fanfiction for our soul

Arsip Penulis

Satu Hubungan [1shoot / YooSu]


Sequel dari “Still have dolphin”

DB5K (c) 2003 SMEnt.

by intan9095

Warning: mengandung tentang pengidap penyakit Skizofrenia (secara kejiwaan), typo(s), OOC (semoga enggak ada).

Author’s note:  MOHON MAAF, sekali lagi MAAF karena fanfic yang berjudulkan XIAH “also kill the bastard like you” akan saya tarik lagi, sekaligus menghapusnya dari blog ini saja. Karena setelah membaca ulang secara keseluruhan, fanfic tersebut fokus pada pair STRAIGHT, walau nantinya akan bermunculan pair JunChun, YunJae, SaiMin, dsb, walau kemungkinan berEndingkan Boyslove (entah mau menjadi pair yang bersama atau terpisah), sekali lagi inti cerita tersebut adalah STRAIGHT.

Mohon maaf semuanya atas kecerobohan saya >< Sekali lagi maaf, bagi yang masih berminat untuk membaca, bisa dilihat dari note FB saya ^^ Terimaksih.

##

Aku terperangah. Takjub sungguh pada dua objek yang ku lihat sekarang. Melikuk-likuk dan melompat-lompat melewati setiap cincin dan mendarat kembali, menghasilkan banyaknya gemercik air yang menerpa kulitku. Ternyata, tidak ada salahnya untuk mengikuti usul ‘dia’ untuk seperti ini.

Ah, sudah hampir berjam-jam terlewati, aku benar-benar telah terhipnotis, mungkin? Bahkan sama sekali tidak merasa jengah. Tidak akan. Aku merasa sepertinya dua objek itu tengah bernyanyi di setiap atraksi mereka. Aku berpendapat demikian. Namun sepertinya sosok di sampingku saat ini berbeda haluan—dalam pendapat…

“Yoochun-ah! Lihat itu! Lihat!” jari telunjuknya menunjuk sebuah objek yang sedang mencoba mendekati tepian kolam mendekati kami. Wow, makhluk ini manis sekali. Sedikit menyilaukan akibat terik sinar matahari, tidak menyulitkan juga untuk melihatnya lebih dekat.

“Boleh aku pegang?” tanyaku pada sang pawang. Cukup satu anggukan, perlahan aku mengulurkan tanganku, menyentuh kulitnya yang licin dan basah. Ia bersuara. Ini yang ku sebut ia sedang bernyanyi. Kenapa? Itu…

“Aku mau pegang juga, Yoochun! Jangan curang!” sebuah tangan lainyapun ikut terulur. Ikut merasakan lumba-lumba abu-abu putih ini. Aku merasa sepertinya lumba-lumba ini baru saja tersenyum lebar, ada kecendrungan seperti mengatakan sesuatu yang tidak aku pahami. Maka aku hanya mengernyitkan kening. Lain halnya dengan pemuda di sampingku ini, ia seperti benar-benar mengerti bahasa lumba-lumba, terus tersenyum dan sesekali berbicara sendiri. Aku kembali menarik tanganku. Ia melirik ke arahku, lalu iapun ikut menarik tanganya. Aku hendak mengambil handuk dari dalam tas untuk membersihkan tangan yang masih terasa licin, namun ia menghentikan gerakanku dengan menahan pundak ku.

“Jarang sekali kamu menyentuh lumba-lumba lho. kalau di bersihkan, percuma saja barusan kamu menggoda lumba-lumba itu. Hahaha!”

Aku berani bersumpah. Dia dapat melihat air wajahku yang begitu memalukan saat ia tertawa barusan. Bagaimana tidak? Ia tertawa lepas dengan wajahnya yang masih basah oleh gemercik air barusan serta efek cahaya yang entah dari lampu di sekitar sini atau memang dari matahari atau dari dirinya sendiri? Apapun itu, ini yang aku sebut barusan.

Ia tertawa seperti lumba-lumba, ia bernyanyipun tak akan pernah lepas dari oktaf-oktaf lumba-lumba. Sifatnya yang periang dan selalu pada jalan positif di benaknya adalah kunci dari setiap keberhasilan yang ia dapat.

Aku sangat bersyukur saat ia mengatakan bahwa hanya aku sahabat pertama dan mungkin sahabat terakhirnya pada masa berkepanjangan ini *lebay*. Ku anggap itu guyonan buatanya. Tapi yang aku dapat hanya pukulan telak di pelipisku karena tidak mempercayainya. Sejak saat itu aku telah mengetahui semuanya. Ia hanya sendiri dan benar-benar kesepian. Semua temanya telah mengkhianatinya. Ironis.

Ia kembali bertaut pada lumba-lumba yang masih berdiam diri di tepian menyaksikan kami berdua yang sibuk adu argument.

“Baiklah, memang itu kemauanmu, sayang sekali.” Ia bangkit berdiri dan membenahi barang-barang yang tergeletak tidak beraturan di lantai. Menenteng tasnya kembali lalu pergi meninggalkan tempat.

Buram…

#

Yoochun membeku di tempat dalam beberapa detik, kekosongan terhadap pandanganya berubah jauh seperti memicing. Ia berdiri lalu melirik pada kolam di sampingnya, seringai kecil tampak di wajahnya…

#

Yoochun POV

Ada satu hal yang masih terbesit di pikiranku, mengapa panggilanku untuk memintanya kembali tidak di hiraukan? Aku rasa dia dapat mendengarnya dengan baik.

Setelah mengucapkan salam hangat pada pawang, aku langsung ikut menyusulnya. Tak seperti yang di harapkan, dia sudah berjalan jauh sepertinya. Aku tidak dapat melihat siluet bayangnya sama sekali. ‘Apa ini perasaanku saja ya? Bukankah barusan itu jalan arah renovasi tegangan tinggi?’pikirku. Ya, ini memang jalan yang sudah memasuki daerah alat-alat berbahaya. Memang sejak kapan dia berani mengarah pada hal beginian? Aku harus mengejarnya, anak itu selalu nekat.

“Ah, apa ini?”

“Junsu-ah!”

Kenapa dengan bocah itu? Dia sedang dalam situasi tidak memungkinkan. Berdiri yang dekat pada tabung besar berisi bahan bakar dan kabel-kabel listrik yang berbelit di sekelilingnya. Junsu? Ia sedang berjongkok memunguti sesuatu di bawah sana, aku langsung mendekatinya. Namun ternyata ia sudah dalam posisi berdiri lagi dan berbalik. Mimik wajahnya berubah menjadi sangat ceria begitu melihatku. Ia langsung berjalan cepat ke arahku, langkahnya terhenti.

Aku memang sedang tidak salah lihat, bukan?

Kakinya terbelit oleh kabel listrik barusan. Ya memang hanya terbelit. Namun apa selanjutnya itu yang membuatku entah berpikir kemana dengan tidak menentu. Beberapa teriakan dari konduktor—terlihat seperti itu di sekitarnya, meneriakinya untuk melepas sepatu semacam boots kulitnya dan pergi lari. Aku yakin sebenarnya Junsu mendengar itu semua, tetapi dia tetap bersikeras menarik-narik kakinya penuh kepanikkan. Sangat panik sampai kakinya benar-benar terikat pada simpul kabel.

Aku membeku di tempat. Seakan pembuluh darahku berhenti menyalurkan sel-sel darah dari dalam tubuhku pada jantung yang hanya memompa dilema. Banyak sekali potongan-potongan kisah yang tiba-tiba menyusup ke dalam pikiranku, dimana salah satunya adalah sesaat sebelum Junsu keluar dari wahana atraksi beberapa waktu,

Bukan. Tetapi beberapa tahun lalu…

Flashback on

“Aku tidak terlalu menginginkan ini semua, sungguh. Ta-tapi aku sangat bersyukur kamu mau berteman untukku…”

“Ja-jadi, kamu sudah tahu ‘kan penyebab aku tidak mempunyai teman sampai saat ini? Maksudku, aku tidak tergantung pada penyebabnya. Tapi aku penah membuat sebuah permohonan saat ulang tahunku, itu… ya, agar kamu tidak menjauh dariku karena — Hehehe..”

Flasback off

Mengharukan sekali, aku tidak mengingat utuh apa yang ia ucapkan di kelas saat pelajaran selesai. Padahal saat itu aku berkonsentrasi penuh pada apa yang ia katakana sampai membuatnya menjatuhkan bulir-bulir air mata yang tak pantas ia keluarkan sebagai lelaki.

Kepalaku di buat sakit untuk mengingat itu semua sampai aku melupakan sosok yang sedang di ambang pengakhiran hidup di hadapanku yang begitu lemah tak bisa berbuat apa-apa. Semakin ramai, semakin di kerumungi pengunjung. Ini bukan tontonan!

“Aaaaahh!”

Aku dapat mendengar teriakanya, teriakan yang mengingatkanku pada lumba-lumba barusan. Ya, perlahan aku mulai mengingat itu semua. Tetapi, tidak tepat pada waktunya sampai saat tabung itu jatuh dan tumpahlah semua isi tersebut. Ada beberapa pesan yang barusan dipampang sebelum berbelok pada jalan panjang ini.

Mungkin aku sedang berkhayal jika ternyata semakin jelas suara-suara gemuruh seperti lebih dari seorang di dekatku—kenyataan di sini semua dalam masa keheningan. Aku merasa seperti ada sebuah kehangatan yang merengkuhku sampai aku melihat sinar matahari mulai berubah memerah darah, aku tidak peduli.

Ya, aku dapat memastikan semua janjiku untuk Kim Junsu akan berakhir di sini. Aku memang sudah tidak bisa menepati janji saat listrik itu bereaksi oleh cairan minyak yang menjalar hingga terbakar sudah apa yang ada di hadapanku. Awal adalah ledakan setelah seseorang memanggil namaku penuh harap lalu terakhir adalah lautan api yang bersulut-sulut hingga melahap semuanya. Jeritan-jeritan memilukan ikut menyertai pemandangan na’as tersebut.

“Tuhan…”

Akhir dari semua ini adalah saat dimana tubuhnya jatuh, di dekat kakiku dengan keadan yang sangat mengerikan, bahkan untuk di lihatpun tak layak, sangat. Lalu barulah semua itu muncul, sinar barusan semakin terang dan terlalu cepat dan sangat cepat, semakin silau…


“Chun…”

.

“Chunnie…”

.

“Chunnie-ah!”

.

“Yoochun! Yoochun! Sadar! Hei!”

Apa itu barusan? Sebuah tangan sudah merengkuhku dan menepuk-nepuk pipiku dengan hebat sampai sakitnya tak terhingga. Aku tidak bisa membuka kedua mataku, terlalu berat dan ya, aku sepertinya menangis dalam keadaan seperti ini.

Telingaku dapat mendengar banyaknya suara yang begerumuh di sekitarku, entah itu wanita maupun pria, yang jelas jumlahnya terlalu banyak, salah satunya suara Junsu.

“Jangan membuatku tambah khawatir! Park Yoochun!”

Aku membuka kedua mataku perlahan, sangat pelan sampai rengkuhan pada tubuhku mengerat. Basah, tubuhku terasa basah dan rambutku lumayan berat akibat menyerap banyak air. Dan hal pertama yang aku lihat saat semua jelas adalah sosok Junsu yang tersenyum penuh arti dan mengehala nafas lega begitu melihatku. Ia basah, sama sepertiku, sebenarnya apa yang terjadi? Bukan hanya dia, pawang yang barusan aku lihat saja ikut menghela nafas lega dengan beberapa orang lainya yang tidak aku kenali.

“Lain kali jangan tiba-tiba menceburkan diri ke kolam ya! Untung lumba-lumba itu menangkap tubuhmu cepat, kalau tidak, entah aku dapat melihatmu bernafas lagi atau tidak sekarang!”

Dan aku mulai mengerti apa dari yang aku alami barusan. Terlalu terbawa dalam pikiran sendiri sampai aku melakukan tindakan berbahaya dan membayangkan hal itu terjadi pada Junsu. Aku mulai mengerti mengapa ia di jauhi teman-temanya. Aku mengetahui sekarang posisi akulah yang seharusnya di jaga dan bersyukur mendapat sahabat terbaik sepertinya, membawaku pada tempat yang sesuai dan mengetahui semua kelemahan dan kelebihanku.

Mungkin memang selayaknya untuk di jauhi karena akan berakibat fatal. Namun aturan tersebut sama sekali tidak berlaku untuknya, ia menyayangiku dan sebaliknya. Menerima apa adanya karena ini atas Tuhan yang mentakdirkan.

“Gomen, Junsu-ah,” tanpa sadar kedua pipi itu bersemu ketika aku mengecup bibirnya sekilas.

#

OMAKE

JBUURRR!

Junsu menghentikan langkahnya. Ia segera berbalik begitu mendengar suara keras dari arah belakangnya, perasaanya memang dari awal sudah buruk ketika meninggalkan Yoochun di sana. Ternyata memang benar, tiba-tiba saja Yoochun berlari mendekati pinggiran kolam dan melompat hingga beberapa orang di sana yang tersisa terkejut.

Beberapa lumba-lumba di dalam kolam sana segera mengejar tubuh Yoochun yang semakin tenggelam ke dalam, jauh… membiarkan air terhisap ke dalam tubuhnya…

“Yoochun! Yoochun!” jerit Junsu sembari melepas tasnya dan melemparnya sembarang. Ketika ia hendak ikut melompat, sebuah tangan menahan dirinya…

“Jangan lakukan itu, sudah aku minta pada mereka untuk menolong temanmu.” kata pawang tersebut menunjuk ke dalam kolam—lumba-lumba.

Junsu terdiam, beberapa saat kemudian tubuh Yoochun terlihat mengambang di sana…

#

“Arigatou.. hmm…”
“Panggil saja Changmin.”

“Ah ya Changmin, aku berterimakasih banyak. Jika kamu tidak cepat meminta lumba-lumba itu mengejar Yoochun, mungkin aku sudah kehilangan dia sekarang. Sekali lagi, aku berterimakasih banyak!” Junsu membungkuk sedalam-dalamnya.

“Tidak perlu membungkuk seperti itu tuan…” Changmin segera membetulkan posisi Junsu untuk kembali berdiri tegak. “Yang penting sekarang temanmu sudah tertolong dan baik-baik saja bukan?”

Junsu mengangguk cepat lalu tersenyum hangat. Tak berapa lama kemudian ia kembali menunduk. Mereka berada di depan tempat dimana para pengunjung yang menerima kecelakaan untuk menetap di situ *aye kaga tau namanya apa -,-*, hari menunjukan petang.

“Kalau boleh tahu, kenapa dengan temanmu?”

Junsu menghela nafas panjang lalu tersenyum kembali, “Tidak ada apa-apa, dia frustasi mungkin atas kepergianku barusan, hehehe.”

‘Dasar bocah kepedean’ pikir Changmin. “Ah, aku serius~”

“Yayaya, itu rahasia, nanti akan kuceritakan jika kita sudah saling mengenal, hmm.. hampir 10 tahun!”

Changmin jawsdrop. Junsu menepuk bahunya, “Aku mengenalmu tuan Shim. Jangan pura-pura, dulu kita satu tempat kerja bukan? Aku ingat kamu orang yang seenaknya merubah atmosfir di pub saat aku berusaha menenangkan Yoochun. Memangnya kita mau kawinan apa?” lalu mendorong bahunya keras yang hampir saja Changmin oleng.

“Hahaha! Aku kira kamu sudah lupa, padahal sudah 2 tahun loh kita enggak reunian lagi. Ya aku lakukan itu karena aku rasa kamu seperti istri pengganti kekasih Yoochun, dan… hati-hati dalam mengucapkan antara kawin dengan menikah ya, beda makna loh~” Changmin mengacak-acak rambut Junsu sambil tertawa renyah, sedikit ada senyum misterius di wajahnya. Junsu menepis tangan Changmin lalu mendengus.

“Dasar mesum! Piktor! Racun dunia!” umpat Junsu.

“Ngaco.”

“Apapunlah, aku mau membawa Yoochun pulang dan ka—”

“Aku memang tidak mengenal Yoochun secara baik-baik. Tapi aku tahu kamu denganya sudah bersahabat baik hampir 25 tahun. Lain halnya denganku, aku juga tidak tahu jelas bagaimana perasaanmu ketika tahu dia memang sedang ‘sakit’. Tapi aku tahu kamu menyimpan rahasia di balik hatimu yang sesungguhnya, Junsu. Dia juga merubah hidupmu. Begitupun sebaliknya…”

Changmin mendekati Junsu lalu memegang kedua bahunya, “Persahabatan kalian sangat kuat dan aku berpikir tidak hanya cukup jika hanya di pegang oleh 2 orang, jika boleh.. boleh aku ikut bergabung? Aku ingin membantu meringankan beban kalian. Terutama Yoochun, pasti suatu saat nanti ‘penyakit’ itu hilang, dia akan kembali normal. Betul?”

Junsu tidak dapat berekspresi apapun lagi, entah harus bahagia atau sedih atau bagaimana, ia hanya tersenyum lebar lalu mengangguk,

“Tentu! Dia pasti sembuh! Pasti! Dan kita akan bersahabat! Changmin, terimakasih!” Junsu berhambur memeluk Changmin dengan hal yang paling tidak ingin diperlihatkannya. Menangis.

Iklan

In Library [YooSu]


Disclaimer: DB5K (c) 2003 SMEnt.

Rate: T (jaga-jaga M)

Warning: OOC, OOC, OOC, AR, AU, typo(s), abal, DRABBLE.

(c) intan9095

##

‘Aku ngantuk!’

Junsu membantin sembari mengerjapkan matanya berulang-ulang kali. Rasa kantuk mulai merajainya di waktu yang tidak tepat. Junsu sengaja mengambil tempat di perpustkaan ini tepat saat pulang sekolah barusan, tepatnya hari Kamis sore dini hari. Karena besok ia harus dihadapi dengan berbagai kajian dari IPA, termasuk Fisika, yang ia berharap segera saja musnah dari muka bumi.

Ada satu hal yang membuatnya tidak bisa konsentrasi, hal yang membuatnya terus memijit keningnya dan terus berulangkali mendorong seseorang di sampingnya yang tak pernah berhenti untuk…

“Yoochun-sshi, menjauh sekarang,”

“Ti-dak. Ma-u,” yang bersangkutan tetap pada posisinya, kembali melanjutkan ‘kegiatanya’. Junsu jawsdrop.

Geez, cukup!”

Junsu meletakkan buku tebal dari tanganya di atas meja dan menggunakan kedua tanganya untuk mendorong Yoochun sejauh mungkin dari yang sekarang. Ia benar-benar ingin cepat menguasai setidaknya beberapa materi, andai pemuda berambut sedikit curly dengan sedikit warna blonde tersebut tidak terus saja menciuminya tanpa henti; kuping, pipi, sudut mata, hidung lalu turun ke tangan dan kembali ke leher dan parahnya Yoochun memberinya hickey dalam jumlah banyak pula. Sementara tangan lainya mengalungi leher Junsu dan membelai pipinya lembut. Terus berulang-ulang dan sepertinya tidak akan berhenti.

Kali ini, lidahnya kembali menjilati leher jenjang Junsu bak es krim lalu menggigitinya, “Loe enggak perlu khawatir sama keperjakaan loe, gue nggak bakal nyerang kemana-mana kok, hehe, hmm” tangan lainya sibuk berkutat pada ponsel, jari-jarinya menekan setiap tombol member pesan pada ibunya bahwa ia tengah belajar bersama Junsu yang memungkinkanya akan pulang larut malam.

“Sialan, enggak bisa, gue tetap aja khawatir dan lebih baik loe duduk di hadapan gu—”

Tiba-tiba Yoochun menarik pundak Junsu. Memutarnya hingga mereka sekarang berhadapan dengan jarak yang lumayan dekat.

“Nah, sekaranggue sudah ada di hadapan loe, ‘kan?” koorYoochun dengan wajah berseri-seri.

“Tuhan,” semakin lama, Junsu berpikir orang di hadapanya sekarang sedang bergurau atau memang bodoh? Junsu kembali membetulkan posisinya dan berkomat-kamit dalam hati agar benar-benar bisa fokus pada—

“I-idiot!? ” namun sepertinya ulah Yoochun semakin menjadi yang mulai menjilati kupingnya lalu mengigitnya. Lengan kirinya terangkat dan kembali mengalungi leher Junsu membuatnya melenguh pelan.

‘Baiklah,harus bisa konsen dan terasi—ehm, konsentrasi!‘ pikir Junsu mengabaikan ciuman-ciuman Yoochun yang mulai mendarat di kelopak mata kananya.

“Junsu,”

“hm,”

“Junsu-chan~”

“…”

“Park Junsu!”

“Hoek!”

“Oke, Junsu wa Yoochun no waifu~”

“…” *lempar golok*

“Junsu!”

“HAH!?”

Yoochun menciumi ujung bibir Junsu lalu berbisik, “Yakin nggak mau ambil kunci jawaban di kantor saja?”

“Brengsek, loe pikir gue bakal menjelma kayak loe yang sehari-harinya hanya mengandalkan contekkan, menyogok guru, or semacamnya?!”

“Ayolah, loe itu menyimpan kharisma, sekali kedip beres kok!” Yoochun mulai mengirup dalam-dalam wangi rambut Junsu, tanganya masih membelai lehernya.

Junsu menggelengkan kepala, kembali membaca setiap deretan kalimat dalam buku.

“Junsu~”

Yang dipanggil menghiraukan panggilan Yoochun. Akhirnya ,Yoochun mengambil insiatif; mendekatkan wajahnya lalu mengecup pelan kedua bibir Junsu yang menjadi incaran utamaYoochun sejak tadi. Hanya kecupan singkat dan dia masih mendapati Junsu tetap pada pandangan SANTAI kearah buku.

Sebuah ide (gila) muncul. Yoochun semakin merapatkan diri menautkan jari-jarinya pada jemari Junsu yang di simpanya di atas buku. Junsu tampak tidak mempedulikanya.

“Aaa~ Junsu-ah… loe marah?”

Tidak ada jawaban. Junsu hanya menghela nafas panjang. Yoochun segera menarik leher Junsu lalu kembali menciumnya. Kali ini ia melumatnya walau tidak mendapat balasan, ia lalu mempergunakan jari-jari yang barusan mengalungi leher Junsu *kok kayak Chun yg jadi uke-nya? =,=a*  lalu melepaskan ciumanya dan dengan cepat jari-jarinya masuk ke dalam mulu t Junsu dan membukanya, Yoochun segera kembali menciumi Junsu, lidahnya melesat masuk, menjelajahi apa yang ada di dalam sana. Sementara Junsu sendiri, memejamkan matanya kuat-kuat dan mendorong tubuh Yoochun dengan sebelah tanganya yang bebas karena tangan lainya masih digenggam oleh tangan Yoochun.

Mmhh, Yo-Yochun,”

Yoochun terus menciuminya dengan membabi buta. Saat Junsu membuka kedua matanya, saat itu juga ia dapat melihat Yoochun mendelik tajam padanya. Ia segera menyingkirkan buku di dekat tangan Junsu hingga jatuh dari meja dan menarik kedua tanganya. Ia mendorongnya hingga terbaring pada kursi panjang tersebut dan menahan kedua tanganya di atas kepalanya.

“Ma-mau apa loe?!” Junsu terkejut ketika sebelah tangan Yoochun mulai menyelinap masuk ke dalam kemeja Junsu, meraba-raba yang ada di dalamnya hingga mendapati apa yang ia incar. Junsu membelak, kedua pipinya memerah.

“Loe jahat, barusan gue malah dicuekin, jadi sekarang loe musti membayar itu semua, Junsu-chan, hahaha!”

Junsu bergidik melihat tawa aneh dari Yoochun, sepertinya ada yang tidak beres, ia tidak mau sesuatu terjadi padanya di tempat ini, tepatnya perpustaan sekolah dan bagaimana bila tiba-tiba petugas melihat mereka?!

Junsu memejamkan matanya kuat-kuat lalu mendorong kuat-kuat tubuh Yoochun, “Hentikan! Yoochun! Sialan!”

Junsu sudah setengah hampir pada posisi duduknya namun ia kembali terbanting pada kursi dan bibirnya terkunci kembali oleh bibir Yoochun. Tak berapa lama setelah tangan Yoochun meraba-raba perutnya dan mendarat pada nipple Junsu, ciumanya turun pada leher dan membuat banyak sekali mark. Keduanya benar-benar atmosfir ruangan memanas, padahal ruangan tersebut berdinding tinggi, sangat tinggi (dalam maksud hitungan dua lantai) dan sepi karena waktu sudah menunjukan hampir sore, Junsu tetap tidak bisa melawan dan pasrah menjadi bagian ‘bawah’ atas perlakuan Yoochun, sahabatnya.

Ya, tentu saja sahabat karena Junsu belum bisa menerima Yoochun sebagai kekasihnya, sejak 4 tahun lalu, malah.

Nnnhhh, to-tolong berhenti,

Yoochun berhenti sejenak saat sedang menggigiti nipple Junsu, ia tersenyum lembut lalu mengecup puncak hidung Junsu, “Sebentar lagi, baby.”

Sial, gue bakal balas dendam setelah ini!’ Junsu menggigit kuat bibirnya hingga membiru ketika lidah itu kembali hilir mudik di nipplenya lalu menghisapnya tanpa ampun. Keduanya berkeringat banyak hingga kemeja masing-masing menepak pada kulit mereka.

30 menit berlalu…

Oh my fire truck God…”

Keduanya mematung. Jantung masing-masing terus berdetak kencang. Benar dugaan Junsu, habislah mereka, di keluarkan dari sekolah lalu di tendang dari keluarga dan setelah itu menjadi gelandangan.

Dammit! ‘ umpat Junsu membantin. Karena ia yang di ‘bawah’ dan tidak dapat melihat seseorang tersebut di balik meja, ia hanya bisa menoleh ke samping dan memejamkan matanya kuat-kuat, wajahnya memerah serta bulir-bulir keringat masih terlihat jelas dari pelipisnya.

Yoochun menelan ludah sesaat lalu ia menoleh…

“Halo, Changmin, hehehe,”

‘Oh, tiang listik  itu ternyata,’ pikir Junsu menghela nafas lega.

“Hehe, aku mampir ke sini mau bikin rangkuman untuk besok saja. Tapi kebetulan aku punya firasat untuk datang ke sini dan, ya, aku lihat Junsu belajar dengan sangat tekun walau kau mencumbu dia terus, hahaha!” Changmin tertawa hambar sembari menggaruk belakang kepalanya yang banyak kutu *digaplok sarung*. Ia lalu duduk bersebrangan dengan mereka dan menaruh beberapa buku tebalnya di meja.

“Hahaha! Awalnya aku ada niat untuk langsung membawanya ke kamar mandi—ITTAI!!” Yoochun menjerit ketika Junsu mencubit tanganya yang masih menahan kedua tanganya. Changmin bergeser sedikit lalu melihat ke bawah meja sekarang.

Sōdatta, kau membuatnya seperti calon pemerkosaan, hyung,” desis Changmin menggelengkan kepalanya lalu kembali pada posisi duduknya, membuka buku.

“Oh ya? Kalau begitu aku akan memperkosanya sekarang di sini, kamu harus melihatnya untuk masa depan, Changmin, hahaha—UWAA!!”

“BRENGSEK LOE!! LEPASIN GUE!!” jerit Junsu sambil meront-ronta heboh karena tubuhnya yang dijadikan ‘kursi’ oleh Yoochun. ‘Ah, pakai cara ini saja’ pikir Junsu lalu mengangkat lututnya dan… LUCKY!! Yoochun terlonjat kaget sekaligus jatuh dari kursi, ternyata Junsu berniat untuk membunuh ‘kesejatian’ Yoochun itu.

“Hahaha!! Sakit hyung? Nanti aku sunatin, deh, biar sakitnya hilang, hahaha!” tawa Changmin menggema pada ruangan besar ini melihat Yoochun terkapar di lantai dengan memegangi ‘aset’nya. Junsu bangkit lalu duduk dan menemukan Changmin yang sudah ambil ancang-ancang menyunati Yoochun.

“Changmin-ah, anteringue pulang yuk!”

“Huh? Terus Yoochun-hyung gimana?”

“Gue uda peduli! Palingan, nanti kalau ada tante-tante girang yang nyasar ke perpustakaan ini, pasti bakal jadi incaranya, hahaha!” Junsu langsung menenteng tasnya lalu menarik Changmin. Meninggalkan yang Yoochun mulai manyun.

“Mungkin bisa gue melanjutkan lagi setelah berhasil menyelinap masuk ke dalam kamarnya, ehm, kalau perlu ajak Changmin deh,” pikir Yoochun mulai bejad. Ia menyeringai mengerikan yang siapapun melihatnya langsung ngompol *disate reader*.

#FIN#

Author’s note: gaje banget ‘kan? =,=a bahasanya campur sari, sengaja sih #plaak# ini fanfic drabble LAMA & cuman dikit saia edit2, jadi klo kata2nya abal, maaf ya ><

Sōdatta: rupanya begitu ya

Ittai: Sakit!

Junsu wa Yoochun no waifu: istri yoochun adalah junsu (or semacamnya lah -,-v)

komennya ya~


VIVA Rock [1 / ?]


Summary: Siapa sangka, Yunho semula berencana memanfaatkan cuti 3 bulan ke Jakarta, bertemu ketiga sahabat yang amat dirindukannya yang justru memiliki perubahan 180 derajat dari yang dikenalnya?

Disclaimer: DB5K (Yunjaeyoosumin) © 2003 SMEnt.

Rating: T / M

Pairing: YooSu & HoMin (maybe YunJae?).

Genre: Humor/Romance

Warning:  Alternate reality, OOC, non-EYD, SHOTA, pengulangan kata *semoga enggak ada*, typo(s), if you don’t like the pair provided, don’t push yourself to read, don’t like don’t read?

Author: intan9095

##

Hari itu, hari dimana semua sedang berlibur umum. 2 minggu. Libur yang lumayan panjang dan hari itu juga pada hari ke-3, Yunho memutuskan untuk berlibur ke Jakarta selama beberapa hari yang tidak di setujui oleh pemuda berambut model Final Fantasy karena di sana nanti Yunho pasti akan di temui wanita-wanita cantik –yang sudah jelas ia juga mata jelalatan seperti Yoochun- dan mengajak wanita-wanita tersebut ke sana-kemari hingga seminggu berturut-turut tidak pulang. Itu yang di cemaskan seorang Kim Jaejoong.

“Aiissh! Yunho-ah! Tetaplah di Korea! Sebentar lagi kau akan melakukan tour ‘kan? Persiapkan diri dari sekarang! Jangan pikirkan liburan!” dari nada di telepon tersebut, sudah jelas Jaejoong sudah hampir meledak karena sulit untuk menasehati Leader TVXQ ini yang sedikit keras kepala.

“Masih lama, urusi saja urusanmu di sana, aku hanya sekedar liburan untuk mencuci mata. Kamu seperti ibu-ibu takut kehilangan SUAMI tersayang sepanjang masa kalau seperti itu, haha!” Yunho masih menggenggam ponsel slip-nya sembari melangkah pelan ke lemari pakaianya, membukanya lalu mengeluarkan beberapa baju dan celana serta dalaman.

Geezzz… apapunlah! Sudah ku beritahu yah! Huh! Yaudah! SELAMAT MALAM JUNG YUNHO!!!”

Tuuut…tuuuut

Yunho menyeritkan dahi keheranan setelah menerima hentakan telepon yang di putus Jaejoong di seberang sana. Marah. Yunho menggelengkan kepala lalu mulai mempacking persiapanya untuk besok berangkat ke Indonesia, tepatnya ke Jakarta. Tak berapa lama setelah Yunho hampir selesai mempersiapkan semuanya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka…

“Hyung~” Dari balik pintu terlihat Changmin menyembulkan kepalanya dengan ekspresi menyedihkan, Yunho sweatdrop.

“Wae? Min-ah?”

“Mau kemana? Pergi kok gak ngajak-ngajak? Hyung jahat sekali! Aku di lupakan begitu sa—“

“Cerewet, kalau mau ikut bilang aja. Ehmm..” Yunho berhenti sejenak memerhatikan Changmin yang tampak seluruhnya begitu ia berjalan mendekati Yunho. Yunho merasakan sesuatu yang berdesir di dalam tubuhnya begitu melihat pakaian yang di kenakan Changmin malam ini ; boxer putih tipis pendek 10-15cm di atas lutut, kaos panjang tanpa lengan berwarna hijau, handuk yang mengalungi lehernya ; ia berkeringat, rambutnya lumayan basah, kaosnya menepak –memperlihatkan sepasang nipple di dadanya- dan celanaya yang juga menepak –memperlihatkan bentuk pahanya …. begitu menggoda iman Jung Yunho.

“Apa hyung? Eh! Aku ke sini sekalian mau minta bantuan hyung nih! Boleh?” Changmin berdiri di depan cermin panjang di samping lemari pakaian Yunho sembari menyeka beberapa tetes keringat yang mulai agak mengerti dari pelipisnya –dan membuat Yunho menelan ludah berulang kali- dan dengan narsisnya ia bergaya macam model di majalah satwa *disate*.

“E-eh? Bo-boleh. Btw, malam-malam begini kenapa kamu berkeringat? Apa yang telah kamu perbuat?” Yunho menurunkan koper dari atas ranjangnya tanpa melepas satu objek di depan cermin tersebut dari pandanganya.

Changmin menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu ia tersenyum lebar, “Itu.. hehe. Aku habis main engklek sama tetangga sebelah, katanya kalau main begituan malam-malam, keringat yang keluar engga akan ngejeblak terus terbentuknya otot-otot akan lancar, itu sih katanya.. hehe, lumayan berkeringat ‘kan hyung? Tidak hitam pula. Tapi sayang langsung di lempar pentongan sama satpam! Gara-gara berisik, uhm, pengen lagi, kurang banyak nih keringatnya! Oh! Hyung! Bantu aku betulkan keran di kamar mandi dong! Aku engga bisa mandi! Tapi, kalau hyung mau, aku boleh ya, numpang mandi di kamar mandi hyung?? Hehehe,”

Yunho diam sejenak. Mencerna apa yang di katakan Changmin barusan baik-baik, ia berbicara layaknya kereta express. Tiba-tiba sebuah ide yang entah dari mana induknya berasal muncul…

“Ehm, omong-omong tentang kamar mandi aku memang tidak bisa berurusan dengan keran, lagian aku ada permainan untukmu! Mau? Dan memang masih jaman ya main engklek? =_____=; bagusan main gaplek *sama aja!!*” Yunho mendekati Changmin…

Changmin mengedipkan matanya dua kali tanda tak mengerti, “Permainan apa??! Kayaknya menarik! EH?? Walau engga jaman tapi masih enak di mainin tahu!” ia manyun. Yunho yang melihatnya terlihat tak tahan untuk mencubit pipi Changmin yang begitu menggemaskan ‘omo~ manis sekali magnae satu ini! Pantes ibu-ibu jahe itu iseng-iseng nyicipin anak ini, ternyata~ ah! Udah engga tahan!’ batin Yunho mulai jengah melihat Changmin siap ‘makan’ itu, tiba-tiba ia sudah tepat berdiri di belakang Changmin, sangat dekat sampai junior Yunho bertemu dengan bokong Changmin *saya tulis bokong ya cz pantat cmn sebutan buat jujun =o=a*..

Changmin terkejut, “Hyu-hyung?!”

“Permainanya menarik banget! Nah, kamu masih mau berkeringat lebih engga? Dari pada mandi sekarang, percuma lho~ penyakitnya masih hajatan tuh, mending di keluarin cepet-cepet! Dari pada K.O beneran? Ya engga?” Yunho mulai berjinjit *dia kependekan dari min =.=* lalu menaruh dagunya di bahu kiri Changmin, kedua tanganya yang bebas mulai melingkari pinggang Changmin ‘masih basah ternyata’ pikir Yunho.

“EEEEHHH?! Aku engga mau K.O sekarang! Aku belum membalaskan dendamku sama pantat bebek itu!!”

“Yaudah, jadi mau engga??” Yunho mulai mengecup leher jenjang Changmin, bibirnya terasa basah karena masih ada sisa keringat di leher tersebut, tidak menjijikan, justru itu menambah jiwa hasrat Yunho.

“Ennggh…” ini dia suara yang di tunggu-tunggu Yunho! “Ma-mau sih, tapi sebelumnya, eerr… ah!? APA YANG SEDANG HYUNG LAKUKAAAAAN?!!” seru Changmin begitu ia benar-benar fokus pada cermin di hadapanya dan ia dapat melihat lehernya sendiri sedang di ciumi penuh nafsu oleh sahabatnya sendiri. Pikiran Changmin mulai IYA-IYA.

Tidak memperdulikan teriakan Changmin, Yunho semakin menjadi, tangan kirinya ia masukan kedalam kaos Changmin lalu meraba-raba apa yang ada di sana, dari perut, bermain-main dengan udelnya hingga membuat Changmin melenguh pelan dan naik keatas, keatas hingga mencapai dua titik sensitive di dadanya, memelintirnya…

“Aaahhh, hyu-hyung…”

Yunho menyeringai, ia menarik Changmin ke pinggir ranjang lalu melemparnya –dengan sekuat tenaga- hingga terbaring di sana, Yunho langsung merangkak penuh horror kearah Changmin yang tengah bergidik sampai akhirnya Yunho berada tepat di atas si tiang listrik itu *di hajar FG MAX*.

“Nah, permainanya di mulai… sekarang.” Ucap Yunho setengah berbisik dengan senyum penuh ‘maksud’ lalu menautkan bibirnya pada bibir Changmin. Awal, saling menekan dengan lama dan berakhir dengan saling beradu lidah…

##

13.25 AM

-ANCOL, JAKARTA-

“BRENGSEK ENTE!! NGAPAIN ANE DI BAWA-BAWA KE TEMPAT GINIAN?!!” pekik Junsu saat mendapati dirinya sudah berada di kerumunan orang-orang berkulit sawo matang dan kebanyakan wajah tak terurus sampai ada yang berukulit hitam mengkilat yang ternyata sedang manteng di samping Junsu dengan mengalungkan kardus bekas yang berisi Rokok, Air mineral dan sebagainya. Junsu menatapnya ngeri begitu bapak-bapak tersebut mulai mengedipkan matanya genit kearah Junsu serta menyeringai lebar yang memperlihatkan gigi hancur gingsul sana-sini sampai ada yang item-item.

“AIGOOO~!!!” Junsu langsung mengapit kedua tanganya pada sebelah tangan Yoochun yang masih berkutat pada cilok di depanya. Ia begitu serius menatap sang abang yang tengah membentuk si aci menjadi bulatan sedang dan di lemparnya ke wajan berisi kolam minyak HITAM.

“Yoochun! Yoochun-ah!! Ayo pergi! Aku engga tahan!” Junsu menarik-narik lengan Yoochun dengan langkah kaki besar bersiap kabur dari tempat perkumpulan abang-abang pedagang kaki lima di atas jembatan warna-warni yang sempit di atas sungai belukar yang HIJAUnya semakin membuat Junsu memperbesar mulut nga-nga-nya, alisnya mengangkat seketika.

“Ahh~ Junsu-ah, ini menarik! Mereka tidak mengenal kita sebagai TVXQ! Jadi kita bebas, sudah di sini aja! Lihat! Sepertinya abang-abang itu tertarik denganmu! Ayok dekati! Haha!” Yoochun tertawa renyah dengan teganya sambil menunjuk a’a yang giginya tak kalah mengerikan di mata Junsu dan lagi salah satunya entah itu engkong-engkong atau apa yang jelas pria gendut dengan perut sebesar gaban dan tanpa mengenakan baju mengelus-elus perutnya lalu menaikan sebelah tanganya member isyarat pada Junsu untuk ‘mendekat’ padanya.

“ANDWAEEE!!! YOOCHUN-AH!! JANGAN BERGURAU!! AKU TAKUT!!”

“Aissh, kalau kamu takut melihat mereka, kenapa kamu engga takut waktu berpapasan dengan orang gila di dekat PRJ yang lagi bugil? Aku lihat kamu malah nafsu melihatnya, aigo~ Junsu mulai nakal ya?!! Hahaha!!!” Yoochun semakin menambah Junsu naik darah dengan kata-katanya yang membuat abang cilok di hadapan mereka ikut-ikutan terkikik pelan.

Junsu manyun, “I-itu ‘kan wajar! Pasti selain akupun yang melihatnya akan langsung….langsung… err…” Junsu menunduk, wajahnya memerah malu, tidak tahu apa alasan tepat atas perbuatan memalukanya barusan. Yoochun tertawa.

“Ohh, jadi menurutmu itu wajar kalau tiba-tiba melihat orang bugil langsung terangsang? Bahkan orang yang tak terurus juga? Kalau begitu, nanti setelah dari sini kamu harus melihatku bugil ya, aku mau melihat reaksimu kalau terangsang dengan melihat pemuda yang begitu tampan dan memiliki perfect body ini… ehmm..” Yoochun mendekatkan wajahnya sembari menahan tawa begitu melihat reaksi Junsu berubah menjadi seperti lumba-lumba kecil yang wajahnya entah berekspresi terkejut atau duplikat setan *kabur sebelum dibacok FG XIAH*.

“Ehem, maaf akang, ini ciloknya, 3 ribu. Mau pakai saos apa aja?” dan abang cilok pun memecah dunia YOOSU. Di sini YOOSU dapat berbicara bahasa Indonesia dengan fasih setelah belajar selama 2 hari *bhs Indo di mata mereka terlalu gampang -.-* namun untuk bahasa daerah seperti ‘AKANG’ barusan belum mereka mengerti –khusus buat yoochun, junsu lumayan tuh-.

Yoochun mengerutkan alis, “Akang? Maksudnya?”

Abang cilok menghela nafas yang membuat Junsu langsung menutup hidungnya dengan sebelah tanganya, ‘baunya mematikan!’ pikir Junsu.

“Akang itu ya akang, situ kan cowok, jadi di panggilnya akang, situ juga udah besar, jadi di panggilnya Akang. Masa ndak tahu?” abang cilok geleng-geleng kepala sok ngeguru yang kecewa pada muridnya.

“Eehh? Gitu ya? Ok! Aku mengerti!” Yoochun menjentikan jarinya tanda mengerti lalu tersenyum lembut pada abang cilok. “Hmm… tadi nanya apa ya?” dan itu sukses membuat bang cilok klepek-klepek setengah hidup mendapatkan senyuman maut yang memabukan dari seorang PARK YOOCHUN. Junsu mual.

“Yoochun,, dari pada kamu kebanyakan tepar pesona, mendingan cepat pesan ciloknya! Aku sudah engga tahan tahu!!” hardik Junsu mulai melepas lengan Yoochun lalu memunggunginya sembari melipat kedua tanganya di dada.

Yoochun tidak memperdulikanya, ia masih saja berkutat pada abang cilok yang menurutnya lebih menarik dari pada Junsu. ‘pasti Su-ah lagi PMS, ckck.’ Batin Yoochun mengada-ngada.

“EH MAS! CAKEP AMAT SIH?!! SINI DONG TEMANI SAYA~ huhuhuu!” tiba-tiba sosok waria muncul dengan pakaian mininya yang menampakan kaki kerempeng berkerut dan wajah yang naudzubillah hampir saja Junsu stroke di tempat ketika telunjuk waria tersebut mencoel dagu Junsu dengan genitnya.

“JAUH-JAUH KAU!!” Junsu mendorong waria itu sekuat mungkin.

“Aaaahh! Jahat dueeh! Jangan dorong-dorong duoonk!” bukanya takut atau lari, waria tersebut semakin kegatelan dan tiba menggandeng lengan Junsu seenaknya. Junsu membelak.

“HEEY!! BENCONG GIGI TONGGOS!! LEPASIN!! SAYA MASIH SUCI!! AAAAAHH!!” seru Junsu di sertai pekikan khas lumba-lumbanya mulai menarik-narik lenganya yang terbilang bisep tersebut. Ia memang hanya menggunakan kaos cotton zebra tanpa lengan dan memakai celana coklat terang yang panjang dan sabuk besar bertuliskan XIAH. Satu hal yang membuat abang-abang di sana nafsu melihat Junsu adalah kaosnya yang agak ketat sampai memperlihatkan lekuk tubuhnya yang… woooww itu dan di masukan ke dalam celana, mana lagi celananya juga lumayan ketat yang memperlihatkan PANTAT BEBEK JUTAAN DOLLAR kebangganya semakin menggiurkan. Jalan sedikit saja pantatnya goyang sana sini, aaahh saya jadi ikut-ikutan O///O *di tojos pembaca*.

Abang cilok yang memerhatikan adegan tak layak itu langsung mengadu pada Yoochun yang tengah asik menggoreng aci yang sudah di bulatkan –ingin nyoba katanya-.

“Mas! Itu temanya engga di tolong? Itu warianya bahaya lho, dengar-dengar waria itu pernah memerkosa orang! Gawat tuh mas!”

Jinjja? Ahh, kalau begitu bagus, jadi saya tidak perlu harus membeli film porno pada sohib saya, tinggal melihat teman saya saja di perkosa waria itu. GRATIS.” Jawab Yoochun santai yang masih berjongkok dengan tangan kananya mengaduk-aduk aci di kolam minyak tersebut. Tangan kirinya sudah di gantungi 2 tas milik Yoochun sendiri dan Junsu.

Abang cilok melotot, mulutnya nganga 20,5cm begitu mendengar jawaban Yoochun.

“YOOCHUUUUUN!! HELEP MEH!!!” Junsu berteriak kencang sembari menganggapai-gapai Yoochun dengan bahasa asingnya yang asal-asalan. Ia mulai di tarik menjauh sedikit oleh waria tersebut. Abang-abang yang barusan ngumpul termasuk abang-abang perut buncit barusan tertawa terpingkal-pingkal melihat Junsu seperti wanita yang mau di perkosa beneran.

“Aissh, merepotkan! Yasudah, eh mas… saya beli lagi 20 biji, jadi berapa totalnya? 5 ratus rupiah aja ya? Duit saya di makan sama teman saya itu buat beli pembalut.” Yoochun bangkit berdiri lalu mengeluarkan uang logam senilai Rp.500.

“Engga bisa—“

CLING!

Yoochun menarik kedua sudut bibirnya dengan slowmotion, membentuk senyuman katagori PENAKLUK yang siapapun akan melayang melihatnya, tentunya abang cilok ini harus menelan ludah menyaksikan adegan slow dari Yoochun sampai sebuah senyum menyilaukan membuat abang cilok ini menerima gope-an dari Yoochun seperti terhipnotis. Yoochun membawa plastic hitam berisi banyak cilok lalu berbalik mendekati Junsu yang tengah berteriak kemana-mana.

“Ahh mas ini cantik juga! Ikut akyu yuk!! Kita jadi partner dalam  acara ‘MENCARI BRONDONG KOTA’ di sini, lumayan cakep-cakep lho!” waria itu mulai noel-noel Junsu lagi lalu menunjuk segerombolan abang-abang barusan yang mulai memasang wajah ‘maksud’ pada Junsu. Bulu-bulu kuduk Junsu seketika goyang Inul semua melihatnya.

“AAHH!! NOOO!!! ANDWAEE!! LEPASKAN!! HUEEEE~ ENYAAAAK!!! AAAHHHH!” dan perlu di perhatikan, pekikan Junsu pada saat ‘aah’ memang seperti lumba-lumba, namun patut di curigai, termasuk Yoochun yang mendengar hampir dalam teriakan Junsu dengan ‘aahh’seperti sedang… you know that. Sekarang Junsu mulai meraung-raung meminta di lepaskan dan itu membuat Yoochun jawsdrop mati-matian melihatnya. Bahkan beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak sampai orok-orok yang lewat di jembatan tersebut di buat melotot melihat adegan di depan mereka, pemuda dengan tubuh perkasa bertingah seperti wanita saat mau di culik oleh waria kerempeng.

GLEP!

Tiba-tiba Yoochun menggenggam pergelangan Junsu yang sedang di apit oleh kedua tangan waria tersebut. Dengan sekali tarik yang menyakitkan, Yoochun melepaskan tangan waria tersebut lalu menarik Junsu keluar dari jembatan tersebut. Langkahnya cepat hingga membuat orang-orang di sana berpikir, ‘inikah telenovela yang biasa tayang di TV?’ .

“Engga nyangka, ternyata lumba-lumba berpantat montok ini sangat menggemaskan kalau sudah di ambang pencurian kesucianya, Hahaha!” Yoochun masih membawa Junsu ke area parkiran dan masih saja tertawa setelah mengucapkan kata-kata barusan.

“YA!! JANGAN TERTAWA!! Aku takut tahu!! Dasar brengsek! Cepat kita pulang!!!”

“Engga mau, masak udah di sini dengan gampang kamu bilang langsung pulang? Engga asik! Kita main-main dulu yuk di sini!”

“YOOCHUN!!” Junsu berusaha melepaskan diri.

“Ah, aku lupa! Kalau kita menginap di hotel Ancol itu, banyak bertemu fans pasti, kita menginap di motel pinggiran jalan aja yuk! Yang dekat-dekat sini aja, biar besok kita main ke dufan! Yuk!!!” Yoochun dengan gamblang berhenti melangkah hingga membuat Junsu tak seimbang dalam berdiri lalu ia menabrak Yoochun, dan kalian tahu apa yang terjadi?

TBC…

Author’s note: mohon komennya klo suka >< biar dilanjut, klo dikit, agak ciut juga >< Thx~


Sleeping At Junsu’s


Disclaimer: I do not own them.

Author: Intan9095

Pairing: JunChun/YooSu

Genre: Romance/Humor

Rated: T

Warning: AU, Shonen-Ai, OOC, copyright (i just write)

Canon: Sleeping at Naruto’s © MAYO [Doujinshi]

##

Padahal tinggal sekian detik pemuda berkulit porselen itu menyelesaikan klimaks mimpinya. Padahal dengan begitu, sulung Park itu akan mengabadikanya. Padahal pula, jika ia tidak tersedot kembali ke dunia nyata—yang membuatnya harus membuka kedua matanya karena sesuatu. Yoochun memastikan bahwa semalam sampai pagi ini tubuhnya masih utuh bergelung dalam selimut dan semalam pun ia tidak sampai menghabiskan lebih dari delapan mangkuk ramen.

Ah, salahkan rivalnya yang mengancam akan menggunduli Yoochun jika tidak menghabiskan delapan mangkuk itu. Melawan pun—bahkan niatnya mau melempari sofa pada wajah yang tengah tersenyum lebar itu—tidak akan ada pengaruh. Ya, si sulung Park itu sadar diri bahwa dalam keadaan numpang tidur di apartemen orang yang tidak bisa macam-macam.

Lalu?

“Hn?”

Sesuatu yang berat. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang membuat pernafasanya menjadi terbatas. ‘Sialan…’ pikir Park Yoochun yang tanpa menunggu kesadaranya penuh untuk menyambut pagi hari dini demi mengetahui apa kejanggalan yang membuat mimpinya lenyap. Bulu kuduknya tiba-tiba saja tersetrum ketika nafas panjang dan tenang menyapa lehernya dari ‘seseorang’.

“Bangun idiot,” Yoochun mengangkat lengan kananya, mendorong wajah pelaku ‘penindihan’ di atas tubuhnya. Ini sudah hampir ke dua kalinya dirinya dianggap sebagai guling kesayangan rivalnya karena pekan lalu Yoochun seenaknya memberikan guling tersebut pada anjing peliharaan tetangganya.

“Kau itu berat, Junsu!” sambung Yoochun yang mulai menyingkap selimutnya dan mendorong pemuda berulit tan tersebut sampai hampir berguling ke samping.

Hampir.

Dengan pelan Junsu mengangkat tubuhnya masih dengan kedua mata yang terpejam, “hmm?”

Get off me!” seru Yoochun yang kelabakan menahan dagu Junsu dengan telapak tangan kirinya ketika wajah itu hampir bertemu dengan wajahnya. Akhirnya, kedua tanganya pun ikut mendorong wajah nan manis itu dengan kasar.

“Uuuhh… menyebalkan.” Setelah hampir seluruh kesadaranya penuh, Junsu mengucek sebelah matanya masih dengan posisinya yang berada di atas Yoochun—sebelah tanganya lagi menahan tubuhnya.

Yoochun menghela nafas panjang, “Sekarang apa lagi alasanmu?” tanya Yoochun sambil menyelimuti dirinya sendiri tanpa menatap yang ditanya.

Butuh sampai satu menit untuk mencerna maksud dari pertanyaan Yoochun, Junsu pun kembali memejamkan matanya kemudian berguling ke samping kiri Yoochun.

Asleep,” merebahkan diri senyaman mungkin, “kau membiarkanku membereskan makan malam sendirian dan jangan salahkan aku karena langsung lompat ke tempat tidur, aku capai.”

“Lalu lupa menggunakan selimut?”

“Aku tidak sempat.”

Moron.” Yoochun bangkit mengambil posisi duduk dan menatap speechlees pada Junsu, “Kau bisa masuk angin, cepat masuk.”

Sepasang mata Junsu menatap Yoochun yang sudah mengangkat selimutnya, ia menyengir lebar lalu masuk ke dalam selimut. “Arigatou, forehead!

Beruntung sekarang masih pada pukul 04.00 pagi dan Yoochun masih terlalu lemas untuk menghantam kepala itu dengan lampu buffet—yang pertengkaran masalah ‘ejekan nama’ tidak akan usai kurang dari dua puluh menit. Pada  akhirnya Yoochun turut merebahkan diri, awalnya ingin memunggungi si Kim, tapi jatuhnya malah berhadapan dengan cengiran si Kim, entah apa yang dimakan oleh keka—maksudnya pada kawannya semalam sampai masih bertahan dengan senyum memuakkan itu, apa isi ramen semalam itu ada bubuk beracun?  Itu yang dipikirkan Yoochun, bukan Author.

“Dan jangan menempel-nempel padaku, walau kau kedinginan.”

“E-eehh? Tapi akhirnya kita juga bisa tidur ‘kan? Aku tidak akan bisa tidur jika tidak menempel pada—“

JLEB!

“—mu” Junsu menatap horror pada sebilah pisau daging yang sudah menancap sempurna di samping wajahnya, tepatnya pada bantalnya. ‘Belajar darimana dia bisa melakukan hal ini?’ pikir Junsu muali berkeringat dingin.

“Kau sadar sekarang, duckbutt?

.

.

.

“BANTALKU!!!”  jerit Junsu histeris. Ia langsung memosisikan tubuhnya tengkurap sembari menangisi bantalnya yang sudah mencapai ajal.

Yoochun tersenyum sadis lalu membalik tubuhnya, memunggungi Junsu seraya memejamkan mata, “Berisik, aku mau tidur!”

“Kau kejam..” menatap punggung Yoochun dengan mata yang berkaca-kaca, contohnya lihat ekspresi Rock Lee, “Aku akan mengingat ini, Yoochun!”

“Hn.”

“Gulingku, bantalku, boxerku, sikat gigiku, ramenku, sofaku, sekarang hatiku kau sakiti! Huhuhu…”

Yoochun mendecih ilfeel, ‘Sudah berapa sinetron yang ia tonton?

“Sudahlah. Kau bisa selalu menggunakan itu sebagai bahan untuk membuat boneka Changmin bodohmu yang lain.” Ucap Yoochun datar, seharusnya datar namun jatuhnya terdengar penuh kecemburuan? Kesal? Entahlah, Yoochun hanya mengernyit dahi tidak suka saat membayangkan salah satu boneka raksasa buatan Junsu yang selalu menemaninya tidur karena memang Junsu hanya tinggal seorang diri di apartemenya.

Mungkin ini yang menyebabkan Yoochun tiba-tiba membuat rencana menginap di rumah Junsu. Padahal seharusnya ia sedang berada di meja belajarnya, mempersiapkan diri untuk ujian lusa nanti dan mengalahkan otak emas Kim Junsu. Bukannya malah membantu rivalnya itu—bahkan menemaninya bermain playstation sampai larut malam dan yang parah siang barusan membantunya untuk mengejar anak anjing milik tetangganya yang kabur sampai ke ladang sawah. Sungguh bukan sifat Park Yoochun.

“Ah, boneka yang itu sebenarnya sudah usang dan sudah menjadi korban makan siang anjing milik Yunho. Mungkin aku bisa menambalnya dengan ini.” Gumam Junsu sembari menatap langit-langit kamarnya, mengingat bonekanya sudah terongok di pojok ruang kamarnya.

Tiba-tiba ia berpikir, ucapan Yoochun barusan sama saja dengan menyindirnya—boneka bodoh berarti boneka buatanya tidak lebih bodoh dari Junsu sendiri dan dengan bodohnya Junsu baru menyadari ucapan bodoh dari Yoochun—well, dan masih banyak kebodohan lainya hingga Junsu menampakkan ekspresi frustasi. Junsu yang niatnya akan menghujani protes kesumat pada Yoochun langsung terdiam membeku.

“…Yoochun?”

“Zzz…”

Kadang Junsu tidak habis pikir, kenapa rivalnya itu bisa kejam dan dingin padanya semenjak ia mengetahui bahwa Junsu adalah ketua OSIS dan selebihnya siswa dengan catatan merah karena kebiasaan membolos bahkan tak luput dari perkelahian. Juga saat Junsu memenangi audisi pencarian bakat vokal seluruh sekolah. Padahal sebelumnya, tiga tahun silam Junsu masih ingat jelas, Yoochun tak lebih dari bocah yang hiperaktif.

Wajahnya yang tengah tertidur itu bahkan bisa mengenyahkan bayang nonrasional Junsu mengenai pemuda berkening lebar di hadapanya.

Damai.

Err—manis?

“Tertidur? Begitu cepatnya,” Junsu menyeringai jahil. Dengan gerakan pelan ia merengkuh Yoochun pada lehernya dan menenggelamkan wajahnya pada rambut dan tengkuk Yoochun. Menggerak-gerakan wajahnya pada rambut itu sembari menghirup aroma mint favoritnya pada rambut Yoochun dan tertawa kecil.

Junsu terdiam sejenak. Ia sedikit mengangkat tubuhnya kembali dan memindahkan tanganya untuk menggenggam punggung tangan Yoochun yang berada di samping wajah Yoochun sendiri.

“Yoochun,” mendekatkan bibirnya pada telinga Yoochun, “Apa kau mencoba untuk tidak menyukai boneka Changminku? Kenapa?” lalu mengangkat wajahnya untuk memandang wajah itu, “Yoochun~”

Junsu tertawa dalam diam mendapat warna wajah Yoochun yang seharusnya tidak ada itu keluar—merah muda. Ya, Junsu tahu Yoochun mendengarnya barusan dan Junsu—err, bangga?—dapat membuatnya bersemu dalam keadaan begini ditambah keningnya yang berkerut dalam berupaya menahan—entah itu debaran jantung atau rona pada wajahnya.

“Mungkin lain waktu, aku bisa membuat sebuah boneka Yoochun—“

DON’T EVEN TRY!!”

“—so you were awake! Ahahaha!”

OMAKE-

Boneka Changmin d sini yg dimaksud tuh, bonekanya emang kloningnya dari Changmin alias persis.

Gmn buatnya? Tanyakan pada MR.XIAH dah~ XD

P.S::

Mungkin emang bnyak yg ga ngerti maksudnya ini apa yg terjadi, jdi sekilas ini intinya ‘Yoochun menginap dirumah Junsu karena boneka kloning Changmin’ atau lbih blak2an ya krena ‘cemburu’ jadi tiba2 aja Chun pngen nyingkirin boneka itu dgn dirinya sndiri tanpa alasan yg jelas XD.

Mslh mreka pacaran atau tidaknya, itu terserah imajinasi kalian sbg pembaca saja 😉 tpi kalau membaca FF ini dgn teliti lg, pasti tahu jawabanya 😉 Yg pisau itu, itu muncul tiba2 krena ini FF humor yg slalu muncul sesuatu tanpa kurang masuk akal XD

Ok sgini aja penjelasanya 😀

Arigatou~


XIAH “also kill the bastard like you” P3


sebelumnya, saya slaku author yg membuat ff ini ikhlas senantiasa *halah* jika kalian para pembaca kurang ‘mau’ memberi komentar ToT yg jelas pada intinya saya hnya mau ff ini diminati dan sdikit ‘bermutu’. Paling tidak, saya bisa dikenal sdh ckup #ngarep ==”

Warning : Alternative Universe, Out Of Character.
Disclaimer : I do not own them.
Genre : Action, Romance, Suspense.
Note : Sho-ai and Straight, Adult (18+)
Main pair : JunChun
By : Intan9095

#

Chapter Three : Decode

#

“Akkh…”

Tangan kirinya terangkat, menempatkan telapaknya pada pipi kiri yang baru saja mendapat tampar dari ibunya. Memerah seiring menjalarnya rasa nyeri. Micky hanya tertunduk tanpa memberi respon pada hal tersebut. Tangan wanita itu kembali menepuk bahu Micky, “Aku melakukan ini karena aku menyayangimu. Jangan pernah dekat-dekat denganya, sewaktu-waktu, kamu bisa mati.” Lirihnya.

Micky mengadah, kedua iris rube bertemu.

Dan ia sadar, sedalam-dalamnya ia menggali sebuah jawaban dari semua pertanyaanya pada kedua mata ibunya, tidak akan membuahkan hasil. Menyadari, ibunya hanya menyunggingkan senyum kecil lalu menarik tanganya dan melangkah mundur.Berbalik menjauhi tempat dengan memberi isyarat pada anak buahnya untuk meninggalkan tempat denganya.

Ketika pintu garasi dibukakan oleh salah seorang anggota, walau samar-samar, wanita ini dapat mendengar apa yang dilontarkan Micky saat itu,

“Aku bisa membuktikan semua persepsimu adalah samar.”

Wanita tersebut menarik nafas panjang dan melengang keluar tanpa merespon. Pintu tertutup bersamaanya dengan kursi kayu terbanting dan hancur porak-poranda.

“Nyonya, apa anda sudah tahu siapa pria yang di temui tuan kemarin?” tanya salah seorang anggota pribadi wanita tersebut sembari menyamai langkahnya.

“Tidak. Tapi, aku sudah mendapat sebuah jawaban dari apa yang telah aku analisis.”

Semuanya terdiam dilingkupi keheningan yang hanya bersuarakan setapak sepatu berpantovel anggota.

“Dia adalah….”

############################

“Xiah.”

Kedua pupil lolite Yunho membulat. Di tatapnya kedua pupil topaz Changmin meminta penjelasan lebih, namun yang bersangkutan tidak memberi respon apapun selain kembali memutar kursi lalu berkutat kembali pada notebook biru kelamnya. Sesekali ia meraih cup tinggi bertuliskan McD berisikan cola dan menyedotnya.

Changmin menghela nafas panjang, “Tsk, aku tidak tahu harus memulai dari mana, hmm…” kedua tanganya dilipat di atas meja dengan menatap gusar pada layar notebook..

Changmin POV

Bagaimana aku harus menjelaskan sekarang? Semuanya sudah berlalu bertahun-tahun, hah. Bagaimana juga aku bisa… ha, Yunho. Dia tidak pernah tahu bagaimana cerita ini berjalan, mungkin tidak akan pernah mau peduli. Aku melihat kewibawaanya yang duduk tegap melihat antrian kasir di samping dengan seksama.

Hari sabtu, seharusnya dengan mengajaknya ‘liburan’ aku bisa tahu sisi lain dari pria ini, seharusnya. Apa setiap hari, setiap bulan bahkan selama hidupnya hanya tampang kecut yang menganggambarkan dirinya? Kami-sama! Tidak ada yang lebih baik untuk aku lihat apa? Sudah itu, dia terlihat tua pula, Ha, aku sangat bersyukur karena masih dikaruniai ke-awet-muda-an sampai sekarang.

“Changmin.”

Sekarang dia memanggilku. Kemungkinan-kemungkinan yang dilakukanya adalah kembali menginterogasiku atau menyuruhku lagi untuk membelikannya es krim. Lebih baik tidak perlu digubris. Masih banyak hal penting yang harus aku lakukan di notebook ini, biar dia rasakan jika tidak di pedulikan itu menyebalkan.

“Changmin, berhenti.”

Kemungkinan lain, sudah berani mengintimidasiku. Ha, Kami-sama… apa aku boleh untuk hari ini menyesali telah meminta dia bekerja sama? Bolehkah? Hmp, lebih baik aku pulang. Ya itu benar. Pulang, merebahkan diri di ranjang nan empuk lalu mandi dan setelah itu makan—dan oh! Hari ini aku bisa memesan bebas makanan rupanya, ah…aku bisa minta belikan apa saja. Dan itu juga menjadi keberuntunganku dalam sehari tidak melihat tampang tua berkecut seperti Jung Yunho ini. Hahaha!

“Aku dapat membaca itu semua, Changmin.”

Changmin POV off

Jemari pria berkulit porselen berhenti menari-nari pada keyboard. Mulutnya menjeblak setengah membuka dengan ketidaknyamanan yang di hadapinya sekarang. Perlahan, kedua matanya memutar ke sudut mata demi sebuah jawaban dari pertanyaan yang sedetik lalu terlintas, ‘Benda apa yang menempel di kepalaku?’ dan tidak sampai dua detik ganti memutuskan untuk tidak mengetahui jawaban, sebaiknya. Lebih baik karena jawabanya adalah moncong pistol silver mengkilap sudah siap menjebol kepalanya—jika sampai ia salah berbuat itu akan terjadi. Sayang nyawa, sayang nyawa. Lebih baik tidak merespon.

Perlahan , Yunho mencondongkan badanya lebih dekat pada Changmin. Kepalanya ikut demikian sampai jarak antara wajah Changmin dengan Yunho menipis, semakin.

Kali pertama yang menajubkan untuk Shim Changmin berhasil mendapat kesempatan untuk dapat pada posisi ‘berbahaya’ seperti ini, lebihnya lagi dengan Yunho. Tidak dapat dijabar ulang bahkan memang tidak tahu bagaimana Changmin sekarang, wajah itu terlalu dekat, terlalu dan sangat sangat dekat. Sampai hidung keduanyapun bersentuhan kecil. Andai barusan ia memilih duduk di seberang Yunho, ia tidak akan mendapat jarak se-minim sekarang.

“Mau mulai macam-macam denganku, hm?”

Diketahui satu hal yang terjadi adalah…antara kedua pipi Changmin yang sedikit bersemu dan kedua matanya yang semakin menyipit. Rona merah muncul di kedua pipinya ketika Yunho berdesis kecil dengan deru nafas yang menerpa wajahnya. Itu sangat terasa. Jangan anggap ini dilebih-lebihkan, silahkan coba kalian dekati para buronan besar dengan jarak seperti ini di tambah dengan sebuah senjata sudah siap pada pelipismu dan sekali dilakoni akan mati, bagaimana?

“Ma-maaf…tolong kamu men-”

“Aku tua? Tampang tua katamu? Che, kalau begitu aku yang akan membuat tampangmu tidak kalah buruk sekarang.”

Tangan porselenya yang lain segera mencegat tangan Yunho yang mulai merogoh sesuatu di saku celananya. Mau dia sedang bercanda atau tidak, ceritanya akan lain. Apapun itu, yang harus diketahui Changmin adalah kenapa pria ini tahu apa yang di pikirkanya barusan? Apa ternyata dia juga memiliki kekuatan mistis? Ah…notebook.. Kedua matanya beralih pada layar notebook dan memperhatikan apa yang layar tampilkan di sana, menjeblak, Changmin tersenyum penuh penyesalan dan kekhawatiran dengan nyawa belahan jiwa tersayang—berlebihan.

Hari pertama, mendapat pelajaran tentang; jangan mendekati benda apapun itu yang dapat menjabarkan isi hati ketika bersama Yunho dalam bentuk apapun.

Jelas, sangat jelas dengan ukuran font mencolok, tertulis semua umpatan Changmin barusan. Sekarang Changmin baru menyadari, kebiasaanya yang menulis diari juga adalah poin buruk ketika dengan sendirinya ia sudah mengetik unek-uneknya pada Yunho. Sekarang, tinggal menunggu peluru itu benar-benar menjebol kepalanya atau menunggu respon Yunho selanjutnya. Changmin memilih option pertama ketimbang harus berurusan dengan si darah dingin ini.

###################

Serpihan kaca menjadi senjata terakhir wanita berkulit sedikit tan ini untuk mengorek kembali apa yang ada di dalam leher para agen mentri yang di incarnya dengan pria berkulit tan pula. Lorong nan dulunya di warnai dengan hitam keabu-abuan dengan marmer hijau telah dinodai dengan banyaknya bercak serta darah yang merembes dari korban terakhir—mungkin sekarang yang terakhir di temui Krystal dan Junsu. Selongsong peluru habis, pakailah benda terdekat yang memungkinan untuk merengut nyawa.

Selagi Junsu menyelesaikan ‘korban’nya, Krystal telah duluan melempar pria yang baru saja melukai paha kirinya dengan cutter kecil. Sekarang, yang harus di carinya adalah dimana pintu masuknya ruangan cleaning service? Oke, menarik. Dari sekian penjahat yang ada, hanya mereka yang memilih ruang tersebut ketimbang tangga darurat atau lompat langsung dari jendela.

Belum sampai selangkah, sebuah tangan sudah menarik lenganya untuk berhenti.

“Aku selesaikan sendiri..”

Di tengah temaram pagi—tirai tebal menutupi jendela-jendela juga menutup masuknya sinar sang surya, hanya sepintas yang terlihat dari wujud mereka. Mata. Sesama hitam, sesama gelap, sesama bengis dan sesama musuh. Keduanya diam dilingkupi suhu dingin pada tempat. Umumnya, selalu hanya pandangan penuh cinta pada setiap pasangan kekasih, umumnya. Umumnya untuk mereka adalah saling membenci. Bukan cinta, bukan kasih sayang atau cinta sebatas teman.

Oh, ada yang lupa. Bahkan teman pun tidak. Tidak bisa digambarkan sekarang bagaimana maksudnya, hanya menjelaskan kepalsuan untuk kedamaian dan pengkhianatan. Tiga. Tiga kesalahan dan dosa yang telah mereka perbuat. Kedamaian hanya untuk dunia masing-masing. Kedamaian hanya pada orang terpilih dari masing-masing. Kedamaian yang dicapai harus melakukan proses penghancuran, memalsukan dan tentunya pengkhianatan.

“Jangan mulai melanggar perjanjian. Saat kita bersama, jangan berani memerintahku.”

“Aku tidak peduli. Aku sudah disini, maka aku lakukan.”

Pertahanan tak kandas. Junsu tetap menenggelami diri pada kelamnya gelap dari kedua iris mata Krystal. Caranya untuk menaklukan berjunjung kemenangan untuk Junsu adalah berbicara dengan mata. Namun, tidak seperti harapan. Krystal menepis cengkraman Junsu lalu tetap beranjak dari tempat. Tidak mau kalah, Junsu kembali menarik Krystal yang langsung mendapat tonjok.

“Aku lakukan sendiri! Kau…kau juga ingin melakukanya sendiri ‘kan? Lakukan! Aku tidak peduli!”

Jeritan Krystal di mulai dengan mengarahkan ujung serpihan kaca pada leher Junsu yang meleset pada tembok. Yang bersangkutan sudah terlebih sampai pada lemari yang bersatu dengan dinding yang menjeblak membuka. Yang dicarinya sekarang dimana pemutih pakaian dan deterjen. Mungkin pencarianya harus ditunda oleh kursi kecil berbahan alumunium tebal terlempar kearahnya. Junsu melompat ke belakang dan sempat terjungkir di lantai, tidak sampai sedetik ketika ia bangkit berdiri lalu menahan kedua tangan Krystal yang hampir kembali menusuknya. Mata itu kembali memandang dengan tajam.

“Jangan buat aku sampai melukai wanita.” desisnya semakin mencengkram genggaman terhadap pergelangan tangan Krystal.

Dan hanya mendapat balasan sebuah seringai kecil dari lawan. Krystal menginjak kaki telapak atas kaki kiri Junsu lalu menendang perutnya dengan lutut kaki kananya. Sukses, Junsu menjungkir kembali sembari memegangi perutnya yang nyerinya mulai menjalar. Pada kesempatan itu, Krystal sudah mengambil dua bahan yang barusan tengah dicari oleh Junsu. Tidak sampai barang itu di bawanya, Junsu sudah menerjang Krystal hingga terbanting jatuh pada lantai bernodai darah. 2 botol berguling lepas dari genggaman Krystal, perhalan kedua tutup botol tersebut lepas…

DUAGH!

Sekali lagi, Krystal menghantam kening Junsu dengan keningnya sendiri dan itu tidak kunjung membuat Junsu lengah, ia yakin sekarang keningnya akan mulai mengeluarkan darah bersamaan dengan kening Krystal akibat gesekan serpihan kaca dengan kulit yang menempel pada keningnya barusan. Sekarang, bagaimana caranya untuk ‘menjinakan’ istrinya ini tanpa harus melukainya. Dalam masa hidupnya, selalu berpengangan pada satu prinsip untuk tidak melukai wanita dalam bentuk apapun dan kesalahan apapun dan kecuali yang notabene tidak penting—dilihat dari sekian ratus bahkan ribuan wanita terlibat dalam setiap aksinya hingga meninggal dengan proses yang sadis maupun tidak. Harus bagaimana? Bagaimana? Satu-satunya cara ada menghantam tengkuknya dengan sikut lalu ia akan tertidur pingsan. Tidak mungkin. Che, andai lawanya adalah sesama pria, mungkin sejak tadi ia sudah memenggal kepalanya.

Tunggu.

Bau ini…

“Shit! Sudah tercampur!!” umpat Junsu melihat sudah merembes luas deterjen dengan pemutih pakaian yang semakin kental baunya jelas sudah menjadi racun. Tidak, tidak bisa melarikan diri. Ia harus membunuh sisa komplotan yang berhasil melihat wajahnya, ya itu harus. Atau tidak tamatlah. Lagian, mau kabur dengan cara apapun, gedung sudah di kepung.

Junsu yang sangking terhanyut pada asumsi-asumsinya, Krystal mengambil kesempatan itu untuk membebaskan diri dari tubuhnya yang sempat tertindih tubuh Junsu dengan menyampingkan kepalanya dengan kasar hingga menjeduk dinding dengan suara keras. Luka di alami Junsu di bagian kepala. Dengan cepat, Krystal sudah berhasil mengambil pistol hitam kesayangan Junsu dari balik jasnya. Bagaimanapun, ia harus cepat melarikan diri sebelum paru-parunya mengkerut oleh racun yang tidak sengaja di buatnya.

Berlari cepat menuju jendela yang tidak memiliki gorden, ia pecahkan dengan menembakinya berulang kali dan melihat ke bawah yang ternyata dirinya sudah berada pada ketinggian 4 lantai. Masih minim, Pistol di tanganya, Itu berarti, ia dapat melakukan apapun.

Pagar, pagar beranda di lantai atas, ya, Tanpa basa-basi, ia arahkan moncong pistol pada ujung pagar di samping kananya aga teratas lalu menembakinya. Hanya jalan atas yang bisa menyelamatkanya. Di lain tempat, Junsu masih dengan sedikit nafas memegap mendekati botol dengan menjadikan lengan kemejanya sebagai cadar penutup ringan alat pernafasan yang sudah ia robek. Sesaat menarik nafas dan di tahanya saat kembali menuangkan isi dari kedua botol tersebut semakin meluas pada lorong. Tidak ada cara lain, selain berharap pada-Nya agar nyawanya tidak ikut rempuk. Nasi sudah menjadi bubur, maka tetap harus dilanjutkan walau kegagalan akan di terimanya.

Suara derap sepatu berpantovel dari kejauhan menandakan posisi Junsu telah di temukan, dan itu berarti, dia memiliki dua ‘tugas’ yang harus d tuntaskan dalam kesamaan waktu. Junsu membuka dua kantung panjang di kedua pahanya—terutama harus bersusah-susah mengakat roknya dulu mengingat penyamaranya sebagai ‘wanita’ masih berlanjut walau sudah melepastopeng elastis dan bajunya barusan, Sepasang matanya mengira-ngira kemana ‘mereka’ akan mengepungnya di antara tiga lorong di hadapanya saat ini.

“Ah, lama! Kalau begini, aku sudah tidak punya ide lagi!” rutuknya langsung berguling ke samping kanan dan menemukan sniper sejumlah orang banyak hampir mendekati tempatnya. Keterkejutan tampak pada sniper-sniper tersebut ketika Junsu keluar begitu saja dari balik dinding, tanpa membuang waktu, mereka langsung membidik Junsu dan menarik pelatuk… tidak sampai dua detik sebelumnya mereka langsung limbung jatuh ke lantai. Ada kejang pada diri mereka.

Sepertinya racun dari dua senyawa kimia itu telah merusak jaringan pernafasan paru-paru mereka. Beruntung bagi Junsu yang menahan nafas hanya langsung mendekati para sniper tersebut dan mengambil sebagian senjata api pada kantung pinggang dan di simpanya pada ransel besar yang di sampirkanya di lengan kanan hasil ‘penemuan’ dari seorang sniper di sana. Baru saja Junsu bangkit, tiba-tiba pandanganya beralih pada sepatu yang dikenakan ‘korban’nya, Junsu kembali berjongkok dan melepas sepatunya.

TAP TAP TAP!

Para sniper lain datang. Junsu berbalik menghampiri lemari berisi bahan-bahan kimia yang salah satunya ia mendapatkan deterjen barusan. Deru langkah para sniper semakin terdengar jelas, dengan tergesa-gesa Junsu terus mengobrak-abrik mencari sesuatu di antara jejeran botol pada rak hingga membuat sebagianya berjantuhan.

Switch. Kerongkongan Junsu terasa hangat dan perih, ia bernafas. Ini berarti sebentar lagi nasibnya akan sama pada korban-korban di lantai itu, tidak… tidak bisa, Junsu harus segera pergi sebelum akses pernafasnya benar-benar mati.

“Brengsek! Kemana benda itu, hah!?” Junsu menjerit frustasi. Ah… namun Junsu tidak habis akal ketika menemukan tiga ember berisi air yang telah kotor—mungkin sehabis di pakai untuk pel. Dirogohnya sebuah pistol mitraliur HK MP7 mengkilap di tangan kirinya dan tangan lainya mengangat ember-ember itu pada troley logam putih di samping lemari barusan.

DOR!

Sebuah perluru melubangi ganggang troley dan itu hampir melubangi tangan Junsu. Para sniper sudah menemukanya, Junsu segera mengkat pistolnya dan menarik pelatuk. Otomatis tidak hanya satu peluru yang keluar, bahkan lebih banyak sampai beberapa sniper yang jaraknya hanya 15 meter tersebut tumbang. Ia berbalik mendorong troleynya ke tempat yang lebih luas menjauhi para sniper yang jumlahnya semakin banyak mulai mengejarnya.

Biasanya Junsu jika sedang berlari langkahnya juga akan ikut besar dan kecepatanya juga tidak terlalu lambat, hanya karena sepatu hak dan lantai yang masih basah membuatnya harus ekstra hati-hati. Tangan kirinya masih terus berkutat pada pistol yang terus menembaki sniper-sniper di belakangnya. Sesekali pandanganyapun berlarih ke belakang juga pada jalan di depanya. Bulir-bulir keringat dengan darah yang bersatu di dahinya turun hingga pada kelopak mata Junsu dan itu membuat pengelihatanya buram juga agak lengket.

Sedikit lagi… sedikit lagi tempat yang di tujunya akan tercapai. Dadanya semakin sesak. Peluru habis. Ha, berapa lama Junsu menekan pelatuk itu memangnya? Frustasi, Junsu membanting pistol tersebut, berbalik membelakangi para sniper.. Dengan tenaga yang tersisa, berusaha mempercepat larinya dan menjaga posisi troley agar tidak menumpahkan air pada ember yang di bawanya.

Sebuah pintu.

Switch. Junsu membelok, membuka pintu besi putih dengan menjulurkan kartu ID bertulisan Broune—yang tak lain adalah milik pembawa acara yang ia ambil pada oprah beberapa jam lalu—pada konten sistem unutk membuka pintu, laser hijau menditeksi dalam hitungan detik, Junsu segera memutar kenop besar di tengahnya. Mendorong troley masuk dan menutup pintu tepat ketika segerombolan sniper tinggal berjarak 12 meter dari tempatnya.

################

Di kala alumunium pagar terjatuh ketika peluru memutus—yang dengan nekatnya Krystal menggunakan—kabel listrik membelit pagar hingga mematahkan tulang punggung para sniper di bawah, Kystal melepas higheelnya, talinya ia gigit untuk membawa sepatu, sementara tangan dan kakinya berusaha untuk memanjat ke lantai atas melalui pinggiran jendela dan pagar lain yang memungkinkan. Sebagian sniper yang selamat membidik Krystal sekali lagi dan peluru berhasil menempus bahu kanannya.

Krystal sempat menjerit kecil sembari mengigit bibir bawahnya, rasa perih pada lenganya hampir membuatnya memutuskan untuk lompat. Hampir, karena selanjutnya Krystal tetap meneruskan gerakanya, berusaha memudarkan rasa perih itu dan terus naik pada pagar dan pipa air di dinding. Beruntung ia sudah melepas kostum penyamaranya, sekarang hanya mengenakan celana jeans abu-abu dan kemeja putih agak melonggar yang sudah ternoda akibat merembesnya darah dari bahunya juga noda darah dari korbanya barusan.

Tangan kananya menggapai-gapai dataran pada atap, akhirnya ia sampai pada teratas gedung.

Deru nafasnya mulai tersengal-sengal karena membagi tenaganya untuk memanjat, menahan nyeri di pundak juga untuk menghindari setiap tembakan sniper. Dengan sedikit tertatih, perlahan melangkah pada atap gedung yang luas dan ada 3 bagian teksturnya cembung berwarna putih. Lengan kirinya terus memegang bahu kananya yang sudah di penuhi darah. Pistolnya sudah terbuang entah kemana. Tiba-tiba beberapa sniper ikut muncul dari pinggiran atap, sepertinya mereka berhasil mengejar Krystal sampai ke sini di tengah teriknya panas matahari yang menggerahkan. Krystal yang diliputi kegusaran antara rasa sakit dan pening tidak menyadari keberadaan sniper yang semakin dekat denganya…

Tangan itu menarik bahu Krystal…

BUGH!!

###############

“Berhenti! Tidak ada jalan bagimu untuk melarikan diri lagi!!”

‘Aish, seharusnya aku tahu kalau para sniper di sini lebih jenius.’ pikir Junsu masih sambil mendorong troley sampai pada tempat yang lebih luas. Di jejeri rak-rak tinggi berisi kaset rekaman dan alat soundsystem sampai barang lainya yang di definisi sebagai alat utama pada opera. Keselarasan para benda bermuatan elektron di setiap sudut pada ruangan mendominasi gelap dan aura menusuk—yang dimaksud adalah pendingin ruangan yang tak ayal membuat penat Junsu berkecamuk. Tidak ada lubang ventilasi udara, tidak ada jendela, tidak ada pintu, tidak ada apapun. Junsu geram. Tak segan, Junsu segera mengambil sebuah ember dari troley dan menumpahkan segala isinya pada lantai beralaskan marmer granit.

Semua dilakukan dengan sama sampai ember terakhir. Tidak cukup.

Tidak ada keran disini—tentu saja dengan akalnya yang di atas rata-rata seharusnya ia bisa menemukan setitik sumber air dari setiap inci ruangan. Kedua matanya menangkap Air Conditioner itu, besar dan selang-selang putih yang mencuat di pakui pada dinding-dinding. Namun, yang hampir membuat mentalitasnya menciut adalah bagaimana caranya mencabuti selang-selang tersebut sementara tingginya bahkan hampir empat meter.

“Ayolah, aku bukan spiderman!” Junsu membanting ember terakhir dari genggamanya. Masih memandang pada lintasan kemana benih air itu keluar dari selang spiral tersebut. Tiba-tiba Junsu menemukan sejenis kain. Hitam dan menutupi satu sisi pada dinding. Ya, sebersit cahaya menyelinap masuk dari pinggiranya, itu jendela. Tanpa pikir panjang, Junsu segera mengusap kening yang mulai terasa lengket oleh darah dan berlari pada objek tersebut. Sepertinya sniper-sniper itu berhasil membuka pintu pada lorong berkode barusan. Kaki kananya terangkat meminjak speaker kotak di samping rak. Memanjat pinggiran berkayu itu dan beridiri di atasnya, berjalan perlahan di atas rak menuju objek. Segera menarik paksa selang. Air keluar dari dalam sana dengan deras.

##############

Sesosok pria terjembab jatuh—niatnya adalah menembaki kepala Krystal. Sniper berhasil mengejarnya sampai ke atap. Apa harus lompat? Oh, bagus saja jika Krystal lompat dari ketinggian tidak main-main ini maka rencana yang disusunya dengan Junsu berakhir sudah selama enam tahun ini. Pria berbalut rompi hitam itu kembali berdiri, Krystal menarik pistol revolvernya dan menyikut selangkanganya dengan lututnya. Sebelum sniper lainya sampai, Krystal segera menarik pelatuk secara instens, selongsong peluru meloncat keluar dari badan pistol ketika benih peluru merengut nyawa pria itu.

Sniper 1 berhasil menyampai posisi Krystal berada—hendak meretaki bahunya yang telah di dahuli jackpot di tengkuk lehernya oleh sikut Krystal. Sniper 2 dan 3 membidik Krystal dari kejauhan, namun tak ayal menjadikan sniper lainya korban karena berusaha mengejar Krystal yang mengartikan tembakan mereka meleset. Sniper lainya berhasil meninju pipi kananya, segera Krystal menendang selangkangan sniper tersebut dengan lututnya dan pekelahian lainya berlanjut.

Tidak bisa. Lenganya banyak mengeluarkan darah sementara para sniper sudah berdatangan semakin banyak. Jika lenganya tidak cedera seperti sekarang, mungkin sudah ia patahkan kaki mereka semua dan melarikan diri. Ha, mengenai melarikan diri, bukankah ia sudah membaca struktur bangunan oprah ini sebelumnya?

Banyak jalan yang kemungkinan membuatnya bisa melarikan diri, satu-satunya cara adalah mengingat kembali jalan-jalan itu dan bukan waktunya untuk menggunakan cara itu dalam situasi genting sekarang. Mau sekuat apapun, Krystal tetaplah wanita yang tenaganya kalah banding dengan pria. Mau menggunakan otot pun yang lawanya hampir belasan itu malah akan menjerumuskan dalam jeruji besi dan sempurnalah impian untuk membuka kedok…

“Sudah tidak dapat melarikan diri, Xiah,” sebuah suara tetua mencuat gendang telinga Krystal. Sosok itu membelah barisan sniper di depanya untuk melihat siapa-anggota-Xiah-itu, “bahkan aku dibuat terkejut ternyata salah satunya adalah seorang manusia yang sangat di muliakan di muka bumi ini.”

Seringai tampak pada wajahnya. Krystal memutar kedua pupilnya sembari menarik nafas dalam-dalam. Tidak mau peduli itu siapa dan maunya apa sekarang. Tujuan terakhir Krystal saat ini adalah segera meninggalkan tempat ini. Sebersit gambar muncul di benaknya. Struktur gedung ini. Ya, ia tahu sekarang bagian mana ia bisa melarikan diri ketimbang menghiraukan para peringkusnya.

Sebuah helikopter mendekati atap gedung, walau jaraknya kurang lebih hanya 12 meter, pendengaran Krystal masih bisa menangkap gelombang udara yang saling bertabrakan dengan udara lainya di atas sana. Posisi Krystal sekarang tidak begitu jauh dari pada peringkus yang dipunggungnginya, sebelah tanganya mencengkram kuat kemeja putihnya, tangan kananya terangkat mengusap bercak darah yang keluar dari sudut bibir dan keningnya dengan punggung tanganya dan berakhir dengan merogoh saku celananya.

“Menyerahlah, akui semua dosamu dan akan kami tangkap pemimpinmu. Kau tidak perlu takut akan terancam mati karena kami akan melindungimu, my pet.”

Shut up.

Krystal menampik senapan yang nyaris mententuh punggungnya oleh tetua tersebut lalu menendang selangkangany, ia segera melompat ke samping untuk mengambil sebuah pistol dari seorang sniper yang Krystal pukul sebelumnya.

Satu… tidak, bahkan sampai delapan sisanya mulai menembak Krystal beruntun. Sementara Krystal yang tengah berguling menuju tepi atap gedung oprah, setiap lima detik membalas tembakan tersebut dengan pistolnya. Ketika pandanganya menangkap helikopter yang mulai mendarat, Krystal segera membuang pistolnya dan merogoh sesuatu dari kantung celananya. Segera Krystal lempar dua peledak kecil tersebut ke arah mereka yang salah satunya tepat mengenai badan helikopter.

Ledakan besar tak terhindarka.

################

“Dimana dia?”

“Mungkin sedang menyusun bahan peledak atau semacamnya. Tidak perlu khawatir.”

“Bisa saja ia bersembunyi, sisanya, segera jaga dua pintu barusan! Di sini tidak ada jendela, dia tidak akan bisa melarikan diri!”

“Ya,ya. Walau ia berhasil pun itu tidak masalah, asalkan aku dapat melihat sosok Xiah yang sebenarnya.”

“Terserahmu!”

4 sniper yang menempatkan posisi di samping rak membuat perseteruan yang tidak menyadari adanya seseorang mengendap di dekat mereka. Tiba-tiba ia menarik bahu salah seorang sniper lalu menyikut tarangnya dengan sikut lenganya.

Terkejut, para sniper lainya segera mengangkat pistol yang ditampik oleh Junsu. Perkelahian pun terjadi. Sulit digambarkan seperti apa kejadianya saat itu. Semua peringkus yang telah meminjak tempat tersebut ikut terbawa suasana hingga sebagian peringkus hampir seluruhnya mengalami luka yang monoton. Junsu berlari menjauhi mereka di antara rak yang menyulitkan pandang untuk menemukanya. Pada lorong di antara dua rak, Junsu memberhentikan langkahnya. Menggerling kedua matanya ke segala arah ketika derap sepatu para sniper sudah tidak kembali terdengar. Junsu menguatkan batinya dengan persepsi mereka sedang mengatur rencana di beberapa balik rak sambil terus mengawasi posisinya.

Dengan merogoh Micro Uzi dari kantung celananya, Junsu megarahkan moncol pistiol tersebut ke samping kanan dan menekan pelatuknya. Secara otomatis, banyaknya selongsong peluru keluar dari dalam sana.

“Arrgh!!”

Suara yang mengaduh kesakitan. Seringai kecil tampak pada wajah porselen Junsu. Ia berbalik dan menemukan seorang sniper yang siap menusuknya dengan pisau kecilnya, tidak habis cara, Junsu segera mengambil dua kotak kaset berlogam di rak dan di lemparnya tepat mengenai dahi sniper tersebut. Seorang lagi datang, mengarahkan pisaunya pada punggung Junsu yang sayangnya malah mengenai sniper yang barusan menjadi korban ‘kotak kaset’nya. Tidak sampai di situ, sebagian dari mereka mulai mendekati tempat Junsu dan itu menutup jalanya untuk melarikan diri. Ha, jika menggunakan pistol itu terlalu biasa, bagaimana dengan barang-barang yang ada di rak saja?

Dan terjadilah aksi saling melempar barang dari rak ke rak lainya dan melompat dari rak satu ke rak dua dan terus terjadi sampai pria yang dahulunya memiliki rambut pirang itu membelah kerumunan dari mereka menuju tempat awal Junsu melepas selang Air Conditioner sebelumnya. Andai ia tidak terisolasi seperti sekarang, mungkin ia sudah menggunakan Krystal untuk menjadi ‘tameng’nya saat ini.

Ah, mereka tidak menyadari, langkah mereka untuk mengejar Junsu semakin terasa basah oleh genangan air di lantai. Ya, memang tidak menyadari karena terlalu membabi buta dalam menghabiskan senapan demi seorang pria yang lihainya di atas rata-rata dalam menghindar. Setelah dengan susah payah menahan sakit pada tumitnya dalam menaiki rak, pandanganya terarah ke bawah melihat peringkusnya hampir seluruhnya masuk pada daerah ‘perangkap’nya, di potongnya kabel beraliran listrik yang masih aktif dari lubang penghubung sistem untuk oprah dengan belati yang ia dapat. Menarik nafas panjang dan di jatuhkanya kabel tersebut ke bawah.

Tidak banyak yang harus digambarkan bagaimana kejadian selanjutnya. Sudah dapat terbayang seperti apa reaksi yang ditimbulkan bila listrik bertemu air, ‘kan?

Junsu menoleh, di tatapnya sehelai kain hitam yang menutupi sesuatu. Cukup lama waktu yang digunakanya dalam berperang batin untuk menyingkap kain itu atau di diamkanya dan pergi dari ruangan melalui jalur yang sama—kenyataanya mustahil karena ia sendiri tidak bisa turun dengan tegangan listrik di bawah sana yang bisa saja langsung menghanguskanya. Sesaat, Junsu melupakan segala dilema tersebut dengan berbaring sembarimengatur nafasnya yang semenjak tadi terus terengah-engah. Ia bisa mengingat dari sekian hal yang dilakukanya untuk mengambil card program selalu berhasil melarikan diri dan tidak seperti yang sekarang bisa terjebak yang jumlah snipernya tidak lebih dari hari kemarin.

Ada sesak di antara pernafasanya. Mungkin racun dari kejadian sebelumnya masih bereaksi pada paru-parunya. Mungkin. Karena ada kemungkinan lain yang pernah dijabarkan oleh Krystal tentang ungkapan sesak itu bukan berarti kenyataanya sesak, namun sesak ketika merasakan halnya yang dialami setiap kaum. Terbesit wajah itu… membuat rasa sesak itu semakin menjadi. Mengapa, mengapa harus Micky? Mengapa harus dia yang membuatnya harus berpikir keras mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sejak semalam lalu?

Tidak, tidak. Bukan saat yang tepat untuk berpikir rasional di saat genting sekarang. Junsu kembali memastikan kantung pinggangnya yang masih berisi card program dan kembali mencari cara untuk keluar dari dalam ruang sistem ini. Kain… kain hitam itu membuatnya kembali dalam posisi duduk dan mengulurkan lengan kananya untuk menyingkapnya, memuncual lubang besar yang berlorong panjang penuh dengan debu.

###############

Suara bertabraknya antara kulit dengan air membuahkan gemercik air yang bertumpahan ke pingir kolam. Melompat dari ketinggian yang tak kira-kira dan ternyata struktur yang sekenanya di ingat hingga Krystal meloncat dan mendarat di sini. Kolam ikan. Memalukan. Tapi jika di pandang dengan sikap intelek mafia, caranya mengambil keputusan tersebut sangat menajubkan—terlebih yang melakukan kegiatan ekstrim itu adalah wanita. Beruntung baginya yang sejak kecil sudah sering di latih pernafasan renang hingga tertahan lima menit itu pun kenyataanya ia bisa dan ia gunakan untuk bersembunyi di dasar kolam sambil mendekati pinggiran kolam.

Lima menit berlalu, kepalanya muncul dari dalam kolam dan melirik ke sekitar. Setelah di rasa aman, Krystal naik ke pinggiran kolam dengan sisa tenaganya untuk menahan rasa perih dari luka yang mencuat lebar dari lenganya. Bagaimanapun, Krystal tetaplah seorang wanita yang tidak bermental baja seperti pria dalam hal luka sekarang.

“Haa—haa. Sial! Haa—kemana Junsu sekarang…” gumamnya terdengar kesal sembari merogoh sesuatu di celananya. Sialnya, ponselnya sudah terlanjur kebasahan dan tentunya sudah tidak bisa di harapkan lagi kegunaanya. Tunggu, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pada kantung lainya. Setelah membenarkan posisi duduknya di pinggiran, ia mengambil benda berbentuk panjang berlogam yang terpahat acak di ujungnya. Seringai semakin mengembang di wajahnya ketika sebuah nama bergelantung pada benda tersebut.

Kunci mobil, milik salah seorang sniper yang menjadi korbanya di dalan gedung sebelumnya. Segera Krystal bangkit berdiri dengan sedikit kepayahan dan berlari kecil menuju area parkir yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempatnya. Ia menekan tombol unlock dan lampu yang berkedip dua kali itu muncul dari C-class 230 berwarna coklat menua. Tidak memperdulikan bagaimana tubuhnya yang basah kuyup itu ikut membasahi jok kursi saat memasuki mobil, ia langsung menyalakan mesin dan menjalankanya keluar area parkir mencari posisi Junsu yang kemungkinan sudah berhasil meloloskan diri.

Berputar-putar pada setapak jalan aspal di sekitar gedung, tak terhitung jumlah pot, tempat sampah dan mobil yang Krystal tabrak, pikiranya kalut dalam pencarian sosok adorable itu. Tiba-tiba pagar kecil yang menutupi pembuangan udara dari ventilasi hitam terbanting jatuh menabrak kap mobil yang dikendarai Krystal. Terkejut, Krystal segera menekan pedal rem mendadak yang keterkejutanya semakin menjadi ketika sebuah tubuh ikut menabrak kap mobilnya yang keluar dari lubang tersebut.

Junsu.

Kedua mata Krystal membulat, “Junsu!” Kystal berseru kencang seraya keluar dari dalam mobil.

Menghampiri sosok yang terlihat mulai memucat dengan kondisinya yang sudah tidak memungkinkan dia baik-baik saja. Dipapahnya Junsu ke dalam mobil dan membaringkan dirinya pada jok belakang. Krystal kembali pada kemudi dan menginjak pedal gas, laju mobil yang sebelumnya lebih lambat sekarang menjadi sebaliknya.

Terlalu nekat. Junsu terlalu sensitif terhadap debu walau hanya semacam sebutir beras ia sudah pasti akan merasakan pusing, lalu bagaimana sekarang? Menggunakan jalur ventilasi yang justru membuatnya sendiri terkapar karena terlalu banyak menghirup udara kotor.

Mengingat mobil mereka sebelumnya sempat menjadi ‘korban’ balap liar di Seoul, mungkin untuk kedepanya mereka akan menggunakan mobil curian ini.

‘Barusan itu…’ Junsu membantin seraya mengerjapkan kedua matanya.

Flashback..

Helai rambut warna gading itu meneteskan peluh keringat. Saat itulah dua ‘saudari’ kembali di pertemukan, juga selalu dalam ke-tidak benaran waktu.

Oniks dan Safir…

Dua benua menyatukan insting tuk membuahkan asumsi, meliputi alir emosi dengan terfokus pada benua lain. Membuat dunia gelap. Dunia mereka, dunia yang telah menghitam menambah kegelapan belaka, menutup sirna rapat-rapat, membuang persepsi mentah-mentah. Tidak samanya, dan akan selalu berbeda di lihat seringai—tidak di pahami pemilik oniks ini, hanya cukup dengan ekspresi stoic. Melupakan yang lalu, pertemuan berakhir dengan di tandai tanya belum mereka pahami satu sama lain.

Junsu menyadari, bahwa semenjak sebelumnya… pria ini, pria di dekat pintu ruang yang baru saja tampak yang bernamakan Kim Jaejoong ini… mengawasinya dari salah seorang anggota sniper sebagai penyamaranya yang membuatnya terjebak. Dalam persekian detik, seulas senyum kecil mengembang pada wajahnya. Hanya sejenak, ketika mendapati Junsu tetap pada keangkuhanya seraya memasuki lubang ventilasi.

#############To Be Continued#############



XIAH “also kill the bastard like you” P2


Warning : Alternative Universe, Out Of Character.
Disclaimer : I do not own them.
Genre : Action, Romance, Suspense.
Note : Sho-ai and Straight, Adult (18+)
Main pair : JunChun
By : Intan9095

#

Chapter Two: Last Smile

#

Pagi menjelang bersamaan dengan riuh cicitan burung di setiap dahan pepohonan menyambut terbitnya matahari dari ufuk. Kembali hujan mengguyuri ibu kota Jepang yang kali ini hanya gerimis kecil—dilihat dari banyaknya pejalan kaki sama sekali tidak menggunakan payung. Suasana yang cocok untuk duduk di teras rumah dengan memandangi keasrian perkebunan sembari menyeruput teh panas di sebuah kursi kayu dengan hikmat menghirup udara segar. Ah, sepertinya baru akan terjadi untuk seorang Micky di masa yang akan datang karena justru sebaliknya terjadi padanya.

Berdiri seorang diri di tengah kerumunan pria-pria besar bersenjatakan sebuah pistol yang membidik dirinya. Bersama seorang wanita yang umurnya sudah mencapai kepala empat tengah melipat kedua tanganya di depan dada. Micky hanya tertunduk menatap lantai. Kedua tanganya mengepal kuat, wanita tersebut semakin memperkecil jarak di antara mereka. Sebuah tangan menepuk bahu Micky membuatnya sedikit terkesiap lalu mengadahkan kepalanya.

PLAK!

##

Inggris, London.

Royal Opera House. Tidak banyak yang dapat digamparkan bagaimana bentuk dan setiap tekstur pada bangunan besar nan mewah—jauh lebih mewah dari Sydney Opera House. Jelasnya, lebih banyak di dominasi oleh warna gading lebih gelap dengan ribuan lampu kekuningan dan sebagian lampu putih menyorot pada pintu utama gedung yang ramai oleh para penonton dari berbagai negara datang memasuki gedung yang sebagian besar banyak memakai mantel tebal dengan warna senada—hitam.

Berpergian pada musim dingin bukan waktu yang tepat karena nantinya ketika sampai pada opera berlangsung, sangat di pastikan AC di sana akan menyala seperti biasa. Ya, mungkin saja untuk sekarang itu tidak akan terjadi karena siapa yang beraninya memasang sistem mengerikan itu pada musim dingin sekarang?

Dan ya, orang sinting mana yang pagi-pagi buta begini sudah harus menjadwalkan pembukaan oprah pada pukul 7.30? Walaupun ternyata sudah hampir seribu orang menempati kursi dari dua ribu tiket yang terjual.

Sebuah Limousine Chrysler putih berhenti di depan anak tangga yang jumlahnya puluhan itu dengan elegan, berwarna putih mengkilap. Seorang pria berpenampilan formal lengkap dengan topi khas pengawal jendral membuka pintu mobil dan mempersilahkan tuanya untuk turun. Munculah sosok pria dengan setelan jas dan mantel berbulu putih lebat yang menutupi kemeja sampai panjangnya selutut, paling tidak celana coklat berbahan kain masih jelas terlihat. Lalu di belakangnya, muncul seorang wanita cantik yang rambutnya digelung ke atas pirang dengan gaun hitam—yang lagi-lagi tidak bisa di gambarkan dengan gamblang seperti apa. Sebelum pria di depanya menaiki satu anak tangga, tangan wanita itu sudah menariknya,

“Ladies first, seharusnya aku pun yang turun duluan barusan, che.” Decaknya sambil cemberut.

“Hahaha, sorry honey. Silahkan.”

“Aku mau ke toilet dulu!” seru wanita itu langsung mengambil langkah cepat memasuki gedung. Kekasihnya hanya bisa menghela nafas panjang.

##

Pria berbalut mantel berbulu lebat berdiri tak jauh dari lorong menuju toilet. Ia menunggu kekasihnya kembali dari toilet walau sudah hampir lebih dari 5 menit lamanya, memang ada benarnya wanita selalu menjadikan toilet sebagai ‘salon’ efektif. Sementara di tempat wanita itu sendiri, terlihat ia sedang bercermin dengan membetulkan gelungan rambutnya, tak berapa lama setelah merasa sudah benar-benar rapih, ia mengambil tas kecil putih berbahan kulit di pinggiran wastafel dan melangkah ke arah pintu. Tangan kirinya mengulur memegang kenop pintu dan mendorongnya kebawah, pintu terbuka pelan dan ia langsung beranjak, ya, sampai langkahnya terhenti ketika mendapati gaunya menyangkut pada kenop,

“Yah, kenapa bisa menyangkut?”

Tangan lainya berusaha untuk melepas gaunya dengan hati-hati, saat itu tepat muncul seseorang yang baru saja keluar dari bilik kamar mandi menghampiri wanita tersebut. Seseorang yang memiliki sepasang mata hitam dengan wajah ‘imut’ yang sudah dapat diketahui siapa dia. Tanganya terulur beserta seringai kecil…

“Can i help you?”

##

Charice Pempengco. Penyanyi gadis muda berumur 15 tahun asal Philipine, diundang untung mendukung acara oprah yang di selenggarakan oleh Houston sendiri. Menyanyikan lagu abadi Houston berjudul ‘I Have Nothing’ memang sesuatu yang tidak mudah, namun untuk pagi ini, suara emas Charice membuat semua penonton terpukau sangat, bahkan saat di pertengahan lagu, sebagian orang banyak sudah berdiri dan bertepuk tangan untuknya. Di bagian kursi VIP, paling depan dan tepatnya tempat para kolonel konglomerat berasal, sosok wanita bergaun hitam dengan badan—well, agak ramping khas pria lalu rambutnya yang di gelung dengan tambahan topi kecil berbulu. Bersama kekasihnya—pria yang barusan menungguinya dari toilet—saling memegang erat tangan satu sama lain, kedua mata oniks wanita tersebut memandang halus pada panggung.

“Excusme, nyonya Jardon. Butuh minum?”

Sebuah suara kecil yang berasal dari pelayan wanita membuka kereta minum membuyarkan konsentrasi dari yang di sebut nyonya Jardon tersebut, ia beralih pada pelayan yang menawarinya, tidak ada jawaban, hanya menggeleng pelan dan pelayan tersebut mengangguk dan menawarkan pada penonton lainya. Bisa mengetahui nama tamu VIP itu adalah kewajiban pelayan di sana, agar lebih terhormat. Remang-remang lampu keorange-an di langit-langit tidak sebagai penerang utama oprah ini berlangsung, tidak terlalu gelap.

“Kita harus melewati hari ini penuh dengan kebahagiaan, aku harap adikmu mengetahui hari ini adalah hari jadi kita yang ke-enam.” Jardon—sang pria—memecah keheningan di antara mereka berdua.

Tidak ada jawaban dari sang kekasih, hanya senyum yang terukir di wajahnya sebagai balasan.

Pandangan wanita dari kekasih Jardon tersebut beralih pada suatu tempat yang letaknya ada jauh di atas, kursi penonton VIP bagian utara. Hanya dalam sedetik ia kembali melihat penampilan spektakuler Charice yang mulai mengakhiri penampilanya dan pembawa acara—pria asal Amerika memasuki panggung. Seringai tajam mengarah pada pembawa acara tersebut, tepat berasal dari kekasih Jardon. Di ikuti oleh seorang gadis lainya sebagai pasanganya.

“Terimakasih pada hadirin yang sudah menyempatkan diri untuk datang…”

Ia menarik tanganya dari genggaman Jardon,

“Tepat pada hari ini, Selasa tanggal enam bulan Januari tahun dua ribu tujuh. Kami…”

Mengambil tas besar berbentu persegi hitam dari kolong kursinya,

“Maka, kami mengundang para bintang besar dari sebagian Asia…”

Membuka resleting tas dan mengambil beberapa alat berwarna hitam dari dalam sana lalu di masukanya ke dalam mantel,

“Mengingat ini awal tahun, setelah ini kami berencana untuk memberi kalian…”

Ketika hendak akan berdiri, Jardon kembali menarik lenganya dengan mimik wajah keheranan dan meminta penjelasan, wanita tersebut hanya tersenyum tipis seperti meremehkan, “Nikmati saja.” Gumamnya dengan suara berat khas lelaki yang membuat kedua mata Jardon membulat mendengarnya. Tanpa membuang waktu, wanita tersebut kembali berdiri,

“Dan berikutnya…”

Melangkah dengan cepat lalu kedua tanganya merogoh sesuatu dari dalam mantel, mengeluarkan pistol hitam mengkilap pada kedua tanganya dan di arahkanya pada para security dii setiap sudut,

DOR! DOR!

“KYAAAA!!!”

Pembawa acara tersebut seketika menghentikan kata-katanya, kedua matanya membulat, terkejut. Dengan cepat wanita tersebut langsung menembaki beberapa kotak sistem di samping kiri panggung dan semua pintu otomatis terkunci. Semua orang di sana berlarian tak tentu arah menghindar darinya yang masih terus menembaki sebagian orang yang sudah di rencanakanya di setiap kursi penonton. Pistol mengarah pada kursi para undangan di lantai dua dan tiga serta empat—ha, betapa luasnya tempat oprah ini.

Sebagian security yang masih lolos dari tembakanya segera menghampirinya dan hendak menghantam wanita tersebut dengan palang besi, tidak sampai palang besi itu mendarat di punggungnya, ia sudah berbalik dan menendang perut security 1, menghantam pelipis security 2 dengan pistol, menjedukkan kepalanya pada dagu security 3, dan mencekik leher security 4 dengan lengan kiri yang memegang pistol yang sudah kehabisan peluru. Setelah security 4 kehilangan kesadaran, ia melempar pria tersebut lalu melempar pistolnya sembarang arah mengenai sebagian orang dengan kencang hingga keningnya berdarah dan wanita tersebut tidak peduli. Ia mengambil lagi handgun yang lebih besar dari balik mantelnya lalu menembaki seluruh orang di lantai 2 dari ujung ke ujung agar tidak membuang waktu dan melempar empat peledak kecil pada seluruh orang di tempatnya berada.

DUAAR!

Ledakan sedang berhasil merengut banyak nyawa yang tidak ikut andil dalam rencana, tidak peduli siapapun korbanya, yang jelas orang-orang yang akan di bunuhnya telah berada di antara mereka maka mereka harus menerima resiko ikut terbunuh.

Tiba-tiba muncul beberapa orang berpakaian seperti patroli—dan sangat yakin itu adalah polisi setempat muncul dari balik panggung. Gadis muda yang masih berada di samping pria sebagai pasanganya barusan melihat pria tersebut mulai mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan tempat dengan langkah besar, namun gadis tersebut sudah menarik lehernya dan menyekapnya di antara lengan gadis itu. Tangan lainya segera mengambil handgun besar yang sama dengan nyonyta Jardon di bawah panggung sana dan langsung menembaki para polisi yang hampir mendekati tempatnya.

Terdengar alarm pada gedung berbunyi hampir pada seluruh gedung oprah, gadis muda ini menggeram kesal sembari mengigiti bibir bawahnya. Tidak di duga-duga pria yang di sekapnya langsung menghantam rahang gadis tersebut dengan sikunya dan segera melepaskan diri. Gadis berambut hitam kelam bermata oniks tersebut meringis terjatuh ke lantai panggung yang di lapisi kayu, belum sempat pria itu keluar dari panggung melewati pintu barat, gadis itu sudah menembak paha kirinya hingga membuatnya terbanting jatuh. Gadis itu langsung mendakitnya lalu menjambak rambut pria tersebut hingga kepalanya terangkat,

“Dengar, hidupmu tinggal beberapa detik lagi, maka jangan banyak tingkah di depanku!”

“Bitch!! Who are you!?”

DUAGH!

Segumpal bercak darah keluar dari mulut pria tersebut ketika sebuah tonjokan ia dapati di pipinya dari wanita bermantel barusan yang berhasil lari dari ledakan. Ia memberi kode pada gadis muda itu untuk menangani sebagian polisi yang datang kembali, gadis itu segera berbalik lalu menanggalkan wig dan jas hijaunya.. Wanita yang masih ada di sana membalik tubuh pria tersebut lalu duduk atas perutnya, moncong pistol menempel pada kening pria tersebut,

Bastard.” Desisnya. Tanganya merogoh saku celananya dan menemukan apa yang ia cari lalu di masukanya pada kantung hitam yang membelit pinggangnya, dengan seringai puas ia menatap pria di bawahnya mulai memucat.

Ia mencibir, “Terlalu lemah, mengecewakan.”

“Si-siapa kamu?! Penyeludup!!”

“Aku?” perlahan ia menarik pelatuk, “Namaku, Kim Junsu, selamat tinggal, pecundang.” Dan senyuman terakhir yang dapat di lihat pria itu dari seorang Junsu.

DOR!

To be continued

##

err.ada yg msih bingung ndak sma critanya? -,- sya prjelas klo junchan ntu smpet mnyamar jdi nyonya Jardon *jd yg ditemui ms. jardon d toilet itu adlh junchan XD* knp chap ini pendek?? krena emng sya maunya pendek -,- #ditabokpanci


XIAH “also kill the bastard like you” 1B


Warning : Alternative Universe, Out Of Character.
Disclaimer : I do not own them.
Genre : Action, Romance, Suspense.
Note : Boyslove, slight Straight. JUNCHUN, JUNKRYS, HOMIN, YUNJAE, etc.
Author : intan9095

 


 

Sosok pria yang baru saja berlutut di belakang pemuda tersebut sebagai kehormatan pada pemimpin tiba-tiba terhempas keras pada tumpukan balok-balok kayu. Cukup menggunakan sikut lengan kiri untuk menabrak pelipis si pria hingga terpelanting, tidak peduli mau umurnya jauh lebih tua atau muda, baginya semuanya adalah bawahanya, melakukan semaunya dengan tidak memikirkan konsekuensi. Ia mengambil mantel warna gading kelam panjang dari meja dengan kasar, mengenakanya sembari berlajan ke arah pintu, sebelum langkahnya meninggalkan tempat favoritenya, sepasang lolite mendelik tajam pada bawahan yang masih meringis akibat rasa nyeri hebat di pundaknya.

“Kau sangat mengganggu.” desisnya sarkas lalu meninggalkan ruangan, tidak lupa membanting pintu ketika menutupnya. Tidak perlu repot-repot untuk para anggota yang menutup pintu untuknya  karena mereka sudah merasa bau-bau membunuh tuanya semakin menyengat dan mereka tidak mau hari terakhir mereka hidup di tempat ini, tempat yang di penuhi peristiwa dengan berakhir penghabisan darah.

Bunyi sepatu berpantovel dari pemuda tinggi yang selalu pada ekspresi angkuh dan bertutur kata wibawa—lebih tepatnya selalu menjadi ironis tergema di lorong. Pandanganya masih mengarah pada lantai sementara kedua tanganya bersembunyi di balik saku celana. Langkahnya teratur mengikuti garis marmer keabuan, bebera anggota organisasi lainya telah berada samping pintu marmer hitam berkaca yang salah seorang sudah membungkuk.

Beda dengan yang sebelumnya, terang oleh banyaknya lampu putih dan terlihat lebih layak ketimbang ruangan sebelumnya. Di dominasi warna gading pada dinding dan warna lantai  yang senada. Sepintas ia melirik sebagian anggota yang jumlahnya hanya 4 itu, mengenakan pakaian formal serta mantel yang sama denganya, dengan logo organisasinya sendiri.

“Tidak perlu, aku bukan jendral.”

Mereka menatap sang pemimpin dengan sedikit kegalauan, salah seorang yang tengah membungkuk tersebut langsung menegakkan kembali punggunya lalu tersenyum hangat pada sang pemimpin, “Sepertinya sudah sembuh ya? Hahaha!” katanya sambil menepuk-nepuk bahu pemuda tersebut. Ia hanya membalas dengan tawa kecil lalu melepas mantelnya dan di berikan kepada anggota lainya.

“Siapa di dalam?” tanyanya sembari menepuk bahu pria yang agak pendek darinya yang masih tersenyum kearahnya.

“Loh? bukanya sudah tahu ya?”

“Yunho-sama, mungkin anda akan terkejut jika tahu tamu itu sebelum masuk.” ujar pria lainya.

Beberapa detik pemuda beranama Yunho ini menatap para anggotanya secara bergantian, mencari tahu di setiap mata mereka tentang keberadaan tamunya di dalam apa memang hanya klien biasa atau… seseorang yang tidak di harapkanya selama ini. Kedua mata lolite yang sempat meredup itu memicing tajam pada anggotanya, ia langsung menepis tangan anggota lainya yang barusan menepuk bahu lalu membuka mendorong pintunya sampai menjeblak terbuka.

Sofa putih panjang, sebuah meja kayu jati yang tingginya tidak sampai 80 sentimeter, perapian besar yang terbuat dari batu bata merah dengan api yang sudah menyala serta seorang lelaki tinggi dengan mengenakan celana baggy hijau 3/4 dan kaos hitam berlogo jenis Polo di punggungya, memunggungi tempat Yunho berada sembari melipat kedua tanganya di dada—dan itu terlihat jelas karena bayang-bayangnya muncul pada kaca di hadapan lelaki tersebut.

Rambut kecoklatan sedikit acak-acakan di terpa sinar matahari, Yunho dapat melihat jelas dari kaca tersebut, lelaki itu menatap keluar sana dengan pandangan teduh serta senyum tipis yang masih samar-samar apa memang tersenyum atau tidak. Dilihat para anggotanya berdiri tidak jauh dari tempatnya dan lelaki tersebut sebagai pengawas. Mungkin menyadari kedatangan pemilik markas, ia berbalik sembari memasukan kedua tanganya ke dalam saku celana. Mereka bertemu pandang.

Coklat dan Biru.

Yunho melangkah mendekati tempat lelaki di hadapanya tanpa melepas kontak mata, sangat pelan. Yang sekarang ada di benaknya adalah mencari tahu siapa dia dan mengapa datang ke sini. Karena Yunho sendiri memang tidak mengenalnya, mungkin anak buah musuh bebuyutan yang sedang menyamar? Ia melihat senyum hangat yang di berikan lelaki berkaki panjang itu padanya.

“Konnichiwa, Yunho-kun.”

Langahnya terhenti. Pandangan mereka masih bertemu, senyum itu masih tampak jelas di wajah porselen lelaki tersebut. Rasa pusing tiba-tiba saja mengelilingi kepalanya, sangat membuatnya pening sampai harus menggunakan telapak tangan kananya untuk memijit keningnya sendiri, saat itu Yunho memutus kontak mata.

Ekspresi lelaki tersebut berubah menjadi sedikit khawatir—walau sebenarnya hanya sedang bersandiwara karena ia tidak mau terlihat tidak peduli pada orang penting di hadapanya. Ia lalu mendekati tempat Yunho.

“Anda, tidak apa-apa?” tangan lelaki itu terulur mengarah pada pundak Yunho, segera Yunho tepis dengan kasar lalu mengembalikan tangan kananya kembali masuk ke dalam saku, sementara kedua tangan lelaki tersebut ada di samping.

“Siapa kau?” tanya Yunho dingin.

“Aku klien yang meminta jasamu, aku harap kamu bersedia mau membantukui, Yunho-kun.”

Tidak ada jawaban dari Yunho. Matanya masih menyelidiki sesuatu dari dalam yang mengaku klienya. Lelaki tersebut berputar dan berjalan ke arah sofa putih mengambil tas ranselnya lalu mengambil sesuatu dari dalam sana. Yunho mengernyit, ‘Aku barusan tidak melihat ransel itu.’ pikirnya masih mengawasi gerak-gerik si klien yang kembali menhampirinya dengan membawa sebuah map hijau dan pena.

“Silahkan anda baca proposal ini, anda akan mengerti nantinya, dan aku harap hari ini juga anda membuat keputusan.” ujar lelaki itu sembari menodongkan map pada Yunho. Dengan mata yang masih mengawas, ia meraih map tersebut dari tangan porselen si klien. Ia berbalik lalu menghampiri sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana. Perlahan ia membuka map itu dan melihat secarik kertas di sana. Hanya dalam puluhan detik ia kembali menutup map dan menatap si klien.

“Aku tidak mengerti, dari apa yang tertera di sini anda bermaksud untuk gabung dengan agen kami? Ha, kami menolak.”

“Bukan, bukan seperti itu Yunho-kun. Aku yakin anda juga akan sangat terkesima dengan misiku. Misi yang sama denganmu.”

Lelaki itu berbalik lalu kembali mendekati kaca setelah menghela nafas panjang. Kedua mata topaz yang di milikinya mengarah ke bawah, melihat deretan mobil yang berhenti di depan lampu lalu lintas. Markas agen Yunho memang terletak pada gedung bertingkat sampai 5 lantai, ini adalah cara mereka untuk menutupi kecurigaan masyarakat tentang keberadaan mereka.

Karena tidak mungkin agen pembunuh seperti mereka akan menjadikan sebuah gedung sebagai markas—sebagian lainya selalu pada tempat terpencil. Yunho bangkit lalu mengjampiri klienya masih dengan membawa map di tanganya, klien melipat kedua tanganya di dada dan menoleh ke arah Yunho yang menatapnya meminta penjelasan.

Klien menyeringai kecil, “Lihat bis abu-abu itu,” kedua matanya mengarah pada bis yang di maksud, Yunho mengikuti arah pada tersebut dan menemukan bis panjang di posisi ke 3 dari depan.

“Di dalam situ, ada seseorang yang pernah aku temui di tempat kerjaku di Seoul, bersama temanya yang berisik hanya dia yang bersikap tidak peduli. Aku tertarik padanya ketika dengan jelas aku melihat ia bersama temanya membuat kericuhan di cafe, well… dengan senjata-senjata yang semakin membuatku kagum dan dia… sekarang ada di sini, di dalam bis itu,” kedua topaznya mengarah pada Yunho,

“Musuhmu, ada di dalam situ.”

Kedua mata Yunho membelak, ia menoleh dan mempertemukan kembali pandangan mereka. Lelaki itu kembali melanjutkan, “Dan ia tinggal bersama istri tercinta, Krystal. Ah, aku lupa, kini namanya menjadi… Kim Krystal.”seringainya tampak jelas pada wajah porselenya ketika aura membunuh di rasakanya dari sosok pemimpin U-know, agenya. Aura dendam dan membunuh bercampur, emosinya memuncak sampai map di tanganya ikut rusak saat tanganya mengepal.

“Aku mengucapkan banyak terimakasih karena telah mau ikut bekerja sama, aku, Shim Changmin, salam kenal.”


Sesuatu, sesuatu seperti ada yang menusuk tanpa wujud membuat Junsu menarik tanganya dari tangan Micky dan berbalik. Kedua oniksnya melihat keluar jendela dengan tajam. Ia yakin, ia merasakan keberadaan seseorang… bukan, tapi lebih.

Ya, seseorang yang sangat membencinya dan bagai kutukan selalu menghantui mimpi-mimpi Junsu. Ia tidak mendapati hal-hal yang mengganjal di luar sana, tapi ia menyadari ada sesuatu yang aneh pada gedung tinggi 2 blok dari gedung pertama ke belakang. Bis kembali jalan dengan kecepatan tinggi, ya, selama sopir bis ini masih waras, Junsu bisa bersikap tenang jika nyawanya tidak terancam jika bis ini mengalami kecelakaan karena seenaknya mengebut.

“Ano, kamu tidak apa-apa, Kim-san?”

“Jangan panggil aku dengan nama itu.”

Micky membeku. Sepasang mata oniks tersebut sudah memandanganya lagi, kali ini bukan tatapan dingin seperti barusan, namun penuh dengan ancaman-ancaman. Micky menelan ludah lalu menunduk, “Go-gomennasai, Junsu-san.”

Junsu menghela nafas panjang sembari memejamkan mata, ia harus bersikap tenang, ia harus lupakan kejadian barusan.

“Tidak apa-apa, panggil saja Junsu, aku bukan orang penting kok. Hm, mau main ke rumahku?”

Kami-sama! Apa yang telah Junsu katakan hampir membuatnya sendiri terserang stroke ringan—Oke, berlebihan, tapi ia tidak habis pikir ini baru pertemuan pertamanya dengan Micky dan tidak terhitung sampai 1jam lalu dengan tenang menawarkan untuk datang ke rumahnya sementara ia menolak teman-temanya di tempat kerja yang mau datang ke rumahnya.

Ajaib, Junsu mulai bersikap sedikit gelisah. Jika Micky menerima tawaran itu, maka habislah semua rencananya, rumahnya yang di penuhi alat-alat senjata akan ketahuan tentang agennya saat itu juga. Semoga menolak, menolak.

“He? Ke rumahmu? Boleh juga, aku sedang nganggur di rumah, ternyata kamu orang baik ya!”

Oh, pemuda ini… innocent atau bagaimana?

Di ajak seperti itu pada orang yang baru di kenalnya langsung di terima, bagaimana kalau ternyata Junsu malah akan membunuhnya? Atau merampoknya? Menculik? Apa mungkin ia sudah tahu Junsu bukan orang seperti itu? Junsu hanya menghela nafas panjang lagi ketika pada kalimat terakhir yang di ucapkan Micky dengan senang. Baik, orang baik… orang baik mana yang telah membunuh orang banyak? Bahkan membunuh ayahnya sendiri, semasa kecil sering mencuri dan memiliki organisasi hitam pula. Walau bukan punyanya juga sih.

“Turun di sini. Rumahku ada di komplek blok M nomor 32E,”

Micky melihat ke samping dan menemukan gang kecil menuju komplek yang Junsu maksud, ia mengangguk lalu turun dari bis beberapa menit setelah bis ini berhenti pada halte bersama Junsu sebelum bis ini kembali berangkat. Beruntung bagi Junsu karena tempat tinggalnya jauh dari kawasan organisasi U-know.


“Yappari! Ternyata masih SMA ya? Kyaa~ kamu imut banget lho!”

“Hehehe, kakak juga cantik, aku kira kakak masih sekolah, ternyata kakak istrinya Junsu-san! Beruntungnya~”

“Aish, padahal umurku sudah kepala dua, ternyata masih awet muda ya! Panggil aku Krystal aja, oke?”

“Eh? Ba-baik Krystal-neechan!”

“Jangan! Cukup Krystal aja! Kita ‘kan teman!”

“Te-teman?”

Krystal mengangguk cepat, “Uhm!”

“Aaah! Arigatou nee—uhm, maksudku Krystal!”

Dengan malangnya, Junsu, berdiri di depan kompor dengan memakai celemek merah muda yang dengan ogah-ogahan memasak sup untuk makan malam. Wajahnya jauh lebih kusut dari pertama ia dan Micky memasuki rumah. Sedang, sederhana, hanya 2 lantai dan taman kecil di halaman depan dan halaman belakang serta garasi dan lahan parkir yang memuat 1 mobil. Pagar serta gerbang berwarna hitam tinggi dan dinding luar rumah berwarna merah. Seorang istri, seorang anak perempuan dan seorang pembantu yang membawa anaknya.

Ketika baru membuka pintu, Junsu sudah disambut oleh pelukan hangat dari Krystal sebagai ucapan ‘selamat datang’ dan sempat-sempatnya bermain mata dengan Micky. Di sengaja atau tidak, Krystal hanya memakai kimono tebal dalam keadaan sedikit basah dan itu bertanda habis mandi.

Tidak di duga-duga, sebuah celemek merah muda di keluarkanya dari balik punggung lalu mengikat talinya di leher Junsu dan pinggang dengan cepat, memintanya yang memasak untuk hari ini. Ck, padahal belum juga membuka sepatu. Akhirnya, dengan langkah lunglai Junsu memasuki ruang makan yang bergabung dengan dapur di ikuti Micky.

Lagi, tidak di duga-duga, saat Krystal dan Micky tengah mengobrol, ternyata pemuda tersebut masih duduk di bangku 3 SMA di salah satu gakuen yang baru-baru ini selesai di resmikan sebagai gakuen baru di Tokyo. Micky juga mempunyai peliharaan anjing. Ah, tempat tinggalnya ternyata lumayan dekat, bukan…sangat dekat karena sekomplek.

Tunggu.

Ada yang terlewatkan, ya. Pertemuan pertama di bis itu, segerombolan pria besar yang memandanginya tajam, Junsu berani bersumpah ketika Micky mengucapkan kata ‘maaf’ untuknya, rasa terkejut muncul dari mimik pria-pria tersebut. Di tambah lagi dengan mereka turun dari bis, Junsu diam-diam sempat melirik ke tempat para pria barusan tempati dan telah kosong. Mungkin, mungkin saja…

Kedua oniks Junsu berputar melirik Micky dari sudut matanya, bagaimanapun juga, ini terlalu aneh untuk anak berumur 17 tahun mempercayainya yang bahkan 7 tahun lebih  tua darinya. Sampai datang kesini tanpa ada rasa takut atau kegugupan sama sekali. Sebuah kecurigaan muncul, sebuah alasan mengenai Micky adalah dia bagian dari organasisasi hitam lainya yang menyamar dan diam-diam akan menghancurkan rencana Junsu.

Satu kemungkinan, saat pernikahanya dulu dengan Krystal, ia masih belum mengetahui jelas organisasi mana yang datang atas perintah pemimpinya untuk mengacaukan acaranya. Krystal hanya mengatakan kemungkinan itu adalah suruhan ibunya yang selalu menentang perilaku Krystal. Kalau di ingat-ingat, pernikahanya itu…

“Honey~ kamu masak atau lagi meracik racun untuk membunuh kami, sih?”

“Tidak, tidak. Lupakan.”

Krystal mengernyit keheranan. Ia bangkit mendekati Junsu—setelah puas mengobrol dengan Micky di ruang makan lalu mengaluhi leher Junsu dengan kedua tanganya. Junsu masih berkutat pada pikiranya, ada hal lain yang membuatnya pening. Ya, rumahnya sekarang bagai disihir oleh tokoh legendaris yang tak lain adalah Harry Potter, tidak ada senjata yang malah  bergant oleh lukisan-lukisan suasana masehi dan barang-barang lainya yang ‘normal’. Apa Krystal telah menyadari kedatangan tamu dari beberapa jam lalu?

“Ada apa?” tanya Junsu datar mulai kembali tersadar dari dunia lain. Kedua tanganya kembali memegangi pinggiran wajan dengan lampin di sebelah tangan kiri dan tangan lainya memegang irus yang tengah mengaduk sup.

Krystal cemberut, “Senyum dong sekali-kali, nanti wajahnya cepat keriputan lho!”

“Hn.”

Oke, harus mencharger kesabaran terlebih dahulu jika ingin memulai pembicaraan dengan putra Kim ini. Tidak ada kata lain yang ingin di ucapkanya selain dua huruf tidak jelas artinya, mengingat sudah tinggal seatap hampir 6 tahun lamanya, Krystal belum bisa merubah wajah stoic kesayangan Junsu dengan yang lebih ‘segar’. Bahkan, anaknya sendiri sempat menangis ketakutan melihat wajah menyeramkan Junsu. Kalau dilihat-lihat, Junsu itu sebenarnya memang manis dan sangat sangat tampan, tidak ada jeleknya walau mau dandani seperti monyet pun. Sayangnya, sekali sudah menampakan stoic andalanya, lupakan pernyataan mengenai hal mengagumkan barusan, tidak akan berlaku dilihat dari sisi mana pun, ‘Kan?

Sembari menggerutu kecil, Krystal menarik kedua tanganya dan mendorong bahu Junsu kesal, Ia berbalik dan kembali pada tempat sebelumnya.

“Suami macam apa dia? Aku seperti memiliki suami berwujud patung.” desis Krystal masih memandang punggung Junsu sangat kesal.

Micky berdehem, “Ehm, kalau aku menganggu, lebih baik a-”

“AH! Enggak kok sayang~”

“E-eh?!”

Junsu mendengus, “Che, kebiasaan.”mengingat dimana dan kapanpun jika merasa senang dengan siapapun Krystal–dengan wajah berseri-seri akan mengatakan ‘sayang’ sekalipun pada pedagang es cendol (?).


Derit suara gerbang digeser, sepasang kaki keluar dari dalam sana ketika gerbang dibuka, tampak senyum ramah di wajahnya setelah membungkuk memberi salam pada kedua orang di depanya. Rube kelam yang di milikinya mengarah pada sepasang suami istri yang tengah menghampirinya, namun di kedua mata tersebut tidak ada sama sekali yang turut sama dengan air wajahnya kini. Begitu mereka sampai di ambang gerbang, Micky segera meninggalkan tempat dengan sedikit tergesa-gesa sembari sesekali melirik jam tangan sportnya. Sebelum Micky mencapai 10 meter, Krystal berseru sambil melambaikan tanganya,

“Main lagi ya ke sini! Be carefull!!”

Dengan tersenyum lebar hingga sempat Micky melihatnya sebelum benar-benar hilang di tikungan, Junsu mengernyit ketika Micky mengarah pada jalan keluar dari komplek, setahu ia, barsuan Micky menjelaskan ia tinggal hanya beberapa blok dari rumahnya. Atau mungkin hanya beralasan agar bisa terus berlama-lama di kediamanya? Tapi kenyaatanya, Micky memilih pulang lebih dulu sebelum benar-benar petang berganti menjadi malam dan tentu dengan alasan ‘ibuku khawatir’.

Selagi Junsu kalut dengan pikiranya, Krystal kembali menurunkan lengan kirinya dan senyumnya memudar ketika sosok itu hilang. Wajah yang sama stoic-nya dengan Junsu, ia lalu berbalik lalu membuka tali kimononya,

“Cepat kemasi barang-barangmu, kita harus berangkat sekarang.” Ujarnya lalu berlalu meninggalkan Junsu yang—sedikit—terhenyak begitu mendapati Krystal yang sudah mengenakan celana legging hitam, t-shit abu-abu dengan mantel tipis berwarna gading. Di paha kiri sudah terpasang kantung kecil hitam berisi sebagian senjata dan belum lagi kantung kecil dipinggang kirinya. Ketika ia sampai di depan pintu, ia mengeluarkan sebuah tali ikat rambut warna putih lalu menggelung rambutnya.

Ia berbalik, sepertinya harus menjelaskanya dulu, ia berbalik lagi lalu berjalan masuk dengan cepat di ikuti Junsu yang mengejarnya setelah menutup pintu dengan kencang hingga meghasilkan suara debam-an kecil. Junsu segera menyesejajari langkahnya dengan Krystal.

“Aku tidak menyadari ternyata alasanmu dengan sehabis mandi serta menggunakan kimono barusan adalah sebagai tipuan untuk Micky. Ada apa sebenarnya?”

“Tidak perlu banyak bicara, lekas kerjakan apa yang telah aku perintahkan. Kita datangi acara oprah besok pagi, ada yang harus kamu lakukan.”

“Maksudmu? Kau tertarik dengan acara seperti itu?!” kali ini nada berbicara Junsu lebih tinggi dan agak membentak ketika Krytal membuka lemari abu-abu di kamar mereka yang letaknya paling belakang. Sebelum menjawab pertanyaan Junsu, ia sudah membuka sebuah kotak besar di dalam lemari pakaian yang di sembunyikan di antara tumpukan baju.Menarik keluar dua senapan, delapan buah peledak kecil berukuran 4 lebar x panjang, tiga buah pistol Ruger Elsie dan sebuah kotak hijau gelap berisikan bahan-bahan peledak dan cadangan peluru.

Semuanya di masukan dalam ransel olah raga warna merah terang di atas ranjang dengan cepat, sebelum semuanya benar-benar selesai, ia meninggalkan sebuah pistol lalu mengarahkanya pada kepala Junsu yang berada di samping kananya.

Kedua oniksnya memandang tajam, “I’ll kill you now if you-“

“Ok, ok. Calm down.” Kedua tangan Junsu mengangkat di depan pistol sebelum sebuah peluru membolongi kepalanya. Ia benci jika harus bersikap lemah seperti ini, tapi apa boleh buat. Yang harus ia lakukan adalah cukup menuruti peritah Krystal dan akan mendapat penjelasanya mungkin ketika di perjalanan. Ia berbalik lalu segera mengeluarkan tasnya dari kolong kasur, selagi ia melipat pakaian…

“Bagaimana rumah ini bisa begitu cepat berubah?”

Krystal terkekeh kecil, “Karena dua anggota kita mengawasimu dan melihatmu bersama Micky di dalam bis dan memberitahuku kamu mengajaknya kemari, maka aku segera mendekorasi rumah sebisaku dalam 15 menit.”

Ha, kini Junsu mengerti mengapa segerombolan pria di dalam bis saat itu terus memandangnya. Ternyata…Apa? Dua orang?

Kenyataanya, yang Junsu lihat bahkan lebih dari empat orang. Ya, kesimpulan yang dapat Junsu simpan sebagai poin pertama dalam daftar kecurigaanya—oke, lagi-lagi ini berlebihan, yang jelas ia menaruh poin bahwa pria-pria tersebut bodyguard atau semacam agen-agen kecil yang di punyai Micky, tidak salah lagi, semua bukti sudah jelas, namun… apa mungkin anak sepolos dan dari dengan diam-diam Junsu mengecek tasnya, hanya terdapat barang-barang yang biasanya anak muda bawa dan di dalam ponselnyapun tidak ada yang mencurigakan semua, Micky salah seorang agen atau organisasi yang menyamar?

“Apa anggota lainya ikut terlibat?”

Tidak ada balasan sampai menit selanjutnya, sampai mereka keluar dari rumah dengan sebuah mobil audi biru mengkilap, hanya terus di kelilingi keheningan. Junsu hanya di perintah lagi untuk menuju airport tanpa tahu tujuan yang sebenarnya. Dari balik kaca spion, Junsu dapat melihat Krystal yang hanya terus membenahi alat-alatnya. Lalu sebuah suara mulai memecah keheningan.

“Sebenarnya, organisasi kita tidak terlibat, hanya kita berdua dan kita akan ke Inggris malam ini juga.”

Hampir saja Junsu akan menabrak sebuah truk bila ia tidak dapat mengendalikan kesadaranya antara mencerna perkataan Krystal dan… ya ini aneh, sangat aneh karena sosok Micky terus terngiang-ngiang di benaknya. Entahlah, Junsu bahkan tidak ingat lagi apa yang sedang di pikirkanya tentang bocah sekolah itu.

“Akan aku beritahu tujuanku nanti di airlines.”

Kata-kata terakhir Krystal sebelum akhirnya mobil terhenti di depan lampu yang menunjukan cahaya merah dalam kurun waktu 125 detik lamanya dan kedua bibir masing-masing saling bertemu ketika Krystal mengalungi tanganya di leher Junsu dan membawanya mendekat. Pada detik 60 ciuman mereka memanas, detik selanjutnya terus berlanjut sampai ketika lampur hijau menyala, mobil dijalankan dengan Krystal yang kembali pada posisi duduknya sambil mengenakan kembali mantel yang sempat menjadi korban ‘permainan’ tangan Junsu, sebuah tanda merah tampak jelas pada rahangnya dan sosok pemuda di sampingnya hanya menyeringai kecil.

Walau,tidak di lakukan atas dasar yang bernama cinta.

Seperti halnya ketika kembali mengingat bocah pirang berlarian mengitari danau bersama bocah berambut hitam kelam yang memiliki safir saling tertawa dan mengejar satu sama lain. Bermain petk umpet lalu salah seorang terluka, dengan segala kekhawatiran, bocah pemilik mata safir itu memapahnya pada sang kedua orang tuanya dan ia dapat melihat jelas bagaimana si bocah pirang sedikit meringis ketika kapas beroleskan obat merah mulai menuntul-nuntulkan pada luka di lututnya, sang ibu mengecup puncak kepala si bocah pirang lalu mendekapnya erat-erat, menghilangkan rasa perih pada kakinya.

Kasih sayang penuh di di dasari oleh cinta,Walau hanya mengenangnya—kejadian yang berlangsung tidak lebih dari 12 tahun di rasakanya.

Tiba-tiba sebuah mobil menyerempet mobil mereka…

To Be Continued