fanfiction for our soul

Posts tagged “changmin

Satu Hubungan [1shoot / YooSu]


Sequel dari “Still have dolphin”

DB5K (c) 2003 SMEnt.

by intan9095

Warning: mengandung tentang pengidap penyakit Skizofrenia (secara kejiwaan), typo(s), OOC (semoga enggak ada).

Author’s note:  MOHON MAAF, sekali lagi MAAF karena fanfic yang berjudulkan XIAH “also kill the bastard like you” akan saya tarik lagi, sekaligus menghapusnya dari blog ini saja. Karena setelah membaca ulang secara keseluruhan, fanfic tersebut fokus pada pair STRAIGHT, walau nantinya akan bermunculan pair JunChun, YunJae, SaiMin, dsb, walau kemungkinan berEndingkan Boyslove (entah mau menjadi pair yang bersama atau terpisah), sekali lagi inti cerita tersebut adalah STRAIGHT.

Mohon maaf semuanya atas kecerobohan saya >< Sekali lagi maaf, bagi yang masih berminat untuk membaca, bisa dilihat dari note FB saya ^^ Terimaksih.

##

Aku terperangah. Takjub sungguh pada dua objek yang ku lihat sekarang. Melikuk-likuk dan melompat-lompat melewati setiap cincin dan mendarat kembali, menghasilkan banyaknya gemercik air yang menerpa kulitku. Ternyata, tidak ada salahnya untuk mengikuti usul ‘dia’ untuk seperti ini.

Ah, sudah hampir berjam-jam terlewati, aku benar-benar telah terhipnotis, mungkin? Bahkan sama sekali tidak merasa jengah. Tidak akan. Aku merasa sepertinya dua objek itu tengah bernyanyi di setiap atraksi mereka. Aku berpendapat demikian. Namun sepertinya sosok di sampingku saat ini berbeda haluan—dalam pendapat…

“Yoochun-ah! Lihat itu! Lihat!” jari telunjuknya menunjuk sebuah objek yang sedang mencoba mendekati tepian kolam mendekati kami. Wow, makhluk ini manis sekali. Sedikit menyilaukan akibat terik sinar matahari, tidak menyulitkan juga untuk melihatnya lebih dekat.

“Boleh aku pegang?” tanyaku pada sang pawang. Cukup satu anggukan, perlahan aku mengulurkan tanganku, menyentuh kulitnya yang licin dan basah. Ia bersuara. Ini yang ku sebut ia sedang bernyanyi. Kenapa? Itu…

“Aku mau pegang juga, Yoochun! Jangan curang!” sebuah tangan lainyapun ikut terulur. Ikut merasakan lumba-lumba abu-abu putih ini. Aku merasa sepertinya lumba-lumba ini baru saja tersenyum lebar, ada kecendrungan seperti mengatakan sesuatu yang tidak aku pahami. Maka aku hanya mengernyitkan kening. Lain halnya dengan pemuda di sampingku ini, ia seperti benar-benar mengerti bahasa lumba-lumba, terus tersenyum dan sesekali berbicara sendiri. Aku kembali menarik tanganku. Ia melirik ke arahku, lalu iapun ikut menarik tanganya. Aku hendak mengambil handuk dari dalam tas untuk membersihkan tangan yang masih terasa licin, namun ia menghentikan gerakanku dengan menahan pundak ku.

“Jarang sekali kamu menyentuh lumba-lumba lho. kalau di bersihkan, percuma saja barusan kamu menggoda lumba-lumba itu. Hahaha!”

Aku berani bersumpah. Dia dapat melihat air wajahku yang begitu memalukan saat ia tertawa barusan. Bagaimana tidak? Ia tertawa lepas dengan wajahnya yang masih basah oleh gemercik air barusan serta efek cahaya yang entah dari lampu di sekitar sini atau memang dari matahari atau dari dirinya sendiri? Apapun itu, ini yang aku sebut barusan.

Ia tertawa seperti lumba-lumba, ia bernyanyipun tak akan pernah lepas dari oktaf-oktaf lumba-lumba. Sifatnya yang periang dan selalu pada jalan positif di benaknya adalah kunci dari setiap keberhasilan yang ia dapat.

Aku sangat bersyukur saat ia mengatakan bahwa hanya aku sahabat pertama dan mungkin sahabat terakhirnya pada masa berkepanjangan ini *lebay*. Ku anggap itu guyonan buatanya. Tapi yang aku dapat hanya pukulan telak di pelipisku karena tidak mempercayainya. Sejak saat itu aku telah mengetahui semuanya. Ia hanya sendiri dan benar-benar kesepian. Semua temanya telah mengkhianatinya. Ironis.

Ia kembali bertaut pada lumba-lumba yang masih berdiam diri di tepian menyaksikan kami berdua yang sibuk adu argument.

“Baiklah, memang itu kemauanmu, sayang sekali.” Ia bangkit berdiri dan membenahi barang-barang yang tergeletak tidak beraturan di lantai. Menenteng tasnya kembali lalu pergi meninggalkan tempat.

Buram…

#

Yoochun membeku di tempat dalam beberapa detik, kekosongan terhadap pandanganya berubah jauh seperti memicing. Ia berdiri lalu melirik pada kolam di sampingnya, seringai kecil tampak di wajahnya…

#

Yoochun POV

Ada satu hal yang masih terbesit di pikiranku, mengapa panggilanku untuk memintanya kembali tidak di hiraukan? Aku rasa dia dapat mendengarnya dengan baik.

Setelah mengucapkan salam hangat pada pawang, aku langsung ikut menyusulnya. Tak seperti yang di harapkan, dia sudah berjalan jauh sepertinya. Aku tidak dapat melihat siluet bayangnya sama sekali. ‘Apa ini perasaanku saja ya? Bukankah barusan itu jalan arah renovasi tegangan tinggi?’pikirku. Ya, ini memang jalan yang sudah memasuki daerah alat-alat berbahaya. Memang sejak kapan dia berani mengarah pada hal beginian? Aku harus mengejarnya, anak itu selalu nekat.

“Ah, apa ini?”

“Junsu-ah!”

Kenapa dengan bocah itu? Dia sedang dalam situasi tidak memungkinkan. Berdiri yang dekat pada tabung besar berisi bahan bakar dan kabel-kabel listrik yang berbelit di sekelilingnya. Junsu? Ia sedang berjongkok memunguti sesuatu di bawah sana, aku langsung mendekatinya. Namun ternyata ia sudah dalam posisi berdiri lagi dan berbalik. Mimik wajahnya berubah menjadi sangat ceria begitu melihatku. Ia langsung berjalan cepat ke arahku, langkahnya terhenti.

Aku memang sedang tidak salah lihat, bukan?

Kakinya terbelit oleh kabel listrik barusan. Ya memang hanya terbelit. Namun apa selanjutnya itu yang membuatku entah berpikir kemana dengan tidak menentu. Beberapa teriakan dari konduktor—terlihat seperti itu di sekitarnya, meneriakinya untuk melepas sepatu semacam boots kulitnya dan pergi lari. Aku yakin sebenarnya Junsu mendengar itu semua, tetapi dia tetap bersikeras menarik-narik kakinya penuh kepanikkan. Sangat panik sampai kakinya benar-benar terikat pada simpul kabel.

Aku membeku di tempat. Seakan pembuluh darahku berhenti menyalurkan sel-sel darah dari dalam tubuhku pada jantung yang hanya memompa dilema. Banyak sekali potongan-potongan kisah yang tiba-tiba menyusup ke dalam pikiranku, dimana salah satunya adalah sesaat sebelum Junsu keluar dari wahana atraksi beberapa waktu,

Bukan. Tetapi beberapa tahun lalu…

Flashback on

“Aku tidak terlalu menginginkan ini semua, sungguh. Ta-tapi aku sangat bersyukur kamu mau berteman untukku…”

“Ja-jadi, kamu sudah tahu ‘kan penyebab aku tidak mempunyai teman sampai saat ini? Maksudku, aku tidak tergantung pada penyebabnya. Tapi aku penah membuat sebuah permohonan saat ulang tahunku, itu… ya, agar kamu tidak menjauh dariku karena — Hehehe..”

Flasback off

Mengharukan sekali, aku tidak mengingat utuh apa yang ia ucapkan di kelas saat pelajaran selesai. Padahal saat itu aku berkonsentrasi penuh pada apa yang ia katakana sampai membuatnya menjatuhkan bulir-bulir air mata yang tak pantas ia keluarkan sebagai lelaki.

Kepalaku di buat sakit untuk mengingat itu semua sampai aku melupakan sosok yang sedang di ambang pengakhiran hidup di hadapanku yang begitu lemah tak bisa berbuat apa-apa. Semakin ramai, semakin di kerumungi pengunjung. Ini bukan tontonan!

“Aaaaahh!”

Aku dapat mendengar teriakanya, teriakan yang mengingatkanku pada lumba-lumba barusan. Ya, perlahan aku mulai mengingat itu semua. Tetapi, tidak tepat pada waktunya sampai saat tabung itu jatuh dan tumpahlah semua isi tersebut. Ada beberapa pesan yang barusan dipampang sebelum berbelok pada jalan panjang ini.

Mungkin aku sedang berkhayal jika ternyata semakin jelas suara-suara gemuruh seperti lebih dari seorang di dekatku—kenyataan di sini semua dalam masa keheningan. Aku merasa seperti ada sebuah kehangatan yang merengkuhku sampai aku melihat sinar matahari mulai berubah memerah darah, aku tidak peduli.

Ya, aku dapat memastikan semua janjiku untuk Kim Junsu akan berakhir di sini. Aku memang sudah tidak bisa menepati janji saat listrik itu bereaksi oleh cairan minyak yang menjalar hingga terbakar sudah apa yang ada di hadapanku. Awal adalah ledakan setelah seseorang memanggil namaku penuh harap lalu terakhir adalah lautan api yang bersulut-sulut hingga melahap semuanya. Jeritan-jeritan memilukan ikut menyertai pemandangan na’as tersebut.

“Tuhan…”

Akhir dari semua ini adalah saat dimana tubuhnya jatuh, di dekat kakiku dengan keadan yang sangat mengerikan, bahkan untuk di lihatpun tak layak, sangat. Lalu barulah semua itu muncul, sinar barusan semakin terang dan terlalu cepat dan sangat cepat, semakin silau…


“Chun…”

.

“Chunnie…”

.

“Chunnie-ah!”

.

“Yoochun! Yoochun! Sadar! Hei!”

Apa itu barusan? Sebuah tangan sudah merengkuhku dan menepuk-nepuk pipiku dengan hebat sampai sakitnya tak terhingga. Aku tidak bisa membuka kedua mataku, terlalu berat dan ya, aku sepertinya menangis dalam keadaan seperti ini.

Telingaku dapat mendengar banyaknya suara yang begerumuh di sekitarku, entah itu wanita maupun pria, yang jelas jumlahnya terlalu banyak, salah satunya suara Junsu.

“Jangan membuatku tambah khawatir! Park Yoochun!”

Aku membuka kedua mataku perlahan, sangat pelan sampai rengkuhan pada tubuhku mengerat. Basah, tubuhku terasa basah dan rambutku lumayan berat akibat menyerap banyak air. Dan hal pertama yang aku lihat saat semua jelas adalah sosok Junsu yang tersenyum penuh arti dan mengehala nafas lega begitu melihatku. Ia basah, sama sepertiku, sebenarnya apa yang terjadi? Bukan hanya dia, pawang yang barusan aku lihat saja ikut menghela nafas lega dengan beberapa orang lainya yang tidak aku kenali.

“Lain kali jangan tiba-tiba menceburkan diri ke kolam ya! Untung lumba-lumba itu menangkap tubuhmu cepat, kalau tidak, entah aku dapat melihatmu bernafas lagi atau tidak sekarang!”

Dan aku mulai mengerti apa dari yang aku alami barusan. Terlalu terbawa dalam pikiran sendiri sampai aku melakukan tindakan berbahaya dan membayangkan hal itu terjadi pada Junsu. Aku mulai mengerti mengapa ia di jauhi teman-temanya. Aku mengetahui sekarang posisi akulah yang seharusnya di jaga dan bersyukur mendapat sahabat terbaik sepertinya, membawaku pada tempat yang sesuai dan mengetahui semua kelemahan dan kelebihanku.

Mungkin memang selayaknya untuk di jauhi karena akan berakibat fatal. Namun aturan tersebut sama sekali tidak berlaku untuknya, ia menyayangiku dan sebaliknya. Menerima apa adanya karena ini atas Tuhan yang mentakdirkan.

“Gomen, Junsu-ah,” tanpa sadar kedua pipi itu bersemu ketika aku mengecup bibirnya sekilas.

#

OMAKE

JBUURRR!

Junsu menghentikan langkahnya. Ia segera berbalik begitu mendengar suara keras dari arah belakangnya, perasaanya memang dari awal sudah buruk ketika meninggalkan Yoochun di sana. Ternyata memang benar, tiba-tiba saja Yoochun berlari mendekati pinggiran kolam dan melompat hingga beberapa orang di sana yang tersisa terkejut.

Beberapa lumba-lumba di dalam kolam sana segera mengejar tubuh Yoochun yang semakin tenggelam ke dalam, jauh… membiarkan air terhisap ke dalam tubuhnya…

“Yoochun! Yoochun!” jerit Junsu sembari melepas tasnya dan melemparnya sembarang. Ketika ia hendak ikut melompat, sebuah tangan menahan dirinya…

“Jangan lakukan itu, sudah aku minta pada mereka untuk menolong temanmu.” kata pawang tersebut menunjuk ke dalam kolam—lumba-lumba.

Junsu terdiam, beberapa saat kemudian tubuh Yoochun terlihat mengambang di sana…

#

“Arigatou.. hmm…”
“Panggil saja Changmin.”

“Ah ya Changmin, aku berterimakasih banyak. Jika kamu tidak cepat meminta lumba-lumba itu mengejar Yoochun, mungkin aku sudah kehilangan dia sekarang. Sekali lagi, aku berterimakasih banyak!” Junsu membungkuk sedalam-dalamnya.

“Tidak perlu membungkuk seperti itu tuan…” Changmin segera membetulkan posisi Junsu untuk kembali berdiri tegak. “Yang penting sekarang temanmu sudah tertolong dan baik-baik saja bukan?”

Junsu mengangguk cepat lalu tersenyum hangat. Tak berapa lama kemudian ia kembali menunduk. Mereka berada di depan tempat dimana para pengunjung yang menerima kecelakaan untuk menetap di situ *aye kaga tau namanya apa -,-*, hari menunjukan petang.

“Kalau boleh tahu, kenapa dengan temanmu?”

Junsu menghela nafas panjang lalu tersenyum kembali, “Tidak ada apa-apa, dia frustasi mungkin atas kepergianku barusan, hehehe.”

‘Dasar bocah kepedean’ pikir Changmin. “Ah, aku serius~”

“Yayaya, itu rahasia, nanti akan kuceritakan jika kita sudah saling mengenal, hmm.. hampir 10 tahun!”

Changmin jawsdrop. Junsu menepuk bahunya, “Aku mengenalmu tuan Shim. Jangan pura-pura, dulu kita satu tempat kerja bukan? Aku ingat kamu orang yang seenaknya merubah atmosfir di pub saat aku berusaha menenangkan Yoochun. Memangnya kita mau kawinan apa?” lalu mendorong bahunya keras yang hampir saja Changmin oleng.

“Hahaha! Aku kira kamu sudah lupa, padahal sudah 2 tahun loh kita enggak reunian lagi. Ya aku lakukan itu karena aku rasa kamu seperti istri pengganti kekasih Yoochun, dan… hati-hati dalam mengucapkan antara kawin dengan menikah ya, beda makna loh~” Changmin mengacak-acak rambut Junsu sambil tertawa renyah, sedikit ada senyum misterius di wajahnya. Junsu menepis tangan Changmin lalu mendengus.

“Dasar mesum! Piktor! Racun dunia!” umpat Junsu.

“Ngaco.”

“Apapunlah, aku mau membawa Yoochun pulang dan ka—”

“Aku memang tidak mengenal Yoochun secara baik-baik. Tapi aku tahu kamu denganya sudah bersahabat baik hampir 25 tahun. Lain halnya denganku, aku juga tidak tahu jelas bagaimana perasaanmu ketika tahu dia memang sedang ‘sakit’. Tapi aku tahu kamu menyimpan rahasia di balik hatimu yang sesungguhnya, Junsu. Dia juga merubah hidupmu. Begitupun sebaliknya…”

Changmin mendekati Junsu lalu memegang kedua bahunya, “Persahabatan kalian sangat kuat dan aku berpikir tidak hanya cukup jika hanya di pegang oleh 2 orang, jika boleh.. boleh aku ikut bergabung? Aku ingin membantu meringankan beban kalian. Terutama Yoochun, pasti suatu saat nanti ‘penyakit’ itu hilang, dia akan kembali normal. Betul?”

Junsu tidak dapat berekspresi apapun lagi, entah harus bahagia atau sedih atau bagaimana, ia hanya tersenyum lebar lalu mengangguk,

“Tentu! Dia pasti sembuh! Pasti! Dan kita akan bersahabat! Changmin, terimakasih!” Junsu berhambur memeluk Changmin dengan hal yang paling tidak ingin diperlihatkannya. Menangis.

Iklan

I Know i’m Wrong,But i’m still Loving U/Epiloq/Junsu view/1S


Back whit epiloq nya!!!^^
Kekekeke moga suka ini akan jadi FF yang paling pendek kali yah!!!,hahahahaha baca aza dah 😀

Titel:Sorry,I know i’m wrong,but i’m still loving U Epiloq Junsu View

Genre:Angst,PG-15

Cast:Yoochun X Junsu,

Disclaimer:Mereka punnya tuhan,namun FF ini adalah FF saya,jadi no CoPas 😀

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“Chunie……”Panggil Namja imut pelan,sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah sang Tambatan Hati

”Waeyo Chagia???”Jawab sang Namja Tampan sambil menggenggam tangan sang Kekasih yang terulur

“Aku…………….tak kuat lagi!!!,cepat pergilah…….”Lirihnya,matanya mulai tertutup perlahan,”Saranghae……….”Bisiknya,lalu gengaman tanganya mulai melemah

“Aku tak akan pernah meninggalkanmu,aku akan selalu mencintaimu,aku tahu aku salah,namun aku tetap mencintaimu!!!”Ucap Sang namja pelan

‘BRAK’

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“Kring……….Kring………..Kring’

“Ahh…….”Igau Dua orang Namja bersamaan,namun berada di tempat yang berbeda

“Mimpi lagi………..”Guman Namja yang Berwajah Tampan,sambil menggosok wajahna Kasar

“Yoochun itu siapa sih???,Kok selalu muncul dalam mimpiku???”Ucap seorang Namja imut,lebih-lebih pada dirinya sendiri

“Mimpi yang aneh!!!”Guman Keduanya bersamaan kembali,lalu beranjak ke kamar mandi masing-masing

“JUNSU-AHH!!!!!!!!!!!!!,PALLI………………….KAU MAU KAMI TINGGAL HAH???”Teriak Seorang Namja cantik kepada anak tertuanya,yang belum saja keluar dari kamarnya

“NDE UMMA!!!,CHANKAMAN!!!”Balas Namja imut yang di panggil Junsu tadi,lalu bergegas keluar dari kamarnya membawa dua buah koper besar

“Lama sekali???”Tannya Ummanya sesaat Junsu sampai di hadapannya

“Mianhe umma!!”Sesal Junsu

“Gwenchana,ayo palli kita berangkat ke rumah baru!!!”Girang Umma Junsu,seperti anak-anak

“YA!!!,Boo…..jangan seperti anak kecil!!,sadar umur!!!”Ingat Appa Junsu,kepada istrinya,yang lebih bersemangat dari pada anaknya sendiri

“U’umm,benar kata Appa Umma!!!”Anak Bungsu menambahkan

“HYA JUNG YUNHO!!!,SHIM CHANGMIN!!!,KALIAN TAK DIAM,KALIAN TAK AKAN DAPAT MAKAN DAN UANG JAJAJN SEBULAN!!!”Teriak Umma Junsu Kesal

“Hya….BooJaejong!!!,Aku bercanda!!!,jangan marah ya!!,otte???”Bujuk Yunho pada sang istri

“Nde Umma,jangan marah ya…..,Nanti cantiknya Umma berkurang loh!!!”Rayu Changmin

“Hya….sudahlah!!,kapan kita berangkatnya Hah???”Penengah Junsu

“Ya sudah!!,palli kita berangkat!!”Suruh,lebih tepatnya perintah Jaejong pada sang suami

“Nde…”Jawab Yunho malas-malasan,lalu mereka semua memasuki mobil sedan merah keluarga mereka

“Selamat tinggal My sweet Home!!”Bisik Junsu pelan,sambil menatap rumah tempat lahirnya,sesaat sebelum menutup pintu mobil

“Appa,rumah yang akan kita diami itu,bagaimana sih???”Penasaran Changmin

“Hmm………..Appa juga tak tahu pastinya!!!,yang Appa tahu,rumah itu sangat indah,dan juga memiliki kisah tersendiri!!!”Jawab Jung Yunho,sambil terus mempokuskan diri menatap jalan raya

“Kisah apa??”Kali ini sang Umma yang penasaran

“Kalau tak salah,rumah itu dulu pernah di diami,seorang keluarga,yah sekitar 40 tahunan yang lalu!!!,Pemilik rumah itu memiliki seorang Anak laki-laki yang Tampan,dan Juga memiliki seorang Anak Tiri Laki-laki yang Imut,dan ceritanya bahwa Kedua anak itu saling mencintai!!”Jawab Yunho

“Apakah mereka jatuh cinta,saat mereka sudah menjadi saudara??”Junsu ikut penasaran

“Tidak!!,mereka sudah lama saling mencintai,namun karena pernikahan kedua orang tuanya,mereka memutuskan memendam rasa cinta mereka!!,Dari pada mengorbankan Orang Tua mereka!!!”

“Terus”Desak Jaejong

“Akhirnya mereka saling menutupi perasaan masing-masing!!!,3 Tahun mereka bisa bertahan menyimpan perasaan mereka!!,3 tahun juga mereka harus merasakan sakit!!,dan kalau tak salah sih katanya sang Namja Tampan sudah mempunyai kekasih lain,namun walau dia memiliki kekasih lain,Dia tetap mencintai Saudara Tirinya!!”

“Akhirnya??”Changmin tambah penasaran

“Akhirnya,mereka berdua mati dalam kebakaran!!!,Di rumah itu!,Mayat mereka berdua di temukan dalam ke’adaan Hangus,namun ada sesuatu yang membuat semua orang tersentuh!!”

“Apa??”Penasaran Jaejong

“Tangan mereka berdua masih terjalin,walau kebakaran itu membuat mereka berdua mati,namun………..mereka tetap saling mencintai sampai akhir hayat mereka!!”Jelas Yunho

(“Chunie……”Panggil Namja imut pelan,sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah sang Tambatan Hati

”Waeyo Chagia???”Jawab sang Namja Tampan sambil menggenggam tangan sang Kekasih yang terulur

“Aku…………….tak kuat lagi!!!,cepat pergilah…….”Lirihnya,matanya mulai tertutup perlahan,”Saranghae……….”Bisiknya,lalu gengaman tanganya mulai melemah

“Aku tak akan pernah meninggalkanmu,aku akan selalu mencintaimu,aku tahu aku salah,namun aku tetap mencintaimu!!!”Ucap Sang namja pelan)

“Ahh………”Eluh Junsu,saat sekelebat bayangan yang selalu muncul di mimpinya,tampak nyata dalam ingatannya,”Siapa Namja itu???”Bisiknya

“Kau tahu dari mana Yunnie???”Tannya Jaejong

“Aku mendengar dari penjaga rumah itu,katanya dia mendengar cerita itu dari orang tuanya!!!,dan orang tuanya merupakan salah satu sahabat Almarhum!!”

“Owh………….”

“Yosh…….kita sudah sampai!!!,keluarkan barang kalian!!”perintah sang Appa,sesampainya sedan merah itu di depan sebuah rumah bergaya Eropa clasic,namun tak meninggalkan kesan Korea di dalamnya,di dominasi dengan Cat Putih,dan tanaman hijau yang indah,membuat rumah itu sungguh cantik

“Aigooo……….Bagus sekali!!!!”Kagum Junsu sambil memperhatikan setiap sudut rumah itu

Yunho dan Jaejong tersenyum,”Baguskan!!,rumah ini di perbaiki lagi,setelah kebakaran,tanpa merubah satu incipun bentuk dari rumah yang lama!!!”Jelas Yunho

“Ayo masuk!!!,bawa tas masing-masing!!”Ingat Jaejong,lalu mereka sekeluarga masuk kedalam rumah itu

“Waw……….dari luar saja sudah bagus!!!,di dalamnya rupanya tambah bagus lagi ya!!!”Kagum Changmin,sambil melihat-lihat interior rumah itu

“Tentu saja!!,Nah kamar Kalian berdua di lantai atas!!!,kamar Changmin pintu pertama,dan Kau Junsu pintu ke’dua!!!,Otte???”

“Nde umma”Jawab mereka serempak lalu,sama-sama ke atas,memastikan keadaan kamar masing-masing

‘SRAK’

“Umm………udaranya lumayan sejuk”Ucap Junsu,sesaat setelah membuka Jendela gesernya,”Kamar siapa ya itu???”Guman Junsu,saat melihat sebuah jendela yang berada di seberang kamarnya,”Apakah tampan???”Gumannya lagi,sambil berpangku tangan di Jendela

‘SRAK’

Jendela kamar sebelah terbuka,nampak seorang Namja Tampan menatap kaget ke arah Junsu,Junsu juga tak kalah kaget,mereka berdua seakan mengalami De Javu

(”Gumawo~……^^,kenalkan aku Kim Junsu,kelas 2SD!!!!!!!”Kenalnya sambil membungkuk hormat

“Hihihi,aku Park Yoochun,kelas 3SD,sepertinya aku lebih tua dari mu^^!!!!!!!”Balas anak lak-laki ber’Hoddy merah bernama Yoochun,sambil mengacak rambut anak laki-laki ber’Hoddy biru di depannya yang bernama Junsu

“Nde,jadi aku akan memanggilmu Hyung~^^!!!!!!!,senang berkenalan denganmu Hyung!!!!!!!”

“Sama-sama!!”

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
“Kalau beitu pacaran saja dengan Junsu,Junsu masih nganggur kok!!!”Enteng seorang Namja cantik,yang membuatku terhenyak

‘Hei jangan se’enaknya menjodohkan Junsu ku,eh apa tadi Junsu ku??,sadarlah Park Yoochun,dia adik mu!!’Maki ku dalam hati

“Itu tak akan terjadi,bila Junsu tak bisa melupakan cinta pertamanya!!!”Jawab Changmin sambil melihat ke arah Junsu,yang wajahnya sudah mulai memerah menahan malu,yang membuat kerutan samar di keningku

“Diam lah,Shim Changmin,ini bukan urusanmu!!!”Kesal Junsu sambil menatap tajam Changmin,tanpa bisa menyembunyikan semburat merah di wajahnya,dan yang di omeli hanya mengangkat bahu tak peduli,”Hyung kenapa ke sini??”Tannya Junsu sambil menatap ke arahku

“Ingin mengajakmu pulang bersama,bisakah???”

“Umm,nde!!,ayo kita pulang,tak usah mendenarkan ocehan gla orang-orang ini!!!”Katanya sambil menarik tanganku keluar dari kelasnya

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

”Umm….memangnya siapa cinta pertama mu???”Tannyaku akhirnya sambil menatap wajahnya,sambil menghentikan langkahku,ku lihat dia sedikit terkejut lalu menundukan kepalanya dalam

“Memangnya kenapa Hyung???”Tannyanya pelan,sambil menunduk

“Hanya penasaran!!”

“Nanti saja Hyung,tunggu sampai aku sudah siap,untuk menjawabnya!!!”Jawabnya sambil tersenyum lembut,lalu berjalan duluan meninggalkan diriku

“Su-ie…………….entah kenapa ku harap Namja itu aku,walau ku tahu ini salah,tapi bolehkan aku berharap”Bisikku pelan,sambil menatap punggung Junsu yang kian menjauh

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“Jadi karena Euhyuk-hyung sibuk Hyung mengajakku??”Tannyaku sedikit cemburu,’Hei Junsu tak ada Hak untukmu cemburu’Teriakku dalam hati

“Umm aniyo,memang rencananya aku mau mengajakmu ke sini hari ini,sekalian bersama Hyukie juga,tapi karena Hyukie sibuk,yah kita berdua saja,Hmm……”Dia menatapku sambil tersenyum,”Mau kan???,Anggap saja kita sedang berkencan!!!”

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“SARANGHAE!!!”Teriak Yoochun,menarik perhatian orang lain

“Aigo……pelankan suaramu Chunie!!!,itu memalukan!!!”Malu Junsu sambil mendelik marah Ke arah Yoochun,walau tak bisa di pungkiri kini wajahnya memerah

“Aku akan terus berteriak!!,sampai kau menjawabnya!!!”Ngeyel Yoochun,yang sudah siap-siap ingin berteriak lagi

“Stttt………”Junsu langsung membungkan mulut Yoochun dengan kedua tangannya,”nde….nde……,Nado saranghae!!”Ucap Junsu pelan,sambil menundukan kepalanya malu,wajahnya sudah semerah tomat

“Eh???”Kaget Yoochun,seakan tak mempercayai pendengarannya

“Ikhh……..Nado Saranghae!!!,Kalau tak mendengar lagi,ya sudah tak jadi!!!”Ngambek Junsu sambil membalikan badanya dan cemberut

Yoochun terkekeh pelan,lalu membalikan badan Junsu menghadapnya,”Nde,mulai sekarang kau Nae chagia!!!,Nde??”

“Umm”Angguk Junsu malu-malu

Yoochun kembali terkekeh pelan,lalu memluk Junsu Hangat,”Aku tak akan meninggalkanmu,aku akan selalu ada untukmu!!!”Bisik Yoochun pelan di telinga Junsu

“Aku percaya padamu!!”Balas Junsu sambil menengelamkan kepalanya di pelukan hangat Yoochun

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“Ku rasa kau tahu jawabnya!!!”Jawabku sekenannya

Yoochun memejamkan matanya,lalu di tariknya tubuhku mendekat,dan di peluknya aku,’Hangat’

“Biarkan seperti ini Chagi!!!”Ucapnya pelan,sambil menyembunyikan wajahnya di perutku

Ku bungkukan tubuhku,sehingga aku bisa memeluknya,”Mianhe………ku rasa kita harus mengakhiri hubungan ini!!!”Ucapku,dan dengan segera air mata itu tumpah dari mataku)

Sekelebat bayangan di mimpi mereka,kembali menyeruak,saat pandangan mata mereka bertemu,semua mimpi yanhg terus menghiasi mimpi mereka berdua,gambaran yang mungkin dari masa lalu mereka,kembali menyeruak saat kedua orang tiu bertemu,setelah terdiam beberapa lama,mereka berdua mulai bertukar senyum

“Tetangga barukah??”Sapa Namja Tampan di sebrang

“Umm,Junsu ibnida!!!”Kenal Junsu sambil tersenyum Manis

“Yoochun Ibnida!!”Yoochun tersenyum tak kalah manisnya

Di sinilah awal Hubungan mereka di Mulai dan Di akhiri pada masa Lampau
Dan sekarang Takdir kembali mempertemukan mereka di tempat Yang sama,walau di waktu yang berbeda,dan mungkin juga kan akhir yang berbeda?

END
JUNSU VIEW IS END
MOHON COMENT NYA^^
YANG SUJU COUPEL,SAYA MENTOK DI BAGIAN KANGTEUKNYA
HAHAHAHHA


Sorry,I know i’m wrong,but i’m still loving U/PG-15/ANGST/3SHOOT


SAYA KEMBALI DENGAN ANGST LAGI,HAHAHAHA SAYA DEMEN LIAT YANG MAIN CAST NYA MENDERITA DI GEBUKIN MASA HAHAHAHA BERCANDA,INI JUST 3SHOOT OK

 

Titel:Sorry,I know i’m wrong,but i’m still loving U!

 

Genre:Angst,PG-15

 

Cast:Yoochun X Junsu,Yoochun X Eunhyuk,Junsu X Changmin,Yunho X Jaejong

 

Disclaimer:Mereka punnya sang pencipta,tapi FF ini punnya saya,No COPAS 😀

~Author POV~

 

“Hikss….hiks….hiks….”Tangis seorang anak laki-laki yang memakai Hoddy biru,tertunduk di samping pohon besar

“Kau kenapa???”Tannya seorang anak laki-laki lain,yang memakai Hoddy Merah,sambil membelai lembut kepala anak yang menangis

“Hiks….hiks…hiks….,Bola ku sangkut di atas pohon,hiks hiks!!!”Jawab anak laki-laki yang menangis sambil menatap wajah anak laki-laki satunya dengan wajah imut namun dengan mata yang memerah karna kebanyakan menangis

“Memangnya kenapa bisa sampai sangkut di atas sana???”Heran anak laki-laki ber’Hoddy merah

“Tadi,Hiks…ada anak-anak nakal yang,Hiks melemparkannya ke sana,makanya Hiks..,bolaku sangkut di atas pohon!!”Jelasnya sambil sedikit sesegukan

“Owh…..”Guman anak laki-laki ber’Hoddy merah itu,lalu tersenyum kecil,”Tenanglah,jangan menangis lagi,aku akan mengambilkan bolamu!!”

“Jinjja??”Tannya anak laki-laki ber’Hoddy Biru itu gembira

“Nde,makanya jangan menangis lagi,ya sudah aku ambilkan dulu ya!!”Jawabnya lalu mulai memanjat pohon yang lumayan tinggi itu,dia terus memanjat,sampai dia melihat bola berwarna biru yang tersangkut di ranting,dengan Hati-hati di ambilnya Bola itu,takut dahan yang jadi pijakan dan pegangannya patah,setelah mendapatkan bola itu,dia langsung kembali ke bawah

“HUP”,Dia langsung melompat turun dari dahan terbawah,lalu dia tersenyum amnis ke arah anak laki-laki ber’Hoddy biru,”Ini bolamu??”

“AH,Nde!!!!!!!!”Pekiknya gembira sambil mengambil bola dari tangan anak lai-laki ber’Hoddy merah,”Gumawo~……^^,kenalkan aku Kim Junsu,kelas 2SD!!!!!!!”Kenalnya sambil membungkuk hormat

“Hihihi,aku Park Yoochun,kelas 3SD,sepertinya aku lebih tua dari mu^^!!!!!!!”Balas anak lak-laki ber’Hoddy merah bernama Yoochun,sambil mengacak rambut anak laki-laki ber’Hoddy biru di depannya yang bernama Junsu

“Nde,jadi aku akan memanggilmu Hyung~^^!!!!!!!,senang berkenalan denganmu Hyung!!!!!!!”

“Sama-sama!!”

Dan tanpa mereka sadari saat pertemuan itulah takdir mereka di mulai

~EIGHT YEARS LATER~

“JUNSU-AHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!,BANGUN!!!!!!!!!”Teriak Umma Junsu tepat di telinga anak lelakinya

 

“AIGOO…………Umma,bisakah kau membangunkanku lembut sesekali!!!”Cemberut Junsu,yang langsung terbangun dari Mimpinya

 

“Siapa suruh tidur terus,ayo cepat bangun,nantin kau telat ke sekolah!!!”Omel Ummanya,lalu pergi ke luar kamar Junsu

 

“Aishh……kenapa liburan terasa sangat cepat sih,ck!!”Kesal Junsu sambil berjalan ke arah Kamar Mandinya

 

“HYA ANAK INI JUGA,CEPAT BANGUN!!!!!!!!!!”Teriak Umma Junsu dari kamar sebelah’GUBRAK’ lalu terdengar suara sesuatu yang jatuh

 

“Ahh..pasti Hyung kena tendang umma lagi,ckckck aku masih untung!!!”Guman Junsu lalu mengambil Handuk mandinya,dan masuk ke dalam Kamar mandi

“Kalian berdua ini,lama sekali mandinya!!!!!”Omel Appa Junsu,saat melihat kedua Putranya baru saja turun dari lantai dua,padahal Jam sudah menunjukan jam 06:45,dan itu tandanya gerbang sekolah akan di tutup lima belas menit lagi

 

“Mianhe appa!!!”Ucap Junsu dan Hyngnya berbarengan

 

“Kalian ini,makanya kalo malam jangan begadang,setelah mengerjakan PR,langsung tidur,jangan malah main PS dan telpon-telponan dengan pacar!!”Omel Appa mereka,sambil asik meminum Kopinya,tanpa mengalihkan pandangannya dari Koran yang di bacanya

 

“Aishhh……….sudahlah Appa,kami tak ada waktu mendengarkan ceram Appa,kami sudah telat,dah Appa!!!!!”Pamit Hyung Junsu,sambil menarik Tangan Junsu yang baru menghabiskan setengah gelas susu coklatnya

 

“TAK SARAPAN DULU?????????”Teriak ibunya dari dalam rumah

 

“TAK KAN SEMPAT!!!!!!”Teriak Hyung Junsu lagi dari arah pintu,yang masih sibuk memasang tali sepatunya,”Ayo cepat,nanti kita telat!!!”Tarik Hyungnya,sambil sedikit berlari ke arah Lexsus merahnya,lalu dengan sekali injak gas,mobil itu membelah keheningan perumahan elit itu

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~SORRY~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

“Kalian berdua ini,kenapa bisa cocok sekali hah???,Bapa tau kalian kakak adik,bukan berarti kalian bisa bareng seperti ini telatnya,Kalian yang lain Juga,aishh kenapa muka-mua kalian saja yang ku lihat HAH!!”Hardik guru mereka,sambil mondar mandir di depan Junsu dan Hyugnya,dan Juga beberapa Murid yang telat sambil duduk bersimpuh sambil menjewer telinga mereka

 

“Aishh…sial sekali,sudah kena tendang umma,kena omel appa,tidak sarapan,sekarang harus mendengarkan ocehan pak Lee!!!”Dumel Hyung Junsu

 

“Stt…..Chunie-hyung,jangan berisik!!!!”Bisik Junsu,sambil melirik Pak Lee yang tetap mengomel tanpa Henti

 

“Tapi aku lapar Su-ie!!!!!”Manja Yoochun seperti anak kecil

 

“Bukan Cuma Hyung saja yang lapar,aku juga lapar!!!”Kesal Junsu sambil memalingkan wajahnya dari arah Yoochun

 

“Kau marah???”Tannya Yoochun sambil menusuk Pipi mulus Junsu

 

“Aishh….stop Hyung,nanti kita bisa kena omel pak Lee!!!”Marah Junsu sambil menepis tangan Yoochun untuk berhenti menusuk wajahnya

 

“Bilang dulu,kau marah atau tidak,baru aku akan berhenti!!!!”Ngeyel Yoochun

 

“Nde,nde,aku tidak marah,jadi sekarang berhentilah!!”Bisik Junsu,karna Pak Lee sedang memandang ke arahnya

 

“Tapi kau masih terlihat marah,ayo jujur,kau marah apa tidak!!!”Ngeyel Yoochun terus menusuk-nusuk pipi Junsu

 

“PARK YOOCHUN,PARK JUNSU!!!!!”Teriak Pak Lee merasa terganggu dengan kelakuan kakak adik itu

 

“Tuh kan,ini gara-gara Hyung!!!”Kesal Junsu memandang Hyungnya dengan bibir di kerucutkan dan pipi di kembungkat,membuat Yoochun yang melihatnya tak bisa menahan senyum

 

“Su-ie imut sekali……!!!!!!!!!”Seru Yoochun sambil mencubit gemas pipi Junsu,tanpa memperdulikan tatapan membunuh dari Pak Lee

 

“PARK YOOCHUN,PARK JUNSU,BERSIHKAN HALL SEKOLAH!!!!”Teriaknya

 

“MWO”Kaget Junsu dan Yoochun bersaudara

 

“Tapi Hall kan besar pak,masa Cuma kami berdua!!”Memelas Yoochun

 

“TAK ADA TAPI-TAPIAN CEPAT BERSIHKAN!!!!”

 

“Tap-“

 

“SEKARANG!”

 

Dengan tergesa-gesa Yoochun dan Junsu pergi dari ruang Guru menuju Hall sekolah,mereka terus berlari ke sana,sesampainya di Hall mereka berdua terduduk letih

 

“Ini salah mu Hyung!!!”Marah Junsu kepada Yoochun

 

“CK,nde~………..semua salah ku!!!”Mengalah Yoochun,sambil beranjak pergi

 

“Mau ke mana???”Heran Junsu masih tetap terduduk letih

 

“Mengambil alat untuk membersihkan ruangan ini,BABO!!!”Jawab Yoochun tanpa melihat ke arah Junsu

 

“Ck…aku kan hanya bertanya!!”Guman Junsu sambil ikut berdiri

 

Dengan sisa tenaga yang ada mereka membersihkan ruangan itu,sudah sekitar satu jam lebih mereka membersihkan ruangan itu dalam diam,sepertinya tak ada yang mau memecahkan keheningan itu,sampai sebuah teriakan nyaring dari arah pintu memecahkan keheningan mereka

 

“BABY~……………!!!!!!!”Teriak seorang Namja imut berambut pirang kriting panjang sambil berlari lalu memeluk Yoochun dengan erat

 

“Waeyo Baby???”Tannya Yoochun sambil membalas pelukan Namja imut itu

 

“Bogoshipo~!!!!”Manjanya,sambil merenggakan pelukannya dan menatap lucu ke wajah Yoochun dengan bibir di krucutkan

 

“Nae Baby ada-ada saja!!!!”Gemas Yoochun sambil mencubit hidung manjung Namja Imut itu

 

“Biarin…………………..,Huh Baby gak sayang ma aku,Huweee…..Junsu-ie tolongin!!!!,Hyungmu gak sayang lagi ama aku!!!!”Adunya Pada Junsu yang sedari tadi menonton adegan mesra mereka

 

“Hahahaha…..Hyung ini,Yoochun-hyung hanya bercanda Eunhyuk-hyung!!!!”Jelas Junsu sambil tertawa hambar

 

“Jinjja????”Pastinya

 

“Nde~ Baby!!!”Jawab Yoochun dengan senyum cerah

 

“Ottoke,kalo begitu,Baby~…………..ayo temani aku ke Kantin yah!!!!,aku belum sarapan!!!!”Ajaknya sambil mengandeng tangan Yoochun mesra,tanpa mempedulikan tatapan pedih dari seseorang

 

“Tapi aku sedang di hukum Baby~,Ka-”

 

“Sudahlah Hyung,temani saja Eunhyuk-hyung…..,ini tinggal sedikit lagi,aku bisa mengerjakan nya sendiri!!!”Sela Junsu sambil tersenyum getir

 

“Jinjja???”Pasti Yoochun

 

“Umm”Angguk Junsu pasti

 

“Baiklah,tapi bila kau lelah sms Hyung saja,atau bila kau lapar susul saja hyung ke kantin!!!,Araso??”

 

“Nde,Araso!!!,nah kajja,cepat kalian pergi!!!”Canda Junsu sambil tertawa pelan

 

“Huh dasar Dongsaeng kurang ajar,ya sudah dah Su-ie!!!!”Pamit Yoochun

 

“Dah Junsi-ie!!!!”Pamit Eunhyuk sambil mendadah heboh,lalu mereka berdua pergi meninggalkan Junsu sendiri

 

“Nde,dah Chunie!!!”Lirih Junsu

 

TBC

 

Ini 3soot,ini sesuai janji aku!!!!

Jadi besok parrt 2 nya,bsok part 3 nya ottoke????

Coment please,saran N kritik sangat di butuhkan


YunJae/Eyes/part 1/PG-15


Titel=Eyes

 

Pairing=Yunho X jaejong X Yoochun X Junsu X Changmin X Kim Kibum X Kim Sung Hee*Author numpang narsis^^ N cast akan bertambah sepanjang  jalan*

 

Genre=Yaoi/straight/angst/part/Mpreq

 

Author=Kimi luph bummie a.k.a BuNyFamily2321*Foll twitt aq Y^^* a.k.a BuNyELF

 

~Author POV~

 

“JAE!!!”Teriak junsu sambil melambai-lambaikan tangan nya saat melihat sahabatnya keluar dari perom kedatangan

 

“Wah……junsu-ahh kau semakin imut saja!!!”Goda Jaejong sambil mencubit kedua pipi chuby junsu

 

“Aish kau ini tak pernah berubah,selalu menggodaku!!”Kesal Junsu

 

“Hahahahaha,oh ya Kimi nunna kemana,dia kan janji akan menjemputku????”Heran jaejong saat tak mendapati Nunnanya yang tinggal di Seoul

 

“Dia menunggu kita di clubnya,kau tahu lah dia sekarang sangat sibuk!!!”Jelas Junsu sambil membawakan salah satu koper Jaejong

 

“Owh…….,tapi kita antar barang dulu ya!!,lagi pula aku ingin mandi juga,badanku sudah sangat lengket!!!”

 

“Up to U!!”Pasrah Junsu,lalu mereka berdua melangkah ringan menuju ke mobil Junsu di parkiran

 

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

 

“Jae……kau tadi mandi atau bertapa hah????,lama sekali!!!”Kesal Junsu karna saking lamanya menunggu Jaejong mandi

 

“Jangan berisik,yang penting kita sudah sampai kan????”Balas Jaejong

 

“Huh…..,sampai sih sampai,tapi lihat jam donk,ini sudah jam 12 lewat!!!”Omel Junsu

 

“CK,kau ini Club jam segini yang serunya!!!”Santai Jaejong

 

“Huh…….percuma bicara dengan mu!!!”

 

Dengan santainya mereka berdua masuk ke dalam club,mengabaikan tatapan genit dari para wanita yang mereka lalui,hentakan musik menyambut kedatangan mereka,dengan sesekali bertukar sapa dengan orang yang mereka kenal

 

“Kalian lama sekali sih!!!!!”Rengut seorang wanita sambil menarik telinga Jaejong dan Junsu

 

“Duh…….mianhe Kimi Nunnae,Jae mandinya lama sekali,makanya kami terlambat ini bukan salahku!!!”Elak  Junsu sambil mengusap-usap telingana kirinya yang memerah

 

“Heh???,kok jadi aku,itu bohong Nunna,eh gak sepenuhnya bohong sih!!!”Jawab Jaejong

 

“Ck kalian ini,owh ya welcom to Seoul again Jae!!!,Nunna senang kau kembali lagi ke sini!!”Ucap Kimi sambil memeluk Jaejong

 

“Nde One-chan!!!”Jawab Jaejong sambil membalas pelukan Nunnanya

 

“Permisi Bu”Panggil salah seorang pegawai

 

“Ya??”

 

“Ada sedikit masalah di dapur,bisakah anda melihatnya???”

 

“Owh O.K,Jae,Su kalian Nunna tinggal dulu ya,bersenang-senanglah,bye!!”Pamit Kimi lalu pergi dari hadapan Jaejong dan Junsu

 

“Gimana nih????”Tannya Jaejong

 

“Hmm……Let’s go to the dance floor Jae!!!”Ajak Junsu

 

Mereka berdua menari dengan liarnya mengikuti alunan lagu dari sang DJ,dari satu wanita ke wanita lainya mereka terus menari sambil merasakan panasnya lantai dansa

 

“Jae??,kau kenapa???”Heran Junsu mendapati Jaejong terdiam terpaku melihat ke arah sang DJ,Pandangan Junsu juga ikut terarah ke arah DJ itu,lalu dia tersenyum licik,”Jung Yunho,satu-satunya penerus Jung Company,tak memiliki kekasih,orang nya cuek,yah hanya itu info yang ku tahu!!”

 

“Kau tahu dari mana????”Heran Jaejong sambil menatap selidik Junsu

 

“Hmm….dia juga kuliah di Vakultas Shinki Jae,besok kau juga akan melihat wajahnya,sangat mudah mencari keberadaannya,cari saja sekelompok wanita lalu ikuti arah pandangannya,nah di situlah Jung Yunho berada!!!”Jelas Junsu,lalu kembali berdansa bersama wanita-wanita sexsy

 

Jaejong terus menatap Yunho dengan sejuta tanda tannya,”Aneh???,Kenapa wajahnya seperti familiar???,ahhh….entahlah,Jung Yunho,hmmm….tak buruk juga kembali ke sini!!”Guman Jaejong lalu kembali berdansa mengikuti Hentakan lagu

 

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

 

~Jaejong POV~

 

“Kemana kau Kim Junsu……,tak tahukah kau aku cape mencari mu???,ck itu dia,aishh dasar pria gila!!!!”Gumanku tak jelas saking capenya sehabis mencari keberadaan Junsu,dan setelah aku menemukannya dia sedang tertawa riang bersama Harem nya itu

 

“Jae,kau kah itu???”Tannya seseorang dai belakangku,saat ku membalikan badanku sudah berdiri seorang laki-laki cantik berkulit seputih salju

 

“KIBUMIE!!!!!!”Pekikku gembira sambil memeluknya

 

“Hahahaha ku kira aku salah orang,rupanya ini memang kau,kapan kau kembali ke Korea???”Tannyanya setelah aku melepaskan pelukanku

 

“Kemarin”Senyum cerah mengembang di wajahku,uwhhh…..senang sekali bertemu lagi dengan sahabat Nunnaku satu ini

 

“Kenapa tak mengabariku???”Cemberutya

 

“Hehehe Mianhe Bummie,kau tahulah kejutan!!!”Elakku padahal aku memang lupa memberitahunya

 

“Ya sudah lah,kau tak makan???”

 

“Ini baru mau makan!!”

 

“Owh…..bareng aja,aku juga baru mau makan!!”

 

“Nde^^”,lalu Kibum mengajakku ke meja yang masih kosong yang berseblahan dengan meja segerombol wanita yang sedang asik menggosip

 

“Kau sudah bertemu Kimi???”Tannyanya sambil menerima pesanannya yang sudah datang

 

“Sudah,aku bertermu di clubnya malam tadi!!”Jawabku sambil meminum pesananku

 

“Owh…..pantas Kimi menyuruhku datang ke Clubnya malam tadi,tapi karna aku harus menyelesaikan laporanku mau tak mau aku tak bisa datang,tak apa-apakan???”Takutnya

 

“^^,Tak apa-apa,santai saja!!”

 

“KYA…………..YUNHO OPPA,YOOCHUN OPPA,CHANGMIN OPPA!!!!”Teriak Wanita-wanita di sampingku tiba-tiba membuatku hampir budek

 

“Aish…berisik sekali!!”Keluhku sambil mengucek-ucek telingaku

 

“Hahahaha…….bila seleb kampus ini sudah datang mereka akan seperti itu,jadi mau tak mau kau harus terbiasa!!”Ucap Kibum sambil tertawa

 

“Seleb??”Ulangku,dengan dagunya Kibum menunjuk suatu arah,ku ikuti arah tunjukannya,dan di sana ku melihat 3 orang Pria tampan yah walau masih tampan aku,sedang berbincang-bincang menghiraukan teriakan dari para wanita,eh tunggu kalo tak salah pria itu Yunho kan???,hmm….menarik

 

~Jaejong POV end~

 

TBC…………..

 

RCL KAGA RCL GW DOA’IN LUE PADA KERE,N REJEKI LUE PADA BERALIH KE GW!!!*AMIN*

 

 


XIAH “also kill the bastard like you” 1B


Warning : Alternative Universe, Out Of Character.
Disclaimer : I do not own them.
Genre : Action, Romance, Suspense.
Note : Boyslove, slight Straight. JUNCHUN, JUNKRYS, HOMIN, YUNJAE, etc.
Author : intan9095

 


 

Sosok pria yang baru saja berlutut di belakang pemuda tersebut sebagai kehormatan pada pemimpin tiba-tiba terhempas keras pada tumpukan balok-balok kayu. Cukup menggunakan sikut lengan kiri untuk menabrak pelipis si pria hingga terpelanting, tidak peduli mau umurnya jauh lebih tua atau muda, baginya semuanya adalah bawahanya, melakukan semaunya dengan tidak memikirkan konsekuensi. Ia mengambil mantel warna gading kelam panjang dari meja dengan kasar, mengenakanya sembari berlajan ke arah pintu, sebelum langkahnya meninggalkan tempat favoritenya, sepasang lolite mendelik tajam pada bawahan yang masih meringis akibat rasa nyeri hebat di pundaknya.

“Kau sangat mengganggu.” desisnya sarkas lalu meninggalkan ruangan, tidak lupa membanting pintu ketika menutupnya. Tidak perlu repot-repot untuk para anggota yang menutup pintu untuknya  karena mereka sudah merasa bau-bau membunuh tuanya semakin menyengat dan mereka tidak mau hari terakhir mereka hidup di tempat ini, tempat yang di penuhi peristiwa dengan berakhir penghabisan darah.

Bunyi sepatu berpantovel dari pemuda tinggi yang selalu pada ekspresi angkuh dan bertutur kata wibawa—lebih tepatnya selalu menjadi ironis tergema di lorong. Pandanganya masih mengarah pada lantai sementara kedua tanganya bersembunyi di balik saku celana. Langkahnya teratur mengikuti garis marmer keabuan, bebera anggota organisasi lainya telah berada samping pintu marmer hitam berkaca yang salah seorang sudah membungkuk.

Beda dengan yang sebelumnya, terang oleh banyaknya lampu putih dan terlihat lebih layak ketimbang ruangan sebelumnya. Di dominasi warna gading pada dinding dan warna lantai  yang senada. Sepintas ia melirik sebagian anggota yang jumlahnya hanya 4 itu, mengenakan pakaian formal serta mantel yang sama denganya, dengan logo organisasinya sendiri.

“Tidak perlu, aku bukan jendral.”

Mereka menatap sang pemimpin dengan sedikit kegalauan, salah seorang yang tengah membungkuk tersebut langsung menegakkan kembali punggunya lalu tersenyum hangat pada sang pemimpin, “Sepertinya sudah sembuh ya? Hahaha!” katanya sambil menepuk-nepuk bahu pemuda tersebut. Ia hanya membalas dengan tawa kecil lalu melepas mantelnya dan di berikan kepada anggota lainya.

“Siapa di dalam?” tanyanya sembari menepuk bahu pria yang agak pendek darinya yang masih tersenyum kearahnya.

“Loh? bukanya sudah tahu ya?”

“Yunho-sama, mungkin anda akan terkejut jika tahu tamu itu sebelum masuk.” ujar pria lainya.

Beberapa detik pemuda beranama Yunho ini menatap para anggotanya secara bergantian, mencari tahu di setiap mata mereka tentang keberadaan tamunya di dalam apa memang hanya klien biasa atau… seseorang yang tidak di harapkanya selama ini. Kedua mata lolite yang sempat meredup itu memicing tajam pada anggotanya, ia langsung menepis tangan anggota lainya yang barusan menepuk bahu lalu membuka mendorong pintunya sampai menjeblak terbuka.

Sofa putih panjang, sebuah meja kayu jati yang tingginya tidak sampai 80 sentimeter, perapian besar yang terbuat dari batu bata merah dengan api yang sudah menyala serta seorang lelaki tinggi dengan mengenakan celana baggy hijau 3/4 dan kaos hitam berlogo jenis Polo di punggungya, memunggungi tempat Yunho berada sembari melipat kedua tanganya di dada—dan itu terlihat jelas karena bayang-bayangnya muncul pada kaca di hadapan lelaki tersebut.

Rambut kecoklatan sedikit acak-acakan di terpa sinar matahari, Yunho dapat melihat jelas dari kaca tersebut, lelaki itu menatap keluar sana dengan pandangan teduh serta senyum tipis yang masih samar-samar apa memang tersenyum atau tidak. Dilihat para anggotanya berdiri tidak jauh dari tempatnya dan lelaki tersebut sebagai pengawas. Mungkin menyadari kedatangan pemilik markas, ia berbalik sembari memasukan kedua tanganya ke dalam saku celana. Mereka bertemu pandang.

Coklat dan Biru.

Yunho melangkah mendekati tempat lelaki di hadapanya tanpa melepas kontak mata, sangat pelan. Yang sekarang ada di benaknya adalah mencari tahu siapa dia dan mengapa datang ke sini. Karena Yunho sendiri memang tidak mengenalnya, mungkin anak buah musuh bebuyutan yang sedang menyamar? Ia melihat senyum hangat yang di berikan lelaki berkaki panjang itu padanya.

“Konnichiwa, Yunho-kun.”

Langahnya terhenti. Pandangan mereka masih bertemu, senyum itu masih tampak jelas di wajah porselen lelaki tersebut. Rasa pusing tiba-tiba saja mengelilingi kepalanya, sangat membuatnya pening sampai harus menggunakan telapak tangan kananya untuk memijit keningnya sendiri, saat itu Yunho memutus kontak mata.

Ekspresi lelaki tersebut berubah menjadi sedikit khawatir—walau sebenarnya hanya sedang bersandiwara karena ia tidak mau terlihat tidak peduli pada orang penting di hadapanya. Ia lalu mendekati tempat Yunho.

“Anda, tidak apa-apa?” tangan lelaki itu terulur mengarah pada pundak Yunho, segera Yunho tepis dengan kasar lalu mengembalikan tangan kananya kembali masuk ke dalam saku, sementara kedua tangan lelaki tersebut ada di samping.

“Siapa kau?” tanya Yunho dingin.

“Aku klien yang meminta jasamu, aku harap kamu bersedia mau membantukui, Yunho-kun.”

Tidak ada jawaban dari Yunho. Matanya masih menyelidiki sesuatu dari dalam yang mengaku klienya. Lelaki tersebut berputar dan berjalan ke arah sofa putih mengambil tas ranselnya lalu mengambil sesuatu dari dalam sana. Yunho mengernyit, ‘Aku barusan tidak melihat ransel itu.’ pikirnya masih mengawasi gerak-gerik si klien yang kembali menhampirinya dengan membawa sebuah map hijau dan pena.

“Silahkan anda baca proposal ini, anda akan mengerti nantinya, dan aku harap hari ini juga anda membuat keputusan.” ujar lelaki itu sembari menodongkan map pada Yunho. Dengan mata yang masih mengawas, ia meraih map tersebut dari tangan porselen si klien. Ia berbalik lalu menghampiri sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana. Perlahan ia membuka map itu dan melihat secarik kertas di sana. Hanya dalam puluhan detik ia kembali menutup map dan menatap si klien.

“Aku tidak mengerti, dari apa yang tertera di sini anda bermaksud untuk gabung dengan agen kami? Ha, kami menolak.”

“Bukan, bukan seperti itu Yunho-kun. Aku yakin anda juga akan sangat terkesima dengan misiku. Misi yang sama denganmu.”

Lelaki itu berbalik lalu kembali mendekati kaca setelah menghela nafas panjang. Kedua mata topaz yang di milikinya mengarah ke bawah, melihat deretan mobil yang berhenti di depan lampu lalu lintas. Markas agen Yunho memang terletak pada gedung bertingkat sampai 5 lantai, ini adalah cara mereka untuk menutupi kecurigaan masyarakat tentang keberadaan mereka.

Karena tidak mungkin agen pembunuh seperti mereka akan menjadikan sebuah gedung sebagai markas—sebagian lainya selalu pada tempat terpencil. Yunho bangkit lalu mengjampiri klienya masih dengan membawa map di tanganya, klien melipat kedua tanganya di dada dan menoleh ke arah Yunho yang menatapnya meminta penjelasan.

Klien menyeringai kecil, “Lihat bis abu-abu itu,” kedua matanya mengarah pada bis yang di maksud, Yunho mengikuti arah pada tersebut dan menemukan bis panjang di posisi ke 3 dari depan.

“Di dalam situ, ada seseorang yang pernah aku temui di tempat kerjaku di Seoul, bersama temanya yang berisik hanya dia yang bersikap tidak peduli. Aku tertarik padanya ketika dengan jelas aku melihat ia bersama temanya membuat kericuhan di cafe, well… dengan senjata-senjata yang semakin membuatku kagum dan dia… sekarang ada di sini, di dalam bis itu,” kedua topaznya mengarah pada Yunho,

“Musuhmu, ada di dalam situ.”

Kedua mata Yunho membelak, ia menoleh dan mempertemukan kembali pandangan mereka. Lelaki itu kembali melanjutkan, “Dan ia tinggal bersama istri tercinta, Krystal. Ah, aku lupa, kini namanya menjadi… Kim Krystal.”seringainya tampak jelas pada wajah porselenya ketika aura membunuh di rasakanya dari sosok pemimpin U-know, agenya. Aura dendam dan membunuh bercampur, emosinya memuncak sampai map di tanganya ikut rusak saat tanganya mengepal.

“Aku mengucapkan banyak terimakasih karena telah mau ikut bekerja sama, aku, Shim Changmin, salam kenal.”


Sesuatu, sesuatu seperti ada yang menusuk tanpa wujud membuat Junsu menarik tanganya dari tangan Micky dan berbalik. Kedua oniksnya melihat keluar jendela dengan tajam. Ia yakin, ia merasakan keberadaan seseorang… bukan, tapi lebih.

Ya, seseorang yang sangat membencinya dan bagai kutukan selalu menghantui mimpi-mimpi Junsu. Ia tidak mendapati hal-hal yang mengganjal di luar sana, tapi ia menyadari ada sesuatu yang aneh pada gedung tinggi 2 blok dari gedung pertama ke belakang. Bis kembali jalan dengan kecepatan tinggi, ya, selama sopir bis ini masih waras, Junsu bisa bersikap tenang jika nyawanya tidak terancam jika bis ini mengalami kecelakaan karena seenaknya mengebut.

“Ano, kamu tidak apa-apa, Kim-san?”

“Jangan panggil aku dengan nama itu.”

Micky membeku. Sepasang mata oniks tersebut sudah memandanganya lagi, kali ini bukan tatapan dingin seperti barusan, namun penuh dengan ancaman-ancaman. Micky menelan ludah lalu menunduk, “Go-gomennasai, Junsu-san.”

Junsu menghela nafas panjang sembari memejamkan mata, ia harus bersikap tenang, ia harus lupakan kejadian barusan.

“Tidak apa-apa, panggil saja Junsu, aku bukan orang penting kok. Hm, mau main ke rumahku?”

Kami-sama! Apa yang telah Junsu katakan hampir membuatnya sendiri terserang stroke ringan—Oke, berlebihan, tapi ia tidak habis pikir ini baru pertemuan pertamanya dengan Micky dan tidak terhitung sampai 1jam lalu dengan tenang menawarkan untuk datang ke rumahnya sementara ia menolak teman-temanya di tempat kerja yang mau datang ke rumahnya.

Ajaib, Junsu mulai bersikap sedikit gelisah. Jika Micky menerima tawaran itu, maka habislah semua rencananya, rumahnya yang di penuhi alat-alat senjata akan ketahuan tentang agennya saat itu juga. Semoga menolak, menolak.

“He? Ke rumahmu? Boleh juga, aku sedang nganggur di rumah, ternyata kamu orang baik ya!”

Oh, pemuda ini… innocent atau bagaimana?

Di ajak seperti itu pada orang yang baru di kenalnya langsung di terima, bagaimana kalau ternyata Junsu malah akan membunuhnya? Atau merampoknya? Menculik? Apa mungkin ia sudah tahu Junsu bukan orang seperti itu? Junsu hanya menghela nafas panjang lagi ketika pada kalimat terakhir yang di ucapkan Micky dengan senang. Baik, orang baik… orang baik mana yang telah membunuh orang banyak? Bahkan membunuh ayahnya sendiri, semasa kecil sering mencuri dan memiliki organisasi hitam pula. Walau bukan punyanya juga sih.

“Turun di sini. Rumahku ada di komplek blok M nomor 32E,”

Micky melihat ke samping dan menemukan gang kecil menuju komplek yang Junsu maksud, ia mengangguk lalu turun dari bis beberapa menit setelah bis ini berhenti pada halte bersama Junsu sebelum bis ini kembali berangkat. Beruntung bagi Junsu karena tempat tinggalnya jauh dari kawasan organisasi U-know.


“Yappari! Ternyata masih SMA ya? Kyaa~ kamu imut banget lho!”

“Hehehe, kakak juga cantik, aku kira kakak masih sekolah, ternyata kakak istrinya Junsu-san! Beruntungnya~”

“Aish, padahal umurku sudah kepala dua, ternyata masih awet muda ya! Panggil aku Krystal aja, oke?”

“Eh? Ba-baik Krystal-neechan!”

“Jangan! Cukup Krystal aja! Kita ‘kan teman!”

“Te-teman?”

Krystal mengangguk cepat, “Uhm!”

“Aaah! Arigatou nee—uhm, maksudku Krystal!”

Dengan malangnya, Junsu, berdiri di depan kompor dengan memakai celemek merah muda yang dengan ogah-ogahan memasak sup untuk makan malam. Wajahnya jauh lebih kusut dari pertama ia dan Micky memasuki rumah. Sedang, sederhana, hanya 2 lantai dan taman kecil di halaman depan dan halaman belakang serta garasi dan lahan parkir yang memuat 1 mobil. Pagar serta gerbang berwarna hitam tinggi dan dinding luar rumah berwarna merah. Seorang istri, seorang anak perempuan dan seorang pembantu yang membawa anaknya.

Ketika baru membuka pintu, Junsu sudah disambut oleh pelukan hangat dari Krystal sebagai ucapan ‘selamat datang’ dan sempat-sempatnya bermain mata dengan Micky. Di sengaja atau tidak, Krystal hanya memakai kimono tebal dalam keadaan sedikit basah dan itu bertanda habis mandi.

Tidak di duga-duga, sebuah celemek merah muda di keluarkanya dari balik punggung lalu mengikat talinya di leher Junsu dan pinggang dengan cepat, memintanya yang memasak untuk hari ini. Ck, padahal belum juga membuka sepatu. Akhirnya, dengan langkah lunglai Junsu memasuki ruang makan yang bergabung dengan dapur di ikuti Micky.

Lagi, tidak di duga-duga, saat Krystal dan Micky tengah mengobrol, ternyata pemuda tersebut masih duduk di bangku 3 SMA di salah satu gakuen yang baru-baru ini selesai di resmikan sebagai gakuen baru di Tokyo. Micky juga mempunyai peliharaan anjing. Ah, tempat tinggalnya ternyata lumayan dekat, bukan…sangat dekat karena sekomplek.

Tunggu.

Ada yang terlewatkan, ya. Pertemuan pertama di bis itu, segerombolan pria besar yang memandanginya tajam, Junsu berani bersumpah ketika Micky mengucapkan kata ‘maaf’ untuknya, rasa terkejut muncul dari mimik pria-pria tersebut. Di tambah lagi dengan mereka turun dari bis, Junsu diam-diam sempat melirik ke tempat para pria barusan tempati dan telah kosong. Mungkin, mungkin saja…

Kedua oniks Junsu berputar melirik Micky dari sudut matanya, bagaimanapun juga, ini terlalu aneh untuk anak berumur 17 tahun mempercayainya yang bahkan 7 tahun lebih  tua darinya. Sampai datang kesini tanpa ada rasa takut atau kegugupan sama sekali. Sebuah kecurigaan muncul, sebuah alasan mengenai Micky adalah dia bagian dari organasisasi hitam lainya yang menyamar dan diam-diam akan menghancurkan rencana Junsu.

Satu kemungkinan, saat pernikahanya dulu dengan Krystal, ia masih belum mengetahui jelas organisasi mana yang datang atas perintah pemimpinya untuk mengacaukan acaranya. Krystal hanya mengatakan kemungkinan itu adalah suruhan ibunya yang selalu menentang perilaku Krystal. Kalau di ingat-ingat, pernikahanya itu…

“Honey~ kamu masak atau lagi meracik racun untuk membunuh kami, sih?”

“Tidak, tidak. Lupakan.”

Krystal mengernyit keheranan. Ia bangkit mendekati Junsu—setelah puas mengobrol dengan Micky di ruang makan lalu mengaluhi leher Junsu dengan kedua tanganya. Junsu masih berkutat pada pikiranya, ada hal lain yang membuatnya pening. Ya, rumahnya sekarang bagai disihir oleh tokoh legendaris yang tak lain adalah Harry Potter, tidak ada senjata yang malah  bergant oleh lukisan-lukisan suasana masehi dan barang-barang lainya yang ‘normal’. Apa Krystal telah menyadari kedatangan tamu dari beberapa jam lalu?

“Ada apa?” tanya Junsu datar mulai kembali tersadar dari dunia lain. Kedua tanganya kembali memegangi pinggiran wajan dengan lampin di sebelah tangan kiri dan tangan lainya memegang irus yang tengah mengaduk sup.

Krystal cemberut, “Senyum dong sekali-kali, nanti wajahnya cepat keriputan lho!”

“Hn.”

Oke, harus mencharger kesabaran terlebih dahulu jika ingin memulai pembicaraan dengan putra Kim ini. Tidak ada kata lain yang ingin di ucapkanya selain dua huruf tidak jelas artinya, mengingat sudah tinggal seatap hampir 6 tahun lamanya, Krystal belum bisa merubah wajah stoic kesayangan Junsu dengan yang lebih ‘segar’. Bahkan, anaknya sendiri sempat menangis ketakutan melihat wajah menyeramkan Junsu. Kalau dilihat-lihat, Junsu itu sebenarnya memang manis dan sangat sangat tampan, tidak ada jeleknya walau mau dandani seperti monyet pun. Sayangnya, sekali sudah menampakan stoic andalanya, lupakan pernyataan mengenai hal mengagumkan barusan, tidak akan berlaku dilihat dari sisi mana pun, ‘Kan?

Sembari menggerutu kecil, Krystal menarik kedua tanganya dan mendorong bahu Junsu kesal, Ia berbalik dan kembali pada tempat sebelumnya.

“Suami macam apa dia? Aku seperti memiliki suami berwujud patung.” desis Krystal masih memandang punggung Junsu sangat kesal.

Micky berdehem, “Ehm, kalau aku menganggu, lebih baik a-”

“AH! Enggak kok sayang~”

“E-eh?!”

Junsu mendengus, “Che, kebiasaan.”mengingat dimana dan kapanpun jika merasa senang dengan siapapun Krystal–dengan wajah berseri-seri akan mengatakan ‘sayang’ sekalipun pada pedagang es cendol (?).


Derit suara gerbang digeser, sepasang kaki keluar dari dalam sana ketika gerbang dibuka, tampak senyum ramah di wajahnya setelah membungkuk memberi salam pada kedua orang di depanya. Rube kelam yang di milikinya mengarah pada sepasang suami istri yang tengah menghampirinya, namun di kedua mata tersebut tidak ada sama sekali yang turut sama dengan air wajahnya kini. Begitu mereka sampai di ambang gerbang, Micky segera meninggalkan tempat dengan sedikit tergesa-gesa sembari sesekali melirik jam tangan sportnya. Sebelum Micky mencapai 10 meter, Krystal berseru sambil melambaikan tanganya,

“Main lagi ya ke sini! Be carefull!!”

Dengan tersenyum lebar hingga sempat Micky melihatnya sebelum benar-benar hilang di tikungan, Junsu mengernyit ketika Micky mengarah pada jalan keluar dari komplek, setahu ia, barsuan Micky menjelaskan ia tinggal hanya beberapa blok dari rumahnya. Atau mungkin hanya beralasan agar bisa terus berlama-lama di kediamanya? Tapi kenyaatanya, Micky memilih pulang lebih dulu sebelum benar-benar petang berganti menjadi malam dan tentu dengan alasan ‘ibuku khawatir’.

Selagi Junsu kalut dengan pikiranya, Krystal kembali menurunkan lengan kirinya dan senyumnya memudar ketika sosok itu hilang. Wajah yang sama stoic-nya dengan Junsu, ia lalu berbalik lalu membuka tali kimononya,

“Cepat kemasi barang-barangmu, kita harus berangkat sekarang.” Ujarnya lalu berlalu meninggalkan Junsu yang—sedikit—terhenyak begitu mendapati Krystal yang sudah mengenakan celana legging hitam, t-shit abu-abu dengan mantel tipis berwarna gading. Di paha kiri sudah terpasang kantung kecil hitam berisi sebagian senjata dan belum lagi kantung kecil dipinggang kirinya. Ketika ia sampai di depan pintu, ia mengeluarkan sebuah tali ikat rambut warna putih lalu menggelung rambutnya.

Ia berbalik, sepertinya harus menjelaskanya dulu, ia berbalik lagi lalu berjalan masuk dengan cepat di ikuti Junsu yang mengejarnya setelah menutup pintu dengan kencang hingga meghasilkan suara debam-an kecil. Junsu segera menyesejajari langkahnya dengan Krystal.

“Aku tidak menyadari ternyata alasanmu dengan sehabis mandi serta menggunakan kimono barusan adalah sebagai tipuan untuk Micky. Ada apa sebenarnya?”

“Tidak perlu banyak bicara, lekas kerjakan apa yang telah aku perintahkan. Kita datangi acara oprah besok pagi, ada yang harus kamu lakukan.”

“Maksudmu? Kau tertarik dengan acara seperti itu?!” kali ini nada berbicara Junsu lebih tinggi dan agak membentak ketika Krytal membuka lemari abu-abu di kamar mereka yang letaknya paling belakang. Sebelum menjawab pertanyaan Junsu, ia sudah membuka sebuah kotak besar di dalam lemari pakaian yang di sembunyikan di antara tumpukan baju.Menarik keluar dua senapan, delapan buah peledak kecil berukuran 4 lebar x panjang, tiga buah pistol Ruger Elsie dan sebuah kotak hijau gelap berisikan bahan-bahan peledak dan cadangan peluru.

Semuanya di masukan dalam ransel olah raga warna merah terang di atas ranjang dengan cepat, sebelum semuanya benar-benar selesai, ia meninggalkan sebuah pistol lalu mengarahkanya pada kepala Junsu yang berada di samping kananya.

Kedua oniksnya memandang tajam, “I’ll kill you now if you-“

“Ok, ok. Calm down.” Kedua tangan Junsu mengangkat di depan pistol sebelum sebuah peluru membolongi kepalanya. Ia benci jika harus bersikap lemah seperti ini, tapi apa boleh buat. Yang harus ia lakukan adalah cukup menuruti peritah Krystal dan akan mendapat penjelasanya mungkin ketika di perjalanan. Ia berbalik lalu segera mengeluarkan tasnya dari kolong kasur, selagi ia melipat pakaian…

“Bagaimana rumah ini bisa begitu cepat berubah?”

Krystal terkekeh kecil, “Karena dua anggota kita mengawasimu dan melihatmu bersama Micky di dalam bis dan memberitahuku kamu mengajaknya kemari, maka aku segera mendekorasi rumah sebisaku dalam 15 menit.”

Ha, kini Junsu mengerti mengapa segerombolan pria di dalam bis saat itu terus memandangnya. Ternyata…Apa? Dua orang?

Kenyataanya, yang Junsu lihat bahkan lebih dari empat orang. Ya, kesimpulan yang dapat Junsu simpan sebagai poin pertama dalam daftar kecurigaanya—oke, lagi-lagi ini berlebihan, yang jelas ia menaruh poin bahwa pria-pria tersebut bodyguard atau semacam agen-agen kecil yang di punyai Micky, tidak salah lagi, semua bukti sudah jelas, namun… apa mungkin anak sepolos dan dari dengan diam-diam Junsu mengecek tasnya, hanya terdapat barang-barang yang biasanya anak muda bawa dan di dalam ponselnyapun tidak ada yang mencurigakan semua, Micky salah seorang agen atau organisasi yang menyamar?

“Apa anggota lainya ikut terlibat?”

Tidak ada balasan sampai menit selanjutnya, sampai mereka keluar dari rumah dengan sebuah mobil audi biru mengkilap, hanya terus di kelilingi keheningan. Junsu hanya di perintah lagi untuk menuju airport tanpa tahu tujuan yang sebenarnya. Dari balik kaca spion, Junsu dapat melihat Krystal yang hanya terus membenahi alat-alatnya. Lalu sebuah suara mulai memecah keheningan.

“Sebenarnya, organisasi kita tidak terlibat, hanya kita berdua dan kita akan ke Inggris malam ini juga.”

Hampir saja Junsu akan menabrak sebuah truk bila ia tidak dapat mengendalikan kesadaranya antara mencerna perkataan Krystal dan… ya ini aneh, sangat aneh karena sosok Micky terus terngiang-ngiang di benaknya. Entahlah, Junsu bahkan tidak ingat lagi apa yang sedang di pikirkanya tentang bocah sekolah itu.

“Akan aku beritahu tujuanku nanti di airlines.”

Kata-kata terakhir Krystal sebelum akhirnya mobil terhenti di depan lampu yang menunjukan cahaya merah dalam kurun waktu 125 detik lamanya dan kedua bibir masing-masing saling bertemu ketika Krystal mengalungi tanganya di leher Junsu dan membawanya mendekat. Pada detik 60 ciuman mereka memanas, detik selanjutnya terus berlanjut sampai ketika lampur hijau menyala, mobil dijalankan dengan Krystal yang kembali pada posisi duduknya sambil mengenakan kembali mantel yang sempat menjadi korban ‘permainan’ tangan Junsu, sebuah tanda merah tampak jelas pada rahangnya dan sosok pemuda di sampingnya hanya menyeringai kecil.

Walau,tidak di lakukan atas dasar yang bernama cinta.

Seperti halnya ketika kembali mengingat bocah pirang berlarian mengitari danau bersama bocah berambut hitam kelam yang memiliki safir saling tertawa dan mengejar satu sama lain. Bermain petk umpet lalu salah seorang terluka, dengan segala kekhawatiran, bocah pemilik mata safir itu memapahnya pada sang kedua orang tuanya dan ia dapat melihat jelas bagaimana si bocah pirang sedikit meringis ketika kapas beroleskan obat merah mulai menuntul-nuntulkan pada luka di lututnya, sang ibu mengecup puncak kepala si bocah pirang lalu mendekapnya erat-erat, menghilangkan rasa perih pada kakinya.

Kasih sayang penuh di di dasari oleh cinta,Walau hanya mengenangnya—kejadian yang berlangsung tidak lebih dari 12 tahun di rasakanya.

Tiba-tiba sebuah mobil menyerempet mobil mereka…

To Be Continued


AKU PULANG, JUNSU-AH


Disclaimer : I do not own them.
Warning : Alternative Universe, Hurt/Comfort/Tragedy/Romance, PG-15
Main pair : (silahkan di baca, baru ketahuan pairnya XD)
Author : Intan9095

cekidot! 😀


“Maaf, tidak bisa bulan ini. Mungkin bulan depan.”

Lagi-lagi jawaban itu. Memuakkan. Sudah genap empat tahun aku menunggumu sejak terakhir kita berpisah di pertengahan kelulusan, jawabanmu begitu santai dan tenang. Bahkan sekarang saja itu terjadi. Aku menghela nafas panjang. Mencoba menetralkan penat dari berbagai macam hal-hal buruk tentang keadaanya.

“Jawabanmu begitu lagi. Sudah, maaf kalau aku menganggumu.” Aku menekan tombol merah pada ponsel lalu membantingnya keras pada lantai. Tak peduli bagaimana mengerikan bentuknya sekarang. Aku benar-benar sudah kacau saat ini. Segera ku merebah diri pada ranjang, berguling-guling di sana sampai seluruh tubuhku sukses terbalut oleh selimut. Tiba-tiba pintu kamarku berbunyi, ada yang mengetuknya. Tanpa pikir panjang, aku menyeru kencang, “Buka saja!”

Pintu membuka, muncul seorang pemuda berambut gondrong, Changmin menyembulkan kepala di balik daun pintu. Dia teman lamaku sejak lulus SMA. Satu-satunya orang yang menemaniku tinggal di rumah sendirian setelah kepergian keluargaku. Menyedihkan. Sampai Changmin mau membujuk orang tuanya agar dapat tinggal bersamaku. Tidak tahu aku harus membalas apa padanya sampai sekarang.

“Sampai kapan kamu mau merajuk seperti itu, Junsu? Kamu sudah dua puluh empat tahun, masih saja bersikap seperti anak kecil. Ckckck.” Ia menutup pintu lalu mendekati ranjang. Duduk di pinggiran tepat di samping kepalaku berada. Ia mengacak-acak rambutku lalu memutar tubuhku dengan kedua tanganya. Kini aku berbaring—masih dalam bentuk kepongpong oleh selimut—mengarah ke atas dengan kedua bahu di tahan oleh kedua tangan Changmin. Ia tersenyum menyebalkan-menurutku-..

“Jangan cemberut! Yoochun akan pulang cepat kok. Aku juga merindukanya sangat. Haha! Ayo kebawah, aku sudah membuat makan malam!” ia tersenyum lebar. Begitu cerah-berlebihan?-.

Ia selalu merasa senang setiap hari, sepertinya. Jarang sekali aku lihat dia sepertiku yang tiada hari tanpa menekuk wajah di balik buku saat sedang mengajari murid SMA. Sebenarnya mereka bukan mau memintaku menjadi guru bimbingan di rumahnya, hanya perempuan-perempuan itu memang genit padaku, mungkin aku memang tampan dan ya… merekapun tahu aku ini memang terlalu ‘silau’. Eukyangkyang~~

Sebagaimana aku masih bisa memuji-muji diri di saat seperti ini, huufft.

Perjalanan menuju ruang makan rasanya seperti mengelilingi dunia bagiku. Suara denyut kayu sedikit membuatku bergidik ngeri. Rumah tua ini semakin lama semakin terlihat keroposnya-maksudnya mulai tidak begitu layak untuk di huni. Aku takut esok hari rumah ini sudah menjadi debu—ok, itu hanya fantasi saja, mana mungkin akan terjadi. Aku terus mengikuti jalan Changmin di belakang dengan menggigit pipi bagian dalam hingga pipi luarku terlihat cekung.

“Jujur saja. Aku masih belum bisa melupakanya.” (lebih…)


XIAH “also kill the bastard like you”


Warning : Alternative Universe, Out Of Character.

Disclaimer : I do not own them.

Genre : Action, Romance, Suspense.

Note : Boyslove (Yaoi), slight Straight, PG 15 – ?, cerita masih dalam bagian masa lampau, akan jelas setelah masuk multichap.

Author : Intan9095

#

PROLOG 2

#

3 tahun kemudian…

12 September 2004, Seoul, Korea Selatan.

(lebih…)