fanfiction for our soul

Posts tagged “kim sungje

S.E.C.R.E.T (Part 1)


Title : S.E.C.R.E.T
Genre : romance, comedy, m-preg, boyxboy, YAOI, sedikit CANON, OOC, etc
Length :
Author : LaillaMP
Main Cast :
–    Park Geonil
–    Kim Sungje
Other Cast :
–    Kim Kwangsu
–    Yoon Sungmo
–    Song Jihyuk
A/N : ada yang sering main ke kumpulan fanfic? pasti liat ff ini. hehehe XDXD maap ya udah lama ga share ff disini 😀 lagian kayaknya pada belom tau couple ini sih… biar saya kenalkan. look at the photo yaa 🙂
Cerita ini murni fiksi dan dari otak gue tanpa paksaan siapapun. Gue bikin ff ini bukan untuk menjelekkan mereka, atau mengharap mereka beneran jadian atau kawinan. Sekali lagi ini FIKSI!!!!
Kalo ada ff yang sama kayak ff ini, itu bukan kesengajaan. Karena gue belum pernah baca ff yang kayak begini.

WARNING!!!
FF INI HARUS DIBACA OLEH ORANG YANG MENGERTI ANTARA FIKSI DAN NONFIKSI!! GUE GA NERIMA KOMENTAR BASHING!! INI CUMA FIKSI!!!!!!! OKAY???

***

(lebih…)

Iklan

Time To Love Part 4


Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”
Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg
Length : ga banyak-banyak (?)
Cast :
–    park geonil *Cho Shin Sung*
–    kim sungje *Cho Shin Sung*
–    other Cho Shin Sung members~
Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerima apa adanya. Maukah geonil mengakui anak itu setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?
Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^
A/N : wahahaaaaaaa gue lupa akhirnya sama ff yang udah lumutan ini. kalo sering ke blog gue pasti udah tau sampe part 7. kkk
kalo ada yang lupa ceritanya, monggo di review~ Prolog | Part 1 | Part 2 | Part 3
yang mau tau siapa castnya, mohon maaf saya belom bisa kasih fotonya *lupa kebawa -_-

***

 

<< previous

“ya Tuhan.. hari ini aku masih bisa menikmati ini..” ucap sungje dalam hati.
Kini masalahnya bertambah lagi. Selain karena kehamilannya, tapi juga karena umurnya. Sungje tidak mempunyai penyakit khusus yang mematikan seperti kanker, stroke, atau jantung. Tapi.. ini tidak ada di dunia medis. Terlalu sulit bagi orang selain keluarganya memaklumi ini.
“sungje-ah!” panggil geonil karena sungje tidak bergeming dari tadi.
Angin sepoi-sepoi itu seakan menina-bobokannya. Membawa pergi suara-suara dan juga masalah-masalahnya ke tempat mereka berada.
Dengan cepat geonil langsung menangkap tubuh sungje yang ambruk. Dengan hati-hati ia mendudukannya ke atas kursi. Dengan kaki panjangnya, geonil mengambil kursi lainnya untuk didudukinya.
Mata itu terpejam sempurna. Nafasnya masih teratur. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang amat sangat. Sungje tertidur.
Geonil menyandarkan kepala istrinya ke bahunya. Lalu mengelusnya dengan sayang.
“sweet dream, my prince..” kata geonil pelan. “mimpiin aku yaa..”

***

>> part 4 <<

— tiga minggu setelah menikah —

“Kau sudah mencari rumah baru?” tanya Sungje pada Geonil ketika lelaki itu sedang asyik mengotak-atik rumus untuk mencari jawaban.
Geonil tetap asyik pada pekerjaannya. Tidak mempedulikan Sungje yang sedari tadi terus membicarakan tentang rumah baru.
“GEONIIIIIIIIIL!!!!!” teriak Sungje jengkel sambil melempar tempat pensil ke kepala Geonil.
“Aaaah!!!” Geonil mengelus kepalanya. “Sakit tahu!!”
“Aku tidak peduli!” kata Sungje sambil memalingkan muka. “Kau harus mencari rumah baru!”
“Untuk apa?” tanya Geonil bingung. Pandangannya masih ke rentetan soal fisika yang memuakkan.
“UNTUK DIMAKAN!!” jawab Sungje jengkel.
Geonil meletakkan pulpennya. Lalu menatap Sungje dengan penuh perhatian bak seorang suami dari negeri dongeng (?)
“Bukankah rumah ini sudah menjadi milik kita? Eum?” tanya Geonil lembut.
“KATA SIAPA?! INI RUMAH HANYA UNTUK SEBULAN DITUMPANGI!!” Sungje menjawab dengan suara meninggi.
Geonil mengusap kupingnya. Kebiasaan Sungje selama 3 minggu ini kalau tidak makan bulgogi atau kimchi, ya.. marah-marah. Dan marah-marahnya itu bisa membuat gendang telinga pecah saking kerasnya suara dia.
“Ara.. Ara.. kenapa kau tidak memberitahuku dari kemarin-kemarin? Biar aku mencari pekerjaan dan—“
“DARI KEMARIN JUGA AKU SUDAH BILANG!! KAU TERUS PACARAN DENGAN RUMUS-RUMUS TAK JELAS ITU!!!!” teriak Sungje emosi.
“Hyung, jangan marah-marah! Nanti anak kita—“
“ANAKMU?!! SEJAK KAPAN?! INI ANAKKU DAN—“
“alright! Alright!” Geonil mengusap kupingnya lagi. “Aku akan mencari tempat tinggal besok.”
Geonil duduk di sebelah Sungje. Dengan tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sungje. Wajah Sungje langsung memerah. Geonil tertawa dibuatnya.
“Kalau kau sering berteriak, aku akan menciummu! Camkan itu!” kata Geonil sambil berlalu ke kamarnya.
Sungje menatap Geonil sampai bayangannya hilang ditelan ruangan yang ia masuki. Ia lalu mengusap bibirnya. Memberi mantra agar tidak tersentuh sedikitpun oleh namja aneh dan gila bernama Park Geonil.
Tapi sebenarnya Geonil itu namja yang berani. Berani mengambil resiko. Ia berani menikah dengan Sungje yang berstatus sudah dihamili pria lain. Ia juga berani jujur pada ayah dan ibu Sungje tentang kondisi keluarganya. Orangtuanya sudah meninggal ketika ia masih 10 tahun. Tapi Geonil tidak pernah menceritakan tentang warisan yang ia terima. Juga tentang hubungannya dengan pria yang menghamili Sungje.
“Mau kemana? Malam-malam begini…” Sungje menatap bingung ke arah Geonil yang sudah rapi memakai celana panjang dan jaket tebal.
“Mencari pekerjaan. Siapa tahu ada.” Jawab Geonil sambil tersenyum manis.
“Untuk?”
“Kita perlu tempat tinggal kan? Makannya aku akan mencari pekerjaan.”
Sungje menatap keluar. Langit malam yang tidak berhias bintang. Dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan deras.
“Kenapa harus malam-malam?!” tanya Sungje. Ada sedikit nada khawatir di dalam pengucapannya. Dan Geonil menyadarinya.
“Siang-siang banyak yang melamar. Kalau malam hanya 1% yang berani melamar. Dan itu aku!” Geonil menghela nafas. “Ah.. boleh aku keluar, istriku?”
Badan Sungje mendadak panas dingin. Geli dengan perkataan Geonil yang menyebutnya sebagai ‘istri’-nya. Padahal ia tidak menganggap Geonil apa-apa.
“Boleh tidak? Sebagai suami yang baik, aku harus meminta izin pada istriku untuk pergi keluar!” kata Geonil lagi.
Sungje menghela nafas. “Terserah!”
“Terserahnya.. err.. sepertinya kau tidak menginginkanku keluar rumah. Okay. Aku disini saja! Lagian sudah mendung. Pasti hujan!”
Tepat sedetik kemudian terdengar suara gaduh rintikan air hujan diluar. Geonil tersenyum. Lalu menunjuk jendela.
“Untung aku minta izin! Kalau tidak, aku yakin aku pasti sakit besok! Ada ulangan biologi. Aku tidak mau izin.”
Sungje diam. Tapi dalam hati ia lega. Setidaknya ia tidak sendiri di rumah di saat hujan seperti ini. Sungje menatap keluar. Hujan semakin deras. Hatinya kembali mensyukuri perkataannya tadi. Kalau Geonil sakit, siapa yang akan menjaganya?
“ANI!!!!! Aishhh apa yang kupikirkan?!” Sungje merutuki dirinya sendiri. “Ah.. lapar! Ingin kimchi buatan nenek!”

****

Sudah pukul 12 malam. Semakin sepi dunia luar. Mungkin hanya ada satu-dua kendaraan yang lewat.
Sungje menatap keluar kamar. Pintunya sengaja tidak ia tutup karena hujan lebat diluar membuatnya takut sendiri. Geonil menawari jasa menjaga Sungje dari luar. Tentu saja Sungje menyetujuinya. Asalkan tidak masuk ke kamar dan tidur bersamanya.
Kriuuukkk..
Perut Sungje berbunyi. Hanya satu yang ia ingini. Kimchi buatan sang nenek! Tapi bagaimana ia memintanya? Tidak mungkin ia pergi keluar sendiri. Yang ada nanti keluarganya marah, belum lagi omelan Geonil yang pastinya lebih panjang dari sabang sampai merauke. Bisa-bisa anaknya lahir baru selesai marah-marahnya.
“Biasanya juga tega!!” malaikat jahat di sebelah kiri Sungje berbisik.
“Jangan! Lelaki berhati cheonsa itu sedang tidur. Tidak mungkin kan kau membangunkannya?” malaikat baik di sebelah kanannya ikut berkicau.
“Biasanya juga tega! Memangnya baru sekali kau menyuruhnya?” malaikat jahat kembali memanasi.
“Kim Sungje, apa kau pernah memperlakukan orang dengan sebaik-baiknya? Sekaranglah saatnya..”
Sungje mengacak rambutnya. “KENAPA KALIAN HARUS ADA DUA?! DAN KALIAN JUGA BERBEDA PENDAPAT?! AKU KAN BINGUNG!!!” teriak Sungje tanpa sadar.
“Eunggghhhh..” terdengar lenguhan panjang dari depan. Geonil bangun!!
“Gawat!!!” Sungje kembali membaringkan dirinya di kasur. Lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Dua malaikat berbeda jenis itu tertawa cekikikan.
“Sialan! Bukannya membantu malah tertawa!!” ucap Sungje dalam hati.

*improvisasi gagal*

%%%

“Kenapa tidak bilang? Aku akan kesana kok!” kata Geonil sambil tersenyum. Walaupun terlihat lelah.
“Tidak usah kalau kau tidak bisa! Kau pasti lelah kan?” kata Sungje.
Geonil menggeleng. “Kau tunggu sini saja. Nenek pasti memaklumi cucunya yang suka kimchi kan?”
“Tapi…”
Geonil menghela nafas. “Apa? Kan kau yang selalu bilang ‘nanti anaknya ileran kalau tidak di turuti permintaannya’.”
“Jarak—“
“Tidak usah memikirkan jarak. Aku bisa berjalan saja. Kau menunggu disini saja.”
“Benar?” Sungje memasang raut wajah tak yakin.
Geonil mengangguk. “Keurom!”
“Kau disini saja. Jangan kemana-mana! Aktifkan terus HP-mu, kalau ada apa-apa telepon aku, ne?”

—- 4 jam kemudian —-

“Ini benar-benar buatan nenek!!” Sungje melahap kimchi buatan neneknya yang langsung dari sang nenek dengan penuh nafsu.
Geonil menghela nafas lega. Usahanya tidak sia-sia. Berjalan lebih dari satu jam pulang pergi, ditambah menunggu sang nenek membuat kimchi yang terkenal enak seantero keluarga dengan porsi yang banyak. Sebenarnya bahan pembuatan kimchi yang terkenal enak itu tinggal sedikit. Untungnya keluarga Sungje mempunyai tanah luas yang berisi (?) berbagai sayur dan buah-buahan. Kembali lelaki itu harus berjalan lima menit untuk mencapai kesana.
“Apa ada halangan?” tanya Sungje sambil terus melahap kimchi-nya. Kali ini di mangkuk yang ketiga.
“Err.. tidak.” Jawab Geonil.
“Bahan makanan tidak habis kan?”
Geonil tertawa kecil. “Kalau habis aku akan menjitakmu dengan cintaku!” *anjirrrr gombal gagal!! #digamparG
Sungje mendengus kesal. Lalu menjitak Geonil dengan sendok yang ada di tangannya. Geonil mengelus kepalanya kesakitan.
“Gombalanmu bikin sakit perut! Nih!! Lanjutkan makan! Aku mau tidur!” kata Sungje sambil melahap sisa kimchi di mangkuk ketiga.
Geonil mendengus. “Apa yang bisa dimakan?! Mangkuknya? Ckck..”

******

“Kau… kelas 2?” tanya Sungje heran ketika melihat Geonil melangkahkan kakinya ke kelas 2-1.
“Ne!” jawab Geonil dingin. “Baru tahu ya?”
Sungje mengangguk polos.
“Kelas 3-1 ada di atas kan? 10 menit lagi bel masuk!” kata Geonil membuyarkan lamunan Sungje. “Kalau kau merindukanku, tinggal ke atas. Tapi tunggu aku menyelesaikan ulangan biologiku!”
Sungje menggerutu geli di dalam hati. Lalu segera pergi dari hadapan si namja dingin bernama Park Geonil, bukan namja penuh perhatian Park Geonil.

&&&

“Dia benar-benar kelas 2?! Berarti dia adik kelasku? Dia lebih muda dariku? Aishhh jinjja!!” Sungje terus memikirkan kejadian tadi pagi.
Memang sudah hampir sebulan pernikahan itu berjalan. Dan Sungje tidak pernah sekalipun mau tahu urusan Geonil. Kelasnya, hobby-nya, makanan kesukaannya, minuman kesukannya. Yang ia tahu hanyalah Geonil menyukainya, dan pernah menyatakan cintanya dan ditolak mentah-mentah.
Angin sepoi-sepoi bertiup melewati balkon atas. Sungje menghela nafas. Membayangkan anak yang ada di kandungannya ikut pergi bersama angin kencang itu. Tapi kemudian ia sadar, tidak mungkin ia menyingkirkannya karena anak itu hadir karenanya. Karena kesalahannya.
“Jihyuk-ah, odiya?” gumam Sungje merindukan sosok itu. Lelaki tampan yang menjadi pujaannya. Yang sedang menempuh pendidikan kedokterannya di luar negeri.
“Aku akan kembali. Berjanjilah kau akan selalu ada untukku!” kata Jihyuk waktu itu. Sungje menatap langit nanar. Hanya jihyuk yang bisa memeluknya hangat di saat seperti ini.
“Disini dingin,” kata seseorang sambil memakaikan jaketnya di badan Sungje. “Kau bisa sakit. Anakmu juga ikut merasakan sakit. Tapi akulah yang lebih sakit karena melihat orang yang kusayangi sakit.”
Sungje menatap Geonil. Lalu kembali memalingkan muka. Wajah Geonil yang terlihat dingin tapi penuh perhatian itu membanjiri pikirannya.
“Aku ingat Jihyuk pernah bilang kalau ia akan kembali, dia juga memintaku untuk selalu ada untuknya..” kata Sungje sambil menerawang ke langit.
“Tapi akhirnya dia tidak kembali kan?” Geonil mengernyit kesal.
“Belum!”
“Tapi kau sudah milikku sekarang. Kau tidak boleh ada untuknya.”
Sungje menatap Geonil kesal. “Mwo?!”
“Kau ingat perjanjian kita? Jika aku mengakui anak di dalam kandunganmu itu sebagai anakku, maka kau akan belajar mencintaiku. Apa kau sudah lupa?”
Sungje diam.
“Karena kau sudah berjanji, aku akan selalu menagihnya. Janji itu utang, bukan?” tanya Geonil dingin. “Aku akan mencari pekerjaan nanti. Kau pulang sendiri, ya? Ini uang untuk membeli makan. Aku kan belum memasak!”
Sungje menghela nafas. Lalu menerima uang yang dipegang Geonil dan memasukkannya ke saku jas-nya. Setelah itu Geonil pergi. Bersama angin siang yang panas.

****

Malam hari, jam 12 malam…

Sungje menunggu dengan cemas. Dari tadi ia mencoba memejamkan mata. Tapi akhirnya ia membuka matanya lagi dan keluar kamar. Keadaan masih sama. Akhirnya ia memutuskan untuk menonton tv.
Tapi perhatiannya tidak terpusat pada layar tv yang menampilkan drama yang diulangi terus menerus. Perhatiannya lebih ke pintu jati berwarna cokelat.
“Aish.. aku mau kimchi yang dibuat Geonil..” tiba-tiba pikiran Sungje melayang jauh. Bawaan bayi selalu aneh-aneh.
“Geonil mana sih? Sudah jam 12 malam malah belum pulang!” ucap Sungje sambil mengerucutkan bibir.
“Ada yang kangen nih!” ucap seseorang. Sungje hampir terlonjak kaget mendengarnya. “Tadi kau mau apa? Kimchi buatan siapa?”
Geonil kembali menggoda Sungje. Penyakit lamanya kumat. Sungje kembali menelan ludah pahit mendengar godaan Geonil.
“Tadi mau kimchi buatan siapa? Tidak mungkin kan aku mendengar suara zombie?” goda Geonil lagi.
“Buatan nenek!!” jawab Sungje gondok.
“Eum? Kudengar.. dia mengucapkan nama.. G-Ge… nuguya?”
“GEONIL!! PUAS?!”
Geonil tersenyum manis sambil mengangguk senang. Rasa lelahnya setelah bekerja setelah pulang sekolah terbayar sudah.
“Kau menungguku?” tanya Geonil lembut. “Mau kimchi?”
“Buatanmu! Aku ingin masakanmu!” ucap Sungje jujur.
Geonil menghela nafas. “Tapi aku tidak punya bahan untuk membuatnya. Dan pasar juga… mana ada yang buka malam-malam begini?”
“Kau bisa mengambilnya di kebun milik keluargaku kan?”
“Kita sudah dewasa. Tidak bisa terus-terusan bergantung pada orang lain. Terutama orangtua.”
Sungje menghela nafas. “Lalu bagaimana?”
Geonil kembali menggoda Sungje. “Molla~ biarkan saja anaknya ileran!”
“AISHHHH GEONIIIIIIIIL!!!!!” Sungje menonjok Geonil dengan kepalan tangannya. Geonil tetap tertawa kecil sambil menangkis tinju-tinju yang dilontarkan Sungje.

****

Malam telah larut. Seperti tidak ada kehidupan. Geonil terus mengayuh sepeda bututnya untuk mencari pasar yang buka.
Kakinya berhenti mengayuh setelah melewati sebuah rumah besar berlantai 3 dengan gaya classic berwarna cokelat putih yang besar dan sangat mewah. Ingatannya kembali melayang ke umur 10 tahun. Ketika keluarganya masih lengkap. Ia mempunyai ayah, ibu dan seorang kakak perempuan. Hidup dalam buai kasih sayang yang melimpah, fasilitas yang amat sangat lengkap tanpa ada batasan dan kebahagiaan yang tidak terkira. Tapi itu semua sudah tidak berlaku sejak kecelakaan di umurnya yang baru saja menginjak 10 tahun. Kala itu kedua orangtuanya dan kakaknya ingin memberikan surprise untuk Geonil di suatu tempat. Mata Geonil ditutup. Ia tidak tahu apa-apa kecuali rasa gugup dan penasaran.
“Apakah kalian pikir ini tidak terlalu cepat? Kenapa kalian meninggalkanku dan kehidupan lamaku?” Geonil berbicara sendiri. Menggumam tepatnya.
Angin malam berhembus. Seakan bersimpati pada Geonil yang kehilangan keluarganya dengan mata tertutup di umur 10 tahun. Tapi itu lebih baik. Daripada melihat tubuh keluarganya terpanggang kena kobaran api dari mobil. Geonil satu-satunya korban selamat dalam ledakan mobil sedan mewah ayahnya itu.
Orang-orang bilang, ia anak ajaib. Anak yang sangat beruntung karena bisa selamat dari maut. Entah bagaimana caranya, padahal matanya ditutup. Tapi bagi Geonil kecil tidak. Ia merasa Tuhan sangat jahat padanya. Mengambil semua yang ia punya.
Geonil tersenyum lemah. Lalu mengayuh kembali sepedanya dan membuang gambar-gambar tentang masa kecilnya dari pikirannya. Geonil tidak mau memikirkannya lagi. Karena sekarang ia punya Sungje. Walaupun Sungje juga tidak berjanji untuk selamanya. Setidaknya ia berjanji akan mencintainya. Dan selalu ada..

***

“Aku pulang!!” teriak Geonil setelah pulang dari pasar pukul 3 pagi.
Tidak ada jawaban. Tentu saja karena Sungje tertidur pulas di sofa tanpa mematikan tv. Tidak ada acara lagi sekarang. Geonil menaruh sayur-sayuran yang dibelinya tadi ke dapur. Lalu mematikan tv di ruang keluarga.
“Ckckck.. Sudah dibelikan malah tidur!” Geonil tersenyum kecil. Kali ini ia benar-benar merasa beruntung. Merasa Tuhan adil padanya.
Geonil mengangkat tubuh besar Sungje ke kamar. Lalu menyelimutinya sampai menutupi badannya. Kemudian ia tersenyum. Dan kembali mensyukuri nikmat Tuhan yang paling indah ini.
“Saranghae~” ucap Geonil. Sangat tulus dari hatinya.

***

Sungje terbangun lebih dulu daripada Geonil. Ia berjalan keluar kamar dan langsung melihat Geonil tertidur di sofa seperti biasa. Memeluk dirinya sendiri karena tidak ada selimut.
“Ah~ what the hell aku bangun jam 8!” Sungje menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan mendekati Geonil yang sedang tertidur pulas.
“Kau pasti lelah! Iya kan?” Sungje menyibak rambut Geonil yang menutupi wajahnya. “Tampan~”
Hup!!
Sungje menutup mulutnya. Tidak percaya kalau ia mengatakannya! Mengatakan bahwa Geonil tampan, memang tampan, dan amat sangat tampan dilihat dari dekat. Sungje segera berlari ke kamar. Menutup wajahnya yang memerah karena malu dan takut akan kejahilan Geonil yang diluar batas.
Tapi untungnya Geonil tidak membalas apa-apa. Ia masih tidur. Sangat pulas. Akhirnya Sungje memberanikan diri keluar kamar.
Perhatiannya langsung tertuju pada tas yang ada tak jauh dari sofa. Ia membuka tas hitam besar itu. Di dalamnya ada handphone, baju, handuk, buku, dan album foto. Sungje mengambil album foto itu pelan-pelan. Lalu membukanya pelan-pelan pula. Takut ketahuan.
Foto pertama.. Geonil kecil sedang tersenyum
Foto kedua… Geonil kecil lagi, sedang tersenyum sambil melambaikan tangan pada kamera
Foto ketiga.. Geonil mengerucutkan bibirnya. Sangat manis! Terlihat sangat kekanakan. tidak sepertinya sekarang, dingin dan misterius.
Foto keempat.. Geonil bersama seorang perempuan kecil, tapi umurnya sepertinya lebih tua dari Geonil.
Foto kelima.. Geonil sedang berenang. Begitupun sampai foto ke-limabelas. Foto-foto Geonil waktu kecil sedang berenang. Ada yang bersama gadis kecil itu, lalu sedang memeluk ibunya, membawa piala dengan keadaan badan yang masih basah. Tapi satu yang menjadi pusat perhatiannya. Foto Geonil kecil dengan seorang anak laki-laki kecil, bergigi kelinci dan berambut panjang. Berkulit putih dengan badan yang berisi.
“Ck! Seperti mengenalnya…” gumam Sungje. “Ngapain dia bawa album foto ini? Isinya foto kecil semua!”
Saat Sungje sedang memikirkan anak kecil yang berada di samping Geonil kecil, album foto itu terangkat. Diangkat tepatnya.
“G-Geonil…”
“Siapa yang menyuruhmu mengacak tasku?” Geonil menatap Sungje tajam. Sangat tajam. Membuat Sungje bergidik ngeri.
“A-Aku…”
Geonil langsung membawa album foto itu ke belakang. Sungje tidak mengikutinya. Ia tidak berani menampakkan dirinya di depan Geonil yang sedang marah.
Kali ini Geonil benar-benar misterius. Tidak seperti waktu kecil yang terlihat selalu tersenyum, bahagia dan tertawa. Geonil membuatnya penasaran. Sangat penasaran!!

TBC

otte?? leave some comment yaa !!
adn follow my twitter @geooniil2 ^^


Time To Love part 2


Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”

Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg

Length : ga banyak-banyak (?)

Cast :

–       park geonil *Cho Shin Sung*

–       kim sungje *Cho Shin Sung*

–       other Cho Shin Sung members~

Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerima apa adanya. Maukah geonil mengakui anak itu setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?

Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^

A/N : inilah chapter 2 dari ff nista ala laila a.k.a anaknya yunjae dan geonje *yunhak pundung

Belom ada rahasia terkuak sih.. tapi nanti bakal terbuka dengan sendirinya ^^

Don’t forget, gue author amatiran *walaupun udah dari kelas 1 jadi author dadakan* ga mungkin bikin ff keren kayak yang laen.. hoho~~

 

***

 

<< Prev

 

Sungje berbaring di kasur tempat geonil tidur. Keadaannya sama seperti sofa tadi. Sama sekali tidak empuk!

“ahh~~ kalau aku punya uang aku benar-benar ingin mengganti perabotannya! Benar-benar tidak seperti perabotan manusia.” Sungje menggeleng.

“huh??” sungje langsung bangun dan melihat sebuah bingkai di meja belajar geonil yang diposisikan tengkurap. Sungje mengangkatnya dengan hati-hati dan ragu. Ini bukan miliknya.

“j-jihyuk..??”

 

PART 2 >>

 

Sungje menggelengkan kepalanya terus untuk memastikan matanya benar. Berkali-kali ia lihat foto yang ada di dalam bingkai itu. Foto dua orang namja, yang satu geonil, dan yang satu—

“Makanan siap..” kata geonil dingin.

Sungje kembali membalikkan bingkai foto itu. Lalu berdiri dan keluar bersama geonil.

 

*

 

“kau penasaran kan kenapa jihyuk ada di foto itu bersamaku?” tanya geonil seakan mengetahui kesunyian sungje (?)

Sungje mengangguk. Lalu menyuap sesendok nasi.

“kenapa kau bisa tahu aku bingung karena itu?” tanya sungje.

Geonil tertawa kecil. “ck.. dari tadi aku memperhatikanmu, tahu! Kau terus memperhatikan fotonya! Entah fotoku atau jihyuk yang kau lihat.”

Sungje melempar garpu ke arah geonil. Tapi langsung bisa ditangkap geonil.

“aku belum mau menceritakan hubungan sebenarnya. Tapi pasti aku ceritakan kok..” kata geonil tanpa disuruh.

Sungje mendengus. “memangnya aku suruh kau menceritakan hubungan sebenarnya? Aku tidak mau tahu apapun masalah di keluargamu!”

“kalau keluarga jihyuk?” geonil berusaha mengompori.

“sudahlah!! Otakku lama-lama bisa meledak kalau kau mengucapkan namanya. Aku benar-benar merindukannya!” *ini curhatan author !! ASLI LAGI KANGEN ABAH JIHYUK !!

Sungje membalikkan sendoknya dan berdiri dari kursinya.

“kalau mau pulang besok saja. Sekarang banyak ‘penunggu’ di jalan!” kata geonil mencoba menakuti sungje. *ni anak jail amat ihh!! ck..

“huh??” sungje kembali duduk. “maksudmu??”

“aku pernah melihat, eumm..” geonil berdeham agar suaranya terdengar se-horor mungkin. “aku terbangun malam itu, dan aku menatap ke arah jendela. Ada kegaduhan diluar. Dan saat aku lihat, tidak ada siapa-siapa. Dan suaranya masih ada. So? Ada ‘penunggu’nya kan?”

Sungje menahan mulutnya agar tidak berteriak memalukan dirinya sendiri. Keringat dingin sudah mengucur dari dahinya.

Geonil hampir saja tertawa keras. Tapi demi menjaga aktingnya, dan juga sungje, maka ia menutup mulutnya rapat-rapat.

“kau menakutiku!!” sungje mengepalkan tangannya.

“tapi itu kenyataannya..” geonil membereskan piring yang berantakan di atas meja. “sudah jam 12. ke kamar sana!”

Sungje langsung menggeleng. “kalau denganmu aku kesana!”

Geonil menggeleng sambil tersenyum. “wae? Kau sudah mulai menerimaku?”

“ya sudah, aku pulang saja! Dari tadi kau menggodaku terus!” sungje berdiri dan mengambil tas-nya.

“kau kan tahu aku menyukaimu. Mumpung sedang dekat, lebih baik aku jahili terus.”

“GEONIIIIIIIIIIIIIIIL!!!!!” sungje melempar tas-nya yang penuh dengan buku.

 

*

 

Sungje menutup pelan rumah susun geonil. Bukan rumahnya juga sih, karena dia hanya menumpang.

Sungje masih kesal karena geonil menjahilinya. Tapi perasaan takut menghantuinya setelah ia turun satu tangga.

“ahh.. itu kan hanya akal-akalannya saja! Kenapa aku harus takut?” sungje berusaha mensugesti dirinya sendiri agar tidak takut. “Sungje-ya, fighting!!”

Sungje berjalan penuh percaya diri ke bawah. Lalu melanjutkan jalan di kegelapan tengah malam. Suara burung hantu milik salah satu pemilik rumah susun berhasil membuat nyali sungje ciut.

Khukhu..kukhu..

“aaaaaa~~!!!” tanpa sadar sungje berteriak. Tapi ia langsung menutup mulutnya.

 

Sementara itu, geonil memperhatikan semua kejadian itu dari dalam dan tertawa puas. Sungje berhasil melawan ketakutannya juga ternyata..

 

*

 

Keesokan paginya, geonil dibuat kaget plus sport jantung lagi oleh sungje. Namja cantik itu menjelaskan semua yang terjadi tadi malam.

“kau tahu, umma dan appaku hampir menamparku tadi malam karena pulang sendirian! Naik taxi pula. Sudah tahu keluargaku benci dengan taxi!” sungje mengatakannya dengan wajah pucat. “dan mereka memberi ‘kita’ hukuman!!”

Mata geonil langsung membulat sempurna. Hukuman apa lagi? Cambuk? No.. no.. no.. aku sudah kapok!! Kata geonil dalam hati.

“hukuman apa?” geonil berusaha bertanya, walaupun perasaannya kini campur aduk. Takut, kaget dan marah.

“WE WILL GET MARRIED!!! DUA MINGGU LAGI!!” teriak sungje yang terdengar seperti orang yang amat sangat panik.

“MWOOOOOOO?!!! AISHHHH.. AKU BELUM SIAP!!” geonil mengacak rambutnya.

“KAU KIRA AKU SUDAH SIAP?!! SAMA SEKALI TIDAK!!”

Geonil menendang kursi reot yang ada di dekatnya sampai hancur. “sialan!! Jihyuk sialaaaaaaan!!” maki geonil.

Sungje jadi merasa bersalah telah melibatkan geonil dalam masalahnya sendiri. Mana jihyuk pakai acara kabur keluar negeri. Dan hebatnya lagi, jihyuk ke luar negeri SEHARI sebelum sungje periksa kandungan!

“mianhae..” sesal sungje sambil menundukkan kepala.

Hati geonil langsung luluh mendengar ungkapan penyesalan dari bibir sungje. Ia tersenyum lalu mengelus puncak kepala sungje dengan sayang.

“gwaenchana. Aku kan sudah janji. Hmm.. pasti kau belum makan cukup? Eh aku sudah belikan susu! Kau mau?”

“ANI!!” tolak sungje langsung. “aku tidak suka susu!”

“ini kan untuk anakmu, bukan untukmu, weeekk :p” goda geonil yang berhasil membuat wajah sungje memerah.

“aaahhh!! Ternyata kau benar-benar jahil ya??”

Geonil tertawa kecil. Lalu mengeluarkan sesuatu dari tas-nya.

“aku memang jahil dari dulu. Mau tahu siapa yang sering kukerjai dari kecil? Tapi sekarang dia malah mengerjaiku balik, malah lebih parah dari mengerjai.”

Sungje menggeleng. “aku kan sudah bilang, tidak mau tahu masalah apapun yang terjadi di keluargamu!”

“ya sudah. Ternyata kau bukan orang yang penuh penasaran seperti yang kemarin ya.”

Sungje meninju pundak geonil. “keumanhae!! Aku tidak mau ingat itu lagi.” Sungje berbalik badan untuk kembali ke kelasnya. Sudah beberapa kali ia membolos di pagi hari.

“bawa susunya kalau mau kebawah!” kata geonil tanpa membalik badannya sambil mengaduk-ngaduk sesuatu (?)

“ani!”

“ya sudah. Aku tidak mau menikah denganmu nanti!”

Sungje langsung mempan.

“nah gitu dong!! Ini..” geonil menyerahkan segelas susu hangat pada sungje.

“dapat air darimana? Dari got-kah?” tanya sungje sengit.

“mana mungkin aku berani menaruh air comberan di gelas istriku?” goda geonil.

“amit-amit!!”

Geonil hanya menanggapinya dengan tawa garing.

 

*

 

“benar, orang tuamu tidak memberiku waktu untuk menjadi ‘suami’ yang baik?” tanya geonil dua hari berikutnya.

Sungje mendengus. “dari kemarinpun aku sudah bilang KALAU MEREKA INGIN SECEPATNYA!! Kan kandunganku hampir 3 bulan..”

Geonil mengangguk. “then?”

“kata mereka, kalau aku ngidam di rumah kan tidak ada yang mau jalan mencarinya. Nanti anaknya ileran terus..”

Geonil tertawa keras. Membuat sungje reflek menyumpal mulut geonil lengan jasnya yang tidak dipakai.

“panggil aku saja.” Geonil tersenyum.

“ogah!!”

 

*

 

Sungje langsung pulang tanpa menunggu geonil setelah bel berbunyi. Ia langsung membuka pintu BMW ayahnya yang stay di depan gerbang.

Di rumah, ia langsung disambut oleh ayahnya yang menyuruhnya untuk periksa kandungan. Sebenarnya ia ingin menolaknya mentah-mentah. Tapi karena ia anak yang baik, jadilah sungje ikut ayahnya ke rumah sakit. Bertemu dengan dokter kwangsu yang sudah tahu kehamilan sungje.

“kalau bukan karena kau aku tidak mungkin kesini, bodoh!!!” sungje mengeplak kepala dokter kwangsu dengan topinya.

Dokter kwangsu mengelus kepalanya. “jweisonghamnida, tuan. Aku kan keceplosan!”

“alah.. dasar!! Kau tidak tahu kan malunya aku karena meminta tolong geonil mengakuinya!”

Dokter kwangsu memasang wajah bersalahnya. “jweisonghamnida..”

“ya sudah. Mulai saja pemeriksaannya. Aku tidak mau marah-marah lagi!”

 

*

 

“akhirnya..” sungje merebahkan dirinya di kasur empuknya. Ia berguling-gulingan saking lelahnya. Ternyata setelah memeriksa kandungan ibunya langsung menariknya ke butik untuk memilih-milih dress. Tapi belum ada satupun yang dibeli karena sungje ngambek duluan.

Drrrttttt… drrrrtttt..

HP sungje bergetar dua kali. Menandakan SMS masuk. Mata Sungje langsung melebar kala melihat jumlah message yang ditinggalkannya lebih dari 2 jam. 32 message!! Dan pengirimnya pun hanya satu orang!

“ckck.. benar-benar banyak pulsa orang ini!”

Sungje membuka pesan itu satu-satu dan menghapusnya setelah membacanya. Lalu ia tinggalkan HP-nya dan tidur.

 

*

 

Geonil menatap bingung kala melihat sungje diam tanpa ekspresi di balkon atas tempatnya biasa merenung. Geonil melangkah mendekati lelaki itu.

“kau menangis?” tanya geonil sedikit panik.

Sungje mengangguk.

“wae?”

Sungje diam. Geonil menarik nafas dalam dan menghembuskannya.

“kau bisa cerita sekarang padaku. Tenang saja. Tempat ini kan tertutup.” Geonil mencoba memancing sungje. “kau tidak mau menikah? Okay. Aku akan bilang pada orangtuamu.”

“gwaenchana. Aku bisa mengatasi sendiri.” Kata sungje dengan suara bergetar.

Geonil mengambil botol minum dari tas-nya. “ini, minum dulu!”

Sungje menggeleng. “tidak perlu. Aku mau kembali ke kelas!”

Sungje maju dan berjalan dengan langkah gontai. Geonil langsung menarik tangannya dari belakang.

“kau tidak bisa ke bawah kalau tidak mau cerita!” ancam geonil.

“lepass!!!” sungje menghentakkan tangannya ke bawah. Tapi cengkraman elang geonil tetap saja tidak bisa dikalahkan.

“lalu untuk apa kau kesini kalau tidak ada masalah? Menungguku?” tanya geonil jahil (lagi)

Sungje menatap sinis geonil. “ckckck.. memangnya tidak ada yang bisa aku tunggu ya? Terus bermimpi kalau aku menunggumu!”

“aku selalu menunggu..”

 

*

 

“tidak pulang?” tanya geonil langsung ketika ia melihat sungje berdiri mematung di depan pagar. Padahal mobil BMW ayahnya stay di depan.

Sungje menggeleng. Geonil menghembuskan nafas panjang.

“ada apa?” tanyanya lembut.

Sungje menatap geonil. Matanya dipenuhi oleh keputusasaan. Berkaca-kaca, tapi tidak bisa mengeluarkan air matanya. Reflek geonil langsung memeluknya. Kejadian itupun langsung menjadi tontonan gratis untuk anak-anak supernova high school.

Geonil tidak merasa malu atau apapun karena memeluk calon istrinya di depan umum. Malah ia makin mengeratkan pelukannya setelah mendengar isak kecil dari sungje.

“jweisonghamnida..” seorang pelayan dari keluarga sungje membungkukkan badan ke geonil. Ia lalu menyuruh geonil untuk menunduk sedikit karena ingin memberitahukan sesuatu yang membuat sungje jadi semerana itu.

“ok. Aku ikut!” geonil mengangguk lalu menuntun sungje yang masih ada di pelukannya naik ke BMW ayahnya.

 

*

 

“aku tidak mau pakai dress!!!” teriak sungje setelah ibunya memamerkan dress-dress cantik untuk pernikahan.

Ibunya menghela nafas. “sungje-ah..”

“anii!! Aku tidak mau pakai, TITIK!!!” sungje langsung berdiri dari tempatnya dan berjalan meninggalkan tempat.

“tanggung jawablah dengan kesalahanmu!” gertak geonil yang membuat langkah panjang sungje terhenti.

Sungje tersenyum sinis membelakangi geonil. “cih! Memangnya kau bisa bertanggung jawab dengan kesalahanmu sendiri?”

“bahkan kesalahanmu pun aku bisa pertanggung jawabkan.” Balas geonil sinis.

Ibu sungje mengernyitkan dahi. Tidak mengerti pembicaraan dua lelaki yang beranjak dewasa ini.

“aku bisa beberkan semuanya kalau kau mau, kim sungje!” kata geonil setelah itu.

Sungje membalikkan badannya. “aku tidak mau terbongkar sekarang, park geonil. Jadi, apa yang harus aku lakukan? Memakai dress di hari pernikahan?” sungje mengernyitkan dahi.

“apa harus aku yang pakai dress-nya? Kau mau aku jadi wanitanya dan kau jadi lebih pendek dari sang wanita? Eum?” tawar geonil dengan senyum menawannya *sumpah dah gue ga bisa lepasin pandangan ni anak kalo lagi senyum ==

“ya sudah kau saja! Aku bisa menambahkan sol di sepatuku kalau mau.” Sungje membalas dengan sewot.

“aku juga bisa kalau begitu.”

“ya sudah. Aku tetap jadi pengantin lelakinya!”

“pengantin lelaki? Secantik itu?”

“bukannya kau yang ingin menjadi wanitanya? Tadi kau bilang kan??” sungje mengedipkan sebelah matanya untuk membalas geonil.

“siapa yang mau? Kan aku mengatas namakan kau..”

“AAARRRRRGGGGGHHHHHHH!!!!!!”

Akhirnya, setelah tawar-menawar tidak jelas yang dilakukan geonil dan sungje, mereka sepakat pernikahan itu akan dilaksanakan, dengan sungje sebagai model wanitanya.

Semua dress yang ada dicoba sungje. Ada yang kekecilan, ada yang pas tapi warnanya ‘nggak banget’, dan ada juga yang pas dan bagus, tapi tidak diminati sungje.

“padahal ini bagus loh je! Kenapa nggak mau sih, sayang?” tanya mrs kim bingung.

“kenapa nggak dua-duanya aja pake tuxedo sih, mi? Aku nggak suka banget ih!!” jawab sungje dengan manjanya *UMMAAAAA!! GUE TERPESONA U,U

“aneh dong nanti.. kan nggak enak juga diliat orang..” kata mrs kim bijaksana.

“ya udah! Nggak usah nikah juga nggak papa kan? Ayolah, mi!!” sungje menatap ibunya dengan puppy eyes.

Mrs kim menggeleng sambil mengelus rambut putra semata wayangnya. Lalu mengecup pucuk kepalanya dengan sayang.

“mami juga nggak mau liat kamu nikah semuda ini, sayang..” air mata mrs kim keluar begitu saja. “mami masih mau ngeliat kamu main-main dan nakal-nakalan. Mami nggak akan marah!”

Air mata sungje juga langsung mengalir deras. Ia memeluk ibunya agar tidak terekspos wajahnya yang sembab.

“ckck.. ternyata manja..” batin geonil sambil tersenyum kecil.

“umm.. ajumma, boleh aku undur diri?” pamit geonil ragu. Ia ingin pergi bukan karena bosan. Tapi karena ia tidak mau mengganggu moment keluarga kim, dan juga tidak mau mengingat masa lalu yang kelamnya.

“eh? Mianhae.. gara-gara sungje manjanya kumat, jadinya kamu didiemin..” sekarang mrs kim memakai bahasa yang biasa dipakai untuk berbicara dengan anaknya.

Geonil tersenyum. “a-aniyo, ajumma.. aku harus pergi..”

“ya sudah.” Umma sungje tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sekaranglah waktunya berbicara dengan anak semata wayangnya yang sudah dewasa itu.

 

*

 

Seperti biasanya. Geonil dibuat sport jantung (?) oleh sungje karena ia datang tiba-tiba setelah geonil memasuki gerbang pagi-pagi sekali. Nafas sungje tak beraturan saat mengatakan pengumuman lanjutan tentang pernikahannya. Untungnya masih pagi dan tidak ada yang datang setelah geonil. Jadilah sungje blak-blakan di depan gerbang.

“umma sudah bilang ke appa kalau pernikahan ini tidak bisa ditunda sampai minggu depan!” kata sungje.

“umma dan appa? Bukannya ‘mami-papi’??”

Sungje menendang kaki geonil dengan segenap tenaga ala lelaki biasa. “tidak ada waktu bercanda! Besok kita sudah melaksanakan pemberkatan!”

Mata geonil langsung melebar.

Hari ini sabtu. Besok.. MINGGU?!! Batin geonil berteriak sendiri.

“nanti kau jadi tamu istimewa keluarga kim!” sungje tersenyum sinis. “nanti appa akan menjemput di depan mall.”

Sungje langsung berlari menjauhi geonil.

“YAAA, JANGAN LARI!!!!!” teriak geonil panik sambil berlari mendekati sungje.

 

*

 

Pulang sekolah..

 

Sungje lebih dulu sampai di tempat janjian. Sekarang, tepat 8 menit ia menunggu kedatangan geonil dan juga ayahnya.

Suasana sore di kota seoul itu terlihat sangat sibuk. Kendaraan melimpah ruah di jalanan seperti sampah. Cahaya pudar matahari tenggelam dan lampu kota bercampur menjadi pemandangan indah menyinari kota.

Sungje mengalihkan pandangannya ke samping. Toko bulgogi. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Cacing perut dan anaknya menginginkan makanan itu.

“mau kemana?” tanya seseorang dengan suara berat khas-nya yang membuat sungje tidak jadi melangkahkan kakinya.

Sungje menatap geonil dengan tatapan memohon. Jari telunjuknya menunjuk satu toko pinggiran yang menjual bulgogi. Geonil menghela nafas.

“ayolaah.. aku benar-benar ingin! Anak ini juga ingin..” kata sungje.

Geonil mengangguk. Lalu berjalan di belakang sungje, mengikutinya. Sungje memesan bulgogi banyak sekali. Geonil saja sampai tidak berkedip memandang seplastik sedang penuh (?) bulgogi.

“ada appa!!” pekik sungje ketika keluar dari toko bulgogi itu. Ia menyerahkan plastik hitam itu ke geonil untuk di amankan.

“aku titip, ok?” kata sungje sambil berjalan dengan cool-nya ke mobil BMW ayahnya.

“apa itu?” tanya ayah sungje menunjuk bungkusan plastik.

“bulgogi.” Jawab geonil jujur sambil tersenyum. “aku sudah lama tidak memakannya..”

“oh..” mr kim tidak berkomentar lebih. Ia menyuruh sungje dan geonil masuk ke dalam mobil dan membawa mereka ke rumah untuk memberitahukan semua yang sudah direncanakannya dan juga istrinya.

 

Akankah pernikahan itu dilaksanakan? Akankah berhasil seperti yang kita (?) harapkan? Dan apakah rumah tangga geonil dan sungje bisa dibangun meskipun sungje tidak mencintai geonil? Tunggu jawabannya di part selanjutnya, yang Insya Allah di-share ga lama dari yang ini ^^

 

TBC

 

***

 

Untuk kesekian kalinya, gue minta maaf karna ga memuaskan pemirsa semua (?) *plakk

Gue Cuma nyalurin apa-apa yang ada di pikiran. Kalo ngeganggu, mendingan ga usah dibaca ^^


Time To Love part 1


Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”

Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg

Length : ga banyak-banyak (?)

Cast :

–       park geonil *Cho Shin Sung*

–       kim sungje *Cho Shin Sung*

–       other Cho Shin Sung members~

Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerima apa adanya. Maukah geonil mengakui anak itu setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?

Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^

A/N : mian lanjutannya lama di blog ini. Karna saya nunggu respon yang lumayan biar yakin.. ^_^

 

***

 

Pagi itu sungje benar-benar tidak bisa fokus dengan pelajaran yang diberikan oleh Changmin sonsaengnim, guru matematikanya. Tangannya dari tadi berusaha untuk menopang dagunya.

“kim sungje!!” panggil changmin sonsaengnim dengan nada mencekam (?)

Mata Sungje langsung terbuka lebih lebar dari yang tadi. Ia menatap gurunya yang tampan itu.

“ne, sonsaengnim?” tanya sungje hati-hati.

“apa rumus untuk !@#$%^&*()” *author masih kelas 3 SMP, jadi kagak tau dah pelajaran MTK slaen pitagoras, kali-kalian, tambah-tambahan, kurang-kurangan, bagi-bagian, ama bangun datar #plak

Sungje menggaruk kepalanya. “apa ya??”

Semua anak langsung tertawa mendengar jawaban bodoh sungje. Tidak biasanya sungje jadi bodoh seperti ini. Biasanya kalau pelajaran matematika ia langsung menancap.

“kau amnesia?” tanya changmin sonsaengnim. “keluarlah. Cari udara segar!”

Sungje mengangguk. Lalu keluar dari ruang kelas yang sekarang jadi membosankan. Ia berjalan lunglai ke lantai atas untuk mengistirahatkan diri sebentar. Entah kenapa ia memilih tempat itu. Padahal sungje paling malas kalau harus naik ke atas.

“geonil-ssi??” pekik sungje ketika melihat geonil ada disana.

Geonil melepas headsetnya. Lalu menurunkan buku yang dibacanya dan tersenyum manis menatap sungje *author melting #plakk

“eh sungje!” kata geonil ramah. “morningsickness ya?”

Sungje menggaruk kepalanya. “m-morning—“

“morningsickness. Penyakit ibu hamil. Jadi dia akan mengantuk tiap pagi.” Jawab geonil menjelaskan.

Sungje manggut-manggut. “TAPI AKU BUKAN IBU!!!”

Geonil tertawa geli. “so? Ayah hamil, begitu?”

“aishhhh!!!!!” dengus sungje kesal.

“sini!” geonil berdiri dari kursi yang dia duduki untuk mempersilakan sungje duduk disana.

“a-aku akan—“

“sini!! Kau mau diberi pertanyaan oleh Mr Shim yang perfeksionis itu? Kau tidak akan bisa berkonsentrasi. Istirahat saja dulu disini..” kata geonil sambil menarik tubuh sungje agar duduk di kursinya tadi.

Grep! *??*

Sungje berhasil didudukkan oleh geonil. Karena badan geonil yang besar itu tidak bisa dikalahkan tubuh kecil sungje. Yeah, seperti gajah melawan semut.

“kau tidak masuk ke kelas?” tanya sungje berbasa basi.

Geonil menggeleng sambil menatap langit. “aku memang terlihat kutu buku dan pintar. Tapi sebenarnya aku paling malas bertemu dengan orang. Apalagi menerima pelajaran seperti ini. Ck.. aku sudah bisa!”

Sungje membatin. Siapa yang bilang??

“tapi sejak aku bertemu kau, aku menyukaimu, aku beranikan diri untuk dekat denganmu, dengan sesama manusia.”

“memangnya kau makhluk apaan?” tanya sungje heran.

“aku juga bingung..” jawab geonil. Geonil mengambil satu bangku reot untuk di letakkan di sebelah sungje.

“mwo??” sungje membulatkan matanya ketika geonil menepuk pundaknya.

“aku bisa meminjamkan bahuku untuk kau tidur. Bayimu perlu istirahat.” Jelas geonil lembut.

“ini kan anak kita, geonil-ssi!!!” geram sungje sambil memukul bahu geonil.

“ne.. ne.. sebegitu besarnyakah kau ingin aku menjadi ayah dari bayi ini? Ckck..” geonil menggelengkan kepala. “baby, umma-mu ingin aku jadi appa-mu. Tak apa kan?”

Sungje menjitak kepala geonil kesal. “enak saja!! Huh!! Sampai matipun baby-ku ini tidak mau menerimamu menjadi appanya!!”

Geonil tersenyum menggoda. “tapi umma-nya yang menginginkanku menjadi appa-nya..”

 

*

 

Pagi-pagi sekali sungje sudah datang. Ia langsung berlari untuk mencari sosok itu. Sosok yang dimintai tolong untuk bertanggung jawab atas janinnya. Padahal bukan dia yang menghamilinya. Ck.. *author ngegeleng*

“geonil-ssi, kau dimana? Issshhh!!!” sungje mengedarkan pandang ke penjuru taman tempat geonil biasa mangkal (?)

“untuk apa kau mencariku?” tanya seseorang tiba-tiba. “dan jangan panggil aku dengan akhiran –ssi. Aku tidak suka mendengarnya. Panggil saja geonil. Seperti sudah kenal lama!”

Sungje membelalakkan matanya kaget. Tapi ia lega karena geonil tiba-tiba muncul tanpa di teriaki dulu.

“ne, park geonil. Appa dan umma-ku sudah tahu kehamilanku ini!” kata sungje to the point.

“mwo-a?? bagaimana bisa??” geonil ikut membelalakkan mata kaget. Darimana bisa orang tua sungje mengetahuinya?

“issshhh!!”desah sungje kesal. “si kwangsu gila itu yang bilang ke appa!!! Oh my.. habislah aku~”

“kwangsu??”

Sungje mendengus. “dokter yang memeriksa kehamilanku.”

“memangnya, hubungan orangtuamu dan kwangsu itu, baik?”

Sungje hampir saja melempar kepala geonil dengan sepatunya yang khusus di desain oleh perancang italia. *inget secret garden dah ==”

“kau itu benar menyukaiku tidak sih? Masa’ kau tidak tahu kalau orangtuaku itu dokter disana! Appa-ku direktur pula di RS itu. Ckck.. U make me so crazy, boy!!!” pekik sungje sambil menendang apapun yang ada disitu. Termasuk kaki geonil *cuciaaan deh appa!! xD

Sungje mengacak rambutnya sendiri. Diikuti Geonil yang juga mengacak rambutnya sendiri. Entah kenapa ia ikut bingung. #plaaak

 

***

 

“YAA, DOKTER SIALAAAAN!!” teriak sungje di ruangan dokter kwangsu.

Dokter kwangsu yang sedang memeriksa ibu hamil langsung menoleh. Ah.. dia sudah menduga kejadian murkanya sungje akan terjadi.

“nanti dulu, ne? aku selesaikan dulu memeriksa nyonya ini..” dokter kwangsu beralasan.

Sungje mendial seseorang dari HP-nya. Dan hanya mengatakan ‘ke ruangan dokter kwangsu’. Lalu seorang dokter masuk kesana.

“ada apa, sungje-ya?” tanya jung yunhak, dokter kandungan juga. Dia salah satu teman sungje. Dan itulah yang membuatnya tidak memakai bahasa formal untuk berbicara dengan sungje.

“aku ada perlu dengan dokter kwangsu sekarang. Aku minta tolong, periksa ibu itu.” Perintah sungje sambil berlalu dari ruangan itu.

 

*

 

Sungje terus mondar-mandir di lantai atas gedung rumah sakit itu sambil mengomel pada dokter kwangsu yang telah membocorkan rahasia pribadinya. Dia memakai bahasa yang santai dan terdengar ‘kasar’ pada orang yang lebih tua *in fact, sungje yang lebih tua dari kwangsu J

“kau sadar, orangtuaku langsung mengintrogasiku. Mereka bertanya siapa ayah dari bayi ini. Kan tidak mungkin kalau kubilang jihyuk! Ckck.. dasar bodoh!!” cecar sungje.

Dokter kwangsu menunduk. “jeongmal mianhe, tuan.. bukan begitu maksudku. Aku keceplosan. Yeah.. itulah sifatku.” Kemudian ia mendongak lagi. Menatap dua mata indah sungje. “tapi aku tidak beritahukan ayahnya kok padamu! Jadi kau bisa sedikit tenang.”

Sungje melempar jas sekolahnya yang diletakan melingkar di lehernya ke tubuh dokter kwangsu.

“tenang.. tenang.. jidatmu tenang!” sungje menggigit bibir bawahnya sebelum mengatakan hal yang kasar lagi. “bagaimana aku bisa tenang, sedangkan orang tuaku sedang berusaha mencari tahu siapa ayah dari bayi yang ku kandung ini!”

Dokter kwangsu ikut menggigit bibir. “mianhae.. jeongmal.. aku tidak sengaja bilang pada direktur kim tentang itu..”

“sudah terjadi, tidak bisa diulang lagi..” seseorang tiba-tiba muncul, park geonil.

Sungje menyeringai kesal. “kenapa kau datang?!”

Geonil mendengus kesal. “sepertinya tadi kau yang mengajakku kesini ya? Kenapa aku yang jadi patung borobudur? Ckck..” sindirnya.

Sungje menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan amarah.

“okay.. lalu bagaimana? Kau bisa cari solusi? Jangan hanya diam seperti patung borobudur begitu!” cecar sungje.

Geonil mengangguk. Lalu berjalan ke sebelah sungje. Dokter kwangsu yang melihatnya hanya bisa memandang mereka aneh.

“kau kira aku sebodoh apa? Aku bisa kok berbicara dengan orangtuamu tentang bayi itu.” Kata geonil santai.

Plakk!!

Satu tamparan gratis langsung didapat geonil. Tapi geonil tidak menampilkan wajah kesakitan atau kesalnya. Malah kepalanya tidak bergeser satu mili-pun.

“dia kan bukan jihyuk!” tiba-tiba dokter kwangsu langsung menyahut.

Sungje mengepalkan tangannya tanda kesal. “memang dia bukan jihyuk!! Dimana-mana juga lebih tampan jihyuk!!”

“mwooo?? Ok! Aku tidak jadi bantu..” geonil yang merasa sakit hati langsung membalikkan badan.

“Ani.. ani.. ani.. jangan marah, ne? Aku minta maaf..” sungje menarik tangan geonil agar tidak pergi. “kenalkan dokter kwangsu, ini park geonil. Dia adalah ayah baru untuk baby-ku.”

“n-ne..” dokter kwangsu manggut-manggut.

“okay. Urusan perkenalan selesai. Sekarang tinggal urusanmu denganku saja. Kajja!!” sungje menarik lengan geonil seperti yeoja yang bermanja pada namja-nya.

 

*

 

“kau belum makan kan?” tanya geonil setelah turun tangga. Sungje sudah melepaskan tangannya dari lengan geonil. Tadi itu hanya acting..

Sungje menggeleng. “aku belum lapar. Dari tadi perutku mual.. heuhhh!!”

“kau harus makan. Ingat seseorang yang ada di perutmu itu..”

“stttt.. jangan kencang-kencang!! Aku malu kalau ketahuan hamil. Mereka semua kan tahu kalau aku putra tunggal direktur kim!” bisik sungje.

“ne.. ne, sajangnim!!” balas geonil dengan nada pelan juga. Setelah keluar dari gedung RS, langsung saja bibir geonil seperti petasan betawi (?) mengungkapkan semua yang dia ketahui tentang ibu hamil.

“ibu hamil perlu banyak nutrisi untuk anaknya juga. Mereka juga perlu susu agar janinnya mendapat asupan nutrisi yang baik untuk otaknya. Untuk urusan itu, aku tidak tahu pasti.”

Sungje meremas rambutnya. “Ckck.. kenapa harus aku yang mendapatkan hal yang seperti ini? Aisshhh.. benar-benar mual.”

Geonil mencari tempat yang pas untuk sungje mengeluarkan makanan yang entah kapan terakhir dia makan. Lalu lelaki tampan itu menarik sungje ke kamar mandi rumah sakit yang ada diluar *anggeplah di RS itu ada kamar mandi diluarnya

“kenapa kau mengajakku ke tempat ini?!!” tanya sungje yang sudah benar-benar mual.

“daripada kau muntah di jalan, aku yang repot. Lebih baik disini saja!” jawab geonil sambil mendorong sungje ke dalam.

 

*

 

Sungje keluar kamar mandi dalam keadaan lemas. Bagaimana tidak, semua makanan dikuras habis di tempat itu.

“makan lagi ya?” tawar geonil setengah panik sambil mencengkram kuat bahu sungje dari samping.

Sungje menggeleng. “aniyo!! Perutku tidak enak. Sumpah!!”

“tapi kau harus. Umm.. makanan yang hangat saja. Soup?”

Sungje menggeleng lemah. “sudah kubilang perutku tidak enak!!” sungje melepaskan cengkraman geonil dengan paksa. “aku sudah dijemput. Bye..”

 

***

 

“GEONIL-AAAAAAA!!!!”

Geonil tersentak kaget mendengar teriakan seseorang yang memanggil namanya. Berkali-kali ia mengelus kupingnya dan juga dadanya.

“jebal!!!” sungje memasang wajah memelasnya.

Geonil kembali menarik sungje ke tempat biasa ia bersantai. Walaupun sungje harus bersusah payah untuk sampai kesana.

“ada apa? Sekarang kau bilang saja disini..” kata geonil sambil duduk di kursinya yang biasa.

“memangnya tidak ketahuan?” tanya sungje khawatir sambil mendelik sana-sini untuk memastikan tidak ada paparazi yang mengintip.

“ck.. ini ruangan pribadiku! Tidak ada yang boleh kesini kecuali aku, dan orang yang kusuruh.” Jawab geonil bangga.

“jadi aku suruhanmu?!!”

“back to topic pleasee!!” sindir geonil sambil mengambil satu buku dari satu meja disana.

Sungje menarik nafas. Lalu membuangnya lagi untuk menenangkan diri. Menyampaikan berita yang bisa membuatnya jantungan.

“umma dan appa ingin bertemu denganmu nanti, SEPULANG SEKOLAH!!” panik sungje.

“mwo-aaa???” geonil langsung berdiri dari tempatnya. “kenapa secepat ini?!!”

Sungje menggeleng frustasi. “aku juga tidak tahu kenapa kejadiannya jadi seperti ini. Mereka sudah tahu siapa namamu dan sekarang sedang mencari latar belakangmu. Aigooo.. sudah seperti sinetron saja!!”

Geonil mengacak rambutnya. Kali ini rambutnya sudah tidak rapi lagi. Terlihat seperti orang baru bangun tidur, lalu kesetrum. Yeah.. sangat aneh. *ga berani bayangin ==”

“aisshhh.. kukira bakal lama aku bertemu dengan mereka. Aku kan belum ada persiapan!” kata geonil.

TTTTTTTTEEEEEEEETTTTTTTT..

Suara yang paling dibenci oleh anak-anak. Tak terkecuali anak pintar seperti geonil dan sungje. Apalagi dua orang ini sedang dirundung masalah yang penuh dengan ketidak jelasan.

“sudahlah~ aku mau bolos!” sungje menarik kursi yang berada di dekat geonil. “otokhae?”

Geonil tampak berfikir. Lalu menggeleng ragu karena keputusan sendiri.

“kau sendiri kan yang bilang kau bisa berbicara dengan orangtuaku!! Mana janjimu itu?!!” cecar sungje langsung dengan mata yang menahan amarah.

“bukan begitu..”

“lalu bagaimana??” sungje memutus ucapan geonil. “kau harus bertanggung jawab dengan kata-katamu kemarin!!”

“kau juga harus bertanggung jawab atas perbuatanmu sendiri! Ini semua kesalahanmu! Kau melakukan ‘itu’ dengan jihyuk. Orang yang paling kubenci di dunia ini!”

Sungje menelan ludah untuk melawan argumen geonil. “ne.. aku tahu aku yang salah. Maaf aku telah melibatkanmu!”

Sungje minta maaf? Dengan suara kecil dan sangat menyesal? Tidak ada candaan di matanya?? Batin geonil bertanya sendiri tentang perubahan drastis ini.

“ulljima.. sekarang aku yang minta maaf sudah membentakmu. Jangan marah, ne??” geonil mengelus punggung sungje untuk menenangkannya.

“hiks.. kenapa.. aku jadi.. hiks.. sensitif begini??” tanya sungje yang masih bingung dengan perubahan drastisnya. Biasanya kalau dia frustasi hanya pergi ke club malam untuk sekedar mendengarkan musik disko.

“itulah perasaan seorang ibu..” geonil menepuk pelan pundak sungje. “tapi sepertinya, kau bukanlah tipe ibu yang seperti itu. Itu hanyalah bawaan bayimu. Kau jangan banyak tekanan ya.. panggil aku kalau ada sesuatu..”

Deg—

Entah kenapa, jantung sungje seperti berhenti berdegup ketika geonil mengatakan itu. Apakah cinta itu mulai tumbuh? Tapi kenapa bisa secepat itu? Dia juga belum bisa melupakan jihyuk, dan juga yunhak yang diam-diam juga ia sukai. *sarap si sungje !!! XD

“sungje-ah, kau tidak masuk ke kelas?” tanya geonil.

Sungje menggeleng. “aku ngantuk. Hoammmmm..”

“aku mau ke kelas. Otokke??”

Sungje menghembuskan nafas panjang. Sudah tidak mampu marah-marah seperti biasa dan beradu mulut. “ya sudah. Aku ingin tidur sebentar saja.. benar-benar ngantuk. Pusing pula kepalaku..”

Geonil mendekatkan kursinya ke sebelah sungje untuk meminjamkan bahunya seperti kemarin. “kau sudah makan? Aku ada roti.”

Sungje mengangguk. Tadi pagi tidak sempat sarapan. Geonil mengeluarkan kotak bekalnya yang berisi roti.

“tapi.. apakah baik untuk bayimu?” tanya geonil ragu.

Sungje langsung mengambil kotak bekal geonil dari pangkuan tuannya. “yang penting aku makan dulu. Aku benar-benar lapar!”

“jadi kau belum makan dari tadi? Ya ampun.. okay.. okay.. kau diam disini ya.. aku belikan makan.”

“andwaaaeeee!!” pekik sungje dengan mulut penuh roti. “aku tak mau sendiri. Kau disini saja ya? Biar aku suruh orang untuk—“

“ani. Biar aku saja.”

 

*

 

Geonil bisa tersenyum lega melihat semangat makan sungje. 5 roti bakar yang ada di kotak bekalnya dirampas sudah. Lalu salad yang dipesan juga langsung habis. Tadinya sungje ingin makan spageti. Tapi yahh.. geonil tidak mau mengambil resiko anaknya suka makanan mahal kalau sungje memakannya (?)

Angin pagi berhembus mengenai kulit dua lelaki itu diatas atap. Tapi mereka hanya bisa diam dan tidak bergeming. Angin itu perlahan bisa menyejukkan dari kepenatan masalah yang sedang diderita.

“je-ah, kau tahu, aku benar-benar bingung dengan masalah ini. Apakah yang harus aku katakan pada mereka? Bagaimana tanggapan orangtuamu nanti? Yeah.. aku masih bingung. Bisa kau beritahuku sekarang?” tanya geonil yang sama sekali tak ditanggapi oleh sungje.

“je-ah, do you hear it? Aku ingin tahu orangtuamu. Aku ingin memastikan kalau aku tidak akan mati kalau mengakui anak si brengsek itu anakku.”

Plokkk!! (?)

Kepala sungje langsung jatuh ke atas paha geonil. Lelaki cantik itu tertidur dengan pulasnya, dan membiarkan geonil sibuk berargumen sendiri tanpa tanggapan. Geonil menahan tawanya agar tidak mengganggunya.

“goodnight for you, baby~”

 

*

 

Pulang sekolah, sungje dan geonil janjian bertemu di kedai bulgogi yang agak jauh dari sekolah. Sungje sampai duluan disana. Dan sedang menunggu geonil sambil makan bulgogi.

“ajumma, bulgoginya enak!” kata sungje sambil memakan bulgogi yang ke-6.

Ajumma penjual bulgogi itu tersenyum. “ah.. gamsahamnida. Ah.. mau beli berapa pak? Oh ok.. tunggu..”

Sungje tersenyum melihat kesibukan ajumma itu. Hal yang belum pernah ia lakukan akhirnya ia lakukan. Tersenyum tulus pada orang biasa, memakan makanan jalanan.

“kim sungje!!!!” seseorang tiba-tiba mengambil piring bulgogi yang masih bersisa.

“apfffa yanghhhh kfffauuuu laffkuhkan????” tanya sungje dengan mulut penuh.

Geonil menarik sungje dari tempat duduknya. “ajumma, apa orang ini sudah bayar??”

Ajumma penjual bulgogi menoleh ke arah geonil. “ah.. belum.”

“berapa?”

Ajumma itu menghitung pesanan sungje. “ah ya.. 15000 won. Tapi ku diskon jadi 10000 won.”

Geonil mengambil uang dari saku celananya. Lalu memberikannya pada ajumma penjual bulgogi dan pergi bersama sungje yang terus meronta.

“geonil-ah, wae?? Aku kan sedang makan enak!!” kata sungje sambil terus memukul lengan geonil dengan kesal.

“kau itu, tidak ingat siapa yang kau hidupi sekarang? Kau tidak memikirkan nasibnya kan? Ck.. dasar bodoh!”

Sungje menatap geonil dengan tatapan benci. “aku tidak pernah makan makanan seenak itu sebelumnya! Memangnya kenapa kalau aku memakannya? Ada yang salah?”

Geonil berhenti di sebuah gang sempit yang sepi. Lalu melepaskan tangannya di lengan sungje.

“banyak! Kau bisa membunuh anakmu dengan makanan tak sehat itu.” Balas geonil dengan nada mengancam.

“biarkan saja! Kalau anak ini mati kan kau tak perlu bertanggung jawab untuk kesalahanku sendiri. Kau bebas!” sungje membalasnya dengan sengit.

Geonil menampar sungje pelan. “kau tak sadar, kalau umma-mu juga melewati masa sulit seperti ini? Mungkin dia sedang sibuk-sibuknya bekerja dan bermesraan dengan appa-mu, lalu tiba-tiba kau hadir ke perutnya. Bagaimana perasaannya? Sama sepertimu, bodoh!”

Sungje kembali menjadi dirinya sendiri. Ia menonjok hidung geonil dan menghasilkan darah yang keluar dari dua lubang hidungnya.

“kita jadi tidak bertemu dengan orangtuamu?” tanya geonil tak mengacuhkan hidungnya yang terus mengeluarkan darah dan menempel di kemeja putihnya.

“sebesar itukah keinginanmu untuk bertemu dengan orangtuaku?” tanya sungje sinis.

“aku mau masalah ini cepat selesai.” Jawab geonil dengan nada santai.

“ya sudah. Harusnya kau biarkan aku memakan makanan sampah itu sampai anak ini mati di dalam!”

Geonil hampir saja melayangkan tamparan ke pipi putih sungje. Tapi hati nuraninya malah menyuruhnya untuk menyimpan tenaganya untuk hal yang lebih penting dan bermanfaat saja.

“kajja!” geonil berjalan ke tempat ia menitipkan mobil sewaannya tadi.

“mobil siapa?” tanya sungje berbasa basi karena melihat geonil kembali ke dirinya sendiri, menjadi sosok dingin yang ditakuti anak-anak.

“sewaan.” Jawab geonil singkat. Lalu membuka pintu kiri mobil untuk mempersilakan sungje masuk. Setelah itu geonil memutar arah ke pintu kanan untuk menjalankan mobil.

 

*

 

Suasana mencekam langsung dirasakan geonil dan sungje ketika kedua orang tua sungje duduk di kursi kebesaran keluarga. Kedua orangtua sungje tidak terlihat setua usianya. Mereka masih tetap cantik dan tampan, dan juga berwibawa. Ayah sungje adalah direktur, pemilik, serta dokter besar di RS Nasional Seoul *jangan tanya gue ini dimana* sedangkan ibunya adalah kepala sekolah serta guru di sekolah khusus wanita.

“annyeonghaseyo ajumma, ajusshi..” geonil berdiri dan menyapa ‘calon’ mertuanya.

Setelah dua orangtua sungje mengangguk, geonil kembali duduk dan bersiap menenangkan diri dari kecanggungan ini.

“siapa namamu?” tanya Mr Kim dengan nada dingin. Persis seperti sungje kalau sedang jutek.

“park geonil.” Jawab geonil sambil tersenyum manis.

Kedua orangtua sungje sempat tersentak. Lalu kembali memasang wajah berwibawanya seperti tadi.

“apa benar, kau menghamili putra kami?” tanya mr kim dengan nada dingin.

Geonil menghembuskan nafas panjang. “jweisonghamnida. Memang benar.. aku menghamilinya.”

PLAKK!!

Geonil langsung mendapat tamparan gratis dari appa sungje di pipi kanannya. Kini lukanya bertambah. Tadi tonjokan di hidung dari sungje, sekarang tamparan di pipi dari appa sungje.

“wae?? Memangnya kau tidak bisa menunggu? Putra kami masih kecil! Dia masih 17 tahun, belum bisa menjadi ibu yang baik!” appa sungje murka. “lagipula, berapa kali kau ‘bermain’ dengannya?”

Geonil tidak menyangka akan ada pertanyaan menohok seperti ini. Geonil belum pernah sama sekali melakukannya. Pacaran saja belum pernah. Dari kecil dia memang pendiam dan kelewat dingin.

“lebih dari batas minimum. Aku tidak pernah bisa mengendalikan nafsuku. Aku.. benar-benar terpesona olehnya..” geonil beralasan bodoh.

“dasar anak jaman sekarang! Kau tahu, aku tidak pernah suka ada orang yang menyentuh SEDIKITPUN putra kami, berlian berharga kami!” mr kim menatap sungje tajam.

“jweisonghamnida..” geonil menunduk meminta maaf.

Appa sungje menghembuskan nafas panjang. Ia sudah tidak bisa mempercayai orang di depannya.

“sungje-ah, sepertinya kau tidak pernah memperkenalkan dia padaku?” sekarang umma sungje menatap ke arah geonil dengan heran.

“ah.. itu..” sungje menggaruk kepalanya. “bagaimana ya menjelaskannya?’’

“katakan yang jujur padaku,” appa sungje melepas sabuk yang dikenakannya. “apa benar kau yang menghamili anakku?”

Geonil mengangguk. “ne..”

PLAKKK!!

Satu cambukan..

“apa benar, kau bernama geonil?” appa sungje kembali mengajukan pertanyaan. Geonil harus ekstra kuat menjawabnya. Karena cambukan dari appa sungje benar-benar sakit. Pantas saja orang dulu selalu takut dengan hukuman cambuk.

“ne..”

PLAKKKK!!

“kau bukan jihyuk kan?”

Geonil menggeram kesal mendengar nama itu. Nama yang membuatnya harus terseret dalam hubungan tersembunyi ia dan sungje.

“bukan. Aku geonil.” Geonil tetap mengulas senyum manis yang membuat sungje bergidik ngeri.

Appa sungje melempar sabuknya ke belakang. Geonil bisa menghela nafas lega di dalam hatinya.

“huh.. aku rasa kau anak yang pintar.” Pikir mr kim.

Geonil tersenyum malu. Sungje kembali harus menahan mual melihat senyum geonil.

“apa yang bisa kau pertanggung jawabkan untuk putra kami satu-satunya?” mr kim bertanya dengan nada yang kembali dingin.

Geonil mengangguk. “aku yang salah disini,” geonil menghela nafas. “aku harus menikahinya, dan menafkahinya. Juga menjaganya dan juga anak—ku..”

Mr kim mengangguk. “okay.. tapi aku tidak mau membantumu untuk urusan ekonomi. Aku tidak mau berbagi warisan denganmu juga. Jadi, setelah aku, sungje harus menggantikanku menjadi direktur utama di RS.”

“tenang saja.. aku bukan orang yang suka dengan pekerjaan seperti itu. Kedudukan yang tinggi membuatku pusing. Aku menopang banyak amanat, dan aku takut aku malah berkhianat. Yeah.. begitulah yang kupikirkan.”

Mr kim tersenyum. Senyum itu tulus diberikan selain dengan pasiennya. Ia menepuk pundak geonil dan mengangguk.

“kau harus menikahinya, sebelum perutnya membesar.” Kata mr kim.

Geonil mengangguk. “ne..”

 

*

 

“aishh.. pelan-pelan.. ahh~~” geonil meringis kesakitan kala sungje mengobati luka cambuk yang diberikan oleh ayah sungje.

“cih, dasar lemah! Hanya dua kali saja sampai kesakitan seperti dicambuk seribu kali!” kata sungje sambil merengut kesal.

“kau tidak pernah dicambuk, huh? Benar-benar sakit! Apalagi cambukan ayahmu. Orangtua-ku tidak pernah mau mencambukku sekencang itu!” geonil mengatakannya sambil meringis.

“dasar lemah!! Aku yang hamil saja masih bisa kuat.”

Geonil langsung bangun dari posisi tengkurapnya. “aishh.. aku sampai lupa kalau kau hamil. Sudah makan lagi? Eh.. aku belum belikan susu ya? Aigo-ya.. padahal tadi aku ke supermarket! Kenapa aku tidak beli sekalian? Dasar!!”

“jadi kau tadi telat karena itu?!! Oh geonil!! Kau benar-benar yaa!!”

Sungje langsung melempar guling ke arah geonil. Kemudian ia mengambil bantal dan memukul-mukulkannya ke punggung geonil.

“aahhh!! Sakit sungje!! Kau tidak tahu rasa sakit yang di derita suamimu ini?”

“mwo? Suami? Ckck..” sungje menggeleng. Lalu berbisik pada geonil. “hanya jihyuk yang masih ada di pikiranku..”

 

*

 

Di sisi lain, kedua orangtua sungje melihat adegan demi adegan romantis antara anaknya dengan geonil.

“aku yakin sungje tidak salah memilihnya..” kata mr kim bahagia.

“yeah.. sungje tidak pernah sebahagia ini kan?” timpal mrs kim ikut bahagia.

 

***

 

“angin pagi ini benar-benar enak kan?” tanya geonil membuyarkan lamunan sungje.

Semenjak sungje meminta bantuan geonil, ia jadi sering ke lantai atas. Walaupun perjuangannya kesana sangat berat.

“aku yakin kau akan terus membolos jika disini terus. Kembali ke kelas ya?” tawar geonil.

Sungje menggeleng. “aku tidak mau! Biar saja aku bolos. Aku selalu merasa mual melihat apapun yang ada di depanku.”

“termasuk aku?” geonil tersenyum manis.

“terutama kau..”

Sungje kembali merasa mual pada perutnya. Reflek ia memeluk geonil yang ada di depannya.

“YA.. gwaenchana? Wae?” geonil mulai panik karena makin lama pelukan sungje itu makin kencang. “aku bisa tambah tinggi lagi kalau kau menggencetku seperti itu.. kkkhhhh~~”

“perutku tak enak.. hiks.. ahhh geonil!!” rintih sungje sambil terus mengeratkan pelukannya.

Geonil mengatur nafasnya yang sesak karena jantungnya berdetak tak karuan. Lalu mengangkat tangannya yang bergetar untuk memeluk sungje. Semoga saja pelukannya itu menghangatkannya.

“bagaimana?” tanya geonil sambil terus mengelus punggung sungje.

Sungje mengangguk di dada geonil. “hmm.. hangat.”

 

*

 

TTTTTEEEEEEEETTTTTTTTTTT..

Bel pulang berteriak nyaring. Sungje langsung menghembuskan nafas lega karena lelah menyerap pelajaran yang tiada hentinya. Ia membereskan bukunya dan menggendong tasnya ke pundak.

“ahhh.. lapar!” sungje mengelus perutnya.

Seseorang yang tidak pernah diundang menyodorkan semangkuk bubur untuk sungje. Yang pasti geonil.

“kalau kurang ke rumahku saja. Aku akan masak.” Kata geonil.

Sungje menerima semangkuk bubur itu dengan ragu *ga mungkin diracun, je !! Ayang gue ga pernah mau ngeracunin lu !! XDD

Sungje meletakkan semangkuk bubur itu di atas meja. Lalu ia duduk untuk memakannya.

“kau tak makan?” tanya sungje sambil terus menyuap bubur itu.

Geonil menggeleng. “kau dulu, baru aku.”

Sungje menyendokkan sesendok bubur. Lalu menyodorkannya ke mulut geonil. Geonil sempat memundurkan kursinya.

“ani.. kau saja. Aku tidak mau makan! Kau saja yang membutuhkan.” Geonil menolaknya mentah-mentah.

“ahhh!! Ayolah~ makan!! Aaaa~~”

Geonil tersenyum. Lalu membuka mulutnya. “aaaa~”

Mereka berdua tertawa bersama di kelas kosong itu. Makanan yang porsinya sedikit itu dimakan berdua.

“YAA! Ku kira kalian setan tertawa di kelas.” Kata si penjaga sekolah, membuyarkan kemesraan mereka.

“omona.. jadi kau mengira kita setan? Ahh~ kalian sudah dengar legenda sekolah ini ya?” kata geonil bermaksud menakuti sungje. Tapi akhirnya sang penjaga sekolah juga ikut takut dan malah mengusir mereka berdua karena kelas mau di kunci.

 

*

 

“memangnya legenda apa sih? Kau tahu banyak tentang sekolah ini?” tanya sungje sesampainya di gerbang, menunggu jemputannya.

“akan kuceritakan di tempat dan waktu yang tepat.” Jawab geonil untuk membuat sungje penasaran.

“ahh.. kenapa tidak sekarang saja??” sungje merengek minta diceritakan.

“ani..” geonil menggeleng.

“geonil-ssi, tell me please!!”

“no!!”

Geonil terus menolak permintaan sungje dengan maksud menjahilinya. Tapi ternyata sungje malah mengikuti geonil yang berjalan melewati gang-gang sempit untuk sampai di rumahnya.

“kau mengikutiku hanya untuk mendengarkan misteri yang belum jelas?” tanya geonil jahil.

“aku kan orangnya penuh penasaran!” sungje merebahkan tubuh di sofa rumah geonil. “aaahh.. ini terbuat dari apa sih? Keras sekali!”

Sungje melihat ke sekeliling rumah geonil. Tidak ada yang mewah disini. Dandanan geonil juga seperti orang yang biasa saja. Tapi kenapa bisa masuk ke sekolah elite khusus pria?

“aku mau memasak makanan dulu untukmu. Kasihan anak itu tidak diberi makan.” Geonil berjalan ke dapur setelah mengganti bajunya di kamar.

Sungje mengangguk. Lalu berdiri untuk melihat isi rumah geonil yang sempit itu.

“geon, boleh aku masuk kamarmu?” tanya sungje dari depan kamar geonil.

“masuk saja!!” jawab geonil dari dapur.

Sungje membuka pintu kamar geonil. Benar-benar membuatnya terkejut. Ia tak habis fikir kalau ini kamar geonil. Rapi!

Temboknya bercat biru. Ada satu rak buku besar yang berisi buku-buku pelajarannya dan buku-buku lain. Sungje menggelengkan kepala melihat koleksi bukunya.

“ck.. dasar kutu buku!”

Sungje berbaring di kasur tempat geonil tidur. Keadaannya sama seperti sofa tadi. Sama sekali tidak empuk!

“ahh~~ kalau aku punya uang aku benar-benar ingin mengganti perabotannya! Benar-benar tidak seperti perabotan manusia.” Sungje menggeleng.

“huh??” sungje langsung bangun dan melihat sebuah bingkai di meja belajar geonil yang diposisikan tengkurap. Sungje mengangkatnya dengan hati-hati dan ragu. Ini bukan miliknya.

“j-jihyuk..??”

 

***

 

TBC

 

A/N : Ahhh~~ kepanjangan yaaa?? Mian deh !! gue lagi semangat buat GeonJe couple nih !! hohoho~~ *padahal bikin ini tuh sambil senyum-senyum sendiri..

Penasaran gak ama lanjutannya?? Kalo ngga ya diberhentiin aja deh.. #ga tanggung jawab

Thank’s ya yang udah mau baca dan ninggalin jejak. Buat yang baca tapi ga ninggalin jejak, makasih juga ya udah mau baca ff nista ini !!

 


Time To Love prolog


Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”

Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg

Length : ga banyak-banyak (?)

Rate : PG 15 (?)

Cast :

–       park geonil *Cho Sin Sung*

–       kim sungje *Cho Sin Sung*

–       other Cho Sin Sung members~

Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerimanya apa adanya. Maukah geonil melakukannya setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?

Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^

A/N :

Annyeonghaseyo mina-saaaaaaaaaaaaaaan !!!!! *ga nyambung

Laila back again nih *ga ada yang nunggu* setelah berbulan-bulan (?) ga ngepost ff disini..

Mian banget banget banget karna saya bukan bawa lanjutan ff yg laennya.. tapi malah bikin ff baru dengan pair yang baru bagi saya *karna biasa GTOP or yunjae~

Okayy,, mungkin dua nama itu udah ga asing lagi bagi kalian para kpopers ^^ dua raja selca CHOSINSUNG gitu :DD

Itadakimasss!! *kepanjangan euyyyy ==”

 

***

 

Sungje menatap hasil penelitian dokter di rumah sakit itu dengan bingung. Matanya terus memicing, memastikan hasil itu miliknya.

“aniyo, euisa. Aku namja! Mana ada namja yang punya rahim? Ckck..” kata sungje tak terima dengan hasil itu.

“saya juga tidak yakin dengan hasilnya, tuan..” dokter itu menggeleng lesu. “mau lakukan tes ulang?”

Sungje melempar hasil pemeriksaannya di atas meja dokter kwangsu. Dokter kwangsu langsung memundurkan kursinya ke belakang karena kaget.

“impossible!! Mana mungkin—“ sungje menggelengkan kepala. “sudah 11 kali kita melakukan tes, dan hasilnya tetap. Hiks..”

Dokter kwangsu mengelus pundak sungje yang bergetar. Memang susah menerima kenyataan kalau seorang lelaki tampan dan terhormat seperti sungje ternyata mempunyai kemampuan untuk menyimpan benih kehidupan di perutnya.

“siapa yang harus bertanggung jawab akan anak ini, tuan?” tanya dokter kwangsu.

Sungje menatap dokter kwangsu kesal. “yang pasti appa dari bayi ini lah!! Kau bagaimana sih..”

Dokter kwangsu tersenyum. “ck.. maksudnya, siapa ayahnya?”

Tangis sungje langsung pecah setelah dokter kwangsu menanyakan ayah dari bayinya itu. Orang itu sudah menyakiti hatinya..

“dia ji hyuk!! Song ji hyuk!! Hueeeeeeeee…” teriak sungje kesal.

Dokter kwangsu langsung membekap mulutnya. “mwo? Song ji hyuk? Anak dokter Song yang sedang menuntut ilmu di amerika itu?”

Sungje mengangguk.

“ji hyuk?”

Sungje memukul meja dokter kwangsu. “BUKAN!!!” katanya kesal.

“bisa mati kau kalau meminta ji hyuk bertanggung jawab.” Dokter kwangsu menghembuskan nafas panjang. “dokter song tidak pernah mengizinkan ji hyuk bersama dengan orang pilihan sendiri. Jadi, kau harus mencari ayah baru untuk bayimu..”

“sebenarnya kau punya otak tidak sih?! Darimana ayahku bisa memilih dokter sebodoh kau?!!” sungje mengacak rambutnya frustasi. “darimana bisa aku mencari ayah baru untuk anak sialan ini?”

Dokter kwangsu menampar sungje. Tidak mempedulikan posisi sungje disini adalah ‘majikan’.

“kau tidak boleh sembarangan bicara! Anak itu datang karena kesalahanmu sendiri. Dia tidak mengerti apa-apa.” Ucap dokter kwangsu. “kau harus jaga anak ini, ne?”

Sungje menggeleng. “ani!! Aku akan menggugurkannya. Aku tidak mau dia hidup dengan sapaan anak haram.”

“ya itu urusanmu..” dokter kwangsu menepuk pundak sungje. “yang pasti, anak itu sudah hadir karenamu. Jadi kau harus bertanggung jawab melindunginya.”

 

*

 

“aku kembalikan, dan pinjam lagi..” ucap namja tampan itu pada pegawai perpustakaan sambil tersenyum.

“ne park geonil.. gamsahamnida..” balas si pegawai perpustakaan.

Geonil keluar dari perpustakaan sambil membawa 3 buku yang tebal-tebal. Satu buku ilmu sosial dan dua novel klasik. Kakinya ia langkahkan ke sebuah tempat di samping sekolah khusus pria itu.

Senyum geonil langsung mengembang ketika melihatnya. Melihat orang yang ia sukai. Tapi yang disukai sudah ada yang memiliki. Jadi hanyalah harapan kosong jika geonil bisa memilikinya.

Namja tampan yang kutu buku itu duduk di bangku di dekat pohon mapple untuk membaca bukunya. Sekalian menatap orang yang disukainya, yang sedang bermuram durja di seberangnya, membelakanginya. Geonil ingin mendekat dan menanyakan kenapa sungje—namja yang disukainya—terlihat begitu lesu. Apakah karena ia merindukan ji hyuk yang sejak seminggu lalu pergi ke amerika untuk belajar?

Kaki geonil sudah menopang tubuhnya dan siap berjalan. Tapi hati geonil tidak menginginkan pertemuan dengan sungje. Yeah, geonil pernah ditolak sungje. Dan semenjak itu, geonil hanya memperhatikan sungje dari jauh.

Tap! Tap! Tap!

Langkah kaki itu.. cara jalannya.. wajahnya..

Geonil benar-benar tak percaya. Ia ingin mengedipkan matanya, tapi takut kalau bayangan itu ternyata hanya ilusinya, dan menghilang.

Tapi..

“geonil-ah, jebal!!” katanya sambil terisak. Tubuh kecilnya memeluk tubuh kekar geonil yang masih diam mematung.

Debar jantung geonil sudah tidak beraturan. Terdengar bergemuruh, sampai-sampai geonil merasa akan mati sebentar lagi karena debaran jantungnya yang benar-benar cepat dan kencang.

“jebal, bantu aku!! Sebentar saja~~” pinta sungje memelas.

Geonil tersenyum lega. Ternyata ini bukan mimpi. Sungje meminta bantuannya? Dia memohon? Untuk apa? Apa hanya untuk pelarian?

Geonil tak memikirkan itu. Biar saja ia jadi pelarian. Yang penting ia bisa dekat dengan orang yang dia suka.

“untuk apa?” tanya geonil dengan suara bergetar.

“aku tidak mau membicarakannya disini!” kata sungje sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya.

“ya sudah. Kita ke tempat yang sepi saja. Ddarawa!!” geonil mengambil tiga buku tebalnya dan menentengnya.

 

*

 

“MWO?!!”

Mata Geonil membelalak kaget. Namja itu tidak pernah menginginkan kejadian yang seperti ini. Lebih baik ia menjadi pelarian atau pengganti ji hyuk saja daripada harus menjadi AYAH DARI BAYI YANG BUKAN MILIKNYA *caps kejepit

“jebal~ hanya untuk 9 bulan, sampai bayi ini lahir. Tapi semoga saja bayi ini keluar sebelum waktunya..” kata sungje.

Geonil mengalihkan pandangannya ke langit. Langit terasa lebih dekat dari atas atap ini.

“aku tidak pernah menghamilimu. Aku tidak mau kalau begitu!” kata geonil yang mulai kehilangan kesabaran.

“tapi aku mohon.. ayahku akan menghapus namaku dari keluarga kim. Dan kalau aku minta pertanggung jawaban ji hyuk, pasti orang tuanya yang tidak mau mengakuiku. Orang tuanya tidak pernah mengizinkan ji hyuk bersama dengan pilihannya. Ayolah~”

“kenapa tidak kau gugurkan saja bayi itu? Daripada kau bingung sendiri!”

“aku tidak diperbolehkan!!!!” sungje setengah berteriak. “jadi..”

“ya sudah,” geonil memotong ucapan sungje. “kau jaga saja bayi itu. Lagian.. itu jugakankarena kesalahanmu sendiri. Bukan kesalahan anak itu..”

“cih!! Kau dan dokter kwangsu benar-benar sama!!”

Sungje pergi dari hadapan geonil tanpa pamit. Geonil hanya bisa memandang punggung kecil itu menjauh dari hadapannya.

“sudah kubilang kalau jihyuk itu orang yang benar-benar brengsek! Lagian mau saja melakukan sex dengan jihyuk!” gumam geonil.

Beberapa detik setelah mengatakan itu, sungje kembali datang dan langsung berlutut pada geonil.

“jebal!! Aku mohon bantulah aku.. jadikan bayi ini sebagai anakmu—anak kita maksudnya. Ayolah~” mohon sungje dengan air mata yang melimpah (?)

Geonil diam. Mana mau ia menjadi ayah bayi itu? Mending kalau itu anaknya sendiri, kesalahannya sendiri.

“geonil-ah, aku akan membayarmu berapapun yang kau mau! Aku akan memperbaiki kehidupanmu! Aku akan—“

“aku bukan namja murahan!” kata geonil. “aku memang butuh uang. Tapi aku tidak akan melakukan itu, seberapapun besarnya!”

Sungje berdiri dari posisinya. “geonil-ah, ayolah~ aku janji, aku tidak akan membiarkanmu kenapa-napa. Aku akan melindungimu..”

“memangnya kau sudah bisa melindungi dirimu sendiri? Malah hamil gara-gara jihyuk sialan itu!” kata geonil kesal.

Sungje berdiri dari posisinya. Lalu menunjukkan dua jarinya membentuk tanda ‘swear’.

“aku janji, aku akan belajar mencintaimu. Betapapun susahnya itu. Tapi tolonglah, bantu aku untuk mengakui anak ini..” kata sungje memohon.

Geonil mempertimbangkan permintaan sungje. Cinta bisa tumbuh kapan saja. Dan geonil yakin, akan datang waktu agar sungje menerimanya menjadi cintanya, bukan pelariannya.

“tapi kalau anak ini lahir, dan perasaan kita ternyata tidak cocok, kau bisa tinggalkan aku dan anak ini berdua saja. Aku akan hidup sendiri.” Tambah sungje.

“hmm..” balas geonil singkat. “apa aku harus menikahimu juga?”

Sungje menepuk tangannya. “bingo!! Kau juga harus bilang ke ayahku, kalau aku hamil karenamu, dan kau bertanggung jawab.”

Geonil membelalakkan matanya. “mwooo??? Kau kira gampang mengaku seperti itu! Aku dilahirkan untuk bertanggung jawab karena ulahku sendiri. Bukan karena ulah orang lain.”

Sungje mendengus kesal. “arasso!! Kau menyalahkankukan? Arayo.. aku tahu ini salahku. Tapi aku tidak mau mati..”

Geonil mengangguk. “okay. Aku sedang baik hari ini. Jadi aku setuju.”

Sungje menyeringai sinis. Baik apanya?? Tapi kemudian ia tersenyum lega. Lalu memeluk geonil sambil melompat-lompat bahagia.

“gomawoooo!!!!!!!!!!!!!!!!” katanya senang.

“YAA!! Kau mau membunuh anak itu? Anak itu akan jadi kodok kalau kau loncat-loncat terus..” omel geonil, khawatir.

“YAA!! Anakmu sendiri kau bilang kodok? Omona.. kau benar-benar jahat ya! Bagaimana mau jadi appa untuknya?” sungje memukul lengan geonil.

Geonil berjalan melewati sungje yang masih mencak-mencak. “itu bukan anakkukan? Itu anak jihyuk! Ckck..”

 

***

 

TBC

 

And then, bagaimana jadinya dua orang ga jelas ini ?? #plakk

Mian, without editing nii 😀 *lagi curi waktu :))