengan lemah.

“baiklah, tidur saja….”

Perlahan dia bangun dari sisi tempat tidur dan beranjak meninggalkanku.

“heechul hyung!”

Pria itu berbalik dan kembali menatapku bingung.

“wae?”

Kugoreskan senyuman kecil dibibirku dengan susah payah.

“thanks,”

Dia hanya membalas perkataanku dengan senyuman kecil.

“hyung!…… bisakah kau temani aku disini? Aku tak mau sendiri,”

Pria itu menutup pintu kamar kembali dan urung meninggalkanku. Perlahan dia kembali duduk di sisi tempat tidur disampingku.

“apa masalah yang sedang menimpamu jae?”

Kutatap wajah itu dengan tatapan sendu. Aku ingin menangis sepuas hatiku. Ingin rasanya aku beberkan semua perasaanku pada orang lain. Tapi aku tak tahu bagaimana mengatakannya.

“katakana apa yang terjadi jae?, aku akan mendengarkannya”

Dibelainya pelan tanganku lembut, sebelumnya dia tak pernah sebaik ini padaku. Tapi aku bersyukur bisa lebih dekat pada seniorku yang satu ini.

“hyung, apa perasaanmu jika kau memiliki seorang anak yang tidak pernah kau temui?”

Dia menghela nafasnya berat, perlahan ditatapnya mataku dalam.

“aku tahu dirimu jae. Aku tahu segalanya tentangmu, meskipun kita tidak dekat…….. aku tahu kau memiliki anak. Karena, nasib kita sama jae…..”

Aku terdiam sejenak mencerna setiap kata-kata yang mengalir dari bibirnya.

“aku sama sepertimu jae, takdir kita sama…. Kita terlahir untuk menjalani jalan kehidupan yang sama. Dan semuanya untuk orang yang kita cintai.”

Perlahan kulihat setetes bulir air mata mengalir dari wajah cantiknya.

“kau memiliki anak juga hyung??”

Dia hanya mengangguk pelan sembari tersenyum.

“ne, I have a child too…..”

Tiba-tiba senyumannya kembali menjadi wajah muram.

“tapi anakku tidak bersamaku lagi….”

Kutatap wajahnya dengan tatapan bingung.

“maksudmu hyung?”

Dia tersenyum pahit dan kembali dengan alam pikirannya.

“dia diadopsi dengan keluarga kaya raya setelah beberapa bulan aku melahirkannya, karena aku tak sanggup membiayai dan mengurusnya”

Kugenggam tangannya yang sedikit bergetar.

“kau harusnya bersyukur ayah dari anakmu mau bertanggung jawab dan merawatnya, karena orang itu bahkan tidak mau mengakui anaknya sama sekali,”

Kulihat mata yang selalu hidup itu kini meredup. Sinarnya mulai menghilang seiring cerita yang mengalir dari bibirnya. Aku tak tahu aku masih lebih beruntung daripada dirinya. Setidaknya ayah dari anakku mau merawatnya dengan sepenuh hati. Meskipun aku yang meninggalkannya hingga menjadi single parent.

“hyung……” kugenggam tangannya erat.

“aku yakin, anakmu tumbuh sehat dan bahagia disana…… suatu saat takdir pasti akan mempertemukan kalian,”

Dia tersenyum manis padaku dan memelukku erat.

“jae, ada sesuatu yang dapat kau raih. Mengapa kau melepaskannya begitu saja?”

Kulepaskan pelukannya dan menatapnya dengan tatapan bingung.

“maksudmu hyung?”

Dia kembali tersenyum dan menggenggam tanganku erat.

“kau tahu, hanya orang bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kau bisa bertemu dengannya. Meskipun kau tak mau dia mengakuimu, paling tidak kau bisa hadir dihadapannya sebagai sosok lain.”

Kuatatap wajahnya dalam, mengapa sepertinya dia tahu segalanya tentang diriku?

Dia bahkan tahu tentang masalah yang ingin kukatakan padanya.

“hyung, mengapa kau tahu semua masalahku?”

Dia hanya tertawa kecil mendengar perkataanku.

“entahlah, mungkin karena kita mempunyai naluri yang sama, ahh… lupakanlah,”

Aku hanya tersenyum kecil mendengar pernyataanya.

“hyung, apa aku harus datang ke pesta ulang tahun anakku besok?”

Dia menganggukkan kepalanya mantap.

“tentu, dia melihat siapa kejutan yang akan datang padanya”

Aku merasa sedikit lebih kuat setelah bercerita dengannya. Malam itu kami habiskan dengan saling bercerita tentang kehidupan kita, sekian tahun kami saling mengenal. Baru mala mini kami merasa begitu dekat dan saling menceritakan pahitnya kehidupan yang kami alami. Seperti seseorang yang satu naluri kami tertawa dan menangis bersama. Aku tahu kehidupannya jauh lebih berat daripada diriku. Meninggalkan anaknya yang mungkin telah berusia 10 tahun. Dia tak sekalipun melihat putra kecilnya itu selama bertahun-tahun lamanya. Setidaknya aku tahu, aku masih sedikit lebih beruntung darinya.

Dan aku bersyukur pada tuhan karena itu.

 

~~~

 

Kurapikan pakainku serapih mungkin. Terpatri di cermin diriku yang terlihat sangat rapih dengan kemeja yang terlihat tidak terlalu formal. Meskipun aku hanya akan menghadiri sebuah pesta ulang tahun anak kecil berusia 5 tahun, bagiku ini adalah pesta penting dalam hidupku. Tak henti-hentinya aku tersenyum melihat diriku sendiri dalam cermin itu.

“jae! Are u ready?”

Heechul hyung menampakkan dirinya dari balik pintu dan menatapku sembari tersenyum.

“ne,”

Kukepalkan erat tanganku yang gemetar karena gugup.

Perlahan heechul hyung membimbingku berjalan meninggalkan kamar sembari membantuku membawa koper.

Saat beranjak keluar bar, kulihat yoosu yang sedang bercumbu panas di counter bar.

“ehemm…….”

Melihatku mereka hanya tertawa pelan, dan yoochun kembali melakukan aktiftasnya memberikan kissmark pada leher junsu.

“hyung, k-kau mau kemana?”

Ujarnya yang sedang dimabuk kenikmatan.

“aku mau ke seoul, mungkin beberapa hari, kau harus menggantikan aku junsu,”

Dia hanya mengangguk pelan,

“take care,”

Ujarnya sembari berbisik ditelingaku,

“yeah,……”

Kuatatap yoochun yang sejak tadi masih asyik bermain dengan nafsu akan junsu-nya,

“yak! Park yoochun! Kau tak memberikan salam perpisahan padaku?!”

Dia terkikik pelan mendengar perkataanku,

“mianhae hyung, take care…. Semoga kau menemukan partnermu di seoul,”

Yoosu tertawa pelan,

“aissh! Kalian ini, baiklah aku pergi sekarang”

Kulihat heechul hyung yang sejak tadi tertawa geli melihat kami.

 

~~~

 

Para manusia-manusia sibuk berlalu lalang di bandara keberangkatan pulau jeju.

“jae, take care”

Aku mengangguk pelan, dan memberikan pelukan hangat padanya.

“aku akan jaga diri hyung, tenang saja”

Aku tersenyum manis meyakinkan hyung ku ini.

“hyung, aku harus masuk ke biarding pass sekarang, karena sebentar lagi jam keberangkatan”

Perlahan kulepaskan pelukannya dan berjalan menjauh, kumasuki boarding pass. Perlahan kubalikkan tubuhku untuk melihat hyung terakhir kalinya. Namun, ternayat dia sudah pergi. Aku menghela nafas berat. Ahh, sebentar lagi waktunya tiba.

~~~

 

Kuhirup udara segar yang berada disekitarku. Setelah sekian lama aku meninggalkan kota yang hiruk pikuk ini, kini aku kembali lagi. Kembali ke kota tempat mengalami banyak pengalaman hidup.

Tiba-tiba handphoneku bergetar di saku kemejaku.

‘ddrrrrttt……….drrrttt…………’

“yoboseyo?”

Hening sejenak di seberang sana.

“jae, ini aku yunho……”

DEG,

Ada apa dia meneleponku?

“waeyo?”

Tanyaku heran padanya.

“kau ada dimana sekarang jae?”

“aku berada di seoul sekarang, waeyo? Aku baru tiba,”

“ohh, kau akan menginap dimana?”

Aku terdiam sejenak memikirkan tempat yang tepat.

“mungkin di hotel terdekat, wae?”

Hening sejenak di seberang sana.

“bagaimana jika kau menginap dirumahku?……… errr, itu jika kau mau”

Aku terdiam sejenak memikirkan permintaannya.

“err,….. nampaknya tidak yun, aku masih tak siap”

Terdengar helaan nafasnya yang berat di seberang sana.

“baiklah, aku sudah mengirimkan supir pribadiku untuk mengantarmu selama di seoul”

Aku terdiam sejenak, lalu kutatap sekeliling di sekitarku.

“untuk apa?”

Tanyaku bingung.

“tentu untuk memudahkanmu pabo, ahh……. Yasudah, kau keluar gerbang timur saja, nanti ada supirku yang akan memberikan tanda padamu, bye…”

Dan telepon pun terputus, akhirnya aku  memutuskan pergi ke gate timur. Dan benar saja sesosok pria berpakaian rapih melambaikan tangannya padaku, sembari memanggil namaku. Dia dating bersama sebuah mobil sedan hitam, audi R8.

“tuan kim, silahkan masuk….”

Dia membukakan pintu mobil dengan hormat. Dan menaruh barang-barangku di bagasi.

“gomawo,”

Dia hanya membalas dengan tersenyum kecil.

“kita akan kemana tuan kim?”

Ujarnya yang bersiap menjalankan mobil tersebut.

“ke hotel terdekat dari kediaman tuan jung,”

Supir itu hanya mengangguk pelan dan membawaku pergi meninggalkan bandara.

Sepanjang perjalanan kuamati kota seoul yang terlihat sedikit berubah, aku ingat setiap detail kota ini, karena aku dulu tinggal cukup lama disini, aku melihat toko –toko kecil yang dulu berjejer di pinggir jalan telah menjadi plaza kecil yang terlihat cukup mewah. Semuanya sudah berubah sejak beberapa tahun lalu. Suasana kota yang kurindukan, dan sosok-sosok yang kurindukan. Semuanya ada disini, di kota ini.

Tanpa terasa aku tersenyum kecil mengingat memori kecil yang terlintas dalam benakku.

Aku merindukan segalanya yang berada disini, terutama aku merindukanmu……

 

~~~

Pesta malam ini akhirnya tiba juga. Sebelum pergi kutatap diriku serapih mungkin di kaca.

Setelah kurasa segalanya telah sempurna aku beranjak keluar pintu hotel, saat tiba-tiba.

“jae……”

Sosok tampan itu datang menghampiriku. Wajahnya yang tampan terlihat sangat sempurna dengan balutan jas mahal yang melekat di tubuh kekarnya.

“y-yun…..kau?”

Dia hanya tersenyum manis padaku.

“kau tidak terlihat cantik malam ini jae,…..harus kuakui kau tampan,”

Aku tertawa pelan mendengar leluconnya,

“aku lebih tampan darimu jung yunho,”

Dia mengulurkan tangannya padaku. Aku menatapnya bingung.

“come on mr. kim jaejoong……..”

Kuraih tangan itu perlahan dan membiarkannya menuntun jalanku. Aku tidak merasa rishi saat ini, namun entah mengapa aku begitu bahagia. Dia menuntunku dan membukakan pintu mobil untukku.

Selama perjalanan kami hanya terdiam tak bersuara, karena kami bahkan tak berani saling menatap satu sama lain, hanya suara music yang menghentak yang menemani perjalanan kami. Aku tak ingin bertanya dan tak ingin berbicara, aku hanya ingin berharap saat ini tidak akan berakhir, saat dimana aku berada disampingnya dan merasakan kehangatannya meskipun aku tak berada dalam dekapannya.

Aku ingin membencinya dengan segenap hatiku, namun membencinya bagiku sama saja meletakkan gunung di atas dadaku, dan membuatku gila secara perlahan.

 

~~~

 

Aku berdiri tegang di depan rumah yang terlihat lebih kecil dan minimalis, rumah ini Nampak lebih kecil dari rumah lama yang memang sangat besar. Kulihat rumah itu yang sejak tadi ramai oleh beberapa tamu undangan yang memasuki ruangan satu persatu. Orang-orang mungkin tak akan menyangka ini hanya sebuah pesta ulang tahun bagi anak kecil berusia 5 tahun.

“ayo….”

Yunho menuntunku secara perlahan memasuki mansion besar ini. Pertama kalinya memasuki ruangan ini, kau akan disajikan dengan dekorasi mewah yang dipadukan dengan warna merah muda. Terlihat elegant sekaligus glamour, yunho menarikku ke bagian sisi ruangan pesta.

“yun…. Kau mau membawaku kemana?”

Dia hanya tersenyum kecil.

“kau tidak mau membawakan kue ulang tahun untuknya?”

Aku menatapnya bingung, kulihat segerombolan anak kecil yang sedang berlari-lari asyik bermain bersama. Diantara mereka terlihat gadis kecil yang entah mengapa, aku merasa dia lebih menonjol diantara yang lain,

“jae, kau tebak yang mana jung jiyool?”

Yunho menatap nakal padaku, aku hanya membalasnya sinis. Kutatap wajah mereka satu persatu. Dan ku tatap wajah salah satu gadis kecil yang terlihat lebih mungil, wajahnya sangat menarik. Aku seperti melihat sesuatu dalam dirinya. Apa mungkin dia?

“jae, kau sudah bisa menebaknya?”

Kuanggukan kepalaku pelan,

“aku merasa gadis itu, jung jiyool…….benar bukan?”

Kutunjuk gadis kecil dengan dress merah jambu itu. Yunho hanya tersenyum Nampak mengiyakan.

“naluri seorang ibu memang tak penah salah,”

Aku tersenyum kecil dan kembali menatap kea rah gadis kecilku. Hi, jiyool……

Kau ingat aku? Apa kau mengenaliku?

~~~

 

Yunho memberikanku sebuah kue ulang tahun yang dihiasi ornament boneka khas anak kecil.

“kenapa aku?”

Dia hanya menatapku seakan berkata, sudahlah ikuti saja. Aku hanya mendengus pasrah.

Semua orang sekarang telah berkumpul di ruangan tengah, jiyool yang terlihat sangat senang diantara teman-temannya, dan kulihat Jessica yang mendampinginya berdiri protective di sampingnya. Aku merasa Jessica lebih terlihat sebagai ibunya, tentunya karena dia wanita.

“jae, kau siap?”

Aku mengangguk mantap,

Dan lampu ruangan itu mendadak gelap, ruangan itu menjadi sunyi tanpa suara. Saat tiba-tiba  yunho menyalakan lilin yang ada di atas kue dalam peganganku.

Perlahan semua orang di dalam ruangan itu menyanyikan lagu happy birthday, seolah sebuah pesta besar ruangan mendadak riuh dan ramai, aku berjalan pelan mendekati gadis kecil yang menatap dengan pandangan berbinar-binar melihat kue dalam genggamanku ini. Wajahnya Nampak begitu bahagia, dia tak henti-hentinya tersenyum dan tertawa.

“HAPPY BIRTHDAY JIYOOL-AHH!!”

Yunho memeluk gadis kecil itu dengan erat dan penuh sukacita. Gadis itu hanya terkikik geli melihat tingkah ayahnya. Kuletakkan cake itu didepannya,

“tiup lilin-nya, tiup lilinnya……..”

Ruangan kembali ramai, dan tubuh kecil itu mencoba memandamkan lilin yang ada dihadapannya.

WUSSH……..

Lilin itu padam dalam satu kali tiupan, aku hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah anak ini.

Yunho yang terlihat bahagia memeluk gadis kecil itu penuh sukacita, aku hanya bisa melihatnya dari sini,

Aku pengecut karena tak berani berkata, hi baby….. this is me your mother.

Jessica yang menyadari kehadiranku, manatapku kaget dan tersenyum kecil padaku.

Yunho yang melihatku hanya diam saja, seakan berkata. Apa yang kau lakukan? Kau seharusnya memperkenalkan diri padanya.

Aku tak sanggup berada di hadapannya, aku menjadi pengecut. Aku langsung pergi menjauhkan diriku dari keramaian pesta. Aku memutuskan menghirup udara segar di halaman yang luas. Udara malam yang dingin membuat diriku yang panas sedikit lebih baik.

“jaejoong-sshi,”

Kulihat wanita itu berdiri di hadapanku.

“Jessica?”

Dia hanya tersenyum manis padaku.

“boleh aku duduk disampingmu?”

Aku hanya mengangguk pelan, jujur aku sedikit gugup berada di dekatnya.

Kami hanya terdiam asyik dengan pikiran masing-masing.

“ehh….”

Kami memulai percakapan bersamaan,

“kau duluan Jessica-sshi,”

Namun, dia hanya menggeleng pelan.

“aniya, kau duluan…….”

“tidak kau saja,”

Dia hanya menatapku pasrah.

“mengapa kau meninggalkan ruangan begitu saja? Kau tidak memberikan salam pada jiyool?”

Aku menggelengkan kepalaku pelan.

“tidak,……”

Dia menatapku dengan tatapan tajam.

“waeyo jaejoong shhi?”

Aku tak berani menatap mata itu, karena aku pengecut.

“bukankah kau ingin bertemu dengannya? Kenapa?! Katakana padaku?”

Perlahan air mata mengalir dari mata indah wanita itu. Aku hanya menatapnya kaget.

“kau tahu……… sekuat apapun aku berusaha menggantikan dirimu, semuanya tak pernah sama, mereka tetap menunggumu jaejoong shhi, jiyool menantikan kehadiranmu………”

Dia menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca.

“aku iri padamu, aku iri atas semua yang kau dapatkan. Kau memenangkan kompetisi ini pada akhirnya jaejoong-sshi, semua usahamu untuk bertahan tak sia-sia, yunho terlalu mencintaimu hingga detik ini”

Dadaku terasa sesak mendengar kata-kata itu, apa yang harus kukatakan.

“jaejoong-sshi, ….. aku mengaku kalah darimu, aku memberikan mereka semua padamu, dan…. Kau harus menjaga mereka untukku, promise me,”

Digenggamnya tanganku erat, aku tak bisa berkata apa-apa melihat mata itu.

“kau sudah mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan jaejoong –sshi, aku tahu mereka tak akan pernah menjadi milikku, berjanjilah padaku menjaga mereka, jika tidak……”

Dia menatapku dalam dan tiba-tiba tersenyum manis.

“aku akan mengambil mereka darimu, dan membiarkan mereka tak mengenalmu lagi”

Aku merasa tubuhku gemetaran hebat, aku tak tahu tapi aku hanya ingin menangis.

Diantara sedih dan bahagia, aku sedih karena tak dapat jadi yang terbaik untuk mereka. Namun, bahagia karena mereka masih menginginkanku.

“menangislah jika kau ingin menangis……..”

Jessica memberikan pelukan hangatnya untukku.

“kau mendapatkan suatu hal yang sempurna jae, kau meninggalkannya maka kau orang paling bodoh di dunia ini,”

Perlahan air mata itu mengalir di kedua pipiku. Aku tak tahu, tapi aku hanya ingin menangis saat ini.

Saat aku mendengar cerita-cerita wanita dihadapanku ini. Betapa dia sangat bahagia merawat kedua orang yang penting dalam hidupku. Dia melakukan hal yang seharusnya tak dilakukan olehnya, karena dia begitu menginginkan berada dalam posisiku, aku tak tahu berapa banyak terima kasih yang harus ku ucapkan pada wanita cantik ini. Dia terlalu baik untuk disakiti.

 

~~~

 

Kumasuki ruangan yang mulai sepi itu, tamu-tamu undangan telah meninggalkan pesta satu-persatu.

Jessica menuntunku mendekati jiyool yang sedang terduduk manis dengan boneka teddy bear raksaksa dia gengamannya.

“jiyoolie,”

Gadis kecil itu menatap sekilas dan tersenyum kecil.

“umma!”

Dia memeluk Jessica sangat erat, mendengar gadis itu memanggil Jessica umma, membuatku hatiku sedikit sakit dan merasa terbuang.

Yunho datang menghampiri kami dan tersenyum manis padaku.

“jiyool, ada yang datang membawakanmu hadiah”

Gadis itu menatapku dengan tatapan polosnya,

“hadiah?”

Dia melihat bungkusan kado yang cukup besar dalam genggamanku.

Yunho memberikan isyarat untuk mendekat dengan jiyool.

“errr……. Annyeong,……… jiyool”

Oh, aku pasti terlihat seperti orang bodoh saat ini.

“this is for you,”

Aku menyodorkan sebuah kotak padanya. Dia tersenyum senang menatapku.

“jiyool, kau tidak melupakan sesuatu?”

Yunho mengingatkan jiyool sesuatu.

“ne,….. oppa, gomawo!”

Aku hanya tersenyum kecil. Hey, dia memanggilku oppa? Apa aku terlihat terlalu muda untuk ukuran ahjussi?

“ne, jiyool-ahh……..”

Aku membalasnya dengan senyuman kecil.

Perlahan tangan mungilnya berusaha membukan kotak kado itu dengan susah payah.

“boleh aku membantu?”

Dia hanya mengangguk pelan, aku duduk disamping dirinya dan mengambil kotak itu dari tangannya.

Membuka kotak itu dengan hati-hati dan perlahan.

“wow!”

Gadis kecil itu terlihat sangat kagum dengan kotak kaca berisi kota bersalju di dalamnya.

Di pandanginya hadiah itu lekat-lekat.

Yunho dan Jessica yang melihat kami dari jauh hanya menatap lucu sembari terkiki pelan.

“kau suka jiyool-ahh?”

 

Dia mengangguk pelan,

“gomawo oppa, ini sangat keren!”

Aku tertawa kecil mendengar ocehannya.

“bolehkah oppa memelukmu jiyool?”

Tanyaku memandang gadis kecil itu dengan tatapan lembut. Dia terdiam sejenak lalu, memelukku pelan.

Tanpa kusadari tanganku mendekap tubuh kecil ini dengan erat. Kucium wangi tubuhnya yang kuringdukan selama ini. Tidak pernah berubah…… dia bayi kecilku.

“bolehkah aku memelukmu lebih lama jiyool-ahh…… selama yang aku mau?”

Gadis itu tidak berkutik sedikitpun, dia hanya terdiam dalam dekapanku. Aku merasakannya, aku merasakan dia mulai sadar akan kehadiranku.

“aku mencintaimu jiyool-ahh….. aku merindukanmu…. Mianhae……..”

Ingin rasanya aku tak pernah melepaskan pelukan ini lagi. Biarkanlah jika ajal menjemputku saat ini. Aku akan merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia.

 

~~~

 

Jiyool tertidur dalam dekapanku di tempat tidurnya.  Kutatap sebuah gambar yang diletakkannya di sisi tempat tidur. Gambar seorang ayah dan ibu dengan dirinya di tengah-tengah. Keluarga yang sempurna.

Kuusap lembut rambutnya yang tebal, kukecup pelan keningnya.

‘tokk…tokk…..’

Yunho muncul dari balik pintu dengan senyum mengembang di bibirnya.

“apa aku mengganggu?”

Aku menggeleng dan kembali mengeloni jiyool. Perlahan yunho naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sisi lain tempat tidur jiyool. Seperti yang Nampak dalam gambar itu. Aku, jiyool, yunho……

 

“hei….”

Yunho menatapku dalam dengan tatapan musangnya.

“terima kasih jae,”

Aku mengangguk pelan dan tersenyum manis padanya.

“kau umma terbaik……..”

Dia mengelus pelan rambut tebal jiyool dan perlahan menyentuh jemariku yang juga berada disana.

“aku tak yakin……..”

Yunho menggelengkan kepalanya pelan.

“nope, bagiku kau tetap yang terbaik….”

Aku tersenyum pilu mendengar ucapannya.

“apa kau tak akan membiarkannya mengenalmu?”

Aku menggelengkan kepala kuat-kuat,

“biarlah seperti ini, dia cukup mengenalku oppa-nya…..”

Yunho tertawa kecil mendengar jawabanku.

“oppa? Kau lebih cocok dipanggil ahjumma,”

Aku tersenyum kecil mendengar ejekkannya.

“tanyakan sendiri pada putrimu kenapa memanggilku oppa,”

Dia kembali menatapku dalam, diambilnya tanganku yang berada di rambut jiyool.

Dikecupnya pelan ujung tanganku.

“untukku kau umma-nya, sampai kapanpun jae……..”

Dikecupnya sekali lagi tanganku.

“terima kasih karena telah memberikan anugerah terindah dalam hidupku, kim jaejoong-sshi, aku mencintaimu………..”

Tanpa terasa air mata menetes dari kedua kelopak mataku tanpa permisi.

“biarkan mala mini milik kita bertiga, kumohon hanya malam ini…… biarkan jiyool dengan mimpi indahnya……..”

Dan malam itu kami terlelap dalam satu tempat tidur yang sama. Hal yang selalu kunantikan. Kami tertidur dengan buah hati kami yang berada di tengah kami. Aku tahu saat ini, jiyool sedang bermimpi indah. Karena senyuman tak henti-hentinya menghiasi wajah mungil itu.

Aku hanya berharap kepada tuhan. Biarkan hari ini tak pernah berakhir. Biarkan pagi tak akan pernah datang menjemput. Biarkan mimpi indah ini berlangsung selamanya. Biarkan aku terbuai dalam mimpi indahku bersama orang yang kucintai.

 

~~~

 

Sudah 5 hari aku lalui dengan menetap di seoul, yunho menyuruhku untuk tinggal dirumahnya. Dia memaksaku dengan mmebawa paksa barang-barangku. Aku sangat kaku dengan jiyool, aku akui itu. Namun entah mengapa gadis itu tidak merasa asing padaku. Dia mengajakku bermain layaknya dia mengajak main ayahnya.  Jujur saja aku bahagia dengan sifatnya yang seperti ini, dia mau menerimaku apa adanya, sekalipun dia tak pernah benar-benar tahu siapa aku.

 

Hari ini adalah hari kepulanganku kembali ke pulau jeju, sudah 5 hari lamanya aku meninggalkan pulau itu. Masih ada pekerjaan yang harus kulakukan. Kutenteng koperku yang tak begitu berat karena isinya hanya sedikit. Aku kembali teringat saat-saat itu. Saat aku akan meninggalkan rumah lama dan pergi selamanya dari sini.

 

Yunho telah siap berdiri di depan pintu menantiku. Disana juga ada Jessica yang tersenyum manis sembari menggendong jiyool. Jika aku tak salah lihat, aku melihat jiyool Nampak tidak senang, dia terlihat sedih.  Yunho membantuku membawakan semua barang ke dalam bagasi.

“semuanya siap,a yo berangkat”

Kumasuki mobil dengan gugup, Jessica mempersilahkanku duduk di samping yunho.

Entah mengapa aku merasakan kesediha tergores di wajah mungil putri kecilku itu.

~~~

 

Akhirnya kami sampai di bandara dengan selamat. Sebelum memasuki kawasan boarding pass. Kusempatkan memberikan salam perpisahan pada mereka. Aku merasa sedikit tenang karena ada Jessica di sisi yunho. Karena, aku yakin dia bisa menggantikanku. Karena dia terlihat dengan sukarela.

“yunho- sshi, Jessica-sshi terima kasih atas keremahan kalian menyambut kedatanganku…..”

Yunho hanya membalasnya dengan senyuman kecil, begitupun dengan Jessica.

Kutatap jiyool yang berada di sisi yunho, gadis itu menatapku polos. Seperti ada pikiran yang berkecamuk dalam otaknya.

“jiyool-ahh….. kau tak boleh nakal yah, kapan-kapan oppa akan datang kembali mengunjungimu,”

Kuelus lembut pipinya yang tembam dan merah itu.

Perlahan aku berjalan meninggalkan mereka. Meninggalkan orang yang kucintai.

 

~Author POV~

 

Gadis kecil itu sibuk memflashback semua kata-kata yang dia dengar. Dia berusaha mencerna kembali semuanya dengan baik. Meskipun dia tak mengerti mengapa semua ini terjadi.

Dia menginginkan jaejoong oppanya tetap bersamanya. Dia merasa dia tak ingin kehilangan sosok baru dalam hidupnya itu.

 

~flashback~

 

“jiyool-ahh……….”

Jessica mengusap lembut rambut tebal gadis kecil itu.

“kau rindu umma kandungmu bukan?”

Gadis itu mengangguk mantap.

“kau tahu?……… dia sudah berada sangat dekat denganmu saat ini,”

Jessica tersenyum manis sembari menatap lembut gadis kecil itu.

“katakana sayang padanya, karena dia umma mu, “

Gadis itu menatap bingung pada wanita di sampingnya itu.

“apa umma kandungmu adalah kau?”

Wanita itu hanya menggeleng pelan.

“bukan aku, tapi dia yang memberikanmu hadiah ini…..”

Dia menunjukkan kotak kaca pemberian jaejoong pada gadis itu.

“tell, that u love him…….. he’s ur mother,”

Gadis itu hanya terdiam tidak mengerti apa yang dikatakan wanita itu. Disisi lain itu mungkin hanya pembicaraan biasa sebelum tidur yang sering wanita itu bicarakan. Namun, disisi lain dia juga membenarkan kata-kata wanita itu. Karena dia merasakan perasaan itu. Meski dia tak yakin sekalipun.

 

~end flashback~

 

Perlahan gadi kecil itu mulai mengumpulkan dirinya kembali ke kehidupan nyata.

“jiyool-ahh….. kau tak boleh nakal yah, kapan-kapan oppa akan datang kembali mengunjungimu,”

Perlahan dia merasakan tatapan sedih pria di hadapannya itu. Dia tahu meskipun terlihat tegar, tapi sesungguhnya dia sedang menangis. Dan dia merasakannya, dia merasakan dia tak mau kehilangan pria yang ada dihadapannya ini. Dia tak ingin kehilangan pria ini untuk kedua kalinya. Dia tak ingin kehilangan umma-nya………..

 

~jaejoong POV~

 

Kumasuki pelataran boarding pass dengan perasaan hampa dan kosong. Rasanya kakiku begitu lemas untuk digerakkan. Aku tak sanggup melangkahkan kaki lebih jauh lagi.

Tiba-tiba……

“UMMAAAA………….”

Sebuah jeritan anak kecil yang menangis dikejauhan membuatku terkejut. Dan betapa kagetnya aku anak kecil itu berlari menerobos pintu penjagaan areal masuk boarding pass.

“ummaaa………”

Anak kecil itu berlari padaku dan memeluk kakiku erat.

“ummmaa, jangan pergi……..”

 

Aku berusaha mengembalikan diriku yang tidak seutuhnya disini. Rasanya aku mau pingsan mendengar apa yang diucapkan anak ini. Kuamati gadis kecil itu sekali lagi, dia menggelayut di kakiku sembari menangis. Apa ini benar jiyool??

“jiyool-ahh?? K-kau??”

Kubungkukkan tubuhku menatap wajahnya yang memerah karena menangis.

“apa yang kau katakana tadi?”

Gadis itu menatap dengan tatapan polosnya.

“umma…….”

Tanpa terasa kedua air mataku mengalir begitu saja dikedua pipiku.  Kudekap tubuh kecil itu dengan erat. Kukecup lembut keningnya.

“katakana sekali lagi, sayang……..”

‘umma….’ Kudengar gadis itu berbisik di telingaku. Kupeluk erat gadis kecil itu seakan tak akan kulepas lagi. Kuliahat tatapan orang-orang yang menatap kami bingung. Namun, aku menghiraukannya, kubiarkan waktu ini menjadi milik kami berdua, me and my little baby.

Dari jauh sosok kuat itu menitikkan air matanya melihat pemandangan indah dihadapannya, pemandangan yang selalu dia nantikan selama bertahun-tahun. Jessica tersenyum manis melihat pertemuan keluarga yang sudah lama berpisah itu. Itu bukan apa dan bagaimana, tapi itu semua memang sudah seharusnya, setiap orang memiliki takdirnya sendiri bukan? Kau juga, bersama orang yang kau cintai suatu saat nanti. Kau akan membangun kisah itu dengan caramu sendiri.

 

~~~

 

~7 years later~

 

“ummaa!!!”

Teriakkan histeris itu memenuhi rumah.

“waeyo?!”

Aku kaget melihat putriku yang berdiri ketakutan di depan kamar mandi.

“what’s wrong sweety?”

Ujarku yang tanpa kusadari masih memakai apron, karena aku sedang memasak tadi.

“umma, aku berdarah…….”

Ehh??

Aku memandangnya kaget sekaligus ketakutan.

“huaaa, aku berdarah umma, hiks…..hiks…….”

Aku memandang ngeri kea rah celana yang dia perlihatkan padaku.

“k-kenapa ini?”

Dia hanya menggeleng lemah, perlahan kukumpulkan kembali akal sehatku.

Wait!

Berapa usia anakku sekarang??

Heumm………..

Aha!

Jika dikalkulasi 6 juni besok putriku berusia 12 tahun, berarti tandanya.

“baby, tampaknya umma tahu!”

Anak itu menatap ibunya bingung.

“apa?”

Ibunya tersenyum manis sembari tertawa pelan.

“you are teenager now!! Itu pubertas namanya, itu menstruasi!”

Jiyool menatap ibunya bingung, dia mengingat pelajaran biology yang diajarkan gurunya di sekolah tentang alat reproduksi, kalau tak salah gurunya  memang pernah menjelaskan hal itu padanya.

“jadi! Baby umma, sudah besar sekarang! Itu tandanya, kau memasuki masa gadis-mu, ohh… rasanya baru kemarin aku menggendongmu”

Jiyool memandang ibunya jijik.

“yeah, umma……… kemarin adalah 12 tahun yang lalu,”

Kutatap tajam putri kecilnya yang beranjak dewasa itu.

“ok, aku akan memberi tahu appa mu! Dan kita akan mengadakan pesta, ahahaha…….”

Jiyool menatap ibunya malas, seakan berkata ‘terserah kau saja’

 

~~~

 

“yeobo!”

Terdengar suara jaejoong yang membahana di seberang sana.

“waeyo joongie?”

Ujarnya sedikit kaget, dikiranya ada sesuatu hal yang terjadi.

“kau tahu Sesuatu jung yunho?!”

Yunho mendengus bingung mendengar perkataanku.

“apa?”

Aku tertawa kecil.

“putri kita sudah besar sekarang,”

“maksudmu??”

Yunho membetulkan posisi duduknya di seberang sana.

“dia mengalami haid pertamanya!”

Ujarku sembari tertawa kecil.

“hahahah………lalu bagaimana dia?”

Kubetulkan letak telepon dalam genggamanku.

“awalnya sedikit panic, tapi dia nampaknya mulai berusaha membiasakan diri”

Yunho mengangguka tanda mengerti diseberang sana.

“ya, yeobo!”

“waeyo?”

“jangan pulang malam-malam yah,”

“wae?”

“aishh,”

Jaejoong membenarkan kembali letak telepon dalam genggamannya.

“jika kau pulang malam, hari ini. Kau tak akan dapat jatah sebulan!”

Telepon pun kututup kasar, hahaha………

 

~~~

 

“daddy’s home!!”

Yunho muncul sembari membawakan bunga lily putih.

“this is for you my baby, “

Yunho memberikan bunga itu pada jiyool,

“wae? Kenapa tidak untuk umma?”

Jiyool menatap ayahnya bingung.

“umma sudah terlalu banyak mendapat Bungan dari appa, sekarang saatnya kau yang dapat bunga, anggap saja ini harimu jiyool-ahh…….”

Yunho menatapku dengan tatapan konyolnya.

“baby, aku tidak telat bukan malam ini?”

Aku tertawa kecil mendengar rayuannya.

“tidak, kau tepat waktu…….”

Perlahan dia mulai mencium bibirku ganas terus dan terus berlanjut hingga dia mulai meraba perutku dan punggungku.

“yayaya! Kalian tidak akan membuat adik dihadapanku bukan?!”

Jiyool menatap kami dengan tatapan bingung.

“of course, kau belum cukup umur”

Yunho tertawa kecil menggodanya.

“yeah, itu urusan orang dewasa……. Jangan ganggu aku dengan kegaduhan kalian dikamar,”

Ujarnya menatap kami malas.

“yup,”

Yunho menggendongku alas bridal style ke kamar. Diciuminya leherku dengan ganas sepanjang perjalanan menuju kamar.

Diletakkannya tubuhku yang sudah tak berdaya di atas tempat tidur.

“jae……”

“eummmhh………”

Dia membuaiku kedalam nikmat surgawi dengan memelintir nippleku.

“ayo kita buat adik untuk jiyool,”

Perlahan kubelalakan mataku menatapnya dengan tatapan tajam.

“what?!”

Dia menatapku bingung.

“waeyo?? Kau tak mau”

Kugelengkan kepalaku kuat, aku masih trauma karena melahirkan jiyool meski itu sudah beberapa tahun yang lalu.

“baby kecil kita sudah remaja, dia sudah beranjak dewasa….. rumah ini sepi jae,”

Kutatap wajah tampan yang sudah mulai menua itu.

“aku akan menjagamu kali ini jae, I promise”

Dia membentuk tanda v pada kedua tangannya.

“huffftttt……… baiklah, tuan jung yunho”

Kami tertawa pelan dalam dunia kami saat ini.

 

7 tahun yang lalu setelah kejadian di bandara itu, hidupku berubah. Aku kembali menyandang nama jung jaejoong, kami membesarkan jiyool bersama. Melihatnya tumbuh menjadi gadis yang beranjak dewasa adalah sebuah kepuasan tersendiri. Rasanya aku telah kehilangan waktu 5 tahun bersamanya dan aku sangat menyesalinya, aku mencintai keluargaku. Dan aku ingin memberikan yang terbaik untuk mereka.

Haelmoni, do u look at me now?

Aku bahagia sekarang, aku mengerti apa itu cinta dan keluarga.

Umma jung, apa kau tenang disana?

Aku kembali, aku berjanji akan menjaga jung yunho hingga akhir hayatku.

 

Ahh…….

Bagaimana denganmu?

Kisahmu dimulai dari sekarang bukan?

 

~salam manis mrs.jung

 

 

The End

akhirnyaaaaaaaa……………

selesai sudah fanfic gaje ini!

COMMENT PLEASE! ^^

 

 


ESCAPE {YUNJAE COUPLE STORY} CHAPTER 3/? YAOI


title: escape

author: jung rye sun

length: 3/?

rate: NC 17, AND THIS FANFIC IS CONTAIN OF MPREG!

genre: AU, romance, angst, MPREG,straight, comedy…

DON’T TRY TO READ THIS IF U ARE NOT FUJOSHI!

annyeong!!!

kangen ff ini gak?!

kalo kangen comment yang banyak biar saya gece postingnya, hahaha………..

 

bentar ada yg ketinggalan, follow me on twitter @anaknyaYunjae

 

 

**********************************************************

 

 

*jaejoong POV*

 

“hyung-ahh……”

junsu memandangku dengan tatapan polosnya, aku hanya meliriknya sejenak dan kembali asyik dengan komik dragon ball ditanganku.

“hyung, kenapa kau tidak pada jung yunho? kan, kau bisa menikah dengannya hyung, lalu aku akan memilki kakak ipar yang populer, siapa tahu dia juga bisa membawaku ke dunia entertainment, ahh…….”

junsu tersenyum-senyum aneh, aku yang melihat tingkahnya hanya memanyunkan bibir malas dan melanjutkan bacaanku kembali.

“hyung, kau dengarkan aku tidak sih?!”

aku hanya terus membaca dan mengabaikan protesan-nya.

“yak, hyung!”

dengan kesal junsu mengambil komik yang sedang kubaca, spontan dengan kesal aku berteriak padanya.

“YAK! kau menggangguku saja! ahh, kembalikan komikku!”

junsu yang ketakutan karena kubentak akhirnya mengembalikan komik itu padaku.

“hyung, kau jawablah pertanyaanku! aishh, hyung…..”

aku pun melepaskan pandanganku dari komik yang sedang kubaca, aku paling kesal dengan pertanyaan ini.

“kau tahu kenapa?……….”

kutatap wajah junsu dengan tajam, junsu hanya menggelengkan kepalanya polos.

“karena dia MUSUHKU! mengerti kau? dan dia sangat membenciku! jika aku meminta pertanggung jawaban, dia akan menertawakanku junsu! dan aku tak mau!”

junsu hanya melongo mendengar pernyataanku.

“tapi, jung yunho itu baik hyung……dia tidak seperti hyung!”

HEY! apa maksudnya itu? apa aku jahat?

“maksudmu?!”

junsu hanya tersenyum kecil,

“yunho kan bukan playboy sepertimu hyung, dia sangat baik….lihat saja di tv, dia sering ikut kegiatan sosial……”

junsu terus saja menceritakan kebaikan-kebaikan yunho seakan dia sudah mengenal yunho sejak lama,

aku yang mendengarkannya hanya cemberut melihat adikku yang rasanya tidak melihat apapun kebaikan yang ada pada diriku, apa sih yang kau harus banggakan dari jung yunho? aku masih lebih keren daripada yunho.

“stop! okay?! aku tak mau mendengar kisahmu tentang kebaikan jung yunho, berhenti atau kutendang kau dari rumahku junsu! lebih baik, daripada kau terus menerus menggangguku, kau pergi saja sana jalan-jalan, aku mau sendiri! okay?!”

junsu hanya menatapku dengan kesal, dan melemparkan bantal ke wajahku lalu berlari keluar rumah.

 

apa bagusnya jung yunho? okay, dia baik, dia gentle atau apalah! aku tidak perduli. kenapa mereka bertiga sama saja?

tidak adikku junsu, lalu yoochun dan parahnya changmin juga selalu membela yunho. kalau dia orang baik, dia akan bertanggung jawab tanpa diminta, seenaknya meniduri orang dan sekarang malah mau menikah? apa yang itu dikatakan orang baik?

oh, baiklah aku memang sering melakukan hal itu. tapi kini aku sadar diperlakukan seperti itu sangat tidak menyenangkan.

aku tak pernah benar-benar tahu, hukum karma itu berlaku di dunia. aku ingat sekali mantan-mantanku sering mencaci ku.

“jaejoong, aku bersumpah kau akan merasakan penderitaanku! kau akan merasakan penderitaan yang lebih dalam!”

ya, kata-kata itu kembali terngiang di kepalaku. karma…..ohh, karma…..

paling tidak harusnya tidak memberikan karma yang abnormal seperti ini,

hamil? seorang pria? pria hamil?

dunia akan menertawakanku, yahh……aku tak siap sangat tak siap. andai changmin tidak mengancam akan membunuhku dan menghancurkan karierku, aku pasti sudah menggugurkan bayi ini. si food monster itu benar-benar seorang monster!

dia rajanya para monster-monster, ahhh……changmin!! ingin rasanya aku membunuhmu!

 

~~~

 

dengan malas kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi, kucuci wajahku dengan beberapa kali bilasan air bersih.

perlahan tatapan terhenti menatap wajah yang terpatri di cermin. wajah tampan, sangat tampan. kulitnya putih dan mulus, matanya indah dan besar terlihat sangat dalam, hidungnya yang terukir dengan sempurna. dan tubuhnya yang indah dan atletis. kau tahu? betapa aku sangat mengagumi wajah dalam cermin itu. aku mungkin harus bersyukur pada ayahku yang tampan yang mewariskan wajah itu padaku. ya, wajah sempurna ini kudapatkan dari ayahku yang sangat tampan, ibuku harusnya bersyukur suami-nya dulu orang yang sangat tampan, aku yakin umma tertarik pada appa karena ketampanannya.

 

namun, perlahan tatapan itu terhenti di sebuah gundukkan kecil di bagian perutku. kuhela nafas panjang.

kusentuh gundukkan kecil yang mengeras itu, saat itu juga pesona aura ketampananku berkurang hingga 75%. kandunganku kini sudah memasuki bulan ketiga, dan sebentar lagi aku akan memiliki tubuh yang bengkak mungkin.

 

kukepalkan tanganku erat pada pinggiran washtafel. aku tak siap! aku tak pernah menginginkan semua ini.

aku tak ingin memilikinya, aku ingin menggugurkannya saja. aku tidak membencinya, hanya saja aku tidak menginginkannya. dan jika dia terlahir mungkin saja dia akan membenciku. aku tak mau, lebih baik ia tak pernah ada.

lagipula usiaku masih muda, aku baru 25 tahun. dan aku masih ingin bersenang-senang. bagaimana bisa aku harus memiliki anak? mengurus diriku sendiri saja aku belum becus?

 

“dddrrrttt…..ddrrrttt……..”

tiba-tiba handphone yang ada dalam kantongku bergetar, segera kuangkat dan disana tertera nama changmin.

“ne, changmin? wae?”

ujarku dengan malas,

“hyung, ingat! hari ini jadwal check up bukan? apa kau mau kuantar ke rumah sakit?”

aku mendesah panjang, selama ini changmin-lah yang paling rajin mengingatkanku. membawakanku macam-macam vitamin, bahkan membelikanku susu-susu hamil yang rasanya membuatku ingin muntah.

“errr, yeah! tak usah aku akan pergi sendiri……..”

terdengar hening di seberang sana,

“okay, baiklah…..hati-hati hyung,”

lalu telephone pun terputus, changmin bertindak seakan dia adalah ayah dari bayi ini. diantara ketiga dongsaengku hanya changmin yang mencurahkan perhatian terbesar padaku. meski seringkali kutolak, tetapi changmin tetap saja memaksakan kehendaknya padaku, sehingga terkadang ia terlihat egois dan otoriter.

 

~~~

 

aku terduduk di ruang tunggu menunggu panggilan, untuk menyamarkan identitasku. aku memakai jacket musim dingin dan memakai topi kupluk lengkap dengan masker berwarna putih, aku pun memakai kacamata minus guna semakin menyamarkan identitasku. meskipun kerap kali beberapa orang tampak memerhatikanku tajam, namun biasanya aku akan langsung menjauhkan diri dari mereka.

“nyonya kim jaejoong sekarang giliran anda…..”

WTF! mengapa dia memanggilku nyonya?! aku kan masih laki-laki enak saja dia memanggilku nyonya.

dengan kesal dan menatap suster itu tajam aku berlalu memasuki ruangan dokter.

 

seperti biasanya dokterku yang bernama choi siwon menyambutku dengan hangat. dia adalah dokter yang sangat baik, dia sangat ramah padaku, memperlakukanku layaknya seorang teman. dan dia berjanji menjadi dokter pribadiku sampai aku melahirkan jika aku menginginkan anak ini tetap hidup.

“annyeong, jaejoong-sshi….kau nampak lebih gemuk sekarang”

aku hanya tersenyum kecil, yah tentu aku lebih gemuk kan aku sedang mengandung.

“kau berdandan seperti ninja setiap kali kesini jaejoong-sshi,”

aku hanya tertawa kecil, meski dalam hatiku

“kau bodoh, jelas saja aku begini! bagaimana reputasiku jika orang tahu siapa aku,”

dokter siwon seperti biasa, mengecek tekanan darahku dan mengambil beberapa sample darah. aku hanya terdiam sembari memandangi isi ruangan itu.

 

di meja kerjanya, bukan document penting yang diletakkan disana, tapi banyak sekali foto keluarga. dia seringkali menceritakan betapa cantik istrinya dan sempurnanya dia, dokter siwon terlihat sangat mencintai istri-nya yang memang cantik. dan kau tahu, sang istri ternyata termasuk MANTAN-ku, hahaha…..

ini sungguh mengejutkan, saat aku dalam kunjungan kedua-ku, aku melihat foto istrinya dan mencermatinya dengan seksama, wajahnya memang sangat mirip dengan mantanku yang bernama jung rye sun. lalu, iseng-iseng aku bertanya padanya, dan benar saja nama istrinya memang jung rye sun. aku hanya tersenyum, meskipun aku sangat shock.

lalu ia bertanya, memang ada apa dengan istrinya itu?, dan aku hanya menjawabnya dengan enteng. nampaknya istrimu adalah mantan kekasihku. dan, yaahh…..kami pun mulai bercerita-cerita, dia memaklumi diriku yang memang notabene-nya seorang playboy. tapi mungkin sekarang dia akan tertawa dengan keadaanku.

 

“kondisimu cukup baik jaejoong-sshi, tapi kuharap kau tidak terlalu lelah…ohya, kuharap ayah bayi ini menjagamu dengan baik, karena kandunganmu sebenarnya sangat lemah….”

dia tak tahu saja bahwa aku sendiri tanpa ayah dari bayi ini.

“dokter….aku ingin mengatakan sesuatu padamu…”

aku menundukkan wajahku dalam-dalam, dokter siwon hanya menatapku tajam.

“a-aku….aku…….ingin menggugurkan kandunganku saja, aku tak bisa! aku belum siap!”

wajah dokter siwon berubah menjadi sangat serius, wajahnya sedikit menegang.

“apa kau yakin dengan yang kau katakan?”

aku hanya mengangguk pelan dan mengalihkan pandanganku tak berani menatapnya.

“apakah kau bersungguh-sungguh ingin membunuh anak itu?”

aku hanya terdiam tak sanggup menjawabnya, aku ingin tapi di sisi lain aku juga tidak menginginkannya.

“jaejoong-sshi, apakah kau tidak mau melihat anak itu mentap dunia? apa kau menginginkan hidupmu dihantui rasa bersalah sepanjang hayat-mu? apa kau menginginkan kesendirian dalam hidupmu menjadi lebih lama?”

ya, aku memang sendirian. changmin pernah mengucapkan kalimat yang sama padaku. aku jadi kembali mengingat kata-katanya.

“hyung, kau bilang kau sendirian? kau tak memiliki siapa-siapa? jika anak itu hadir kau tak lagi sendirian hyung? kau akan mulai mengerti untuk apa kau hidup, dan kau tahu alasanmu untuk tetap bertahan? apa kau akan merelakan anak itu pergi sia-sia?”

kalimat changmin saat itu terasa menohokku, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. dan kini pertanyaan sama diajukan kembali padaku.

 

“a-aku tak tahu……”

dokter siwon hanya menatapku dengan tajam, perlahan wajahnya yang keras mulai melembut kembali.

“kau harusnya bersyukur jaejoong-sshi…….kau lihat istriku? dia begitu menginginkan seorang anak, begitupun aku…… kami sudah menikah selama 5 tahun, dan hingga detik ini kami tidak memilki seorang anak. istriku telah divonis tidak akan bisa memiliki anak….”

aku hanya menunduk mendengar penjelasannya,

“dan, kau…..tuhan telah memberikan anugerah terindah dalam kehidupanmu, kau bisa mengandung. dan itu adalah darah dagingmu sendiri, kau tahu diluar sana banyak pasangan yang tak bisa memilki anak dan harus mengadopsi, namun kau…….”

ya, aku memang jahat….tapi aku benar-benar merasa tak akan bisa.

“tetapi jika itu sudah menjadi pilihanmu….aku tak bisa berkata apa-apa, aku hanya berharap kau bisa memikirkannya matang-matang, dunia mu sekarang bukan yang sebenarnya jae….kau akan menemukan arti hidup sebenarnya jika kau membesarkan anak ini,”

aku memang pengecut, aku bersikap seakan aku kuat akan semuanya. tetapi di dalam hati kecilku aku menangis.

katakanlah aku hanya seorang pecundang, tapi inilah aku.

“jaejoong-sshi, maukah kau ikut jalan-jalan denganku sebentar? nampaknya sekarang sudah jam istirahat, aku bisa menunjukkan sesuatu padamu……”

aku hanya mengangguk pelan mengiyakan ajakkan-nya, meskipun aku tak tahu dia akan membawaku kemana.

 

~~~

 

dokter siwon mengajakku mengelilingi bagian rumah sakit, menceritakan bermacam-macam pasien yang ia temui padaku.

yang aku respon dengan sebuah senyuman kecil, aku tak tahu ia ingin membawaku kemana. sampai pada saat ia terhenti dan mengajakku memasuki sebuah laboratorium dan mengajakku menengok ke bagian dalamnya.

disana terdapat banyak sekali bayi-bayi kecil yang baru lahir. aku hanya tersenyum kecil melihat betapa manisnya bayi-bayi kecil itu. tak ada yang jelek, wajah mereka semua sangat mempesona. wajah polos mereka terlihat sangat cute dan begitu suci. ia mengajakku memasuki bagian paling dalam ruangan. disana dokter siwon mengajakku ke tempat tersendiri dimana terdapat seorang bayi yang sangat cantik di sebuah ranjang bayi. bayi itu begitu manis, gerak-geriknya begitu lucu. namun, bayi ini tidak terlihat seperti baru dilahirkan.

 

“annyeong, hee gi…..”

dokter siwon menyapa bayi itu dengan lembut dan menggendong tubuh kecil itu. bibirnya yang mungil bergerak lucu, dia sedkit terisak kecil.

“jae, bayi ini sangat lucu bukan? namanya park hee gi, aku yang memberikan-nya nama, park dari marga ibu-nya”

aku hanya menatap bayi kecil itu, matanya tidak bisa membuka secara sempurna, sungguh manis.

“apa kau ingin menggendongnya?”

“eeh, aku?”

“ya, apa kau tidak ingin mencoba menimang bayi lucu ini?”

dengan gugup dan sedikit takut, ku ulurkan tanganku dan menggendong bayi itu dalam pelukanku.

“kau sangat kaku jaejoong-sshi,”

aku hanya tersenyum kecil, tentu saja aku kan tidak pernah menggendong anak kecil, apalagi anak bayi.

tapi perlahan, rasa kaku pada tanganku mulai menghilang seiring dengan bayi lucu ini yang menggeliat lucu dalam pelukanku.

“dokter, mengapa nampaknya anak ini tidak seperti anak-anak yang baru saja lahir?? dia terlihat sudah cukup besar,”

dokter itu hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaanku.

“ya, usianya memang sudah 2 bulan. dan 2 bulan sudahl lamanya gadis kecil ini hidup sendirian, sebatang kara….”

aku menatap wajah dokter itu bingung,

“gadis kecil ini tak lagi bisa melihat warna-warni dunia, cerahnya matahari dan terangnya bulan, ia tak bisa lagi melihat indahnya dunia ini…….”

apa maksud dokter ini?

“apa maksudmu………..apa……….dia buta?”

dokter itu hanya mengangguk pelan dan menundukkan wajahnya sedih, kutatap wajahnya yang mungill. tepat saat kutatap waja kecil itu, anak itu membuka matanya. mata-nya begitu indah, namuan ada titik putih yang kutemukan disana, benar katanya anak ini memang buta.

“dia buta dan sebatang kara, kasihan gadis kecil ini. dia harus sendirian dalam kegelapan…..tanpa ayah dan ibunya,”

kutatap kembali wajah bayi itu, dia tersenyum kecil. si kecil ini mungkin tidak tahu hidupnya tidaklah akan semudah yang dipikirkannya.

“ibu-nya pergi sesudah melahirkannya, dan sebelumnya dia sempat ingin menggugurkan anak yang ia kandung, dengan alasan ayah bayi ini tidak mau bertanggung jawab dan ia hidup sendirian, dan saat ia menggugurkan anak itu dengan obat-obatan berbahaya, itu justru tidak membuatnya kehilangan anak ini, mungkin semangat bayi kecil ini untuk menatap dunia begitu besar, sehingga ia tetap bertahan…..sehingga saat ia terlahir ia mengalami kerusakan pada matanya akibat obat-obatan yang dikonsumsi ibunya dulu, dan ibunya pun harus meninggalkannya sendirian……”

kembali kutatap bayi kecil dalam gendongaku ini, insting-ku sebagai calon orang tua kembali hidup.

mengapa ibu itu begitu tega sehingga membuat anaknya seperti ini? dan meninggalkan-nya setelah dia melahirkan anaknya? ibu macam apa dirinya?

“jae, jika kau menggugurkan anakmu…..kau jauh lebih jahat daripada ibu itu, setidaknya dia akhirnya mau melahirkan anak ini…..”

aku hanya menunduk dalam, melihat bayi ini membuat rasa takutku semakin besar. aku takut jika aku akan menjadi manusia yang lebih buruk. telah banyak dosa dan kesalahan yang kuperbuat dalam hidupku, dan jika aku menggugurkannya mungkin aku akan menjadi manusia paling jahat.

“jadi apa kau masih menginginkan aborsi?”

DEG,

pertanyaan itu telak mengenaiku……

 

kata-kata jahat changmin pun mulai terngiang-ngiang kembali di kepalaku.

“kau bilang, jika kau memiliki keluarga nanti, kau tidak ingin jadi orang tua seperti orang tuamu kan hyung? kau tidak mau memperlakukan anakmu seperti umma mu, dan kau tidak mau seperti appa-mu yang tidak bertanggung jawab, dan jika kau mau menggugurkan anak itu, sama saja kau lebih buruk daripada mereka hyung, setidaknya mereka masih mengizinkanmu untuk menatap dunia hyung…….”

kata-kata itu begitu dalam tapi memang benar, aku bukan orang yang bisa mengelak tentang hal seperti itu.

 

“jadi bagaimana jaejoong-sshi?”

dokter siwon menatapku dengan lembut. perlahan kutarik nafas dalam-dalam.

“baiklah, aku tidak akan menggugurkannya…….”

dokter siwon tersenyum kecil padaku dan menepuk pelan pundakku.

“oeekkk……oekkk……”

tiba-tiba bayi kecil dalam gendonganku ini menangis keras, aku yang tak terbiasa menjadi panic.

“tenang jaejoong-sshi, coba sebentar aku akan memeriksanya…”

aku hanya terdiam saat dokter itu mengendus pelan bayi itu.

“nampaknya dia buang air besar…..”

MWOYA?!

“apa?!”

aku menatap seram ke arah bayi itu, dokter siwon mengambil bayi kecil itu ke dalam gendongannya dan memanggil seorang suster untuk mengurus bayi itu. kucium tangan kiriku dengan perlahan, dan benar saja, tanganku jadi bau.

ahh…..damn,

“jaejoong-sshi, apa kau tidak ingin belajar mengganti popok? kau bisa ikut dengan suster ini,”

aku hanya menggeleng cepat, gila saja! oh, tidak!

“euumm, tidak….tidak terima kasih,”

dokter siwon hanya tertawa pelan melihat tingkahku,

“suatu saat kau juga akan mengalami situasi itu jaejoong-sshi, kau yang harus menggantikan popok anakmu kelak,”

ahh……..baru saja dia meyakinkanku, dan sekarang aku jadi kembali takut.

oh, tuhan betapa menyedihkannya hidupku…….

 

~~~

 

kugenggam secarik kertas itu dalam genggamanku, karena aku menggenggamnya terlalu keras. bentuknya sekarang sudah mulai tidak layak, di dalam kertas itu tertera sebuah nomor penting. ya, di dalam kertas itu adalah nomor handphone jung yunho yang changmin berikan padaku. aku ingin mengatakan hal ini, tapi di sisi lain aku juga tidak ingin ia tahu, dan aku takut pilihanku ini akan berdampak buruk padaku.

 

dengan takut, perlahan kuhampiri meja telephone, dengan takut-takut dan tangan gemetar ku tekan tuts telephone itu.

nada sambung pun mulai berbunyi, saat itu juga aku berharap ia tak mengangangkatnya, tapi ternyata itu salah.

“yoboseyo? nugu?”

otak-ku mulai berpikir keras menjawab pertanyaannya.

“errr…….annyeong?…….”

“ne, annyeong, siapa ini?”

kutarik nafas dalam-dalam sebelum mengatakannya.

“aku……kim jaejoong…….”

heing sejenak di seberang sana,

“ya, ada apa? darimana kau tahu nomorku?”

aku terdiam sejenak,

“tak penting kau tahu darimana,……..aku…….aku……..err……..”

“ya?”

“bisakah, k-kita bertemu hari ini? aku, ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu……”

yunho terdiam sejenak di seberang sana,

“memang kau ada urusan apa denganku?”

seperti biasa, ia bertanya dengan dingin padaku.

“a-aku……ada yang ingin kubicarakan, kumohon….ini sangat penting yunho-sshi,bisakah kita membicarakannya di cafe terdekat saat makan siang?”

dalam hati aku berdoa agar ia mau mengiyakan ajakanku.

“maaf aku tak ada waktu jaejoong-sshi, aku tak bisa jika kau mengajakku membicarakan hal ini sekarang, hari ini aku harus menuju incheon untuk menjalani pemotretan disana,”

aku menghela nafas pasrah, lalu terlintas ide di benakku.

“baiklah, bagaimana jika di sungai han?? kau dapat sekalian lewat sana untuk pergi menuju incheon. lagipula, aku hanya ingin mengatakan hal ini sebentar saja,”

dia menghela nafas berat,

“mengapa kau begitu memaksa eoh?….baiklah, kita bertemu disana jam 11, aku tidak mau menunggu…jika kau lama aku akan langsung meninggalkanmu,”

belum apa-apa dia sudah mengancamku, dasar jung yunho…..

“ne, arraseo….”

lalu telephone pun ditutup, aku tersenyum kecil. tapi senyumanku memudar kembali. apakah kiranya ia akan menerimaku dan anak ini? setidaknya dia mau mengakui anak ini sudah cukup bagiku…..

 

~~~

 

aku terduduk di tepi sungai han yang indah, aku tak pernah bosan ke tempat ini. tempat yang sangat menyenangkan untuk bersantai. aku memetik bunga-bunga kecil dan mematahkan kelopaknya satu persatu. menunggu jung yunho ternyata sangat menakutkan, jantungku tak berhenti berdetak dan rasanya aku ingin kabur saja, jika mengingat sulit rasanya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengannya lagi.

 

tak lama kemudian sosok yang ditunggu itupun datang menghampiriku, seperti biasa dia terlihat sangat charming dan cool bahkan dari kejauhan sekalipun. tak ada senyuman sekecil aappun yang tergoreskan di bibirnya.

“annyeong……”

ujarku menyapa-nya ramah saat ia menghampiriku. yunho pun duduk disampingku yang kosong. beberapa lama kami hanya saling terdiam tak mengatakan apa-apa.

“ada apa sebenarnya? mengapa kau memaksaku menemuimu?”

kutundukkan wajahku dalam-dalam, aku sangat takut mengatakannya dan aku takut dengan responnya.

“jaejoong-sshi, jangan membuatku datang kesini dengan percuma, karena kau telah membuang waktuku yang sangat berharga untuk bertemu denganmu…..”

belum apa-apa dia sudah sangat dingin padaku.

“yun…yunho…..a-aku…..aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu, i-ini sudah sangat lama, hanya saja aku terus menyembunyikannya darimu….”

yunho menatapku tajam dengan mata musangnya.

“k-kau ingat malam itu? saat kita….eumm……itu, err…..”

aku mulai kebingungan merangkai kata-kata.

“jaejoong-sshi, bisakah kau berbicara dengan jelas?!”

aku hanya mengangguk pelan, dan menelan ludahku dengan susah payah.

“yunho, aku hamil……..”

hening sejenak……….

tak ada yang berbicara……

“APA?!!”

yunho menatapku kejam, lalu berganti dengan tawa-nya yang terdengar menyeramkan.

“hahaha….lelucon darimana ini?! mana bisa kau?? hahaha…..jangan menipuku kim jaejoong, kau ingin menipuku huh? mengatakan lelucon yang sama sekali tidak lucu ini?!”

lelucon katanya?? kau tahu betapa susahnya aku mengatakan hal itu?!

“aku tidak berbohong!! aku berani bersumpah! aku mengandung anakmu saat ini, darah dagingmu yunho…..”

yunho terbelalak mendengar pernyataanku. dan tiba-tiba ia menarik kerah bajuku.

“jangan bercanda kau?!! ini benar-benar tidak lucu! kau pria! dan pria tidak bisa mengandung! jangan mencoba mempermainkanku!!!”

matanya menatapku kejam, begitu menyeramkan…..entah, seperti ada dorongan emosi yang sangat dalam dari hatiku.

bulir-bulir air mata mulai mengalir di pipiku,

“aku tidak berbohong……aku mengatakan yang sebenarnya………mengapa kau tidak percaya?”

aku mengatakan hal itu seperti seseorang yang sedang berbisik-bisik. yunho hanya menatapku tak percaya, dan perlahan dia melepaskan tangannya dari kerah bajuku.

“apakah aku harus percaya????”

tatapannya kosong memandang kosong ke pemandangan di hadapannya.

“kau bisa memegang kata-kataku…….aku membawa buktinya,”

kuambil sebuah kertas putih yang terlipat acak-acakkan, kuserahkan kertas itu dan langsung direbut oleh yunho.

tak lama kemudia ia tertawa menakutkan dan memandangku tak percaya,

“apa-apaan ini?!!”

ia melemparkan kertas itu tepat di wajahku,

“mengapa ini bisa terjadi?!! mengapa kau bisa?!!”

yunho mengacak-acak rambutnya frustasi.

“kau…ahh, damn!!”

aku hanya menunduk takut, yunho sangat menyeramkan saat ia marah membuatku tak berani membantahnya.

“mengapa hal ini bisa terjadi?!! ahhh, mengapa kau begitu ceroboh sih?! jika kau tahu kau bisa hamil mengapa kau mau saja melakukan hal itu?!! seharusnya kau berhati-hati!!”

apa-apaan dia?! seenaknya menyalahkanku?!

ini kan bukan murni kesalahanku, dia yang membuat ini semua terjadi.

“KAU MENYALAHKANKU HUH?!! BRENGSEK KAU! aku tak pernah menginginkan hal ini terjadi!! mana aku tahu aku bisa hamil!!! kau yang memaksaku melakukannya!! dasar kau brengsek!!!”

aku menangis semakin keras, ia hanya menatapku dalam lalu membungkukkan wajahnya dan berteriak frustasi.

“kenapa semua ini terjadi padaku huh?!! aku selalu sial semenjak mengenalmu kau tahu?!!”

yunho terus membentakku yang hanya menangis keras karenannya, aku lelah……aku lelah membalasnya,

biarkan ia meluapkan perasaan dan kekesalannya padaku, karena aku juga pernah jahat padanya.

“mengapa harus kau?! mengapa?!!! arrrrggghhh………”

yunho terus menatapku dengan kesal,

“kenapa kau hanya menangis huh? kemana jaejoong yang kuat itu?! mengapa kau menangis? hey! jawab aku!”

kuangkat wajahku dan menatapnya dengan tatapan memohon.

“kumohon, bertanggung jawab untukku dan anakmu…….”

yunho menggelengkan kepalan dan mengacak-acak rambutnya frustasi.

“bagaimana bisa aku percaya anak itu anakku?!! bisa saja kau berbohong itu mungkin anak pria lain, dan karena aku habis tidur denganku, kau mengatakan anak itu anakku!”

BUAAGH,

kupukul wajahnya dengan keras, ia balas menatapku murka.

“AKU TIDAK SEJALANG ITU!!”

aku hanya menangis, benar kataku perlakuan seperti ini yang akan kudapatkan jika mengatakan padanya.

“hiks……yunho, jadi kau tidak mau bertanggung jawab?”

yunho terdiam dan menatapku marah.

“kau tahu?! aku sudah memiliki seorang kekasih, ia akan menjadi istriku, kami akan menikah 3 bulan lagi, apa menurutmu mungkin jika aku meninggalkan gadis yang jelas-jelas sempurna untuk menjadi pendamping hidupku untukmu?”

DEG,

rasanya seperti ada sebilah pedang yang menusuk jantungku.

“maaf……aku tak bisa, aku tak siap…….”

yunho menundukkan kepalanya menahan emosi yang meluap dalam dadanya.

“maaf jaejoong-shhi, waktuku sudah habis…..aku harus pergi, permisi……”

sosok itu pun pergi meninggalkanku begitu saja, meninggalkanku yang hancur berkeping-keping akibat penolakkannya.

benar bukan? dia pasti akan menolakku, cinta itu tak mungkin hadir dihatinya untukku.

dan sekarang apa yang harus kulakukan? aku sendiri……. penolakan itu begitu menyakitkan untukku.

perlakuan dinginnya seakan menohokku, aku tak pernah ditolak siapapun……apalagi dalam hubungan cinta,

lalu sekarang? aku benar-benar mengalami semua hal yang kulakukan sendiri, boomerang itu benar-benar tepat menghancurkanku, menghancurkan kim jaejoong hingga berkeping-keping…..

 

TBC

 

ahhhhh, gaje yah?!!! iyaaaaahhh,

#ngaso di jalan


BEAUTIFULL ONE EYE {YUNJAE COUPLE STORY} CHAPTER 9/? YAOI


title : beautifull one eye

  

author: jung rye sun

 length: 9/?

 rate:  NC 17

 genre: AU, romance, NC17, MPREG, …..

 WARNING!!! MPREG!!!don’t read this! if u don’t like yaoi!

 

 

annyeong!!!!!!!!!!

ahh, bentar lagi BOE bakal kelar,

thank you telah menyukai ff saya yg gaje binti ajaib ini, hahaha…..

saya menyukai respon ajaib kalian *lol*

 

i luv u ^^

 

************************************************

 

 

 

*yunho POV*

 

Kubolak-balikkan map yang ada ditanganku dengan malas. Kulirik layar handphoneku. Foto putri kecilku terpampang jelas di wallpaper handphoneku. Sengaja kupajang fotonya agar setiap kali aku merasa rindu, aku dapat menenangkan perasaanku dengan melihat wajahnya meskipun hanya dalam sebuah gambar. Aku sangat mencintai putri kecilku itu. Saking cintanya aku tak pernah bisa marah padanya. Seberapa kesalnya aku padanya, tetap saja aku tak mau membentaknya meskipun itu untuk kebaikannya.

 

“tokk…..Tokk…..”

Ketukkan pintu membuyarkan semua lamunanku. Saat assistenku menghampiriku dengan tergesa-gesa.

“tuan ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda, katanya ini sangat penting”

Kulirik wajah assistenku yang nampaknya sedang buru-buru

“ne, baiklah….. suruh dia masuk kedalam ruangan”

Assistenku berlalu, dan membawa masuk 3 sosok tinggi besar yang kuketahui adalah agen yang selama ini kusewa untuk mencari jaejoong.

 

“ada keperluan apa kalian kemari? Aku tak akan memberikan uang sebelum jae ditemukan”

Ujarku dengan tegas pada mereka. Karena aku tahu sejak awal mereka seringkali memoroti uangku.

Mereka saling berpandangan satu sama lain.

“tuan jung, kami menemukan jejak dari tuan kim jaejoong”

Seperti disambar petir tengah hari bolong. Aku terdiam sejenak menenangkan pikiranku yang entah karena kelewat senang. Wajahku jadi Nampak seperti orang bodoh.

“d-dimana dia?! Berikan buktinya padaku!”

Mereka mengambilkan sebuah amplop cokelat besar. Dengan tergesa-gesa kurebut amplop besar itu. Dan dalam foto itu kulihat beberapa foto kasat mata. Sekilas jika diperhatikan foto pria yang ada didalam gambar memang mirip jaejoong. Namun bedanya, pria ini berambut cokelat almond. Sedangkan jaejoong rambutnya berwarna hitam kelam.

 

“kau yakin ini kim jaejoong??”

Mereka menganggukkan kepala mereka mantap.

“kami sudah menelusuri wilayah sekitar, dan kami berhasil mengorek informasi dari salah satu pekerja di bar dekat lokasi tersebut”

Kulirik kembali foto-foto yang berada di genggamanku tersebut. Jae kau berubah banyak. Kau terlihat lebih dewasa dan liar sekarang.

“dari hasil investigasi yang kami lakukan. Tuan kim merubah namanya menjadi hero jaejoong, dan dia merupakan salah satu host yang bekerja di bar tersebut, dan nampaknya dia merupakan salah satu host senior di bar itu”

Bagaikan dihantam batu di dadaku. Seperti ada belenggu yang membuatku merasa sangat buruk padanya. Dia seorang host sekarang? Kau gila! Dia gigolo??

Ibu dari anakku seorang host? Seorang gigolo?

“i-ini tak mungkin! Jaejoong orang baik-baik! Dia tak mungkin bekerja, pekerjaan nista seperti itu?!!”

Mereka bertiga menarik nafas panjang.

“tapi hasil penulusurannya begitu tuan jung, kami sudah mengorek informasi lengkap tentangnya, sekarang terserah anda mau percaya atau tidak”

Kutatap foto yang ada dalam genggamanku. Kuremas erat foto tersebut. Rasanya dadaku sakit sekali menerima kenyataan ini.

 

Mengapa kau setega itu pada anak kita jae? Kau rela melakukan pekerjaan haram itu? Hanya untuk sepeser uang yang tak seberapa. Kau korbankan tubuhmu untuk dijamah orang lain?

Aku bahkan tak yakin itu kau, seorang kim jaejoong yang polos dan berhati baja, menjadi setan yang gila harta? Apa kau rela melihat anak kita menangis mengetahui siapa dan apa ibunya?

Aku tak tahu apa yang harus kukatakan padanya tentangmu kim jaejoong…..

 

~~~

 

“appa!!”

Jiyool langsung berlari kearahku saat aku baru saja membuka pintu mobil.

“yoolie ahh… jangan berlari seperti itu, nanti kau jatuh, sayang”

Kuelus pipi merahnya lembut. Dia hanya tertawa kecil sembari menatapku dengan tatapan lucunya.

“appa, kau lihat siapa yang ada di dalam?! Ayo masuk!”

Kumasuki rumahku yang megah namun Nampak sepi ini.  Dan saat aku berjalan menuju ruang keluarga kulihat Jessica yang sedang menata makanan di meja makan.

“umma! Appa sudah pulang”

Jessica mengalihkan pandangannya menatapku dan memberikan senyuman manis padaku.

“kau sudah pulang yun? Kau pasti lelah, lebih baik kau mandi dulu. Sudah kusiapkan air panas”

Aku hanya mengangguk kaku, mengapa gadis ini begitu perhatian padaku? Padahal sudah jelas aku mencampakkannya berkali-kali.

Aku beranjak menuju lantai atas tempat kamarku berada. Saat kulihat Jessica dan jiyool asyik bermain dibawah. Aku tersenyum kecil saat jess menggoda jiyool hingga jiyool tertawa terbahak-bahak.

Saat aku melihat mereka, mereka Nampak seperti sepasang ibu dan anak. Jiyool sangat nyaman berdekatan dengan Jessica, bahkan menganggap jess ibunya. Perlahan bayangan mereka berdua yang sedang bercanda, tergantikan sosok yang kurindukan selama ini. Kulihat wajahnya yang cantik menatapku sejenak dan tersenyum manis padaku.

“jae…ahh”

Perlahan aku mulai sadar dari fantasy gilaku. Segera saja aku berlari memasuki kamar mandi dan menenggelamkanku dalam air hangat.

Mengapa kau selalu menghantuiku setiap saat jae? Apa kau ingin membuatku gila? Kau ingin membuatku mati perlahan?

I love u like a hell, kim jaejoong…..

 

~~~

 

“appa, aku ngantuk!”

Jiyool mengucek-ucek matanya tanda dia sangat mengantuk.

“ne, kajja”

Kugendong dirinya dan kubaringkan di tempat tidur perlahan.

“appa temani aku tidur”

Ujarnya dengan wajah merajuk. Mau tidak mau akhirnya aku harus tidur dengannya.

Kubaringkan tubuhku disampingnya.

“ne, ayo tidur yoolie-ahh….”

Tiba-tiba jiyool langsung memelukku erat.

“appa, kapan kau akan menikahi Jessica umma?”

Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan anak ini. Perlahan kusentuh pipinya yang memerah.

“appa tidak tahu sayang,”

Jiyool terlihat merengut kecewa mendengar perkataanku.

“waeyo? Bukankah umma dan appa seharusnya menikah?”

Aku tersenyum kecil mendengar pernyataanya. Perlahan kubeli lembut rambutnya yang tebal.

“suatu saat nanti kau akan mengerti, mengapa appa tidak menikah dengannya”

Dia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya.

 

Haruskah aku menikahi Jessica dan melupakanmu jae?

Apa kau masih ingat jiyool anak kita? Apa kau masih menyayanginya?

Mengapa kau tak pernah kembali jae? Setidaknya melihat keadaan jiyool,

What should I do for you jae?

Jiyool membutuhkanmu,

 

 

*jaejoong POV*

 

Kulangakahkan kakiku perlahan menuju counter bar. Park yoochun salah satu bartender yang sering menggodaku kembali melancarkan aksinya.

“pretty, do u want to spent ur time with me, tonight?”

Kugelengkan kepalaku tegas.

“oh, c’mon babe!”

Kuhentakkan tanganku di meja.

“tidak!….. cepat berikan aku wine!”

Dia langsung mengambilkanku segelas wine. Dengan rakus kutenggak wine itu hingga habis.

“wow, ur so cool brother!”

Junsu datang menghampiriku, dan langsung melancarkan aksinya menggoda yoochun.

Mereka memang couple aneh, mereka saling menjalin hubungan tapi memberikan tubuh mereka pada orang lain begitu saja. Aku bahkan tak mengerti mengapa mereka bisa berpacaran.

 

Kegelengkan kepalaku melihat tingkah gila mereka yang bermesraan di depanku.

“hey you! Get the room!”

Mereka hanya tertawa kecil mendengar perkataanku.

Oh, dasar pasangan gila.

 

Kulangkahkan kakiku menuju ke kamar mandi. Saat kulangkahkan kakiku. Entah mengapa aku merasa ada yang mengikutiku. Kupercepat langkahku dan membatalkan niatku ke kamar mandi, dan akhirnya aku kembali ke kamarku.

 

“tokk……tokk……”

aku sedang asyik membaca majalah saat kulihat heechul hyung berdiri di depan pintu kamarku.

“jae, ada tamu untukmu”

Kulirik dirinya dengan malas, oh… aku sedang malas.

“siapa?”

Heechul hyung memberikanku sebuah kertas kecil.

“katanya dating saja ke hotel ini, dia memberikan kertas ini”

Dia menyodorkanku secarik kertas. Disitu tertera peninsula hotel.

Nampaknya, client ku ini orang yang sangat kaya. Karena setahuku menginap semalam di hotel seperti itu bisa menghabiskan 50 juta dalam semalam.

“ok, thanks hyung!….but, kenapa tidak kau saja hyung?”

Dia menggelengkan kepalanya pelan.

“dia bilang hanya ingin kau jae, yasudahlah, mungkin dia tergila-gila padamu, nikmati saja”

Dia tersenyum kecil padaku. Kubalas senyumannya yang terlihat sedikit sinis padaku.

Ya, dia merupakan sunbae ku. Tapi menurutnya sejak kehadiranku. Dia merasa kalah pamor.

 

~~~

 

Kurapihkan pakaianku sekeren mungkin. Perpaduan v-neck abu-abu dengan skinny jeans ketat. Yang mengekspose tubuhku secara keseluruhan.

Perlahan kumasuki hotel mewah nan megah itu. Kulangkahkan kakiku menuju reseptionis untuk menunjukkan kamar yang ada di kertas kecil tersebut.

 

Seorang reseptionis mengantarkanku hingga kedepan sebuah pintu kamar hotel.

Perlahan kuketuk pintu tersebut, namun taka da jawaban dari dalam selama beberapa menit.

Akhirnya kuputuskan untuk masuk kedalam.

Kulangkahkan kakiku perlahan memasuki kamar tersebut. Ini Nampak tidak seperti kamar namun seperti apartement mewah dengan perabotan yang tak ternilai harganya.

 

Perlahan kurasakan pintu tertutup begitu saja. Dan saat kubalikkan tubuhku melihat siapa yang menutup pintu.

“welcome, jae……..”

Rasanya tenggorokanku langsung tercekat melihat wajahnya berada dihadapanku saat ini.

Wajah yang sudah lama menghantuiku di setiap mimpi burukku. Dia hadir sekarang dihadapanku.

Perlahan sosok itu mendekatiku yang masih mematung ditempat.

“kau berubah banyak jae?”

Diendusnya leherku pelan. Kurasakan nafasnya yang membuat bulu kudukku berdiri.

 

“a-apa maumu?!”

Kutatap wajahnya dengan tatapan bengis dan benci.

“what I want? Haha…. U know what I want, baby”

Dia tertawa sinis padaku. Tatapan menakutkan itu, tatapan yang selalu menyiksaku setiap hari.

“shut up!!”

Kudorong tubuhnya yang mencoba mendekatiku hingga membentur dinding.

“don’t touch me!! U are nothing!”

Kuacungkan telunjukku tepat di wajahnya. Kulihat wajahnya yang terlihat kaget menerima perlakuanku.

Namun, tiba-tiba dia tertawa sinis.

“hahaha….. kau sangat berubah jae, where’s innocent kim jaejoong?”

Rasanya aku ingin memilin bibirnya jadi dua.

“FUCK U SHUT UP!!!”

Dia kembali mencoba mendekatiku, namun aku berhasil kembali mendorongnya hingga terjungkal.

Segera aku berlari menuju pintu ruang masuk.

Namun, sial bagiku pintu itu terkunci rapat.

“kau tak akan bisa lari kim jaejoong! Kau tak bisa lari lagi dariku!”

Kugedor pintu itu sekuat tenaga, kutendang pintu itu frustasi.

“kau tak akan bisa lari jae, kau milikku!”

Perlahan tubuhku mulai lemas, aku merasa seperti orang bodoh yang tak berdaya.

Air mataku perlahan mengalir satu-persatu.

“apa maumu padaku jung yunho?”

Kutatap dirinya dengan tatapan penuh kebencian.

“tak puaskah kau menghancurkanku?!! Tak puas kau mengambil segalanya dariku?!! APA MAUMU?!!”

Kujatuhkan tubuhku yang lemah terduduk di lantai yang dingin.

Perlahan yunho mendekatkan dirinya padaku.

“aku menginginkanmu jae, kau tahu berapa lama aku mencarimu? Aku menginginkanmu kembali padaku jae!”

Kutatap wajahnya yang memohon padaku.

“setelah sekian lama kau mencampakanku jung yunho?! Setelah kau renggut semuanya? Kau memintaku kembali?! Kau bermimpi tuan jung……..”

 

Tanpa basa-basi ditariknya tubuhku dengan paksa.

Dilekatkannya bibirnya pada bibirku seperti orang kesetanan ia menciumku.

Aku berusaha berontak namun tenaganya yang besar membuatku kesulitan bergerak bahkan bernafas.

Otot-otot tangannya terasa mengunciku rapat-rapat. Hingga akhirnya pertahanannya mulai melonggar.

Kutendang alat vitalnya,

“AHH, SHIT!”

Aku langsung berlari menjauhinya. Kumasuki dapur dengan perasaan ketakutan luar biasa.

Aku tak menemukan jalan keluar sama sekali dari kamar ini.

Saat aku berusaha mencari celah-celah kosong.

Yunho menghampiriku dengan langkah gontai.

“mau kemana kau?! Kau tak akan bisa kabur!”

Wajahnya begitu menakutkan bahkan seperti orang gila.

 

“kau tak bisa menahanku lagi jung yunho! Aku tidak seperti dulu lagi! Menjauh dariku! Atau aku akan membunuhmu!”

Kutambil sebuah pisau dapur yang berada didekatku. Kurasakan tanganku bergetar hebat memegang benda tajam tersebut.

“MENJAUH!!”

Kuacungkan pisau itu tepat di depan wajahnya. Kulihat wajahnya yang terkejut melihat tindakanku.

Namun entah ada setan apa dalam tubuhnya dia terus saja maju, mendekati diriku.

“JANGAN MENDEKAT!!”

Tapi dia tetap melangkahkan kakinya mendekatiku.

Aku semakin terpojok, aku tak bisa lagi menggerakkan  tubuhku, karena aku sudah terjebak.

Kuacungkan pisau itu tepat di depan matanya.

“KAU MENDEKAT, KAU MATI!!”

 

Perlahan digenggamnya pisau ditanganku dengan tangan kosong.

Perlahan tetesan darah mengalir dari telapak tangannya. Aku hanya terdiam melihat hal itu.

Rasanya taka da rasa sakit yang dia rasakan meskipun tanganya mengeluarkan darah segar.

 

“k-kau…..”

Diturunkannya perlahan tanganku yang bergetar hebat dalam genggamannya.

“jika kau memang ingin membunuhku, bunuh aku jae……. Aku bajingan yang menghancurkan hidupmu, kubur aku hidup-hidup jae, aku rela… tapi, apa kau rela melihat putri kecilmu hidup tanpa seorang ayah?

Kau rela melihat jiyool menderita jae?! Anak yang kau tinggalkan begitu saja?….”

Perlahan pertahananku mulai runtuh. Tubuhku bergetar hebat, aku ketakutan.

Rasanya paru-paruku kosong, seperti taka da sama sekali udara yang masuk kedalamnya.

“kau rela membiarkan dia tidak menemukan sosok orang tua sempurna jae? Tak rindukah kau padanya?

Apa kau ingat putri kita, jung jiyool jae? Putri yang sangat kau sayangi……”

Perlahan kenangan pahit beberapa tahun lalu kembali. Segalanya terasa berputar cepat begitu saja.

Semuanya berputar seperti roda, semua pengalaman pahitku rasanya kembali semuanya kedalam memori otakku, kenangan yang berusaha kulupakan sekuat tenaga.

“apa kau sudah melupakan kami jae? Sebenci itukah kau pada kami? Aku dan jiyool?”

Air mataku tumpah begitu saja disela isak tangisku.

Aku tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Aku lemah saat dia sudah berkata seperti ini.

Aku merindukan bayiku, sangat merindukannya. Aku ingin memeluknya. Aku ingin medekapnya dalam pelukanku dan mengatakan , ini aku umma-mu jiyool-ahh….

 

Aku kehilangan keseimbanganku. Aku jatuh terduduk di lantai yang dingin.

Perlahan pisau dalam genggamanku terlepas begitu saja.

Aku merasa begitu buruk saat dia menyerangku dengan baby kecilku.

Bayi yang bahkan hanya sempat kutimang seminggu saja.

Ibu mana yang tak sakit hatinya dipisahkan dari anaknya.

“jae….. I need u, aku butuh kau disampingku, aku butuh kau sebagai partner hidupku”

Perlahan yunho mendekatkan wajahnya padaku.

“jae, kau tahu berapa usia anak kita sekarang?”

Kuanggukkan kepalaku pelan.

“aku bahkan selalu menghitung setiap hari dia tumbuh, meski aku tak pernah melihatnya….”

Dibelainya pipiku lembut.

“jae, beberapa hari lagi putri kita akan berusia 5 tahun….. dan aku ingin menghadiahkan kado special untuknya”

Ditatapnya wajahku dalam disertai senyuman manisnya.

“maukah kau membantuku membrikan hadiah itu untuknya?”

Kupalingkah wajahku tak berani menatap matanya.

Namun perlahan dia palingkan kembali wajahku menatap kepadanya.

“I wanna give u to be a present, for her birthday…. “

Kubelalakkan mataku tak percaya mendengar ucapannya.

“m-maksudmu?”

Kutatap wajahnya tak percaya.

“I wanna give her own mother, ibu yang telah melahirkannya kedunia ini, dan membuktikan kalau dia masih memiliki ibu….”

Kugelengkan kepalaku kuat, menolak keinginannya.

“tidak, dia tak perlu tahu aku! Aku akan membuatnya malu, kau bisa memberikan ibu yang lebih baik untuknya!”

Didekatkannya wajahnya hingga hanya berjarak beberapa centi dari wajahku.

“aku ingin dia tahu, betapa beruntungnya dia memilkimu sebagai ibunya”

Dibelainya lembut air mata yang mengalir deras dipipiku.

“kumohon……..”

Tangisanku semakin keras bagaikan tak terbendung lagi.

Rasa bahagia sekaligus sedih semuanya bercampur menjadi satu.

Dan tanpa kusadari perlahan tubuhku mulai jatuh dalam dekapannya.

Dekapan seorang jung yunho yang begitu hangat.

 

 

TBC

like this fanfic! ^^


PLAYBOY BOYFRIEND { YUNJAE COUPLE STORY} CHPATER 15/15 END YAOI


author: jung rye sun

length: 15/15

rate: maybe NC 17..

genre: AU, romance, NC17, and a little bit straight, OC…

WARNING!!! MPREG!!!don’t read this! if u don’t like yaoi!

Annyeong!

Hallo, author kembali lagi! Hahaha…….

This is the last chap, jujur gw takut hasilnya jelek dan tidak memuaskan maafin yeh klo jelek tapi mau gimana saya kan Cuma author amatiran^^

Goodbye my long fanfic, thanks untuk para readers yang setia ^^

 

**********************************************************************

 

*jaejoong POV*

 

Akhirnya aku kembali menginjakkan kakiku di jepang. Ku amati bangunan besar yang tampak lengang di hadapanku. Sebuah mansion berukuran sedang yang kutempati selama tinggal di jepang, kumasuki perlahan kediamanku. Saat kurasakan hawa dingin yang begitu menyengat, hampa……

Aku tak pernah merasa sehampa ini sebelumnya, tapi saat ini aku seperti berada dalam kubangan kegelapan yang mengitariku.

 

Ddrrrttt………….

Cepat-cepat kuangkat telepon yang bergetar di saku celanaku. Dan kulihat nama juri tertara disana.

“ya,…”

Ujarku lemah,

“hero-kun! Apa kau sudah tiba?”

Tanyanya dengan sangat penasaran.

“heumm, yah aku baru saja tiba di rumah, ada apa?”

Terdengar suara kegirangan di seberang sana.

“aku sangat senang mendnegarmu kembali ke jepang, honey. Maaf aku tidak bisa menjemputmu di bandara, kau tahu aku harus menjaga oka-san di rumah sakit, heumm……..bagaimana jika besok kita bertemu? Aku sangat rindu padamu,”

Terdengar suaranya yang sangat excited di seberang sana.

“heumm, yah….baiklah, besok aku akan menjemputmu di rumahmu, aku juga merindukanmu….. err, juri aku lelah, bagaimana jika kita sambung besok lagi, aku ingin tidur”

Ujarku mencari-cari alasan untuk menghindar darinya.

“ya, oyasumi…..aishiteru hero-kun,”

Tak lama kemudian telepon pun terputus.

 

Kuletakkan barang-barangku seenaknya di kasur, aku sangat malas saat ini merapihkannya. Entah mengapa ada perasaan yang sangat ganjal terus membayangiku. Kau tahu apa perasaanku saat ini?

Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya, aku ingin kembali ke korea, aku ingin bertemu dengannya, aku ingin membalas semua perkataanya dan mengatakan aku juga merasakan hal yang sama dengannya.

Tapi ego ku melawannya, ego ku mengatakan untuk jual mahal dengannya. Kubuka dompet kulit milikku, dan kuambil selembar foto berukuran kecil dari sela-sela dompet. Foto yang kudapatkan saat yunho dan aku masih berpacaran, foto saat aku menjadi calon istrinya dulu. Yunho masih sangat muda dan tampan, dan aku masih terlihat seperti remaja tanggung. Aku telah membakar dan menghilangkan barang-barang yang ada sangkut paut dengannya. Tapi entah mengapa aku tak sanggup membakar foto ini. Karena, hanya difoto ini kami benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih. Terlihat yunho yang sedang melingkarkan tangannya di pinggangku. Dia juga terlihat sedang mencium tengkuk-ku. Foto yang sangat intim dan mesra. Karena aku sadar momen –momen itu sangat jarang terjadi diantara kita berdua.

 

Aku mencintainya tuhan, tapi aku terlalu munafik untuk tidak mau mengakuinya. Aku terlalu keras kepala untuk menghapusnya dari ingatanku tapi nyatanya aku tak pernah bisa……

Bukankah aku seperti seorang pecundang? Yang tidak bisa memilih diantara dua cinta…..

 

*yunho POV*

 

Kutatap selembar foto kusam yang selalu kusimpan aman di kotak rahasia pribadiku. Wajahnya begitu cantik dan bersinar, senyumnya begitu lebar. Bibir merahnya terlihat begitu memabukkan. Aku tak percaya aku pernah memilkinya, aku pernah hidup bersamanya, tapi aku menyia-nyiakan dirinya.

Aku tertawa sinis menertawakan diriku sendiri. Kini nasi sudah menjadi bubur. Dia telah menolakku secara tidak terhormat. Dan ingin menghapusku selamanya dalam hidupnya. Apa yang harus kuperbuat? Tah selama ini memang aku yang salah…..

 

“appa…..apa yang kau lakukan disini? Kau masih bekerja?”

Rye sun berdiri di depan ruang kerjaku lengkap dengan piyama tidurnya.

“err, aniya….”

Aku tersenyum kecil, dan buru-buru kembali kumasukkan foto berharga itu ke kotak rahasiaku.

“aniya, appa hanya sedang mengurus beberapa dokumen, ayo tidur ini sudah malam!”

Buru-buru kugendong rye sun ke kamar tidurnya, kembali kumatikan ruang kerjaku dan meninggalkan ruangan itu.

 

Kubaringkan tubuh mungilnya di tempat tidur.

“appa…..aku mau bobok sama appa,”

Kubaringkan tubuhku disampingnya, meskipun sebenarnya sangat tidak nyaman tidur di single bad berdua, tapi demi anakku apapun kulakukan.

“aigoo, anak appa sudah gendut, satu kasur berdua sempit sekali rasanya,”

Rye sun merengut menatapku kesal.

“bukan aku yang gendut, tapi badan appa yang gede!”

Aku hanya tertawa kecil mendengar ocehan anakku,

“yasudah, ayo tidur…..”

Kubelai lembut rambutnya yang harum buah strawberry, perlahan karena lelah mataku yang mulai terasa berat pun terpejam.

 

~in yunho’s dream~

 

Aku berada di sungai han yang sangat indah saat ini. Pemandangannya begitu indah tidak seperti biasanya. Air sungai begitu tenang seakan sungai sedang tertidur. Perlahan kurasakan sebuah tangan yang halus dan lembut menutup mataku.

“yak! Siapa ini?”

Perlahan dia melepaskan tangannya, perlahan kuliaht siapa orang yang berada di belakangku.

“hallo, chagi……”

Sesosok wanita dengan dress putih mendekatiku perlahan. Oh, tuhan….ini tidak mungkin!

“s-seul gi??”

Dia tersenyum kecil, perlahan dia memberikan pelukan hangat padaku.

“apa kau merindukanku?”

Aku masih tak percaya wanita yang berarti dalam hidupku setelah sekian lama pergi akhirnya menampakkan dirinya kembali dihadapanku. Aku pasti sedang bermimpi, ya sebuah mimpi yang indah.

Dirinya begitu cantik bak malaikat, yah aku sadar seul gi seorang malaikat saat ini.

“y-yaa…tentu, aku sangat-sangat merindukanmu,…..”

Dia tersenyum manis dan menatapku dalam.

“tapi…..mengapa kau meninggalkanku begitu cepat? Bukankah kau bilang mencintaiku? Mengapa kau membiarkanku hanya hidup berdua bersama buah hati kita, apa kau tidak menyayanginya lagi”

Dia tertunduk lemah mendengar kata-kataku.

“ada sesuatu yang akan kau ketahui nanti, mengapa tuhan mengambilku lebih cepat dan membiarkan kalian berdua, aku selalu mencintai kalian. Kau suamiku yang paling kucintai….”

Kurasakan tangannya yang dingin dan lembut membelai pipiku lemah.

“kau tahu, sejak kepergianmu aku selalu berharap dan berdoa dapat sekali saja dipertemukan denganmu….aku selalu berdoa agar dapat melihatmu kembali seul gi, dan akhirnya doa ku terkabul aku dapat bertemu kau lagi meski lewat mimpi”

Dia hanya tersenyum manis mendengarkanku, jemarinya yang lentik tetap membelai pipiku lembut.

“bagaimana kabar rye sun?”

Tanyanya menatapku polos.

“baik, dia sangat baik! Kau tahu, dia tumbuh menjadi gadis yang cantik sepertimu, dan dia sangat aktif”

Dia hanya tertawa kecil mendengarnya.

“ya, aku tahu karena aku memantau dan melihatnya….. “

Dia tersenyum manis padaku, dan tiba-tiba perlahan senyuman itu menghilang menjadi sebuah wajah yang dipenuhi kesedihan.

“ada apa seul gi?”

Dia hanya menggeleng pelan, dan perlahan tangannya yang dingin menggenggam tanganku erat.

“kau tahu?….aku pernah membuat suatu kesalahan besar…..”

Aku menatapnya bingung, dan dia hanya menundukan wajahnya tak mau menatapku.

“ya…..kesalahanku adalah, aku pernah memutus tali cintamu dengan seseorang yang sangat kau cintai, aku telah membuatnya terputus, dan saat ini aku sedang berusaha menyatukannya kembali. Aku membuatmu berpisah dengan jodohmu….maafkan aku, aku sadar aku telah menyakiti dia begitu banyak, aku telah membuatnya hancur dan terpuruk….”

Perlahan setetes air mata mengalir di pipinya.

“aku tak mengerti apa maksudmu? Apa itu tali cinta? A-aku tak mengerti yang kau bicarakan,”

Dia tersenyum kecil dan menatapku tajam.

“setiap manusia terlahir dengan tali cinta-nya masing-masing, tali cinta adalah suatu benang merah yang menghubungkan dua insan manusia untuk bersatu. Jodohmu adalah orang yang benang merahnya tersambung denganmu, dan orang itu adalah dia mantan kekasihmu, dan tali cinta itu akan terputus apabila ada sosok lain yang menghampiri kehidupanmu, dan akulah penyebab kehancuran itu”

Dia menudukkan kepalanya dalam-dalam, dan perlahan jemarinya menggenggam ku erat.

“kau tahu? Meskipun kita telah menikah tapi kita tidak memiliki tali cinta itu….karena aku dan kau tidak berjodoh,”

Dia tersenyum pahit disela kesedihannya.

“dan aku akan menebus semua kesalahanku dengan menjadi penyambung tali cinta kalian, karena aku diberikan tugas mulia ini, maukah kau membantuku?”

Aku hanya mengangguk pelan sembari berusaha mencerna kata-katanya.

Perlahan dia mengangkat kedua tanganku dan menggenggamnya erat.

“jung yunho, dia menantimu! Susul dia, dia adalah jodohmu dia takdirmu, kau dan dia memang harus bersatu……dia hanya berusaha membohongi hatinya, sesuangguhnya dia amat sangat mencintaimu,

Dia akan menjadi pendamping hidupmu untuk selamanya yun,dia yang akan menjadi ibu dari anak-anakmu…..aku ingin hidup tenang, tanpa merasa berdosa kepada kalian berdua, biarkan aku melihat kalian berdua bahagia….”

Aku mengangguk pelan dan menatapnya dalam.

“jadi, apa yang harus kulakukan? Dia akan menikahi tunangannya…….”

Seul tersenyum kecil,

“kau harus melakukannya dengan caramu sendiri, buat dia menyadari kalau dia tak akan bisa hidup tanpamu jung yunho, kau pasti bisa! Karena sejujurnya kalian saling mencintai, sebelum semuanya terlambat yun……”

Tiba-tiba dia mendekat dan mencium pipiku pelan.

“now, I must go…. Senang bisa berjumpa denganmu, jaga mereka untukku rye sun dan jaejoong……

Goodbye….”

Dan perlahan, dirinya menghilang menjadi pusaran angina dalam sebuah bayangan.

Dan saat itu pula sebuah cahaya yang menyilaukan serasa menusuk mataku…….

 

~end of yunho’s dream~

 

Kukerjapkan mataku perlahan, sinar matahari yang menyilaukan memaksaku untuk terbangun dari tidurku. Kutepuk-tepuk pipiku pelan memastikan mimpi itu telah berakhir.

Kutatap putri kecilku yang masih tertidur lelap disampingku.

Apa maksud dari kata-kata seul gi dalam mimpiku tadi?

Terakhir dia mengatakan jaejoong…..jadi maksudnya dia adalah jodohku?

Apa seul gi berubah menjadi dewi aprodhite? Dia menyampaikan pesan itu untukku.

Perlahan kurasakan hembusan angin pagi hari yang begitu menyejukkan dan aku merasakan sebuah kekuatan, spirit yang membangkitkanku untuk mengejarnya kembali.

Aku akan merebutmu kembali, tak perduli seberat apapun penghalang dihadapanku nanti.

 

~~~

“apa?! Appa akan ke jepang??? Lalu bagaimana dengan aku?? Bagaimana dengan pekerjaan apa di kantor?”

Putriku sangat terkejut mendengarkan keinginanku untuk ke jepang. Ya, aku telah memutuskan akan menyusulnya ke jepang, dan aku akan membawanya pulang sebagai milikku.

“hanya sebentar sayang, ayolah…..”

Rayuku berusaha membujuknya.

“lalu aku bagaimana? Aku akan ditinggal berdua dengan bibi, ahh….appa, aku tak suka dirumah tanpa appa!”

Kudekati putriku perlahan, dan kubelai pipinya lembut.

“appa berjanji saat pulang nanti, akan membawa hadiah terindah untukmu!”

Dia menatapku bingung,

“hadiah?? Hadiah apa?”

Aku tersenyum misterius,

“kau akan lihat nanti, itu kejutan! Hehehe………”

Dia kembali merengut dan memalingkan wajahnya kesal.

“hey, please! Appa akan menyuruh changmin ahjussi menjagamu, bagaimana? Dia orang yang sangat baik, dia akan menjagamu selama appa pergi, ayolah sayang…..”

Akhirnya rye sun pun menganggukkan kepalanya pasrah.

 

~~~

 

“ya, changmin! Please, bantu aku menjaga rye sun  selama aku pergi! Kau ini tega nian padaku! Kau kan sudah lama bekerja menjadi assistenku”

Changmin tetap asyik dengan cheese burger ditangannya.

“aniya! Kau tahu aku tak bisa menjaga anak kecil! Lagipula kau juga menyerahkan tugas-tugas seenaknya kepadaku! Untuk apa pula kau kesana?”

Aku merengut kesal menatap changmin yang mengacuhkanku.

“ada sesuatu yang sangat penting yang harus kulakukan disana, ini masalah pribadiku! Tapi aku harus kembali mendapatkan orang itu sebelum terlambat, karena dia sangat berharga untukku, aku tak mau dia diambil oleh orang lain…….”

Perlahan changmin menatapku penuh selidik.

“jangan bilang, orang yang kau cari hero-san?”

DEG,

“t-tahu darimana kau??”

Ujarku dengan gugup.

“hahaha……benar tebakanku selama ini!….heumm, aku sudah mencium gelagat aneh sejak kita menjalin hubungan bisnis dengannya, kau kelewat perhatian padanya. Dan tanpa kau sadari kau bersikap seperti orang gila jika tak melihatnya seharian, jadi benar selama ini….are u gay?”

Tatapan changmin membuatku bingung harus menjawab apa padanya.

“errr…..entahlah, kupikir tidak……”

Dia menatapku bingung,

“tidak?? Tapi kau menyukai hero-san?!”

Aku mengangguk pelan, dan menghela nafas berat.

Ya, aku bukan gay tapi aku mencintainya seorang, aku mencintai jaejoong.

“entahlah, aku mencintainya meskpiun dia pria, dan pria yang membuatku tertarik hanya dia seorang, karena dia pernah menjadi sosok paling berarti dalam hidupku”

Changmin hanya mengangguk-angguk sok mengerti.

“yeah, aku tahu hero-san memang sangat cantik, bahkan untuk ukuran seorang pria, dan bahkan dia lebih cantik dari kekasihku, aigooo……andai dia perempuan sudah kunikahi dia!”

PLETAK,

“tidak akan pernah shim changmin! Aku akan membunuhmu jika kau menikahinya!”

Ujarku dengan kesal.

“hahaha…..”

Changmin hanya tertawa melihat tingkahku.

“tenang hyung, aku tak akan mengambilnya darimu….hahaha,”

Aku hanya mendengus kesal dan segera meninggalkan ruangan.

 

~~~

 

“appa! Jangan lama-lama pulangnya…..”

Putri kecilku mendekapku erat dalam gendonganku. Pemberitahuan pesawat keberangkatan pun telah terdengar, tanda aku harus segera masuk ke dalam pesawat.

“ne, I promise…..”

Kupeluk erat tubuh mungilnya.

“appa, bawakan aku hadiah kejutan itu jika kau pulang nanti! Jangan lupa!”

Aku mencubit hidungnya pelan,

“araseo tuan putri! Hehehe….yak! shim changmin jaga anakku yah”

Kuserahkan rye sun ke dalam dekapan changmin.

“ne, hyung!”

Rye sun terlihat senang dan nyaman bersama changmin.

“baby, jangan nakal araseo? Jangan membuat ahjussi mu susah,”

Rye sun hanya mengangguk kecil tanda mengerti.

“baiklah, aku pergi goodbye!”

Kulambaikan tanganku sembari meninggalkan mereka berdua. Yah…aku akan menyusulmu kim jaejoong.

You should be mine…….

 

 

*jaejoong POV*

 

Hari ini aku berkencan dengan juri, kami berencana mencari-cari baju untuk pernikahan. Ya, juri memaksaku untuk menemaninya fitting baju pernikahan. Kami telah membicarakan hal ini dengan keluarga juri. Dan mereka menyetujui apabila pernikahan diadakan secepat mungkin sebelum operasi oka-san dilaksanakan, hanya sebuah pesta sederhana, karena pernikahan ini dilaksanakan begitu mendadak berbeda dengan perkiraan kami. Awalnya aku sangat keberatan dengan pernikahan yang akan diadakan 5 hari lagi, tapi aku tak mungkin menolak karena kami juga harus memikirkan kondisi oka-san. Juri terlihat asyik mencoba-coba beberapa gaun pengantin. Dan aku hanya menghela nafas berat.

Bingung akan apa yang harus kulakukan.

 

Karena bosan kuputuskan untuk memainkan hp-ku. Dan saat kulihat disana tertera miscall dari jung yunho. Untuk apa dia meneleponku? Perasaanku ingin menanyakan ada apa, tapi rasa ego ku mengatakan tidak usah. Akhirnya kuputuskan untuk menghiraukan miscall darinya.

“hero-kun! Apa gaun ini cocok untukku?”

Juri tampil dengan sebuah gaun berwarna keemasan, terlihat sangat vintage dan glamour.

“eumm, ya….sangat cocok”

Juri tersenyum senang mendengar responku. Andai saat ini hanya ada dia seorang dihatiku.

Pasti aku akan mantap memilihnya menjadi pendamping hidupku. Namun, sayang hatiku telah terbagi dengan sosok lain. Sosok menyebalkan yang sebenarnya aku sayangi.

 

~~~

Setelah puas dengan fitting pakaian di berbagai toko. Kamipun memutuskan untuk pulang karena hari sudah malam. aku menyetir dalam keheningan diantara kami berdua, tak tahu harus membuka percakapan apa.

 

Setelah mengantarkan juri pulang aku memutuskan untuk langsung kembali ke rumah. Kulihat di pekarangan rumahku terparkir sebuah mobil Subaru berwarna putih. Yang kuyakini ada orang di dalamnya, tapi untuk apa malam-malam dirumahku?

Kuberhentikan mobilku tepat di depan mobil itu, kubuka pagar perlahan dan saat tiba-tiba sosok itu keluar dari mobil.

“y-yunho! What are u doing here?!”

Yunho menghampiriku sembari tersenyum lebar, dan hamper saja dia memelukku.

“I miss u jae, really miss u…..”

Dilingkarkannya tangannya dengan erat di pinggangku.

“are u crazy?!! Don’t touch me!”

Namun, sial pelukannya semakin erat hingga terasa hembusan nafasnya yang bau alcohol di tengkukku.

“hey! Kau mabuk?!! Lepas…yun……..”

Aku berusaha melepaskan diriku dengan memukul-mukul tubuhnya namun pelukannya malah makin mengerat.

“jae, let me be with u tonight, please…..just tonight!”

Suaranya lemah dan terdengar parau entah mengapa membuatku tak tega.

“ok….come in”

Kulirik sekelilingku untuk memastikan taka da yang melihat kami, kutarik segera tubuhnya yang besar yang masih saja bergelayutan di tubuhku.

“yun! Kau berat….hentikan!!..”

Kudorong tubuhnya dengan kasar di sofa.

“apa yang kau inginkan?! Berhenti mengikutiku!!”

Dia tertawa sinis menatapku, tatapannya membuatku ingin melemparnya dengan batu.

BRUKK,

Kulemparkan sebuah bantal tepat mengenai wajahnya.

“diam kau disitu! Jangan ikuti aku!”

Buru-buru aku bergegas meninggalkannya ke dapur mengambilkan segelas air hangat dengan perasan jeruk nipis untuknya. Saat tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku.

Dia terus-menerus mencium tengkukku dengan kasar.

“ahhh….don’t…..ahh, don’t do…..that!”

Kuakui aku mulai terhanyut dengan permainannya. Dan perlahan kurasakan tangannya mulai meraba bagian dalam kaos-ku, tangannya mulai nakal memainkan nipple ku.

“stop it! Ahh, ……yun!”

Sial dia semakin menguasaiku, dia mulai membalik tubuhku berhadapan dengannya.

Diciuminya bibirku dengan ganas, bibirnya melumat bibirku seperti orang kesetanan sampai-sampai aku tak bisa bernafas.

“hhhmmmpphh…….yun…..hmmmppphh……u-u….kill..me!ahh…..”

Tiba-tiba kurasakan juniorku yang mulai menegak sejak tadi. Oh, shit!

“you are mine kim jaejoong…..mine!…..”

Tangannya yang kekar menggendongku paksa dan melemparkanku diatas sofa. Aku mulai ketakutan melihat wajahnya yang menyeramkan. Oh, tidak….ini terulang kembali! Dia mabuk dan dia akan memperkosaku, seperti waktu itu, tidak! Aku tidak mau! Aku hanya ingin melakukannya dengan sadar tidak seperti ini.

“hentikan!!! Aku tak mau! Lepaskan aku! Aku tak mau seperti ini!!”

Dia menatapku heran, aku berontak dalam pelukannya yang begitu kuat. Tak terasa air mata mengalir di pipiku. Aku tak tahu, aku hanya takut dan aku merasakan aku tidak siap. Aku tidak mau, tidak seperti ini caranya.

“aku tak mau yunho! Jangan paksa aku melakukan yang kau mau?!! Aku bukan milikmu! A-aku…..jangan paksa aku dengan cara seperti ini! Kau menyiksaku!”

Yunho membisu menatapku, matanya yang tadi dibayangi oleh setan perlahan kembali sadar.

“mianhae…..”

Dibelainya lembut pipiku, kurasakan jemarinya menghapus air mata yang mengalir di pipiku.

“aku sadar…..dan aku mencintaimu, itu alasan mengapa aku menginginkan milikmu, aku ingin kau seutuhnya…..aku mencintaimu kim jaejoong, I love you……please let me mark you as mine,”

Kugelengkan kepalaku kuat-kuat menolak segala macam sugesti yang dia berikan padaku.

“no! please stop! I don’t want it…….”

Yunho menatapku lemah dan pasrah,

“kau tahu! Aku sudah memiliki tunangan, dan kami akan menikah 5 hari lagi. Apa kau tega menghancurkan semuanya? Menghancurkan rencanan yang telah kami bangun bertahun-tahun?!

Biarkan aku dengan jalanku yun! Kita berbeda! Jangan paksa aku untuk mengikutimu!”

Dia tertawa sinis menatapku.

“BULLSHIT! I don’t care……bagiku kau milikku dan selamanya tetap milikku”

Kutundukkan wajahku lemah, aku tak punya cara ampuh untuk menjauhkan dirinya dariku.

Aku mebenci diriku yang terlihat lemah dan tak berdaya di hadapannya.

“I’m tired…….aku lelah! Kau tahu?! Kau selalu memaksakan kehendakmu tanpa mau meikirkan aku! Kau sama seperti jung yunho yang dulu tak pernah berubah! Bisakah kau sedikit hargai perasaanku!

Aku melakukan semua ini demi kita! Demi masa depan kita! Kau butuh bahagia! Tapi bukan denganku! Aku bukan jodohmu!”

Wajah yunho perlahan mulai mematung, dia terdiam tanpa ekspresi menatapku kosong.

“kau salah…..salah jae, kita berjodoh, tuhan telah  mentakdirkan kita berdua, tapi tali cinta itu putus, dan aku harus menyambungkannya kembali,”

Kutatap wajahnya dan memandangnya tak mengerti. Aku tak mengerti apa maksud ucapannya.

“aku tak mengerti ucapanmu…..”

Perlahan dia mendekatkan wajahnya tepat beberapa inci dihadapanku.

“kita berjodoh, kau salah…….dan tuhan telah mentakdirkan kau menjadi milikku……”

Dibelainya lembut bibirku dan dikecupnya pelan, namun aku tak berkutik aku hanya terdiam mengikuti irama permainannya.

“izinkan aku memilikimu malam ini saja jae, just one night! Aku tahu kau akan menikah dengannya, setelah hari ini aku akan pergi darimu, biarkan aku mendapatkan salam perpisahan darimu jae, biarkan aku merasakan dirimu terakhir kalinya, jika aku telah menyakitimu lebih banyak, biarkan aku hapus semua rasa sakit itu, biarkan aku menebusnya malam ini dengan cinta kita berdua….”

Dan perlahan tubuhnya mulai merasukiku, membawaku terbang mencapai nirwana.

Malam itu dia memperlakukanku layaknya sebuah perhiasan yang sangat berharga.

Aku bisa merasakan kehangatannya lebih dalam, dan setelah sekian lama aku mulai merasakan kembali kesempatan untuk cinta itu kembali terbuka……

 

~~~

 

Sinar matahari terasa menusuk mataku yang sedang terlelap tidur, dan kurasakan aku tertidur di atas tubuh kekar itu. Dadanya yang bidang sejak malam menjadi lahan tempatku berbaring.

Perlahan kukenakan kemeja miliknya yang kebesaran karena bajuku sudah hancur terkoyak olehnya.

Ya, tadi malam benar-benar fantastis, setelah sekian lama akhirnya aku bisa merasakannya kembali.

Namun, perasaan bersalah itu kembali membayangiku. Aku telah melakukan kesalahan besar, kini aku benar-benar telah mengkhianati juri. Aku telah membuatnya sakit hati. Aku benar-benar pria brengsek.

“jae…..”

Yunho segera terbangun dari tidur lelapnya saat dilihatnya diriku berdiri dihdapannya.

“morning, aku telah menyiapkan sarapan kecil untukmu….err, yun bisakah setelah itu kau meninggalkan rumahku, kau berjanji tadi malam adalah yang terakhir”

Yunho menatapku polos, dan tersenyum pahit kepadaku.

“baiklah…..”

Ujarnya dan beralih menuju kamar mandi.

 

*yunho POV*

 

Hari ini adalah hari pertemuanku dengan juri-san. Dia adalah tunangan jaejoong. Aku mendapatkan nomornya dari anak buahku yang selama ini emmantau jaejoong dan melacaknya. Jika terdengar dari nada suaranya juri-san memang ornag yang sangat lembut dan baik.  Jaejoong pasti akan membunuhku jika dia tahu aku akan membeberkan segalanya tentang hubungan kita.

Tapi juri harus tahu, dia akan menjalani suatu pernikahan yang palsu apabila menikah dengan jaejoong.

 

Tak lama kemudian sesosok wanita cantik mengenakan dress berwarna pink serta cardigan putih mengahmpiriku. Wajahnya terlihat sangat cantik dengan senyumannya yang lebar dan manis.

“permisi, anda tuan jung?”

Aku mengangguk pelan, dan mempersilahkannya duduk.

“anda ingin pesan apa juri-san?”

Dia menggeleng pelan menolak tawaranku.

“tidak, terima kasih”

Aku hanya tersenyum kecil membalasnya.

“maaf, ada apa anda ingin berbicara dengan saya disini? Dan anda siapa?”

Aku terdiam sejenak mencoba menenangkan hatiku dan menormalkan intonasi suaraku.

“baiklah, perkenalkan saya jung yunho…saya tahu anda sama sekali tidak mengenal saya, ini semua ada sangkut pautnya dengan jaejoong…….dia, jaejoong adalah kekasih saya”

Juri terlihat sangat terkejut mendengarnya, namun dia kembali menenangkan dirinya.

“jadi hero-kun gay??”

Dia menatapku dengan nanar.

Aku hanya bisa menghela nafas berat.

“aku tak tahu, tapi kami saling mencintai dan hubungan kami telah terajut bahkan sebelum jaejoong mengenalmu juri-san. Sebelum kalian saling mengenal banyak hal yang terjadi antara aku dan jaejoong yang membuat kami berpisah, namun tuhan akhirnya berbaik hati mempertemukan kami kembali.

Maaf aku membuatmu terkejut, tapi kau harus tahu kau hanya akan menjalani suatu perniakahan palsu tanpa cinta dengannya,kumohon pikirkanlah lebih lanjut ini semua”

Dia terdiam dan matanya terlihat berkaca-kaca aku tahu berat baginya.

“tuan jung, kau tahu? Aku telah mencium gelagat anehnya sejak kami pertama kali bertemu tapi aku hanya menghiraukannya, jadi benar ada sosok yang sangat dia cintai itu, dan itu adalah kau…..”

Dia terdiam mematung menudukan wajahnya yang kecewa.

“maaf…maafkan aku, tapi aku hanya ingin kau tidak menyesal di kemudian hari….”

Juri mengangguk lemah dan menatapku nanar.

“meski aku ingin memutuskan ini semua, tapi aku tak punya hak lebih lanjut….aku tak akan mengatakan aku membrikan hero-kun padamu saat ini, tapi…aku akan membiarkannya memilih antara aku atau kau.

Aku akan membiarkannya memilih antara kita, siapa yang berhak mendampinginya, maaf tuan jung, saya harus segera pergi, permisi….”

Dia meninggalkanku begitu saja, membiarkanku yang tercengang menatapnya.

 

Apa yang harus kulakukan saat ini? Aku tak mungkin membiarkan jaejoong memilih juri, tapi wanita itu juga wanita yang baik, dan dia tak pantas untuk disakiti.

Jika kau tahu, mungkin aku memang orang yang jahat, orang yang paling egois.

 

*jaejoong POV*

 

Seluruh keluarga sibuk menyiapkan berbagai perlengkapan untuk upacara pernikahan yang sebentar lagi akan dimulai. Kuhentak-hentakan kakiku sejenak karena gugup, jujur aku takut, aku gelisah aku merasa tak siap, semakin matang persiapan pernikahan semakin takutlah diriku. Aku menjadi pengecut saat ini dan aku benci diriku yang seperti ini.

“jae…”

Suara lembut umma menyadarkanku dari lamunanku.

“umma,”

Aku berlari kepelukannya yang hangat, dia mencium keningku lembut.

“sebentar lagi kau akan menjadi seorang suami, kau harus bisa menjaga keluargamu, araseo?”

Aku mengangguk pelan tanda mengerti. Aku tak yakin dengan ini semua.

“ayo, para tamu undangan telah menunggu di luar, upacaranya akan diadakan beberapa saat lagi”

Kutarik nafas dalam –dalam sebentar lagi adalah awal dalam perjalanan baruku. Semoga semuanya baik-baik saja.

 

~~~

 

Saat ini aku sudah siap dengan berdiri di depan altar menyambut kedatangan calon mempelai wanita.

Aku melirik bagian di bangku para tamu, namun aku tak menjumpai sosoknya. Bodohnya aku mengharapakannya datang, dia tak akan datang. Dari kejauhan juri dengan gaunnya yang indah mulai memasuki pelataran pintu masuk. Dia terlihat sangat anggun dengan gaun-nya. Perlahan sosoknya mulai mendekat, senyumnya yang lebar menghiasi bibirnya yang mungil. Kusambut jemarinya dengan perasaan cinta.

 

~~~

 

“saat ini kita semua hadir disini untuk menjadi saksi cinta atas upacara pernikahan tuan hero kim dan nona ueno juri, dan saya berdiri disini selaku perwakilan sebagai saksi syah berjalannya pernikahan.

Baiklah….kita akan memulai upacaranya………..”

Jantungku berdebar tak karuan, perasaanku sangat kacau dan aku ketakutan.

Aku menantikan sosok itu,aku ingin melihat wajahnya untuk terakhir kalinya.

“anda, sauadara hero kim, bersediakah anda menjadi suami bagi saudari ueno juri, dna menjadikan diri anda sebagai sosok yang menemani dikala sedih dan senang, dikala suka dan duka, –“

BRUKK,

Terdengar pintu terbuka dan sosok itu muncul disaat yang tidak tepat! Sosok itu menatapku tajam, sekaan berkata tidak jae, kutelan ludahku sendiri aku benar-benar kalut saat ini. Aku takut, aku benar-benar tak siap dengan ini semua.

“bersediakah anda? Tuan hero kim?”

Pendeta menatapku dengan tajam, kutatap juri yang sejak tadi menundukkan wajahnya tak mau melihatku.

“ya…….aku bersedia,”

Dan semuanya telah berakhir……ohh, tuhan!

“lalu, apakah anda nona ueno juri bersedia menjadi istri dari tuan hero kim dan menjadikan anda sosok yang emenmani dikala sedih dan senang, dikala suka dan duka, hingga maut memisahkan, bersediakah anda?”

Juri menunduk lemah,

“saya…………….tidak bersedia,”

Dia menatapku dengan tatapan tajam. Dan seketika semua orang dalam ruangan tercengang mendengar perkataanya. Mereka tak menyangka akan apa yang juri ucapkan.

“maaf, maaf untuk semua yang ada disini, tapi……saya memang tidak berhak menjadi istri dari hero-kun,

Karena…ada orang lain yang lebih pantas memilikinya. Maaf aku membuat kalian kecewa……tapi ini sudah menjadi keputusanku, maaf……..”

Setetes air mata mengalir di pipinya yang putih merona, aku hanya terdiam tercengang melihatnya meninggalkanku sendirian di depan altar. Aku tak percaya ini semua terjadi padaku.

Dia meninggalkanku setelah apa yang aku lakukan selama ini.

Dan tiba-tiba sebuah tangan menarikku menjauhi altar, dia mengajakku berlari menjauhi keramaian dan membawaku ke sebuah taman kecil di belakang gereja.

“yun…..apa yang kau lakukan disini? Mengapa kau—“

Dan dia membungkamku dengan sebuah kecupan hangat di bibirku.

“yun……”

Kusentuh bibirku dengan gemetar, aku tak tahu sekarang harus senang atau sedih.

Dan tiba-tiba sosok juri menghampiriku bersama ibuku.

“hero-kun…..”

Dia tersenyum manis, seakan telah melupakan kejadian tadi.

Aku hanya terdiam memandangnya tak percaya.

“maafkan aku mempermalukanmu, tapi aku punya alasan lain…….”

Juri lalu mengalihkan pandangannya pada yunho.

“tuan jung, aku menyerahkan hero-kun padamu. Jaga dia baik-baik aku yakin kalian akan menjadi couple paling bahagia, kalian memang seharusnya bersatu.”

Kutatap juri tak percaya akan apa yang dia katakana, perlahan yunho mengeratkan genggamannya padaku.

“jae, umma menginginkan yang terbaik untukmu…dan jika memang pria ini yang terbaik, umma akan mengijinkannya bersamamu……”

Oh, good! Aku tak percaya umma bahkan membiarkanku bersama yunho?

“umma……..”

Kupeluk tubuh ibuku erat, aku sangat beryukur punya ibu seperti dirinya, dia selalu mengerti apa yang aku mau.

“terima kasih……gomawo………”

Tak terasa sebulir air mata mengalir di pipiku karena rasa bahagia yang begitu besar.

“I love you jae,”

Yunho membisikkan kata-kata indah di telingaku.

“ok, this is marriage proposal……untuk yang kesekian kalianya, kim jaejoong will you marry me?”

Aku tertawa kecil melihatnya berlutut dihadapanku lengkap dengan sebuah cincin berlian.

Kutatap wajah umma dan juri yang tersenyum lebar melihat kami.

“huffttt……..yeah, I do……”

Yunho langsung memelukku dan memutar-mutar tubuhku dalam pelukannya seperti orang kesetanan.

Dia tak hentinya tersenyum dan mengatakan aku cinta padamu kim jaejoong.

“I love you too……”

Dan hari itu adalah hari terindah yang pernah terjadi dalam hidupku. Hari dimana lembaran baru kembali terbuka untukku.

 

 

~5 year laters~

 

“papa!! Aku pergi kikwang sudah menungguku, bye!”

Rye sun meninggalkan rumah dan tak lupa memberi kecupan kecil padaku.

“bye, honey! Hati-hati dijalan”

Ya, rye sun yang dulu hanya seorang gadis kecil kini telah bertransformasi menjadi sosok gadis yang beranjak dewasa. Dia sudah memiliki acaranya sendiri dia tumbuh dewasa seiring berjalannya waktu.

Dan aku……ya, aku telah menjadi anggota keluarga jung, namaku kini jung jaejoong.

Itu bukan mauku, tapi suamiku memaksaku mengganti nama depanku. Apa boleh buat aku tak bisa menolak, tak terasa kami telah menikah kurang lebih 5 tahun. ya, 5 tahun yang lalu dia melamarku dan tak lama dia langsung menikahiku di paris, perancis. Hanya sebuah upacara sederhana tapi sangat sacral.

Aku bersyukur yunho tidak menuntut apa-apa dariku. Aku tak menyangka akhirnya sekian lama aku menanti, aku bisa menyandang nama jung sebagai margaku.

 

Kami telah menutup lembaran hitam masa lalu kami dan berjanji tak akan membahasnya lagi.

Aku merasa segalanya sudah tergantikan, karena aku akhirnya bisa menjalani hidupku sebagai sosok baru. menjadi orang tua untuk rye sun dan calon anak kami.

 

“umma…….”

Yunho yang baru bangun tidur langsung memelukku erat.

“don’t call me umma, yun! Kau bau! Mandi sana,jangan ganggu aku! Aku sedang membuat sarapan”

Yunho mengerucutkan bibirnya lucu.

“aigoo, aegya….umma sangat jahat kepada appa, appa tidak boleh dekat-dekat aegya!”

Aku tertawa kecil melihat tingkah konyolnya. Dia sangat menyayangi janin yang berada dalam kandunganku saat ini. Dia selalu memperhatikanku dan merawatku dengan baik. Dia bahkan bertransformasi dari seorang ayah yang sibuk menjadi ayah yang baik dan selalu ada di rumah.

“aigoo, jung yunho! Mandi, atau kau tidak akan mendapat jatah sarapan dariku!”

Yunho kembali memajukan bibirnya.

“tapi, ada satu syarat!”

Dia memberikan smirk kecil padaku, tandanya ada sesuatu yang harus di dapatkan.

“cium!….”

Dia memonyong-monyongkan bibirnya dihdapanku,

“no! mulutmu bau!”

Tiba-tiba yunho menarik wajahku dan mencium bibirku paksa.

“yak! Jung yunho!!!”

Dia tertawa kecil dan segera berlari memasuki kamar mandi. Aku hanya menghela nafas pasrah melihat tingkah suamiku, yang semakin tua semakin aneh.

 

~~~

 

“jae, aegya menendang-nendang, is that hurts?”

Yunho membelai lembut kandunganku yang sudah memasuki bulan ke 7, ya 2 bulan lagi buah hati kami akan lahir ke dunia ini.

“tidak, aegya kita sangat aktif….”

 

Yunho manggut-manggut sok mengerti.

“ya, aegya seperti umma-nya yang tidak bisa diam!”

Kukerucutkan bibirku tak setuju.

“kenapa aku?!”

Yunho tersenyum kecil.

“just kidding baby,”

Aku tersenyum penuh kemenangan, semenjak aku hamil akulah yang berkuasa di rumah.

Yunho tak bisa menolak apapun perintahku.

“jae, aku dengar baby kita menedang, ouch…….nampaknya dia akan jadi pemain bola seperti cha bong gun! Hahaha……..”

Aku memperbaiki posisiku menjadi lebih nyaman, sejak tadi yunho asyik berkomunikasi dengan bayi yang ada dalam kandunganku. Dia sangat menikmati percakapan kecil dengan bayi kami.

“jae……..”

Aku mendongak malas menatap wajahnya yang tersenyum lebar.

“thank you for being my wife and mother of my child…..”

Dikecupnya lembut bibirku. Aku cinta dirinya yang selalu memperlakukanku istimewa.

Aku mencintai suamiku,

“umma saranghae……”

PLETAK,

“don’t call me umma, jung yunho!! I’m still appa!!”

Yunho hanya mengagguk takut-takut meniyakan kata-kataku.

Yahh, meskipun nyatanya aku disini yang menjalani peran sebagai ibu tapi aku kan tetap laki-laki.

Jadi aku tak mau dipanggil umma,

 

See? That’s my family, my little family……..

Setelah mengalami sebuah perjalanan panjang menemukan cinta sejati, akhirnya aku mendapatkan cinta itu kembali. Aku yang awalnya seorang playboy yang tidak mengenal cinta, akhirnya mulai merasakan apa itu cinta. Aku bersyukur tuhan telah memberikanku banyak cobaan.

Karena dibalik cobaan itu banyak orang baik yang kutemui yang membantuku dalam menjalani hidup.

Aku mencintai suamiku, dan aku mencintai anak-anakku.

Dan akhirnya aku tahu, baby kecilku tidak dilahirkan kedunia ini karena ada sesuatu yang akan dia berikan padaku. Semoga dia bahagia disana, malaikat kecilku.

 

That’s my life story and how about you? ^^

 

My sweet regards,

Mr.jung jaejoong

 

 

 

the end

 

tunggu karya saya selanjutnya ^^


BEAUTIFULL ONE EYE {YUNJAE COUPLE STORY} CHAPTER 8/? YAOI


title : beautifull one eye

 author: jung rye sun

 length: 8/?

 rate:  NC 17

 genre: AU, romance, NC17, MPREG, …..

 WARNING!!! MPREG!!!don’t read this! if u don’t like yaoi!

ANNYEONG!!

pasti dah pada kesel gara2 saya gk post ff ini gece! hahaha………

okay mianhae all!! ^^

 

 

 

******************************************************************

 

 

When love never comeback again,

Then u lost someone that really precious in your life,

You always make your hard way,

Believe someone else, is a good thing

Can u explain about love?

What is love?

How can you love someone?

Everyone have their way to make a wonderfull love story…..

 

 

 

*author POV*

 

Seorang pria berusia sekitar 30 tahun berjalan beriringan bersama seorang gadis kecil. Digenggamnya erat tangan gadis kecil itu, seolah takut sesuatu akan mengambil miliknya itu.

Gadis manis berusia 4 tahun yang tumbuh lebih dewasa dibanding anak seusianya. Dia selalu bisa membuat hati sang ayah merasa bahagia, gadis kecil itu tak mau melihat ayahnya menundukkan wajahnya dan tenggelam dalam kesedihan mendalam. Wajahn mungil yang manis, hidungnya yang mancung, bibir cherry-nya yang memerah sempurna, rambut ikalnya yang berwarna sedikit kecokelatan menjuntai indah. Setiap pakaian apapun yang dikenakannya tak pernah tidak cocok, semua orang melihatnya sebagai sosok yang sangat sempurna, mereka berpikir jika suatu saat nanti anak itu tumbuh dewasa dia akan jadi gadis tercantik di kota. Gadis manis itu mewarisi segalanya pada satu sosok,

Sosok yang sudah begitu lama menghilang tanpa kabar dan berita. Sosok yang seharusnya menjadi pembimbingnya dan panutan gadis kecil itu. Tapi dia menghilang tanpa memberikan seberkas jejak.

Gadis itu selalu merindukan sosok itu, namun taka da yang pernah memberitahunya tentang sosok itu.

Siapa dia? Bagaimana rupanya?

 

Gadis itu tak pernah tahu, yang ia tahu adalah ada ayah yang selalu menyayanginya dan itu sudah cukup.

 

Disisi lain sebuah pulau terpencil,

Sesosok namja cantik menggantungkan hidupnya pada pekerjaan hina di sebuah bar.

Dia tak pernah berfikir akan sebuah dosa, yang dia pikirkan bagaimana esok dia bisa makan, dan bagaimana besok dia akan melanjutkan hidupnya.

Baginya dia hidup sendiri, saat dia terlunta-lunta taka da yang membantunya. Baginya semua orang hanyalah omong kosong. Tak yang benar-benar mengerti dirinya.

 

Tak terhitung berapa kali tubuhnya yang indah itu dijamah mahkluk-mahkluk laknat. Sosok manusia yang gila kehidupan, gila harta, dan tahta. Baginya tubuhnya adalah sebuah sisa bahan bekas yang sudah lama tidak terpakai. Dia tak pernah berani lagi memikirkan masa depan. Setelah hal beberapa tahun yang lalu terjadi. Kehilangan segalanya, kehilangan harta yang paling berharga dalam hidupnya.

Kesakitan yang harus dia alami bertahun-tahun dan akhirnya bisa bangkit kembali.

 

Apakah itu tak cukup, untuk seseorang yang sudah mencicipi asam pahitnya kehidupan?

Bahkan dunia tak lebih baik daripada neraka….

 

*yunho POV*

 

“jiyoolie…..”

Anak itu tetap menatapku tajam. Aku tahu ini semua salahku.

Aku tak dating ke pentas seni musical yang diadakan disekolahnya.

“mianhae…..yoolie”

Jiyool hanya terdiam dan akhirnya memandang ayahnya dengan tatapan kosong.

“kau tahu? Aku menunggumu saat pentas berlangsung, aku selalu menantikanmu muncul diantara bangku tamu, tapi kau tak muncul appa…..”

Suaranya yang sendu membuatku merasa sebagai ayah paling jahat di dunia.

“yoolie ahh…..mianhae, kau tahu appa sangat sibuk kan? Appa janji lain kali, appa akan datAng! Ok?”

Mata bulatnya menatapku dengan tatapan polos.

“janji?”

Dia menjulurkan jari kelingkingnya yang begitu kecil.

Kuanggukkan kepalaku tanda mengerti.

“appa berjanji tuan puteri!”

Wajahnya yang cantik bersemu merah dan tersenyum manis.

“aigoo, cantik sekali anak appa ini!”

Kugendong tubuh kecilnya di punggungku.

“appa!”

Ditariknya telingaku untuk mendengar pembicaraannya.

“waeyo honey?”

Kuturunkan tubuhnya dari punggungku.

“kapan jessica umma akan bermain bersama kita lagi?”

Tanyanya dengan tatapan polosnya.

“entahlah, dia sangat sibuk akhir-akhir ini, mungkin weekend besok”

Dia hanya menganggukan kepalanya berusaha mengerti, meski aku tahu dia kecewa.

 

Jung jiyool puteriku, gadis semata wayangku.

Entah mengapa aku merasa dia begitu mencolok di usianya yang bahkan baru menginjak 4 tahun.

Seolah dia berusaha menjadi dewasa. Gadis kecilku yang begitu mirip sosok orang itu.

Orang yang kucari selama bertahun-tahun namun tak kutemukan keberadaanya.

Bagaimana keadaannya saat ini?

Apa dia hidup dengan baik?

Aku tak tahu, perasaan bodoh ini justru muncul setelah ia meninggalkanku.

Setiap malamku berubah menjadi kelabu, setelah ia meninggalkanku.

Hidupku yang dulu mulai berwarna-warni seakan kembali menjadi hitam dan putih.

Aku sadar, aku sangat membutuhkannya disampingku. Dan aku begitu bodoh karena mengecewakannya.

Aku begitu bodoh karena melepasnya.

 

karena dia tidak pernah mengetahui siapa ummanya.

dia memanggil jessica tunanganku dengan kata-kata umma. meski sudah kubilang berkali-kali jess bukan ibunya.

tapi dia tetap bilang. bagiku jessica umma adalah ummaku. begitu ujarnya,

apa yang dapat kulakukan jika dia sudah berkata begitu.

 

Kau tahu sesuatu jae?

Uri jiyool membutuhkan sosok ibunya saat ini. Apa kau tak mau melihatnya tumbuh seperti sekarang?

Mengapa kau tak kunjung menampakkan diri?

Sebenci itukah kau padaku??

Kuhela nafasku berat, aku begitu merindukannya seperti ingin mati rasanya.

Satu kali saja cukup bagiku, asal dapat melihat wajahmu bahagia dan tersenyum padaku.

Aku dan jiyool merindukanmu…….

 

Tahukah kau jae?

Umma sudah pergi untuk selamanya, dia pergi satu tahun setelah kepergianmu.

Dia meninggal akibat kanker Rahim ganas yang menggerogoti tubuhnya beberapa tahun terakhir.

Dan kau tahu?

Disaat terkahirnya dia memanggil namamu, dan terus mengucapkan  kata maaf.

Dia terlihat begitu merasa buruk dan bersalah padamu.

 

Tapi tak ada orang yang lebih buruk selain aku bukan?

Aku yang membuat masa depanmu hancur, membuat hidupmu penuh penderitaan, membuatmu tidak pernah mengalami masa-masa bahagia saat bersamaku. Tapi sekarang aku berubah jae, aku berubah untukmu. Salahkah aku mengharapkan kau kembali ke sisiku kembali??

Aku menginginkanmu, karena aku pria yang munafik dan aku mengakuinya.

 

Aku mencarimu dengan menulusuri setiap bagian di kota chungnam seperti yang kau katakan. Namun, aku tak pernah menemukan jejakmu disana. Yang kutemukan hanyalah sebuah rumah tua yang asri, yang dahulu kau tinggali bersama haelmoni. Rumah yang begitu tua dan tak terurus. Namun aku tahu kau tak pernah menginjakkan kaki disana lagi. Karena aku tak dapat mencium baumu disana.

Apa kau membohongiku?

Aku tahu kau tak pernah kembali ke chungnam,

Kau pergi ke tempat lain yang aku tak tahu dimana itu.

 

Untukmu kukerahkan agen khusus untuk menemukanmu. Aku ingin memberikan kado special untuk jiyool anak kita dihari ulang tahunnya yang kelima bulan depan.

Aku tak mau menikah dengan gadis manapun selain denganmu.

 

Meski Jessica sangat cantik dan perhatian. Aku beru merasakan hal yang berbeda antara ia denganmu.

Kalian begitu berbeda. Kau begitu murni jae, seakan taka da noda pada dirimu itu.

Jessica tidak se-innocent itu lagi. Aku menyadari perbedaan kalian dan selalu membandingkannya.

Dan hasilnya aku selalu menemukan kau yang lebih unggul dibanding dia.

 

Aku gila karenamu kim jaejoong, aku tergila-gila padamu, dan aku rela mati untukmu.

 

~~~

 

“appa!”

Suara gadis kecilku menyadarkanku dari lamunanku.

“mengapa kau berdiam di balkon malam-malam begini?? Kau akan sakit appa”

Wajahnya mungilnya terlihat khawatir melihatku.

“chagiya, appa taka apa-apa”

Kuelus lembut pipinya yang merah.

“appa, temani aku tidur! Kau bilang akan membacakanku cerita kan?”

Ditarik-tariknya t-shirt yang kukenakan.

“ne, appa akan membacakanmu cerita”

Senyum manis langsung mengembang di bibirnya yang mungil.

“kajja!”

Ditariknya tanganku lembut dengan lengannya yang mungil.

 

~~~

 

“appa malam ini kau akan membacakanku kisah apa??”

Kudekatkan tubuhku dengannya. Sesekali kukecup keningnya.

“appa akan membacakanmu kisah the ugly duck”

Dia mulai merapatkan tubuh mungilnya dalam dekapanku.

Sesekali bibir mungilnya menguap kecil.

 

~~~

 

“bagaimana kisahnya? Kau suka?”

Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya kecil. Lalu menatapku dengan tatapan polosnya.

“pasti bebek itu sangat bahagia bertemu ibunya kan appa? Aku juga ingin seperti bebek itu”

Kupeluk erat tubuh kecilnya. Terkadang kata-katanya terasa menohok hatiku. Kalimat polos yang teruntai dari bibirnya seakan menikamku. Membuatku semakin buruk dimatanya.

“mianhae…..”

Ujarku berbisik kecil, dia menatapku penuh perhatian. Diusapnya pipiku lembut.

“appa jangan sedih, mianhae…..jiyool membuat appa sedih,”

Ditundukkan wajahnya merasa bersalah.

Kuangkat wajah kecil itu, dan kukecup keningnya.

“jiyool, kau tidak salah…. Kau tak perlu meminta maaf”

Kupeluk erat tubuhnya yang mungil itu.

“appa temani aku tidur malam ini, boleh?”

Dia menatapku polos.

“ne, kajja…. Sudah malam”

Kuselimuti tubuh kecilnya yang terbaring di sampingku.

Wangi tubuhnya yang terasa begitu familiar, mengapa kau mewarisi segalanya dari pria itu jiyool-ahh?

Mengapa kau begitu sama dengannya?

Kau Nampak seperti imitasi dirinya. Kau adalah bentuk sesungguhnya jika kim jaejoong seorang perempuan….

 

 

 

*jaejoong POV*

 

“jae-ahh…….”

Ditariknya tubuhku kedalam dekapannya, aku berusaha berontak keluar dari cengkraman pria tua bau tanah itu. Dasar pria brengsek, sudah mau mati masih saja bermain gila dengan para host yang ada di club ini.

“ahh, tuan……kau membuatku sulit bernafas!”

Kuhentakkan tangannya yang besar yang melingkar di pinggangku.

“kau terlalu jual mahal jae, ayolah! Kau kubayar 50 juta malam ini”

Mendengar ucapannya membuatku langsung menganga lebar.

“kau berbohong?!”

Dia menggelengkan kepalanya mantap.

“untuk apa aku berbohong jika mala mini kau dapat memberikanku kepuasan extra?”

Digigitnya ujung telingaku.

“errr….. ok, 50 juta dalam semalam!”

Tak ada yang tak akan aku lakukan demi uang. Aku tak akan munafik. Aku mengambilnya karena aku membutuhkannya.

 

~~~

 

Kubuka mataku yang berat perlahan. Sinar matahari rasanya seperti menusuk mataku.

Perlahan kubuka mataku. Dan kulihat diriku yang telnajang bulat tanpa sehelai benangpun hinggap di tubuhku. Kulangkahkan kakiku untuk memunguti pakaianku yang jatuh berserakan di lantai.

 

Kupakai pakaian itu secepat kilat. Perlahan kubangunkan pria tua itu.

“ahjussi! Yak, ahjussi bangun……”

Perlahan dia mulai membuka matanya. Dia membelalakkan matanya sejenak melihatku berada di hadapannya.

“aku mau pulang sekarang! Mana uang yang kau janjikan?”

Tiba-tiba ditariknya tubuhku hingga terjatuh dalam dekapannya.

“kau harus bermain sekali lagi denganku, baru akan kuberikan uang itu untukmu”

Aishh, brengsek!

“lepaskan! Janjimu hanya sekali! Mengapa minta lebih?!”

Dia tersenyum kecil dan kembali memejamkan matanya.

 

Perlahan kumasukkan barang-barangku ke dalam tas kulit berwarna cokelat yang selalu kubawa kemana-mana.  Kulihat sebuah pisau lipat dibagian dalam tas ku.

Perlahan kuhampiri pria  tua brengsek itu,

 

“hey, wake up!”

Dia terlihat kaget sekaligus ketakutan melihat diriku yang sudah menempelkan pisau pada lehernya.

“berikan uang itu sekarang, atau pisau ini akan membunuhmu secara mengenaskan tuan!”

Hahaha……

Dasar kau pria tua bodoh, wajahnya begitu ketakutan melihatku yang bertindak gila.

“b-baiklah…..ambil uang itu di sakuku”

Kuambil jas-nya yang tergeletak begitu saja dilantai. Kukibas-kibaskan saat tiba-tiba segepok uang keluar dari salah satu saku.

“heumm, terima kasih ahjussi! Maaf membuatmu ketakutan, hahaha…… tapi jika kau ingin kembali bermain denganku siapkan uang lebih, karena aku dibayar sangat mahal untuk ini”

Kulempar jas itu kewajahnya dan mengucapkan salam perpisahan.

Dan sebelum aku keluar kamar, aku sempat mengacungkan jari tengahku untukya.

Hahaha…….

Well, I love my own way…….

 

~~~

 

 

“hyung, bagaimana malammu dengan ahjussi itu? Pasti kau dibayar sangat mahal dengannya”

Junsu menatapku dengan tatapan jealous.

“hahaha…. Tidak juga”

Dia membulatkan matanya mendengar kata-kataku.

“mwoo?! Yahh…. Aku tahu jam terbangmu sebagai host professional tidak sebanding denganku yang baru beberapa tahun. Siapa pula wanita dan pria yang tak mengenal host hero jaejoong”

Ujarnya seraya meledekku.

“hahaha…. Aku popular dengan sendirinya su, aku juga tak tahu mengapa aku bisa popular”

Kuhentak-hentakkan tanganku di gelas wine yang kuminum.

“tentu karena service mu baik, hyung”

Kugelengkan kepalaku mengelak kata-katanya.

“cara service-mu masih jauh lebih baik daripada aku xiah junsu”

Junsu hanya menggelengkan kepalanya pelan, seakan berkata terserah kau sajalah.

 

Ok, aku kim jaejoong.

Aku bekerja di sebuah host club di pusat kota pulau jeju ini.

Nama bekenku disini adalah hero jaejoong. Tak ada pria dan wanita yang tidak tergila-gila padaku.

Menurut mereka aku sempurna, hahaha……..

 

Kesempurnaanku hanyalah sebuah topeng bagiku. Mereka tak tahu ada banyak lembaran hitam yang telah mengotori buku perjalanan hidupku. Aku berusaha tampil sempurna dimata mereka. Meski nyatanya aku hanyalah sosok manusia lemah, hina dan tidak berguna.

 

~~~

 

Semuanya berasal dari beberapa tahun yang lalu.

Tahun yang kulalui penuh penderitaan.

Aku harus kehilangan hartaku yang paling berharga dan yang terparah aku harus kehilangan haelmoni yang sangat kusayangi. Hati cucu mana yang tak hancur saat beberapa hari setelah perpisahanku dengan pria itu haelmoni kembali menghadap tuhan. Rasanya aku mau mati saat itu juga.

 

Namun entah mengapa, seperti timbul sebuah dorongan dari hatiku. Bahwa…..

Ada seseorang yang menantikanku dan mengharapkan aku tetap bertahan hidup.

Dan itulah yang membuatku kuat, sosok yang selalu kuingat kehadirannya.

Sosok yang ada dalam tubuhku selama kurang lebih 9 bulan. Namun setelah muncul kedunia ini, aku hanya dapat menimangnya kurang lebih seminggu. Hahaha…….

 

Aku selalu ingin tertawa mengingat betapa bodohnya aku yang dulu. Aku yang selalu mau disakiti. Aku yang terlanjur menjadi manusi innocent yang terlihat idiot.

Namun, aku yang dahulu dan sekarang berbeda 1800

Aku yang dulu akan menangis jika ada badai yang menerjangku. Kini aku akan tertawa jika badai itu dating padaku. Berbulan-bulan lamanya aku hidup dijalanan. Menjadi gembel yang tidak punya apa-apa.

Saat leeteuk ahjussi, pemilik sebuah host club terkemuka di pulau jeju menemuiku dan mengajakku bergabung dengannya. Menjadi seorang host adalah pilihan terakhirku untuk bertahan hidup.

 

Jika aku tidak pernah ditemukannya dan dibawa di club ini. Mungkin saat ini aku sudah menjadi bangkai tulang belulang dan mati konyol karena kelaparan.

 

Meski pekerjaanku sangat hina. Tapi aku berusaha menikmatinya. Training berat yang harus kulalui saat pertama kali menjadi seorang host. Membuatku hamper mati karena meniduri pria gila.

Semua bentuk ragam manusia sudah kucicipi disini. Meski berbagai resiko menakutkan terutama penyakit kelamin harus membayangiku tiap hari. Namun, inilah hidupku saat ini.

Tak ada lagi kim jaejoong yang lemah, karena sekarang yang ada hanyalah hero jaejoong.

Itulah mengapa aku mengambil kata hero.

Karena dengan hero aku merasa aku adalah orang yang kuat dan dapat bertahan dalam segala situasi.

 

Aku telah berjanji pada diriku sendiri setelah melangkahkan kaki dari makan haelmoni.

Aku akan menjadi orang yang kuat dan tak akan menangis lagi. Karena air mataku sudah terlanjur kering. Aku benci diriku yang lemah dulu. Dan aku berjanji tak akan pernah menjadi sosok lemah itu lagi.

Jaejoong yang dulu, berbeda dengan jaejoong yang sekarang…

Karena diriku yang dulu sudah terkubur dalam-dalam direlung hatiku yang paling dalam.

 

~~~

 

“jae, banyak laporan service mu memuaskan banyak client!”

Leeteuk menghampiriku dan merangkul pundakku.

“ya, aku hanya berusaha professional saja”

Aku hanya menjawab datar sambil memainkan gelas wine ku.

“kau tahu jae? Kau adalah asset terbesar klub ini, tanpamu kita akan bengkrut, ahhh…. Kau benar-benar malaikat penolong jae,”

Aku memberikan senyum sinis padanya. Hahaha……

Malaikat? Aku adalah iblisnya.

 

Dulu mungkin aku memang malaikat, tapi sekarang rasanya sosok itu sudah terkubur dalam tanah.

Aku benci sosok malaikat itu. Karena sosok itu yang membuatku menderita.

Aku tak ingin kembali menjadi malaikat dan menjadi sosok paling sabar dan bodoh.

Tidak akan pernah! Setelah pria masa laluku menghancurkanku berkeping-keping.

 

 

~~~

 

You are my memory,

You are nothing……..

I’m here because of you,

You change me to be like this,

And I’m sure I never want you comeback to me….

 

TBC

COMMENT PLEASE!

 


PLAYBOY BOYFRIEND { YUNJAE COUPLE STORY } CHAPTER 14/? YAOI


Title: playboy boyfriend

author: jung rye sun

length: 14/?

rate: maybe NC 17..

genre: AU, romance, NC17, and a little bit straight, OC…

WARNING!!! MPREG!!!don’t read this! if u don’t like yaoi!

Annyeong!!!

Jung rye sun imnida! #plakk

Hari ini saya kembali membawakan kisah umma dan appa ku!

Komen yg membangun di chap menuju ending ini sangaaaattt ditunggu! ^^

Daripada kebanyak cuap2 ntar aye didemo, mending langsung cekidot aje!

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

*yunho POV*

 

Akhir-akhir ini jaejoong dan putriku terlihat semakin dekat. Setiap weekend tiba, rye sun selalu mengajakku bertemu dengan ahjussi tampan kesukaannya itu. Dia selalu memanggil jaejoong  “ahjussi tampan” kupikir anakku terkena demam idola dengan jaejoong. Aku iri dengan anakku sendiri, mengapa dia bisa sangat dekat dengan jaejoong sedangkan jaejoong selalu berlaku dingin padaku?! Ini tak adil!

Hufffttt…….

Padahal aku ayahnya rye sun, dan tentu saja aku tampan dan gagah. Haduhhh….. mengapa aku begitu bodoh akhir-akhir ini?

“appa!!!”

Suara nyaring rye sun menyadarkanku dari lamunanku.

“waeyo?”

Perlahan dia mendekatiku dan duduk di pangkuanku.

“ahjussi tampan bilang dia mau mengajakku ke taman bermain hari ini! Boleh tidak??”

Matanya berkedip-kedip lucu berharap aku akan mengijinkannya. Kutatap wajahnya dengan nakal sembari mendelik.

“heummm……”

Dia menepuk-nepuk bahuku, tanda ingin di ijinkan pergi.

“sepertinya tidak, bukankah hari senin besok kau mid semester? Jadi……kau harus belajar”

Rye sun yang mendengar hal itu langsung mendengus kesal dan menatapku marah.

“appaaa!! Aku bosan belajar terus! Kata ibu guru, jangan belajar terus-menerus itu tidak baik untuk otak dan pikiran kita, ayolah appa! Please!!”

Dia menatapku dengan tatapan puppy eyes-nya. Dan membuatku ingin tertawa terbahak-bahak melihatnya.

“mwo? Gurumu bilang begitu?”

Dia mengangguk mantap meyakinkan.

“appa please!!!”

Dia kembali meluncurkan wajah super puppy nya kepadaku. Dan artinya aku tak boleh menolaknya.

“yeah, ne…..but! ada satu syarat!”

Ujarku tersenyum nakal,

“apa?”

Dia menatapku dengan tatapan bingung.

“appa ikut bersama kalian!!”

Rye sun langsung mendengus kesal mendnegarnya.

“ahhh, appa!! Kau akan merusak kencanku jika kau ikut!!”

MWO?!!

Kencan???

“maksudmu?!!”

Rye sun hanya tertawa kecil.

“ihh, appa! Aku kan mau kencan dengan pangeran dari negeri dongeng,”

Rye sun tersenyum lebar semabari mengedipkan matanya lucu.

“siapa?!”

Oh,no!

Jangan bilang anakku jatuh cinta dengan orang yang juga kucintai. Tuhan! Putriku masih terlalu kecil.

Lagipula apa jaejoong mau dengan seorang anak kecil? Dia bukan pedofil bukan?

“sunnie-ahh, jaejoong ahjussi itu bukan pangeran untukmu, kau masih kecil, jadi jangan seperti ini,

Kau boleh menganggapnya idolamu, tapi jangan jadikan dia pria masa depanmu”

Rye sun mendengus lemah mendengar ucapanku. Oh, gadis kecilku suka dengan seorang ahjussi?

“ne, appa…. Tapi aku mau jalan-jalan dengan ahjussi!!”

Aku hanya menganggiuk lemah. Nampaknya aku harus memantau anakku ini, tidak boleh jika anakku menyukai calon ibunya, hey! Mengapa aku begitu percaya diri akan mendapatkan jae lagi?

Oh, sudahlah…..

“ne, kajja!”

Ujarku mengajak rye sun berganti pakaian.

 

~~~

 

Akhirnya kami tiba juga di seoul central park, kulihat jaejoong yang sedari tadi menunggu di dekat gerbang pintu masuk taman bermain.

“ahjussi!!!”

Rye sun berlari pelan memeluk ahjussi-nya itu.

“ohh, sunnie-ahh! Ahjussi menunggumu daritadi, kau lama sekali?”

Jaejoong menatap rye sun dengan tatapan lucu. Dia terlihat sangat manis hari ini.

Kaos v-neck putih dan celana jeans cokelat cream, membuatnya terlihat fresh. Tiba-tiba dia menyadari kehadiranku dan menunduk pelan.

“ahjussi! Appa ingin ikut bersama kita, bolehkah?”

Jaejoong menatapku sejenak lalu menatap rye sun.

“heummm….ne, appa boleh ikut”

Rye sun turun dari gendongan jaejoong dan berlari menghampiriku.

“ayo, appa! Let’s go! Kita bersenang-senang hari ini!”

Perlahan rye sun menarikku mendekat dengan jaejoong. Kulihat jae yang tak berani menatapku. Mungkin karena dia malu. Rye sun berjalan dengan mantap memasuki pintu masuk taman bermain.

Dia berjalan dengan tangan kanannya menggenggam tangan jae, dan tangan kirinya menggenggam tanganku. Aku merasa kita seperti keluarga kecil yang harmonis. Keluarga yang sebenarnya, aku ayah dan jaejoong ibunya. Rye sun begitu semangat hari ini. Dia mengajak kami untuk bermain di semua arena permainan sampai saat kita tiba di arena roller coaster.

“uwoo!!! The roller monster!!!”

Rye sun memandang takjub ke arena permainan roller coaster yang sangat besar.

“appa!! Aku mau naik itu?!”

Dia menunjuk ke arah roller coaster yang melaju dengan kecepatan kilat di atas sana. Aku yang baru melihat saja sudah bergidik ngeri, bagaimana mau menaikinya?!

“itu terlalu berbahaya sunnie-ahh, kau masih kecil! “

Ujar jaejoong yang berusaha menasehati rye sun.

“aniya!! Aku mau naik ahjussi,appa! Ayo naik itu!”

Dia menarik-narik tangan kami ke dalam area antrian permainan itu. Dan, setelah kami mengantri disana benar saja, rye sun tidak diperbolehkan naik karena masih dibawah umur.

“appa, aku mau naik! Tapi kenapa tidak boleh sama petugas?! Isshh, sebel!”

Jaejoong tertawa kecil melihat tingkah rye sun. aku hanya mendengus kesal melihat tingkah keras kepala anakku ini.

“kan, sudah dibilang yang boleh menaiki permainan ini anak berusia lebih dari 9 tahun,”

Rye sun hanya menatapku kesal.

“ahh, berarti itu kan masih 2 tahun lagi! Yahh,”

Dia hanya menunduk kesal, sembari menghentak-hentakkan kakinya.

“lebih baik kita bermain ke arena permainan lain, yang untuk anak kecil”

Ujar jaejoong berushaa menghibur rye sun.

“ aniya, aku ingin kalian naik ini! Ayolah, kita kan sudah diujung jalan mengantri, hehe….”

Rye sun menatapku nakal, dia tahu sedari tadi aku malas memasuki arena ini karena takut.

Jaejoong hanya meringis pasrah pada rye sun. dia pasti tak akan menolak kehendak putriku. Dan pasti jaejoong yang akan dijadikan senjata anakku ini untuk membuatku jantungan naik roller coaster.

“aku akan marah jika kalian menolak….”

Shit! Anakku benar-benar stubborn girl, ohh…

“ne, ahjussi dan appa akan menaiki permainan itu! Ne, kajja yunho!”

Jaejoong menarikku, sembari mengiyakan apa yang dikatakn ryesun.

 

Akhirnya tiba waktunya giliran kami yang akan naik.

Rye sun yang berdiri di dekat kami hanya berteriak menyemangati. Kulihat wajah jaejoong yang terlihat tak nyaman. Entah karena kami duduk berdua dan sangat dekat, atau karena menaiki roller coaster.

Aku tersadar kami berada begitu dekat, sampai-sampai aku dapat mencium aroma tengkuknya yang memabukkan. Dan, akhirnya aku bersyukur pada anakku yang memberikan kami challenge ini.

Jika tidak, kami tak akan berada sedekat ini.

“jae, are u scared?”

Dia menatapku sejenak dan menggelengkan kepala pelan. Aku juga takut sebenarnya, tapi dengan dia yang berada disampingku membuatku ingin melindunginya dan membuatnya nyaman.

“baiklah, pada hitungan ke-5, kereta akan dijalankan…..”

Operator berkata dengan lembut. Dan kulihat wajah jaejoong yang semakin ketakutan.

Dan perlahan kereta-pun berjalan dengan pelan menuju rel teratas arena ini. Perlahan kutatap wajahnya dan kugenggam erat tangannya. Dia hanya menatapku kosong, dan aku berkata “jangan takut, aku disampingmu, pejamkan saja matamu……” dan keretapun meluncur dengan kecepatan tinggi.

Aku tak merasakan ketakutan sedikitpun saat ini. Justru aku sangat bahagia dengan moment ini.

Karena ini, aku bisa begitu dekat dengan jaejoong. Dan aku merasakan bahwa dia milikku, seutuhnya dan sepenuhnya…..

 

~~~

 

Seusai puas bermain, kami berpicnik ria di taman kota dekat taman bermain. Jaejoong ternyata sudah menyiapkan bekal makan siang untuk kami. Meski tidak banyak, tapi cukup untuk bertiga.

Rye sun sejak tadi asyik melihat foto-foto kami selagi berada di taman bermain.

Dia tertawa terbahak-bahak melihat fotoku saat bermain roller coaster dengan jaejoong.

Katanya appa tersenyum-senyum bodoh seperti orang gila. Dasar anakku ini suka kurang ajar.

Jaejoong yang melihat fotoku langsung menyadari mengapa aku bertingkah seperti itu.

Dia hanya tersipu malu,

“uahhh, kenyang!”

Ujarku dan rye sun berbarengan, dan menyenderkan tubuh kami di sebuah pohon besar.

“jae, trims untuk hari ini!”

Dia hanya tersenyum malu mendengar ucapanku.

“ahjussi, hari ini sangat menyenangkan! Andai kita berdua aja, pasti lebih menyenangkan! Hehehe……”

Rye sun menatapku meledek, aku hanya mendengus kesal.

“tahum tidak?! Appa memaksaku lohh, supaya ikut jalan-jalan bersama ahjussi, hehehe”

Jaejoong yang mendengarnya spontan tersenyum malu, pipinya yang putih bersinar merah merona.

“yak! Jung rye sun!”

Kutatap wajah jaejoong dengan tatapan dalam, aku tahu dia tak akan bisa mengabaikan tatapanku ini.

Jae, aku akan memilkimu segera, pasti!

 

~~~

“trims for today, yun, rye sun!”

Jaejoong melambaikan tangannya dan menjauh memasuki mobilnya.

“ayo masuk,”

Perintahku menyuruh rye sun masuk ke mobil.

“appa…..”

Rye sun menatapku dalam.

“wae?”

Balasku menatapnya bingung.

“apa kau menyukai ahjussi??”

Oh, apa yang harus kukatakan padanya?!

Apa aku harus bilang, ya! Dan aku berniat menikahi ahjussi mu tuk kujadikan umma mu.

“errr……..entahlah,”

Dia hanya mengangguk pelan. Kuputuskan untuk memutar lagu  menghilangkan keheningan.

Kuputar lagu itu dengan volume cukup besar. Sengaja kuputarkan lagu Justin bieber agar putriku diam dan tidak bertanya lagi tentang hubunganku dengan jaejoong. Aku hanya merasa nampaknya putriku masih terlalu kecil untuk mengerti hal ini.

 

 

*jaejoong POV*

 

Kumasuki apartemen ku yang begitu sepi. Kumasuki kamarku dan membanting tubuhku di kasur.

Perlahan kupejamkan mataku. Pikiran-pikran itu kembali membayangiku.

Rasanya sentuhan tangannya masih membekas hingga saat ini.

Ini bukan pertama kalinya kami seperti ini. Aku ingat pertama kali kami mulai saling mengenal. Saat dia menantangku untuk menaiki roller coaster. Dan kenangan itu terjadi kembali. Entahlah, aku merasa duniaku saat ini seperti flashback dari semua masa lalu. Tuhan memperkenalkanku kembali dengan dia, meski sebagai sosok lain dan asing dimataku. Kehidupan kami yang sudah sangat berbeda.

Dulu aku hanyalah seorang anak muda yang hobi bersenang-senang, sedangkan dia executive muda yang mapan. Dan, sekarang…. Dia adalah seorang duda beranak satu, dan aku seorang pria mapan yang telah memiliki tunangan. Ya, seorang tunangan, wanita dalam hidupku yang kelak menjadi istriku.

Terkadang aku merasa tuhan tidak adil. Dia membangkitkan kembali kenangan masa laluku. Menghadirkan orang yang berharga dulu dalam hidupku. Sehingga aku tak sanggup memilih.

Aku ingat telepon terkahir juri padaku, dia menginginkan sebuah pernikahan secepatnya.

Aku telah meninggalkannya terlalu lama. Apalagi aku belum kembali ke jepang beberapa bulan ini.

Ibuku juga sudah sangat tua, dan terus menanyakan tentang seorang cucu padaku. Apa yang harus kulakukan? Sedangkan perasaan ini kembali hadir kepada jung yunho, apa aku harus mengabaikan perasaan ini dan bertindak tidak egois dengan orang sekitarku? Tapi aku menyakiti hatiku.

Aku sejujurnya takut kembali pada yunho, tapi aku inging, ingin kembali merajut cinta dengannya.

Tak perduli meskipun statusnya seorang duda. Tapi aku memiliki tunangan yang menungguku dengan sabar di jepang. Dan kami sudah berkomitmen untuk segera menikah.

Dddrrrrtt……..drrttt………

Kurasakan handphoneku bergetar di saku celana jeans-ku.

“ya,”

Ujarku santai.

“hero-kun…”

Terdengar suara wanita yang menjadi tunanganku diseberang sana.

“aku merindukanmu, kau sedang apa heumm?”

Ku ubah posisiku agar berbicara menjadi lebih nyaman.

“aku hanya sedang tidur-tiduran, kau sedang apa?”

Terdengar helaan nafas berat di seberang sana.

“kau tahu, oka-san sakit lagi, dia harud di opname, dan dia sudah di rumah sakit sejak  5 hari yang lalu,”

Aku mendengar kesedihan yang begitu besar disana, namun sayang aku tak bisa menemaninya.

“maaf, aku tak bisa menemanimu…..”

Dia hanya tertawa kecil.

“tidak apa-apa, aku tahu kau sibuk….oh iya, boleh aku menanyakan sesuatu padamu?”

Terdengar dari nada pembicaraannya kupikir ini akan menjadi obrolan penting.

“ya, katakan saja”

Dia mulai membenarkan suaranya,

“kau tahu bukan keadaan oka-san seperti apa? A-aku….errr……dia mengatakan ingin aku dan kau menikah secepatnya. Karena dia takut akibat penyakitnya yang parah dia tak dapat melihat kita menikah. Apa  kau keberatan?…. ohya, kira-kira kapan kau akan kembali ke jepang?”

Aku yang mendnegarnya hanya bisa menahan nafas berat. Aku tak tahu harus mengatakan apa padanya.

Ini memang sudah seharusnya terjadi, seorang yang sudah bertunangan sudah selayaknya menikah.

Tapi masalahnya aku menjadi tidak siap dengan pernikahan ini.

“errr….aku berencana menyelesaikan proyek terkahirku dulu, yang mungkin selesai sekitar 3 hari lagi…..setelah itu, aku akan kembali ke jepang, dan…..yah, mungkin kita akan menikah,”

Dia terlihat begitu senang mendengarnya. Aku tahu perasaanya yang kutinggal selama 6 bulan lebih dan hanya bisa berkomunikasi lewat handphone. Tentu sangat membosankan. Tapi karena dia gadis yang baik, aku tahu dia tak akan bermain serong dibelakangku, tapi malah aku yang mulai menghianatinya.

“aishiteru, hero-kun…….”

Dia berbisik lirih di telephone,

“ah, ya…aishiteru,”

FLIP,

Dan telephone pun terputus. Kupandang layar handphoneku yang menampakkan foto ku dengan juri yang sedang berfoto mesra.

Mengapa mengucapkan kata-kata aishiteru begitu berat saat ini?

Apa ini artinya aku sudah kehilangan rasa dengan wanita itu?

Ohh……kuharap tidak! Dia wanita yang terlalu baik untuk disakiti.

 

~~~

 

Sejak hari itu aku terus saja memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengutarakan kepergianku dan artinya perpisahan dengan yunho. Entah dia perduli atau tidak. Aku hanya ingin mengatakan salam terakhir. Apalagi tepat hari ini hubungan bisnis kita selesai. Dan artinya tidak ada lagi alasan untukku ke kantornya. Ya, aku sadar terkadang aku ingin dia memperhatikanku. Meskipun aku juga tak suka dengan sikapnya yang terkesan over padaku. Mungkin, aku hanya orang munafik yang mengubur perasaan ini dalam-dalam. Dan tak mau membangkitkan rasa itu. Membiarkannya menghilang ditelan bumi. Meskipun tetap saja rasa itu tak pergi.

 

~~~

 

Aku dan yunho berjanji bertemu pada jam makan siang, dan sekarang aku restoran menunggunya dengan gugup. Aku hanya takut dengan reaksinya jika aku mengatakan akan menikah dengan juri.

Tak berapa lama kemudia kulihat sosoknya dari kejauhan yang mulai mendekat memasuki café,

“hi,jae……”

Dia terlihat sangat rapih dan keren seperti biasanya. Dia terlihat sangat bahagia dengan undanganku.

Apalagi beberapa bulan kita bertemu ini pertama kalinya aku mengajaknya ke café berdua.

“nampaknya ada sesuatu yang akan kau katakana, jae?”

Dia menatapku penuh selidik, dan itu membuatku grogi.

“ eumm, nope! Errr……kau mau pesan apa?”

Ujarku cepat-cepat mengalihkan perhatiannya.

Tak lama seorang waitress datang menghampiri kami. Yunho dan aku hanya memesan jus dan coffee.

 

“yun aku ingin mengatakan sesuatu padamu…….”

Dia mendongakkan kepalanya seakan berkata ‘ada apa’.

“a-aku……akan kembali ke jepang,”

Dia menatapku bingung dan berusaha mencerna kata-kataku.

“t-tapi mungkin hanya beberapa bulan, kau tahu bukan aku punya seorang tunanngan disana. Dan sekarang dia sangat membutuhkanku. Apalagi kita juga berencana akan menikah secepatnya”

BRAAKK,

Dia menghentakkan meja kasar. Sampai beberapa orang mengalihkan pandangannya pada kami.

“A-apa maksudmu jae?! Kau tidak bisa! Lalu bagaimana dengan perusahaanmu?!”

Dia menatapku marah.

“ya, aku akan menyerahkan tugas pada bawahanku, lagipula masih ada umma-ku yang dapat membantuku. Lalu apa urusanmu melarangku? Bukankah bisnis kita sudah selesai? Kita sudah taka da hubungan relasi lagi.”

Ujarku berusaha berbicara setenang mungkin.

“tidak bisa!! Apa kau mau meninggalkan semuanya begitu saja, menjadi seorang suami tidak mudah jae, tanggung jawabmu akan lebih besar. Dan masalah akan selalu menantimu setiap saat!”

Jadi ini alasannya, dia tidak mau aku ke jepang. Karena aku akan menikahi juri disana.

Apa itu tandanya dia benar-benar mencintaiku?

“apa urusanmu dengan pernikahanku jung yunho?! Kau bukan siapa-siapa ku, kita hanya teman! Aku punya hidupku sendiri saat ini. Untuk urusan sanggup atau tidaknya aku yang menikah dan menjalani semuanya! Mengapa kau yang pusing?!”

Dia hanya terdiam terhenyak mendengar kata-kataku, taka da alasan lain untuknya melarangku.

Aku bukan siapa-siapa nya. Dan saat ini kita hanya teman dan hubungan kita tak lebih dari relasi bisnis.

“sudahlah, aku malas berdebat…..aku kesini hanya untuk mengucapkan salam perpisahan padamu, karena mungkin aku akan lama disana, jadi…. Maaf jika selama ini aku sering membuatmu susah atau kesal, berhubung hubungan kerja kita juga berakhir hari ini. Gamsahamnida jung yunho sshi! Terima kasih atas semuanya,”

Aku langsung meninggalkannya yang masih terdiam di tempat duduk.

 

Aku berjalan menuju mobilku di sebuah gang yang cukup sepi.

Saat tiba-tiba…..

“JAE!!”

Yunho berlari cepat kearahku, dia terlihat kelelahan mengejarku.

“apa?”

Ucapku berusaha sedingin mungkin dengannya.

“please! Don’t do that! U kill me u know?! A-aku…….aku tak mau kehilangan mu untuk kedua kalinya,

Kumohon!! Beri aku kesempatan! One more chance!!”

Tatapan matanya yang berapi-api terasa menusukku. Aku tak mengerti cara berpikirnya tentangku.

Apa sebegitu pentingnya kah aku untuknya? Aku hanya seorang mantan, dan aku tidak meninggalkan kisah manis saat bersamanya. Justru saat bersamaku hidupnya menjadi sulit dan menderita.

“apa yang kau butuhkan dariku?! Cinta? A-aku tak mencintaimu lagi jung yunho! Kita sudah berakhir sejak hari aku meninggalkanmu, biarkan aku menjalani hidupku! Aku punya kehidupanku sendiri, kau menikah dengan seul gi, sampai mempunyai anak! Tapi mengapa aku tak boleh?! Kau egois!”

Bohong, semua itu kata-kata palsu yang keluar dari bibirku.

Aku memang orang yang munafik, aku tak mau mengalahkan perasaanku dengan egoku.

Tiba-tiba dia mendorongku merapat ke dinding. Dikuncinya tanganku dengan otot tangannya yang kuat.

“apa maumu?!!”

Dia hanya meringis kecil,

“ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, aku tak pernah sekalipun melupakanmu, aku masih belum menganggapmu mantanku, karena kita tidak pernah benar-benar putus. Kau pergi begitu saja tanpa kabar bertahun-tahun. Sebagai seorang pria dan memiliki seorang teman wanita. Apalagi wanita itu mencintaimu kau tentu akan memilih wanita itu untuk kau nikahi. Meski aku menikah dengan seul gi, tapi tak dapat kupungkiri hasratku bukan untuknya, tapi untukmu! Aku menunggumu, mencari kabar tentangmu, hingga akhirnya tuhan berbaik hati mempertemukan kita, lewat sebuah hubungan bisnis! Kau yang selalu mengacuhkanku, membuatku menggila! Dan aku putuskan untuk mengejarmu kembali…..”

Nafas yang memburu disela suaranya membuatku diam tak terkutik dalam luapan emosi perasaanya.

“bagiku kau begitu sempurna! Aku hanya menginginkanmu jae, bagiku…..kau sama pentingnya dengan rye sun. aku mencintai kalian berdua, dan kau tahu?! Setiap melihat kalian berdua bercengkrama, aku selalu membayangkan jika kau dan rye sun adalah ibu dan anak, aku mencintaimu jae….

Aku ingin kau jadi istriku,”

DEG,

Apakah ini sebuah marriage proposal??

“yun, lepaskan aku…..”

Perintahku lemah,

“tidak…..”

Kutatap mata cokelatnya yang memburu itu.

“huffttt…… kau tahu?! Kau bodoh jika menginginkanku kembali! Aku tak bisa memberikanmu apa-apa! Sebuah kebahagian saja aku tak mampu, apalagi keluarga?! Aku pernah membuatmu kecewa, kehilangan seorang anak…apa yang kau inginkan dari pria yang tidak jelas sepertiku? Kau bisa menemukan yang lain yang lebih baik dariku! K-kau…….punya rye sun, dia butuh seorang ibu, bukan aku!”

Dadaku sesak rasanya, mataku mulai berair.

“kau! Pria yang membuatku sakit yun, kau tahu?! Berapa lama waktu yang kubutuhkan menghilangkan luka batin karenamu?! Luka karena kehilangan orang yang kucintai, luka kehilangan seorang anak?!

Aku hancur yunho! Apa yang kau harapkan dariku?! Aku tak bisa memberi apa-apa padamu?! Buka matamu lebar-lebar! Bairkan aku hidup sendiri yun, dengan hidupku yang baru!”

Dan akhirnya air mata itu turun juga. Yunho yang menatapku tajam mulai melunak.

Perlahan dia mulai melepaskan pertahanannya. Dibelainya lembut pipiku.

“aku hanya menginginkanmu tanpa perduli siapa dan apa dirimu, dan aku selalu berharap…… orang yang mengisi kehidupan barumu adalah aku, bukan orang lain. Aku mencintaimu jae, kumohon! Mengertilah…..”

BUGGH,

Kulepaskan pukulan keras tepat di pipinya,

“aku tak bisa! Maaf!!”

Aku langsung berlari meninggalkannya yang terdiam tak berkutik menerima pukulanku.

Hatiku jauh lebih sakit ketimbang kau, dan aku……

Lupakan aku jung yunho, anggap aku tak pernah ada. Dan semua akan selesai.

 

~~~

 

Kumasuki pekarangan Incheon airport yang luas. Beberapa orang berlalu lalang disekitarku.

Kutatap jadwal penerbangan yang tertera.

Kulirik sekitarku mencari-cari sosok yang kuinginkan. Namun akhirnya aku hanya bisa tertawa kecil menyadari dia tak mungkin datang. aku berjalan memasuki area boarding pass dengan lesu.

Selamat tinggal seoul, selamat tinggal korea….

Saat aku kembali lagi nanti, imma be a new person…

Yeah, sosok baru…….

 

TBC

PLEASE COMMENT!^^