fanfiction for our soul

fanfic

<3 FF 2Min <3 ‘U are so Beautiful’ [YAOI / Part 2]


Title : “U Are So Beautiful”

Main cast : 2Min

Length : Part 2 / YAOI

Author : Keyicha / Song Hyun In

#################################################################

Setelah kejadian ‘pencurian ciuman’ yang dilakukan oleh Taemin, Minho menjadi ‘sedikit’ aneh. Ia menjadi suka melamun dan terkadang tersenyum2 sendiri seraya menyentuh bibirnya. Onew yang sering memergoki tingkah aneh Minho menjadi heran sendiri.

“Hey~! Minho! Apa yang terjadi denganmu, eoh? Kau senyum2 sendiri seperti orang gila”, tanya Onew suatu hari yang sangat penasaran akan sikap Minho saat istirahat. Minho hanya menoleh sebentar, lalu kembali dengan aktivitas ‘daydreaming’nya. Onew geleng2 kepala. “Kurasa kau sudah gila”, ucap Onew lalu pergi meninggalkan Minho.

“Gila?? Apa aku gila??”, Minho bertanya pada dirinya sendiri. ‘Hey~! Minho..! Bukankah kau sudah tahu kalau Taemin itu tidak seperti yang kau kira? Mengapa sekarang kau menjadi sering memikirkannya?’, seperti ada suara hati yang berusaha mengingatkan Minho. ‘Aahh.., itu tidak penting, Minho. Sepertinya Taemin yang cantik itu menyukaimu. Buktinya ia menciummu. Sudah.. kau kejar saja namja cantik itu!’, suara yang lain membujuk Minho. Kepala Minho miring ke kiri dan ke kanan seperti orang ling-lung.

“Aarrgghh..!!! Sepertinya aku memang benar2 sudah gila”, Minho mengacak2 rambutnya kesal lalu berjalan keluar kelas.

Minho sedang berbelok ke koridor yang menuju ke kantin ketika ia melihat hal itu. Ia melihat hal yang entah mengapa membuat amarah dan rasa cemburunya membuncah. Lee Taemin, namja cantik yang kemarin mencuri ciuman pertamanya sedang berciuman dengan seorang namja di sudut koridor yang agak gelap. Minho mengepalkan tangannya. Tanpa disadarinya, dan entah setan dari mana yang merasuki dirinya, tiba2 saja, Minho mendorong namja yang mencium Taemin, dan secepat kilat menarik Taemin pergi.

“Hey…lepaskan aku..!”, Taemin berusaha menarik tangannya dari genggaman Minho, namun tidak berhasil. Minho mencengkeram tangan Taemin erat dan terus menyeretnya menyusuri koridor menuju atap sekolah dengan diam.

—–

Brakk~!!

Minho menendang pintu atap sekolah. Detik berikutnya, ia menarik dan mendorong Taemin kasar ke sudut tembok, lalu memenjaranya dengan kedua tangannya. Napas Minho naik-turun. Ia juga menatap Taemin tajam.

“Ya!! Kau ini kenapa? Apa maksudmu melakukan ini?”, Taemin berusaha memberontak. Ia memukul2 bahu Minho, tapi Minho terlalu kuat. Tangan kekar Minho mencengkeram kedua tangan Taemin dan menempelkannya ke tembok. Ia lalu mendekatkan wajahnya. Taemin sedikit takut.

“Aa… Apa maumu?”

Minho terus saja menatap Taemin dengan mata elangnya. Seperti ada api yang berkobar terpancar dari mata lebar Minho.

“Kau… Mengapa kau mencium namja tadi, huh?”, Minho akhirnya mengeluarkan suara bass-nya.

“Mwo??”, Taemin tidak mengerti.

Minho berdecak kesal, “Ck…, jangan pura2 bodoh”.

Taemin semakin bingung. Kesabaran Minho mulai habis. “Bukankah kemarin kau menciumku? Mengapa tadi kau mencium namja lain? Apa maksudmu melakukan itu, huh?”, Minho menarik kerah baju Taemin. Entah mengapa ia menjadi posesif seperti ini. Taemin sangat terkejut akan perkataan Minho. ‘What?! Jadi karena itu?’, Taemin membatin antara kesal, marah dan senang. Ia yakin kalau Minho cemburu. Taemin pun mengeluarkan ‘smirk’-nya.

“Oohh.., jadi karena itu. Lalu apa masalahmu? Bukankah itu terserah aku? Kau tidak berhak mengaturku. Kau bukan siapa2ku. Pacar juga bukan”, ucap Taemin menantang. Minho menggertakkan giginya, “Kau..!!”

Taemin tersenyum penuh kemenangan. “Wae?? Apa kau cemburu, huh”.

Minho semakin kesal dibuatnya. Tanpa berpikir panjang, tiba2 ia memegang dagu Taemin dan menciumnya telak. Taemin sangat terkejut akan serangan tiba2 itu, namun ia juga tidak menolaknya. Ia bahkan menikmati setiap hisapan dan kecupan yang diberikan Minho, meskipun pada awalnya ciuman Minho agak kasar. Justru itulah kenikmatan yang dirasakan Taemin dari bibir Minho. Minho memang berbeda dari namja2 lain yang pernah berciuman dengannya.

Cukup lama Minho dan Taemin berciuman. Hingga ketika Taemin kehabisan napas dan akan membuka mulutnya untuk memberikan ruangan yang lebih, Minho melepas ciumannya. Taemin agak kecewa. Di lihatnya, Minho menatapnya lagi, seperti merasa melakukan hal yang bodoh.

“itu…bukan apa2. Kita impas. Kau menciumku dan aku balas menciummu. Dan itu…itu juga berarti kalau kau tidak boleh mencium namja lain lagi. Arasseo?!”, setelah mengatakan itu, Minho pergi meninggalkan Taemin yang mematung antara heran dan bingung.

“Ck…, apa maksudnya? Seenaknya saja membuat keputusan”, Taemin menggumam kesal. Ia lalu menyentuh bibirnya dan tersenyum, “Tapi.. Aku sangat menyukai bibirnya”. *Gubrak*.

### TBC ###
Part selanjutnya pake NC. ^_^v
Hoho… :p

Iklan

<3 FF 2Min <3 ‘U are so Beautiful’ [YAOI / Part 1]


Title : “U Are So Beautiful”

Main cast : 2Min

Length : Part 1 / YAOI

Author : Keyicha / Song Hyun In

#################################################################

“Omo..!!Cantik sekali..!!Siapa dia?”,Minho tidak bisa menutup mata dan mulutnya.Bahkan matanya yang besar semakin melebar bagaikan keroro.

“Oh..!Kau tidak tahu.Itu Lee Taemin,kekasih Kim Jonghyun yang terkenal itu.Kemana saja kau,eh?”,heran Onew akan kelakuan Minho yang menurutnya berlebihan.Tentu saja karena memang yang ada di mata Onew hanya Key,kekasìhnya seorang.

“Aku tidak tahu.Selama ini tiap istirahat aku selalu tidur di atap sekolah”,jawaban Minho membuat Onew geleng2 kepala.Mengapa namja di depannya ini begitu aneh?Padahal kalau diperhatikan,Minho cukup tampan.Bahkan lebih tampan dari dirinya yang berpipi gendut dan bermata sipìt.Selain itu,Minho juga tinggi dan berhidung mancung.Tapi semua keistimewaan itu menjadi tidak berarti karena sifat Minho yang pemalas.

“Ya!! Mengapa kau melihatku seperti itu?Jangan2..,kau naksir padaku”,kata Minho tiba2 seraya menyilangkan kedua tangannya di dada yang sontak membuyarkan lamunan Onew.

“Mwo??Aku naksir kau.Tsk..,yang benar saja.Najis tau..”,Onew bergidik lalu pergi meninggalkan Minho dengan sebal.

“Aku kan cuma bercanda.Pemarah sekali dia”,Minho mengedikkan bahunya.Ia lalu memasang earphone di telìnganya dan berjalan ke tempat favoritnya,atap sekolah.

—–

Minho membuka pintu atap sekolah.Ia terkejut ketika mendapati seorang namja sedang tidur di pojok tempat ia biasanya membaringkan tubuhnya.

“Bukankah dia….”

Minho mendekati namja itu dan mengamati setiap inci wajah namja tersebut. Ia tidak sadar kalau hidungnya bahkan sudah menempel di atas hidung namja itu.

“Neomu yeppeo…”, ucap Minho masih menatap namja itu lekat2 tanpa berkedip sedikitpun. Hingga akhirnya….

Namja itu membuka matanya.Biasanya seseorang yang sedang tidur dan ditatap seperti itu,pasti orang tersebut akan terkejut dan berteriak. Namun,lain halnya dengan namja satu ini. Ia hanya diam saja dan detik berikutnya ia malah memegang kedua pipi Minho.

“Kau… Apa kau tertarik padaku?”,tanya namja cantik itu tiba2 dengan penuh percaya diri. Minho ternganga akan pertanyaan itu. What the…?? Apa yang dikatakan namja ini?? Minho pun segera menjauh.

“Mwo? Apa maksudmu? Percaya diri sekali kau..”, Minho berusaha mengelak. Bagaimanapun ia harus sedikit jual mahal,bukan? Meskipun ia adalah namja yang serampangan dan malas,tapi ia tidak ingin dipandang sebagai cowok gampangan atau apa. Laki2 harus memiliki harga diri dan juga prinsip. Paling tidak itulah yang selalu dipegang teguh Minho sampai sekarang. *bagus Menong,lanjutkan..!! XD*.

“Huh.. Kau bohong. Aku tahu bagaimana semua namja di sekolah ini menilaiku”, namja cantik itu tidak mau kalah. Ia menatap Minho tajam. “Aku tahu kalau semua namja di sekolah ini sangat mengidolakan seorang Lee Taemin,dan aku tahu kau pasti salah satu dari namja2 tersebut”,namja cantik bernama Lee Taemin itu berkata dengan angkuhnya. Sepertinya Minho telah salah menilai.

‘Uapaa..? Yang benar saja..’. Minho menjadi kecewa dan sedikit emosi.

“Hey..,dengar ya. Aku bukan namja2 itu,dan aku juga bukan salah satu dari mereka”, ujar Minho ketus dan akan berlalu pergi ketika tiba2 Taemin menarik tangan Minho dan ….

CHU~PP!!

### ToBeContinued ###

NB : Comment n Like, please~!! >__<


S.E.C.R.E.T (Part 1)


Title : S.E.C.R.E.T
Genre : romance, comedy, m-preg, boyxboy, YAOI, sedikit CANON, OOC, etc
Length :
Author : LaillaMP
Main Cast :
–    Park Geonil
–    Kim Sungje
Other Cast :
–    Kim Kwangsu
–    Yoon Sungmo
–    Song Jihyuk
A/N : ada yang sering main ke kumpulan fanfic? pasti liat ff ini. hehehe XDXD maap ya udah lama ga share ff disini 😀 lagian kayaknya pada belom tau couple ini sih… biar saya kenalkan. look at the photo yaa 🙂
Cerita ini murni fiksi dan dari otak gue tanpa paksaan siapapun. Gue bikin ff ini bukan untuk menjelekkan mereka, atau mengharap mereka beneran jadian atau kawinan. Sekali lagi ini FIKSI!!!!
Kalo ada ff yang sama kayak ff ini, itu bukan kesengajaan. Karena gue belum pernah baca ff yang kayak begini.

WARNING!!!
FF INI HARUS DIBACA OLEH ORANG YANG MENGERTI ANTARA FIKSI DAN NONFIKSI!! GUE GA NERIMA KOMENTAR BASHING!! INI CUMA FIKSI!!!!!!! OKAY???

***

(lebih…)


MyungJong/One-Shoot/PG-13


ANyeong yeorobun #SUJUD ,Mianhe lama gak muncul yah #Mewek,Specialy buat Ahjuma yang udah berbaik hati jadiin gw Admin walo jarang muncul #grin,gw kira gw udah di pecat lowh dari admin,rupanya kaga,makasih pokonya buat ahjuma

N buat yang mau contac ane silahkan sms ke 085350049112,just sms yah 😀

Main Pair : MyungJong Infinite Couple (Myungsoo (L) & Sungjong)

Gendre : Angst,Romance

 

************************************************************************************************************************

Namja Cantik itu tersenyum memperhatikan Namja tampan di depanya,mereka berdua sedang duduk berhadapan di sebuah cafe di salah satu jalan di Seoul

 

Namja tampan itu menyadari tatapan dari Namja cantik di depanya,”Waeyo?”,ucapnya sambil mengangkat kepalanya dari buku tebal di tanganya

 

“Aniyo,hanya memandangmu saja”,Jawab Namja Cantik bernama sungjong

 

Namja tampan bernama L itu menaikan alisnya,”Ada sesuatu di wajahku?”

 

“Ani,tak ada apa-apa di wajahmu”,Gelengnya

 

L tersenyum kecil,”Aneh”,Gumanya lalu kembali menekuni buku yang di bacanya

 

Sungjong terus tersenyum,perasaannya menghangat setiap melihat wajah tampan kekasihnya,mengalahkan dinginnya hawa hujan yang mengguyur kota Seoul

 

‘Drrt….Drrt….Drrt…’

 

Melihat Handphone nya bergetar,di ambilnya oleh L,lalu di lihatnya sms siapa yang masuk ke Handphonenya,Lalu Ia mengertukan dahinya bingung

 

“Nugu?”,Penasaran Sungjong

 

L dengan wajah tersenyum menatap ke arah Sungjong,”Ani,Hanya teman sekampus saja”,Jawabnya sambil jari-jarinya dengan lincah membalas Sms

 

Sungjong mengangguk,”Umm….,Arraso”,Gumanya sambil tersenyum kecil

 

‘You Know Hyung~…,I know who Your Friend,I know that and I just close my mouth’

 

———————————————————–

 

“Hyung Odie?”,Tanyanya sesaat sang kekasih mengangkat telponya

 

“Aku sedang di rumah,Mianhe aku tak bisa menemanimu jalan-jalan Ne?, kepalaku tiba-tiba sakit”,Jawang Kekasihnya

 

Sungjong mengulum senyum,”Sudah minum obat?,Apakah aku perlu ke sana?”,Ucapnya

 

“Gwenchana Baby,Aku hanya sakit kepala biasa saja,sebaiknya kau diam di rumah saja Ne?,Udara dingin,nanti kau Flu”,Jawabnya

 

Sungjong kembali tersenyum,”Nde Hyung,Arraso cepat sembuh Ne?,Saranghae~”,Ucapnya pelan

 

“Umm,Nado saranghae”,Balas L,lalu mematikan Handphonenya

 

Mata Sungjong berkaca-kaca

“Bila kau mengatakan kau sedang di rumah,lalu siapa orang yang sedang ku lihat di sana?,Bila kau sedang sakit siapa orang yang sedang berjalan di sana itu?,Bila kau memang mencintaiku,mengapa harus ada orang lain di sisimu?”,Gumanya dengan linangan air mata di pipinya,terasa hangat namun dingin dan sakit di saat bersamaan

 

Siapa yang tak sakit hati bila melihat kekasihmu berjalan sambil bergandengan tangan dengan seorang Yeoja cantik di sisinya

 

‘I know U lie,But I’am Still Love You,But I can’t hold my tears anymore,I just Can close my Eye’

 

———————————————————–

 

‘From : Sungjong

To : Nae L-Hyung

 

Hyung kau berada di mana?’

 

‘From : Sungjong

To : Nae L-Hyung

 

Kau sedang sibuk kah?’

 

‘From : Sungjong

To : Nae L-hyung

 

Hyung~……,Kau sedang di mana?,Mengapa tak membalas SMS ku?’

 

Sudah berpuluh-puluh SMS yang di kirim Sungjong untuk kekasihnya,namun tak ada satupun yang di balas oleh L,Di cobanya untuk menelpon namun hasilnya tetap sama

 

“Hyung,Odieseyo?”,Gumannya lirih,sambil memegang Kue tart bertuliskan ‘Happy B’day Nae L’ di atasnya,tanpa lilin,karena Ia takut lilinya akan meleleh sampai habis,Sudah dua jam Ia berdiri di depan apartemen Kekasihnya,mengapa tak naik lalu pencet bel saja?,Takutkah?,Mungkin ia takut bila mendapati sang kekasih tak membukakan pintu untuknya,Mungkin karena tak ada di rumah atau terlalu sibuk dengan urusanya sendiri

 

“Hyung,Jebal~…,Ku mohon kau angkat”,Gumanya dengan Handphone berada di teliganya,Namun nihil kembali tak ada jawaban

 

Di bulatkannya tekatnya,lalu di langkahkan kaki ringkihnya menaiki lift menuju lantai apartemen kekasihnya,Saat Lift terbuka di langkahkan kakinya menuju Apartemen sang kekasih

 

Ia ragu apakah ia harus mengetuk,menekan bel,atau langsung masuk?,Dan ia lebih memilih langsung memasuki Aprtemen itu,dan Itu adalah keputusan yang salah

 

“Hyung~”,Gumanya pelan menatap nanar sepatu Yeoja bertengger manis di samping sepatu kekasih

 

Ia masuk,menatap nanar pakaian Yeoja dan Namja yang berserakan di lantai,di langkahkannya kakiknya pelan menuju ke kamar kekasihnya,tiga langkah sebelum kamar itu,Ia melihat pemandangan yang sejujurnya sudah di duganya karena Pintu kamar yang setengah terbuka,lalu Ia tersenyum masam,Ia ambil langkah Mundur secara perlahan,di pasangnya kembali kedua sepatunya,di tutupnya kembali pintu Apartemen sang kekasih

 

“Saengil chukka hamnida,Saengil Chukka hamnida,saengil chukkae Nae L-Hyung,Saengil chukka hamnida”,Nyanyinya pelan dengan sungai yang menghiasi kedua matanya,di letakannya Kue ulang tahun di tanganya di depan pintu Apartemen L kekasihnya

 

“Semoga di antara kalian tak ada yang menginjaknya”,Doanya kembali tersenyum lalu pergi dari tempat itu

 

‘I can’t Close my eye anymore,but I just can walking away’

 

———————————————————–

 

“Yoboseyo,Baby?”

 

“Nde Hyung,wae?”,balas Sungjong sambil duduk bersandar di tempat tidurnya

 

“Minahe ne,kemari aku berjiarah ke makam orang tuaku,dan Handphone ku rupanya mati,jadi aku tak tahu kau menelpon dan meng’sms ku”,Ucapnya

 

Sungjong tersenyum lemah,’Kebohongan baru lagi’,Katanya dalam hati,”Gwenchana Hyung”

 

“Dan terimakasih atas Kue nya yah,maaf aku baru melihatnya saat pulang ke Apartemenku tadi siang”,Ucap L

 

“Gwenchana Hyung,Gwenchana,Aku mengerti”,Lirih Sungjong sambil memejamkan matanya

 

“Kau di mana Baby?”

 

Sungjong tampak berpikir sebentar,”Aku ke rumah orang tuaku Hyung,Nunna ku sebentar lagi mau menikah jadi aku dalam beberapa hari ini mungkin tak akan berada di Seoul”,Jawabnya

 

“Jinjjayo?,Kapan Nunna mu menikah?”,Ragu L

 

“Mungkin tanggal 3, Uhuk Atau 4 entahlah masih belum mereka tentukan”,Jawabnya sambil terbatuk kecil

 

“Kau sakit Baby?”

 

“Ani Hyung,Cuman sedikit batuk”

 

Hening melandan,”Hmm….,Arraso jaga kesehatan mu ne?,Saranghae”

 

Sungjong tersenyum kecil,”Nde Hyung,Nado saranghae”,Ucapnya

 

Kembali kedua sungai itu menghiasi wajahnya,Dia sudah cukup merasa sakit,apakah sakit itu harus di tambah lagi dengan kebohongan-kebohongan kekasihnya?

 

‘What must I do?,I can’t walk away,I can’t close my eye,I can’t close my Mouth Anyomore,Please tell me what must I do Hyung’

 

———————————————————–

 

“Nugu?”,Ucap Sungjong pelan dengan senyum menghiasi wajahnya

 

“Nugu?,apa maksudmu?”,Balas L

 

Mereka saling berhadapan,menatap ke dalam mata masing-masing di bawah guyuran Hujan salju

 

“Yeoja-chingumu kah?”

 

L mengerutkan dahinya,”Yeoja-Chingu siapa?”

 

Sungjong kembali tersenyum,”Hyung Kau kira aku tak tahu siapa yang selalu meng’sms mu?,Kau kira aku tak tahu siapa yang bergandengan tangan dengan mu,Dan apa kau kira aku tak tahu dengan siapa kau menghabiskan hari ulang tahunmu?,Hyung aku lelah”,Seru Sungjong sambil menangis

 

L terdiam,”Mianhe Sungjongie”,Ucapnya pelan

 

Sungjong tertawa pelan,”Aku lelah Hyung,selama dua tahun aku berjuang supaya kau menyukaiku,Selama tiga bulan aku merasakan kebahagian itu,dan selama lima bulan aku merasakan sakit kau Hianati”,diambilnya helaan napas panjang,”Lalu kau hanya berkata Mianhe?”

 

L memejamkan matanya,”Kau tahu sungjongie,Aku ini normal,Aku menyukai Yeoja,dan asal kau tahu alasan ku menerimamu hanyalah khasian”,Serunya sambil menujuk-nunjuk Sungjong,”Yeoja itu adalah kekasihku yang memutuskanku,Aku masih menyukainya”

 

Sungjong terpaku,Jadi inilah jawaban dua tahun perjuangannya,dan lima bulan rasa sakit hatinya?,Ia tertawa keras,”Mianhe Hyung,Aku terlalu bodoh untuk menyadari kalau kau tak pernah mencintaiku,Aku terlalu bodoh kalau kau hanya meng’khasianiku,,Mianhe Hyung”,Katanya sambil tertunduk di tanah bersalju

 

L terdiam,ia merasa lega mengeluarkan semua isi hatinya,namun ia merasa sakit di saat bersamaan melihat namja di hadapanya tersakiti olehnya

 

“Minhe Hyung,aku menyita waktumu,Hyung pergilah lebih dahulu,aku bisa pulang sendiri”,Lirih Sungjong tanpa bisa mengangkat kepalanya

 

“Mianhe atas perlakuanku selama ini,Dan Gumawo atas perhatianmu selama ini”,Ucapnya lalu berbalik pergi

 

Sungjong terpaku,matanya nanar menatap punggung Namja yang di cintainya berjalan menjauhinya,Ia sungguh mencintai Namja itu,sangat-sangat mencintainya,Ia kira ia yang di sakiti,namun bukankah Yeoja itu yang lebih tersakiti bila tahu Namja-chingunya menjalin hubungan dengan sesama Namja?

 

Ia tak merasakan dinginya salju yang membelai tubuhnya,Bibirnya membiru,namun ia tak mempunyai tenaga untuk mengerakan kedua kakinya,Ia sudah terlalu lelah

 

‘What I must I do is Just Leave You Hyung~,Thank’s For always beside me,and Honestly I really love you,Trully from bottom of my Heart’

 

———————————————————–

 

L berjalan pelan,kakinya terasa berat meninggalkan namja yang menghiasi hari-harinya selama beberapa bulan ini

Alasan kenapa ia menerima Namja cantik itu adalah karena Yeoja yang di sukainya tiba-tiba meminta putus darinya,Lalu Namja cantik itu datang dengan ketulusan hatinya,Mencintainya sepenuh hati

Awalnya Ia ingin mulai belajar mencintai Namja cantik itu,Namun tiba-tiba Yeoja itu kembali masuk ke kehidupanya,Ia bimbang namun ia masih mencintai Yeoja itu

ia menjalani kehidupan asmara yang membingungkan,Antara kesetiaan dan kesabaran Sungjong dan Juga Kesabaran dan kecintaannya terhadap Yeoja itu

 

L menghentikan langkahnya,Ia kembali berpikir

Di saat kedua orang tuanya meninggal siapa yang berada di sisinya?,di saat ia sakit dan membutuhkan tempat bersandar siapa yang ada di sisinya?,Dan siapa yang tulus mencintainya?

 

L terpaku,di kepalanya muncul memori-memori yang di lalui nya bersama Namja kecilnya,dan sadar atau tidak Ia selalu tertawa bila berada di samping Namja cantik itu,tersenyum dan saling bercerita

 

Dia teringat akan berbagai memori yang tak pernah di lakukannya dengan Yeoja-chingunya,Sungjong mau menerima segala kekuranganya,Mau mengerti dirinya,Hobbynya,kehidupanya

 

Namun Yeoja-chingunya hanya mencintai kesempurnaannya dan Hartanya

 

Rasa cintanya dulu kepada yeoja itu membutakan matanya,Ia sadar rasa cinta itu mulai memudar,digantikan oleh Nafsu semata

 

Tapi bila bersama Sungjong,Ia tersenyum tulus,tertawa lepas,Ia bisa dengan bebas menunjukan sifat ke’kanak-kanakannya,Ia bisa menjadi dirinya sendiri

 

Dan L menyadari hatinya sudah beralih ke Namja cantik itu,ia sempat goyah lima bulan yang lalu dan ia menyesalinya,Dan ia tak ingin menyesali hal itu lagi

 

L berbalik lalu ia berlari sekenjangnya menuju ke arah tubuh ringkih sungjong yang masih duduk bersimpuh,Di peluknya tubuh itu

 

“Mianhe Sungjongie,Mianhe,Aku mencintaimu,Aku sungguh-sungguh mencintaimu”,Ucapnya sambil terisak menangisi kebodohannya

 

Sungjong terpaku,’Benarkah kau memelukku kembali Hyung?’,Gumannya pelan

 

“Mianhe,Mungkin kau tak akan mau memaafkanku,namun aku bersungguh-sungguh mencintaimu”,Ucapnya sambil menciumi telinga dan rambut sungjong

 

Sungjong tersenyum,”Nde Hyung,Tapi aku tak ingin di sakiti lagi,Aku sudah lelah hyung”,Ucapnya sambil mendorong L pelan

 

L terdiam lalu di ambilnya Handphone di sakunya

 

“Yoboseyo?,Waeyo Honey?”,Suara genit seorang Yeoja menyapa gendang telinga Sungjong

 

“Hanul-ah,Mianhe sebaiknya kita akhiri hubungan ini”,Kata L membuat sungjong membulatkan matanya

 

“WAE?,Kau tak bisa begitu saja memutuskan hubungan kita oppa”,Tak terima Yeoja itu

 

“Mianhe,Aku sudah mencintai seorang Namja Cantik yang berada di hadapanku ini,Aku sudah melupakan rasaku padamu”,Jawabnya

 

“Namja?,Oppa kau pacaran dengan Namja?,Itu menjijikan”,Ucap orang di seberang telpon

 

L tersenyum lembut,”Gwenchana,Terserah kau menganggap ku apa.Aku sudah terlanjur mencintai Namja cantiku”,Ucapnya sambil membelai pipi Sungjong lembut,”Mianhe ne,Kau bisa menghapus nomorku bila mau”,Di matikanya Handphoenya lalu di lemparkanya Handphonenya ke arah lautan luas

 

“Hyung,Apa maksud semua ini?”,Lirih Sungjong

 

“Aku mencintaimu,Aku sadar akan kebodohan ku,Aku juga sadar tak kan semudah itu kau memaafkanku,tapi aku bisa menunggu,bahkan aku mampu menunggu dan membuatmu kembali membukakan hatimu untukku,walau harus memakan waktu hingga berpuluh-puluh tahun”,Ucapnya sambil menyatuka kedua dahi mereka

 

Sungjong menangis,”Aku percaya padamu Hyung,Ku mohon jagalah kepercayaanku ini”

 

L mencium bibir sungjong Lembut,”Pegang omonganku kali ini,bila aku melanggarnya kau boleh mencari selingkuhan kok”

 

Sungjong tertawa pelan,”Berarti aku perlu menyimpan nomor baru orang lagi ne?”

 

L mengerutkan dahinya bingung,”Nugu?,Pacar barumu?”,Kesalnya

 

Sungjong tertawa semakin lebar,”Nde…..,Karena bodohnya Namja baruku itu membuang Handphonenya ke laut”

 

L mengerti,lalu ia kemudian ikut tertawa,”Kajja kita pulang,nanti kau semakin kedinginan,Lihat saja bibirmu sudah membiru”,Ucapnya pelan sambil menatap khawatir wajah kekasihnya

 

“Kita pulang ke mana,Hyung”,Katanya sambil naik ke gendongan L

 

“Kita ke Apartemen mu saja Otte?,Ku rasa nanti saja aku mengambil barang-barangku di apartemen ku,Ku yakin nenek sihir itu ada di sana”,Jawabnya membuat sungjong terkekeh

 

“Siapa yang membolehkan mu tinggal Di Apartemenku?”,Candanya

 

“Aku sudah meminta ijin kepada kekasihku,dan dia sudah mengijinkan tuh”,Enteng L

 

“Aniyo,Aku tak pernah memberikan ijin”,Kekeh Sungjong

 

“Ku rasa pacarku sedang terkena Amnesia,makanya Ia lupa kalau kekasihnya ini sudah punya kunci duplikat apartemenya”,Jawab L sambil memutar-mutarkan badanya

 

“Hya…,Hyung berhenti”,Teriak Sungjong di acuhkan oleh L,Lalu mereka berdua tertawa bersama

 

‘If you leave me,I will catch you and Hug you thig,and I wouldn’t leave you anyomore nae Sungjongie,Nae Baby’

 

 

Banjai Selesai udah satu FF,Just Short FF,pengennya bikin full angst,but saya lagi baik jadi end nya rada ancur berantakan deh 😀 #Plak


Time To Love Part 4


Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”
Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg
Length : ga banyak-banyak (?)
Cast :
–    park geonil *Cho Shin Sung*
–    kim sungje *Cho Shin Sung*
–    other Cho Shin Sung members~
Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerima apa adanya. Maukah geonil mengakui anak itu setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?
Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^
A/N : wahahaaaaaaa gue lupa akhirnya sama ff yang udah lumutan ini. kalo sering ke blog gue pasti udah tau sampe part 7. kkk
kalo ada yang lupa ceritanya, monggo di review~ Prolog | Part 1 | Part 2 | Part 3
yang mau tau siapa castnya, mohon maaf saya belom bisa kasih fotonya *lupa kebawa -_-

***

 

<< previous

“ya Tuhan.. hari ini aku masih bisa menikmati ini..” ucap sungje dalam hati.
Kini masalahnya bertambah lagi. Selain karena kehamilannya, tapi juga karena umurnya. Sungje tidak mempunyai penyakit khusus yang mematikan seperti kanker, stroke, atau jantung. Tapi.. ini tidak ada di dunia medis. Terlalu sulit bagi orang selain keluarganya memaklumi ini.
“sungje-ah!” panggil geonil karena sungje tidak bergeming dari tadi.
Angin sepoi-sepoi itu seakan menina-bobokannya. Membawa pergi suara-suara dan juga masalah-masalahnya ke tempat mereka berada.
Dengan cepat geonil langsung menangkap tubuh sungje yang ambruk. Dengan hati-hati ia mendudukannya ke atas kursi. Dengan kaki panjangnya, geonil mengambil kursi lainnya untuk didudukinya.
Mata itu terpejam sempurna. Nafasnya masih teratur. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang amat sangat. Sungje tertidur.
Geonil menyandarkan kepala istrinya ke bahunya. Lalu mengelusnya dengan sayang.
“sweet dream, my prince..” kata geonil pelan. “mimpiin aku yaa..”

***

>> part 4 <<

— tiga minggu setelah menikah —

“Kau sudah mencari rumah baru?” tanya Sungje pada Geonil ketika lelaki itu sedang asyik mengotak-atik rumus untuk mencari jawaban.
Geonil tetap asyik pada pekerjaannya. Tidak mempedulikan Sungje yang sedari tadi terus membicarakan tentang rumah baru.
“GEONIIIIIIIIIL!!!!!” teriak Sungje jengkel sambil melempar tempat pensil ke kepala Geonil.
“Aaaah!!!” Geonil mengelus kepalanya. “Sakit tahu!!”
“Aku tidak peduli!” kata Sungje sambil memalingkan muka. “Kau harus mencari rumah baru!”
“Untuk apa?” tanya Geonil bingung. Pandangannya masih ke rentetan soal fisika yang memuakkan.
“UNTUK DIMAKAN!!” jawab Sungje jengkel.
Geonil meletakkan pulpennya. Lalu menatap Sungje dengan penuh perhatian bak seorang suami dari negeri dongeng (?)
“Bukankah rumah ini sudah menjadi milik kita? Eum?” tanya Geonil lembut.
“KATA SIAPA?! INI RUMAH HANYA UNTUK SEBULAN DITUMPANGI!!” Sungje menjawab dengan suara meninggi.
Geonil mengusap kupingnya. Kebiasaan Sungje selama 3 minggu ini kalau tidak makan bulgogi atau kimchi, ya.. marah-marah. Dan marah-marahnya itu bisa membuat gendang telinga pecah saking kerasnya suara dia.
“Ara.. Ara.. kenapa kau tidak memberitahuku dari kemarin-kemarin? Biar aku mencari pekerjaan dan—“
“DARI KEMARIN JUGA AKU SUDAH BILANG!! KAU TERUS PACARAN DENGAN RUMUS-RUMUS TAK JELAS ITU!!!!” teriak Sungje emosi.
“Hyung, jangan marah-marah! Nanti anak kita—“
“ANAKMU?!! SEJAK KAPAN?! INI ANAKKU DAN—“
“alright! Alright!” Geonil mengusap kupingnya lagi. “Aku akan mencari tempat tinggal besok.”
Geonil duduk di sebelah Sungje. Dengan tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sungje. Wajah Sungje langsung memerah. Geonil tertawa dibuatnya.
“Kalau kau sering berteriak, aku akan menciummu! Camkan itu!” kata Geonil sambil berlalu ke kamarnya.
Sungje menatap Geonil sampai bayangannya hilang ditelan ruangan yang ia masuki. Ia lalu mengusap bibirnya. Memberi mantra agar tidak tersentuh sedikitpun oleh namja aneh dan gila bernama Park Geonil.
Tapi sebenarnya Geonil itu namja yang berani. Berani mengambil resiko. Ia berani menikah dengan Sungje yang berstatus sudah dihamili pria lain. Ia juga berani jujur pada ayah dan ibu Sungje tentang kondisi keluarganya. Orangtuanya sudah meninggal ketika ia masih 10 tahun. Tapi Geonil tidak pernah menceritakan tentang warisan yang ia terima. Juga tentang hubungannya dengan pria yang menghamili Sungje.
“Mau kemana? Malam-malam begini…” Sungje menatap bingung ke arah Geonil yang sudah rapi memakai celana panjang dan jaket tebal.
“Mencari pekerjaan. Siapa tahu ada.” Jawab Geonil sambil tersenyum manis.
“Untuk?”
“Kita perlu tempat tinggal kan? Makannya aku akan mencari pekerjaan.”
Sungje menatap keluar. Langit malam yang tidak berhias bintang. Dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan deras.
“Kenapa harus malam-malam?!” tanya Sungje. Ada sedikit nada khawatir di dalam pengucapannya. Dan Geonil menyadarinya.
“Siang-siang banyak yang melamar. Kalau malam hanya 1% yang berani melamar. Dan itu aku!” Geonil menghela nafas. “Ah.. boleh aku keluar, istriku?”
Badan Sungje mendadak panas dingin. Geli dengan perkataan Geonil yang menyebutnya sebagai ‘istri’-nya. Padahal ia tidak menganggap Geonil apa-apa.
“Boleh tidak? Sebagai suami yang baik, aku harus meminta izin pada istriku untuk pergi keluar!” kata Geonil lagi.
Sungje menghela nafas. “Terserah!”
“Terserahnya.. err.. sepertinya kau tidak menginginkanku keluar rumah. Okay. Aku disini saja! Lagian sudah mendung. Pasti hujan!”
Tepat sedetik kemudian terdengar suara gaduh rintikan air hujan diluar. Geonil tersenyum. Lalu menunjuk jendela.
“Untung aku minta izin! Kalau tidak, aku yakin aku pasti sakit besok! Ada ulangan biologi. Aku tidak mau izin.”
Sungje diam. Tapi dalam hati ia lega. Setidaknya ia tidak sendiri di rumah di saat hujan seperti ini. Sungje menatap keluar. Hujan semakin deras. Hatinya kembali mensyukuri perkataannya tadi. Kalau Geonil sakit, siapa yang akan menjaganya?
“ANI!!!!! Aishhh apa yang kupikirkan?!” Sungje merutuki dirinya sendiri. “Ah.. lapar! Ingin kimchi buatan nenek!”

****

Sudah pukul 12 malam. Semakin sepi dunia luar. Mungkin hanya ada satu-dua kendaraan yang lewat.
Sungje menatap keluar kamar. Pintunya sengaja tidak ia tutup karena hujan lebat diluar membuatnya takut sendiri. Geonil menawari jasa menjaga Sungje dari luar. Tentu saja Sungje menyetujuinya. Asalkan tidak masuk ke kamar dan tidur bersamanya.
Kriuuukkk..
Perut Sungje berbunyi. Hanya satu yang ia ingini. Kimchi buatan sang nenek! Tapi bagaimana ia memintanya? Tidak mungkin ia pergi keluar sendiri. Yang ada nanti keluarganya marah, belum lagi omelan Geonil yang pastinya lebih panjang dari sabang sampai merauke. Bisa-bisa anaknya lahir baru selesai marah-marahnya.
“Biasanya juga tega!!” malaikat jahat di sebelah kiri Sungje berbisik.
“Jangan! Lelaki berhati cheonsa itu sedang tidur. Tidak mungkin kan kau membangunkannya?” malaikat baik di sebelah kanannya ikut berkicau.
“Biasanya juga tega! Memangnya baru sekali kau menyuruhnya?” malaikat jahat kembali memanasi.
“Kim Sungje, apa kau pernah memperlakukan orang dengan sebaik-baiknya? Sekaranglah saatnya..”
Sungje mengacak rambutnya. “KENAPA KALIAN HARUS ADA DUA?! DAN KALIAN JUGA BERBEDA PENDAPAT?! AKU KAN BINGUNG!!!” teriak Sungje tanpa sadar.
“Eunggghhhh..” terdengar lenguhan panjang dari depan. Geonil bangun!!
“Gawat!!!” Sungje kembali membaringkan dirinya di kasur. Lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Dua malaikat berbeda jenis itu tertawa cekikikan.
“Sialan! Bukannya membantu malah tertawa!!” ucap Sungje dalam hati.

*improvisasi gagal*

%%%

“Kenapa tidak bilang? Aku akan kesana kok!” kata Geonil sambil tersenyum. Walaupun terlihat lelah.
“Tidak usah kalau kau tidak bisa! Kau pasti lelah kan?” kata Sungje.
Geonil menggeleng. “Kau tunggu sini saja. Nenek pasti memaklumi cucunya yang suka kimchi kan?”
“Tapi…”
Geonil menghela nafas. “Apa? Kan kau yang selalu bilang ‘nanti anaknya ileran kalau tidak di turuti permintaannya’.”
“Jarak—“
“Tidak usah memikirkan jarak. Aku bisa berjalan saja. Kau menunggu disini saja.”
“Benar?” Sungje memasang raut wajah tak yakin.
Geonil mengangguk. “Keurom!”
“Kau disini saja. Jangan kemana-mana! Aktifkan terus HP-mu, kalau ada apa-apa telepon aku, ne?”

—- 4 jam kemudian —-

“Ini benar-benar buatan nenek!!” Sungje melahap kimchi buatan neneknya yang langsung dari sang nenek dengan penuh nafsu.
Geonil menghela nafas lega. Usahanya tidak sia-sia. Berjalan lebih dari satu jam pulang pergi, ditambah menunggu sang nenek membuat kimchi yang terkenal enak seantero keluarga dengan porsi yang banyak. Sebenarnya bahan pembuatan kimchi yang terkenal enak itu tinggal sedikit. Untungnya keluarga Sungje mempunyai tanah luas yang berisi (?) berbagai sayur dan buah-buahan. Kembali lelaki itu harus berjalan lima menit untuk mencapai kesana.
“Apa ada halangan?” tanya Sungje sambil terus melahap kimchi-nya. Kali ini di mangkuk yang ketiga.
“Err.. tidak.” Jawab Geonil.
“Bahan makanan tidak habis kan?”
Geonil tertawa kecil. “Kalau habis aku akan menjitakmu dengan cintaku!” *anjirrrr gombal gagal!! #digamparG
Sungje mendengus kesal. Lalu menjitak Geonil dengan sendok yang ada di tangannya. Geonil mengelus kepalanya kesakitan.
“Gombalanmu bikin sakit perut! Nih!! Lanjutkan makan! Aku mau tidur!” kata Sungje sambil melahap sisa kimchi di mangkuk ketiga.
Geonil mendengus. “Apa yang bisa dimakan?! Mangkuknya? Ckck..”

******

“Kau… kelas 2?” tanya Sungje heran ketika melihat Geonil melangkahkan kakinya ke kelas 2-1.
“Ne!” jawab Geonil dingin. “Baru tahu ya?”
Sungje mengangguk polos.
“Kelas 3-1 ada di atas kan? 10 menit lagi bel masuk!” kata Geonil membuyarkan lamunan Sungje. “Kalau kau merindukanku, tinggal ke atas. Tapi tunggu aku menyelesaikan ulangan biologiku!”
Sungje menggerutu geli di dalam hati. Lalu segera pergi dari hadapan si namja dingin bernama Park Geonil, bukan namja penuh perhatian Park Geonil.

&&&

“Dia benar-benar kelas 2?! Berarti dia adik kelasku? Dia lebih muda dariku? Aishhh jinjja!!” Sungje terus memikirkan kejadian tadi pagi.
Memang sudah hampir sebulan pernikahan itu berjalan. Dan Sungje tidak pernah sekalipun mau tahu urusan Geonil. Kelasnya, hobby-nya, makanan kesukaannya, minuman kesukannya. Yang ia tahu hanyalah Geonil menyukainya, dan pernah menyatakan cintanya dan ditolak mentah-mentah.
Angin sepoi-sepoi bertiup melewati balkon atas. Sungje menghela nafas. Membayangkan anak yang ada di kandungannya ikut pergi bersama angin kencang itu. Tapi kemudian ia sadar, tidak mungkin ia menyingkirkannya karena anak itu hadir karenanya. Karena kesalahannya.
“Jihyuk-ah, odiya?” gumam Sungje merindukan sosok itu. Lelaki tampan yang menjadi pujaannya. Yang sedang menempuh pendidikan kedokterannya di luar negeri.
“Aku akan kembali. Berjanjilah kau akan selalu ada untukku!” kata Jihyuk waktu itu. Sungje menatap langit nanar. Hanya jihyuk yang bisa memeluknya hangat di saat seperti ini.
“Disini dingin,” kata seseorang sambil memakaikan jaketnya di badan Sungje. “Kau bisa sakit. Anakmu juga ikut merasakan sakit. Tapi akulah yang lebih sakit karena melihat orang yang kusayangi sakit.”
Sungje menatap Geonil. Lalu kembali memalingkan muka. Wajah Geonil yang terlihat dingin tapi penuh perhatian itu membanjiri pikirannya.
“Aku ingat Jihyuk pernah bilang kalau ia akan kembali, dia juga memintaku untuk selalu ada untuknya..” kata Sungje sambil menerawang ke langit.
“Tapi akhirnya dia tidak kembali kan?” Geonil mengernyit kesal.
“Belum!”
“Tapi kau sudah milikku sekarang. Kau tidak boleh ada untuknya.”
Sungje menatap Geonil kesal. “Mwo?!”
“Kau ingat perjanjian kita? Jika aku mengakui anak di dalam kandunganmu itu sebagai anakku, maka kau akan belajar mencintaiku. Apa kau sudah lupa?”
Sungje diam.
“Karena kau sudah berjanji, aku akan selalu menagihnya. Janji itu utang, bukan?” tanya Geonil dingin. “Aku akan mencari pekerjaan nanti. Kau pulang sendiri, ya? Ini uang untuk membeli makan. Aku kan belum memasak!”
Sungje menghela nafas. Lalu menerima uang yang dipegang Geonil dan memasukkannya ke saku jas-nya. Setelah itu Geonil pergi. Bersama angin siang yang panas.

****

Malam hari, jam 12 malam…

Sungje menunggu dengan cemas. Dari tadi ia mencoba memejamkan mata. Tapi akhirnya ia membuka matanya lagi dan keluar kamar. Keadaan masih sama. Akhirnya ia memutuskan untuk menonton tv.
Tapi perhatiannya tidak terpusat pada layar tv yang menampilkan drama yang diulangi terus menerus. Perhatiannya lebih ke pintu jati berwarna cokelat.
“Aish.. aku mau kimchi yang dibuat Geonil..” tiba-tiba pikiran Sungje melayang jauh. Bawaan bayi selalu aneh-aneh.
“Geonil mana sih? Sudah jam 12 malam malah belum pulang!” ucap Sungje sambil mengerucutkan bibir.
“Ada yang kangen nih!” ucap seseorang. Sungje hampir terlonjak kaget mendengarnya. “Tadi kau mau apa? Kimchi buatan siapa?”
Geonil kembali menggoda Sungje. Penyakit lamanya kumat. Sungje kembali menelan ludah pahit mendengar godaan Geonil.
“Tadi mau kimchi buatan siapa? Tidak mungkin kan aku mendengar suara zombie?” goda Geonil lagi.
“Buatan nenek!!” jawab Sungje gondok.
“Eum? Kudengar.. dia mengucapkan nama.. G-Ge… nuguya?”
“GEONIL!! PUAS?!”
Geonil tersenyum manis sambil mengangguk senang. Rasa lelahnya setelah bekerja setelah pulang sekolah terbayar sudah.
“Kau menungguku?” tanya Geonil lembut. “Mau kimchi?”
“Buatanmu! Aku ingin masakanmu!” ucap Sungje jujur.
Geonil menghela nafas. “Tapi aku tidak punya bahan untuk membuatnya. Dan pasar juga… mana ada yang buka malam-malam begini?”
“Kau bisa mengambilnya di kebun milik keluargaku kan?”
“Kita sudah dewasa. Tidak bisa terus-terusan bergantung pada orang lain. Terutama orangtua.”
Sungje menghela nafas. “Lalu bagaimana?”
Geonil kembali menggoda Sungje. “Molla~ biarkan saja anaknya ileran!”
“AISHHHH GEONIIIIIIIIL!!!!!” Sungje menonjok Geonil dengan kepalan tangannya. Geonil tetap tertawa kecil sambil menangkis tinju-tinju yang dilontarkan Sungje.

****

Malam telah larut. Seperti tidak ada kehidupan. Geonil terus mengayuh sepeda bututnya untuk mencari pasar yang buka.
Kakinya berhenti mengayuh setelah melewati sebuah rumah besar berlantai 3 dengan gaya classic berwarna cokelat putih yang besar dan sangat mewah. Ingatannya kembali melayang ke umur 10 tahun. Ketika keluarganya masih lengkap. Ia mempunyai ayah, ibu dan seorang kakak perempuan. Hidup dalam buai kasih sayang yang melimpah, fasilitas yang amat sangat lengkap tanpa ada batasan dan kebahagiaan yang tidak terkira. Tapi itu semua sudah tidak berlaku sejak kecelakaan di umurnya yang baru saja menginjak 10 tahun. Kala itu kedua orangtuanya dan kakaknya ingin memberikan surprise untuk Geonil di suatu tempat. Mata Geonil ditutup. Ia tidak tahu apa-apa kecuali rasa gugup dan penasaran.
“Apakah kalian pikir ini tidak terlalu cepat? Kenapa kalian meninggalkanku dan kehidupan lamaku?” Geonil berbicara sendiri. Menggumam tepatnya.
Angin malam berhembus. Seakan bersimpati pada Geonil yang kehilangan keluarganya dengan mata tertutup di umur 10 tahun. Tapi itu lebih baik. Daripada melihat tubuh keluarganya terpanggang kena kobaran api dari mobil. Geonil satu-satunya korban selamat dalam ledakan mobil sedan mewah ayahnya itu.
Orang-orang bilang, ia anak ajaib. Anak yang sangat beruntung karena bisa selamat dari maut. Entah bagaimana caranya, padahal matanya ditutup. Tapi bagi Geonil kecil tidak. Ia merasa Tuhan sangat jahat padanya. Mengambil semua yang ia punya.
Geonil tersenyum lemah. Lalu mengayuh kembali sepedanya dan membuang gambar-gambar tentang masa kecilnya dari pikirannya. Geonil tidak mau memikirkannya lagi. Karena sekarang ia punya Sungje. Walaupun Sungje juga tidak berjanji untuk selamanya. Setidaknya ia berjanji akan mencintainya. Dan selalu ada..

***

“Aku pulang!!” teriak Geonil setelah pulang dari pasar pukul 3 pagi.
Tidak ada jawaban. Tentu saja karena Sungje tertidur pulas di sofa tanpa mematikan tv. Tidak ada acara lagi sekarang. Geonil menaruh sayur-sayuran yang dibelinya tadi ke dapur. Lalu mematikan tv di ruang keluarga.
“Ckckck.. Sudah dibelikan malah tidur!” Geonil tersenyum kecil. Kali ini ia benar-benar merasa beruntung. Merasa Tuhan adil padanya.
Geonil mengangkat tubuh besar Sungje ke kamar. Lalu menyelimutinya sampai menutupi badannya. Kemudian ia tersenyum. Dan kembali mensyukuri nikmat Tuhan yang paling indah ini.
“Saranghae~” ucap Geonil. Sangat tulus dari hatinya.

***

Sungje terbangun lebih dulu daripada Geonil. Ia berjalan keluar kamar dan langsung melihat Geonil tertidur di sofa seperti biasa. Memeluk dirinya sendiri karena tidak ada selimut.
“Ah~ what the hell aku bangun jam 8!” Sungje menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan mendekati Geonil yang sedang tertidur pulas.
“Kau pasti lelah! Iya kan?” Sungje menyibak rambut Geonil yang menutupi wajahnya. “Tampan~”
Hup!!
Sungje menutup mulutnya. Tidak percaya kalau ia mengatakannya! Mengatakan bahwa Geonil tampan, memang tampan, dan amat sangat tampan dilihat dari dekat. Sungje segera berlari ke kamar. Menutup wajahnya yang memerah karena malu dan takut akan kejahilan Geonil yang diluar batas.
Tapi untungnya Geonil tidak membalas apa-apa. Ia masih tidur. Sangat pulas. Akhirnya Sungje memberanikan diri keluar kamar.
Perhatiannya langsung tertuju pada tas yang ada tak jauh dari sofa. Ia membuka tas hitam besar itu. Di dalamnya ada handphone, baju, handuk, buku, dan album foto. Sungje mengambil album foto itu pelan-pelan. Lalu membukanya pelan-pelan pula. Takut ketahuan.
Foto pertama.. Geonil kecil sedang tersenyum
Foto kedua… Geonil kecil lagi, sedang tersenyum sambil melambaikan tangan pada kamera
Foto ketiga.. Geonil mengerucutkan bibirnya. Sangat manis! Terlihat sangat kekanakan. tidak sepertinya sekarang, dingin dan misterius.
Foto keempat.. Geonil bersama seorang perempuan kecil, tapi umurnya sepertinya lebih tua dari Geonil.
Foto kelima.. Geonil sedang berenang. Begitupun sampai foto ke-limabelas. Foto-foto Geonil waktu kecil sedang berenang. Ada yang bersama gadis kecil itu, lalu sedang memeluk ibunya, membawa piala dengan keadaan badan yang masih basah. Tapi satu yang menjadi pusat perhatiannya. Foto Geonil kecil dengan seorang anak laki-laki kecil, bergigi kelinci dan berambut panjang. Berkulit putih dengan badan yang berisi.
“Ck! Seperti mengenalnya…” gumam Sungje. “Ngapain dia bawa album foto ini? Isinya foto kecil semua!”
Saat Sungje sedang memikirkan anak kecil yang berada di samping Geonil kecil, album foto itu terangkat. Diangkat tepatnya.
“G-Geonil…”
“Siapa yang menyuruhmu mengacak tasku?” Geonil menatap Sungje tajam. Sangat tajam. Membuat Sungje bergidik ngeri.
“A-Aku…”
Geonil langsung membawa album foto itu ke belakang. Sungje tidak mengikutinya. Ia tidak berani menampakkan dirinya di depan Geonil yang sedang marah.
Kali ini Geonil benar-benar misterius. Tidak seperti waktu kecil yang terlihat selalu tersenyum, bahagia dan tertawa. Geonil membuatnya penasaran. Sangat penasaran!!

TBC

otte?? leave some comment yaa !!
adn follow my twitter @geooniil2 ^^


[FF/YAOI/NC/KwangMin/ONESHOOT] I Love You A Thousand Times


Title : I Love You A Thousand Times
Genre : shonen-ai, YAOI, NC, comedy, romance,  friendship
Length : oneshoot
Cast :
–    Lee Kwang Haeng / Rascal Kwanghaeng *CO-ED school / SPEED*
–    Choi Sung Min / Solid Sungmin *CO-ED school / SPEED*
–    Other Co-Ed boys members~
A/N : kyaaaaaaaaaaaaaaa I’m back !!!!!! #tebarmenyan
gue balik lagi !! author gila yang jarang ngeshare ff~ jujur, pikiran gue kebanyakan straight sekarang u,u

adakah yang merindukan diriku??? #digampar semoga ada !! ini ff co-ed school yaoi pertama gue !! jadi mohon maaf kalo ada sedikit kesalahan di ff ini XDD *sedikit? banyak kaliii!!
Okay, lets read~!!

***

TEEEEETTTTTTTTTTTTTT
Anak-anak terlonjak kaget sekaligus senang karena akhirnya sekolah berakhir. Murid-murid dari SMA khusus laki-laki itu langsung berlari keluar kelas.
Lee Kwanghaeng, salah satu murid dari SMA itu dengan cepat menghilang dari pandangan. Berlari ke gedung di samping, gedung SMP yang se-yayasan dengan SMA-nya.
“Hai Sungmin!!” sapa Kwanghaeng ketika seorang lelaki cantik berpakaian khas SMP keluar dari gerbang.
“Hai juga, Kwang hyung!!” balas lelaki cantik itu sambil tersenyum manis.
“Kau pasti lelah.” Tebak Kwanghaeng, sekedar untuk berbasa basi.
“Hmm.. Nee.. Hyung juga kan?”
Kwanghaeng mengangguk. Lalu mengajak lelaki cantik bernama Sungmin itu keluar gedung sekolah.
Kwanghaeng sudah lama menyukai Sungmin. Hanya saja ia tidak berani menyatakannya. Perbedaan umur Kwanghaeng dan Sungmin yang terpaut 5 tahun lebih membuatnya ragu. Sekarang Sungmin baru kelas 1 SMP. Masih terlalu kecil untuk dipacari. Makanya Kwanghaeng hanya memendam perasaannya. Kasus yang terlalu ‘basi’ dan sering di kalangan anak labil seumurannya.
“Tadi belajar apa?” tanya Kwanghaeng lagi. Maksudnya lagi-lagi hanya berbasa basi.
“biologi, fisika, olahraga, dan bahasa. Memang kenapa?” jawab Sungmin, yang akhirnya juga melempar pertanyaan lagi.
“Gwaenchana. Hanya bertanya. Memang tidak boleh?” Kwanghaeng mengedipkan sebelah matanya.
“Sendirinya hyung belajar apa?” tanya Sungmin pula.
“emm.. apa ya? Hampir sama. Tapi ga ada biologinya. Hehe..”
“Ohh..”
Kwanghaeng mengambil motornya dari parkiran. Lalu menstarter motornya dan memanaskannya sebentar.
“Naik!” kata Kwanghaeng pada Sungmin.
“Emm.. nee..” Sungmin menaiki motor gede milik Kwanghaeng.

***

“Makasih ya, hyung udah nganterin.” Ucap Sungmin sambil tersenyum manis.
“Slow aja kali. Iya sama-sama. Hati-hati ya, Sungmin!” kata Kwanghaeng.
“Ah hyung! Tinggal masuk ke rumah aja kok pake ucapan hati-hati..”
“Nanti kalau Sungmin jatuh di kolam, gimana?”
“Cuma kolam ikan kan? Jatuh juga lecet dikit.”
“Kan sakit. Ga pernah kan nyemplung ke kolam ikan? Malu tahu sama ikannya!! Masa manusia ga bisa bedain kolam renang sama kolam ikan?”
Sungmin tertawa geli menanggapi candaan Kwanghaeng yang menurutnya lucu. Dari dulu malah. Makanya Sungmin lebih suka main bersama Kwanghaeng daripada yang lain.
“Besok mau berangkat bareng gak?” tanya Kwanghaeng.
“Kalo nggak ngerepotin sih.. yaa…” Sungmin mengangguk. “Ya udah.”
“Oke deh!! Bye, Sungmin!! Jangan lupa liat jalan! Nanti malu sama ikan!”
Sungmin tersenyum. Lalu melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumah. Masih dengan perasaan berbunga-bunga.

***

“Masih ngejar sepupu gue?” tanya seseorang ketika Kwanghaeng menunggu di depan rumah Sungmin.
“Eh Noori! Sejak kapan lo dateng?” tanya Kwanghaeng balik pada Noori, sahabat kecilnya.
“Tadi malem. Mumpung libur. Bosen di asrama. Mampir deh ke rumah om Choi!” jawab Noori. “Eh, lo masih suka tuh main sama Sungmin? Ga malu lagi?”
Kwanghaeng mendengus kesal. “Gue udah SMA, dia SMP. Buat apa gue malu? Cuma beda dikit!”
Ya, Kwanghaeng dulu malu dekat dengan Sungmin yang umurnya beda jauh. Waktu itu Sungmin masih SD, sedangkan Kwanghaeng sudah SMP.
“Noori hyung, ngapain disini?” tanya Sungmin kesal melihat sepupunya ada di dekat Kwanghaeng.
“Oke, gue mau nganter Sungmin ke sekolah. Bye!!” Kwanghaeng langsung menggas motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Reflek Sungmin berteriak sambil memeluk pinggang Kwanghaeng.
“Ckck.. cari kesempatan aja tu anak!” umpat Noori sambil menggelengkan kepala melihat sahabat kecil dan sepupunya itu berangkat bersama.

***

“Hai Sungmin!! Udah pulang?” tanya Kwanghaeng ketika Sungmin lewat di depannya begitu saja.
“Eeeeh Kwang hyung! Sudahlah!! Kalau belum kenapa aku disini?” tanya Sungmin balik.
Kwanghaeng menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Begini nih rasanya jatuh cinta! Begitu pikir Kwanghaeng.
“Mau pulang?”
Sungmin mengangguk. “Iya. Udah ngantuk!”
“Ya udah. Sungmin tunggu sini, aku jemput motor dulu ya!”
Beberapa menit kemudian, Kwanghaeng kembali ke hadapan Sungmin. Sungmin hendak naik. Tapi Kwanghaeng mencengkram tangannya dan mendekatkan wajahnya. Sungmin hampir berteriak. Tapi tidak bisa menolak juga. Ia malah menutup matanya.
“Mau jalan-jalan gak? Malam minggu. Sayang kalau tidak dimanfaatkan!!” kata Kwanghaeng sambil menaikkan kedua alisnya.
Fiuhhh~
Sungmin bernafas lega karena ternyata Kwanghaeng tidak berniat menciumnya. Ia pun segera naik ke motor gede Kwanghaeng yang harganya ratusan juta itu.
“Mau gak? Kan belum dijawab tadi!” tuntut Kwanghaeng setengah memaksa.
“I-iya deh.” jawab Sungmin akhirnya.
Kwanghaeng melepas jaketnya. Lalu memberikannya pada Sungmin.
“Pakai! Malam ini dingin. Aku mau ngebut!” kata Kwanghaeng.
Sungmin menerima jaket Kwanghaeng. Setelah memastikan Sungmin memakainya, Kwanghaeng melajukan motornya perlahan. Makin lama makin kencang. Seperti debaran di hatinya.
“Kwang hyung, jangan ngebut banget dong!!” pinta Sungmin setengah panik.
Kwanghaeng tentu tidak mendengarnya karena ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi, ditambah melawan arus angin. Jadilah suara Sungmin yang tergolong kecil itu terbawa angin tanpa terdengar oleh Kwanghaeng yang memakai helm.
Sungmin mengeratkan pelukannya di pinggang Kwanghaeng. Ia menutup matanya. Takut akan sesuatu yang terjadi. Ia benar-benar panik dan menyesal. Kenapa mau menerima ajakan Kwanghaeng begitu saja? Padahal Kwanghaeng itu kalau menyetir.. lebih dari kesetanan!
Makin lama motor itu berkurang kecepatannya. Berkurang juga erat pelukan Sungmin pada pinggang Kwanghaeng.
Ngeeeeeek~ (?)
Kwanghaeng mendengus kesal. Motornya berhenti tepat di tepi jalan. Kwanghaeng membuka helmnya. Lalu turun dari motor dan memeriksa bensinnya. Sungmin ikut turun tanpa melakukan apapun.
“Aishhhhh jinjja!! Kenapa harus hari ini?!! Saekki!!” Kwanghaeng menendang motor gedenya itu tanpa perasaan. Benar-benar kesal ia sekarang.
“K-kenapa hyung?” tanya Sungmin hati-hati.
Suasana hati Kwanghaeng perlahan membaik. Ia menatap Sungmin dengan tatapan madesu-nya sambil menunjuk panah bensinnya.
“Abis ya hyung?” kata Sungmin dengan nada sedih. Padahal dalam hati ia bersyukur, karena Kwanghaeng pasti akan lebih pelan-pelan lagi menjalankan motornya.
“Cari tukang bensin dimana ya? Ishhhh!!” Kwanghaeng mengacak rambutnya yang sudah berantakan.
Sungmin mengamit tangan Kwanghaeng. Berusaha menenangkannya. Kelemahan Sungmin dari dulu itu takut dengan ekspresi orang marah. Apalagi di dekatnya. Bisa-bisa dia loncat ke jurang saking ngerinya.
Kwanghaeng membalas mengamit tangan Sungmin. Lalu tersenyum sambil mengacak rambutnya.
“Kita dorong? Ah.. aku aja deh. Aku nggak mau bikin Sungmin capek.” Kwanghaeng menarik standar. Lalu mendorongnya pelan-pelan. Dibantu Sungmin di belakang.
“Sungmin, nggak usah! Biar aku aja..” kata Kwanghaeng menyuruh Sungmin untuk tidak mendorong motornya.
“Emang kenapa? Kan aku tadi naik juga.”
“Ya udah deh. Kalo capek bilang ya..”

***

Setelah motor terisi bensin, Kwanghaeng mengajak Sungmin ke danau. Membeli es kelapa muda langganannya dari dulu.
“Enak kan?” tanya Kwanghaeng bangga.
Sungmin hanya mengangguk karena mulutnya penuh kelapa dan airnya. Kwanghaeng tertawa kecil.
“Sungmin belum pernah kesini?” tanya Kwanghaeng, berbasa-basi seperti biasa.
Sungmin menggeleng. Mulutnya masih penuh.
“Jadi ini pertama kali?”
Sungmin mengangguk lagi. Sebenarnya ia enggan menjawab. Karena Kwanghaeng basa basinya terlalu—ahh.. membuatnya pusing pokoknya!
“Sungmin pernah pacaran?”
Sungmin menggeleng. “Nggak.”
“Kenapa? Sungmin kan…”
“Masih gantengan hyung kemana-mana! Harusnya hyung yang punya pacar! Hyung juga udah SMA.”
Kwanghaeng blushing. Hatinya berbunga-bunga. Dunia di sekelilingnya berubah drastis. Bukannya malam yang penuh bintang dan penuh masalah, tapi pagi hari di musim semi.
“Hyung kenapa belum pacaran?” tanya Sungmin, ganti berbasa-basi.
“Karena…” Kwanghaeng menggantungkan perkataannya. Lalu menatap Sungmin dengan tatapan nakalnya seperti biasa. “Aku mencintai seseorang. Dan dia… masih kecil dan.. sama sekali belum mengerti dunia dewasa.”
Sungmin mengangguk. Dalam hati ia bertanya-tanya, siapa orang itu? Kenapa seberuntung itu?
“Tapi.. hyung udah menyatakan cinta?”
Kwanghaeng menggeleng. “Nggak berani. Dianya masih polos. Aku suka sama kepolosannya. Takutnya kalau aku pacarin.. ilang polosnya!”
Sungmin mengangguk lagi. Kali ini wajahnya ditekuk. Kwanghaeng sebenarnya menyadarinya. Hanya saja ia tidak mau menarik kesimpulan.
“Aku juga suka sama orang. Dia tampan, pintar, jago main basket, jago nyanyi, jago dance, baik…”
Giliran Kwanghaeng yang penasaran. Siapa orang itu? Kenapa bisa seberuntung itu mendapatkan hati Sungmin?!
“Sungmin, mau jadi pacarku nggak?” kata Kwanghaeng cepat.
Sungmin langsung tersedak mendengar ucapan Kwanghaeng. Dengan panik Kwanghaeng mencari cara untuk menghentikan sedakan (?) Sungmin.
“Sungmin nggak papa kan?” tanya Kwanghaeng panik.
Sungmin mengangguk. “Hyung sih ngomongnya pas aku lagi makan! Kan kaget~”
Kwanghaeng mengerucutkan bibir. “Kan aku takut keduluan orang. Makanya aku langsung nyatain.”
Sungmin menghela nafas. Speechless. Entahlah ia tidak tahu apa yang harus dijawabnya.
“Mau nggak? Keburu aku diambil orang!” kata Kwanghaeng, super duper ge-er.
“Iya deh!” jawab Sungmin langsung sambil menunduk. Menyembunyikan wajah memerahnya.
“Jawabnya yang ikhlas dong! Masa Cuma ‘iya deh’. Maksa banget!!”
Sungmin mengernyit kesal. “Iya, aku juga mau jadi pacar hyung!!”
“Masih maksa nadanya!”
“aku mau jadi pacar hyung!!”
“Apa??”
“AKU MAU JADI PACAR HYUNG!! PUAS?!” Sungmin berteriak. Membuat perhatian orang-orang tertuju pada mereka. Sungmin panik. Sedangkan Kwanghaeng tetap stay cool. Ia malah mengorek-ngorek buah kelapa yang masih ada.
“Ada syaratnya!!” kata Kwanghaeng setelah menelan air kelapa yang terakhir.
“Apa?”
“Panggil aku chagi!”
“Ani!”
Kwanghaeng menatap Sungmin marah. Hanya untuk menjahilinya, tentu saja.
“Wae??”
“Aku lebih suka memanggil hyung, karena… kita lebih dekat dengan panggilan itu.”
Kwanghaeng mengangguk senang. Lalu mengelus rambut Sungmin sayang. Setelah itu mengecup keningnya.
“Saranghae, Sungmin sayang…”

***

— Dua minggu kemudian —

Sungmin tersenyum senang setelah keluar dari kelas. Ia membawa surat pemberitahuan tentang camp gabungan dari SMP dan SMA Co-Ed. Seperti biasa ia menunggu di depan pintu gerbang. Menunggu kekasih barunya datang.
“Hai sungmin!!” kata Kwanghaeng sambil tersenyum—terpaksa.
“Hyung…”
“Kenapa Sungmin?”
Sungmin menatap Kwanghaeng dengan wajah polos dan penuh perhatiannya. Lalu menggenggam tangan Kwanghaeng yang dingin.
“Hyung sakit?”
Kwanghaeng menggeleng. “Nggak..”
“Terus?”

*

Sungmin tertawa kecil mendengar alasan Kwanghaeng tidak semangat hari itu. Kwanghaeng menceritakannya di tempat pertama mereka menyatakan cinta.
“Kok kamu ketawa? Seneng ya liat pacarnya menderita!” Kwanghaeng memasang wajah cemberut.
Sungmin menghentikan tawanya. Lalu menatap Kwanghaeng dengan mata penuh rasa kecewa. “Seneng gimana? Nanti aku disana sama siapa? Masa sendirian?”
“Kamu ikut?”
Sungmin mengangguk.
“Yaudah. Kalo gitu aku ikut!!” ucap Kwanghaeng langsung.
“Jinjja?!!”
Kwanghaeng mengangguk. Lalu Sungmin tersenyum senang sambil bersorak girang. Kwanghaeng menyukai saat ini. Saat Sungmin tersenyum karenanya.

***

“Gila!! Ini tenda apa rumah? Gede banget!!” tanya Kangho, teman Kwanghaeng, takjub.
Kwnghaeng tersenyum sambil menatap Sungmin penuh cinta.
“Gila!! Gue ikut ya?” pinta Yoosung sambil menatap heran ke tenda yang dibawa Kwanghaeng.
“NGGAK!! Enak aja ikut-ikut!” tolak Kwanghaeng mentah-mentah.
“Sejak kapan lo jahat sama gue, Kwang?”
Kwanghaeng merangkul Sungmin di sebelahnya. “Sejak gue jadiin Sungmin pacar gue! Mau apa lo?!”
Yoosung dan Kangho mendengus kesal.
“Terus gue sama siapa?” tanya Kangho bingung.
“Tuh sama si Yoosung aja! Apa susahnya sih?” jawab Kwanghaeng disambut sambitan topi dari Yoosung.
“Ogah gue sama orgil kayak dia!” kata Yoosung. Lalu berjalan mencari tempat untuk membuat tenda.
“Oke. Silakan berduaan!!” Kangho melambaikan tangan. Lalu ikut berjalan ke arah Yoosung.

***

“Kenapa temen hyung ga disini aja? Kan biar rame. Lagipula.. ini gede banget!” kata Sungmin setelah duduk di dalam tenda besar Kwanghaeng.
“Rame sih ada mereka. Tapi.. NGEGANGGU!! Berisik tau!!” kata Kwanghaeng.
“Tapi kan seru..”
“Seru apanya? Enakan berdua kayak gini!” Kwanghaeng memeluk tubuh Sungmin dari belakang. Lalu menyandarkan kepalanya ke dadanya.
“Kamu denger gak?”
“Denger apa?” tanya Sungmin bingung.
“Denger detak jantung aku. Bisa kamu sembuhin gak?”
Sungmin tersenyum malu di dada Kwanghaeng. Wajahnya memerah. Hatinya berbunga-bunga. Dunia di sekelilingnya benar-benar indah sekarang.
“Eh, pacaran mulu!” Kangho membuka tenda Kwanghaeng tanpa permisi. “Cari kayu bakar buat api unggun nanti!”
“Iya ntar gue cari. Lo duluan aja! Ganggu aja!” kata Kwanghaeng kesal.
Kangho tersenyum bodoh. Lalu kembali menutup pintu tenda Kwanghaeng dan Sungmin. Tapi..
“Udah disuruh!! Cepetan!!” kata Kangho lagi.
“Ah!! Ganggu aja lo!” Kwanghaeng akhirnya menarik tangan Sungmin paksa. Mengajaknya mencari kayu bakar.
“Ehhhh kamu ngapain bawa anak SMP nyari ke hutan?” tanya Han sonsaengnim, guru Kwanghaeng.
“Daripada saya bawa anak tuyul mendingan bawa anak SMP kan saem? Tapi dijamin aman deh!!” Kwanghaeng memberi jaminan.
“Ya sudah. Cari yang banyak! Kalau bisa buat sampe minggu depan.” Kata Han sonsaengnim lagi.
“Bukannya kita lusa pulang ya? Buat apa banyak-banyak? Bapak ngarang bebas deh!” Kwanghaeng langsung membawa Sungmin kabur, karena Han sonsaengnim sering menyambit muridnya yang tidak patuh dengan sepatu.

***

“Hyung baru pertama kali ikut camping ya?” tanya Sungmin polos setelah anak-anak santap malam. Kwanghaeng dan Sungmin sama-sama membawa kopi cappucino. Mereka menyeduhnya dengan sisa air yang teman-temannya buat.
“Ne.. dan itu semua karena kau!” Kwanghaeng mengacak rambut Sungmin gemas. Lalu mengecup pipinya kilat. Tapi walaupun begitu, wajah Sungmin tetap menampakkan rona merahnya.
Sungmin menyandarkan kepalanya di lengan Kwanghaeng. Lalu mencari tangannya di tengah kegelapan. Setelah itu menggenggamnya penuh kehangatan.
“Tangan hyung hangat~” ucap Sungmin, polos!
“Baru sadar, eoh?” tanya Kwanghaeng jahil. “Lebih hangat mana dengan ini.” Kwanghaeng menyambar bibir tipis Sungmin. Melumatnya lembut tanpa mendapat perlawanan. Sungmin tidak tahu harus berbuat apa. Nafasnya tercekat. Oksigennya hampir habis.
“Hmmmmppppphhhhh…” desah Sungmin di tengah ciuman mereka.
Kwanghaeng memperdalam ciumannya. Ia menekan kepala Sungmin dan mendekatkan tubuhnya ke tubuh kecil Sungmin.
“hosh.. hosh.. hosh…” Sungmin langsung mengambil nafas dalam-dalam setelah ciuman itu dilepaskan. Kwanghaeng puas. Hasratnya terpenuhi.
“Hyung…” Sungmin menatap Kwanghaeng. Tatapannya tidak bisa di artikan. “Hyung…”
Kwanghaeng terdiam. Baru datang rasa itu. Rasa menyesal. Itu ciuman pertama Sungmin! Bisa dipastikan Sungmin tidak bisa terima.
“Ya!! Cepat tidur!” teriak salah satu guru SMP. Kwanghaeng menatap sekeliling. Tidak ada makhluk lain yang terlihat kecuali dua guru laki-laki yang sedang berjaga malam.
“Tidur yuk. Udah malem.” Kwanghaeng mengajak Sungmin ke dalam.

***

Sungmin terus bergerak mencari tempat untuk tidur yang nyaman. Ia tidak bisa tidur dari tadi. Entah apa penyebabnya. Apakah karena kopi cappucino yang tadi ia minum bersama Kwanghaeng atau… ciumannya dengan Kwanghaeng?
Sungmin terus memegangi bibir merahnya. Tidak percaya kalau Kwanghaeng menciumnya! Lama!! Kalau ia boleh jujur, ia ingin melakukannya sekali lagi.
“Kok belum tidur?” tanya Kwanghaeng lembut dengan suara bergetar.
“Nggak bisa tidur.” Jawab Sungmin sambil membalikkan badan menghadap Kwanghaeng.
“Mau kupeluk eoh?” tanya Kwanghaeng menggoda. Wajah Sungmin memerah lagi.
“Hyung…” Sungmin memanggil Kwanghaeng. “Aku mau ciuman lagi..”
DUAGHHHHHHHHH!!!
Kwanghaeng seperti ditonjok. Matanya 100% melebar. Rasa kantuknya hilang ditelan pernyataan Sungmin.
“Ciuman itu enak. Pengen lagi..” kata Sungmin polos.
Kwanghaeng tersenyum. Lalu menatap Sungmin lekat-lekat. Ia mengelus pipi mulus Sungmin.
“Kita lebih aja. Mau?” tanya Kwanghaeng.
Sungmin tidak mengerti. Terlalu polos bagi anak umur 14 tahun untuk mengerti itu. Tapi Sungmin penasaran. Lagipula ia percaya Kwanghaeng tidak akan melakukan yang terburuk untuknya.
Perlahan Kwanghaeng mendekatkan wajahnya ke wajah Sungmin. Lalu meraih bibir Sungmin dengan bibirnya. Awalnya memang lembut. Sangat lembut. Sampai-sampai Sungmin terbuai dan ikut menggerakkan bibirnya. Ia membuka bibirnya sedikit. Lalu dirasakannya sebuah benda berliur mengelilingi rongga mulutnya.
“mmmpphhhhhhh.. ckck… mpphhhh…” desah mereka berdua pelan.
Perlahan Kwanghaeng bangun dari posisinya tanpa melepas ikatan bibir mereka. Sungmin merasakan bagian bawahnya mulai tegak sempurna. Sungmin mengeliat. Ingin ‘membenarkan’ posisi junior kecilnya.
Ciuman Kwanghaeng perlahan turun ke lehernya. Sungmin terkikik geli ketika Kwanghaeng menghisapnya pelan. Kemudian hisapannya tambah dalam dan meninggalkan bekas kemerahan. Sungmin meringis pelan.
“Tenanglah. Tidak akan lama.” Kata Kwanghaeng lembut. Lalu membuka satu persatu kancing kemeja Sungmin.
Sungmin sempat bingung. Tapi akhirnya ia menerima saja. Apalagi setelah Kwanghaeng menghisap putingnya. Langsung terasa nikmat sampai seluruh badan.
“Ahhhh…” desah Sungmin tanpa sadar. Kwanghaeng tersenyum. Lalu kembali melumat dan menghisap puting kanan Sungmin. Tangan kirinya bertugas memelintir puting Sungmin satu lagi. Kembali Sungmin merasa darahnya berdesir dari atas kepala sampai ujung kaki.
“Hyung-ahhhhhhh… shhhhhh… mpphhhhhhh…” Sungmin menutup rapat pahanya. Tapi senjatanya yang terbungkus celana jeans itu menyembul. Kwanghaeng pun juga.
Kwanghaeng melepas celananya yang sesak. Lalu memperlihatkan junior besar nan tegaknya pada Sungmin. Tanpa disuruh Sungmin langsung bangun dan memijat pelan junior super Kwanghaeng.
“Kyeoptaa~” ucap Sungmin. Lalu memainkannya dengan jarinya sambil tertawa.
“Ya!! Hisaphhhh… ahhhkuuuuu… ahhh…” belum sempat Kwanghaeng menyelesaikan kalimatnya, seorang guru datang dan berteriak dari luar. Bayangannya tercetak di dalam tenda.
“Kalian sudah tidur?” tanya guru itu. Kwanghaeng langsung menaikkan selimut dan menundukkan paksa kepala Sungmin dan menutupi tubuh keduanya dengan selimut. Takut ketahuan.
“Oh.. ternyata sudah!” ucap guru itu akhirnya. Lalu kembali ke tempatnya berjaga.
Kwanghaeng dan Sungmin sama-sama menghela nafas lega. Mereka saling bertatapan. Kwanghaeng lalu tertawa kecil sambil mencubit pipi Sungmin.
“Mau lanjut lagi?” tanya Kwanghaeng menawarkan.
Sungmin mengangguk.
“Tapi jangan bersuara ya..” bisik Kwanghaeng lembut. Lalu kembali membuka selimut yang menutupi tubuh mereka berdua dan melanjutkan permainan.
Sungmin mulai memainkan junior besar Kwanghaeng di mulutnya. Ia menyedotnya kuat dan menggigit pelan ujung juniornya. Kwanghaeng hanya bisa menggigit bibir bawah sambil meremas selimut untuk mengekspresikan rasa nikmatnya.
“Hyunghhh.. mau keluar!!” kata Kwanghaeng pelan sambil menahan desahannya.
Crooot~~
Cairan sperma dari junior Kwanghaeng menyembur memenuhi mulut Sungmin. Sungmin langsung memuntahkannya karena kaget.
“Mianhae..” kata Kwanghaeng sambil mengelus tengkuk Sungmin.
“Gwaenchana…” balas Sungmin lemas.
“Adikmu mau..” Kwanghaeng mengelus junior kecil Sungmin yang masih berbalut kain.
Sungmin tersenyum. Hampir saja ia mengeluarkan suara kalau Kwanghaeng tidak menempelkan jari telunjuknya ke bibir Sungmin. Kwanghaeng kembali mencicipi bibir Sungmin. Sambil berciuman Kwanghaeng membuka pakaian yang melekat di tubuh Sungmin. Sungmin juga membantu Kwanghaeng membuka pakaiannya. Tanpa mereka sadari mereka sudah benar-benar bersih. Tidak ada sehelai benangpun melekat di tubuh mereka. Kini posisi mereka seperti di awal. Kwanghaeng on top.
Kwanghaeng menggenggam junior Sungmin yang lebih kecil darinya. Lalu mengocoknya pelan.
“Ahhh.. ahhh hyunggggghhhhh… shhhhhhh….” Kwanghaeng sudah tidak mempedulikan lagi desahan Sungmin yang terdengar keras itu. Baginya suara desahan Sungmin itu manis.
Kwanghaeng terus memainkan junior kecil Sungmin di tangannya. Ketika junior Sungmin mulai berkedut, Kwanghaeng memasukkan juniornya ke mulutnya.
“Hyungggg… mauu pipisssssshhhhhhhh… ahhhhhhh…”
Sungmin mencoba menahan rasa ingin ‘pipis’nya itu. Wajahnya pucat. Tapi Kwanghaeng tidak berkomentar dan melepaskan juniornya dari mulutnya.
“Hyunggggg akuuuuuu mau pipisssshhhhhh ahhhhhhhhh…” tanpa bisa ditahan, Sungmin mengeluarkan cairannya. Tubuhnya menegang. Hatinya lega. Raut wajahnya juga ikut lega. Kwanghaeng terus meminum cairan sperma yang di keluarkan Sungmin.
“Hyung minum…” Sungmin menatap tak yakin ke arah Kwanghaeng yang sepertinya masih mencari sisa-sisa cairan keluaran Sungmin di sekitar mulutnya.
“Itu sperma. Cairan laki-laki. Bukan air kencing. Kalau kau merasa mau pipis, berarti kau akan orgasme.” Kwanghaeng tersenyum lembut. “Mau ke bagian inti?”
Sungmin mengangguk. Lalu membenarkan posisinya dan melebarkan pahanya. Entah ia dapat ide darimana untuk melebarkan paha. Kwanghaeng pun tidak bisa bersabar. Ia langsung memasukkan juniornya ke hole Sungmin tanpa pemanasan.
“Hyuunnngggggggg sakiiiiiiiiittttttt!!!!!” teriak Sungmin tanpa sadar. Kwanghaeng langsung menutup mulut Sungmin paksa. Langkah seseorang terdengar mendekat. Kwanghaeng kembali menarik selimut menutupi tubuh telanjang mereka berdua.
“Sepertinya mengigau!” lapor guru yang mengamati tenda Kwanghaeng. Lalu kembali berjaga di tempat guru satunya lagi berjaga.
“Mian hyung..” Sungmin memasang wajah bersalah.
“Gwaenchana. Aku juga salah.” Kwanghaeng mengelus pipi Sungmin lagi. Kembali ia mengarahkan bibirnya ke bibir Sungmin.
Sungmin terbawa suasana. Ia membalas pagutan bibir Kwanghaeng. Mereka beradu lidah dan bertukar saliva. Beberapa liur ada yang keluar dari bibir keduanya.
“errghhhhhhh…” Sungmin mengerang pelan ketika bibirnya digigit pelan oleh Kwanghaeng untuk menghentikan ciumannya. Kwanghaeng kembali memberikan bekas cium di leher Sungmin sambil memelintir putingnya lagi. Lalu kembali mencoba menerobos hole Sungmin yang belum pernah dimasuki oleh siapapun.
“Shhhhh…” rintih Sungmin pelan untuk menjaga suasana.
Kwanghaeng mencoba memasukkan junior besarnya ke lubang Sungmin. Ia menggerakkan pinggulnya.
“Ahhh… ahhhh… hyuuuungggggg-ahhhhhhh…”
“Waittttt….” Kwanghaeng akhirnya bisa memasukkan junior besarnya ke lubang Sungmin selang 7 menit. Ia beristirahat sejenak. Kembali mencicipi bibir Sungmin. Menghisap bibir atasnya kemudian menggigit bibir bawahnya.
Kwanghaeng menaikkan tubuhnya perlahan. Lalu mempercepat genjotannya sampai membuat tubuh Sungmin ikut bergetar. Tangan Kwanghaeng bertumpu pada pundak Sungmin.
“ahhhhhh shhhhhhhhhhhh… mmmppppphhhhhhh….. hhhhhhhhhaahhhhhhh…” Sungmin terus mendesah dengan suara kecil yang hanya terdengar di kupingnya dan juga kuping Kwanghaeng. Ia tidak tahan menahan rasa nikmat ini.
Croooootttt~
Tanpa pemberitahuan lebih dahulu junior Sungmin dan Kwanghaeng mengeluarkan cairan di waktu yang sama. Sungmin merasa kehangatan di dalam dirinya. Kwanghaeng lalu ambruk di tubuhnya. Tubuhnya yang basah penuh keringat terasa sangat lengket. Tapi itu tidak masalah bagi Sungmin.
“Gomawo.” Kata Kwanghaeng setelah mencabut juniornya dan kembali merebahkan diri di sebelah Sungmin.
“Untuk apa?” tanya Sungmin bingung.
“Untuk semuanya.” Jawab Kwanghaeng lagi. Ia mengambil pakaian yang berceceran di dalam tenda. Lalu menepikannya. Setelah itu ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
“Saranghae~” ucap Kwanghaeng sambil menutup matanya. Mengantuk, tapi masih sempat tersenyum.
Sungmin membalas senyum manis Kwanghaeng. “Na do saranghae, Kwanghaeng hyung.”
Sungmin memejamkan matanya perlahan. Menggeser tubuhnya agar makin dekat dengan Kwanghaeng. Mendengar lagu pengantar tidurnya, detak jantung Kwanghaeng.

***

“KWANGHAENG, SUNGMIN, BANGUN!!!!!!!!!!” teriak orang dari luar.
“YAA!! KWANGHAENG BANGUUUUUUN!!!!!” sahut yang lainnya.
Kwanghaeng membuka matanya perlahan. Lalu menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari yang ada. Sayup-sayup suara teriakan orang diluar memanggil namanya terdengar.
“Chagi, ireona!!” Kwanghaeng menggoyangkan tubuh Sungmin pelan. “Sungmin sayaaang, kita dalam masalah.” Bisiknya.
Sungmin melenguh pelan. Hal yang dirasakan pertama kali adalah sakit di bagian bawahnya. Tapi ia berusaha bangun dan memakai pakaian yang semalam melekat di tubuhnya.

*

“Sakit..” rintih Sungmin ketika sedang memancing di sungai yang tak jauh dari tenda mereka.
“Awalnya begitu. Aku juga sakit.” Jawab Kwanghaeng sambil terus memperhatikan pancingannya.
“Tapi hyung terlihat biasa.”
Kwanghaeng tersenyum lebar. “It’s because of you..”
Sungmin menyandarkan kepalanya ke pundak Kwanghaeng. Ia memperhatikan pancingannya. Berharap ada ikan yang tertarik pada umpannya.
“Cepat beritahu aku apa yang terjadi semalam!!” bisik Yoosung yang tiba-tiba datang di samping Kwanghaeng.
Kwanghaeng dan Sungje sama-sama kaget.
“Palli!! Aku akan menjaga rahasia!!” timpal Kangho di belakangnya.
Kwanghaeng menatap Sungmin. Kali ini wajahnya terlihat panik. Terlebih Sungmin. Ia takut sesuatu akan terjadi.
“Kalau tidak, kalian bisa kan jelaskan siapa yang mendesah malam-malam?”
DUARRRRRRRRRRRR!!!!!
Sungmin dan Kwanghaeng sama-sama mengatupkan bibir.

*******

END

NC-nya kurang ya? Romancenya kurang ya? Komedinya kurang ya? Ahhh endingnya ancur yah???
Maafkan saya !!
Ini kemauan saya, bang rascal dan mas solid XDD


<3 FF OnKey <3 "Saranghae" [YAOI/Short One Shoot]


Title : Saranghae

Main cast : OnKey

Length : Short One Shoot / YAOI

Author : Keyicha / Song Hyun In

 

#################################################################

 

“Key hyung, kau serius mau mendekati namja bernama Lee Jinki itu”, Taemin berbisik pelan. Taemin dan Key, dua orang namja cantik tengah memperhatikan seorang namja tampan berpipi chubby yang sedang duduk di bangku yang terletak di sudut perpustakaan sambil membaca buku amat tebal berjudul ‘Hal2 Penting dalam Dunia Kedokteran’,dan sesekali ia membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot.

“Tentu saja. Wae?”, Key agak heran dengan pertanyaan Taemin. Taemin memandang Key tidak percaya, “Eng…dia agak aneh, hyung. Bukankah banyak namja tampan yang menyukaimu, eoh? Mengapa kau malah memilih namja gendut dan aneh itu?”. Pertanyaan Taemin sungguh tidak sopan. Key jadi tersinggung karenanya.

“Hey..baby Taeminku sayang, cinta bukan melihat dari penampilan luarnya saja, tapi juga dari hati”, Key memegang dadanya dramatis saat mengatakannya. “Lee Jinki itu unik dan beda dari semua namja yang aku kenal. Suatu saat kau pasti akan mengerti”, ucap Key masih dengan gaya melodramanya, lalu beranjak dari tempat duduknya. Taemin hanya bisa menganga melihat sikap Key. Ini seperti bukan Key yang ia kenal. Apa itu semua karena ‘cinta pada pandangan pertama’ seperti yang pernah Key bilang padanya? Molla…?

—–

Lagi2 Key memperhatikan Jinki secara diam2. Kali ini Jinki sedang membaca buku kumpulan puisi di balkon sekolah. Key menarik nafasnya dalam. Sungguh ini bukan seperti dirinya. Biasanya ia adalah namja yang sangat percaya diri. Tapi mengapa ketika melihat sosok Jinki yang bahkan jauh dari kata ‘cool’ membuat keberaniannya menciut? Key menghembuskan nafas lagi.

‘Ok Key…yakin lah dan percayalah. Yup..semangat!!’, Key menyemangati dirinya dan berjalan mendekati Jinki. Di lihatnya Jinki sedang duduk di sudut balkon dan masih membaca, namun mimik mukanya terlihat penuh kelembutan dan sudut bibirnya membentuk senyuman kecil yang membuatnya terlihat tampan. Dan kali ini ia juga tidak memakai kacamata. Mata sipitnya yang bening penuh pesona dan rambutnya yang berkibar tertiup angin membuat Key semakin terpesona.

“Ehm… Jinki!”, Key memanggil Jinki ragu.

Jinki mendongakkan kepalanya. Ia seperti sedikit terkejut akan kedatangan Key. “Eh.., kau..?”, tiba2 saja pipi gembil Jinki memerah.

“Maaf mengejutkanmu”, Key merasa tidak enak. “Eerrr…aku cuma mau bilang…aku…ehm…aku.. menyukaimu”, Key mengucapkannya pelan dengan nafas tertahan. Ia menunggu..,menunggu reaksi Jinki. Bagaimanapun, ia harus siap dengan jawaban penerimaan ataupun penolakan. Tiba2, ia melihat Jinki menjatuhkan bukunya. Jinki hanya diam membisu dengan mulut menganga. Ok… Key mencoba berpikiran positif. Mungkin Jinki kaget dengan pernyataannya barusan.

“Ah..jeongmal mianhae..aku tìdak bermaksud..ehm aku..”, Key bingung harus berkata apa. Ia lalu mengambil buku Jinki dan akan memberikannya ketika ia melihat coretan2 dan tulisan2 di buku itu yang memuat namanya.

#Key…nama yang cantik sesuai dengan wajahmu yang memang amat cantik. Aku sangat menyukaimu.. Tapi mungkin aku hanya bisa mengagumimu dari jauh saja.
Key…ingin sekali aku mengenal dan bicara denganmu. Tapi aku takut..takut jika kau menolakku. Apa aku terlalu pengecut, eh?#

Key membaca kalimat2 indah yang penuh kejujuran itu. Ia tidak menyangka kalau ternyata Jinki juga menyukainya.

“Jinki ini…??”, wajah Jinki semakin memerah. Pipinya yang gendut semakin kelihatan seperti tomat rebus. Detik berikutnya, Jinki mengangguk dan berbisik pelan, “Saranghae..”

### The End ###

=..=” Eerrr… Crita yang aneh. TwT

Comment please..!!! >___<