fanfiction for our soul

Arsip Penulis

BETWEEN US/ Chapter 1


Tittle : Between Us
Author : LYunjae aka Lyl-Yunjaeholic
Genre : YAOI/ Romance/ Mpreg
Rated : NC17
Length : Chapter 1
Main Cast : Jung Yunho and Kim Jaejoong
Other Cast : Park Yoochun and Kim Junsu *maybe added in next chap*

1 years ago…

Seorang pria tampan dengan tubuh tegap sempurna berjalan santai melewati pelataran parkir ShinKi High School. Salah satu sekolah elite di kota besar Seoul. Sekolah dimana anak-anak dari pengusaha-pengusaha kaya di Korea Selatan bernaung. Sekolah dengan image bersih dan terkenal dengan tingkat kedisiplinannya yang tinggi. Sekolah yang mencetak kader-kader penerus perusahaan dengan prestasi gemilang. Namun siapa sangka, sekolah bertaraf internasional itu masih memiliki segelintir murid yang sangat tak bisa diharapkan oleh sekolah. Mungkin tujuan orangtua mereka lah yang mengharapkan anak mereka menjadi anak yang disiplin dan berprestasi sehingga setelah mereka lulus, mereka sudah dapat diberi tempat pada perusahaan orangtua mereka. Atau mungkin menggantikan posisi mereka?

Oke, setidaknya itu memang harapan hampir semua orangtua bukan? Lantas bagaimana jika pihak sekolah yang sudah berusaha keras mendidik siswa-siswi mereka, sementara dari pihak anak didik mereka sendiri tak berusaha untuk menjadi apa yang orangtua mereka harapkan?

“Ya Jung Yunho!”

Pria tampan berusia 18 tahun itu menghentikan langkah dan menoleh pada seseorang yang baru saja memanggil namanya dengan malas. Seorang wanita berusia sekitar 40an mendekatinya dengan berlari-lari kecil. Pria itu tersenyum kecut saat melirik sepatu hitam berhak 7 cm yang dipakai wanita itu. Dalam hati pria itu berharap, semoga wanita itu terkilir dan tak perlu repot-repot lagi untuk menegurnya. Namun tampaknya harapannya tak dikabulkan oleh Tuhan.

“Kau tahu ini jam berapa?” tanya wanita itu setelah kini berdiri didepannya sambil berkacak pinggang.

Pria yang dipanggil Yunho itu mengangkat tangan kirinya, melirik angka yang ditunjukkan jarum Rolex disana.

“8 lebih 4 menit” jawabnya pendek.

“Dan kau tahu itu artinya apa?” seru wanita itu lagi. Suaranya terdengar menggema disetiap sudut sekolah. Yunho mengangkat bahu dan menarik kecil ujung bibirnya. Berpura tak tahu, atau memang tak tahu? Wanita itu mendengus.

“Untuk yang keseratus dua puluh satu kalinya kau datang terlambat Jung Yunho!” raung wanita itu.

“Sekarang—”

“—Ikut keruangan Anda kan sosaengnim?” potong Yunho cepat sambil memutar bola matanya, seolah-olah apa yang hendak dikatakan oleh gurunya itu adalah ucapan selamat pagi setiap harinya. Mudah diingat, sering didengar dan biasa didapat.

=====

Jung Yunho, anak pertama dari pemilik Jung Coorporation. Salah satu perusahaan elektronik terbesar di Korea Selatan. Siswa tampan berusia 18 tahun itu terkenal akan ketampanan sekaligus keberandalannya. Ia terkenal dikalangan siswi, bahkan tak sedikit yang menginginkannya untuk menjadi pasangan mereka. Setiap hari ia mendapat berbagai hadiah dari mereka. Coklat, kue, surat, bunga, bahkan boneka. Tak hanya itu, ia juga sangat terkenal dikalangan guru. Namun bukan karena ketampanannya, melainkan karena keberandalannya. Mungkin ia akan mendapat rekor Muri jika saja ada penghargaan khusus kategori ‘siswa aktif’. Bagaimana tidak? Ia adalah siswa yang paling aktif membolos, aktif merokok, aktif membersihkan toilet guru, dan juga aktif mencari masalah. Baik masalah dengan siswa dalam maupun siswa luar. Seluruh guru bahkan staff ShinKi High School mengenalnya. Setiap hari ia mendapat hadiah tersendiri dari para guru, mulai dari ceramah agama, nasihat, teguran, hukuman bahkan ‘perhatian ekstra’. Namun itu semua tak dapat mengubah sikapnya. Semua nasihat dan teguran dari para guru hanya seperti angin lalu baginya. Masuk melalui telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri.

Tak hanya itu, ia juga sudah terlalu sering mendapat skors dan surat pemanggilan orangtua, dan semua tetap tak ada bedanya. Sama saja. Pasti semua bertanya, mengapa pihak sekolah tak mengeluarkannya saja? Tentu saja sekolah tak dapat melakukannya, karena Appanya termasuk salah satu pengusaha yang menanamkan modalnya 40% untuk pembangunan sekolah itu.

“Yo Yunho!”

Seorang pria bersuara husky menepuk lengannya. Yunho yang sedang duduk sendiri sambil menghisap rokok diatap sekolah –tempat favoritnya- menoleh. Dilihatnya sahabat sekaligus soulmatenya sejak kecil. Park Yoochun, kini sudah duduk manis disampingnya.

“Kau kenapa?” tanyanya. Heran melihat sosok disampingnya yang entah mengapa seharian ini tak banyak bicara. Ya meskipun Yunho memang terkenal dingin dan tak banyak bicara, namun Yoochun sangat mengenal sahabatnya itu.

Yunho menghisap rokoknya yang hampir habis dalam-dalam, kemudian membuangnya ke tanah dan menginjak putung rokok itu sampai mati dengan sepatunya. Bersamaan dengan keluarnya asap rokok yang masih tertinggal melalui lubang hidung beserta mulutnya.

“Yoochun ah bagaimana kalau nanti malam kita berpesta?” usul Yunho. Sungguh sama sekali tak berhubungan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Yoochun.

“Party? Ooh I love it!” sahut Yoochun dengan semangat. Melupakan pertanyaannya semula. Yunho tersenyum tipis menyadari betapa mudahnya mengalihkan pembicaraan dengan sahabatnya itu.

“Ah ya aku punya tempat baru untuk party di Club pinggiran kota” Tambah Yoochun.

“Pinggiran kota? What the hell? Kau pikir tak ada club mewah disini?” sahut Yunho tak percaya.

Yunho heran dengan selera Yoochun yang tiba-tiba berubah. Bukankah ia yang selalu mengajak Yunho pergi ke club-club mewah dan terkenal di kota Seoul? Lantas mengapa tiba-tiba sekarang ia mengajaknya pergi ke club pinggiran kota yang jelas tak lebih mewah dan nyaman dari club-club di Seoul?

Yoochun terkekeh melihat ekspresi wajah Yunho yang terkejut. “That’s different with another club” Yoochun menjawabnya dengan setengah berbisik

“Apa maksudmu?” Yunho menatap sang cassanova itu dengan curiga.

“It’s kinda secret. Kau akan merasakan sesuatu yang berbeda disana. Trust me!” Yoochun menepuk lengan Yunho dan tersenyum penuh arti.

=========

Malam harinya, Yunho dan Yoochun pergi ke club pinggiran kota yang merupakan rekomendasi dari Yoochun. Sesampainya disana, Yunho membenarkan perkataan Yoochun. Club bernama Ride On ini meskipun kecil, tetapi terasa sangat nyaman. Tak kalah dengan club-club yang biasa mereka kunjungi di Seoul.

Mereka berdua mencari meja kosong di pojok ruangan. Suara hingar bingar terdengar kencang. Menendang-nendang gendang telinga siapa saja yang mendengar. Sekumpulan pria dan wanita menggoyangkan badan mereka, mengikuti irama musik yang menghentak dilantai dansa.

Yoochun nampak celingukan. Menyusuri setiap sudut club itu, seperti sedang mencari seseorang.

“Hei mana ‘sesuatu yang berbeda’ yang kau janjikan itu?” tanya Yunho setelah memesan segelas wine.

“Nah itu dia!” bukannya menjawab, Yoochun malah menunjuk seseorang diantara kerumunan orang yang tengah menggoyangkan badannya. Yunho membalikkan badan, mengikuti arah yang ditunjuk Yoochun.

“Junsu! Sini!” seru Yoochun sambil melambaikan tangannya. Sementara Yunho yang memang tak tahu pasti mana salah satu kerumunan itu yang tengah dipanggil Yoochun, masih celingukan.

Beberapa detik kemudian, ia dapat melihat seorang pria berwajah imut dengan memakai seragam waiter hitam putih dan dasi kupu-kupu dilehernya, membalas lambaian Yoochun dan berjalan mendekatinya. Berusaha melewati kerumunan orang-orang disana. Yunho kembali mengalihkan pandangannya pada Yoochun dan menatap sahabatnya itu dengan heran.

“Siapa dia?” tanyanya.

“Itu yang ku maksud ‘sesuatu yang berbeda’ Yunho” Yoochun tersenyum lebar sambil terus memperhatikan Junsu, si pria imut.

Yunho memandangnya tak mengerti. ‘Apa maksudnya?’pikir Yunho

“Chunnie!” seru pria imut itu dengan nyaring. Yunho berani bersumpah, suara pria itu bahkan dapat mengalahkan suara musik kencang disana.

Mata Yunho terbelalak begitu dilihatnya Yoochun memeluk Junsu dengan erat dan mengecup bibir pria itu. Ia tak menyangka, sahabatnya itu ternyata tertarik seorang pria. Yunho pikir, Yoochun hanya tergila-gila pada makhluk bernama wanita.

“Beib kenalkan ini sahabatku, Jung Yunho” setelah melepaskan pelukannya, Yoochun menunjuk Yunho yang masih terkejut. Junsu mengulurkan tangannya didepan Yunho, Yunho pun menerimanya dengan ragu-ragu. Namun tetap tak mengurangi sedikitpun sikap dinginnya.

“Annyeong Kim Junsu imnida” Junsu berkata sambil tersenyum ceria.

“Jung Yunho”

===

Dan malam itu, mereka berdua menghabiskan malam dengan bersenang-senang. Ah bukan berdua, melainkan sendiri-sendiri mungkin? Setidaknya itu pendapat Yunho. Ia yang mengajak Yoochun untuk berpesta, tetapi mengapa justru Yoochun sendiri yang berpesta?
Yunho meneguk habis gelas wine kelimanya. Ia mendengus, dan melirik sebal dua makhluk di sudut meja yang asyik berciuman panas. Melupakan keadaan sekitar, bahkan melupakan keberadaannya juga mungkin. Ia mengumpat. Mengapa semua orang tak mengakui keberadaannya? Mengapa semua orang menganggap dirinya tak ada? Mengapa pula semua orang mengacuhkan dirinya? Termasuk orangtuanya?

Oh oke setidaknya itu pemikirannya sendiri kan? dan itu pula yang ia rasakan. Padahal semua orang tahu, ia sangat terkenal. Baik dikalangan siswi dan bahkan teman-teman wanitanya diluar sekolah. Semua orang menganggap dirinya sempurna. Ia tampan, tubuhnya tegap, dan ia juga kaya. Apapun yang ia inginkan, ia akan mendapatkannya dengan mudah. Bukankah itu merupakan nilai plus baginya?

Namun hati orang, siapa yang tahu? Dari luar ia memang tampak sangat sempurna dengan semua yang dimilikinya, tetapi siapa yang menyangka? justru ia merasa sama sekali tak memiliki kesempurnaan. Ia memang memiliki kesempurnaan secara lahiriah, akan tetapi tidak dengan kesempurnaan batiniah. Sejak kecil ia kurang mendapatkan curahan kasih sayang dari kedua orangnya. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mereka yang lebih memilih mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya ketimbang memperhatikan dirinya dan adik perempuannya. Jung Jiyool. Mereka yang selalu menganggap ia dan adik perempuannya sudah merasa bahagia dengan harta melimpah yang diberikan untuk memenuhi kebutuhannya. Melupakan kebutuhan curahan kasih sayang yang seharusnya mereka berikan kepada anak-anaknya. Mungkin sebagian orang akan berpendapat, hidup berlimpahan harta jauh lebih baik dari pada segalanya. Karena dengan harta yang dimiliki, kita akan mendapatkan apapun yang kita. Tapi tidak bagi Yunho.

Sikap acuh orangtuanya inilah yang memacu segala sikap dan kepribadian Yunho. Ia yang kurang mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya, selalu bertindak semaunya sendiri. Apalagi setelah perceraian orangtuanya dua tahun lalu, ia semakin tak dapat dikontrol oleh siapapun. Baik oleh Umma, Appa, dan bahkan guru-gurunya. Semua lebih memilih angkat tangan. Menyerah. Dan sekali lagi, semua tingkah buruknya tak mengurangi sedikitpun kesempurnaan lahiriahnya di mata orang lain. Karena yang mereka tahu hanya dua hal. Jung Yunho yang kaya dan tampan.

Sebuah tepukan mendarat di punggungnya disusul dengan guncangan kecil. Yunho mengangkat kepalanya yang semula ia letakkan diatas meja. Pening dan berat. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, memandang sekelilingnya yang sepi dan dengan pandangan sedikit buram. Ia melirik gelas wine yang masih dipegangnya sejak tadi. Meneguk isinya sampai habis, dan meletakkan gelas itu diatas meja dengan kencang. Beruntung gelas itu tak pecah. Gelas wine ke sepuluhnya.

“Maaf Tuan, club akan ditutup”

Sebuah suara mengejutkannya. Ia berbalik. Dilihatnya seorang ‘wanita’ yang seumuran dengannya, berambut pendek berwarna hitam berpakaian yang sama dengan yang Junsu pakai. Kemeja putih dan celana hitam, dengan dasi kupu-kupu dileher. Yunho memandangnya heran. Mengapa wanita itu memakai celana panjang? Bukankah pelayan wanita seharusnya memakai rok mini yang memperlihatkan kedua kaki jenjangnya? Yunho mengibas-ngibaskan tangan didepan wajahnya. Tak peduli wanita itu memakai apa. Ia mengalihkan pandangannya pada sudut meja, ia mengerutkan kening. Yoochun dan kekasihnya sudah tak ada disana. Kemana dia?

“Tuan, club akan ditutup” wanita itu kembali menegurnya sehalus mungkin, meskipun sebenarnya ia sangat kesal pada pria tampan dihadapannya ini.

“Jam hegkk—berapa sekarang?” tanya Yunho di sela cegukannya pada si wanita sambil terus menahan rasa pusing dikepalanya. Wanita itu mendengus pelan sambil melirik Rolex ditangan kiri Yunho. Namun tak urung wanita itu pun tetap menjawab.

“Pukul 2 pagi Tuan”

Yunho mengangguk-angguk, kemudian berdiri dari kursinya. Namun belum sampai 5 detik, tubuhnya limbung dan dengan cepat wanita tadi menahan tubuhnya dengan memegang lengannya sebelum ia benar-benar ambruk. Yunho melirik wanita itu, ia menyadari wajahnya kini sangat dekat dengan wajah wanita itu. Cantik. Itulah pendapat Yunho.

“Anda tak apa-apa Tuan? Sepertinya Anda mabuk” wanita itu berkata. Dari suaranya, Yunho berani pastikan ada sedikit perasaan khawatir disana.

Yunho tersenyum kecut dan menggeleng. Mencoba untuk berdiri sendiri lagi, namun sama seperti sebelumnya, tubuhnya limbung dan dengan cepat wanita itu meraih lengannya kembali. Ia merasa tak kuat untuk sekedar berdiri. Dan Yunho pun membenarkan ucapan wanita itu. Ia mabuk.
Yunho mengumpat dalam hati. Mengapa jadi seperti ini? Yoochun yang mendadak pergi entah kemana, meninggalkan dirinya sendirian dan dalam keadaan mabuk pula.

“Sepertinya Anda harus pulang, saya akan mencarikan taksi untuk Anda” kata wanita itu.

“Aku hhegk—bawa mobil”

Wanita itu menggeleng. “Tapi dengan kondisi Anda seperti ini, sangat tak memungkinkan untuk menyetir sendiri Tuan” tukas wanita itu sedikit kesal. Seharian sudah ia bekerja, kini disaat ia harus pulang dan butuh istirahat, ia malah direpotkan oleh seorang pengunjung Club yang tertidur disana. Sendirian, dan dalam kondisi mabuk.

Akhirnya Yunho pun pasrah saat wanita itu membopongnya, meja Yunho yang memang berada di pojok ruangan nampaknya sedikit menyulitkan wanita itu. Mereka harus melewati meja-meja dan kursi yang masih berantakan karena wanita itu memang belum sempat merapikannya. Dan itu semua karena si pria tak dikenalnya ini.

DUK!

“Auuww!!”

Kaki wanita itu terantuk kaki kursi, otomatis ia langsung melepaskan tangannya dari tubuh Yunho, hendak menyentuh kakinya yang terasa sakit. Namun sial, Yunho yang memang setengah mabuk dan tak kuat menahan tubuhnya sendiri untuk berdiri, tubuhnya pun limbung dan ambruk. Tapi entah mengapa ia tak merasakan rasa sakit sedikitpun pada tubuhnya. Oh ayolah, siapapun yang terjatuh pasti akan merasakan sakit kan?

Perlahan Yunho membuka matanya yang masih terasa berat. Matanya melebar begitu ia menyadari wanita itu berada dibawahnya. Wanita itu tampak tak kalah terkejutnya. Wajahnya begitu dekat dengan wajah Yunho. Bahkan lebih dekat dibanding semula. Sehingga ia dapat melihat dengan jelas seluk beluk wajah cantiknya. Matanya yang begitu lebar nan indah, dengan hidung mancung sempurna, dan bibir merah cherrynya. Mata Yunho terpaku pada bibir merah yang sedikit membuka itu. Penuh dan sedikit basah. Terlihat sangat menggoda. Ia berpikir, bagaimana rasanya jika bibir itu ia sentuh dengan bibirnya? Yunho menelan ludah membayangkannya.

Tanpa Yunho sadari, ia pun mendekati bibir itu dan menyentuhnya dengan bibirnya. Wanita itu terbelalak kaget mendapat ciuman yang tiba-tiba. Ia mendorong tubuh Yunho agar menyingkir dari atas tubuhnya, namun sia-sia. Tubuh Yunho tak bergeser sedikitpun, Yunho malah semakin menciumnya lebih dalam dan berani. Ia tak ingin melepaskan sedetikpun bibir lembut wanita itu dari bibirnya. Bahkan ia belum pernah merasakan kelembutan seperti ini pada wanita-wanita yang pernah ia kencani. Sangat berbeda. Seolah-olah bibir itu memiliki candu, sehingga Yunho tak ingin melepasnya dan bahkan menginginkan lebih dari itu.

“Mmmmmhh—ummh”

Wanita itu melenguh, bibirnya ia kunci rapat-rapat. Tak memberikan sedikitpun celah bagi pria yang tak dikenalnya yang terus berusaha menyelipkan lidahnya. Yunho tak menyerah, ia menggigit bibir itu dengan keras, sampai si wanita berteriak kesakitan. Namun Yunho malah menggunakan kesempatan itu untuk menyelipkan lidahnya ke dalam mulut si wanita. Lidahnya menyesap lidah wanita itu dengan paksa, mengeksplor seluruh yang ada didalam sana. Sedangkan wanita itu mulai memukuli punggung Yunho. Ia sangat kewalahan menerima semua tindakan pria diatasnya itu. Kepalanya ia gerakkan ke kiri dan ke kanan, mencoba menjauhkan wajahnya dari Yunho, namun Yunho malah mencengkeram kuat dagunya. Menahannya agar tak dapat lagi bergerak. Wanita itu terus menerus mengeluh didalam ciuman panas mereka.

Perlahan tangan Yunho yang bebas menarik paksa dasi kupu-kupu yang ada dileher wanita itu, kemudian ia menarik kemejanya sehingga beberapa kancing pun terlepas. Hanya meninggalkan dua buah kancing yang belum terlepas. Wanita itu semakin terkejut, saat Yunho menyelipkan tangannya kedalam kemeja yang telah terbuka itu. Tangannya mulai menyentuh dada datar si wanita. Yunho sedikit tertegun. Tangannya terus menggerayangi dada si wanita, mencoba memastikan adanya benjolan disana. Sedatar apapun dada seorang wanita, pasti masih ada sedikit saja benjolan disana kan? Tapi kenapa dada itu datar sekali?

Yunho yang masih sedikit dipengaruhi alkohol, tak terlalu ambil pusing. Ia tak peduli akan dada datar wanita itu. Ia terus menyentuh dada itu dengan kasar. Saat tangannya menemukan nipple si wanita, Yunho memainkannya dengan jari telunjuknya. Mencubit dan sesekali menekannya. Memberikan rangsangan pada wanita di bawahnya.

“Uuummhh…aaahhhh….”

Wanita itu mulai mendesah. Ia yang semula berontak, kini hanya bisa pasrah. Apalagi setelah pria tak dikenalnya itu memainkan dadanya. Titik sensitifnya. Tenaganya habis sudah hanya untuk memberontak yang tak ada hasilnya sama sekali. Lama-kelamaan, wanita itu mulai membalas ciuman Yunho. Yunho tersenyum kecil. Terselip rasa bangga dihatinya. Selama ini, tak ada satupun wanita yang dapat menolak ciuman darinya. Meskipun ia berontak, Yunho dengan mudah meluluhkannya. Bahkan tak jarang, para wanita itu rela memberikan mahkota paling berharga mereka kepadanya.

“Ahhhhh jangan—”

Wanita itu tersentak saat Yunho mulai mencari-cari kancing celananya dan membuka resletingnya. Yunho memasukkan kelima jarinya kedalam sana, menyentuh ‘miliknya’ yang langsung bereaksi karena sentuhan Yunho. Sedangkan Yunho sendiri tak kalah terkejutnya, menyadari ‘sesuatu’ yang dipegangnya. Sesuatu yang sama sekali diluar dugaannya. Seketika Yunho melepaskan ciumannya, melirik sesuatu dibawah sana yang mengintip keluar dari sarangnya. ‘Wanita’ itu melenguh kecewa karena Yunho menghentikan ciumannya. Yunho kembali memandang ‘wanita’ –ah bukan- pria dibawahnya itu. Pria itu masih memejamkan matanya dengan napas yang masih memburu. Bibir merahnya membuka dan terlihat bengkak.

‘Brengsek!’

Yunho mengumpat dalam hati. Menyadari kebodohan dan kegilaannya. Ia merasa sudah tak waras malam ini, mungkin karena sepuluh gelas wine yang diminumnya. Atau mungkin karena kecantikan pria yang ia kira seorang wanita dibawahnya?

‘Sial!’

Lagi-lagi ia mengumpat, kini bukan karena kebodohannya. Akan tetapi karena pria dibawahnya yang terlihat sangat menggoda dengan bibir setengah terbuka. Terlalu sayang jika dilewatkan bukan?
Pandangannya kini kembali pada ‘sesuatu’ yang masih berada dalam genggamannya. Sesuatu yang tak lebih besar dari miliknya sendiri. Yunho tersenyum meremehkan. Dengan sengaja Yunho sedikit meremas benda yang sudah mengeras itu.

“Ahhhhhh…eenghhhh…”

Pria dibawahnya mengeluh dan sedikit bergerak. Desahannya mampu membuat dada Yunho berdesir hebat. Tangannya kini mulai memainkan kembali ‘milik’ pria cantik itu. Meremas dan sesekali menariknya. Membuat si pria menggelinjang kenikmatan dan semakin mendesah tak karuan. Mempengaruhi otak Yunho untuk terus melakukannya. Membuntu pikirannya yang semula ia pikir waras menjadi tak waras. Yunho mngumpat terus-menerus. Ia benar-benar gila malam ini. Hanya dengan mendengar suara desah dan keluhan pria di bawahnya, ia menjadi seperti ini.

“Tolong—hentikan uhhhhh…aahhhh…” wanita itu mendesah. Menyuruh si pria tampan untuk menghentikan, meskipun itu hanya omong kosong belaka. Tentu saja, ini terlalu nikmat baginya. Mana mungkin ia benar-benar ingin kenikmatan itu berhenti begitu saja.

Merasa miliknya sendiri yang ikut menegang, Yunho melepaskan tangannya dari milik pria itu. Ia membuka celananya sendiri, lalu menarik turun celana si pria cantik sampai benar-benar terlepas, hanya kemeja putih yang setengah terbuka yang masih melekat di tubuh pria cantik itu. Pria itu hanya mengeluh pasrah sambil terus memejamkan matanya. Ia tak mau melihatnya. Walaupun sejujurnya ia sangat menyukai ini, meskipun ia tak mengenal sama sekali pria diatasnya itu. Namun semua sudah terlanjur, dan sayang jika harus berhenti sejauh ini. Beruntung Club sudah sepi, hanya ada mereka berdua disana. Pria itu merasakan bagian bawah tubuhnya mulai terangkat dengan kedua kaki yang kini berada di atas pundak Yunho.

“AAARRGGHHHH! SAKIIIIITTT!!”

Pria cantik itu berteriak penuh kesakitan, saat ia merasakan sesuatu yang keras dan besar menusuk raganya. Tanpa pemanasan. Memaksa untuk terus masuk dan masuk. Air mata mulai mengalir di sudut mata indahnya. Sungguh, baru kali ini ia merasakan sakit yang luar biasa. Seolah-olah tubuhnya di tusuk oleh sebilah pisau. Yunho yang merasa tak tega melihat pria dibawahnya, ia pun segera mengantisipasinya. Ia membekap bibir pria itu dengan bibirnya. Mencoba meredam semua rintihan yang keluar dari bibir merah pria di bawahnya. Setelah tak mendengar rintihan kesakitan dari pria itu, Yunho mulai menggerakkan pinggulnya lebih dalam. Menusuk-nusuk untuk mencari titik puncak kenikmatan. Perlahan pria cantik itu pun mulai turut bergerak seirama dengan gerakan Yunho. Suara desahan, dan keluhan terdengar disela-sela ciuman mereka. Semakin lama Yunho semakin mempercepat gerakannya, menusuk lebih dalam lagi. Membuat si pria cantik menggelinjang dan tubuhnya bergetar hebat.

“Ahhhh…uhhhh—aku—aku—AAARRGHHHH!!”

Dan dalam sekali hentakan, mereka berdua mencapai titik kenikmatan secara bersamaan. Lelah dan lega bercampur menjadi satu dengan napas yang masih memburu. Semua terasa begitu cepat bagi kedua pria yang belum saling mengenal itu. Bagaimana tidak? Hanya karena sebuah kecelakaan kecil, malah menimbulkan kecelakaan besar tanpa memikirkan resiko yang mungkin akan menimpa keduanya. Semua orang pun tahu, setiap perbuatan dan tindakan yang dilakukan tanpa perencanaan, pasti akan menghadapi suatu permasalahan.

=====

Pria cantik itu mendengus berkali-kali. Sudah hampir satu jam lebih, ia berdiri disini. Dipinggir jalan, bersama seorang pria yang sama sekali belum dikenalnya. Menunggu taksi yang tak satupun lewat. Tentu saja, ini masih pukul 5 pagi. Masih terlalu pagi untuk menunggu taksi bahkan bus. Pria cantik itu melirik pria disampingnya yang tengah menyandarkan kepalanya di bahunya dengan mata terpejam. Tiba-tiba ia merasakan kembali nyeri dibagian bawah tubuhnya. Wajahnya sedikit memerah saat mengingat kejadian beberapa jam lalu. Kejadian yang sama sekali tak pernah ia bayangkan maupun ia pikirkan.

‘Sialan! Ia malah tertidur!’ umpatnya.

“Tuan…Tuan…heii!” pria itu menepuk-nepuk pipi Yunho dengan sedikit kencang.

“Hmm?” Yunho menyahut tanpa sedikitpun membuka matanya. Pria itu menatapnya dengan kesal.

“Dimana rumahmu?” tanya pria itu terdengar ketus.

“Aku tinggal diapartemen”

“Ya, ya, maksudku dimana apartemenmu?” pria itu kembali bertanya dengan memutar bola matanya. Sebal.

“Jauh” jawab Yunho pendek

“Aish! Maksudku apa nama apartemenmu?”

“Mirotic”

“MWO?? JAUH SEKALI??”

Yunho mengangkat kepalanya dari bahu pria itu dengan tiba-tiba. Suara pria cantik itu berhasil membuatnya hampir saja jantungan. Ia melirik pria itu sekilas dan kembali menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu seenaknya saja. Tak mempedulikan ekspresi sebal yang ditujukan padanya. Bahkan sepertinya ia tak mengingat kejadian semalam dan tak ingin mengungkitnya lagi mungkin?

“Sssh diam! Kau mengganggu tidurku saja!” rutuknya seraya kembali memejamkan matanya. Si pria cantik semakin melebarkan matanya.

“Lalu bagaimana Anda bisa pulang?” tanyanya kembali, terdengar ketus. Karena bagaimanapun ia tak mungkin terus berada diposisi seperti ini kan? Ia juga butuh istirahat untuk kembali bekerja keesokan harinya. Kaki dan pinggulnya terasa semakin sakit karena berdiri terus menerus selama satu jam lebih. Belum lagi sekujur tubuhnya yang terasa amat pegal.

Hening. Tak ada jawaban apapun yang keluar dari bibir pria itu. Pria cantik itu menunggu. Ia mengira Yunho masih memikirkan bagaimana solusi yang tepat untuknya saat ini. Karena tadi saat Yunho hendak pulang, ia terkejut begitu menyadari ketidak adaan mobilnya. Seketika ia pun beranggapan bahwa semalam Yoochun membawa mobilnya.
Lima menit berlalu, si pria cantik tetap tak mendengar jawaban apapun. Namun yang terdengar hanyalah sebuah dengkuran halus yang mulai keluar dari bibir Yunho. Si pria cantik menatapnya tak percaya.

‘Sialan!’

Ia mengumpat. Marah, kesal, dan lelah bercampur menjadi satu. Dalam hati ia menyesal, mengapa pula semalam ia harus membangunkan pria tak dikenalnya itu? Seharusnya ia biarkan saja pria itu terkunci didalam Club. Jauh lebih baik daripada harus mengganggu waktu istirahatnya bukan? Dan mungkin kejadian semalam tak akan pernah terjadi? Ah tampaknya terlalu banyak kata ‘mungkin’. Pria cantik itu menghela napas. Semua sudah terjadi, lantas untuk apa ia terus-menerus menyesalinya? Toh penyesalan tak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Mereka kan sama-sama pria. Lagipula untuk apa ia terus mengingatnya? Itu kan hanya kecelakaan, dan pria yang tak dikenalnya itu pun nampaknya tak menganggapnya serius. Atau sebut saja hanya main-main. Ya, hanya main-main. Dan ia yakin, tak akan ada yang berubah dari dirinya setelah ‘permainan’ singkat semalam.

==TBC==

Hahahhaha ottoke??
mian yah aku uda lama bgd gag ngepost FF. Bagi yg ru baca, silahkan baca prologueNa dulu deh heheh. No silnet reader oke? kaLo pd SR, aku mls ngepost chap 2 >_< *ngambek*

Iklan

WITH ME/ONESHOOT (Sequel of FOOL AGAIN)


Tittle : WITH ME

Author : LYunjae aka Lyl-Yunjaeholic

Rating: PG 13

Length: 1 S/ 10 Ms.Word

Genre : YAOI/Straight/ Angst, Lil bit Mistery *maybe Creepy*

Cast: Jung Yunho and Kim Jaejoong

Other Cast : Go Eun Ah


===============

Malam nampak semakin larut. Suara-suara jangkrik yang terdengar disetiap sudut membuai setiap insan semakin dalam pada bunga tidurnya. Tak terkecuali insan yang tengah tenggelam dalam kasur king size dan selimut tebalnya. Wajah tidurnya nampak semakin tampan dikala pancaran sinar bulan menerpa wajah itu melalui celah tirai kamar.

Tidurnya nampak begitu nyenyak. Entah apa yang dimimpikannya sehingga dirinya tak menyadari sedikitpun kehadiran seseorang yang sejak 20 menit lalu hanya duduk di sisi ranjang tanpa melakukan apa-apa. Sosok itu hanya menatap wajah damai sang pria dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Perlahan sosok itu mengangkat tangan kanannya yang pucat. Menyentuh pipi pria tampan yang masih tenggelam dalam bunga tidurnya. Tiba-tiba pria tampan itu bergerak, merasakan akan adanya sentuhan dingin dipipinya. Sedikit demi sedikit matanya terbuka. Rasa kantuk yang masih mendera membuat matanya terasa berat, namun rasa ingin tahunya akan sentuhan dingin itu memaksanya untuk tetap membuka mata.

Minimnya penerangan kamar membuat pria tampan mengerjap-ngerjapkan matanya. Merasa akan hadirnya seseorang, pria tampan menyalakan lampu kecil yang berada di atas meja disamping ranjang untuk melihat lebih jelas sosok yang tengah duduk di sisinya. Pria itu menggosok-gosok matanya demi memperjelas penglihatan. Sejurus kemudian pria tampan nampak sangat terkejut saat dilihatnya wajah sosok itu. Meskipun terlihat samar-samar namun pria tampan sangat mengenali tekstur wajah itu. Wajah seorang pria yang dulunya selalu terlihat cantik dan merona kini terlihat pucat dan datar tanpa ekspresi.

“Jae…” panggilnya lirih hampir tak bersuara.

Sosok yang dipanggil itu hanya terdiam. Matanya tak sedikitpun beralih dari pria tampan di depannya dengan pandangan yang sama. Datar.

“Jaejoong~ah…kau kah itu?” pria tampan kembali memanggilnya. Namun panggilan itu terdengar seperti pertanyaan untuk dirinya sendiri.

Lagi-lagi Jaejoong hanya terdiam tak menanggapi, namun Jaejoong malah beranjak dari duduknya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari pria tampan yang tak lain adalah YunHo. Tubuhnya mundur beberapa langkah. Menciptakan jarak diantara keduanya.

YunHo yang masih tak percaya akan sosok di hadapannya, kini menggosok kembali matanya. Dan sosok pucat itu masih berada disana. Berdiri didepan lemari kaca sambil memandangnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan oleh YunHo. Kembali YunHo menepuk-nepuk pipinya, berharap dirinya akan segera terbangun dari tidurnya. Namun sosok berpakaian serba putih itu tetap berdiri tak jauh dari ranjangnya. Nampak begitu nyata.

Berbagai perasaan muncul dihati YunHo. Antara senang, sedih, rindu, sekaligus…takut.

“Tapi ini tak mungkin…” bisiknya. Meyakinkan diri bahwa ini semua hanyalah mimpi. Bahwa sosok pucat itu hanyalah halusinasi.

“Yun…”

DEG!!

Jantung YunHo seakan berhenti berdetak dikala mendengar suara parau yang keluar dari bibir pucat Jaejoong. Suara itu sangat terdengar jelas di telinga YunHo meskipun Jaejoong memanggilnya dengan lirih.

YunHo hanya dapat mematung. Tubuhnya serasa terpaku diranjang king sizenya.

“Aku mencintaimu Yunnie~ah…”

Hati YunHo mencelos mendengar pernyataan sosok pucat itu. Entah mengapa YunHo merasa bahwa dari suara itu mengandung berbagai arti. Kebahagiaan, kesedihan, kejujuran dan juga kekecewaan.

“Tapi kau tak mencintaiku” tambahnya. Wajahnya yang semula tak berekspresi apa-apa, kini nampak begitu sedih. Membuat hati YunHo sakit. Ingin rasanya dia berlari untuk merengkuh tubuh Jaejoong yang nampak rapuh, namun entah kenapa tubuhnya serasa tak dapat digerakkan sama sekali.

“Kau salah… Aku—aku sangat mencintaimu”

”Bohong!!” sahut Jaejoong dingin. Raut wajahnya kini nampak murka. Mata besar yang dulu selalu bercahaya dan lembut kini berubah menjadi tajam dan menusuk.

”Kau…pembohong…”desis Jaejoong. Matanya berkilat seperti mata seorang pembunuh. Mematikan setiap gerakan jantung YunHo.

YunHo hanya dapat menelan ludah. Bibirnya terasa kelu. Hatinya terasa di tusuk belati mendengar sosok yang dicintainya berkata demikian. Di sisi lain, perasaan takut semakin menjalari dirinya. YunHo mulai menggigil.

”Aku tak berbohong…aku masih mencintaimu Joong—” Belum sempat YunHo menyelesaikan, Jaejoong sudah memotongnya.

”KAU PEMBOHONG…” Jaejoong kembali menekan perkataannya. Terdengar begitu tajam. Tatapan dinginnya tak sedikitpun beralih dari YunHo.

YunHo merasa dadanya makin sesak. Perasaan bersalah muncul dihatinya. Perlahan dirabanya dada kirinya, semua terasa amat sangat sakit bagi YunHo. Dalam hitungan detik, bulir-bulir keperakan nampak muncul di sudut matanya.

”Mianhae…Jeongmal mianhae Jaejoongie…” suara YunHo terdengar serak. Kerongkongannya terasa sangat kering. Setetes air mata mengalir di pipinya. Nampaknya kantung matanya sudah tak mampu membendung bulir-bulir keperakan itu.

”Kau pembohong Jung YunHo…”

”Tidak Jae…percayalah padaku”

”Kau pembohong…”

”Tidak…tidak…” YunHo terlihat semakin menggigil.

Kau pembohong…kau pembohong…kau pembohong…kau pembohong…kau pembohong…kau pembohong…

”TIDAAAAAKK!!!” YunHo berteriak sambil menutup telinganya dengan kedua tangan besarnya. Kepalanya menggeleng dengan cepat. Berusaha untuk menghilangkan suara dingin Jaejoong yang menggema di tiap sudut kamarnya.

BRAKK!!

Terdengar suara pintu dibuka dengan kencang. Nampak sosok wanita cantik dengan benjolan kecil diperutnya berdiri diambang pintu sambil menatap heran YunHo yang berteriak seperti orang pesakitan.

”Oppa ada apa?!?” wanita itu menghampiri YunHo dan duduk di sisi ranjang. Tangannya terulur hendak menyentuh lengan kekar YunHo, namun dengan cepat YunHo menampik tangan itu dengan sikunya.

“Jangan katakan itu lagi! Aku tak ingin dengar! Aku bukan pembohong! Aku bukan pembohong!!” YunHo kembali berteriak sambil terus menutup sepasang telinganya.

”Oppa sadarlah! Kau pasti sedang bermimpi buruk” wanita itu kembali berusaha menenangkan YunHo. Tangannya menepuk-nepuk pipi YunHo.

Merasa sudah tak mendengar lagi suara menggema itu, YunHo membuka matanya. Dilihatnya seorang wanita cantik duduk menghadapnya. Seketika YunHo melepaskan kedua tangan dari telinganya setelah disadari kehadiran wanita yang sudah 4 bulan ini menjadi istrinya.

”Eun Ah…” panggil YunHo lirih. Wanita yang dipanggil Eun Ah itu pun tersenyum padanya sambil mengangguk. Tampak kekhawatiran tergambar diwajah cantiknya.

“Kau mimpi buruk Oppa??”tanya Eun Ah lembut.YunHo menggeleng.

”Aku—aku melihat Jaejoong! Dia ada disini…” jawab YunHo. Nadanya terdengar seperti seorang yang ketakutan. Eun Ah menutup mulutnya. Terkejut akan hal yang baru saja YunHo katakan. Namun dengan cepat Eun Ah menguasai dirinya.

”Kau pasti bermimpi Oppa…”ujar Eun Ah meyakinkan. YunHo menggeleng cepat.

”Tidak! Aku tidak bermimpi! Dia—dia ada disana!” sahut YunHo sambil menunjuk ke arah lemari kaca yang berada di sisi kiri kamarnya.

YunHo tercekat saat pandangannya jatuh pada lemari kaca yang ditunjuknya. Jantungnya terasa berdetak semakin cepat. Napasnya pun terdengar semakin tak beraturan. Keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuhnya.

‘Tidak mungkin’ batin YunHo

“Aish Oppa kau sedang bermimpi. Lihatlah tak ada siapa-siapa disana” ujar Eun Ah meyakinkan.

”Aku yakin sekali Jaejoong tadi berdiri disana! Dan itu bukan mimpi Eun Ah! Itu nyata!” YunHo tetap bersikeras meyakinkan Eun Ah bahwa yang dilihatnya tadi adalah Jaejoong.

”Oppa…sudahlah. Relakan kepergian Jaejoong. Dia sudah tenang di alamnya” Eun Ah menepuk-nepuk lengan YunHo. Wajahnya nampak sedih melihat YunHo yang masih belum bisa menerima kematian Jaejoong 4 bulan yang lalu.

”Tapi—tapi aku tidak bohong…dia benar-benar ada” bisik YunHo sambil menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya. Punggungya terlihat bergetar. Yunho terisak kembali.

”Ssstt Oppa mungkin itu hanya halusinasimu saja. Kau ingat kan kalau hari ini tepat 100 hari kematian Jaejoong? Aku yakin yang kau lihat tadi adalah halusinasi dan itu sebagai peringatan untukmu agar mendoakannya” jelas Eun Ah dengan sabar.

”Bagaimana kalau besok pagi kita mengunjunginya dan berdoa untuknya?” lanjut Eun Ah. Yunho mengangkat wajahnya. Nampak air mata telah membasahi wajah tampannya. Yunho pun mengangguk, menyetujui rencana Eun Ah.

Hati Eun Ah terasa sakit saat melihat sosok yang biasanya tegar itu terlihat begitu muram dan sedih. Eun Ah tahu, YunHo masih menyimpan perasaan bersalah pada Jaejoong. Namun bukan hanya YunHo, Eun Ah pun merasa sangat bersalah pula pada Jaejoong karena telah merebut YunHo darinya. Meskipun kematian Jaejoong sudah menginjak 4 bulan tetapi Eun Ah masih merasa bahwa dirinya lah yang menyebabkan kematian Jaejoong.

’Seandainya aku tak pernah mencintai YunHo, pasti ini semua tak akan terjadi’ batin Eun Ah.

”Sebaiknya Oppa tidur kembali. Lihat! Ini sudah pukul 2 malam. Bukankah besok kita harus mengunjungi Jaejoong?” ujar Eun Ah sambil membaringkan Yunho perlahan. Diselimutinya tubuh YunHo yang masih bergetar.

”Selamat tidur Oppa…semoga mimpi indah” Eun Ah mematikan lampu kecil yang semula dinyalakan YunHo. Setelah memastikan YunHo telah tertidur, Eun Ah beranjak keluar menuju kamarnya yang berada di sisi kamar YunHo. Ya, meskipun mereka suami istri, namun YunHo menolak untuk sekamar dengan Eun Ah. Sedangkan Eun Ah hanya dapat menerimanya karena dia tahu bahwa YunHo masih belum bisa melupakan Jaejoong.

Sepeninggal Eun Ah, Yunho hanya terdiam. Eun Ah salah jika mengira YunHo telah tertidur. Matanya masih belum terpejam. Kejadian beberapa menit yang lalu masih teringat jelas diotaknya. Yunho yakin itu bukan mimpi. Jaejoong benar-benar ada disini untuk menemuinya. Bahkan tatapan dingin dan suaranya masih melekat kuat diingatannya.

’Tapi kenapa? Kenapa saat Eun Ah datang tiba-tiba sosoknya menghilang begitu saja?’ YunHo bertanya-tanya dalam hati.

Sedetik kemudian, YunHo merasakan angin dingin menerpa tengkuknya. Bersamaan dengan sebuah bisikan yang membuat tubuhnya terpaku pada posisinya.

Kau pembohong Jung YunHo…

===========

YunHo memandangi batu nisan didepannya dengan tatapan terluka. Sejak kejadian semalam, perasaan bersalah atas kematian Jaejoong semakin tertancap kuat dihatinya. Berkali-kali dia merutuki dirinya sendiri. Menyalahkan semua kebodohannya. Namun apa daya, sekeras apapun YunHo menyalahkan dirinya toh itu tetap tak akan membuat Jaejoong kembali padanya.

”Jaejoong~ah…mianhae kami jarang mengunjungimu. Kami terlalu sibuk. Yah kau tahu kan perutku sudah semakin membesar, susah sekali rasanya jika bepergian. Padahal usia kandunganku baru 6 bulan, tapi aku sudah sangat kewalahan. Umm bagaimana kabarmu Jae? Aku berharap semoga kau baik-baik saja” terdengar suara Eun Ah yang berdiri disampingnya sambil mengusap perutnya. YunHo hanya terdiam mendengarkan Eun Ah. Lalu Eun Ah meletakkan sebuket mawar hitam kesukaan Jaejoong didepan nisan.

”Oppa ayo kita berdoa untuk Jaejoong…”

Yunho mengangguk kecil, kemudian sepasang suami istri itu mulai mengatupkan kedua tangannya. Mata mereka terpejam. Larut akan seuntaian doa yang mereka tujukan untuk Jaejoong.

Beberapa menit kemudian Eun Ah membuka matanya pertanda selesai berdoa. Diliriknya YunHo yang masih memejamkan mata. Eun Ah tersenyum. Perlahan Eun Ah berjalan meninggalkan YunHo yang masih khusyuk berdoa. Tanpa suara, Eun Ah melangkah menuju mobilnya. Dia ingin memberikan YunHo waktu untuk sendiri.

Sepeninggal Eun Ah, YunHo masih memejamkan matanya. Terasa semilir angin pagi menerpa wajah tampannya. Memainkan rambut kecoklatan YunHo, sehingga YunHo terbuai akan suasana. Namun terpaan angin itu kini berubah menjadi sentuhan dingin dipipinya. Sentuhan yang dirasa sama dengan sentuhan semalam. YunHo membuka matanya perlahan.

”Joo—joongie?”

YunHo terkejut bukan main saat dilihatnya sosok Jaejoong tengah berdiri didepannya. Raut wajahnya masih sama seperti semalam. Datar dan dingin.

”Kau datang?” tanya Jaejoong dingin. Entah mengapa YunHo merasa bahwa setiap perkataan yang meluncur dari bibir Jaejoong sejak semalam selalu terdengar begitu dingin dan tajam. Berbanding 180° dari Jaejoong yang dulu YunHo kenal.

YunHo hanya mengangguk. Kemudian pandangan YunHo menyapu sekelilingnya. Mencari Eun Ah yang tiba-tiba tak ada. Perasaan khawatir mulai menjalarinya.

”Kau begitu mencintainya”

Seakan dapat membaca pikiran YunHo, Jaejoong kembali membuka suara. Wajah pucatnya kini menyiratkan kekecewaan, namun bagi YunHo tatapan mata Jaejoong masih terasa menusuk. Entahlah, YunHo sendiri tak tahu akan air muka Jaejoong yang dapat berubah-ubah tapi dengan tatapan yang sama.

Lagi-lagi YunHo hanya terdiam tak dapat mengatakan apa-apa. Baginya semua ini begitu membingungkan dan tak masuk akal.

’Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal dapat kembali lagi?’pikirnya.

”Kau tak mencintaiku” tambah Jaejoong. YunHo tersentak.

”Aku mencintaimu Jae. Sangat mencintaimu…” entah mendapat dorongan dari mana, YunHo dapat membuka mulutnya.

”Bohong”

Kembali YunHo mendengar satu kata itu meluncur dari bibir Jaejoong. ’Joongie~seburuk itukah aku sampai-sampai kau tak mempercayaiku?’batin YunHo.

”Tolong percayalah padaku Jae…aku sangat mencintaimu, aku merindukanmu, aku ingin kau kembali kesisiku”

YunHo memandangnya lembut dan berusaha untuk meyakinkan Jaejoong. Perlahan YunHo melangkah maju, mendekati sosok pucat yang hanya memandangnya dengan tatapan dingin. Kemudian YunHo mengangkat kedua tangannya, hendak merengkuh tubuh Jaejoong. Namun disaat tangannya mencoba merengkuh Jaejoong, YunHo merasa tangannya hanya memeluk angin dingin. YunHo terkejut. Kembali dia mencoba merengkuh Jaejoong, tapi lagi-lagi yang dia dapatkan hanyalah angin dingin menyelubungi tangannya.

’Bagaimana bisa?’batin YunHo sambil memandang kedua tangannya seakan tak percaya pada apa yang baru saja dia lihat.

YunHo mendongakkan kepalanya, dan untuk kesekian kalinya YunHo terkejut. Jaejoong tak lagi ada di depannya…

==========

”Oppa…kenapa kau hanya diam saja dari tadi huh? Apa ada masalah?” tanya Eun Ah saat mereka sudah kembali kerumah.

Eun Ah nampak begitu khawatir melihat suaminya yang tiba-tiba menjadi aneh sepulang dari makam Jaejoong. Yunho hanya terdiam tak menjawab satu kata pun.

”Oppa…” panggil Eun Ah sembari mengguncang pelan tubuh YunHo.

”Aku—aku bertemu dengannya lagi” kata YunHo. Eun Ah memandangnya tak mengerti.

”Dengannya?? Siapa maksudmu?”

”Jaejoongie…”

Seketika mata Eun Ah membulat. Tak percaya pada apa yang YunHo katakan.

”Aish Oppa sudahlah! Kau jangan mengada-ada. Kau mulai berhalusinasi lagi” sahut Eun Ah dengan sedikit ketakutan dihatinya.

”Ini benar-benar nyata…aku tak mengada-ada!” YunHo mencengkeram erat Pundak Eun Ah. Eun Ah nampak kesakitan dan berusaha melepaskan cengkeraman YunHo namun tenaga YunHo jauh lebih kuat dari dirinya.

”Oppa sadar! Jaejoong sudah mati!” ujar Eun Ah setengah berteriak. YunHo langsung melepaskan cengkeramannya dari pundak Eun Ah dan memandang wanita hamil itu dengan murka.

”Jaejoong belum mati! Dia masih hidup! Dia masih hidup!!!” bentak YunHo. Eun Ah terperanjat saat menyadari akan amarah YunHo. Selama 6 bulan dia hamil, baru kali ini YunHo berani membentaknya. Seketika air mata Eun Ah tak dapat dibendung. Dia berlari menuju kamarnya dengan terisak.

Sedangkan YunHo yang baru menyadari atas apa yang dilakukannya, dia membanting tubuhnya pada sofa diruang tamu. Kedua tangannya mengusap-usap wajahnya dengan kesal namun gerakannya terhenti saat dirasakannya angin dingin kembali menerpa tengkuknya.

Kau pembohong Jung YunHo…

===========

”Aku juga mencintainya” ujar YunHo lirih. Dia memandang Jaejoong dengan pandangan sedih.

Untuk ketiga kalinya YunHo bertemu Jaejoong. Karena pertengkaran kecilnya dengan Eun Ah, YunHo memutuskan untuk pergi ke sungai Han. Tempat dimana Jaejoong selalu menjernihkan pikirannya dulu.

Dan kini YunHo kembali bertatap muka dengannya. Di tempat kesukaannya.

Raut muka Jaejoong kembali berubah, nampak murka dan dingin begitu mendengar pernyataan YunHo.

”Kau menyakitiku” desis Jaejoong.

”Tidak, aku tidak bermaksud menyakitimu Joongie. Aku—aku hanya mengungkapkan yang sesungguhnya. Aku sangat mencintaimu, tapi aku juga mencintainya, mencintai anak yang ada dalam perutnya”

Suara YunHo terdengar bergetar saat mengatakannya, namun itu tak sedikitpun berpengaruh pada Jaejoong yang masih menatapnya benci.

Terlihat sepasang kekasih sedang melewati mereka. Namun langkah mereka terhenti dan memandang YunHo dengan tatapan heran. Sang pria menunjuk YunHo yang dilihatnya tengah duduk sendiri. Sang pria membisikkan sesuatu pada sang wanita. Sedang sang wanita mengangguk-angguk menyetujui perkataan sang pria. Sepasang kekasih itu berusaha mencuri dengar pembicaraan YunHo.

”Aku tahu aku pria brengsek. Mencintai dua orang sekaligus. Tapi sungguh ini bukan keinginanku. Perasaan itu muncul tiba-tiba dan tak dapat ku hentikan. Aku sudah mencoba untuk melupakan salah satu diantara kalian tapi aku masih saja merasa membutuhkan kalian berdua. Aku membutuhkanmu dan juga dia”

Tiba-tiba sang wanita menarik paksa tangan sang pria. Mengajak sang pria segera menjauh dari sana dengan tatapan sinis pada sosok yang tengah duduk sendiri itu.

”Dia gila!” ujar sang wanita pelan namun masih dapat didengar oleh YunHo. YunHo mengacuhkannya.

”Tapi aku membutuhkanmu” sahut Jaejoong

”Aku tahu…tapi maafkan aku karena saat itu aku lebih memilih untuk menikah dengan Eun Ah karena dia mengandung anakku. Darah dagingku”

”Kau tak mencintaiku”

”Kau salah Jaejoongie, aku mencintaimu. Sangat…sangat mencintaimu. Bahkan rasa cintaku padamu melebihi cintaku pada Eun Ah”

”Bohong”

Entah untuk keberapa kalinya YunHo selalu mendengar kata itu.

”Aku tak berbohong Joongie, percayalah padaku. Aku tahu aku salah. Tapi setelah kau pergi meninggalkanku, aku menyesal. Menyesal karena telah mengkhianatimu. Menyesal karena perbuatanku pada Eun Ah. Menyesal karena aku baru menyadari bahwa aku lebih mencintaimu dari pada Eun Ah. Tapi aku tak bisa lari dari tanggungjawab Jae… ”

”Aku kesepian YunHo” bisik Jaejoong. Wajah pucatnya nampak sedih tapi tak mengurangi sedikitpun pancaran mata tajamnya.

Yunho hanya terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Sedetik kemudian suasana menjadi sunyi. Keheningan menyelimuti kedua makhluk berbeda dunia itu. Hanya suara riak air sungai Han yang terdengar. Yunho memalingkan wajahnya, menelusuri sekelilingnya. Sepi. Tak ada satu orang pun disana. Bahkan sepasang kekasih itupun sudah tak tampak lagi. Hanya ada dirinya dan Jaejoong.

“Aku ingin kau ikut bersamaku” suara parau Jaejoong memecahkan keheningan diantara keduanya. Seketika YunHo menoleh. Menatap wajah pucat Jaejoong.

“Maksudmu apa Joongie?” tanya YunHo tak mengerti akan pembicaraan Jaejoong.

“Aku ingin kau menemaniku” jawab Jaejoong. Wajah sedihnya kini berubah menjadi dingin.

“Aku—aku tak mengerti”

Jaejoong tersenyum penuh arti. Sementara YunHo hanya memandangnya tak percaya.

‘Apa mungkin dia ingin membawaku ke dunianya?’batin YunHo. Seketika tubuhnya menggigil. Bukan karena angin dingin sungai Han, melainkan karena tatapan mematikan Jaejoong.

==========

YunHo berlari meninggalkan Jaejoong. Entah mengapa melihat tatapan Jaejoong, perasaan was-was muncul dari dirinya. Yunho takut. Takut akan perkataan Jaejoong.

Aku ingin kau ikut bersamaku

Suara Jaejoong terngiang di kepalanya. Namun YunHo tak mengindahkannya. Dia terus berlari. Sedangkan Jaejoong masih duduk di tempatnya sambil menghadap sungai. Menatap arus kecil air yang disebabkan oleh angin. Tatapan matanya masih tetap sama. Dingin.

Aku ingin kau menemaniku…

Suara itu terus terdengar di telinga YunHo. Bagai suara guntur yang menakutkan baginya. YunHo berusaha menutupi telinganya dengan tangannya. Kakinya tak sedikitpun berhenti. Dia terus berlari menjauh dari sungai Han. Meninggalkan Jaejoong tanpa sedikitpun menoleh pada sosok pucat itu.

”Tidak” kata YunHo pada dirinya sendiri.

Aku ingin kau ikut bersamaku…

”Tidak bisa. Aku mencintaimu, tapi aku ingin menyelesaikan tanggungjawabku pada anak yang dikandung Eun Ah” YunHo berbisik disela-sela larinya. Tubuhnya menggigil ketakutan.

Aku mencintaimu…

YunHo semakin mempercepat larinya. Kepalanya tak henti-hentinya menggeleng. Berusaha menghilangkan suara itu.

YunHo berlari melintasi jalan raya. Tanpa YunHo sadari, sebuah truk besar melaju kencang dari arah barat.

Aku ingin kau ikut bersamaku…

BRAAKKK!!!

YunHo merasa tubuhnya terhantam benda keras. Tubuhya terpental sejauh 5 lima meter. Darah segar mengalir deras dari kepala dan mulutnya. Sakit. Itulah yang dirasakannya. Namun bibirnya terasa kelu, tak dapat mengatakan apa-apa.

Pandangan matanya nampak semakin buram oleh aliran darah. Tetapi YunHo masih dapat melihat sosok pucat Jaejoong kini tengah berdiri tak jauh darinya.

”Jae—joongie…”

Itulah kata terakhir yang hanya dapat diucapkannya. Sedetik kemudian, perlahan YunHo memejamkan matanya. Namun satu hal yang membuatnya bahagia sebelum menutup mata untuk selamanya. Jaejoong tersenyum manis padanya dengan tatapan penuh cinta…

THE END

hueheheh mianhae…jeongmal mianhae…niey ceritaNa mank ane sengaja bQind metongNa appa sama ma metongNa Umma hehe biar sehati gt wkwkkw *d gampar* okeh jgn lp komen hehe ^^


FOOL AGAIN/ ONESHOOT


Tittle : Fool Again

Author : LYunjae aka Lyl-Yunjaeholic

Rating: PG 13

Length: 1 S/ 8 Ms.Word

Genre : YAOI/ Straight/ Angst *maybe hehe*

Cast : Jung YunHo and Kim JaeJoong! ^^

Theme Song : Fool Again by Westlife

Baby…

I know the story,

I’ve seen the picture

It’s written all over your face

Tell me

What’s the secret

That you’ve been hiding

And who’s gonna take my place

Angin malam sungai Han terasa dingin meresap hingga ke pori-pori kulitku. Namun tubuhku tak sedikitpun beranjak. Aku tetap duduk diatas kap mobil dan berusaha menikmati indahnya malam di pinggiran sungai Han. Sesekali kupejamkan mataku saat angin dingin itu menerpa lembut wajahku.

”Jae ayo kita pulang” pria tampan disampingku yang sedari tadi hanya diam membisu itu bersuara. Perlahan kubuka mataku dan menatapnya manja.

”Yunnie~ah ini masih pukul 8 malam, kenapa kita harus buru-buru pulang?” tanyaku. Kuedarkan pandanganku kesekeliling pinggiran sungai Han yang tampak semakin ramai.

”Aku ada urusan” jawabnya datar tanpa memandangku. Aku menatapnya heran.

”Sepenting itukah urusanmu itu sampai-sampai aku dinomor dua kan huh?” kesalku. Kutarik tanganku yang sedari tadi memeluk lengan kekarnya sambil menggembungkan pipi.

”Lagipula ini adalah hari istimewa kita. Hari jadi kita yang kedua Yun. Aku masih ingin berdua denganmu” imbuhku.

”Aish! Kau jangan seperti anak kecil! Bukankah setiap hari kita sudah bertemu? Apa itu masih kurang cukup bagimu Kim Jaejoong?!? ” bentaknya. Aku terlonjak kaget. Yunho, kekasih yang sangat kucintai itu telah membentakku.

Kutatap wajah marahnya. Seketika nyaliku ciut juga. Aku, Kim Jaejoong tak pernah berani melawan kekasihnya saat marah. Akhirnya aku mengangguk lemah tanpa berani menatapnya. ”Ne, kita pulang”.

===

Yunho melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Matanya menatap lurus kedepan tanpa sekalipun memandang bahkan melirikku. Selama perjalanan pulang, Yunho tak mengajakku bicara sedikitpun. Entah mengapa aku merasa akhir-akhir ini sikapnya berbeda. Dia tak lagi bersikap lembut padaku. Dia tak lagi hangat seperti dulu.

Kulirik Yunho melalui sudut mataku. Kedua tangannya mencengkeram erat kemudi mobil. Ah—Tangan itu! Biasanya Yunho selalu menggenggam erat tanganku menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tetap pada kemudi. Bibirnya tak henti-hentinya mengucapkan rayuan-rayuan mautnya padaku. Namun kini berbeda. Sangat berbeda. Dia hanya terdiam membisu dan berkutat dengan pikirannya sendiri. Sepertinya dia tak menganggapku ada. Yunho~ah ada apa denganmu?

===

I should have seen it coming

I should’ve read the signs

Anyway…

I guess it’s over

Kuraih ponsel hitam milik Yunho yang tergeletak di atas sofa. Perlahan kubuka flipnya dengan hati-hati. Terlihat foto Yunho yang sedang bertelanjang dada sebagai wallpapernya. Aku tersenyum geli. Kemudian kubuka camera album pada ponsel itu. Kubuka satu persatu foto disana. Berbagai pose dan mimik wajahku bersama dengannya memenuhi album itu. Yunho yang memelukku dari belakang. Yunho yang menciumku secara tiba-tiba. Yunho yang tersenyum lembut dan menatapku dengan mesra. Yunho yang menyandarkan kepalanya dipundakku dengan manja. Dan masih banyak lagi foto kami berdua.

Setelah merasa puas membuka-buka foto itu, tanganku mulai membuka folder bertuliskan ’inbox’. Senyumku semakin mengembang saat kulihat ID ’My Boojae’ memenuhi inboxnya. Ternyata Yunho masih menyimpan hampir semua pesanku.

Tanganku masih saja terus menekan tombol navigator ke bawah, sampai akhirnya tanganku terhenti pada satu pesan masuk dengan ID yang-menurutku-aneh diantara pesan-pesan singkat dariku. ID yang tak tersusun dengan salah satu huruf alfabet, hangul maupun angka. Melainkan ‘koma’. Ya, hanya sebuah koma. Salah satu tanda baca selain titik, tanda seru, tanda tanya, maupun tanda petik.

Dengan penasaran akhirnya kutekan tombol ‘view’ sehingga terbukalah sebuah pesan singkat itu…

From : ,

Received : 3 April 22.45

Ok Yunnie selamat tidur ya sayang. Aku mencintaimu…

Gud nite! Mmmuaaahhh ❤ ^^

“Jae apa yang kau lakukan?!?” terdengar suara teriakan Yunho mengagetkanku. Segera ku tutup pesan masuk itu dan menutup kembali flip ponselnya. Kudongakkan kepalaku. Terlihat Yunho yang berdiri diambang pintu kamar mandi masih setengah telanjang dan hanya menggunakan handuk menutupi pinggangnya.

“Eh—oh—a—aku—hanya melihat-lihat foto kita Yun. Ya, foto kita” jawabku gugup. Namun sedetik kemudian Yunho sudah berada dihadapanku dan merebut ponselnya dengan kasar dari tanganku. Matanya menatap tajam mataku.

“Jangan asal buka Jae! Seharusnya kau izin dulu padaku!” bentaknya padaku. Aku hanya menunduk dalam-dalam.

”Ne, mianhae Yun… A—aku tak akan mengulanginya lagi” ucapku takut-takut. Yunho~ah kenapa kau membentakku seperti itu? Bukankah dulu tiap kali aku membuka ponselmu kau tak pernah melarangku?

===

Can’t believe that I’m the fool again,

I thought this love would never end

How was I to know?

You never told me,

Can’t believe that I’m the fool again

And I who thought you were my friend,

How was I to know?

You never told me

Kulirik Rolex ditangan kananku. Jarumnya menunjuk pada angka 5 sore. Segera kupercepat langkahku memasuki sebuah apartemen mewah didepanku. Ku peluk erat kantung belanjaan yang penuh dengan bahan-bahan masakan. Malam ini aku akan memasak masakan yang spesial untuk Yunho. Aku yakin, mungkin dengan cara ini Yunho pasti akan senang dan tak membentakku lagi seperti kemarin siang.

Bayangan Yunho yang sedang menciumku mesra berkelebat diotakku. Membuat semakin bersemangat untuk segera sampai di apartemennya. Kulangkahkan kakiku yang terasa ringan keluar dari lift sambil bersiul-siul kecil. Namun langkahku terhenti saat kulihat pemandangan ’indah’ didepanku. Kuhentikan siulan kecil yang keluar dari bibirku. Langkah yang semula ringan kini berubah menjadi terasa berat.

Jung Yunho, kekasihku. Sedang berciuman mesra dengan seorang wanita didepan pintu apartemennya. Sungguh pemandangan yang begitu menyakitkan hati sekaligus mataku. Kututup rapat-rapat mataku sambil menggelengkan kepala dengan cepat, berusaha untuk menghilangkan bayangan buruk itu. Perlahan kubuka kembali mataku. Namun tetap saja bayangan itu tak dapat hilang. Dapat kulihat dengan jelas, Yunho sangat menikmati ciuman itu sampai-sampai tak menyadari keberadaanku.

Seketika pandanganku menjadi kabur saat kusadari wanita yang berciuman dengannya itu. Wanita yang dulu pernah menghancurkan hidupku. Menghancurkan cintaku dan Yunho. Bibirku kelu. Tak mampu untuk mengucapkan satu kata pun. Aku tak kuat lagi. Kemudian kakiku bergerak, tapi tak bergerak maju. Melainkan mundur. Selangkah, dua langkah, tiga langkah. Sedetik kemudian aku berbalik dan berlari memasuki lift kembali.

Yun…Yunnie…Yunho… Jung Yunho…

Berkali-kali kusebut namanya. Dadaku terasa sesak. Sesak sekali. Sekuat tenaga kucoba untuk menahan air mataku agar tak jatuh. Aku tak ingin menangis. Aku tak mau menangis. ’Aku sudah berjanji padamu agar tak menangis lagi Yunho~ah. Dan aku tak ingin mengingkari janjiku. Tapi… Tapi kenapa justru kini kau yang sudah mengingkari janjimu itu? Janjimu tak akan mengulanginya lagi. Hatiku begitu sakit Yunho~ah. Sakit…sekali’

Seketika memori setahun lalu yang sudah kukubur dalam-dalam itu kembali berputar. Bagai slide tua yang sudah lama tak terputar…

~ Flashback ~

”Yun~ Yunnie~ah!” kuedarkan pandanganku disekeliling rumah besar miliknya. Tapi tetap tak ada jawaban. Sepi.

Aku mengerutkan keningku. Aneh. Bukankah ada tamu yang datang? Kulihat sebuah Audi hitam terparkir manis didepan rumahnya. Tapi kenapa tak ada orang?

Akhirnya kuputuskan untuk naik. Menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Ketika aku sudah berada tepat didepan pintu kamarnya, samar-samar kudengar suara-suara aneh. Seperti suara…desahan. Ya, desahan.

”Akkhhh…ukhhh…terrruuuuss….Yunhhho…enghhhhh….”

”Ohhh…yeeaahhh….kau…sungguuhh…akhhh…nikkmmatt…sayang…”

I—itu suara Yunho!!

BRAKK!!

Kutendang pintu itu dengan sekuat tenaga. Seketika mataku terpaku menatap dua insan yang tak memakai sehelai benangpun di atas ranjang yang biasanya kupakai untuk bercinta dengan Yunho. Tanganku terkepal. Darahku rasanya naik hingga ke ubun-ubun. Terlihat kedua insan telanjang itu menatapku kaget. Kutarik paksa Yunho dari atas tubuh wanita yang tak lain adalah temanku sendiri. Aku memandangnya jijik.

”J—jae…” Yunho menatapku tak percaya. Pandanganku kini beralih pada sosok pria yang kucintai selama setahun itu. Tanganku mencengkeram erat pundaknya. Lalu tanpa aba-aba, kulayangkan pukulan tepat pada pipi kananya.

BUKK!!

”AKHH! Tung—tunggu dul—” belum selesai dia bicara, kembali kulayangkan pukulan pada pipi kirinya.

BUKK!!

Yunho meringis kesakitan, namun tak kuhiraukan. Dadaku naik turun menahan amarah. Terlihat darah segar telah menghiasi ujung bibirnya.

”Jae, tolong dengarkan penje—”

BAKK!!

Dan untuk ketiga kalinya aku memotong perkataannya dengan menonjok perutnya. Dia tersungkur tepat dibawah kakiku. Terdengar suara teriakan histeris wanita sialan itu.

”Mulai sekarang hubungan kita cukup sampai disini Jung Yunho!!” raungku. Lalu kulangkahkan kakiku hendak keluar dari kamar itu, namun tiba-tiba Yunho menahan langkahku. Dia memeluk erat kedua kakiku.

”Jae, mianhae. Tolong dengarkan aku dulu. A—aku mencintaimu” rintihnya.

”Cinta?!? Apa ini kau sebut cinta? Belum puaskah kau saat bercinta denganku sampai-sampai kau pun melakukannya juga dengan wanita itu?!”

”Padahal aku sudah melakukan apapun yang kau mau! Aku sudah memberikan semuanya untukmu! Hatiku, cintaku, bahkan tubuhku! Tapi kenapa kau masih belum puas dengan semuanya? Apa karena dia wanita sedangkan aku laki-laki heh?!” lanjutku tanpa sedikitpun menatapnya yang masih memeluk kakiku.

”J—jae, aku…”

”CUKUP!! Aku kecewa padamu Yunho! Aku sangat kecewa!” teriakku sambil menghempaskan tangannya dari kakiku dan segera berlari meninggalkan kamar itu.

Sekuat tenaga kucoba untuk menahan air mata yang hendak keluar dari pelupuk mataku. Namun tetap saja, air mata itu jatuh membasahi pipiku. Aku menghapusnya dengan kasar. Aku tak ingin menangisi pria yang sudah menyakitiku itu. Aku harus melupakannya. Ya, aku harus melupakannya.

Sejak peristiwa itu, aku tak pernah bertemu dengan Yunho lagi. Meskipun dia berusaha untuk menemuiku namun aku tak ingin menemuinya. Sehingga akhirnya kuputuskan untuk pergi meninggalkan Chungnam dan pindah ke Seoul. Mungkin dengan cara itu, aku bisa melupakan semua kenanganku bersama dengan Yunho…

====

Baby…

You should have called me

When you were lonely

When you needed me to be there

Sadly

You never gave me

Too many chances

To show you how much I care

I should have seen it coming

I should’ve read the signs

Anyway…

I guess it’s over

Kupikir dengan kepindahanku ke Seoul dapat membuatku tak akan bertemu lagi dengannya. Namun aku salah. Salah besar. Sudah selama 6 bulan aku tinggal di Seoul, aku sudah bisa melupakannya sedikit demi sedikit. Selama itu pula aku mencoba untuk mulai membuka diri pada seorang wanita. Ya, wanita. Aku tak ingin menjalin hubungan dengan pria untuk kedua kalinya. Tapi sayang, sekuat apapun usahaku untuk menjalin hubungan dengan wanita, aku tetap tak bisa. Entah mengapa aku tak tertarik sedikit pun pada makhluk ciptaan Tuhan yang satu itu.

Sampai suatu ketika, aku bertemu kembali dengannya. Jung Yunho. Aku tak tahu apa ini sudah takdir Tuhan? Yunho berusaha untuk mendekatiku lagi. Dia selalu meyakinkan diriku bahwa dia masih mencintaiku. Bahkan dia berani bersumpah tak akan menghianati cintaku lagi. Cinta? Ah, selama 6 bulan aku tak merasakan cinta. Apa aku masih bisa merasakan cinta? Berminggu-minggu kupikirkan pertanyaan itu. Sampai akhirnya aku menemukan jawabannya. Dan ternyata aku masih bisa. Aku masih merasakan cinta itu. Cinta untuk seorang Jung Yunho…

~ End of Flashback ~

===

’Kenapa kau mengingkari janjimu Yun? Kenapa? Apa yang masih kurang dariku? Apa salahku sehingga kau masih saja menghianatiku? Bahkan kembali pada satu orang yang sama. Orang yang dulu pernah merusak hubungan kita? KENAPA?!?’

Andai dapat kuulang waktu… Aku lebih memilih untuk tak kembali bersamamu. Andai ku tahu jadinya seperti ini, aku tak akan memutuskan untuk menerima cintamu lagi. Andai ku tahu kau masih menyimpan perasaan itu pada wanita itu, aku tak akan menyimpan sedikitpun perasaanku untukmu. Andai…

Menyesalkah aku?

Menyesalkah aku menerimamu lagi?

Menyesalkah aku bersamamu lagi?

Menyesalkah aku mencintaimu lagi?

TIDAK!

Tidak sama sekali!

Aku sadar Yunho~ah… meskipun kau sudah menyakitiku, aku masih tetap mencintaimu. Meskipun aku berandai-andai seperti itu, aku tak dapat membohongi diriku. Aku mencintaimu Yunho~ah. Mencintai semua yang ada pada dirimu. Mencintai kekurangan dan kelebihanmu. Mencintaimu sepenuh hatiku. Apapun resikonya…

===

About the pain and the tears,

oh oh oh,

If I could I would,

Turn back the time

Ooh yeah!

I should’ve seen it coming

I should’ve read the signs

Anyway…

I guess it’s over

Hari ini kuputuskan untuk bertemu dengan Eun Ah. Temanku di bangku SMA dulu. Teman yang telah merebut cinta Yunho dariku. Teman yang mengkhianatiku.

Aku ingin mengetahui kebenaran yang selama ini tersimpan antara dirinya dengan Yunho.

Butuh waktu limabelas menit untuk menunggu kedatangannya, sampai akhirnya wanita bertubuh mungil itu sudah duduk dihadapanku. Mataku tak sedikitpun beralih dari matanya.

“Jaejoong~ah ba—bagaimana kabarmu?” tanyanya basa-basi. Aku tahu, dia terlihat begitu gugup karena tatapanku. Aku tersenyum tipis.

”Baik” jawabku singkat.

”Um—sebenarnya dari mana kau tahu aku ada di Seoul?” tanyanya lagi.

“Yunho” terlihat Eun Ah semakin gugup setelah mendengar jawaban asalku itu. Dia membenarkan posisi duduknya.

”Sebenarnya ada apa lagi antara kau dengan Yunho?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun darinya. Sedangkan Eun Ah hanya menunduk dalam-dalam, tak berani menatapku.

”A—aku…hamil Jaejoong~ah. Usia kandunganku sudah 2 bulan” bisiknya lirih namun masih bisa kudengar dengan jelas.

”MWO?? KAU HAMIL???” aku menatapnya tak percaya. Eun Ah mengangguk kecil.

”Apakah YunHo yang…” aku tak sanggup meneruskan kata-kataku. Karena bagiku berita ini sangat membuatku shock.

Eun Ah kembali mengangguk. ”Mianhae Jaejoong~ah, jeongmal mianhae…aku sudah menyakitimu karena merebut YunHo darimu. Untuk itu, aku meminta restu darimu. A—aku akan menikah dengan Yunho dua minggu lagi” isaknya.

Tiba-tiba saja kepalaku terasa berat. Aku tak menyangka seperti ini jadinya. Rencanaku untuk merebut kembali Yunho dari Eun Ah tiba-tiba sirna. Aku tak mungkin bisa mempertahankan Yunho lagi, karena pada kenyataannya Yunho tetap milik Eun Ah. Bukan milikku.

Dengan berat, akupun menganggukkan kepalaku dan mencoba untuk tetap tersenyum pada wanita itu. ”Tentu, semoga kalian berbahagia” entah mendapat dorongan darimana kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku.

”Eun Ah~ mulai sekarang aku menitipkan YunHo padamu. A—aku mencintainya. Sangat mencintainya. Tapi aku tak ingin merusak kebahagiaannya. Berjanjilah padaku untuk terus menjaganya” kuarahkan jari kelingkingku didepan wajahnya. Dia menatapku bingung. Namun perlahan tangannya terangkat dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingkingku.

”Yakso?” tanyaku

”Yakso” jawabnya lirih. Aku tersenyum lega. Kemudian dengan sisa-sia tenagaku, aku bangkit. Kakiku bergetar, namun sekuat tenaga aku berusaha menahan tubuhku.

”Sudah saatnya aku pergi. Gomawo atas janjimu untuk menjaga Yunho. Selamat tinggal” kulangkahkan kakiku keluar dari Cafe tempat kami bertemu dengan lesu. Entah mengapa tubuhku terasa sangat berat. Ya Tuhan… aku sudah mengikhlaskan orang yang kucintai untuk mendapatkan kebahagiannya. Lalu bagaimana dengan diriku sendiri? Dimana kebahagianku? Kapan aku mendapatkan kebahagiaan itu? Kebahagiaan untuk tetap hidup bersama dengan orang yang sangat kucintai itu?

Tak terasa bulir-bulir bening telah membasahi pipiku. Aku mengusapnya dan melihat air yang kini berada diatas telapak tanganku.

”Maafkan aku Yunnie… Aku tak dapat memenuhi janjiku untuk tak lagi meneteskan air mata ini. Aku tak bisa jika tak meneteskannya. Karena air mata ini hanya tak menetes karenamu dan menetes juga karena dirimu Yun…” ucapku lirih.

Kakiku melangkah dan terus melangkah tak tentu arah. Sampai akhirnya tak kusadari aku berjalan ditengah jalan tanpa memperhatikan sekitar.

”JAEJOONGIE AWAS!!!”

’Yunnie…’ aku menoleh ke asal suara itu, namun…

BRAKK!!

Aku merasakan benda keras menabrak tubuhku hingga terpental, namun entah mengapa aku tak merasakan sakit sedikitpun. Yang kurasakan hanyala kedamaian.

’Yunnie…kau dimana? Kenapa semua menjadi gelap? Dan…mengapa tubuhku terasa ringan? Ringan dan begitu tenang….sekali. Yun~ah apa aku sudah mendapatkan kebahagiaanku?’

Can’t believe that I’m the fool again,

I thought this love would never end

How was I to know?

You never told me,

Can’t believe that I’m the fool again

And I who thought you were my friend,

How was I to know?

You never told me.

FIN

Heheheh gmn?? ini sebenernya uda pernah aku post d FB, tapi pgn aku post jg disini hehe. Okeh jgn Lp comment, ntr ada sekuelnya. . . ^^


YUNHO’S UNDERWEAR/ ONESHOOT


Tittle : Yunho’s Underwear

Author : LYunjae aka Lyl-Yunjaeholic

Genre : Comedy

Rated : G

Cast : All DongBangShinKi Member


Sore itu di apartemen DongbangShinKi, terdengar suara gaduh memenuhi setiap sudut ruangan. Didapur, terlihat lead vocal mereka, Kim Jaejoong tengah berkacak pinggang dihadapan seorang pria berwajah imut. Ia menatap tajam Junsu –pria imut- dengan tatapan seolah-olah hendak memakannya hidup-hidup. Suaranya yang biasa terdengar lembut, kini menggelegar bagai petir di sore bolong *a/n. mange ada? Siang bolong kaleee kwakwakwak XD*

— Flashback —

“Jaejoongie apa kau melihat celana dalamku?”

Yunho, sang leader bertanya pada kekasihnya yang sedang menyiapkan sarapan untuk para member. Jaejoong mengalihkan pandangannya pada Yunho yang kini berdiri disampingnya.

“Tidak!” Jaejoong menggeleng polos. Yunho nampak murung setelah mendengar jawaban Jaejoong.

“Memangnya celana dalam yang mana Yun?”

“Celana dalam yang kau belikan di Jepang, yang warna putih dengan motif hati berwarna merah” Yunho menjawab dengan nada sedih.

“Mwo?? Yang itu?” mata Jaejoong terbelalak.

Yunho mengangguk lemah dan berjalan mendekati meja makan, kemudian menarik kursi yang biasa ia tempati. Dilihatnya wajah Jaejoong dengan bertopang dagu. Sebenarnya Yunho takut Jaejoong akan marah padanya karena ia telah menghilangkan celana dalam kesukaan Jaejoong. Jaejoong sangat menyukai Yunho memakai celana dalam itu.

“Bukankah kemarin kau menaruhnya ditempat cucian Yun?” sekali lagi Yunho mengangguk

“Ya, tapi saat aku akan mengambilnya ternyata sudah tak ada”

“Sudah kau cari di lemari?”

Jaejoong membelakangi Yunho, mematikan kompor dan meletakkan telur mata sapi terakhir di piring kelima. Lalu meletakkan piring itu diatas meja makan. Ia mengambil duduk dihadapan Yunho. Berusaha bersikap sewajarnya, meskipun sebenarnya iya kecewa karena celana dalam pemberiannya hilang. Melihat wajah sedih Yunho, Jaejoong tak tega untuk memarahinya.

“Aku sudah mencarinya kemana-mana. Dilemari, dibawah tempat tidur, di kamar mandi, di jemuran, di kamar YooSuMin, bahkan di bawah sofa, tapi tidak ada”

“Nanti aku bantu carikan”

Jaejoong melemparkan sebuah senyuman manis pada Yunho, dan Yunho pun menghela napas lega. Jaejoong tak memarahinya.

=====

Benar saja, setelah mereka sarapan, Yunho dan Jaejoong mencari celana dalam itu disetiap sudut apartemen sampai siang. Namun celana dalam putih dengan motif hati berwarna merah itu tak kunjung mereka temukan. Jaejoong yang kelelahan, langsung merebahkan dirinya diatas sofa. Disusul oleh Yunho disampingnya. Yunho melirik Jaejoong, kekasihnya itu kini terlihat kesal karena celana pemberiannya benar-benar hilang.

“Ya! Changmin ah, apa kau melihat celana dalam Yunho yang putih, terus motifnya hati berwarna merah?” Jaejoong bertanya pada Changmin yang sedang menikmati snack kentang ditangannya sambil menonton televisi.

“Hihak!” *a/n. tidak!*

Changmin menjawab disela-sela kunyahannya, tanpa memandang Jaejoong dan Yunho sekalipun. Jaejoong mendegus sebal melihat tingkah si magnae itu.

“Jaejoongie…” panggil Yunho lembut. Jaejoong menoleh cepat.

“Ya?”

“Mianhae…aku sudah menghilangkan celana dalam itu” kata Yunho penuh penyesalan. Jaejoong mencoba tersenyum, meskipun sebenarnya dia sangat kesal. Karena bagaimanapun celana dalam itu sangat unik baginya. Apalagi jika Yunho yang memakainya. Ia akan terlihat sangat cute dimata Jaejoong. *a/n. gag isa bayanginNa >_< *

“Hei Yoochun ah!”

Jaejoong memanggil pria bersuara husky yang tengah berjalan melewatinya. Yoochun menoleh dan mendekati Jaejoong dan Yunho. Memandang keduanya dengan heran.

“Ada apa hyung?”

“Lihat celana dalam Yunho tidak?” tanya Jaejoong langsung. Yoochun mengerutkan keningnya. Menatap Yunho dan Jaejoong bergantian.

“Memangnya Yunho hyung punya celana dalam yah?” Yunho dan Jaejoong saling berpandangan, kemudian…

BUK!

Sebuah bantal kecil sofa mendarat mulus diwajah Yoochun. Yoochun mengerucutkan bibir dan mengelus-elus dadanya.

“Ku pikir Yunho hyung tak pernah memakai celana dalam” gerutunya sebal.

PLETAK!

“AUUWW!”

Kini remote TV yang mendarat di dahi lebarnya. Berhasil menciptakan sebuah benjolan indah berwarna merah keunguan disana. Mungkin saat ini ada burung-burung yang berkicauan diatasnya. Seperti film kartun hahaha.

Sementara Yunho hanya terbengong. Terkejut akan tindakan Jaejoong pada Yoochun. Yunho pun diliputi rasa takut.

‘Gawat’ pikirnya

“Sudah pergi sana! Kau pikir aku tak mampu membelikan Yunnie Bearku celana dalam?? Enak saja kau menghina!” seru Jaejoong kesal. Dan sebelum mendapat serangan kembali, Yoochun lari terbirit-birit.

“Boojae, sabar…sabar…” Yunho mengelus-elus lengan Jaejoong dengan lembut. Mencoba menjinakkan kekasihnya, saat kedua tanduk yang sempat ia lihat muncul diatas kepala Jaejoong.

“Bagaimana aku bisa sabar kalau dia seenaknya saja bilang begitu? Lagipula kenapa kau tak memarahinya sih? Dia kan sudah menghinamu Yun! ”

“Ehh ohh aku pikir Yoochun hanya bercanda” jawab Yunho sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Yoochun hyung benar”

Tiba-tiba Changmin menyahut sambil membuang bungkus snacknya yang sudah kosong di atas meja, kemudian meraih bungkus lain yang masih penuh. Yunho dan Jaejoong memandangnya heran. Bukankah si monster makanan itu tadi sibuk nyemil? Lalu kenapa ia masih bisa menyambung?

“Maksudmu?” Jaejoong bertanya. Ia tak mengerti akan arah pembicaraan Changmin.

“Yunho hyung kan memang jarang pakai celana dalam” celetuk Changmin seraya kembali mengunyah snacknya.

Mata Yunho dan Jaejoong terbelalak mendengarnya.

“UAPPPAAA???” seru mereka berdua bersamaan. Changmin tersentak dan terjungkal dari sofanya. Bungkus snack yang semula ditangannya kini terlepas dan isinya berceceran di lantai.

“Huwaaaaa makanankuuuu!”

Changmin mencoba memunguti snacknya namun sebuah tangan meraih bungkus snacknya lebih cepat. Changmin mendongak. Dilihatnya Jaejoong yang menatap tajam padanya dengan bungkus snack ditangan kanannya. Satu kata yang ada di pikiran Changmin.

MAMPUS!

“Coba kau ulangi lagi perkataanmu!” perintah Jaejoong.

“Eng…yang…yang…mana hyung?”

“Jangan berpura-pura bodoh Shim Changmin!!!”

“Ung yang Yoochun hyung benar?” Jaejoong menggeleng cepat.

“Yang…Yunhohyungjarangpakaicelanadalam?” Changmin menjawabnya cepat. Tentu saja, ia tak mau makanan yang ada ditangan Jaejoong akan menjadi korban bukan?

“Lebih jelas!!”

“Yunho hyung…jarangpakaicelanadalam?”

“KURANG JELAS!!!”

“Yunho-hyung-jarang-pakai-celana-dalam!!”

Dan… Pletak!!

Sebuah pukulan mendarat mulus di kepalanya. Changmin meringis sambil mengelus-elus kepalanya. Jaejoong beranjak, berniat hendak membuang bungkus snack ditangannya.

“Hyuuuung mau kau kemanakan makananku??” rengek Changmin sambil membuntuti Jaejoong. Tangannya menarik-narik lengan Jaejoong, namun Jaejoong tetap tak menghiraukannya. Sementara Yunho hanya dapat memandang Changmin dengan iba sekaligus kesal tentunya.

Jaejoong sudah hampir membuang snack itu ditempat sampah, namun Changmin dengan cepat menghentikan gerakannya.

”Hyung, aku mohon jangan korbankan makananku. Aku saja yang kau hukum, jangan dia. Dia tak salah apa-apa” rengek Changmin.

“Oh oke, kalau begitu aku tak akan membuangnya, aku akan menyimpannya” kata Jaejoong. Changmin menghela napas lega.

‘Nasib makananku selamat! Yosh!’ soraknya dalam hati.

“Tapi aku juga tak akan memberikannya padamu” lanjut Jaejoong.

“Eh? Lalu untuk apa kau menyimpannya?”

“Untuk makanan tikus!”

“Huwaaaaa Hyuuuuuung jangaaaaaaann!!!”

======

Hari sudah sore, Yunho masih terus mencari-cari celana dalamnya. Ia tak mau jika Jaejoong juga memarahinya. Sudah cukup Yoochun dan Changmin saja. Apalagi malam ini, adalah schedule mereka berdua untuk melakukan ‘rutinitas’ mereka. Dan Yunho tahu, Jaejoong tak akan mau melakukannya jika ia tak memakai celana dalam putih bermotif hati warna merah itu. Tentu Yunho tak ingin melewatkan schedule ‘rutinitas’ mereka untuk malam ini bukan?

“Sialan! Kemana sih CD itu?” Yunho mengumpat. Lemari pakaian yang sudah ia bongkar untuk kesekian kalinya kini nampak semakin parah. Isinya berhamburan keluar, memenuhi lantai dan juga ranjangnya. Tak hanya lemari, kamarnya pun kini terlihat seperti kapal pecah.

Sementara itu, Jaejoong tengah duduk di kursi meja makan sambil menikmati secangkir teh hijaunya. Seharian mencari celana dalam membuat pikirannya lelah juga. Jaejoong mengedarkan pandangan kesekelilingnya. Sepi. Ia hanya mendengar suara Yunho yang mendengus dan membanting barang di kamar mereka. Semua member sedang melakukan aktifitas mereka masing-masing. Yunho yang sibuk mencari celana dalam, Yoochun yang pergi untuk membeli kaset, Changmin yang asyik membaca Bleach di ruang tengah, dan Junsu yang entah pergi kemana. Setelah sarapan tadi ia tak melihat Junsu sama sekali.

‘Mungkin ia tidur di kamarnya’ pikir Jaejoong.

Ceklek!

Jaejoong menoleh saat terdengar suara pintu dibuka. Dilihatnya kepala Junsu muncul dari pintu kamarnya yang separuh terbuka. Pria imut itu menengok ke kiri dan ke kanan memastikan keadaan diluar, sebelum akhirnya ia keluar dan menutup pintu dengan hati-hari. Tak ingin menimbulkan suara.

Sementara itu, Jaejoong yang berada didapur, merasa heran akan sikap Junsu yang mencurigakan. Dilihatnya Junsu berjalan dengan sedikit berjinjit dan kepala menengok ke sekeliling.

‘Kenapa dengannya?’ pikir Jaejoong.

Junsu berjalan menuju dapur dengan langkah pelan. Terlihat sekali pria imut itu sedang menghindari sesuatu atau mungkin seseorang. Junsu menghela napas lega begitu sampai didapur. Matanya terpejam dan tangannya mengelus-elus dadanya.

“Fiuhh selamat…selamat…” ujarnya.

“Apanya yang selamat?”

Junsu berjingkat. Segera ia membuka matanya dan menatap ke asal suara. Dilihatnya Jaejoong sedang duduk di kursi meja makan tengah menatapnya heran. Nampaknya Junsu tak menyadari keberadaan Jaejoong saat ia memasuki dapur.

“Ehh ohh Jaejoong hyung?”

“Apanya yang selamat?” Jaejoong kembali mengulang pertanyaannya.

Junsu menggeleng cepat. “Bukan—bukan apa-apa” sahutnya gugup.

“Aku—aku hanya ingin mengambil minum” tambahnya seraya berjalan mendekati lemari es. Ia mengambil sebotol air mineral dari dalamnya dan meneguk setengahnya. Sementara itu Jaejoong masih menatap gerak-gerik aneh Junsu yang mencurigakan.

Merasa diperhatikan, Junsu menoleh pada hyungnya itu dengan gugup.

“Ke—kenapa melihatku seperti itu hyung?” tanyanya. Ia berusaha untuk menutupi kegugupannya.

“Kau kenapa sih?” bukannya menjawab, Jaejoong malah melemparkan pertanyaan padanya. Junsu menggeleng cepat. Kemudian pria imut itu menutup pintu lemari es yang masih terbuka dengan kikuk. Bagaimana tidak?pandangan Jaejoong benar-benar membuatnya kewalahan.

Duk!

Sekotak yogurt terjatuh dari lemari es saat Junsu hendak menutupnya. Buru-buru Junsu berjongkok untuk memungutnya. Beruntung tutup kotak yogurt itu tak terbuka, kalau tidak isinya pasti sudah terceceran di lantai dan itu berarti Junsu mendapat tugas tambahan untuk membersihkannya. Dan Junsu berharap itu tak akan terjadi. Karena seharian ini ia tak ingin melakukan apapun, ia hanya ingin mengurung diri di kamar. Menghindari celotehan dan pandangan member-membernya.

Jaejoong terkejut saat melihat Junsu yang tengah berjongkok untuk memungut kotak yogurt. Ia bangkit dari duduknya, berkacak pinggang dan menatap Junsu dengan pandangan murka.

“JUNSUUUUUUUU!!!!!!!!”

Junsu terkejut. Hampir saja jantungnya copot jika ia tidak cepat-cepat mengontrol keterkejutannya. Bahkan Yunho dan Changmin yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing kini berlarian menuju dapur. Mencari tahu apa yang membuat lead vocal mereka itu meraung kencang bagai harimau yang telah diganggu tidurnya.

Junsu berdiri dengan kotak yogurt yang masih ditangannya. Dilihatnya Jaejoong yang wajahnya mendadak berubah menyeramkan. Bahkan lebih menyeramkan dibanding biasanya. Junsu menatapnya heran.

“Ada apa hyung?” tanyanya polos. Sementara Yunho dan Changmin mengintip dari pintu. Bersamaan dengan itu, Yoochun yang baru pulang menatap keduanya dengan heran dan akhirnya turut mengintip.

“MENGAPA KAU MEMAKAI CELANA DALAM MILIK YUNHO?????”

— End of Flashback —

Junsu gelagapan. Sedangkan Yunho, Changmin dan Yoochun terkejut. Dilihatnya Jaejoong yang berjalan mendekati Junsu masih dengan berkacak pinggang. Junsu yakin, ia melihat dua tanduk muncul di kepala Jaejoong beserta kobaran api menyelubungi tubuh hyung tertua itu.

Jaejoong mengangkat tangannya dan menarik turun celana pendek berwarna hitam yang dipakai Junsu. Sehingga kini terlihatlah sebuah celana dalam putih bermotif hati berwarna merah dibalik celana hitamnya. Yunho semakin terkejut, kemudian ia menyeruak masuk dan berdiri di samping Jaejoong. Ditatapnya Junsu dengan pandangan tak percaya.

Sementara itu, Yoochun dan Changmin masih bersembunyi dibalik pintu dapur dan memandang Junsu dengan iba.

‘Kau tak akan selamat Kim Junsu’ batin keduanya.

“Junsu! Mengapa kau memakai CD ku??” seru Yunho. Kini sama seperti Jaejoong, ia pun berkacak pinggang dihadapan Junsu.

Junsu semakin menunduk. Tak berani menatap kedua hyung didepannya.

“Maaf—maafkan aku Yunho hyung. Aku benar-benar tak sengaja”

— Flashback —

Kemarin siang, Junsu membawa setumpuk baju kotornya ke tempat cucian. Diletakkannya baju-baju itu diatas tumpukan baju kotor member lain, kemudian ia memasukkan satu persatu bajunya kedalam mesin cuci. Beruntung kali ini tak ada salah satu dari baju kotornya yang berwarna putih. Seluruh bajunya berwarna gelap dan juga 2 potong celana jeans hitam. Karena jika ada, maka ia harus mencuci bajunya dengan terpisah. Dan Junsu tak mau menghabiskan waktu berlama-lama hanya untuk mencuci kan? Menurutnya bermain game justru lebih asyik dari pada mencuci. Namun tanpa Junsu sadari, sebuah celana dalam putih dengan motif hati berwarna merah turut masuk ke dalam mesin cuci bersama baju-bajunya.

Tut!

Dan Junsu pun menekan tombol ON. . .

— End of Flashback —


“Jadi maksudmu celana dalam Yunho terkena lunturan jeansmu, begitu?” tanya Jaejoong tak percaya. Junsu mengangguk lemah sambil menunjuk bagian belakang celana dalam Yunho yang dipakainya.

“Junsu! Kau tahu kan seberapa berharganya celana dalam itu untukku? Itu pemberian Jaejoong! Iya membelinya saat kita di Jepang!” Yunho benar-benar kesal sekarang. Celana dalamnya sudah tak lagi terlihat manis dan cute seperti semula. Lantas bagaimana nasib ‘rutinitas’nya nanti malam?

“Maaf hyung…”

“Lalu kenapa kau memakainya?” tanya Jaejoong. Nampaknya amarah Jaejoong melebihi amarah Yunho.

“Aku bingung harus menyembunyikannya dimana, makanya aku pakai saja” jawab Junsu polos.

“Tapi kalau Yunho hyung mau, aku akan mengembalikannya kok! Sebentar!” tambahnya.

Junsu berlari ke dalam kamarnya. Meninggalkan Yunho dan Jaejoong yang menatapnya heran. Bahkan Yoochun dan Changmin pun demikian. Pandangan mereka berempat kini beralih pada pintu kamar Junsu yang tertutup. Dan beberapa menit kemudian, pria imut itu kembali dengan sebuah kain berbentuk segitiga ditangannya.

“Yunho hyung, ini aku kembalikan. Karena kau sudah tahu, jadi buat apa menutupinya? Ini!” Junsu menyodorkan kain yang ternyata celana dalam Yunho yang semula berwarna putih bersih, kini berwarna keabu-abuan kepada Yunho.

Yunho, Jaejoong, Yoochun dan Changmin melongo bersamaan. Menatap si pria imut yang memasang wajah polos tak berdosanya.

“Kau pikir aku masih mau menerimanya setelah CD ku kau pakai huh?” tukas Yunho sebal.

“Tapi yang terpenting kan aku sudah mau mengembalikannya…” Junsu menjawab dengan nada kecewa.

“KIM JUNSU BODOH!! SEBAGAI HUKUMAN, KAU HARUS MENCUCI PIRING, MENCUCI MOBIL, DAN MENCUCI PAKAIAN SELAMA 3 BULAN!!!” raung Jaejoong murka.

>__<

===FIN===


HAHAHAHA

Ottoke??gejeh bgd yah?? Ini FF masih panas bgd, baru keluar dr oven hehe. Inspirasinya gr2 td pagi kakakQ nyari celana dalem ponakanQ. Cuz ponakanQ ngambek gag mau kalo gag pake ntu celana dalem kesayangannya hahah LOL.

Just for fun yah! makasi en d tggu commentna. . . ^^


BETWEEN US/ PROLOGUE


PROLOGUE

Tittle : Between Us
Author : Lyunjae aka Lyl-Yunjaeholic
Genre : Drama/ Romance/ Mpreg
Rated : PG13 *maybe changed in next chap*
Length: Prolouge
Main Cast : (?) masih dirahasaiakan wakakakak


Seorang pria tampan terkejut begitu dilihatnya sebuah keranjang berisi bayi di depan pintu apartemennya. Ia mengedarkan pandangan ke kanan dan ke kiri, mencari seseorang yang mungkin saja si pemilik bayi. Namun lorong apartemen itu sepi. Tak ada seorangpun disana. Tentu saja, ini masih terlalu pagi untuk menemukan seseorang yang lewat. Para penghuni apartemen masih sibuk dengan mimpi masing-masing.

Pria itu mendengus. Jika saja ia tak mendengar suara pintu diketuk, mungkin ia masih tenggelam dalam mimpinya juga. Dan kini, setelah ia bersusah payah menyeret tubuhnya untuk membuka pintu, ternyata ia tak menemukan siapapun disana. Yang ia temukan hanyalah keranjang berisi bayi ini.

Pria itu berjongkok, dilihatnya sang bayi mungil itu tengah terpejam menikmati tidurnya dengan damai. Dadanya terlihat naik-turun dengan teratur. Tepat di sisi kanan keranjang, ia melihat sebuah kertas terselip disana. Ia meraih kertas itu dan membacanya.

Maaf aku menitipkannya padamu

Aku tak memiliki cukup uang untuk membiayai hidupnya

Aku harap kau dapat merawatnya dengan baik

KJJ

Nb: Kau bisa memanggilnya Moonbin

Pria itu tertegun setelah membaca pesan singkat itu. Dahinya berkerut, nampak berpikir keras. Apa maksud semua ini? Kenapa pula bayi itu harus dititipkan padanya?dan KJJ? Siapa itu?

Berbagai pikiran memenuhi otak pria itu. Kembali ia memandang wajah tidur sang bayi mungil dengan heran. Kemudian ia mengangkat keranjang bayi itu dan membawanya masuk ke dalam apartemen. Sampai akhirnya ia menutup pintunya, tanpa menyadari keberadaan seorang pria berwajah cantik yang sejak tadi mengintipnya dari balik tembok di ujung lorong apartemen.

Pria itu menghembuskan napas lega sembari mengelus dadanya. Ia melirik pintu yang telah tertutup itu, memastikan sang pemilik apartemen tak akan membuka pintunya kembali. Pria cantik itu berbalik dan meninggalkan tempat itu sebelum keberadaannya diketahui oleh orang lain.

‘Maaf aku terpaksa melakukan ini, aku sudah menyelesaikan tanggungjawabku selama 9 bulan dan kini sudah saatnya kau yang bertanggung jawab’ batin si pria cantik.

“Haaa dengan begini aku sudah bebas dan dapat kembali bekerja dengan tenang” gumamnya sambil bersiul-siul senang.

Prologue End

Heheheh hayooo pasti semua uda pada nebak2 mua siapa yg bkln jd main cast hehe

So, comment yaaa. . .

kalo ada yg comment, aku bkln lanjutin. Kalo gag, gag aku lanjuti hehe


YAKUSOKU/ YUNJAE/ ONESHOOT


Halloooh ini FF keduaku disini hehe. FF ini terinspirasi dari lagu DBSK Yakusoku.  Met baca ^^

Tittle : YAKUSOKU

Author : Lyunjae aka Lyl-Yunjaeholic

Genre : YAOI/ Romance

Rated : PG13

Length : 5 Ms.Word

Cast : Jung Yunho >< Kim Jaejoong of course

Theme song : Yakusoku by Tohoshinki

A/n. diharapkan untuk dengerin lagu itu saat bacanya. Biar feelnya lebih dapet ^^


 

 

Hirogaru aoi sora shiny day
Mechuu no gogo wa darling
Kimi to te wo tsunaide aruku yo
Katahouzutsu de kiku earphone
Onaji rizumu ga nagare feel so right

 

Boku wa kimi no koto wo nee
Umaku aiseteru no kana
Oh yeah.. Sekai no dare yori


 

 

Di hari minggu sore yang indah. Dibawah luasnya langit biru yang cerah, ku tautkan jari-jemariku pada jemari lembutmu. Ku genggam dan sesekali kugoyangkan tautan tangan kita seirama dengan langkah-langkah ringan kita. Langkah ringan layaknya tanpa beban dalam menyusuri pinggiran sungai Han yang sepi. Kulirik dirimu yang berada disampingku. Dapat kulihat dengan jelas senyuman indah tergambar diwajah malaikatmu. Senyuman yang mampu membuatku tak dapat berpaling darimu. Bahkan sedetik pun.

Bibir merah cherrymu bergerak-gerak kecil mengikuti nada-nada yang terdengar dari earphone yang kita kenakan. Satu earphone, untuk berdua. Kau dan aku. Aku dan kau.

Samar-samar dapat kudengar suara indahmu. Suara yang mampu membuatku terdiam membisu. Suara yang mampu membuatku tak ingin mendengar apapun selain suaramu. Bahkan suara yang semula terdengar pada earphone kanan yang kukenakan, kini tak lagi dapat kudengar. Karena hanya suaramulah yang dapat kudengar.

 

Mata besar nan indahmu kini terpejam, meresapi setiap bait lagu yang kau nyanyikan. Tangan kananmu yang menggenggam Ipod, kau angkat dan kau letakkan tepat didepan dadamu. Menepuk-nepuk kecil disana. Dimana saat kudengar kata ‘You belong to me’ yang merupakan bagian dari lagu itu.

Coba katakan padaku, apa yang kau rasakan disana?

Apa pula yang ada didalam sana?

Namaku kah?

Diriku kah?

Aku yang selama bertahun-tahun mencintaimu?

Coba katakan padaku Kim Jaejoong…

Apa hanya ada namaku kah dihatimu? Aku ingin tahu, apakah selama ini aku sudah mencintaimu dengan benar dan telah merajai hatimu sepenuhnya, lebih dari siapapun didunia?

===

Kimi wo zutto hanasanaiyo
Boku dake wo miteite
Itsu mademo boku no ude no naka
You belong to me

Hareta hi mo ame no hi mo
Soba ni ite mamoru kara
Futari de kawasu
Yakusoku kanaeteyuku

 

 

“Yunho ah…”

Kau membuka matamu dan memandangku yang semenjak tadi hanya memperhatikan setiap detail wajah dan tingkah manismu. Memanggilku dengan suara lembutmu.

“Hmm?”

“Aku sangat menyukai lagu ini, kalau kau?”

“Apapun yang kau suka, aku juga suka”

Kau tersenyum sambil menunduk. Menyembunyikan wajah meronamu dari tatapanku. Seandainya aku boleh berkata jujur, aku ingin selalu dapat menciptakan rona merah itu diwajah cantikmu. Jika aku boleh bersikap egois, maka aku ingin hanya diriku lah yang mampu membuatmu merona seperti itu. Hanya aku Jaejoong ah. Bukan orang lain.

“Kenapa?”

“Karena aku mencintaimu”

Perlahan kau menarik tangan kirimu dari genggamanku dan menutup bibirmu dengannya seraya membuang wajahmu. Menyembunyikan sebuah senyum malu dan wajah meronamu dari pandanganku.

Aku tersenyum. Untuk kesekian kalinya aku berhasil membuat wajahmu merona. Bahkan lebih merona dibanding sebelumnya.

“Kenapa kau mencintaiku?”

“Karena aku mencintaimu. Tak ada alasan lain”

Kakiku selangkah maju mendekatimu. Tangan kananku bergerak untuk meraih dagumu dan mengangkatnya dengan lembut agar sejajar dengan wajahku. Dapat kulihat semburat rona merah masih menghiasi wajahmu, meskipun tanganmu berusaha menutupinya. Perlahan kusingkirkan tangan yang menutupi wajahmu dengan tangan kiriku, sehingga kini aku dapat melihat dengan jelas wajah cantikmu.

Entah sudah berapa kali aku berdecak mengagumi kecantikanmu. Mata besarmu, alis lurusmu, bulu mata lentikmu, hidung mancungmu, dan juga bibir merah cherrymu.

Aku menelan ludah dan memejamkan mata sejenak, sebelum kembali menatapmu. Sungguh setiap kali kulihat bibirmu, darahku berdesir dengan halus. Ada perasaan membuncah ingin mencicipinya walau sekejap. Seperti candu. Ya, bibir merahmu adalah candu bagiku.

Dan pertahananku runtuh. Kudaratkan bibirku diatas bibirmu. Kusapu setiap inchi bibirmu dengan bibirku. Kupagut dan sesekali kutekan kecil. Kau memejamkan matamu dan kau pun membalasku. Ciuman lembut, tanpa nafsu. Karena aku tak ingin menyakitimu.

Kulepas bibirku dari bibirmu. Masih dengan mata terpejam, kau terengah. Mencoba mengatur nafas. Bibirmu yang sedikit terbuka terlihat semakin memerah dan basah. Kuusap ujung bibirmu dengan ibu jariku dan menangkup wajahmu dengan kedua tanganku. Earphone yang semula tergantung pada telinga kananku, kini terlepas namun earphone yang kau kenakan masih menggantung pada telinga kirimu.

===

Nemurenu yoru ni miru silver moon
Kimi mo ima koro wa kitto
Onaji you ni miteruka na crescent night

Koe ga kikitai kara telephone
Demo honto wa ai ni ikitai

 

Mainichi boku ga kimi to
Isshoni irareru mirai wa
Oh yeah..Mousugu…shinjite


Bagaimana mungkin aku dapat berpaling darimu? Bahkan semua yang ada pada dirimu menyedot seluruh perhatianku. Tak melihatmu beberapa detik saja, aku sudah rindu. Setiap malam kucoba menatap indahnya bulan demi mengobati rasa rinduku, tetapi semuanya sia-sia. Karena keindahanmu melebihi keindahan bulam sabit sekalipun. Setiap aku berpisah denganmu sebentar saja, aku ingin mendengar suaramu. Namun meneleponmu tak lebih baik jika bertemu denganmu. Sungguh aku tak mampu jika jauh darimu. Aku ingin selalu bersamamu, seperti ini. Memandangmu, menikmati setiap gerakanmu, mendengar suaramu dan menikmati semua yang ada pada dirimu.

====

Boku ga motto dekiru koto
Kimi wo motto aiseru
Waratteite boku no ude no naka
You belong to me
Kibou no hi mo fuan na hi mo
Soba ni ite mamoru kara
Always taisetsu na
Yakusoku dakishimeteru

 

Kau menyentuh tanganku yang masih menangkup wajahmu. Lalu mengusapnya dengan lembut. Kembali kudekati wajahmu dan mencium ujung hidung beserta keningmu dengan lembut. Sementara kau tersenyum manis masih dengan mata terpejam. Menikmati setiap tindakanku.

Hembusan angin sore memainkan ponimu. Menutupi sebagian matamu. Dengan lembut kusibakkan poni yang terjatuh itu, karena aku tak ingin ponimu menggangguku menikmati seluk beluk wajah cantikmu.

“Kau tak akan pernah meninggalkanku kan?”

Aku menggeleng. “Tak akan”

“Benarkah?”

“Buka matamu dan tatap aku”

Perlahan kau membuka matamu dan menatapku dengan kedua mata besar nan indahmu. Mata yang mampu membuatku jatuh terhanyut kedalamnya. Mata yang mampu menghentikan detak jantungku. Sungguh aku mencintai semua yang ada pada dirimu.

Kutarik tanganku dari wajahmu dan mengangkat tangan kananku. Mataku masih menatap kedalaman matamu. Sementara kau menatapku heran.

“Aku, Jung Yunho berjanji. Baik siang maupun malam. Baik hujan maupun panas.  Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu bersamamu. Aku akan tetap disisimu. Melindungimu, menemanimu, mencintaimu, menyayangimu, memenuhi semua keinginanmu dan selalu membuatmu tersenyum. Aku tak akan membuatmu menangis dan terluka. Dan aku juga tak akan membiarkanmu pergi dariku. Selamanya kau akan dalam pelukanku, karena kau adalah milikku. Kim Jaejoong milik Jung Yunho…”

====

Kimi wo zutto hanasanaiyo
Boku dake wo miteite
Itsu mademo boku no ude no naka
You belong to me
Hareta hi mo ame no hi mo
Soba ni ite mamoru kara
Futari de kawasu
Yakusoku kanaeteyuku

Dapat kulihat senyum manis menghiasi wajahmu. Menambah kecantikan yang diberikan Tuhan kepadamu. Perlahan kau meraih tangan kananku yang masih terangkat  keatas dan menyatukan telapak tanganmu dengan telapak tanganku.

“Aku, Kim Jaejoong berjanji. Baik siang maupun malam. Baik hujan maupun panas. Aku tak akan pergi darimu. Aku juga akan selalu bersamamu. Mencintaimu dan menyayangimu. Selamanya aku akan dalam pelukanmu, aku tak ingin lepas darimu. Karena aku adalah milikmu. Kim Jaejoong milik Jung Yunho…”

Aku tersenyum senang mendengar janjimu. Janji kita berdua. Tangan kita yang semula terangkat, perlahan turun. Aku mendekatimu. Menatap indah kedua bola matamu. Ku dekati bibir merahmu yang selalu menggodaku. Saat sudah tak ada lagi jarak diantara kita, kau mulai menutup matamu dan untuk kedua kalinya bibirku bertemu lagi dengan bibirmu. Sebelum kau membisikkan seseuatu padaku.

“Saranghae”

“Nado saranghae”

Kembali kita melanjutkan ciuman lembut namun memabukkan itu. Manis dan Lembut. Sungguh tak ada yang dapat mengalahkan rasa manismu Jaejoong ah. Kau adalah pria termanis dan tercantik bagiku. Kelembutanmu mampu membuatku bertekuk lutut padamu. Kelembutanmu mampu membuatku serasa terbang di awang-awang.

Dan disini, di sungai Han, dibawah langit minggu sore. Kita saling menggenggam dan mengucapkan janji. Biarkan sungai Han menjadi saksi dari janji kita. Saksi dari ciuman penuh cinta kita. Janjimu, janjiku. Janji kita. Aku yang merajai hatimu. Aku yang mencintaimu dengan benar, lebih dari siapapun didunia. Dari dulu sampai sekarang. Selamanya kau akan dalam pelukanku, karena kau adalah milikku…

==FIN==

Heheh gmn?pendek bgd kan??

entah kenapa aku skrg lebih suka bikin oneshot ketimbang chapter hehe

oke d tggu comentNa ^^


Ada Cassiopeia Dimatamu (OneShoot)


Tittle : Ada Cassiopeia Dimatamu

Author : LYunjae aka Lyl-Yunjaeholic

Genre : YAOI/ Fluff/ and Comedy

Rating : PG13

Cast : Park Yoochun and Kim Junsu

Other Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong and Shim Changmin

“Chunnie…” panggil seorang pria berwajah imut pada pria yang tengah memeluknya dari belakang.

“Hmm??”

“Boleh aku bertanya sesuatu padamu?” tanyanya kembali sembari sedikit memiringkan wajahnya agar dapat menatap wajah Yoochun -pria dibelakangnya-

“Tentu saja beib, kau mau tanya apa?” sahut Yoochun. Matanya yang semula terpejam karena menikmati semilir angin sore kini terbuka. Menatap balik Junsu –pria imut- itu.

“Apa yang paling kau sukai dari diriku?”

“Mmmm semuanya! Aku menyukai semua yang ada pada dirimu beib” jawab Yoochun jujur. Junsu mendengus kesal.

“Aku kan bilang ‘paling’ dan itu berarti kau harus menjawab satu saja. Jangan semua pabo!” protes Junsu. Tangannya mencoba melepaskan pelukan Yoochun. Yoochun terkekeh seraya membalikkan tubuh Junsu sehingga kini wajah mereka saling berhadapan.

“Baiklah kalau begitu aku paling suka dengan pantat bebekmu. Bagaimana?” goda Yoochun. Tangannya mencolek dagu Junsu dan dengan cepat Junsu menampiknya. Wajahnya semakin ditekuk.

“Aish kecuali yang satu itu Yoochun!” sungut Junsu.

“Oh oke, oke aku akan jawab jujur, aku paling suka dengan matamu” kata Yoochun lembut.

“Eh kenapa? Ada apa dengan mataku?”Junsu bertanya sembari mengerjap-ngerjapkan mata sipitnya.

“Karena matamu sangat indah dan karena matamu pula yang mampu menaklukan hatiku beib” Yoochun memandangnya dengan mesra.

“Tapi kata Yunho hyung, mata Jaejoong hyung lah yang paling indah” kata Junsu polos. Yoochun mendengus.

“Tentu saja dia bilang seperti itu, dia kan kekasihnya!” cibir Yoochun.

“Lalu menurutmu? Mata Jaejoong hyung bagus atau tidak?” Junsu kembali bertanya.

“Menurutku mata Junsuku lah yang paling indah dan bagus…” jawab Yoochun sambil mengusap pipi Junsu yang kini memerah.

“Chunnie kau gombal sekali!” Junsu mencubit pinggang Yoochun centil.

“Tapi kau suka kan?” goda Yoochun dan wajah Junsu kini semakin memerah hingga ke telinga. Sementara Yoochun terlihat begitu senang karena sukses menggoda kekasihnya itu.

“Ah Chunnie ini sudah sore, ayo kita segera kembali ke apartemen. Aku takut Yunho hyung marah-marah karena kita keluar tanpa izin padanya” seru Junsu yang sudah menghilangkan rona merah diwajahnya sambil menarik tangan Yoochun agar bangkit dari duduknya. Yoochun pun mengikutinya dan memasang masker untuk menutupi wajahnya dan memakai kacamata hitamnya agar tak dapat dikenal oleh orang lain. Mereka pun berjalan meninggalkan taman yang sepi itu menuju mobil mereka yang tengah terparkir dipinggir jalan sambil bergandengan tangan. Cukup sudah kencan mereka sore itu.

“Junsu hyung!” Tangan Yoochun yang hendak membukakan pintu mobil untuk Junsu berhenti begitu saja. Yoochun dan Junsu pun menoleh ke asal suara tersebut. Dilihatnya seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun yang masih memakai seragam sekolahnya lengkap, berdiri tak jauh dari mereka berdua.

“Junsu hyung!” anak kecil itu kembali memanggil sambil berlari mendekati keduanya. Tangan kecilnya pun melambai-lambai. Yoochun dan Junsu saling berpandangan. Heran. Bagaimana mungkin penyamaran mereka masih dapat diketahui oleh seorang anak kecil?

“Eh kau siapa?” tanya Junsu setelah anak kecil itu berada dihadapannya. Anak itu tersenyum lebar. Memperlihatkan sederetan giginya yang ompong.

“Perkenalkan Moonbin imnida, umurku 10 tahun, aku bersekolah di Seoul Elementary School, anak ketiga dari 3 bersaudara, menyukai warna merah, hobiku menyanyi, menari dan mendengarkan lagu-lagu DongBangShinKi, aku fans berat Xiah Junsu, member DongBangShinKi yang suka sekali bermain sepak bola dan memiliki suara seperti lumba-lumba, aku sangat—”

“Cukup! Cukup!” potong Junsu cepat.

‘Cerewet sekali’ batin Junsu. Junsu berjongkok dihadapan anak kecil itu, mencoba mensejajarkan diri dengan tinggi anak si bocah.

“Bagaimana kau tahu kalau aku Xiah Junsu?” tanyanya seraya mengedarkan pandangan disekelilingnya. Was-was jika ada orang lain yang mendengar.

“Tentu saja aku tahu, aku kan fans berat Junsu hyung. Meskipun hyung menyamar seperti lumba-lumba pun aku pasti tahu” jawabnya bangga. Junsu mendengus. Diliriknya Yoochun yang terkikik disampingnya. Kemudian dipandanginya bocah 10 tahun itu dengan sebal. Matanya bertatapan langsung dengan mata Moonbin yang berbinar-binar. Namun entah mengapa tiba-tiba Junsu melotot dan cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari Moonbin dan menegakkan kembali tubuhnya.

“Hyung aku minta tanda tangan dong. Supaya besok bisa aku perlihatkan ke teman-teman sekelasku. Ya? Ya?” Moonbin menarik-narik ujung jaket Junsu.

Junsu kembali melirik Yoochun yang langsung mengangguk cepat. Junsu menggerak-gerakkan matanya, nampak memberi petunjuk pada Yoochun akan sesuatu. Sementara Yoochun yang tak tahu hanya menggerakkan dagunya. Memerintah Junsu untuk menuruti perkataan si bocah. Junsu pun mengalah dan mengulurkan telapak tangan kanannya didepan Moonbin tanpa memandang bocah itu sedikitpun. Bagaimanapun juga fans harus dihormati bukan? Tak peduli berapa pun usianya. Namun entah mengapa sikap Junsu kali ini terlihat sangat tak menyenangkan sekali dimata Yoochun.

Bocah itu tersenyum senang dan segera mengeluarkan buku tulis beserta pensil dari tas punggung sekolahnya dan menyodorkannya pada Junsu. Junsu dengan cepat meraihnya dan membubuhkan tanda tangannya disalah satu halaman buku tulis yang kosong kemudian menyerahkan kembali buku itu pada Moonbin. Senyum Moonbin semakin melebar setelah melihat tanda tangan itu dan cepat-cepat memasukkan buku itu kedalam tasnya.

“Yess! Pasti besok teman-teman akan iri padaku” gumamnya sendiri.

“Sudah kan? Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Ayo Chunnie!” seru Junsu sambil menarik tangan Yoochun dengan paksa.

“Tunggu hyung!” Moonbin kembali memanggilnya. Menghentikan langkah Junsu dan Yoochun.

“Ada apa lagi??” Junsu memutar bola matanya. Dongkol.

“Aku mau foto bareng. Boleh kan?” tanya Moonbin penuh harap. Ditangannya kini terdapat ponsel yang entah milik siapa. Junsu memandang ponsel yang ada ditangan anak itu. Heran. Anak kecil 10 tahun jaman sekarang sudah memiliki ponsel? Ckckck hebat!

“Mianhae tapi aku sedang terburu-buru, lain kali saja ya” tolak Junsu, tetap tanpa menatap anak itu. Yoochun yang sejak tadi berdiri disampingnya kini mengerutkan kening. Yoochun benar-benar merasa sangat aneh dengan sikap Junsu kali ini. Terkesan angkuh.

“Tapi hyung, aku tak tahu kapan kita akan bertemu lagi” kata Moonbin sedikit kecewa.

“Junsu kau ini kenapa sih? Dia kan hanya minta foto bersama, apa susahnya?” Yoochun kini angkat suara. Tak tega melihat raut kecewa anak kecil didepannya. Junsu menatapnya tajam dan lagi-lagi matanya bergerak-gerak bersamaan dengan bibirnya yang bergumam tak jelas ditelinga Yoochun. Nampaknya dia memang hendak menyampaikan sesuatu namun Yoochun benar-benar tak tahu.

“Sudah sana cepat berdiri disamping Moonbin! Sini biar aku saja yang memotret” Yoochun mendorong tubuh Junsu mendekati Moonbin dan meraih ponsel yang Moonbin sodorkan.

“Junsu bungkukkan badanmu sedikit! Dan lebih merapat pada Moonbin!” Yoochun mengarahkan sambil menggerak-gerakkan tangannya. Junsu kembali menatap tajam dirinya, tetapi Yoochun sama sekali tak menggubrisnya.

“Junsu senyum! Jangan cemberut seperti itu! Jelek!” protes Yoochun. Junsu pun menarik bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman yang amat sangat dipaksakan. Sedangkan Moonbin memasang senyum lebar.

KLIK!

=====================

“Beib kau kenapa sih? Mukamu jelek kalau seperti itu!” tanya Yoochun setelah sekian menit berada didalam mobil dengan keheningan. Ya, entah mengapa Junsu diam saja sepulang dari taman tadi.

Junsu tak menjawab, melainkan hanya melirik Yoochun dari sudut matanya. Lirikan yang cukup mengerikan bagi Yoochun.

“Apa kau marah karena Moonbin tadi?” tanya Yoochun kembali. Junsu mendecakkan lidahnya dan membuang muka. Menatap jalanan sore yang begitu ramai. Yoochun menghela napas. Dia benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya membuat Junsu seperti ini. Apa mungkin benar karena Moonbin? Tapi kenapa? Yoochun merasa tak ada yang salah dengan anak itu. Lantas kenapa Junsu merasa sangat menghindari anak 10 tahun itu? Bahkan dia tak memandangnya sedikitpun. Yoochun sangat tak suka sikap Junsu tadi. Dia kurang menghargai bocah tadi yang jelas-jelas fans beratnya.

“Beib sikapmu tadi benar-benar menyebalkan. Seharusnya kau lebih menghargai Moonbin meskipun dia masih 10 tahun, tapi setidaknya bersikaplah sedikit manis. Dia itu fansmu! Seharusnya kau senang!” kata Yoochun kesal.

“Bukan begitu Chunnie, tapi apa kau tak menyadari sesuatu pada anak itu?” jawab Junsu akhirnya. Yoochun mengangkat alisnya.

“Apa?” tanya Yoochun tanpa mengalihkan pandangan matanya dari depan. Dan lagi-lagi Junsu mendecakkan lidahnya.

“Mata anak itu…” gumam Junsu.

“Ada apa dengan matanya?”

“Aish Chunnie, apa kau benar-benar tak menyadarinya?” Junsu sedikit menaikkan suaranya sambil memiringkan sedikit tubuhnya. Menatap Yoochun yang tampak serius dengan kemudinya.

Yoochun pun mulai mengingat-ingat kembali wajah anak kecil yang baru beberapa menit lalu dikenalnya. Mencoba memikirkan akan maksud dari perkataan Junsu. Sementara Junsu menatapnya tak sabar.

Beberapa detik kemudian…

“AHA! AKU TAHU!!” seru Yoochun tiba-tiba.

“Apa?” tanya Junsu meminta pertanggungjawaban. Bukannya menjawab, Yoochun malah terkekeh. Junsu mengerucutkan bibirnya. Yoochun benar-benar berhasil menambah kedongkolannya.

“Ya Tuhan Kim Junsu! Jangan bilang kalau kau kesal karena Moonbin sakit mata?” tebak Yoochun disela-sela tawanya. Junsu mengangguk pelan.

“Memangnya kenapa kalau bocah itu sakit mata beib?” tambah Yoochun.

“Aku takut tertular”

“Bbbff—BHUAHAHAHAHAHHAHAH” kali ini Yoochun benar-benar tak dapat menahan tawanya. Perutnya terlihat naik-turun tak beraturan. Junsu memandangnya sebal.

“Ya Yoochun pabo! Kenapa kau malah tertawa?!?” Junsu berteriak kencang. Tangannya memukul-mukul lengan Yoochun. Yoochun berusaha berkelit. Bagaimanapun saat ini dia sedang mengemudi.

“Mianhae beib, mianhae hehehe. Lagipula kau itu seharusnya jangan begitu. Beruntung Moonbin masih kecil, tak begitu menanggapi sikapmu tadi. Coba kalau dia berusia 17 tahun, pasti dia akan membencimu karena dia memiliki idola yang angkuh dan sombong”

“Tapi aku tak mau tertular! Aku tak mau mataku memerah dan bengkak seperti itu!” sanggah Junsu.

“Ssstt jangan bicara seperti itu, nanti kau malah tertular beneran loh!” goda Yoochun.

“Iiihh amit-amit deh!” Junsu bergidik. Sementara Yoochun hanya tersenyum simpul

============================

Malam harinya…

“Junsu kalau menonton televisi jangan terlalu dekat, nanti matamu sakit!” Jaejoong yang tengah menyiapkan makan malam mencoba mengingatkan Junsu yang sedang asyik menonton televisi sendirian dengan jarak tak sampai satu meter.

”Hmmm” sahut Junsu namun tak sedikitpun beranjak dari layar datar 21 inchi didepannya. Jaejoong hanya memanyunkan bibirnya karena tak ditanggapi, kemudian Jaejoong beranjak menuju kamarnya dan memanggil Yunho yang tengah membaca buku sambil bersandar pada ranjang untuk makan malam. Kemudian dia memanggil Yoochun dan juga Changmin

“Beib ayo makan!” ajak Yoochun begitu keluar dari kamar, pada Junsu yang masih asyik menonton televisi. Junsu hanya mengangguk sekilas tanpa mengalihkan pandangannya.

“Beib jangan menonton televisi terus dan oh! Kenapa kau tak memakai kacamatamu?” menyadari sesuatu, Yoochun mendekati Junsu dan membalikkan wajah pria imut itu untuk menghadap wajahnya.

“Memangnya kenapa?” tanya Junsu polos. Yoochun mendengus.

“Bodoh! Aku sudah berapa kali bilang, jangan lupa pakai kacamatamu tiap kali kau menghadap televisi agar kau tak perlu menonton televisi sedekat ini! Matamu bisa sakit Junsu!” ujar Yoochun. Kesal.

“Eheheh mianhae Chunnie aku lupa. Lagipula lihat, mataku tak apa-apa kan?” sahut Junsu tenang sambil membuka kelopak matanya menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya.

“Awas kalau kau sampai sakit mata, jangan salahkan aku!”

====================

Jarum jam kini menunjuk pada angka 2 malam. Sepi. Tentu saja. Selarut ini semua orang sudah bergumul dengan mimpi-mimpinya. Namun tidak bagi pria imut itu, berulang kali tidurnya terasa sangat terganggu. Entah apa yang mengganggunya. Junsu berguling kekanan dengan mata setengah terpejam. Sesekali tangannya mengucek-ngucek matanya. Gatal. Itulah yang dirasakannya. Sedetik kemudian Junsu berguling kekiri hingga tubuhnya membentur tubuh yang tengah tertidur disampingnya.

“Ung…” lenguh Junsu masih dengan mata terpejam. Tangannya kembali mengucek-ngucek matanya.

Merasa terganggu dengan gerakan-gerakan tubuh Junsu, Yoochun yang tidur disampingnya pun terjaga, namun dengan kesadaran yang belum pulih 100% tentu saja.

“Hmmm beib kau kenapa sih?” tanya Yoochun dengan mata setengah terpejam. Dilihatnya Junsu yang tertidur dengan posisi berbalik 90° dari posisinya semula.

“Eng…” Junsu hanya menjawabnya dengan gumaman tak jelas. Tangannya kini berhenti mengucek mata dan kembali berguling kekanan, sehingga pria itu kini tengkurap. Mata terpejamnya berkedip-kedip, tampak seperti orang yang kelilipan.

Yoochun yang memang mengira tak ada apa-apa dengan Junsu pun akhirnya tertidur kembali.

======================

Keesokan paginya…

Junsu terbangun dari tidurnya begitu mendengar suara ribut-ribut diluar kamarnya. Didengarnya Changmin yang merengek pada Jaejoong untuk meminta porsi sarapan lebih dan suara Yunho yang memarahi sang magnaenya itu. Junsu melirik jam weker berbentuk bola disisi ranjangnya yang menunjukkan pukul 7 pagi. Junsu menggerutu kesal karena merasa tidurnya terganggu oleh orang-orang diluar sana. Matanya pun terasa masih sangat berat untuk dibuka. Tampaknya semalam dia benar-benar tak dapat tidur dengan nyenyak. Junsu hendak memejamkan kembali matanya namun menyadari ranjang disampingnya yang sudah kosong, dia pun mengurungkan niatnya.

“Kemana Chunnie?” gumamnya pada diri sendiri sambil duduk ditepian ranjangnya. Matanya berkedip-kedip saat cahaya matahari pagi menerobos tirai kamarnya. Pria imut itu mengangkat kedua tangannya, meregangkan otot-ototnya. Dengan masih setengah terpejam, Junsu menyeret kakinya menuju kamar mandi. Mendadak kepalanya terasa berat begitu tubuhnya berdiri. Matanya pun terasa amat berat sebelah.

Junsu membuka pintu kamar mandi dan masuk dengan terseok-seok. Nampaknya nyawa pria itu belum utuh sepenuhnya. Junsu berjalan mendekati wastafel, berniat untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Masih dengan setengah terpejam, Junsu berdiri didepan kaca wastafel sambil menggaruk-garuk perutnya yang dirasa gatal. Perlahan matanya sedikit terbuka, menatap kaca wastafel didepannya. Tiba-tiba Junsu tersenyum pada bayangannya sendiri, dilihatnya rambutnya yang acak-acakkan dan bahkan ada beberapa rambutnya yang berdiri. Kemudian pandangannya beralih pada tangannya yang masih menggaruk perut buncitnya.

Krucuuukk~

Lagi-lagi Junsu tersenyum sambil memandangi perutnya –yang baru saja bersuara- dari pantulan kaca. Kemudian pandangannya kini beralih ke bibirnya, dilihatnya samar-samar garis mengering disudut bibir sampai pipinya. Lalu pandangannya beralih semakin keatas, mulai dari hidungnya, kemudian matanya…

1 detik… Junsu mulai mengerjap sekali

2 detik… Junsu mengerjap untuk yang kedua kali

3 detik… Junsu kembali mengerjap ketiga kali

4 detik…

“HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA CHUNNIEEEEEEEEEEE!!!”

“Uhuk!” Yunho yang tengah menikmati secangkir kopinya mendadak tersedak.

Duk!

“Aduuhh!” Changmin yang sedang memungut koran yang dijatuhkannya di bawah meja makan, kepalanya terbentur ujung meja.

Praaaang!

Jaejoong yang membawa piring, menjatuhkan piring-piring itu dari tangannya begitu saja.

Brak! Byuuurr!

Sedangkan Yoochun yang hari ini mendapat giliran mengepel apartemen, tiba-tiba terpeleset karena kakinya menginjak kain pelnya sendiri dan menyenggol bak berisi air bekas pel.

Menyadari suara teriakan histeris sang kekasih, Yoochun pun cepat-cepat berdiri dan berlari menuju kamarnya. Pinggangnya terasa amat sakit.

“Beib ada apa?” tanya Yoochun penuh khawatir setelah menemukan Junsu yang tengah berdiri didepan kaca wastafel sambil menutupi  wajahnya dengan kedua tangannya. Yoochun mendekat dan membalikkan tubuh pria imut itu untuk menghadapnya.

“Kau kenapa beib?” tanya Yoochun kembali dengan tangan menyentuh pundak Junsu. Junsu menggeleng-geleng cepat, masih dengan tangan yang menutupi wajahnya.

“Su kau kenapa sih?” tanya Yunho yang kini sudah berada dikamar mandi YooSu bersama Jaejoong dan Changmin dibelakangnya.

“Pagi-pagi sudah bikin orang serumah jantungan!” sahut Jaejoong. Lagi-lagi Junsu hanya menggeleng-geleng. Yoochun, Yunho, Jaejoong dan Changmin mendengus kesal.

“Beib…” Yoochun mencoba menarik tangan Junsu dari wajahnya, dan perlahan Junsu pun menurutinya, membuka tangan yang semula menutupi wajahnya

“Hiks Chunnie…mataku…” Junsu menunjuk mata kanannya yang terlihat merah dan bengkak.

Yunho, Jaejoong dan Changmin terdiam dan saling berpandangan, namun dalam hitungan detik…

“BHUAHAHAHAHHAHAHA” ketiga orang itu tertawa terpingkal-pingkal secara bersamaan. Sementara Yoochun berusaha untuk menahan tawanya. Bagaimanapun dia tak tega melihat wajah menangis Junsu.

“Sudah kubilang kan, ini pasti karena kau kena omonganmu sendiri kemarin” kata Yoochun sambil menepuk-nepuk lengan Junsu. Sedangkan Junsu masih menangis sesenggukan.

“Hyung seharusnya kau senang memiliki warna mata merah seperti itu!” celetuk Changmin disela-sela tawanya.

“Senang kenapa *sob* ?” tanya Junsu sambil sesenggukan

“Merah kan Cassiopeia!” tambah Changmin cepat. Sontak ketiga hyungnya pun tertawa, kecuali Junsu tentunya…

==FIN==

Huahahahhaha bnrn gejeeeeeeeeeehhh bgd kan??sumpah aku gag tw napah isa bQind FF kyk begini, aneeeeeehh bgd hahhahaha. Ini FF Yoosu pertamaku en jg FF yg pertama aku post disini ^^

Maap yah kalo ngecewain, abizNa otatQ agy eror! Okeh d tggu commentNa hehe ^^