fanfiction for our soul

Arsip Penulis

[Lomba Fanfic Genre 1 ] I’m Not Gay (yunjae Story)


I’M NOT A GAY! [YUNJAE STORY]

Author : Choi Mingi

@blingblingdya

Length : Oneshoot
Genre : romance, angst
Cast :

Jung Yunho

Kim Jaejoong

Jaejoong POV

Aku menyipitkan mataku saat cahaya matahari mulai masuk melalui celah-celah tirai bermotif bunga lili putih. Aku meraih ponselku yang sejak tadi berdering. Aku mengucek-ngucek mataku yang masih buram agar bisa melihat layar ponsel dengan jelas. Dengan malas aku mengangkat telepon yang ternyata dari umma.

“yoboseyo….”

“JAE! CEPAT BUKA PINTUNYA!”, bentak umma dengan nada kesal. Pasti sejak tadi umma sudah berdiri mematung menunggu aku membuka pintu.

“ne..”

Dengan langkah gontai aku berjalan keluar kamar. Aku tinggal di sebuah flat di pusat kota Seoul. Orangtuaku selama ini tinggal di Jepang. Aku lebih memilih tinggal sendiri di Korea. Umma memberi kabar hari ini akan pulang ke Korea untuk mengunjungi sahabatnya.

“mendadak pulang ke korea, sebenarnya apa yang terjadi?”, tanyaku malas.

Aku menatap umma yang sedari tadi menatapku sambil tersenyum, senyum yang sangat sulit di artikan. Aku menepuk-nepuk sofa dengan maksud agar umma cepat duduk.

Aku menghela nafas panjang saat ekspresi wajahnya berubah menjadi serius.

“malam ini akan ada pertemuan keluarga dengan keluarga Jung. Kau harus menunjukkan sikap yang baik pada mereka. Mereka adalah sahabat umma dan appa. Mengerti?”, tanyanya dengan tatapan yang mengintimidasi.

“kenapa aku ikut? Aish, ya aku mengerti”, jawabku pasrah.

“kita berangkat bersama, jam 7 malam umma dan appa akan menjemputmu”

Tanpa protes aku menganggukkan kepala karena umma akan terus mengoceh jika aku menyangkal perkataannya. Aku melambaikan tanganku saat umma keluar dari flat dan mulai menghilang dari pandanganku.

Entah pertemuan keluarga seperti apa yang umma maksud. Aku sama sekali tidak mengenal keluarga Jung. Yang aku tahu orangtuaku dan keluarga Jung sudah bersahabat sejak dulu. Sebenarnya. Ini pertamakalinya aku di ajak berkunjung kesana. Semoga ini bukan acara perjodohan.

Aku berjalan ke balkon, tempat yang paling aku sukai dari flat ini. aku selalu menghabiskan waktu disini bersama Yunho. Tapi sekarang itu semua hanyalah angan-anganku saja.

Aku duduk di kursi tempat aku dan Yunho biasa duduk berhadapan. Aku masih ingat saat-saat jantungku berdegup kencang setiap mataku beradu pandang dengannya. Aku hampir gila setiap dekat dengannya. Dia dan aku sama-sama namja, tapi aku merasa ada sesuatu yang aku rasakan. Sesuatu yang tidak bisa aku pahami.

Bayangan akan sosoknya pun kembali berkecamuk di dalam pikiranku. Kursi ini, dulu rasanya sangat hangat tapi sekarang rasanya sangat hampa. Aku tidak mengerti, entah kesalahan apa yang telah aku perbuat hingga dia kini sangat membenci aku. Aku benar-benar tidak tahu.

**

Aku melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Aku menatap lekat-lekat bangunan yang ada di hadapanku. aku memperhatikan setiap sudut bangunan ini.

“Jae, sedang apa? cepat jalan”, ujar umma membuyarkan lamunanku.

Aku berjalan mengekor umma dan appa.

“annyeong…”

Seorang ahjumma membuka pintu dan memberi salam pada kami.

Aku membungkukkan badan dan mengucapkan salam.

“Jieun-ah, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bayangkan saja, terakhir kita bertemu itu 10 tahun lalu. Kau pasti sudah jadi orang sibuk sekarang”, ujar umma mencairkan suasana yang lumayan canggung.

“haha kau berlebihan, kau saja yang sibuk sampai-sampai tidak sempat mengunjungiku”

“Soojung-ah, kau ini bisa saja”

“Jaejoong sudah besar ya, tampan sekali”, ucap soojung ahjumma sambil terus memandangiku.

“gamsahamnida…”, ujarku sambil tersenyum.

Aku hanya duduk manis mendengarkan obrolan para orangtua yang sedang bernostalgia di hadapanku.

“kudengar anakku dan Jaejoong-ah satu fakultas ya. ehmm, bagaimana ya.. aku bingung mengatakannya.. aku ingin menjodohkan anakku dengan anakmu…”, ucap Soojung ahjumma dengan ragu.

“mwo?”, tanya umma kaget.

“aku ingin kau yang menjadi besanku. Bagaimana?”, tanya Soojung ahjumma sambil tersenyum simpul.

“baiklah, tapi apa anakmu setuju?”, tanya umma.

“soal dia, serahkan saja padaku”, ujar Soojung ahjumma dengan mantap.

“Jae, bagaimana menurutmu?”, tanya umma dengan aksen yang terdengar sangat berharap.

“terserah umma saja”, jawabku sambil tersenyum hambar. Kalau menolak, bisa-bisa pulang dari sini aku dibunuh umma. Di jodohkan kan belum tentu langsung menikah.

“tapi masalahnya… errr dia seorang namja”, ucap Soojung ahjumma.

“A-APA?”, aku tersedak mendengar ucapannya.

“tidak masalah, kau jalani saja dulu”, ucap umma sambil menepuk pundakku.

Aku tidak mengerti apa yang ada di pikiran mereka. Mereka pasti sudah tidak waras. Mana ada perjodohan namja dengan namja lagi?

Apa namja itu sudah tahu rencana orangtuanya? Bagaimana bisa aku di jodohkan dengan seorang namja? aku mengacak rambutku dan menghela nafas panjang. Jaejoong, tamatlah riwayatmu!

“mmhhh, ahjumma… bisa aku bertemu dengan anak ahjumma?”, tanyaku sopan.

“ne, dia ada di taman belakang. Kau temui saja dia”, ujarnya sambil tersenyum manis.

Aku berjalan perlahan menuju taman yang di tunjukkan oleh Soojung ahjumma. Entahlah seperti apa wujud namja yang akan di jodohkan denganku itu. Peluhku semakin deras mengucur di sela-sela kekhawatiranku. Atmosfer di tempat ini membuatku bergidik ngeri. Aku menghentikan langkahku saat melihat sesosok namja yang berbalik saat menyadari keberadaanku.

JUNG YUNHO?

Aku tercengang melihat sosok namja yang ada di hadapanku saat ini. aku tidak menyangka anak keluarga Jung yang dimaksud adalah Jung Yunho.

aku sangat merindukan tatapan teduhnya, tapi aku tidak berani menatapnya. Sorot matanya menghujaniku dengan tatapan penuh kebencian. Aku hanya tertunduk lemah.

“tch, untuk apa kau kemari? Aku tidak ingin melihat wajahmu”

“aku… aku hanya ingin menanyakan tentang rencana perjodoh..”

“kau! pasti kau yang sudah merencanakannya! Aku bukan gay! Dasar gila”, tukasnya memotong ucapanku.

“aku tidak tahu sama sekali”, ucapku lirih.

“Naif….”, ujarnya sambil mencibir meninggalkan aku.

**

“yoboseyo.. soojung ahjumma, ada apa?”

“Yunho sepertinya tidak enak badan, tapi ahjumma sedang di luar kota. Tidak ada siapa-siapa di rumah. Tolong jaga dia sebentar saja, ahjumma mohon…”, ucap ahjumma di ujung telepon.

“mhhh ya, baiklah”, ucapku sambil tersenyum kecut.

Aish, mengapa lidahku kelu untuk mengatakan tidak? seharusnya aku menolak permintaan ahjumma. Bodoh!

Apa yang harus aku lakukan disana?

Di satu sisi aku senang bisa dekat dengannya lagi, tapi disisi lain dia sangat tidak menginginkan keberadaanku.

@yunho’s home

Aku berjalan ke kamar Yunho membawa segelas susu. Ku ketuk pintunya pelan. Aku menghela nafas panjang. semoga tidak terjadi hal buruk.

Aku membuka pintu setelah beberapa menit tidak ada jawaban dari dalam.

Aku melihatnya sedang terbaring pulas di atas ranjang. Wajahnya seperti malaikat saat tidur. Aku mendekat ke arahnya. Ku perhatikan setiap lekuk wajahnya, dia sangat sempurna di mataku. Aku mendekatkan wajahku hingga berjarak hanya beberapa inchi. Entah setan apa yang merasuki pikiranku hingga aku berani melakukan hal bodoh seperti ini. aku merasakan deru nafasnya yang tersengal-sengal dengan peluh yang menetes di dahinya, sepertinya dia mimpi buruk. Aku mengelus rambutnya pelan.

PRANGGGG

Yunho tiba-tiba terbangun dan mendorong kasar tubuhku hingga tersungkur. Aku tidak bisa menahan gelas yang lepas dari tanganku.

“apa yang kau lakukan disini hah?”, bentaknya dengan tatapan murka.

“katanya kau sakit, aku datang menjengukmu”, ucapku sambil tertunduk lemah.

“Tidak usah pura-pura baik di depanku!”

“apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa yang kau tuduhkan”, ucapku lirih.

“aku tidak butuh alibi dari pembohong sepertimu”

Aku menatapnya dengan pandangan nanar. Dengan keras aku berusaha menyembunyikan suaraku yang semakin terdengar sedu sedan.

“apa maksudmu? Aku benar-benar tidak tahu kesalahan apa yang sudah aku lakukan padamu”, tanyaku dengan air mata yang nyaris terjatuh. “Tolong jelaskan lebih eksplisit agar aku mengerti..” batinku.

“aku membencimu”

“maafkan aku Yun…”

“aku tidak ingin mendengar kata maaf darimu”

Yunho mendorong tubuhku hingga membentur pintu. aku hanya bisa pasrah melihat luka lebam di tanganku. Yunho, aku lelah sekarang.

“lalu apa yang harus aku lakukan agar kau puas hah?”

“aku ingin kau lenyap dari hidupku”, jawabnya frontal.

**

“aku ingin kau lenyap dari hidupku”

Satu kalimat itu sudah cukup membuat aku sakit hati.

Aku membuka laci dan mencari benda yang menurutku paling berguna saat ini.

Aku tersenyum hampa melihat ujung jariku berdarah karena terlalu kuat menekan sisi dari silet yang sedikit berkarat.

Yunho… inikah yang kau inginkan? Lenyap dari hidupmu hah?

Sebuah senyum tersungging di bibirku saat sisi silet ini mulai menggores pergelangan tanganku. Ya, inilah jalan yang aku pilih dan aku tidak akan menyesalinya.

“Jae, apa yang kau lakukan hah? bodoh!”

Aku tersentak dan menjatuhkan silet di tanganku setelah mendengar suara yang tidak asing di telingaku.

“Yunho-ya, aku senang kau bisa menyaksikan kematianku dengan mata kepalamu sendiri. Ini kan yang kau inginkan?”

Dia berlari ke arahku dan mencengkram bahuku dengan kuat. Aku tidak melihat sorot kebencian dari matanya, dia menatapku dengan tatapan sendu.

“maafkan aku Jae…”, ucapnya sambil berusaha memelukku namun aku memberontak.

“maaf? Seharusnya kau berterimakasih karena aku sudah mengabulkan keinginanmu. Kau ingin aku mati kan?”, tanyaku lirih.

“Aku marah setiap melihat kau dekat dengan teman-teman yeojamu. Aku sudah cukup gila dengan perasaan ini. aku namja yang normal, sama seperti yang lain. Aku bukan gay! Aku tidak menyukai namja, tapi aku merasakan hal yang berbeda saat dekat denganmu. Aku hampir gila karena ini. aku juga takut kau akan meninggalkan aku setelah tahu aku menyukaimu. Maafkan aku, aku terlalu bodoh untuk memahami perasaanku sendiri. Kau ingin tahu kenapa setiap melihatmu aku selalu menghindar? itu karena aku takut Jae, aku takut kalau aku semakin mencintaimu. Akhirnya aku melakukan ini semua agar kau membenciku, agar kau melupakan aku dan aku melupakanmu. Tapi aku tidak menyangka semua ucapanku akan menyakitimu sejauh ini”

Aku mencoba mencerna sederetan perkataan yang keluar dari mulut Yunho. Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Dia… apa maksud semua ini?

Darah semakin mengucur dari pergelangan tanganku. Pandanganku mulai kabur. Aku terkulai lemas di lantai. aku merasakan Yunho mengguncang-guncang tubuhku dan meneriakkan namaku hingga semuanya menjadi gelap.

**

Dengan berat aku membuka mataku. Aku menyentuh kepalaku yang rasanya sangat sakit. aku mengedarkan pandangan melihat isi ruangan yang semuanya serba putih. “ternyata aku belum mati”, batinku.

Pandanganku terhenti saat melihat sosok yang tertidur pulas di kursi di samping tempat tidurku. Kepalanya menyender di lenganku hingga aku sulit menggerakkannya. Aku menggoyang-goyangkan tanganku bermaksud membangunkannya.

“Jae, syukurlah kau tidak apa-apa”

“apa yang kau lakukan disini?”

Aku menghempaskan tangannya yang mencoba menggenggam tanganku.

“aku sudah lelah membohongi perasaanku. Aku mencintaimu”

Aku juga mencintaimu Yunho. Tapi kau terlanjur membuatku sakit hati. Apa yang bisa aku lakukan?

Aku mencoba mengatakan sesuatu tapi tertahan saat dia tiba-tiba memelukku.

“jangan katakan apapun Jae. Aku tahu kau juga merasakan hal yang sama denganku”

“tch, percaya diri sekali kau… Menjijikan!”, ucapku sambil menahan senyum.

Dia hanya menyeringai mendengar perkataanku. Jantungku berdetak cepat saat wajahnya mulai mendekat.

“Ya! Apa yang akan kau lakukan?”, tanyaku takut.

“apapun yang terjadi, hati dan tubuhmu akan menjadi millikku”

“dasar maniak!”

Aku terdiam saat bibirnya menempel di bibirku dan menciumku lembut.

Iklan

[lomba fanfic Genre 1] Hidup Yang Bahagia


Pair: Sasunaru
Author: Botol Pasir

HIDUP YANG BAHAGIA

Ini sudah ke sekian kalinya kulangkahkan kakiku menyusuri koridor-koridor rumah sakit.

Setiap hari, dengan harapan baru.

Entah sudah berapa banyak pagi, aku berdoa kepada Tuhan. Memohon agar kau menampakkan kilauan langit biru dimatamu. Menampakkan kilauan ruby yang membuat mataku tidak bosan memandangimu.

Kau masih diam disana. Setiap kali melihatmu yang hanya diam tanpa melakukan apapun, membuatku bertanya apakah sifatku sudah menginfeksi dirimu? Aku tertawa memikirkannya.

Ingatkah kau, saat pertama kali kita bertemu? Di tengah terpaan sinar matahari yang terik, kau sibuk membawa koper besarmu. Itu pertama kalinya kau datang ke Negara ini. Bulir-bulir keringat membasahi keningmu. Kau kebingungan melihat selembar kertas kecil ditanganmu, lusuh dan lembab karena keringat. Matamu terus-menerus melihat petunjuk jalan yang ada di perempatan. Kau menggaruk-garuk kepalamu.

Kau bertanya tentang Nagasaki sedangkan kau ada di Tokyo. Wajahmu memucat, kau panic. Dengan tergagap kau bertanya berapa hari kau bisa sampai ke sana.

Satu hari jika memakai kereta, itu yang kukatakan. Wajahmu semakin pucat. Peluh bercucuran semakin deras di keningmu. Kau bingung, dompetmu seperti halnya lembaran kertas. Tipis.

Kau terlihat bodoh saat itu.

Ah, maaf aku tidak bermaksud mengatakannya.

Aku tahu kau tidak suka aku menyebutmu bodoh. Kau selalu marah dan langsung menyebutku `pantat ayam`. Kau ingat?

Aku tahu kau ingat.

Hei, Apa kau memimpikanku malam ini?

Aku selalu memimpikanmu setiap malam. Hanya duduk bersamamu di padang rumput menatap langit. Kau tahu, saat aku terjaga dari tidurku, pipiku selalu basah. Mungkin aku menangis mengingatmu.

Aku tahu aku merindukanmu.

Merindukan senyummu yang selalu memamerkan deretan gigi putihmu.

Merindukan semua kekonyolanmu.

Merindukan suara melengkingmu yang memanggilku `pantat ayam`.

Aku rindu segalanya bersamamu.

Sekarang kau pasti berfikir kenapa sudah beberapa hari ini aku tidak menanyakan kabarmu.

Aku sudah tahu kabarmu baik-baik saja walaupun dia berkata aku harus merelakanmu.

Aku sudah tahu kau menyukai tempat ini, karena itu kau tidak rela meninggalkannya.

Aku sudah tahu kau hanya marah padaku, kerena aku menikahinya.

Yah, kau masih sangat marah bukan, karena itu setiap hari kau selalu mengacuhkankan.

Aku bersumpah aku mencintaimu, hanya kamu. Bahkan dia pun tahu.

Dia pernah bertanya padaku apa kau sangat berarti bagiku. Yah, kau segalanya.

Dia tertawa mendengarnya.

Aku tahu dia tidak menertawakanku tetapi menertawakan dirinya. Kami dua orang yang sama, sama-sama menderita.

Kau tahu, setiap malamnya ia tersentak kaget dari tidurnya, bulir keringat membasahi keningnya, pipinya pun selalu basah, karenanya ia enggan untuk tidur. Wajahnya semakin lama semakin kusam dan tegang, terkadang aku kasihan padanya. Ia sendirian.

Aku sangat bersyukur aku masih memilikimu.

Kami selalu duduk bersama di tengah malam, walaupun hanya menatap bulan. Terkadang dia bercerita tentang seseorang yang hidupnya terbatas karena ia seorang wanita. Aku tahu itu adalah dia. Kau tahu, dia bukanlah seorang geisha biasa. Aku menyadarinya.

Dia memiliki potensi besar di dalam dirinya, sayangnya ia terjebak dalam tubuh wanitanya juga terjebak di zaman yang salah, sama halnya dengan kita. Kau menyadarinyakan? Wanita hanya dianggap angin lalu bagaimana pun hebatnya mereka. Kau pernah mengatakannya pula dan kau pun membencinya. Dia punya segala hal yang dimiliki seorang pemimpin, kebijaksanaan, tekat juga ambisi yang besar.

Kami sama-sama berharap berada di dunia ideal bagi kita, kau dan aku dan juga untuknya. Dimana tidak ada pembatas siapa diri kita, pria ataukah wanita. Bisakah itu?

Mungkinkah berpuluh-puluh tahun ataupun beratus-ratus tahun yang akan datang?

`Teruslah berharap!` itu yang selalu biarawan kuil katakan. Aku selalu datang kesana setiap paginya, mendengar sutra yang selalu mereka rapalkan. Aku berdoa pada Budha untukmu, hanya untukmu. Egoiskah aku, di tengah dunia yang sedang kacau karena perang aku hanya berdoa untuk mu? Yah, aku akui aku memang egois.

Kau tahu semakin lama, aku semakin aneh. Nafsuku terhadap ramen menjadi menggila, sepertimu. Aku bisa menghabiskan puluhan mangkuk sekali makan. Entah berapa kali aku harus keluar masuk kamar mandi setelahnya.

Kau diam.

Sekarang pun kau tidak lagi tertawa saat kau tahu aku menderita karena ramenmu.

Kau hanya berbaring di ranjangmu. Apa sebegitu nyamankah di sini? Tidakkah kau mencium bau alcohol di mana-mana. Apa aku pernah katakan, seberapa tidak sukanya aku pada tempat ini. Mual, rasanya mual harus mencium bebauan seperti ini. Tidakkah kau memikirkanku.

Lagi-lagi kau diam.

Sekarang tubuhmu sudah tidak sebugar dulu. Aku bisa melihat cekungan dipipimu. Kilau rambut pirangmupun sudah tidak lagi bersinar. Bibir mungilmu sudah tidak lagi semerah dulu. Kau semakin kurus, hanya kulit yang membalut tulangmu. Tanganmu sudah sangat lemah, tidak berdaya. Jari-jari yang dulu kau gunakan untuk menulis sudah tidak lagi berkarya.

Kau hanya terbaring di sini, di ranjangmu dengan infuse yang menjadi penyokong hidupmu. Ini semua salahku. Sedikitpun kau tidak salah. Tidak seharusnya orang tuaku membuatmu begini.

Setiap hari ketakutan selalu membayangiku. Takut jika mereka tahu kau masih hidup. Takut jika kau meninggalkanku. Takut jika semuanya berakhir dengan cepat.

Kau tahu apa yang bisa membuatku bertahan? Hanya kau.

Tangan mu yang selalu menyentuh pipiku. Berharap jika itu benar-benar kau. Itu yang kubutuhkan. Khayalan yang membuatku bertahan.

Aku memang menyukai keheningan tetapi keheningan saat bersamamu membuatku seakan mati.

Aku tidak menyalahkan mereka yang membuatmu begini. Aku tidak menyalahkan keadaan yang menentang kita. Aku tidak menyalahkan siapa pun.

Itukah yang ingin kau dengar dari mulutku. Aku tidak bisa.

Aku tidak mungkin tidak menyalahkan orang tuaku yang membuatmu begini. Aku tidak mungkin tidak menyalahkan keadaan yang menentang kita. Aku tidak mungkin tidak menyalahkan semua orang. Salahkah aku? Salahkah kau? Salahkah kita? Aku pria, kau pun pria. Salahkah kita jika bersama?

Di luar sana banyak orang yang menentang kita, menganggap `sial` diri kita. Mereka menyalahkan kita atas semua kekacauan yang terjadi.

Mereka munafik, begitupun aku.

Kau tahu betapa muaknya aku berpura-pura bersikap `senormal` yang mereka katakan. Semakin lama aku semakin jauh dari diriku.

Ingin rasanya aku mengeluarkan semuanya, tetapi untuk apa? Mereka tidak akan mengerti bagaimana aku mencintaimu.

Kalau mereka mengatakanku menjijikan, aku memang menjijikan.

Hei, tidakkah kau merindukan aku. Tidak inginkah kau melihat seberapa tampannya aku?

Kau ingat sudah berapa lama kau tertidur?

Tiga tahun. Bukankah itu cukup lama?

Sekarang kau mulai egois.

Kau membiarkanku sendirian, bukan?

Cepatlah bangun.

Kau tahu, aku menemukan sesuatu yang indah.

Sebuah pulau di Amerika Selatan.

Kita bisa membangun sebuah pondok kecil di sana, hanya berdua.

Kau tahu bagaimana indahnya pantai di sana?

Langit yang biru membentang menyatu dengan birunya laut, mengingatkanku padamu.

Kita bisa makan siang di hamparan pasir putih, hanya berdua.

Kita bisa melakukan apa saja di sana. Tidak ada mereka, orang tuaku, atau siapa pun yang menentang kita.

Kita akan hidup bahagia sampai tua.

Hidup yang selalu kita harapkan.

Aku tidak berani mengharapkan apapun bahkan meminta apapun yang ku ingin hanya bersamamu menjalani hidup berdua denganmu.

Cepatlah bangun.

Aku menunggumu.


[Lomba Fanfiction Genre 2] Diet Part 1


Titled: Diet

Length: Three shot

Pairing: YooSu slight!MinRam

Disclaimer: Sebenernya aku ini bilang mereka milikku, tapi itu tidak mungkin L semua karakter disini milik orang tuanya masing-masing.

Warn: Ini cerita fiksi yang berarti hanya khayalan saja, jadi mohon tidak dianggap nyata.

A/N: Cerita ini aku diadaptasi dari sebuah manga remaja yang aku sedikit ubah alur ceritanya. Jadi jika ada kesamaan cerita mungkin dari manga tersebut atau ketidak sengajaan & kebetulan

Selamat membaca^^

………

Diet Part 1

***

“Chunnie!!! Aku memutuskan untuk diet!!!” ujar Junsu dengan wajah yakin.

Yoochun yang sedang membaca majalah sembari memakan potato chip menoleh dan menatap Junsu dengan tatapan tidak yakin. “Kau…. Diet? Untuk apa?”

“Shim Changmin suka sama orang bertubuh ideal…” ujarnya terpesona.

Yoochun mengangkat salah satu alisnya. “Shim… Changmin?”

“Iya.  Itu loh…. Kapten club basket…”

Yoochun berdecak. “Untuk apa sih pake diet segala…. Tidak baik untuk kesehatan tahu….”

Junsu mengguncang-guncangkan tubuh Yoochun. “Chunnie……… temani aku diet ya….” Wajahnya memelas dan matanya memancarkan sinar innocent (A/N:kata singkatnya dolphin eyes).

Yoochun menghela nafas panjang. “Whatever…” Ia beranjak dari tempat ia duduk.

“Mau kemana?”

“Ini sudah malam… besokkan hari sabtu, kita jalan pagi… jam 6 kau sudah harus siap, arasso?”

Junsu memeluk Yoochun. “Kya!! Chunnie!!! Sarangahae!!!” ia tertawa bahagia.

“Y-yah…. Lepasin….” Ia berusaha melepas pelukan Junsu. Junsu melepas pelukannya sambil tertawa kecil. “Jangan lupa jam 6.”

“Ne….”

~~~~~~~~~

“Chunnie…. Tungguin… capek nih…” keluh Junsu.

“Aish, kau ini…yang mau dietkan kau…”

“Tapi…”

“Kajja…. Bentar lagi juga sampai dirumah.” Yoochun berlari kecil meninggalkan Junsu.

“Chunnie, tunggu!!” Junsu pun mengejarnya.

………

Yoochun dan Junsu sudah berteman dari kecil. Junsu selalu dijahili oleh anak-anak lain, tetapi pasti ada Yoochun yang membelanya dan melindunginya. Sejak saat itu, Junsu selalu bergantung kepada Yoochun.

‘Aku tidak pernah bisa mengatakan tidak kepadanya…’ pikir Yoochun  yang tengah berbaring ditempat tidurnya. Ia menghembuskan nafas. ‘Kapan ia bisa mandiri?’ Yoochun terbangun. “Tunggu dulu. Jika ia memiliki kekasih, ia pasti akan terus bersama dengan kekasihnya itu! Itu artinya aku bisa bebas!’

Yoochun mengambil handphonenya dan menghubungi Junsu.

“Yeoboseo, Chunnie? Ada apa?”

“Su, akan ku buat kau menjadi ideal! Percayakan padaku!” ujarnya semangat.

“N-ne…”

To be continue


[Lomba Fanfiction Genre 2] Meaningful Separation Part 1


 

Meaningful Separation

Part 1

By Flowery

 

 

***

 

 

Warning: BoyxBoy Love. EunHae pairing. Enough said.

 

 

***

 

 

Bosan adalah satu kata yang menakutkan. Bagi Donghae, pastinya. Ia selalu takut seseorang yang dekat dengannya mengatakan kata itu kepadanya. Ditambah lagi, Donghae tidak percaya diri dan selalu merasa dirinya bukan apa-apa. Jadi ketika kata-kata itu keluar dari bibir pacarnya, ia hanya terdiam, tidak tahu mau menjawab apa.

 

Eunhyuk merasa bosan. Ia bosan dengan hubungannya, dengan kehidupannya, dan dengan apa yang sedang dikerjakannya. Ditambah teman-temannya yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing, ia jadi tambah muak. Mungkin inilah titik jenuh yang sedang dirasakannya. Memasuki tahun ketiga hubungannya dengan Donghae, di saat ia membutuhkan sesuatu yang berbeda, mereka malah tetap monoton. Eunhyuk merasa Donghae tidak dapat menjadi pemuas dahaga yang seharusnya ia dapatkan.

 

Pada saat yang bersamaan, Eunhyuk bertemu dengan Henry, namja cantik yang mempunyai badan super bagus, uang yang berlimpah, dan kehidupan glamour. Mungkin kata-kata terakhir itu yang diinginkan oleh Eunhyuk. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang baru. Apalagi usia Henry beberapa tahun di bawahnya, dan tidak seumuran seperti ia dan Donghae. Mulai dari pola pikir, sifat manja, emosi yang meledak-ledak tentu saja, sampai rasa cemburu dan posesif yang berlebihan dirasakan oleh Eunhyuk saat Henry mendekatinya.

 

Henry sangat menyukai Eunhyuk semenjak ia duduk di bangku SMA dan ia sampai mengambil jurusan yang sama dengan Eunhyuk di kampusnya. Apapun dilakukannya agar bisa dekat dengan Lee Hyukjae.

 

Di saat rasa bosannya memuncak dan rasanya semakin hari semakin dingin tatapannya terhadap Donghae, Henry menyatakan bahwa ia tidak sanggup berpisah lagi dengan Eunhyuk, setelah mencuri sebuah ciuman dari bibirnya di mobil. Hubungan badan pun tak terelakkan. Satu hal yang tak pernah dilakukan Eunhyuk pada Donghae, dilakukannya pada Henry, sang bocah yang telah membangkitkan gairahnya untuk menjelajahi hidupnya dan mencoba hal-hal baru.

 

Eunhyuk menyukai perubahan suasana yang dilakukan oleh Henry, karena itu ia memutuskan untuk melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya: Memutuskan Donghae.

 

“Aku bosan. Maaf, kita sudah tidak bisa lagi…”

 

Hanya itu yang meluncur dari mulutnya. Setelah itu, tanpa menunggu reaksi Donghae atau bahkan repot-repot melihat mukanya, Eunhyuk melangkah pergi dengan dingin. Hubungan tiga tahun yang sudah dibina pupus sudah. Tapi Eunhyuk tidak merasa kehilangan. Yang dirasakannya hanyalah kebahagiaan akan hubungan baru yang sudah menantinya. Bersama Henry, si mochi nan imut. Yang penuh dengan ekspresi.

 

Dan ia tidak akan menyesal…

 

 

***

 

 

“Putus???”, Sungmin tersedak.

 

Donghae tersenyum kuat. “Bukankah itu yang memang akan terjadi?”

 

“Hae! Kau ini! Jadi perasaan kalian selama ini? Semua yang telah kalian bangun bersama?”

 

Donghae menggeleng lemah. “Perasaan kami tidak sama, Sungmin… Mungkin hanya perasaanku saja. Aku tidak bisa memaksanya… Entah mungkin selama ini ia sudah terus-terusan memendam rasa bosannya ini, hehe…”

 

Sungmin menatap sahabatnya tidak percaya. “Hae…kau, kau tidak berusaha memperjuangkan?”

 

Donghae sedikit tersentak dengan pertanyaan Sungmin. Ia berusaha berpikir, tapi otaknya tidak dapat memikirkan apapun untuk saat ini. Begitu Eunhyuk memutuskan untuk melangkah pergi dari hubungan mereka, ia tidak dapat menangis, tidak sedih, tidak meratapi. Ia merasa pantas mendapat sikap dingin Eunhyuk. Ia memang membosankan. Ataukah seharusnya ia melakukan apa yang dikatakan Sungmin? Memperjuangkan?

 

“Donghae?”

 

Sungguh ia tidak bersyukur apabila ia marah pada Eunhyuk. Tiga tahun sudah lebih dari cukup diberi waktu untuk mencintai Eunhyuk. Apalagi yang ia inginkan?

 

Pikirkan kebahagiaan Hyukkie, Donghae.

 

“Tidak…tidak apa-apa. Inilah yang seharusnya terjadi, Sungminnie, memang ini,” Donghae tersenyum manis, saking manisnya menyayat hati Sungmin. “Aku tidak pantas akan Hyukkie…”

 

 

***

 

 

Pada hari pertama mereka jadian, yang dilakukan Eunhyuk dan Henry hanyalah seks. Berbagai macam variasi dan posisi mereka lakukan tanpa henti. Jeritan dan erangan Henry menyiksa Eunhyuk, membuatnya ingin lebih membahagiakan Henry. Kau mungkin akan berpikir bahwa seorang Lee Hyukjae adalah sex machine, dibandingkan sebuah dance machine. Seks kilat di kamar mandi, di mobil, di taksi, di taman, di manapun mereka bisa pun dilakukan. Bibir Henry yang mencibir seksi selalu berhasil membuat Eunhyuk menuruti keinginannya.

 

Jantung Eunhyuk berdebar-debar. Hal baru yang tidak pernah dirasakannya. Ia merasa tertantang, adrenalinnya terpompa.

 

It’s good to be an explorer.

 

“Menyenangkan sekali ya, Eunhyuk-hyung..”, Henry menyender manja di tangan Eunhyuk.

 

Eunhyuk hanya tersenyum sebelum membiarkan bibirnya dicium lagi oleh Henry.

 

Ya, lumayan…

 

 

***

 

 

“Menyebalkan,” Sungmin menggerutu saat melihat sosok Eunhyuk dan Henry yang menempel manja di lengannya. “Pamer sekali sih.”

 

Donghae mengikuti mata Sungmin dan tersenyum kecut. “Eh..tapi lucu ya..kelihatannya Henry sayang sekali….”

 

Leher Sungmin seakan hendak patah akibat memalingkannya begitu cepat. “Eh, itu mantanmu, loh. Mantanmu yang masih sangat kau cintai, Hae. Mana ada orang yang berkomentar mantannya lucu jalan dengan pacar barunya? Kau sakit? Kau gila? Atau kau terlalu baik hati?”

 

“Sudahlah, Minnie…selama Hyukkie bahagia…”

 

“Ck, kau ini…”

 

Sungmin tetap berceramah sepanjang jalan dan Donghae memberanikan diri melirik pasangan tersebut sekali lagi. Henry kelihatan…berbeda. Henry kelihatan begitu hidup, meluap-luap, ceria, sungguh berbeda 180 derajat darinya. Pastinya Henry tidak seperti dirinya…tidak membosankan.

 

Meski begitu, Donghae tidak dapat memungkiri bahwa hatinya begitu perih melihat Eunhyuk tersenyum penuh kasih sayang pada Henry.

 

 

***

 

 

Henry mengungkapkan keinginannya untuk mencoba minuman keras. Eunhyuk menatap kekasihnya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu sadar bahwa ia sudah cukup umur. Henry mencibir dan mencubit lengannya keras. Eunhyuk tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit. Seolah-olah ia sudah setahun tidak tertawa.

 

Sudah bisa dipastikan hasilnya: Henry mabuk. Syukurlah badannya yang kecil membuatnya gampang untuk digendong. Sesampainya di apartemen Henry, ia masih harus bersabar menemani Henry memuntahkan kembali isi perutnya. Ditepuknya kepala namja yang lebih muda itu dengan penuh kasih sayang. “Kan tadi aku sudah bilang Hae…Hen…”

 

Eunhyuk tertegun. Apakah aku baru saja akan menyebut namanya?

 

Henry batuk. “Hehehe…iya Eunhyuk-hyung..aww, kepalaku pusing…”

 

“Besok pagi akan lebih parah lagi hangover-mu,” Eunhyuk menggelengkan kepalanya. “Sudah, jangan pikirkan apapun lagi malam ini. Ayo tidur.”

 

“Hmm…Hyung akan tetap disampingku kan? Jangan pulang, ya…”

 

Eunhyuk terdiam. Sungguh ia tak terbiasa diperlakukan seperti ini. Ia tidak terbiasa dengan sikap Henry yang sama sekali berbeda dengan Donghae. Ia lebih terbuka, lebih blak-blakan, dan lebih bisa mengungkapkan isi hatinya. Permintaan-permintaan yang diajukan Henry tidak berlebihan. Bahkan, begitulah seharusnya permintaan seseorang terhadap pacarnya.

 

Henry meletakkan kepalanya di dada Eunhyuk dan mulai bernafas teratur. Tertidur. Eunhyuk berusaha membuang jauh-jauh pikiran yang berhubungan dengan Donghae sebelum akhirnya membawa Henry ke tempat tidur.

 

 

***

 

 

Donghae terbangun dan menatap jam dinding di kamarnya. Badannya basah oleh keringat. Ia membawa kedua tangannya ke mukanya, dan menatap ke sebelahnya, dimana biasanya ada sosok yang menemaninya tidur. Sosok yang terbangun apabila Donghae membuat gerakan aneh sedikit saja. Sosok yang memeluknya erat apabila Donghae terbangun di pagi hari, seperti saat sekarang ini, dan menemaninya kembali tidur.

 

Rasa rindu menyiksanya.

 

Sudah berapa lama sejak mereka berpisah? Cukup lama. Sebulan? Dua bulan?

 

Kemarin Donghae menangis tersedu-sedu di hadapan Sungmin. Ia tak sengaja melihat EunRy berciuman di depan locker. Rasa tegar yang selama ini dibangunnya menjadi hancur. Segala pertahanannya pupus sudah. Menyesali. Merutuk. Meratapi semua yang telah terjadi. Apakah seharusnya ia keras kepala? Apakah ia seharusnya marah pada Eunhyuk, memaksanya memikirkan perkataannya kembali?

 

Sungmin tak dapat menjawabnya. Ia hanya memeluk sahabatnya erat. Membisikkan padanya ia harus mengeluarkan semua yang ada dalam hatinya. Bahwa tidak ada seorang pun yang akan mengerti, kecuali Tuhan, apabila ia tidak mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Donghae pun tak sanggup lagi menahan semua yang telah disimpannya. Ia menangis, melepaskan semua beban di hati dalam pelukan Sungmin.

 

 

***

 

 

“Clubbing?”, Donghae menatap Sungmin dengan tidak percaya.

 

“Yah! Kau butuh hiburan, tahu! Siapa tahu ada cowok cakep yang bisa jadi pengganti Eunhyuk.”

 

“Um…aku tidak bisa mencintai orang baru untuk sekarang, Sungminnie..”

 

“Baik, baik, paling tidak untuk menyembuhkan hatimu saja dulu, siapa tahu ada yang bisa menarik hatimu..”

 

Donghae menghela nafas, merasa kalah. “Ya sudah…kapan? Siapa saja?”

 

“YES!!”

 

 

***

 

 

“Clubbing?”

 

Henry mengangguk semangat, matanya menatap Eunhyuk dengan memelas.

 

“Entahlah, Henry…aku sedang tidak bersemangat…”

 

“Huaaa…pleasee? Pleaseee Hyung?”

 

Eunhyuk masih duduk di tempat tidur hanya dengan memakai celana panjang. Mereka baru saja make love, tapi Eunhyuk merasa dirinya hampa.

 

Beberapa hari belakangan ini Eunhyuk mulai merasa aneh. Ia mulai menatap Henry dengan asing. Permintaan-permintaan Henry yang biasanya dikabulkannya perlahan-lahan ditolaknya. Henry sangat kaget dan menangis, bertanya apa ada yang salah. Eunhyuk tidak bisa menjawab. Ia lalu mulai membelikan Eunhyuk barang-barang mewah sebagai permintaan maaf.

 

Donghae.

 

Nama itulah penyebab Eunhyuk tidak sanggup fokus lagi pada Henry.

 

Saat Henry manja padanya dan meminta sebuah ciuman darinya, Eunhyuk menyadari bahwa Donghae melihat mereka berciuman. Hanya sebuah ciuman singkat yang membuat Henry tersenyum senang dan memeluknya, tanpa menyadari pandangan Eunhyuk tidak lagi ke arahnya. Mata mereka bertemu, dan Donghae mengekspresikan sesuatu yang tidak pernah Eunhyuk lihat sebelumnya.

 

Terluka.

 

Ia kelihatan begitu sedih dan terluka, sampai akhirnya Donghae memutuskan pandangannya duluan dan berlari menjauh.

 

Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan??, jerit Eunhyuk dalam hatinya.

 

Eunhyuk mulai merasa tidak bahagia. Yang dilakukannya hanyalah melampiaskan kekesalan pada Henry. Berbagai alasan dan kemarahan mulai hinggap di pikirannya. Seharusnya kalau kau tidak suka Donghae tertutup padamu, katakan saja! Bukankah itu yang dilakukan sepasang kekasih? Saling berkomunikasi? Saling menjaga agar hubungan itu tidak hambar? Jika kau memang merasa tidak puas padanya, seharusnya kau katakan padanya apa keinginanmu, dan dengarkan keinginannya! Semudah itu!

 

“Hyung?”

 

Henry memandangnya cemas. Cantik sekali. Eunhyuk menyentuh pipinya, dan Henry memejamkan matanya, menikmati elusan jari Eunhyuk di pipinya.

 

“Maafkan aku…”

 

“Hyung?”

 

“Kau begitu cantik dan sempurna, tapi aku tidak bisa…”

 

Kata-kata terakhir hampir sama dengan apa yang diucapkannya pada Donghae dua bulan yang lalu. Ia berharap mendapat respon yang sama. Di luar dugaannya, Henry menangis sejadi-jadinya dan tidak menginginkan Eunhyuk putus dengannya.

 

“Apa salahku Hyung? Apa kekuranganku? Apa yang membuatmu tidak bisa?”

 

Eunhyuk tertegun. Kenapa Henry bersikap seperti apa yang ia inginkan?

 

“Maaf, Hyung…beritahu aku….aku akan berubah demi dirimu… Katakan saja apa yang Hyung ingin aku ubah, aku akan merubah semuanya…”, Henry berkata sambil menangis dan memeluk tubuh Eunhyuk yang tanpa baju dari belakang. “Aku mohon, Hyung…”

 

Semua yang aku inginkan Donghae untuk mengucapkannya…kenapa bisa kau yang mengucapkannya padaku???

 

“Maaf, Henry…aku…aku masih sangat mencintai Donghae…”

 

 

 

 

To Be Continued.


[Lomba Fanfiction Genre 1] Love In Rain


Title : Love in Rain

Cast : Cho Kyuhyun, Lee Sungmin

Genre : Humor, Romance, Oneshoot

Rated : PG-15

Author : @safly3424 Chahyun

Sungmin POV

Matematika?? Ntah mengapa aku sangat menyukai pelajaran yang di anggap sebagian atau mungkin malah semua orang sangat sulit. Yah, kuakui dulu aku sama sekali tak tertarik dengan pelajaran itu, malah hingga membenci pelajaran tak jelas itu. Tapi semenjak aku bertemu dengannya, yang notabene pemenang olimpiade matematika 3 kali berturut-turut, yang tak lain dan tak bukan adalah Cho Kyuhyun. Kakak kelas yang telah membuatku jatuh hati. Ahh,, hyung, kau membuatku gila!

Hari ini aku mengikuti pemantapan matematika, aku meninggalkan ketiga temanku dan bergegas pergi ke kelas pertemuan . Padahal pemantapannya masih setengah jam lagi. Aku tak ingin terlambat karena tujuanku yang paling utama adalah melihat si Evil itu.

“ Hi Hyung.” Sapaku sambil masuk ke kelas pertemuan yang hanya ada dia didalamnya.

“Hi.” Balasnya.

“Kenapa masih sepi?” tanyaku berpura-pura. Yaiyalah masih sepi, kan masuknya juga masih setengah jam lagi.

“ Kau datang terlalu cepat.” Jawabnya sambil mengerjakan beberapa soal Dimensi 3.

“Oh, begitu ya. Hyung sedang apa?” tanyaku basa-basi. Padahal aku ingin ngobrol dengannya saja.

“ah, aku sedang latihan beberapa soal Dimensi 3. Kau tahu kan minggu depan ada Olimpiade Matematika?” katanya tanpa melihat kearahku. Huh, sungguh menyebalkan.

“oh, Jalhaebwa yah Hyung! Fighting!” gumamku sambil mengangkat dan mengepalkan tanganku. Tapi, aku sangat kesal sekali karena ia tetap tidak menggubrisku. Huh..! Dasar Evil!!

Aku pun duduk di kursi yang jauh dengannya. Huh, dia itu cueknya kebangetan ih! Kenapa aku harus suka dengan dia coba? Keluhku dalam hati. Ketika sedang asik berargumen aku melihat ia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju tempatku. Aku diam tak bergeming sedikitpun, hanya jantungku saja yang berdetak tak karuan.

Kini dia mendekatkan wajahnya padaku. Hingga jarak kami tak sampai sejengkalpun. Entah apa yang merasukiku, aku pun menutup kedua mataku. Deg-Deg-Deg, menanti sesuatu terjadi kepadaku.

“Ya, Sungmin-ah . Mengapa kau menutup mata? Aku boleh pinjam serutan tidak? Pensil ku patah.”tanyanya.

GUBRAKK!! Hah? Dia hanya mau minjem serutan doang? Aku kira ada apa. Huh, Menyebalkan.

“Ne. Nih serutannya.” Kataku kesal sambil mengeluarkan sebuah serutan berwarna kuning dari kotak pensilku yang bergambar Super Junior, Boyband favoriteku.

“Gomawo Sungmin-ah” katanya sambil mengacak-acak rambutku.

“Aiissshh, Hyung, kau membuat rambutku rusak!” kataku sambil membetulkan rambut yang diacak-acak olehnya. Kini perasaan ku jadi tak karuan. Jantungku berdetak cepat. ‘Aisshh, kadang dia sangat baik dan terlihat penuh kasih sayang. Tapi kadang dia juga terlihat sangat dingin dan sombong denganku.’ Gumamku dalam hati.

Setelah pemantapan selesai aku mendekati Kyuhyun hyung hanya untuk meminta serutanku kembali.

“Hyung?” panggilku. Tapi dia tak menoleh sedikitpun dan pergi meninggalkan kelas terburu-buru. Padahal kuyakin suaraku cukup keras untuk terdengar olehnya.

“Aissh,, muncul lagi sikap dinginnya. Yasudahlah, aku pulang saja.” Kataku kesal dan bergegas pulang sekolah. Saat di jalan kulihat langit sedikit mendung, kupercepat langkahku agar sampai tak kehujanan. Tiba-tiba…

Tess… Tess… Tess

Hujanpun turun. “Ahh,, kenapa hujan sih, mana aku ga bawa payung.” Gerutuku. Lalu terdengar suara motor disampingku.

“Ya, Sungmin-ah. Mau aku antar pulang tidak? Hujannya semakin deras. Nanti kau kehujanan.” Saran seseorang disampingku yang ternyata Kyuhyun Hyung.

“Kalau begitu baiklah.” Kataku mendekat dan sekali lagi jantungku berdetak cepat. “Mana payungnya?” sambungku.

“Payung? Aku tidak bawa.” Katanya santai.

“Mwo? Ga bawa? Kalau begitu mana jas hujannya?” tanyaku kesal.

“Aku juga tidak bawa.” Jawabnya dengan muka innocent.

“Tetap aja aku kehujanan kalo gitu. “ kesalku. Kini hujan semakin deras.

“lebih baik jika naik motor , waktunya lebih cepat sampai. Dari pada kau jalan kaki. Cepatlah naik” perintahnya.

“Ne.” Kataku sambil cemberut lalu duduk di belakangnya.

Ternyata hujan turun sangat deras. Sampai-sampai jalan tak kelihatan. Kamipun memutuskan untuk berteduh di sebuah warung makan yang sepi, tidak ada sang pemilik ataupun pelanggan. Dan duduk di salah satu kursi di warung itu.

“Oppa! Kau ini. kalau tahu kaya gini aku lebih memilih naik bus saja.” Kataku menggigil sambil meremas bajuku yang basah.

“Mian.” Ujarnya.

“Mian? Kau Cuma bilang mian?” huh, dasar evil berhati batu!! Keluhku dalam hati.

“Memang harus bilang apa lagi?” tanyanya santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Huh, yasudahlah. Kita malah terperangkap disini.” Keluhku lagi.

“Tapi kau senangkan?” tanyanya.

DEG!! Jantungku semakin cepat berdetak. Ya kuakui, aku memang senang saat seperti ini. bisa berdua dengannya, membuatku nyaman. Aku tak menjawab pertanyaannya yang terakhir.

“Sungmin-ah?” tanyanya.

Aku masih tetap diam. Lalu tiba-tiba ia mengalungkan tangan kirinya di pinggangku dan menarikku dalam pelukannya.

“Kau akan merasa hangat seperti ini” katanya sambil mempererat pelukannya.

“Hyung?” spontanku.

“Ne?” tanyanya.

“ah, Ani.” jawabku canggung. Bisa kupastikan ia mendengar suara jantungku yang berdegup kencang.

“Sungmin-ah? Gwaenchana?”

“Ne. Gwaenchanayo.”

“Sungmin-ah?”

“Ne. Ada apa lagi oppa.”

“mmm…. Maukah kau menjadi namjachingu-ku?” tanyanya yang berhasil membuatku shock.

“Hah? Mworago?” tanyaku yang ingin mendengar lebih jelas lagi pernyataannya.

“Kau sudah dengar tadi” katanya santai.

“Oppa? Kau tak salah bilang? Aku takut aku salah mendengarnya.” Tanyaku sekali lagi.

“Tidak, kau tak salah mendengarnya. Aku bilang , maukah kau jadi namjachingu ku?” tegasnya

“Hajiman oppa?” kataku seakan tak percaya.

“ hajiman mwoya?” tanyanya balik.

“Akukan namja. Sama sepertimu.” Kataku sambil menekuk leher.

“Kalau kita sama-sama namja memangnya kenapa. Gara-gara kau kan aku jadi tak normal.” Jelasnya.

“kau! Lagian aku tak pantas jadi milikmu, kau terlalu sempurna untuk ku.” Ujarku merendah.

“asal kau tahu aku masih punya kekurangan, yang kuyakin bisa kau tutupi.” Tentangnya yang membuat aku merasa senang.

“isseoyo? Huh aku tidak menyangkanya. Memangnya apa itu hyung?” kataku penasaran.

“Ah, nanti kau juga tahu.” Tolaknya.

“emm, ne. terus kenapa kau bersikap dingin padaku?” tanyaku lagi.

“aku tak ingin memberikan perhatian lebih pada seseorang. Aku takut dia salah paham.” Ceritanya sambil membelai rambutku. Huh kujamin sudah muncul blushing di kedua pipiku saat ini.

“memangnya oppa pernah seperti itu?”tanyaku sambil mendongakkan kepalaku.

“Dulu, aku punya seorang teman perempuan. Aku sangat menyayanginya dan menganggapnya seorang adik. Tapi perhatianku disalah artikan olehnya.” Katanya sambi memperlihatkan raut sedih.

“lalu apa yang terjadi pada yeoja itu?” kataku banyak tanya.

“Aissh, ya sudahlah. Kau ini cerewet sekali. Jadi gimana mau ga?” tanya mengganti topik pembicaraan.

“Mmm.. gimana ya. Aku ga mau.” Aha, aku kerjain kau hyung. salah sendiri selama ini bersikap dingin padaku.

“wae? Kau tidak suka aku?” kecewanya.

“Haha, hyung liat muka kecewamu itu, kau seperti anak kecil yang minta di kasih permen. Hahah” kataku sambil tertawa. Aku tak bisa menahan rasa tawa saat melihat wajahnya saat ini.

“Serius lah. Aku lagi ga mau bercanda. Kau ga mau, Sungmin-ah?” tegasnya.

“Ne. Aku ga mau. Aku ga mau nolak kamu, hyung!” bisikku tepat ditelinganya.

“Ya! Sungmin-ah! Kau mengerjaiku!” kesalnya. “Sebagai balasannya, kau tak akan bisa lepas dari pelukanku!” ujarnya sambil tersenyum evil.

“Ya! Hyung lepaskan.” Kataku berontak.

“Andwae! Siapa suruh mengerjaiku.” Katanya.

Akupun pasrah dalam pelukannya. Dan membiarkan dia memelukku dengan erat. Memang seperti ini yang aku inginkan dari dulu. Menjadi seorang namjachingu Kyuhyun hyung, sijenius matematika. Lalu ia berbisik di telingaku.

“Saranghaeyo, Sungmin-ah.” Bisiknya lembut.

“Nado saranghaeyo Hyung.” Balasku sambil mendongakkan kepalaku sehingga tepat berada di depan wajahnya. Lalu tiba-tiba ia semakin mendekatkan wajahnya hingga bibir kami pun akhirnya bertemu untuk pertama kalinya. Ciuman lembut, tanpa ada nafsu sedikitpun. Akupun melepaskan ciuman kami.

“Gomawo hyung.” kataku pelan karena menahan malu.

“Cheonmaneyo.” Katanya lalu memelukku dengan erat lagi.

Tak terasa kami pelukan sangat lama dan hujanpun masih mengeluarkan tangisannya. Tiba-tiba datang dua orang namja berniat untuk berteduh di warung ini juga. mereka  terkejut melihat kami berdua berpelukan. Ternyata mereka berdua adalah Yesung dan Ryeowook dari kelas 10, masih satu SMA dengan kami.

“Ya! Maaf, tempat ini sudah kami booking.”kata Kyuhyun oppa dan hanya dibalas tawa oleh kami semua.

FIN

Gimana ? jelek ya.. maaf saya Cuma coba2 saja buat FF… awalnya aku readers d page ini…


[Lomba Fanfiction Genre 1] Boku no Karappo na Tenohira


TITLE               : Boku no Karappo na Tenohira

AUTHOR          : Funazuka Rinou

FANDOM         : the GazettE ( Uruha, Kai, Ruki, Reita, Aoi ). Eccentric Agent And ( Kili, Ikuma )

+++++++++++++++++++++

[ I will burry everything that was important to me in blossoms under this tree.

 ~Harusaki Sentimental – Plastic Tree~]

Kali ini guru mata pelajaran kimia tidak hadir sehingga para pengacau kelas seolah mendapat peluang yang besar untuk mengekspresikan diri mereka. Suasana kelas begitu ramai dan beberapa siswa menjadi terpengaruh untuk melakukan hal-hal membuat keadaan kelas semakin riuh, tetapi tidak untuk Uruha yang tetap fokus dengan goresan demi goresan pen yang ia aplikasikan ke dalam sketchbook di hadapannya.

“Gitar lagi?” Sahut Reita tiba-tiba sambil menepuk pundak Uruha

“Eh?.. ee.. apa urusanmu?!”

“Tidak usah gugup begitu, hahaha.” Reita meninggalkan bangku uruha dan kembali mengacaukan suasana kelas bersama gerombolan pengacau kelas lainnya.

Sambil terus berjaga-jaga Uruha melanjutkan kembali sketsa gitar yang dibuatnya, sepertinya dia benar-benar tidak ingin ada seorangpun yang mengetahui apa yang dibuatnya.

Pandangan Uruha terarah ke luar kelas saat dia mulai mengistirahatkan matanya yang telah lelah. Dari sela pintu yang terbuka lebar, terlihat sosok seorang pemuda jangkung, tegap, dan tampan sedang bercanda bersama teman-teman  dekatnya. Dia Kili, dia adalah ketua kelas 11-C, dia adalah pribadi yang baik dan bertanggung jawab di mata Uruha. Dia sangat pantas untuk berada di posisi itu, batin Uruha.

Kili pernah memperlakukan Uruha dengan sangat baik, bahkan membantunya berdiri saat ia terjatuh di depan kelas, hal itu sangat membuatnya terkesan dan kagum terhadap Kili. Walau begitu, Kili dan Uruha tidak sedekat itu. Mereka jarang sekali berbincang secara langsung, bahkan terkesan jauh. Uruha sendiri merasa canggung tiap kali harus berhadapan dengan Kili. Kili bukanlah orang yang pendiam, begitu juga Uruha. Hanya saja, ketika berhadapan dengan Uru, Kili menjadi lebih kaku dari biasanya, hal inilah yang membuat Uruha menjadi canggung dan tidak seheboh saat bersama teman-temannya yang lain saat harus berhadapan dengan Kili. Walau sebenarnya tersimpan keinginan untuk bisa mengenal Kili lebih dekat lagi. Sedekat dia dengan teman-temannya. Atau mungkin lebih?

Uruha membelalakan matanya, dia terkejut setengah mati dan mulai mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Dengan mata terpejam dia menggelelng-geleng kan kepalanya dengan keras dan memukul kasar kepalanya.

“Hentikan itu !” batinnya.

************************

            “Hei Uru~chan, bagaimana kalau sore ini kita pergi ke pameran musik bersama?”

“Tidak ah Ru, aku tidak ada waktu.” Ucap Uru lemas sambil meletakkan tangan kanannya di bahu Ruki.

“Hey, ayolah, banyak model bass terbaru di sana, aku ingin melihatnya.” Sahut Reita lirih. Uruha tetap berjalan sampai kedua kakinya menapak di luar batas sekolah tanpa menoleh ke arah Reita yang sangat berharap atas responnya.

“Kai, bagaimana denganmu, kau ikut?” Ruki beralih membujuk Kai.

“Tentu, aku pasti ikut.”

“Naaah, kau dengar itu Uru? Kau juga harus ikut.” Sentak Rei girang

“Iya-iya, baik. Memang siapa saja yang ikut?”

“Aku, Kau, Ru, Kai, Ikuma, dan Kili.”

DEG

Kili?!

*************************

            Uruha tertegun menatapi detil demi detil gitar elektrik di hadapannya. Matanya berbinar-binar menunjukkan bahwa dia benar-benar kagum dengan design gitar berwarna ungu itu. Kini dia mengalihkan pandangannya ke arah lorong di sebelah kanannya. Terlihat Kili juga memandangi gitar-gitar elektrik yang terpampang di lorong itu. Entah mengapa Uruha merasa dia ingin Kili mendatanginya dan melihat-lihat serta mengomentari gitar-gitar itu bersamanya. Tetapi sisi akal sehat Uruha menentangnya, dan lagi dia menggeleng-gelengkan serta menepuk kepalanya dengan keras. Dalam hati dia berseru “CUKUP”

Tiba-tiba sesorang muncul memasuki lorong tempat Kili berada. Dia Yume. Dia adalah wanita yang dekat dengan Kili.

Yume juga datang?!

Mereka berdua bercanda dengan hebohnya. Dan mereka berdua tertawa bersama. Terbesit di pikiran Uru andai dia bisa membuat Kili tertawa selepas itu, lagipula Uru juga adalah orang yang bisa membuat suasana menjadi ramai, bahkan lebih dari Yume, tetapi…

Uruha memalingkan wajahnya dan pergi meninggalkan ruangan tempat ia berpijak dan bergegas mencari Ruki, Reita dan yang lainnya.

*************************

            Malam telah tiba. Lampu-lampu jalanan mulai terlihat terang dan bintang-bintang di langit berkerlipan menghiasi gelapnya langit Sendai. Malam ini mereka mampir ke kedai ramen kecil untuk sekedar menghapus rasa lelah.

“Kili? Benda apa itu di mangkukmu?” seru Uruha memulai pembicaraan sambil menunjuk sebuah naruto yang berbentuk aneh.

“Ha? Haha entahlah, kau suka bentuknya? hahaha.”

“Itu adalah kotoran hewan. Biasa, Kili adalah pemakan segala yang suka memakan apa saja termasuk kotoran” sahut Reita lancang sambil tertawa lepas

“Kenapa? Apa kau ingin kotoranmu kumakan juga?”

“Hiiieeeehhh, Kili aku tidak menyangka sebelumnya, ternyata makananmu sangat berkelas” ucap Uru sambil melebarkan tawanya.

“Kau mau coba?”

“Hei-hei! Bisakah kalian diam?!” Seru Ruki dengan nada yang cukup tinggi. Sepertinya dia mulai kehilangan selera makannya. Semua tertawa, suasana kedai yang tadinya sepi menjadi riuh hanya karena 6 orang pemuda yang semuanya tidak bisa diam.

Malam itu adalah malam yang berkesan. Terutama bagi Uru. Dia senang, dia telah berhasil mengekspresikan dirinya kepada Kili. Semoga saja ini akan berlangsung terus.

*************************

            Rasa lelah menyelimuti Uruha yang telah terbaring lemas di kasurnya. Dia menoleh ke arah dinding kamarnya yang dipenuhi gambar sketsa gitar buatannya. Dia menjulurkan tangan kanannya dan seolah-olah menyentuh salah satu gitar di kertas berukuran A4 yang tertempel di dinding kamarnya.

“Andai aku bisa memainkannya” ucapnya lirih

Uruha menarik tangannya dan menghadapkan telapak tangannya ke depan wajahnya. Dipandanginya telapak tangannya lekat-lekat. Matanya mulai berkaca-kaca, dan dadanya mulai terasa begitu sesak. Kenangan yang terekam jelas adalah saat dia mulai mencoba memainkan gitar akustik. Dan gagal. Dia bahkan pernah mengikuti les bermain gitar, tetapi tetap saja gagal. Sampai-sampai guru lesnyapun mengatakan. “Sepertinya ini memang bukan bakatmu”.

Meskipun tidak bisa memainkan gitar sama sekali, kecintaannya terhadap gitar tidak luntur sedikitpun. Dia tetap mencintai gitar dan tidak pernah berhenti berharap kedua tangannya akan berhasil memainkan sebuah gitar.

Tiba-tiba kenangan malam itu terbesit di pikiran Uruha. Tentang Kili. Lagi, kedua sisi Uruha yang bertentangan membuat Uruha semakin pusing. Di satu sisi, dia ingin lebih dekat lagi dengan Kili. Dan jauh di dalam dirinya, dia ingin selalu bersama Kili. Tetapi sisi nya yang lain menentang keras semua itu. Uruha masih ingin menjadi seorang pria normal yang menyukai wanita. Bukan Kili. Bukan seorang pria. Kata-kata yang selalu terucap saat dia mulai tergoyah akan Kili adalah “Hentikan! Cukup! Aku seorang pria normal! Apa-apaan semua ini?! Dia hanyalah teman sekelasku dan selamanya akan tetap seperti itu!”. Pertentangan demi pertentangan batin inilah yang begitu menggoyahkan kondisi psikologis Uruha, ditambah lagi harapannya yang begitu besar terhadap gitar. Dia mulai kacau. Dia sudah tidak tahan lagi dengan segala pemikiran-pemikiran yang begitu mengganggunya. Segera dia menutup kedua matanya, berharap dia bisa merasa lebih tenang.

************************

            Hari demi hari berlalu dengan cepat. Disela itu, Kili dan Uruha sudah mulai dekat entah melalui e-mail ataupun pesan singkat, walau Kili masih kaku saat berhadapan dengan Uruha secara langsung. Begitupun Uruha, walau dia juga canggung, tetapi sebisa mungkin dia terlihat seru dan menyenangkan di hadapan Kili. Dengan harapan, Kili juga akan bersikap serupa.

“Kau ada waktu untuk latihan sore ini?”

“Ya, tentu saja. Jadi latihannya sore ini? Aku pikir lusa.”

“Ya, aku juga berpikir begitu, tetapi Ken dan Peco ada acara besok lusa.” Kili terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan dari Ikuma. Seoertinya ada yang ia rencanakan.

“Hoo begitu, baiklah. Bagaimana kalau kali ini aku membawa gitarku sendiri? Aku baru saja membelinya. Yaaah, anggap saja percobaan.”

“Wooo, kau sudah beli rupanya. Wah, tak apa, itu ide bagus.” Seru Ikuma mengisyaratkan kekagumannya. Tanpa mereka sadari, seseorang menguping pembicaraan mereka. Yap benar, Uruha. Satu hal yang membuat Uruha bersemangat kali ini

“Kili seorang gitarist?!” Serunya pelan. Dia semakin bersemangat untuk kembali menyentuh gitar.

******************************

Kriiiiinggg

“Moshi-moshi”

“Moshi-moshi, Uru.”

“Ayah?”

“Besok sore kau ada waktu?”

“Ya, ada apa?”

“Ayah akan mengenalkanmu pada guru bermain gitar, dia adalah teman baru ayah kau tertarik?”

“Hontou?” wajah Uruha berbinar

“Ya, kebetulan besok lusa ayah akan pergi ke rumahnya, jadi sekalian saja ayah mengenalkanmu.”

“B..baiklah.”

“Oh, iya, ayah lupa. Ayah tidak bisa pergi ke sana bersamamu, karena sebelumnya ayah ada urusan dengannya, jadi ayah berangkat pagi. Kau tidak apa-apa kian berangkat sendiri. Nanti di rumah ayah beri tahu alamatnya.”

“Iya, baiklah,  tidak apa-apa.”

“Yasudah sampai jumpa nanti.”

“Baiklah.”

Kegembiraan terlukis jelas di wajah Uruha. Dia tidak bisa menutupi kegembiraannya, dia terus tersenyum dan terlihat ceria. Reita dan Ruki menatapnya heran. Uruha menyadari tatapan kedua temannya, tetapi dia tidak peduli. Satu-satunya hal yang diinginkannya hanyalah segera bertemu guru barunya dan bermain gitar.

“Rei,”

“Hmm?”

“ tebak apa?”

“Gitar?”

“Aku juga berpendapat seperti itu.”

Reita dan Ruki lebih memilih untuk berhenti memperhatikan Uruha dan kembali dengan urusan mereka. Toh meskipun mereka terus-terusan memandangi Uruha, kebahagiaan Uruha juga tidak akan bisa mereka rasakan.

*****************************

           Hari yang ditunggu-tunggu Uruha telah tiba. Hari dimana dia akan berlatih bermain gitar kembali. Dengan penuh harap, dia memohon kelancaran pada hari ini. Tetapi….

“Haaaa…. ini dia pasangan baru di kelas kita!!!” celoteh salah satu siswa. Uruha menoleh ke arah pusat perhatian. Kili dan Yume! Mereka datang ke sekolah dengan bergandengan tangan!. Wajah Yume memerah karena tersipu oleh perlakuan para penghuni kelas. Semua, kecuali Uruha. Uruha terdiam, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Di satu sisi dia merasa terkejut dan shock, di sisi lain dia berusaha menolak dan berpikir untuk apa dia kecewa. Ini hal yang wajar, justru jika dia merasa kecewa, itu adalah hal yang tidak wajar. Uruha tetap terdiam meski sesekali ikut tersenyum dan tertawa saat mendengar gurauan tentang hubungan Kili dan Yume. Tentu saja itu adalah senyum palsu yang dibuatnya. Senyum untuk menutupi rasa sakitnya, rasa sakit yang tidak wajar menurutnya. Namun apapun itu, rasa sakit tetap rasa sakit. Yang akan tetap terasa sakit walau berusaha menutupinya.

****************************

            Uruha melaju dengan kecepatan motor 110km/jam. Dia berusaha fokus dan berpikir untuk sampai pada tujuan tepat waktu. Dia akan pergi ke rumah guru barunya, bermain gitar dan bertemu ayahnya, dia harus merasa bahagia. Akan tetapi kenangan-kenangan saat di sekolah terus menerus menempel di otaknya. Dia berusaha menepis tetapi selalu saja kenangan itu muncul di pikirannya.

Tanpa pikir panjang, dia melakukan lagi hal yang biasa dilakukannya pada saat-saat seperti ini, dan tentu saja hal itu akan memecah konsentrasinya saat berkendara. Di saat yang bersamaan, sebuah truk melaju tepat di belakangnya. Supir truk mabuk sehingga tidak menyadari keberadaan Uruha di depannya. kecelakaan tidak dapat dihindari, Uruha terpental cukup jauh. Dia terjatuh dengan tangan kanan yang tertindih badannya. Uruha masih bisa berpikir saat itu, dia berusaha menggerakkan tubuhnya untuk menyelamatkan tangannya, tiba-tiba sebuah mobil yang melaju dari arah berlawanan bergerak mendekatinya. Uruha menoleh lemas. Walau hanya samar-samar, Uruha dapat melihat ban mobil yang perlahan-lahan menghancurkan tangan kirinya. Dia tidak bisa merasakan apapun…

**********************

“AAAAAAARRRRGGGGHHHH!!!!!” Uruha tersentak dan segera bangkit dari tempat tidurnya. Nafasnya tersengal-sengal, jantungnya berdebar begitu cepat, badannya basah akan keringat dingin. Dia sangat panic.

Dia melihat ke sekeliling, dan mulai mengenali tempat dia berada sekarang.

“Kamarku?! Aku?” dia mulai menggerakkan kedua tangannya dan mendapati kedua tangannya yang masih utuh. Perasaan lega yang begitu besar melunturkan rasa panic yang sedari tadi mengganggunya. Dia tersenyum senang dan menggerakkan kedua tangannya memosisikannya untuk menutupi kedua matanya.

Itu hanya mimpi

Perlahan Uruha membuka kedua matanya. Kini dia berada di sebuah ruangan bercat putih yang dipenuhi peralatan medis.

“Rumah sakit?” ucapnya lirih. Uruha berusaha terbangun, tetapi dia tidak bisa. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan tangannya tidak dapat digerakkan dengan mudah.

Dia tetap berusaha menggerakkan kedua tangannya untuk memastikan tidak ada hal buruk terjadi. Dan..

Mata Uruha terbelalak lebar, wajahnya pucat, keringat dingin mengucur deras saat dia mendapati kedua tangannya hilang! Tangannya hanya sebatas siku saja. Tangannya di amputasi! Dia tidak akan bisa dan tidak akan pernah bisa bermain gitar lagi. Impiannya benar-benar hancur. Dia sudah kehilangan 100% kesempatannya bermain gitar. Kesempatannya mewujudkan impiannya menjadi seorang gitaris. Tanpa terasa air mata deras mengalir membanjiri pipi pucatnya. Mulutnya menganga lebar. Rasa shock yang luar biasa meledak dalam dirinya. Dia menangis tanpa suara dengan nafas yang tidak beraturan.

INI NYATA?!

“Uru~kun.” Seru Ibu Uruha sesaat ketika membuka pintu bilik. Wanita paruh baya itu mendekati Uruha dengan berlinang air mata, seolah tidak kuasa melihat reaksi anaknya yang begitu terkejut akan kondisinya. Dia meletakkan kepala Uruha ke dalam pelukannya dan terus menangis. Uruha terus menangis tanpa mengeluarkan suara. Nafasnya semakin tidak karuan, suhu tubuhnya semakin panas dan tubuhnya lemas.

“Uru, kau sudah sadar.” Ayah Uruha mulai memasuki bilik dan kemudian turut memeluk istri dan anak kesayangannya dengan air mata yang mulai mengalir dari kedua matanya.

********************

Sudah 7 hari Uruha tidak mau makan. Kalaupun makan dia hanya akan membuka mulutnya sekali saja. Dia terus-menerus terdiam. Tatapannya kosong. Wajahnya pucat. Tubuhnya semakin kurus. Dia terlihat seperti mayat hidup.

Seorang tamu datang menemuinya. Tanpa menolehpun Uruha sudah mengetahui siapa yang datang. Jantungnya sudah berdegup lebih kencang dari sebelumnya.

“Uruha, bagaimana kabarmu?” Ucap Kili lembut dengan senyumnya yang lebih lembut dari suaranya. Uruha tetap tidak menjawab. Dia tetap terduduk diam dengan pandangan kosong.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman?” Sahut Kili sambil menyiapkan kursi roda.

Jalan-jalan?!

*********************

Mereka berdua kini duduk di kursi taman rumah sakit yang cukup luas sambil memandangi pemandangan sekitar yang cukup menyejukkan. Banyak pepohonan, dan suara cicitan burung di sore hari yang menentramkan pikiran.

“Kau sudah lama tidak melihat dunia luar bukan?” Kili mengawali pembicaraan. Uruha tetap terdiam.

“Kau suka cicitan burung?” Uruha tetap tidak menjawab.

“Oh, kau tidak suka ya. Lalu apa yang kau suka? Siapa tahu dengan melihat hal yang kau sukai kau akan segera sembuh.” Tiba-tiba sepercik memori muncul di pikiran Kili.

“Oh iya, kau suka gitar bukan?”

DEG

Jantung Uruha berdegup lebih kencang, dan bahkan sangat kencang sementara tubuh lemahnya sulit untuk mengimbangi. Mengimbangi degupan jantungnya dan psikologisnya yang mulai goyah karena mendengar kata “gitar”.

“Aku lelah~” Ucap Uruha lirih tanpa memalingkan pandangannya yang kosong.

“Ah, aa… b.. baiklah, kau bisa istirahat di pundakku.” Kili meletakkan kepala Uruha di pundaknya yang lebar dengan lembut. Memastikan Uruha benar-benar merasa nyaman.

Kili teringat akan sesuatu yang telah ia siapkan dan dia sudah berencana akan memberikannya kepada Uruha saat dia telah berhasil menghibur Uruha dan menidurkannya. Dia ingin Uruha membacanya saat ia mulai terbangun dari tidurnya. Kili mulai merogoh sakunya dan mengambil anplop kecil yang berisikan surat untuk Uruha.

Uruha memejamkan kedua matanya perlahan. Mengubur semua impian dan harapannya yang begitu besar terhadap gitar. Impiannya untuk bisa bermain gitar pupus sudah. Tidak ada lagi harapan. Begitu juga akan Kili, dia adalah seorang pria. Kili juga seorang pria. Akhirnya Uruha mengakui perasaannya terhadap Kili. Perasaan yang dipandamnya dan ditolaknya sekian lama. Perasaan yang ingin dibuangnya jauh-jauh. Perasaan cinta yang begitu besar. Rasa cinta yang ingin dibuangnya karena ia rasa itu tidak normal. Kini semua hal yang dicintainya dan diimpikannya harus pergi dan hilang selamanya. Terkubur dalam-dalam di dalam jasad penuh harap. Uruha tau, ini adalah akhir yang menyakitkan untuknya.  Air mata Uruha mengalir perlahan seiring dengan hembusan nafasnya yang terakhir. Dia pergi meninggalkan semua impian dan harapannya yang belum sempat terwujud.

Kili menoleh ke arah Uruha. Dia menyeka air mata yang membasahi pipi Uruha yang pucat dan dingin. Dan tangan Kili tidak dapat merasakan hembusan nafas Uruha lagi.

“Uruha?”

*************************

Uruha,

Ada yang ingin kukatakan padamu

Mungkin ini terasa menggelikan

Sejak aku mulai mengenalmu, aku merasa berbeda

Aku merasa seperti orang sakit jiwa

Aku bahkan tidak sanggup menatap kedua matamu

Begitu besar hal yang ku sembunyikan darimu

Hanya saja saat aku berada di dekatmu, aku tidak bisa mengatakannya

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Meskipun aku pikir ini tidak wajar

Meskipun aku sudah berusaha keras berpikir sebagai pria normal dan bersama seorang gadis

Tetapi…..

Aku ingin memilikimu

Aku ingin memilikimu meski ini tidak normal

Aku ingin menjagamu

Aku ingin ,menggenggam kedua tanganmu

Aku ingin bersamamu

Aku tau ini menjijikkan

Tapi inilah kenyataannya

Kili

*************************

Bagaimana jika hal yang kau sukai adalah hal yang tidak bisa kau lakukan sama sekali?

 

Dan hal yang kau impikan adalah hal yang sama sekali tidak memberimu kesempatan untuk mewujudkannya?

-TAMAT-


[Lomba Fanfiction genre 1] You Are So Pretty


Title: You are So Pretty

Author: forfeitmasins

Rating: PG-15

Pairing: Onkey!!!

 

You Are So Pretty

By: forfeitmasins

Musik techno yang  diputar sebagai  latar belakang menghentak begitu keras sampai gendang telinga Jinki terasa seakan-akan hendak meledak.

Sepasang kaki indah yang ramping dan panjang itu terus menghantuinya. Cara pemilik kaki itu menggoyangkan  pinggulnya dengan sensual, dan dua bukit yang menonjol di belakangnya seakan menantangnya untuk mengelus mereka. Bagaimanapun Jinki terpaksa harus menelan ludah melihat tulang pipi yang tinggi itu membingkai seraut wajah indah  (seaneh itulah, memanggil wajah seorang laki-laki indah, hanya saja, dia tidak bisa menemukan kata sifat lain yang lebih cocok  untuk melukiskan wajah surgawi itu tanpa terdengar terdengar melebih-lebihkan). Sudah tak terhitung Jinki melakukan melakukan ‘solo’ hanya karena dia bisa (dan putus asa, tapi Jinki menolak untuk mengakuinya). Kim Kibum, nama pria itu.

Dia habiskan Grateful Dead-nya dengan cepat. Pegangannya  pada gelas Collin itu tak lagi sekencang sebelumnya, tangannya gemetar, dan dia mulai merasa pusing. Mungkin  itu karena gin di minuman tadi. Kemampuan sistem tubuhnya untuk menoleransi alkohol memang tidak terlalu baik, tidak seperti pria yang sedang menari erotis di hadapan Taemin, pemuda yang dia klaim sebagai putranya (Jinki melakukan ‘penelitian’ tentang itu, dia ingin mengetahui siapa lawannya, kan?) yang bisa meminum alkohol bergalon-galon tanpa menjadi mabuk.

“Buktikan kalau kau ini laki-laki, Bung,” sebuah suara mengejutkan Jinki dari lamunannya tentang sosok di tengah lautan testosteron, yang tampak berkeringat dan memerah, kelihatan luar bisaa seksi seperti bisaa.

“Huh?” Jawabnya nggak nyambung.

Temannya hanya menyeringai dan mengambil langkah panjang menuju lantai dansa. Jinki menatap lanati dansa dengan pandangan kosong ketika dilihatnya temannya itu menyelipkan dirinya diantara dua tubuh seksi yang telah menari lebih dulu. Rasanya Jinki ingin mengutuk temannya si dinosaurus genit itu. Jinki dengan senang hati akan membantainya kalau saja dia itu bukan spesies langka, satu-satunya dinosaurus yang masih hidup di dunia ini yang bernama Kim JongHyun, sebagai bonusnya; dia bisa menyanyi. Selain itu, seseorang yang dikenal sebagai sahabatnya pasti akan mengulitinya hidup-hidup. Itu akan mengurangi kesempatan Jinki untuk mengencaninya (walaupun ‘kesempatan’ itu memang dari awal tidak ada, dengan sedih dia harus mengakuinya) tapi dia benar-benar tidak mau mengambil risiko.
Tapi JongHyun tahu bahwa dia telah lama menaruh hati pada sahabatnya itu –juga rahasia-rahasia kotor lainnya, sebenarnya. Dan dia tidak menyalahkan Jinki yang telah jatuh terlalu dalam pada sahabatnya itu. ‘Sulit untuk tidak jatuh cinta padanya, dia pernah mengaku pada Jinki. Apalagi mengingat pertemuan pertama Jinki dengannya; Kibum hanya mengenakan celana pendek yang ekstra pendek, tank topnya transparan oleh keringat, menggoyangkan pinggulnya dengan sangat seksi bersama dengan putranya, dan tertawa riang di dalam studionya. Prospek bertatap muka secara langsung dengan Kibum membuang rasa percaya dirinya keluar jendela.

 

“Kau cuma perlu mendatanginya dan ajak dia keluar, sederhana seperti itu. Mudah kan? ” Jonghyun menyarankan.

“Aku benar-benar sibuk tahu,” Jinki menolaknya

. “Iya deh,” Kata Jonghyun mengejek.

  Jinki memilih untuk menyembunyikan diri di belakang tumpukan kertas kerja, menyibukkan diri dengan meninjau ulang laporan pemegang saham yang dibuat oleh sekretarisnya daripada menuruti anjuran Jonghyun.

 

Jinki meneguk  Allegria yang baru disodorkan oleh bartender, Maraschino Berry-nya terasa menyengat di lidahnya. Menghapus rasa asli vodka yang pahit. Saat itulah dia merasakan panas menguar dari sebelahnya. Dia lirik sebelahnya, dan dia hampir terkena serangan jantung.

“Minta Butterfly Nipple dong,” kata Kibum pada sang bartender.

Jinki berdoa pada siapa pun itu di atas sana, untuk memberkati mereka yang menamai minuman beralkohol itu dengan nama yang penuh skandal. Mendengar suaranya saja hampir membuat Jinki eargasm. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya melihhat pemilik suara seksi itu menggeliat dengan Jinki menunduk diatasnya.

Bartender itu mendengus. “Serius deh, Kibum,”

“Serius dong, aku sedang nggak mood untuk minum Fat Frog,” katanya sambil menyeringai.

Jinki meliriknya diam-diam dari balik poni.

Kibum menerima gelasnya, mencocol lapisan tipis krim Irlandianya dengan ujung telunjuknya. Kibum melirik Jinki sekilas. Telunjuknya dikulum dengan nikmat sampai bersih. Jinki bisa melihat otot merah muda yang basah itu mencuat keluar dari mulutnya. Oh, betapa Jinki ingin menghisap lidah itu.

“Terima kasih ya, Minho,” Kibum meloncat turun dari kursi tinggi dan melangkah ke lantai dansa lagi

. “Kapan saja, Kibum.”

Jinki  kembali mengamati Kibum beraksi di lantai dansa. Kibum menari dengan mesra dalam pelukan seorang bawahan Jinki dengan alunan musik slow yang diputar DJ. Jinki perhatikan pria itu dengan seksama –namanya Dongwoon- dan berjanji dalam hati bahwa dia akan memastikan Dongwoon tidak akan menjalani sisa hidupnya dengan damai. Pria itu menaruh tangannya di pinggang tipis Kibum itu. Gelas minuman milik Kibum memisahkan dada mereka dari bersentuhan. Mereka kelihatan saling berbisik intim. Jinki bisa melihat pria itu menyelipkan tangannya ke saku belakang celana skinny Kibum. Jinki hampir yakin dia meraba-raba bagian belakang Kibum itu. Apa yang membuatnya lebih jengkel, adalah Kibum kelihatan tidak keberatan sama sekali. Tersenyum ringan pada apapun itu yang rekannya katakan, melirik Jinki singkat sebelum mengalihkan perhatiannya kembali ke pria di depannya.

Jinki menghela napas dalam-dalam, tiba-tiba saja dia  merasa berton- ton bata dijatuhkan di atas kepalanya. Dia merasa kewalahan. Terlalu banyak alkohol, pikirnya. Atau mungkin cemburu? Jinki tak mengerti. Dia berjalan ke arah toilet dengan terburu-buru. Matanya kabur, dan dia tidak bisa melihat dengan jelas. Dia memercikkan air dingin ke wajahnya dari salah satu wastafel. Bertanya-tanya apa yang salah dengannya dalam hati. Dia sangat ingin meninggalkan pesta itu, tapi sayangnya dia tidak bisa. Dia harus tinggal untuk menghormati bosnya – sang pemilik pesta, yang telah menghilang ke dalam salah satu kamar VVIP dengan pacarnya – setidaknya untuk mengesankannya.

Jinki merenung sesaat sampai kepalanya berhenti berdenyut-denyut seakan mau meledak. Ketika dia mendongakkan wajahnya, dia hampir mendapat serangan jantung untuk yang kedua kalinya malam itu

. “Kalau kau lelah seharusnya pulang dong, nggak usah sok jadi bos teladan,” tegur orang itu kedengaran marah.

Jinki tidak menjawab, suaranya tertahan di tenggorokan dan dia ingin muntah. Perutnya terasa melilit-lilit. Ya Tuhan, apakah dia tadi pingsan dan sekarang sedang mimpi bertemu Kibum? Jinki mengucek matanya.

Kibum mengangkat alisnya yang dibentuk melengkung dengan rapi tinggi-tinggi. “Kenapa?” tanyanya.

“Um.. ha.. hai Kibum,” respon Jinki gugup. Bagaimana tidak, pria idamannya selama ini berdiri di depannya, dan sedang ngobrol dengannya.

“Hai, Jinki.” Dia berkata singkat.

Jinki terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi.

Kibum memutar bola matanya dengan jengkel. “Sini, Jin, berikan tangan kamu.”

Jinki menjulurkan tangannya, diam-diam bertanya-tanya dalam hati; bagaimana pria seksi ini mengetahui namanya (kemudian Jinki ingat kalau dia adalah bos Kibum). Kibum mencomot pulpen yang diselipkan di saku kemeja Jinki dan menuliskan sesuatu di pergelangan tangannya. Setelah mengembalikan pulpen itu ditempat sebelumnya, kedua tanganya merayap di atas dada jinki dan menarik dasinya ke depan.

Dia memajukan tubuhnya dan berbisik, “Aku mau nonton Harry Potter kemudian makan malam romantis di apartemenku. Bagaimana kedengarannya, hm?” Ia meluruskan tubuhnya, menatap Jinki dengan tatapan penuh harap

“Ba. ..bagus?” jawab Jinki ragu.

Lagi-lagi Kibum memutar bola matanya.  “Sekarang pulang dan tidur. Kau butuh beauty sleep, oke? Lagian Big Bos pasti nggak akan keberatan kalau kamu pulang” Suaranya lembut sambil mengelus pipi Jinki.

Jinki mengangguk penuh semangat. Kibum mengikik kecil. Ditatapnya bibir Jinki, lalu ke matanya. Kembali ke bibirnya dan memberinya kecupan ringan. Bibir Kibum terasa begitu lembut, seperti permen kapas dan dia berbauseperti schnapps Butterscotch. Manis.

“Sampai besok,” dia berputar dan keluar dari toilet sambil menggumamkan sesuatu seperti “… Jinki bodoh” dan sesuatu tentang siapa yang seharusnya membuat langkah pertama.

Jinki terdiam di tempat, tak bisa bergerak. Tadi itu bukan mimpi kan? Kibum mendatanginya dan meminta Jinki untuk mengajaknya kencan itu bukan mimpi kan? Jinki tersenyum lebar. Perasaannya tidak terlukiskan dengan kata-kata. Hatinya sesak dengan kebahagiaan dan rasanya akan meledak. Hubungan ini pasti akan dan harus bekerja, batinnya. Dan Jinki akan mengusahakannya dengan sekuat tenaga.
**

AN: Ahh. Sebenernya ini pake bahasa Inggris, saya tulis buat hadiah kelulusan n belum sempat saya publish. Tapi setelah di alih bahasakan kok jadi aneh gini yak? *garuk pantat* eeeeh, kok pantat si, =D ya udah deh

Chu buat yang suka ff ini

(づ ̄³ ̄)づ (づ ̄³ ̄)づ