fanfiction for our soul

Arsip Penulis

S.E.C.R.E.T (Part 1)


Title : S.E.C.R.E.T
Genre : romance, comedy, m-preg, boyxboy, YAOI, sedikit CANON, OOC, etc
Length :
Author : LaillaMP
Main Cast :
–    Park Geonil
–    Kim Sungje
Other Cast :
–    Kim Kwangsu
–    Yoon Sungmo
–    Song Jihyuk
A/N : ada yang sering main ke kumpulan fanfic? pasti liat ff ini. hehehe XDXD maap ya udah lama ga share ff disini 😀 lagian kayaknya pada belom tau couple ini sih… biar saya kenalkan. look at the photo yaa 🙂
Cerita ini murni fiksi dan dari otak gue tanpa paksaan siapapun. Gue bikin ff ini bukan untuk menjelekkan mereka, atau mengharap mereka beneran jadian atau kawinan. Sekali lagi ini FIKSI!!!!
Kalo ada ff yang sama kayak ff ini, itu bukan kesengajaan. Karena gue belum pernah baca ff yang kayak begini.

WARNING!!!
FF INI HARUS DIBACA OLEH ORANG YANG MENGERTI ANTARA FIKSI DAN NONFIKSI!! GUE GA NERIMA KOMENTAR BASHING!! INI CUMA FIKSI!!!!!!! OKAY???

***

(lebih…)

Iklan

Time To Love Part 4


Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”
Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg
Length : ga banyak-banyak (?)
Cast :
–    park geonil *Cho Shin Sung*
–    kim sungje *Cho Shin Sung*
–    other Cho Shin Sung members~
Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerima apa adanya. Maukah geonil mengakui anak itu setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?
Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^
A/N : wahahaaaaaaa gue lupa akhirnya sama ff yang udah lumutan ini. kalo sering ke blog gue pasti udah tau sampe part 7. kkk
kalo ada yang lupa ceritanya, monggo di review~ Prolog | Part 1 | Part 2 | Part 3
yang mau tau siapa castnya, mohon maaf saya belom bisa kasih fotonya *lupa kebawa -_-

***

 

<< previous

“ya Tuhan.. hari ini aku masih bisa menikmati ini..” ucap sungje dalam hati.
Kini masalahnya bertambah lagi. Selain karena kehamilannya, tapi juga karena umurnya. Sungje tidak mempunyai penyakit khusus yang mematikan seperti kanker, stroke, atau jantung. Tapi.. ini tidak ada di dunia medis. Terlalu sulit bagi orang selain keluarganya memaklumi ini.
“sungje-ah!” panggil geonil karena sungje tidak bergeming dari tadi.
Angin sepoi-sepoi itu seakan menina-bobokannya. Membawa pergi suara-suara dan juga masalah-masalahnya ke tempat mereka berada.
Dengan cepat geonil langsung menangkap tubuh sungje yang ambruk. Dengan hati-hati ia mendudukannya ke atas kursi. Dengan kaki panjangnya, geonil mengambil kursi lainnya untuk didudukinya.
Mata itu terpejam sempurna. Nafasnya masih teratur. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang amat sangat. Sungje tertidur.
Geonil menyandarkan kepala istrinya ke bahunya. Lalu mengelusnya dengan sayang.
“sweet dream, my prince..” kata geonil pelan. “mimpiin aku yaa..”

***

>> part 4 <<

— tiga minggu setelah menikah —

“Kau sudah mencari rumah baru?” tanya Sungje pada Geonil ketika lelaki itu sedang asyik mengotak-atik rumus untuk mencari jawaban.
Geonil tetap asyik pada pekerjaannya. Tidak mempedulikan Sungje yang sedari tadi terus membicarakan tentang rumah baru.
“GEONIIIIIIIIIL!!!!!” teriak Sungje jengkel sambil melempar tempat pensil ke kepala Geonil.
“Aaaah!!!” Geonil mengelus kepalanya. “Sakit tahu!!”
“Aku tidak peduli!” kata Sungje sambil memalingkan muka. “Kau harus mencari rumah baru!”
“Untuk apa?” tanya Geonil bingung. Pandangannya masih ke rentetan soal fisika yang memuakkan.
“UNTUK DIMAKAN!!” jawab Sungje jengkel.
Geonil meletakkan pulpennya. Lalu menatap Sungje dengan penuh perhatian bak seorang suami dari negeri dongeng (?)
“Bukankah rumah ini sudah menjadi milik kita? Eum?” tanya Geonil lembut.
“KATA SIAPA?! INI RUMAH HANYA UNTUK SEBULAN DITUMPANGI!!” Sungje menjawab dengan suara meninggi.
Geonil mengusap kupingnya. Kebiasaan Sungje selama 3 minggu ini kalau tidak makan bulgogi atau kimchi, ya.. marah-marah. Dan marah-marahnya itu bisa membuat gendang telinga pecah saking kerasnya suara dia.
“Ara.. Ara.. kenapa kau tidak memberitahuku dari kemarin-kemarin? Biar aku mencari pekerjaan dan—“
“DARI KEMARIN JUGA AKU SUDAH BILANG!! KAU TERUS PACARAN DENGAN RUMUS-RUMUS TAK JELAS ITU!!!!” teriak Sungje emosi.
“Hyung, jangan marah-marah! Nanti anak kita—“
“ANAKMU?!! SEJAK KAPAN?! INI ANAKKU DAN—“
“alright! Alright!” Geonil mengusap kupingnya lagi. “Aku akan mencari tempat tinggal besok.”
Geonil duduk di sebelah Sungje. Dengan tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sungje. Wajah Sungje langsung memerah. Geonil tertawa dibuatnya.
“Kalau kau sering berteriak, aku akan menciummu! Camkan itu!” kata Geonil sambil berlalu ke kamarnya.
Sungje menatap Geonil sampai bayangannya hilang ditelan ruangan yang ia masuki. Ia lalu mengusap bibirnya. Memberi mantra agar tidak tersentuh sedikitpun oleh namja aneh dan gila bernama Park Geonil.
Tapi sebenarnya Geonil itu namja yang berani. Berani mengambil resiko. Ia berani menikah dengan Sungje yang berstatus sudah dihamili pria lain. Ia juga berani jujur pada ayah dan ibu Sungje tentang kondisi keluarganya. Orangtuanya sudah meninggal ketika ia masih 10 tahun. Tapi Geonil tidak pernah menceritakan tentang warisan yang ia terima. Juga tentang hubungannya dengan pria yang menghamili Sungje.
“Mau kemana? Malam-malam begini…” Sungje menatap bingung ke arah Geonil yang sudah rapi memakai celana panjang dan jaket tebal.
“Mencari pekerjaan. Siapa tahu ada.” Jawab Geonil sambil tersenyum manis.
“Untuk?”
“Kita perlu tempat tinggal kan? Makannya aku akan mencari pekerjaan.”
Sungje menatap keluar. Langit malam yang tidak berhias bintang. Dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan deras.
“Kenapa harus malam-malam?!” tanya Sungje. Ada sedikit nada khawatir di dalam pengucapannya. Dan Geonil menyadarinya.
“Siang-siang banyak yang melamar. Kalau malam hanya 1% yang berani melamar. Dan itu aku!” Geonil menghela nafas. “Ah.. boleh aku keluar, istriku?”
Badan Sungje mendadak panas dingin. Geli dengan perkataan Geonil yang menyebutnya sebagai ‘istri’-nya. Padahal ia tidak menganggap Geonil apa-apa.
“Boleh tidak? Sebagai suami yang baik, aku harus meminta izin pada istriku untuk pergi keluar!” kata Geonil lagi.
Sungje menghela nafas. “Terserah!”
“Terserahnya.. err.. sepertinya kau tidak menginginkanku keluar rumah. Okay. Aku disini saja! Lagian sudah mendung. Pasti hujan!”
Tepat sedetik kemudian terdengar suara gaduh rintikan air hujan diluar. Geonil tersenyum. Lalu menunjuk jendela.
“Untung aku minta izin! Kalau tidak, aku yakin aku pasti sakit besok! Ada ulangan biologi. Aku tidak mau izin.”
Sungje diam. Tapi dalam hati ia lega. Setidaknya ia tidak sendiri di rumah di saat hujan seperti ini. Sungje menatap keluar. Hujan semakin deras. Hatinya kembali mensyukuri perkataannya tadi. Kalau Geonil sakit, siapa yang akan menjaganya?
“ANI!!!!! Aishhh apa yang kupikirkan?!” Sungje merutuki dirinya sendiri. “Ah.. lapar! Ingin kimchi buatan nenek!”

****

Sudah pukul 12 malam. Semakin sepi dunia luar. Mungkin hanya ada satu-dua kendaraan yang lewat.
Sungje menatap keluar kamar. Pintunya sengaja tidak ia tutup karena hujan lebat diluar membuatnya takut sendiri. Geonil menawari jasa menjaga Sungje dari luar. Tentu saja Sungje menyetujuinya. Asalkan tidak masuk ke kamar dan tidur bersamanya.
Kriuuukkk..
Perut Sungje berbunyi. Hanya satu yang ia ingini. Kimchi buatan sang nenek! Tapi bagaimana ia memintanya? Tidak mungkin ia pergi keluar sendiri. Yang ada nanti keluarganya marah, belum lagi omelan Geonil yang pastinya lebih panjang dari sabang sampai merauke. Bisa-bisa anaknya lahir baru selesai marah-marahnya.
“Biasanya juga tega!!” malaikat jahat di sebelah kiri Sungje berbisik.
“Jangan! Lelaki berhati cheonsa itu sedang tidur. Tidak mungkin kan kau membangunkannya?” malaikat baik di sebelah kanannya ikut berkicau.
“Biasanya juga tega! Memangnya baru sekali kau menyuruhnya?” malaikat jahat kembali memanasi.
“Kim Sungje, apa kau pernah memperlakukan orang dengan sebaik-baiknya? Sekaranglah saatnya..”
Sungje mengacak rambutnya. “KENAPA KALIAN HARUS ADA DUA?! DAN KALIAN JUGA BERBEDA PENDAPAT?! AKU KAN BINGUNG!!!” teriak Sungje tanpa sadar.
“Eunggghhhh..” terdengar lenguhan panjang dari depan. Geonil bangun!!
“Gawat!!!” Sungje kembali membaringkan dirinya di kasur. Lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Dua malaikat berbeda jenis itu tertawa cekikikan.
“Sialan! Bukannya membantu malah tertawa!!” ucap Sungje dalam hati.

*improvisasi gagal*

%%%

“Kenapa tidak bilang? Aku akan kesana kok!” kata Geonil sambil tersenyum. Walaupun terlihat lelah.
“Tidak usah kalau kau tidak bisa! Kau pasti lelah kan?” kata Sungje.
Geonil menggeleng. “Kau tunggu sini saja. Nenek pasti memaklumi cucunya yang suka kimchi kan?”
“Tapi…”
Geonil menghela nafas. “Apa? Kan kau yang selalu bilang ‘nanti anaknya ileran kalau tidak di turuti permintaannya’.”
“Jarak—“
“Tidak usah memikirkan jarak. Aku bisa berjalan saja. Kau menunggu disini saja.”
“Benar?” Sungje memasang raut wajah tak yakin.
Geonil mengangguk. “Keurom!”
“Kau disini saja. Jangan kemana-mana! Aktifkan terus HP-mu, kalau ada apa-apa telepon aku, ne?”

—- 4 jam kemudian —-

“Ini benar-benar buatan nenek!!” Sungje melahap kimchi buatan neneknya yang langsung dari sang nenek dengan penuh nafsu.
Geonil menghela nafas lega. Usahanya tidak sia-sia. Berjalan lebih dari satu jam pulang pergi, ditambah menunggu sang nenek membuat kimchi yang terkenal enak seantero keluarga dengan porsi yang banyak. Sebenarnya bahan pembuatan kimchi yang terkenal enak itu tinggal sedikit. Untungnya keluarga Sungje mempunyai tanah luas yang berisi (?) berbagai sayur dan buah-buahan. Kembali lelaki itu harus berjalan lima menit untuk mencapai kesana.
“Apa ada halangan?” tanya Sungje sambil terus melahap kimchi-nya. Kali ini di mangkuk yang ketiga.
“Err.. tidak.” Jawab Geonil.
“Bahan makanan tidak habis kan?”
Geonil tertawa kecil. “Kalau habis aku akan menjitakmu dengan cintaku!” *anjirrrr gombal gagal!! #digamparG
Sungje mendengus kesal. Lalu menjitak Geonil dengan sendok yang ada di tangannya. Geonil mengelus kepalanya kesakitan.
“Gombalanmu bikin sakit perut! Nih!! Lanjutkan makan! Aku mau tidur!” kata Sungje sambil melahap sisa kimchi di mangkuk ketiga.
Geonil mendengus. “Apa yang bisa dimakan?! Mangkuknya? Ckck..”

******

“Kau… kelas 2?” tanya Sungje heran ketika melihat Geonil melangkahkan kakinya ke kelas 2-1.
“Ne!” jawab Geonil dingin. “Baru tahu ya?”
Sungje mengangguk polos.
“Kelas 3-1 ada di atas kan? 10 menit lagi bel masuk!” kata Geonil membuyarkan lamunan Sungje. “Kalau kau merindukanku, tinggal ke atas. Tapi tunggu aku menyelesaikan ulangan biologiku!”
Sungje menggerutu geli di dalam hati. Lalu segera pergi dari hadapan si namja dingin bernama Park Geonil, bukan namja penuh perhatian Park Geonil.

&&&

“Dia benar-benar kelas 2?! Berarti dia adik kelasku? Dia lebih muda dariku? Aishhh jinjja!!” Sungje terus memikirkan kejadian tadi pagi.
Memang sudah hampir sebulan pernikahan itu berjalan. Dan Sungje tidak pernah sekalipun mau tahu urusan Geonil. Kelasnya, hobby-nya, makanan kesukaannya, minuman kesukannya. Yang ia tahu hanyalah Geonil menyukainya, dan pernah menyatakan cintanya dan ditolak mentah-mentah.
Angin sepoi-sepoi bertiup melewati balkon atas. Sungje menghela nafas. Membayangkan anak yang ada di kandungannya ikut pergi bersama angin kencang itu. Tapi kemudian ia sadar, tidak mungkin ia menyingkirkannya karena anak itu hadir karenanya. Karena kesalahannya.
“Jihyuk-ah, odiya?” gumam Sungje merindukan sosok itu. Lelaki tampan yang menjadi pujaannya. Yang sedang menempuh pendidikan kedokterannya di luar negeri.
“Aku akan kembali. Berjanjilah kau akan selalu ada untukku!” kata Jihyuk waktu itu. Sungje menatap langit nanar. Hanya jihyuk yang bisa memeluknya hangat di saat seperti ini.
“Disini dingin,” kata seseorang sambil memakaikan jaketnya di badan Sungje. “Kau bisa sakit. Anakmu juga ikut merasakan sakit. Tapi akulah yang lebih sakit karena melihat orang yang kusayangi sakit.”
Sungje menatap Geonil. Lalu kembali memalingkan muka. Wajah Geonil yang terlihat dingin tapi penuh perhatian itu membanjiri pikirannya.
“Aku ingat Jihyuk pernah bilang kalau ia akan kembali, dia juga memintaku untuk selalu ada untuknya..” kata Sungje sambil menerawang ke langit.
“Tapi akhirnya dia tidak kembali kan?” Geonil mengernyit kesal.
“Belum!”
“Tapi kau sudah milikku sekarang. Kau tidak boleh ada untuknya.”
Sungje menatap Geonil kesal. “Mwo?!”
“Kau ingat perjanjian kita? Jika aku mengakui anak di dalam kandunganmu itu sebagai anakku, maka kau akan belajar mencintaiku. Apa kau sudah lupa?”
Sungje diam.
“Karena kau sudah berjanji, aku akan selalu menagihnya. Janji itu utang, bukan?” tanya Geonil dingin. “Aku akan mencari pekerjaan nanti. Kau pulang sendiri, ya? Ini uang untuk membeli makan. Aku kan belum memasak!”
Sungje menghela nafas. Lalu menerima uang yang dipegang Geonil dan memasukkannya ke saku jas-nya. Setelah itu Geonil pergi. Bersama angin siang yang panas.

****

Malam hari, jam 12 malam…

Sungje menunggu dengan cemas. Dari tadi ia mencoba memejamkan mata. Tapi akhirnya ia membuka matanya lagi dan keluar kamar. Keadaan masih sama. Akhirnya ia memutuskan untuk menonton tv.
Tapi perhatiannya tidak terpusat pada layar tv yang menampilkan drama yang diulangi terus menerus. Perhatiannya lebih ke pintu jati berwarna cokelat.
“Aish.. aku mau kimchi yang dibuat Geonil..” tiba-tiba pikiran Sungje melayang jauh. Bawaan bayi selalu aneh-aneh.
“Geonil mana sih? Sudah jam 12 malam malah belum pulang!” ucap Sungje sambil mengerucutkan bibir.
“Ada yang kangen nih!” ucap seseorang. Sungje hampir terlonjak kaget mendengarnya. “Tadi kau mau apa? Kimchi buatan siapa?”
Geonil kembali menggoda Sungje. Penyakit lamanya kumat. Sungje kembali menelan ludah pahit mendengar godaan Geonil.
“Tadi mau kimchi buatan siapa? Tidak mungkin kan aku mendengar suara zombie?” goda Geonil lagi.
“Buatan nenek!!” jawab Sungje gondok.
“Eum? Kudengar.. dia mengucapkan nama.. G-Ge… nuguya?”
“GEONIL!! PUAS?!”
Geonil tersenyum manis sambil mengangguk senang. Rasa lelahnya setelah bekerja setelah pulang sekolah terbayar sudah.
“Kau menungguku?” tanya Geonil lembut. “Mau kimchi?”
“Buatanmu! Aku ingin masakanmu!” ucap Sungje jujur.
Geonil menghela nafas. “Tapi aku tidak punya bahan untuk membuatnya. Dan pasar juga… mana ada yang buka malam-malam begini?”
“Kau bisa mengambilnya di kebun milik keluargaku kan?”
“Kita sudah dewasa. Tidak bisa terus-terusan bergantung pada orang lain. Terutama orangtua.”
Sungje menghela nafas. “Lalu bagaimana?”
Geonil kembali menggoda Sungje. “Molla~ biarkan saja anaknya ileran!”
“AISHHHH GEONIIIIIIIIL!!!!!” Sungje menonjok Geonil dengan kepalan tangannya. Geonil tetap tertawa kecil sambil menangkis tinju-tinju yang dilontarkan Sungje.

****

Malam telah larut. Seperti tidak ada kehidupan. Geonil terus mengayuh sepeda bututnya untuk mencari pasar yang buka.
Kakinya berhenti mengayuh setelah melewati sebuah rumah besar berlantai 3 dengan gaya classic berwarna cokelat putih yang besar dan sangat mewah. Ingatannya kembali melayang ke umur 10 tahun. Ketika keluarganya masih lengkap. Ia mempunyai ayah, ibu dan seorang kakak perempuan. Hidup dalam buai kasih sayang yang melimpah, fasilitas yang amat sangat lengkap tanpa ada batasan dan kebahagiaan yang tidak terkira. Tapi itu semua sudah tidak berlaku sejak kecelakaan di umurnya yang baru saja menginjak 10 tahun. Kala itu kedua orangtuanya dan kakaknya ingin memberikan surprise untuk Geonil di suatu tempat. Mata Geonil ditutup. Ia tidak tahu apa-apa kecuali rasa gugup dan penasaran.
“Apakah kalian pikir ini tidak terlalu cepat? Kenapa kalian meninggalkanku dan kehidupan lamaku?” Geonil berbicara sendiri. Menggumam tepatnya.
Angin malam berhembus. Seakan bersimpati pada Geonil yang kehilangan keluarganya dengan mata tertutup di umur 10 tahun. Tapi itu lebih baik. Daripada melihat tubuh keluarganya terpanggang kena kobaran api dari mobil. Geonil satu-satunya korban selamat dalam ledakan mobil sedan mewah ayahnya itu.
Orang-orang bilang, ia anak ajaib. Anak yang sangat beruntung karena bisa selamat dari maut. Entah bagaimana caranya, padahal matanya ditutup. Tapi bagi Geonil kecil tidak. Ia merasa Tuhan sangat jahat padanya. Mengambil semua yang ia punya.
Geonil tersenyum lemah. Lalu mengayuh kembali sepedanya dan membuang gambar-gambar tentang masa kecilnya dari pikirannya. Geonil tidak mau memikirkannya lagi. Karena sekarang ia punya Sungje. Walaupun Sungje juga tidak berjanji untuk selamanya. Setidaknya ia berjanji akan mencintainya. Dan selalu ada..

***

“Aku pulang!!” teriak Geonil setelah pulang dari pasar pukul 3 pagi.
Tidak ada jawaban. Tentu saja karena Sungje tertidur pulas di sofa tanpa mematikan tv. Tidak ada acara lagi sekarang. Geonil menaruh sayur-sayuran yang dibelinya tadi ke dapur. Lalu mematikan tv di ruang keluarga.
“Ckckck.. Sudah dibelikan malah tidur!” Geonil tersenyum kecil. Kali ini ia benar-benar merasa beruntung. Merasa Tuhan adil padanya.
Geonil mengangkat tubuh besar Sungje ke kamar. Lalu menyelimutinya sampai menutupi badannya. Kemudian ia tersenyum. Dan kembali mensyukuri nikmat Tuhan yang paling indah ini.
“Saranghae~” ucap Geonil. Sangat tulus dari hatinya.

***

Sungje terbangun lebih dulu daripada Geonil. Ia berjalan keluar kamar dan langsung melihat Geonil tertidur di sofa seperti biasa. Memeluk dirinya sendiri karena tidak ada selimut.
“Ah~ what the hell aku bangun jam 8!” Sungje menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan mendekati Geonil yang sedang tertidur pulas.
“Kau pasti lelah! Iya kan?” Sungje menyibak rambut Geonil yang menutupi wajahnya. “Tampan~”
Hup!!
Sungje menutup mulutnya. Tidak percaya kalau ia mengatakannya! Mengatakan bahwa Geonil tampan, memang tampan, dan amat sangat tampan dilihat dari dekat. Sungje segera berlari ke kamar. Menutup wajahnya yang memerah karena malu dan takut akan kejahilan Geonil yang diluar batas.
Tapi untungnya Geonil tidak membalas apa-apa. Ia masih tidur. Sangat pulas. Akhirnya Sungje memberanikan diri keluar kamar.
Perhatiannya langsung tertuju pada tas yang ada tak jauh dari sofa. Ia membuka tas hitam besar itu. Di dalamnya ada handphone, baju, handuk, buku, dan album foto. Sungje mengambil album foto itu pelan-pelan. Lalu membukanya pelan-pelan pula. Takut ketahuan.
Foto pertama.. Geonil kecil sedang tersenyum
Foto kedua… Geonil kecil lagi, sedang tersenyum sambil melambaikan tangan pada kamera
Foto ketiga.. Geonil mengerucutkan bibirnya. Sangat manis! Terlihat sangat kekanakan. tidak sepertinya sekarang, dingin dan misterius.
Foto keempat.. Geonil bersama seorang perempuan kecil, tapi umurnya sepertinya lebih tua dari Geonil.
Foto kelima.. Geonil sedang berenang. Begitupun sampai foto ke-limabelas. Foto-foto Geonil waktu kecil sedang berenang. Ada yang bersama gadis kecil itu, lalu sedang memeluk ibunya, membawa piala dengan keadaan badan yang masih basah. Tapi satu yang menjadi pusat perhatiannya. Foto Geonil kecil dengan seorang anak laki-laki kecil, bergigi kelinci dan berambut panjang. Berkulit putih dengan badan yang berisi.
“Ck! Seperti mengenalnya…” gumam Sungje. “Ngapain dia bawa album foto ini? Isinya foto kecil semua!”
Saat Sungje sedang memikirkan anak kecil yang berada di samping Geonil kecil, album foto itu terangkat. Diangkat tepatnya.
“G-Geonil…”
“Siapa yang menyuruhmu mengacak tasku?” Geonil menatap Sungje tajam. Sangat tajam. Membuat Sungje bergidik ngeri.
“A-Aku…”
Geonil langsung membawa album foto itu ke belakang. Sungje tidak mengikutinya. Ia tidak berani menampakkan dirinya di depan Geonil yang sedang marah.
Kali ini Geonil benar-benar misterius. Tidak seperti waktu kecil yang terlihat selalu tersenyum, bahagia dan tertawa. Geonil membuatnya penasaran. Sangat penasaran!!

TBC

otte?? leave some comment yaa !!
adn follow my twitter @geooniil2 ^^


[FF/YAOI/NC/KwangMin/ONESHOOT] I Love You A Thousand Times


Title : I Love You A Thousand Times
Genre : shonen-ai, YAOI, NC, comedy, romance,  friendship
Length : oneshoot
Cast :
–    Lee Kwang Haeng / Rascal Kwanghaeng *CO-ED school / SPEED*
–    Choi Sung Min / Solid Sungmin *CO-ED school / SPEED*
–    Other Co-Ed boys members~
A/N : kyaaaaaaaaaaaaaaa I’m back !!!!!! #tebarmenyan
gue balik lagi !! author gila yang jarang ngeshare ff~ jujur, pikiran gue kebanyakan straight sekarang u,u

adakah yang merindukan diriku??? #digampar semoga ada !! ini ff co-ed school yaoi pertama gue !! jadi mohon maaf kalo ada sedikit kesalahan di ff ini XDD *sedikit? banyak kaliii!!
Okay, lets read~!!

***

TEEEEETTTTTTTTTTTTTT
Anak-anak terlonjak kaget sekaligus senang karena akhirnya sekolah berakhir. Murid-murid dari SMA khusus laki-laki itu langsung berlari keluar kelas.
Lee Kwanghaeng, salah satu murid dari SMA itu dengan cepat menghilang dari pandangan. Berlari ke gedung di samping, gedung SMP yang se-yayasan dengan SMA-nya.
“Hai Sungmin!!” sapa Kwanghaeng ketika seorang lelaki cantik berpakaian khas SMP keluar dari gerbang.
“Hai juga, Kwang hyung!!” balas lelaki cantik itu sambil tersenyum manis.
“Kau pasti lelah.” Tebak Kwanghaeng, sekedar untuk berbasa basi.
“Hmm.. Nee.. Hyung juga kan?”
Kwanghaeng mengangguk. Lalu mengajak lelaki cantik bernama Sungmin itu keluar gedung sekolah.
Kwanghaeng sudah lama menyukai Sungmin. Hanya saja ia tidak berani menyatakannya. Perbedaan umur Kwanghaeng dan Sungmin yang terpaut 5 tahun lebih membuatnya ragu. Sekarang Sungmin baru kelas 1 SMP. Masih terlalu kecil untuk dipacari. Makanya Kwanghaeng hanya memendam perasaannya. Kasus yang terlalu ‘basi’ dan sering di kalangan anak labil seumurannya.
“Tadi belajar apa?” tanya Kwanghaeng lagi. Maksudnya lagi-lagi hanya berbasa basi.
“biologi, fisika, olahraga, dan bahasa. Memang kenapa?” jawab Sungmin, yang akhirnya juga melempar pertanyaan lagi.
“Gwaenchana. Hanya bertanya. Memang tidak boleh?” Kwanghaeng mengedipkan sebelah matanya.
“Sendirinya hyung belajar apa?” tanya Sungmin pula.
“emm.. apa ya? Hampir sama. Tapi ga ada biologinya. Hehe..”
“Ohh..”
Kwanghaeng mengambil motornya dari parkiran. Lalu menstarter motornya dan memanaskannya sebentar.
“Naik!” kata Kwanghaeng pada Sungmin.
“Emm.. nee..” Sungmin menaiki motor gede milik Kwanghaeng.

***

“Makasih ya, hyung udah nganterin.” Ucap Sungmin sambil tersenyum manis.
“Slow aja kali. Iya sama-sama. Hati-hati ya, Sungmin!” kata Kwanghaeng.
“Ah hyung! Tinggal masuk ke rumah aja kok pake ucapan hati-hati..”
“Nanti kalau Sungmin jatuh di kolam, gimana?”
“Cuma kolam ikan kan? Jatuh juga lecet dikit.”
“Kan sakit. Ga pernah kan nyemplung ke kolam ikan? Malu tahu sama ikannya!! Masa manusia ga bisa bedain kolam renang sama kolam ikan?”
Sungmin tertawa geli menanggapi candaan Kwanghaeng yang menurutnya lucu. Dari dulu malah. Makanya Sungmin lebih suka main bersama Kwanghaeng daripada yang lain.
“Besok mau berangkat bareng gak?” tanya Kwanghaeng.
“Kalo nggak ngerepotin sih.. yaa…” Sungmin mengangguk. “Ya udah.”
“Oke deh!! Bye, Sungmin!! Jangan lupa liat jalan! Nanti malu sama ikan!”
Sungmin tersenyum. Lalu melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumah. Masih dengan perasaan berbunga-bunga.

***

“Masih ngejar sepupu gue?” tanya seseorang ketika Kwanghaeng menunggu di depan rumah Sungmin.
“Eh Noori! Sejak kapan lo dateng?” tanya Kwanghaeng balik pada Noori, sahabat kecilnya.
“Tadi malem. Mumpung libur. Bosen di asrama. Mampir deh ke rumah om Choi!” jawab Noori. “Eh, lo masih suka tuh main sama Sungmin? Ga malu lagi?”
Kwanghaeng mendengus kesal. “Gue udah SMA, dia SMP. Buat apa gue malu? Cuma beda dikit!”
Ya, Kwanghaeng dulu malu dekat dengan Sungmin yang umurnya beda jauh. Waktu itu Sungmin masih SD, sedangkan Kwanghaeng sudah SMP.
“Noori hyung, ngapain disini?” tanya Sungmin kesal melihat sepupunya ada di dekat Kwanghaeng.
“Oke, gue mau nganter Sungmin ke sekolah. Bye!!” Kwanghaeng langsung menggas motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Reflek Sungmin berteriak sambil memeluk pinggang Kwanghaeng.
“Ckck.. cari kesempatan aja tu anak!” umpat Noori sambil menggelengkan kepala melihat sahabat kecil dan sepupunya itu berangkat bersama.

***

“Hai Sungmin!! Udah pulang?” tanya Kwanghaeng ketika Sungmin lewat di depannya begitu saja.
“Eeeeh Kwang hyung! Sudahlah!! Kalau belum kenapa aku disini?” tanya Sungmin balik.
Kwanghaeng menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Begini nih rasanya jatuh cinta! Begitu pikir Kwanghaeng.
“Mau pulang?”
Sungmin mengangguk. “Iya. Udah ngantuk!”
“Ya udah. Sungmin tunggu sini, aku jemput motor dulu ya!”
Beberapa menit kemudian, Kwanghaeng kembali ke hadapan Sungmin. Sungmin hendak naik. Tapi Kwanghaeng mencengkram tangannya dan mendekatkan wajahnya. Sungmin hampir berteriak. Tapi tidak bisa menolak juga. Ia malah menutup matanya.
“Mau jalan-jalan gak? Malam minggu. Sayang kalau tidak dimanfaatkan!!” kata Kwanghaeng sambil menaikkan kedua alisnya.
Fiuhhh~
Sungmin bernafas lega karena ternyata Kwanghaeng tidak berniat menciumnya. Ia pun segera naik ke motor gede Kwanghaeng yang harganya ratusan juta itu.
“Mau gak? Kan belum dijawab tadi!” tuntut Kwanghaeng setengah memaksa.
“I-iya deh.” jawab Sungmin akhirnya.
Kwanghaeng melepas jaketnya. Lalu memberikannya pada Sungmin.
“Pakai! Malam ini dingin. Aku mau ngebut!” kata Kwanghaeng.
Sungmin menerima jaket Kwanghaeng. Setelah memastikan Sungmin memakainya, Kwanghaeng melajukan motornya perlahan. Makin lama makin kencang. Seperti debaran di hatinya.
“Kwang hyung, jangan ngebut banget dong!!” pinta Sungmin setengah panik.
Kwanghaeng tentu tidak mendengarnya karena ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi, ditambah melawan arus angin. Jadilah suara Sungmin yang tergolong kecil itu terbawa angin tanpa terdengar oleh Kwanghaeng yang memakai helm.
Sungmin mengeratkan pelukannya di pinggang Kwanghaeng. Ia menutup matanya. Takut akan sesuatu yang terjadi. Ia benar-benar panik dan menyesal. Kenapa mau menerima ajakan Kwanghaeng begitu saja? Padahal Kwanghaeng itu kalau menyetir.. lebih dari kesetanan!
Makin lama motor itu berkurang kecepatannya. Berkurang juga erat pelukan Sungmin pada pinggang Kwanghaeng.
Ngeeeeeek~ (?)
Kwanghaeng mendengus kesal. Motornya berhenti tepat di tepi jalan. Kwanghaeng membuka helmnya. Lalu turun dari motor dan memeriksa bensinnya. Sungmin ikut turun tanpa melakukan apapun.
“Aishhhhh jinjja!! Kenapa harus hari ini?!! Saekki!!” Kwanghaeng menendang motor gedenya itu tanpa perasaan. Benar-benar kesal ia sekarang.
“K-kenapa hyung?” tanya Sungmin hati-hati.
Suasana hati Kwanghaeng perlahan membaik. Ia menatap Sungmin dengan tatapan madesu-nya sambil menunjuk panah bensinnya.
“Abis ya hyung?” kata Sungmin dengan nada sedih. Padahal dalam hati ia bersyukur, karena Kwanghaeng pasti akan lebih pelan-pelan lagi menjalankan motornya.
“Cari tukang bensin dimana ya? Ishhhh!!” Kwanghaeng mengacak rambutnya yang sudah berantakan.
Sungmin mengamit tangan Kwanghaeng. Berusaha menenangkannya. Kelemahan Sungmin dari dulu itu takut dengan ekspresi orang marah. Apalagi di dekatnya. Bisa-bisa dia loncat ke jurang saking ngerinya.
Kwanghaeng membalas mengamit tangan Sungmin. Lalu tersenyum sambil mengacak rambutnya.
“Kita dorong? Ah.. aku aja deh. Aku nggak mau bikin Sungmin capek.” Kwanghaeng menarik standar. Lalu mendorongnya pelan-pelan. Dibantu Sungmin di belakang.
“Sungmin, nggak usah! Biar aku aja..” kata Kwanghaeng menyuruh Sungmin untuk tidak mendorong motornya.
“Emang kenapa? Kan aku tadi naik juga.”
“Ya udah deh. Kalo capek bilang ya..”

***

Setelah motor terisi bensin, Kwanghaeng mengajak Sungmin ke danau. Membeli es kelapa muda langganannya dari dulu.
“Enak kan?” tanya Kwanghaeng bangga.
Sungmin hanya mengangguk karena mulutnya penuh kelapa dan airnya. Kwanghaeng tertawa kecil.
“Sungmin belum pernah kesini?” tanya Kwanghaeng, berbasa-basi seperti biasa.
Sungmin menggeleng. Mulutnya masih penuh.
“Jadi ini pertama kali?”
Sungmin mengangguk lagi. Sebenarnya ia enggan menjawab. Karena Kwanghaeng basa basinya terlalu—ahh.. membuatnya pusing pokoknya!
“Sungmin pernah pacaran?”
Sungmin menggeleng. “Nggak.”
“Kenapa? Sungmin kan…”
“Masih gantengan hyung kemana-mana! Harusnya hyung yang punya pacar! Hyung juga udah SMA.”
Kwanghaeng blushing. Hatinya berbunga-bunga. Dunia di sekelilingnya berubah drastis. Bukannya malam yang penuh bintang dan penuh masalah, tapi pagi hari di musim semi.
“Hyung kenapa belum pacaran?” tanya Sungmin, ganti berbasa-basi.
“Karena…” Kwanghaeng menggantungkan perkataannya. Lalu menatap Sungmin dengan tatapan nakalnya seperti biasa. “Aku mencintai seseorang. Dan dia… masih kecil dan.. sama sekali belum mengerti dunia dewasa.”
Sungmin mengangguk. Dalam hati ia bertanya-tanya, siapa orang itu? Kenapa seberuntung itu?
“Tapi.. hyung udah menyatakan cinta?”
Kwanghaeng menggeleng. “Nggak berani. Dianya masih polos. Aku suka sama kepolosannya. Takutnya kalau aku pacarin.. ilang polosnya!”
Sungmin mengangguk lagi. Kali ini wajahnya ditekuk. Kwanghaeng sebenarnya menyadarinya. Hanya saja ia tidak mau menarik kesimpulan.
“Aku juga suka sama orang. Dia tampan, pintar, jago main basket, jago nyanyi, jago dance, baik…”
Giliran Kwanghaeng yang penasaran. Siapa orang itu? Kenapa bisa seberuntung itu mendapatkan hati Sungmin?!
“Sungmin, mau jadi pacarku nggak?” kata Kwanghaeng cepat.
Sungmin langsung tersedak mendengar ucapan Kwanghaeng. Dengan panik Kwanghaeng mencari cara untuk menghentikan sedakan (?) Sungmin.
“Sungmin nggak papa kan?” tanya Kwanghaeng panik.
Sungmin mengangguk. “Hyung sih ngomongnya pas aku lagi makan! Kan kaget~”
Kwanghaeng mengerucutkan bibir. “Kan aku takut keduluan orang. Makanya aku langsung nyatain.”
Sungmin menghela nafas. Speechless. Entahlah ia tidak tahu apa yang harus dijawabnya.
“Mau nggak? Keburu aku diambil orang!” kata Kwanghaeng, super duper ge-er.
“Iya deh!” jawab Sungmin langsung sambil menunduk. Menyembunyikan wajah memerahnya.
“Jawabnya yang ikhlas dong! Masa Cuma ‘iya deh’. Maksa banget!!”
Sungmin mengernyit kesal. “Iya, aku juga mau jadi pacar hyung!!”
“Masih maksa nadanya!”
“aku mau jadi pacar hyung!!”
“Apa??”
“AKU MAU JADI PACAR HYUNG!! PUAS?!” Sungmin berteriak. Membuat perhatian orang-orang tertuju pada mereka. Sungmin panik. Sedangkan Kwanghaeng tetap stay cool. Ia malah mengorek-ngorek buah kelapa yang masih ada.
“Ada syaratnya!!” kata Kwanghaeng setelah menelan air kelapa yang terakhir.
“Apa?”
“Panggil aku chagi!”
“Ani!”
Kwanghaeng menatap Sungmin marah. Hanya untuk menjahilinya, tentu saja.
“Wae??”
“Aku lebih suka memanggil hyung, karena… kita lebih dekat dengan panggilan itu.”
Kwanghaeng mengangguk senang. Lalu mengelus rambut Sungmin sayang. Setelah itu mengecup keningnya.
“Saranghae, Sungmin sayang…”

***

— Dua minggu kemudian —

Sungmin tersenyum senang setelah keluar dari kelas. Ia membawa surat pemberitahuan tentang camp gabungan dari SMP dan SMA Co-Ed. Seperti biasa ia menunggu di depan pintu gerbang. Menunggu kekasih barunya datang.
“Hai sungmin!!” kata Kwanghaeng sambil tersenyum—terpaksa.
“Hyung…”
“Kenapa Sungmin?”
Sungmin menatap Kwanghaeng dengan wajah polos dan penuh perhatiannya. Lalu menggenggam tangan Kwanghaeng yang dingin.
“Hyung sakit?”
Kwanghaeng menggeleng. “Nggak..”
“Terus?”

*

Sungmin tertawa kecil mendengar alasan Kwanghaeng tidak semangat hari itu. Kwanghaeng menceritakannya di tempat pertama mereka menyatakan cinta.
“Kok kamu ketawa? Seneng ya liat pacarnya menderita!” Kwanghaeng memasang wajah cemberut.
Sungmin menghentikan tawanya. Lalu menatap Kwanghaeng dengan mata penuh rasa kecewa. “Seneng gimana? Nanti aku disana sama siapa? Masa sendirian?”
“Kamu ikut?”
Sungmin mengangguk.
“Yaudah. Kalo gitu aku ikut!!” ucap Kwanghaeng langsung.
“Jinjja?!!”
Kwanghaeng mengangguk. Lalu Sungmin tersenyum senang sambil bersorak girang. Kwanghaeng menyukai saat ini. Saat Sungmin tersenyum karenanya.

***

“Gila!! Ini tenda apa rumah? Gede banget!!” tanya Kangho, teman Kwanghaeng, takjub.
Kwnghaeng tersenyum sambil menatap Sungmin penuh cinta.
“Gila!! Gue ikut ya?” pinta Yoosung sambil menatap heran ke tenda yang dibawa Kwanghaeng.
“NGGAK!! Enak aja ikut-ikut!” tolak Kwanghaeng mentah-mentah.
“Sejak kapan lo jahat sama gue, Kwang?”
Kwanghaeng merangkul Sungmin di sebelahnya. “Sejak gue jadiin Sungmin pacar gue! Mau apa lo?!”
Yoosung dan Kangho mendengus kesal.
“Terus gue sama siapa?” tanya Kangho bingung.
“Tuh sama si Yoosung aja! Apa susahnya sih?” jawab Kwanghaeng disambut sambitan topi dari Yoosung.
“Ogah gue sama orgil kayak dia!” kata Yoosung. Lalu berjalan mencari tempat untuk membuat tenda.
“Oke. Silakan berduaan!!” Kangho melambaikan tangan. Lalu ikut berjalan ke arah Yoosung.

***

“Kenapa temen hyung ga disini aja? Kan biar rame. Lagipula.. ini gede banget!” kata Sungmin setelah duduk di dalam tenda besar Kwanghaeng.
“Rame sih ada mereka. Tapi.. NGEGANGGU!! Berisik tau!!” kata Kwanghaeng.
“Tapi kan seru..”
“Seru apanya? Enakan berdua kayak gini!” Kwanghaeng memeluk tubuh Sungmin dari belakang. Lalu menyandarkan kepalanya ke dadanya.
“Kamu denger gak?”
“Denger apa?” tanya Sungmin bingung.
“Denger detak jantung aku. Bisa kamu sembuhin gak?”
Sungmin tersenyum malu di dada Kwanghaeng. Wajahnya memerah. Hatinya berbunga-bunga. Dunia di sekelilingnya benar-benar indah sekarang.
“Eh, pacaran mulu!” Kangho membuka tenda Kwanghaeng tanpa permisi. “Cari kayu bakar buat api unggun nanti!”
“Iya ntar gue cari. Lo duluan aja! Ganggu aja!” kata Kwanghaeng kesal.
Kangho tersenyum bodoh. Lalu kembali menutup pintu tenda Kwanghaeng dan Sungmin. Tapi..
“Udah disuruh!! Cepetan!!” kata Kangho lagi.
“Ah!! Ganggu aja lo!” Kwanghaeng akhirnya menarik tangan Sungmin paksa. Mengajaknya mencari kayu bakar.
“Ehhhh kamu ngapain bawa anak SMP nyari ke hutan?” tanya Han sonsaengnim, guru Kwanghaeng.
“Daripada saya bawa anak tuyul mendingan bawa anak SMP kan saem? Tapi dijamin aman deh!!” Kwanghaeng memberi jaminan.
“Ya sudah. Cari yang banyak! Kalau bisa buat sampe minggu depan.” Kata Han sonsaengnim lagi.
“Bukannya kita lusa pulang ya? Buat apa banyak-banyak? Bapak ngarang bebas deh!” Kwanghaeng langsung membawa Sungmin kabur, karena Han sonsaengnim sering menyambit muridnya yang tidak patuh dengan sepatu.

***

“Hyung baru pertama kali ikut camping ya?” tanya Sungmin polos setelah anak-anak santap malam. Kwanghaeng dan Sungmin sama-sama membawa kopi cappucino. Mereka menyeduhnya dengan sisa air yang teman-temannya buat.
“Ne.. dan itu semua karena kau!” Kwanghaeng mengacak rambut Sungmin gemas. Lalu mengecup pipinya kilat. Tapi walaupun begitu, wajah Sungmin tetap menampakkan rona merahnya.
Sungmin menyandarkan kepalanya di lengan Kwanghaeng. Lalu mencari tangannya di tengah kegelapan. Setelah itu menggenggamnya penuh kehangatan.
“Tangan hyung hangat~” ucap Sungmin, polos!
“Baru sadar, eoh?” tanya Kwanghaeng jahil. “Lebih hangat mana dengan ini.” Kwanghaeng menyambar bibir tipis Sungmin. Melumatnya lembut tanpa mendapat perlawanan. Sungmin tidak tahu harus berbuat apa. Nafasnya tercekat. Oksigennya hampir habis.
“Hmmmmppppphhhhh…” desah Sungmin di tengah ciuman mereka.
Kwanghaeng memperdalam ciumannya. Ia menekan kepala Sungmin dan mendekatkan tubuhnya ke tubuh kecil Sungmin.
“hosh.. hosh.. hosh…” Sungmin langsung mengambil nafas dalam-dalam setelah ciuman itu dilepaskan. Kwanghaeng puas. Hasratnya terpenuhi.
“Hyung…” Sungmin menatap Kwanghaeng. Tatapannya tidak bisa di artikan. “Hyung…”
Kwanghaeng terdiam. Baru datang rasa itu. Rasa menyesal. Itu ciuman pertama Sungmin! Bisa dipastikan Sungmin tidak bisa terima.
“Ya!! Cepat tidur!” teriak salah satu guru SMP. Kwanghaeng menatap sekeliling. Tidak ada makhluk lain yang terlihat kecuali dua guru laki-laki yang sedang berjaga malam.
“Tidur yuk. Udah malem.” Kwanghaeng mengajak Sungmin ke dalam.

***

Sungmin terus bergerak mencari tempat untuk tidur yang nyaman. Ia tidak bisa tidur dari tadi. Entah apa penyebabnya. Apakah karena kopi cappucino yang tadi ia minum bersama Kwanghaeng atau… ciumannya dengan Kwanghaeng?
Sungmin terus memegangi bibir merahnya. Tidak percaya kalau Kwanghaeng menciumnya! Lama!! Kalau ia boleh jujur, ia ingin melakukannya sekali lagi.
“Kok belum tidur?” tanya Kwanghaeng lembut dengan suara bergetar.
“Nggak bisa tidur.” Jawab Sungmin sambil membalikkan badan menghadap Kwanghaeng.
“Mau kupeluk eoh?” tanya Kwanghaeng menggoda. Wajah Sungmin memerah lagi.
“Hyung…” Sungmin memanggil Kwanghaeng. “Aku mau ciuman lagi..”
DUAGHHHHHHHHH!!!
Kwanghaeng seperti ditonjok. Matanya 100% melebar. Rasa kantuknya hilang ditelan pernyataan Sungmin.
“Ciuman itu enak. Pengen lagi..” kata Sungmin polos.
Kwanghaeng tersenyum. Lalu menatap Sungmin lekat-lekat. Ia mengelus pipi mulus Sungmin.
“Kita lebih aja. Mau?” tanya Kwanghaeng.
Sungmin tidak mengerti. Terlalu polos bagi anak umur 14 tahun untuk mengerti itu. Tapi Sungmin penasaran. Lagipula ia percaya Kwanghaeng tidak akan melakukan yang terburuk untuknya.
Perlahan Kwanghaeng mendekatkan wajahnya ke wajah Sungmin. Lalu meraih bibir Sungmin dengan bibirnya. Awalnya memang lembut. Sangat lembut. Sampai-sampai Sungmin terbuai dan ikut menggerakkan bibirnya. Ia membuka bibirnya sedikit. Lalu dirasakannya sebuah benda berliur mengelilingi rongga mulutnya.
“mmmpphhhhhhh.. ckck… mpphhhh…” desah mereka berdua pelan.
Perlahan Kwanghaeng bangun dari posisinya tanpa melepas ikatan bibir mereka. Sungmin merasakan bagian bawahnya mulai tegak sempurna. Sungmin mengeliat. Ingin ‘membenarkan’ posisi junior kecilnya.
Ciuman Kwanghaeng perlahan turun ke lehernya. Sungmin terkikik geli ketika Kwanghaeng menghisapnya pelan. Kemudian hisapannya tambah dalam dan meninggalkan bekas kemerahan. Sungmin meringis pelan.
“Tenanglah. Tidak akan lama.” Kata Kwanghaeng lembut. Lalu membuka satu persatu kancing kemeja Sungmin.
Sungmin sempat bingung. Tapi akhirnya ia menerima saja. Apalagi setelah Kwanghaeng menghisap putingnya. Langsung terasa nikmat sampai seluruh badan.
“Ahhhh…” desah Sungmin tanpa sadar. Kwanghaeng tersenyum. Lalu kembali melumat dan menghisap puting kanan Sungmin. Tangan kirinya bertugas memelintir puting Sungmin satu lagi. Kembali Sungmin merasa darahnya berdesir dari atas kepala sampai ujung kaki.
“Hyung-ahhhhhhh… shhhhhh… mpphhhhhhh…” Sungmin menutup rapat pahanya. Tapi senjatanya yang terbungkus celana jeans itu menyembul. Kwanghaeng pun juga.
Kwanghaeng melepas celananya yang sesak. Lalu memperlihatkan junior besar nan tegaknya pada Sungmin. Tanpa disuruh Sungmin langsung bangun dan memijat pelan junior super Kwanghaeng.
“Kyeoptaa~” ucap Sungmin. Lalu memainkannya dengan jarinya sambil tertawa.
“Ya!! Hisaphhhh… ahhhkuuuuu… ahhh…” belum sempat Kwanghaeng menyelesaikan kalimatnya, seorang guru datang dan berteriak dari luar. Bayangannya tercetak di dalam tenda.
“Kalian sudah tidur?” tanya guru itu. Kwanghaeng langsung menaikkan selimut dan menundukkan paksa kepala Sungmin dan menutupi tubuh keduanya dengan selimut. Takut ketahuan.
“Oh.. ternyata sudah!” ucap guru itu akhirnya. Lalu kembali ke tempatnya berjaga.
Kwanghaeng dan Sungmin sama-sama menghela nafas lega. Mereka saling bertatapan. Kwanghaeng lalu tertawa kecil sambil mencubit pipi Sungmin.
“Mau lanjut lagi?” tanya Kwanghaeng menawarkan.
Sungmin mengangguk.
“Tapi jangan bersuara ya..” bisik Kwanghaeng lembut. Lalu kembali membuka selimut yang menutupi tubuh mereka berdua dan melanjutkan permainan.
Sungmin mulai memainkan junior besar Kwanghaeng di mulutnya. Ia menyedotnya kuat dan menggigit pelan ujung juniornya. Kwanghaeng hanya bisa menggigit bibir bawah sambil meremas selimut untuk mengekspresikan rasa nikmatnya.
“Hyunghhh.. mau keluar!!” kata Kwanghaeng pelan sambil menahan desahannya.
Crooot~~
Cairan sperma dari junior Kwanghaeng menyembur memenuhi mulut Sungmin. Sungmin langsung memuntahkannya karena kaget.
“Mianhae..” kata Kwanghaeng sambil mengelus tengkuk Sungmin.
“Gwaenchana…” balas Sungmin lemas.
“Adikmu mau..” Kwanghaeng mengelus junior kecil Sungmin yang masih berbalut kain.
Sungmin tersenyum. Hampir saja ia mengeluarkan suara kalau Kwanghaeng tidak menempelkan jari telunjuknya ke bibir Sungmin. Kwanghaeng kembali mencicipi bibir Sungmin. Sambil berciuman Kwanghaeng membuka pakaian yang melekat di tubuh Sungmin. Sungmin juga membantu Kwanghaeng membuka pakaiannya. Tanpa mereka sadari mereka sudah benar-benar bersih. Tidak ada sehelai benangpun melekat di tubuh mereka. Kini posisi mereka seperti di awal. Kwanghaeng on top.
Kwanghaeng menggenggam junior Sungmin yang lebih kecil darinya. Lalu mengocoknya pelan.
“Ahhh.. ahhh hyunggggghhhhh… shhhhhhh….” Kwanghaeng sudah tidak mempedulikan lagi desahan Sungmin yang terdengar keras itu. Baginya suara desahan Sungmin itu manis.
Kwanghaeng terus memainkan junior kecil Sungmin di tangannya. Ketika junior Sungmin mulai berkedut, Kwanghaeng memasukkan juniornya ke mulutnya.
“Hyungggg… mauu pipisssssshhhhhhhh… ahhhhhhh…”
Sungmin mencoba menahan rasa ingin ‘pipis’nya itu. Wajahnya pucat. Tapi Kwanghaeng tidak berkomentar dan melepaskan juniornya dari mulutnya.
“Hyunggggg akuuuuuu mau pipisssshhhhhh ahhhhhhhhh…” tanpa bisa ditahan, Sungmin mengeluarkan cairannya. Tubuhnya menegang. Hatinya lega. Raut wajahnya juga ikut lega. Kwanghaeng terus meminum cairan sperma yang di keluarkan Sungmin.
“Hyung minum…” Sungmin menatap tak yakin ke arah Kwanghaeng yang sepertinya masih mencari sisa-sisa cairan keluaran Sungmin di sekitar mulutnya.
“Itu sperma. Cairan laki-laki. Bukan air kencing. Kalau kau merasa mau pipis, berarti kau akan orgasme.” Kwanghaeng tersenyum lembut. “Mau ke bagian inti?”
Sungmin mengangguk. Lalu membenarkan posisinya dan melebarkan pahanya. Entah ia dapat ide darimana untuk melebarkan paha. Kwanghaeng pun tidak bisa bersabar. Ia langsung memasukkan juniornya ke hole Sungmin tanpa pemanasan.
“Hyuunnngggggggg sakiiiiiiiiittttttt!!!!!” teriak Sungmin tanpa sadar. Kwanghaeng langsung menutup mulut Sungmin paksa. Langkah seseorang terdengar mendekat. Kwanghaeng kembali menarik selimut menutupi tubuh telanjang mereka berdua.
“Sepertinya mengigau!” lapor guru yang mengamati tenda Kwanghaeng. Lalu kembali berjaga di tempat guru satunya lagi berjaga.
“Mian hyung..” Sungmin memasang wajah bersalah.
“Gwaenchana. Aku juga salah.” Kwanghaeng mengelus pipi Sungmin lagi. Kembali ia mengarahkan bibirnya ke bibir Sungmin.
Sungmin terbawa suasana. Ia membalas pagutan bibir Kwanghaeng. Mereka beradu lidah dan bertukar saliva. Beberapa liur ada yang keluar dari bibir keduanya.
“errghhhhhhh…” Sungmin mengerang pelan ketika bibirnya digigit pelan oleh Kwanghaeng untuk menghentikan ciumannya. Kwanghaeng kembali memberikan bekas cium di leher Sungmin sambil memelintir putingnya lagi. Lalu kembali mencoba menerobos hole Sungmin yang belum pernah dimasuki oleh siapapun.
“Shhhhh…” rintih Sungmin pelan untuk menjaga suasana.
Kwanghaeng mencoba memasukkan junior besarnya ke lubang Sungmin. Ia menggerakkan pinggulnya.
“Ahhh… ahhhh… hyuuuungggggg-ahhhhhhh…”
“Waittttt….” Kwanghaeng akhirnya bisa memasukkan junior besarnya ke lubang Sungmin selang 7 menit. Ia beristirahat sejenak. Kembali mencicipi bibir Sungmin. Menghisap bibir atasnya kemudian menggigit bibir bawahnya.
Kwanghaeng menaikkan tubuhnya perlahan. Lalu mempercepat genjotannya sampai membuat tubuh Sungmin ikut bergetar. Tangan Kwanghaeng bertumpu pada pundak Sungmin.
“ahhhhhh shhhhhhhhhhhh… mmmppppphhhhhhh….. hhhhhhhhhaahhhhhhh…” Sungmin terus mendesah dengan suara kecil yang hanya terdengar di kupingnya dan juga kuping Kwanghaeng. Ia tidak tahan menahan rasa nikmat ini.
Croooootttt~
Tanpa pemberitahuan lebih dahulu junior Sungmin dan Kwanghaeng mengeluarkan cairan di waktu yang sama. Sungmin merasa kehangatan di dalam dirinya. Kwanghaeng lalu ambruk di tubuhnya. Tubuhnya yang basah penuh keringat terasa sangat lengket. Tapi itu tidak masalah bagi Sungmin.
“Gomawo.” Kata Kwanghaeng setelah mencabut juniornya dan kembali merebahkan diri di sebelah Sungmin.
“Untuk apa?” tanya Sungmin bingung.
“Untuk semuanya.” Jawab Kwanghaeng lagi. Ia mengambil pakaian yang berceceran di dalam tenda. Lalu menepikannya. Setelah itu ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
“Saranghae~” ucap Kwanghaeng sambil menutup matanya. Mengantuk, tapi masih sempat tersenyum.
Sungmin membalas senyum manis Kwanghaeng. “Na do saranghae, Kwanghaeng hyung.”
Sungmin memejamkan matanya perlahan. Menggeser tubuhnya agar makin dekat dengan Kwanghaeng. Mendengar lagu pengantar tidurnya, detak jantung Kwanghaeng.

***

“KWANGHAENG, SUNGMIN, BANGUN!!!!!!!!!!” teriak orang dari luar.
“YAA!! KWANGHAENG BANGUUUUUUN!!!!!” sahut yang lainnya.
Kwanghaeng membuka matanya perlahan. Lalu menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari yang ada. Sayup-sayup suara teriakan orang diluar memanggil namanya terdengar.
“Chagi, ireona!!” Kwanghaeng menggoyangkan tubuh Sungmin pelan. “Sungmin sayaaang, kita dalam masalah.” Bisiknya.
Sungmin melenguh pelan. Hal yang dirasakan pertama kali adalah sakit di bagian bawahnya. Tapi ia berusaha bangun dan memakai pakaian yang semalam melekat di tubuhnya.

*

“Sakit..” rintih Sungmin ketika sedang memancing di sungai yang tak jauh dari tenda mereka.
“Awalnya begitu. Aku juga sakit.” Jawab Kwanghaeng sambil terus memperhatikan pancingannya.
“Tapi hyung terlihat biasa.”
Kwanghaeng tersenyum lebar. “It’s because of you..”
Sungmin menyandarkan kepalanya ke pundak Kwanghaeng. Ia memperhatikan pancingannya. Berharap ada ikan yang tertarik pada umpannya.
“Cepat beritahu aku apa yang terjadi semalam!!” bisik Yoosung yang tiba-tiba datang di samping Kwanghaeng.
Kwanghaeng dan Sungje sama-sama kaget.
“Palli!! Aku akan menjaga rahasia!!” timpal Kangho di belakangnya.
Kwanghaeng menatap Sungmin. Kali ini wajahnya terlihat panik. Terlebih Sungmin. Ia takut sesuatu akan terjadi.
“Kalau tidak, kalian bisa kan jelaskan siapa yang mendesah malam-malam?”
DUARRRRRRRRRRRR!!!!!
Sungmin dan Kwanghaeng sama-sama mengatupkan bibir.

*******

END

NC-nya kurang ya? Romancenya kurang ya? Komedinya kurang ya? Ahhh endingnya ancur yah???
Maafkan saya !!
Ini kemauan saya, bang rascal dan mas solid XDD


Review FF : “Dangerous Friendship”


Err.. sebenernya ga ada guna juga saya bikin beginian.. hoho~~

Cuma pengen ngingetin aja sama ff yang udah lumutan ini. Tiba-tiba mood ngajak saya nyelesein ff ini yang baru sampe part 7 di blog yaoiff dan part 9 di blog pribadi dan facebook ==” ckck..

 

Adakah yang mau baca lanjutannya?? So, saya akan mengingatkan anda (?) dengan ff nista ini !! xDD

 

***

 

Apa yang terbesit di pikiran mendengar kata “friendship” atau “persahabatan”? pastinya pertemanan yang indah, yang mengerti perasaan satu sama lain, menjadi teman yang bisa diandalkan.

Tapi pertemanan sebuah geng yang bernama “Shinki” tidak seperti itu. Pertemanan ini adalah pertemanan yang paling suram dari pertemanan lainnya. Digawangi jung yunho sebagai pemimpin, geng ini berkuasa atas hak di DongBang high school. Ada kim jae joong, lelaki cantik pujaan jung yunho yang tidak bisa dipisahkan darinya. Lalu ada park yoochun, si playboy kelas kakap yang bisa menggaet ribuan wanita dalam satu malam. Kemudian ada kim junsu, murid dongbang yang berprofesi sebagai bartender bar. Dan yang menjadi tokoh utama, shim changmin, anak 15 tahun yang sangat pintar. Ia akan menceritakan semua yang terjadi di dalam persahabatan, cinta dan keluarganya..

 

_review_

 

PART 1

 

Diawali dengan 4 anggota shinki yang sedang bersenang-senang di bar yang telah disewa yunho, changmin menceritakan tentang yunho yang senang bercumbu dengan jae joong. Tidak peduli tempat dan waktu, mereka melakukannya.

Yoochun yang dari awal menyukai jae joong, tidak mau melihat adegan itu dengan keadaan sadar. Ia meminum banyak soju dan menantang changmin untuk melihat adegan ‘panas’ itu. Hadiahnya, changmin akan diberikan pasangan oleh yoochun.

Yoochun menepati janjinya untuk memberi changmin pasangan keesokan harinya. Seorang laki-laki manis, dengan wajah seperti bayi dan bersuara seperti lumba-lumba diberikan yoochun. Changmin jelas menolaknya karena ia masih normal. Tapi yunho mengancamnya keluar dari geng itu kalau ia tidak mengajak junsu kencan.

 

PART 2

 

Changmin mengajak junsu berputar di kota dengan mobil sportnya. Awalnya tidak ada tujuan sampai changmin mengajaknya ke pantai. Lalu mereka mengisi tenaga di restoran terdekat. Setelah itu mereka bermain dance floor dan jalan santai sampai malam, sesuai permintaan sang ketua.

Malamnya, seorang yang tidak diharapkan changmin datang ke rumahnya ketika ia tidur. Ketika changmin membuka mata, ia melihat jae joong bertelanjang dada. Ah.. tidak. Telanjang bulat! Dan disitulah changmin menyadari..

 

 

Part 3

 

Paginya, kedua orangtuanya pulang dan membawa seorang ‘teman’ untuk changmin. Tapi changmin tidak mau tahu dan pergi ke sekolah tanpa mempedulikan kedua orangtuanya.

Changmin tidak pernah tahu kalau junsu juga murid dongbang high school. Ia juga sering mengunjungi balkon saat jam pelajaran. Kebetulan changmin datang di saat jam pelajaran, dan bertemu dengan junsu disana. Mereka pun bertukar cerita dan memulai pendekatan.

 

Part 4

 

Terhitung 3 bulan junsu masuk ke geng shinki. Perubahan mulai muncul dari geng itu. Perasaan changmin juga berubah terhadap junsu. Apalagi saat ia dan junsu dikurung di studio fotografi milik yoochun.

Changmin mulai merasakan getaran berbeda saat dekat dengan junsu. Apalagi ketika melihat junsu tidur. Wajah innocent-nya makin terlihat innocent. Dan disitu, changmin benar-benar yakin dengan perasaannya terhadap lelaki manis yang dijodohkan dengannya.

 

Part 5

 

Hari ulangtahun changmin makin dekat. Anggota geng shinki berusaha memberikan surprise untuk si magnae yang satu itu dengan meminta bantuan dari yunhwa sonsaengnim.

Perasaan changmin pada junsu makin menunjukkan kebenaran. Getaran saat menatap wajah manis junsu membuatnya semakin yakin bahwa itu cinta, dan changmin harus menyatakannya di hari ulang tahunnya!

Ternyata junsu juga mempunyai perasaan yang sama seperti changmin. Malah junsu duluan yang menyatakan perasaan itu pada changmin. Akhirnya tanggal 18.02.11 mereka resmi jadian!

Tapi ada juga pihak yang tidak suka dengan kejadian ini. Hanya satu orang, tapi ia mempunyai hak atas ‘dunia’ sebanyak beberapa persen. Ia memberikan ‘hadiah’ yang lebih special pada changmin.

 

Part 6

 

Hari pertama setelah changmin dan junsu jadian sangat menyenangkan. Dengan penuh canda tawa tanpa rayuan gombal mereka menjalani hubungan itu.

Tapi hubungan mereka tidak berjalan mulus sampai hari ketiga. Seseorang yang tidak merestui hubungan itu menyiksa junsu dan membuatnya harus menyerahkan changmin ke orang itu. Changmin dan junsu pun bertengkar hebat.

Disinilah persahabatan yang tidak diinginkan itu dimulai..

 

Part 7

 

Selama bertengkar dengan junsu, changmin selalu dihantui mimpi-mimpi buruk. Dan hampir semuanya menjadi nyata!!

Makin lama formasi geng shinki makin berkurang. Awalnya minus yoochun yang entah kenapa kematiannya. Disusul junsu yang masuk penjara karena tuduhan pembunuhan yang tidak dipercayai changmin. Tidak hanya itu, junsu juga mengalami gangguan jiwa di penjara sana. Changmin menyalahkan jae joong di kejadian ini. Tapi ia tidak punya bukti dan alasan untuk menyalahkan jae joong. Hanya dari mimpi ia percaya jae joong pelakunya..

Kehidupan changmin pun berubah total. Tapi yunho selalu ada disampingnya dan menjadi tutor hidup. Padahal hidup yunho tidak jauh berbeda dengan changmin. Malah masalah yang dihadapinya lebih berat..

 

***

 

Gimana???

Apakah sudah merangsang ingatan tentang ff ini ?? hehehe..

Mau tau lanjutannya???

Saya kasih deh kisi-kisi (?) – nya!!

 

Part 8

 

Yunho menceritakan masalahnya pada changmin tentang jae joong. Dan disitulah fakta mencengangkan tentang perasaan yunho diungkap. Tetapi sebelum changmin bisa mencerna fakta itu, masalah keluarga yang sangat berat kembali datang. Sungmin meninggal karena ditabrak mobil. Ibunya menuduh changmin membunuhnya karena masalah dendam. Dan disitulah, ibunya mengungkap rahasia aslinya.

Junsu menjadi lebih gila. Ia sering berteriak tidak jelas dan mengatakan ada orang lain di sel-nya. Padahal hanya dia yang ada di penjara itu.

sebenarnya, apa yang terjadi pada junsu? adakah kaitannya dengan persahabatannya ini?

 

***

 

Err.. makin aneh ya??

Mian banget yah!!

Oh iya, di part lanjutan bakal ada bahasa-bahasa yang tidak berkenan di hati. Makanya saya mau protect aja biar yang baca orang tertentu aja, yang mau menerima bahasa-bahasa yang agak kasar ^^

Kirim mention atau DM ke @geooniil2 aja !! xDD jangan lupa follow!! Mention juga ya kalo mau follback.. nambahin followers gitu 😀 gue bakal follback kok kalo disuruh !! XD

Kalo mau di pesbuk bisa add akun Laila Mustika Pertiwi atau Laila Mustika Pertiwi II

Gomaptaaa ^^


Time To Love part 3


Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”
Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg
Length : ga banyak-banyak (?)
Cast :
–    park geonil *Cho Shin Sung*
–    kim sungje *Cho Shin Sung*
–    other Cho Shin Sung members~
Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerima apa adanya. Maukah geonil mengakui anak itu setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?
Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^
A/N : mian ya semuanya, part ini lama banget munculnya !! sampe di todong sayah #plaak
mulai part ini, bahasa akan disesuaikan (?) jadi bahasanya ga kayak di 2 part sebelumnya.. XD

kalo ketinggalan bisa baca : prolog | part 1 | part 2
***
<< prev
Pulang sekolah..
Sungje lebih dulu sampai di tempat janjian. Sekarang, tepat 8 menit ia menunggu kedatangan geonil dan juga ayahnya.
Suasana sore di kota seoul itu terlihat sangat sibuk. Kendaraan melimpah ruah di jalanan seperti sampah. Cahaya pudar matahari tenggelam dan lampu kota bercampur menjadi pemandangan indah menyinari kota.
Sungje mengalihkan pandangannya ke samping. Toko bulgogi. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Cacing perut dan anaknya menginginkan makanan itu.
“mau kemana?” tanya seseorang dengan suara berat khas-nya yang membuat sungje tidak jadi melangkahkan kakinya.
Sungje menatap geonil dengan tatapan memohon. Jari telunjuknya menunjuk satu toko pinggiran yang menjual bulgogi. Geonil menghela nafas.
“ayolaah.. aku benar-benar ingin! Anak ini juga ingin..” kata sungje.
Geonil mengangguk. Lalu berjalan di belakang sungje, mengikutinya. Sungje memesan bulgogi banyak sekali. Geonil saja sampai tidak berkedip memandang seplastik sedang penuh (?) bulgogi.
“ada appa!!” pekik sungje ketika keluar dari toko bulgogi itu. Ia menyerahkan plastik hitam itu ke geonil untuk di amankan.
“aku titip, ok?” kata sungje sambil berjalan dengan cool-nya ke mobil BMW ayahnya.
“apa itu?” tanya ayah sungje menunjuk bungkusan plastik.
“bulgogi.” Jawab geonil jujur sambil tersenyum. “aku sudah lama tidak memakannya..”
“oh..” mr kim tidak berkomentar lebih. Ia menyuruh sungje dan geonil masuk ke dalam mobil dan membawa mereka ke rumah untuk memberitahukan semua yang sudah direncanakannya dan juga istrinya.
Part 3 >>
Geonil mengangguk-anggukan kepalanya ketika ibu sungje memberitahukan semua rencananya. Sedangkan sungje terus menggerutu karena tidak mau mendengar penjelasan orangtuanya lebih jauh.
“ya sudah. Sekarang kalian tidur di satu kamar. Kamarnya nanti ditunjukkan .” Kata ayah sungje ramah. “ikuti saja wanita itu.”
Geonil mengangguk. Lalu berdiri sambil menggandeng sungje. Sungje terpaksa mengikuti. Daripada nanti masalahnya tambah panjang.
“kami pamit..” kata geonil sambil menundukkan kepala hormat. Lalu merangkul pundak sungje sampai di luar.
Ngapain sih pake acara peluk-peluk gini?! Kalo tau bakal gini kejadiannya mendingan ga usah ngelibatin geonil deh!! Dumel sungje dalam hati. Geonil malah makin mengeratkan rangkulan pundaknya diluar. Pinter banget cari kesempatan!
Sampai di kamar yang ditunjukkan pengurus rumah keluarga kim, sungje dan geonil masuk ke kamar itu. Kamarnya benar-benar rapi. Sudah diberi hiasan-hiasan seperti bunga dan balon. Ada satu tulisan besar ditulis diatas kain besar, “SELAMAT DATANG KELUARGA BARU!!”
Geonil tersenyum. Keluarga baru?
“puas?!” kata sungje sambil menutup pintu.
Geonil mengangguk. “sangat! Akhirnya orang yang kucintai kudapatkan juga!”
PLAAK!!
“auwww…” rintih geonil karena punggungnya dipukul sungje dengan kencang. “aishh.. hamil saja masih kuat!”
“hahaha.. kau belum tahu siapa KIM SUNGJE yang sebenarnya kan? Inilah kenyataannya!!” sungje membanggakan dirinya. “mau melihat kamarku? Biar kutunjukkan!”
Sungje membuka pintu. Lalu pergi ke arah kamarnya. Geonil yang punggungnya masih kesakitan karena cambukan ayah sungje tempo hari, ditambah pukulan mematikan sungje masih mengelus punggungnya. Tapi akhirnya ia mengikuti langkah panjang sungje ke kamarnya.
“ini koleksi pialaku..” pamer sungje sambil menunjuk satu lemari besar berisi piala dari berbagai kejuaraan..
“taekwondo?” geonil mengernyit sendiri mendengar kata-katanya.
“iya! Makanya, jangan macam-macam! Walaupun perutku membesar juga aku akan tetap melakukan jurus-jurus mematikan taekwondo!!” balas sungje sambil membusungkan dada.
“bangga?” tanya geonil jahil.
“iyalah.. kasiaan deh nggak punya sesuatu untuk dibanggain!”
“siapa bilang? Belum liat isi rumahku kan?”
Sungje berakting mengingat-ingat. “ehm.. setahuku di rumah itu hanya ada perabotan yang reot, hampir rusak semua, tidak ada yang layak, makanan hanya seadanya, baju tidak ada yang stylish, lalu—“ sungje menggeleng. “just that. No more..”
Geonil tersenyum sambil menggeleng. “mau ke rumahku besok? Eum?”
“ani!! Kawasan kumuh. Mana mau aku kesana? Ckck..” kata sungje.
Geonil menggeleng. “that’s not mine..”
*
Pagi-pagi sekali geonil sudah bangun. Bukan pagi. Masih dinihari. Pukul 3 pagi.
Namja tampan itu menatap seseorang di seberang. Di atas kasur. Ia tertidur. Manis sekali. Geonil sampai terpesona. Ah.. memang sering terpesona ia oleh kecantikan sungje.
“do you know, aku benar-benar menyesal pernah menunjukkan kau padanya.” Gumam geonil. “tapi kini aku di dekatmu, walaupun kau tidak pernah menganggapku..”
Geonil berdiri dari sofa. Ia lalu duduk di atas kasur. Menatap wajah manis sungje yang tertidur pulas karena letih. Tangannya mengelus pipi mulus sungje.
“aku yakin, waktu pasti akan mengizinkanmu mencintaiku..” geonil merapikan rambut sungje. “good night, my prince..”
*
Pernikahan ini di desain khusus (?) oleh keluarga sungje karena ini pernikahan yang tidak biasa, laki-laki dengan laki-laki. Disini kedua laki-laki sama-sama memakai tuxedo. Tidak ada yang memakai gaun. Tamu yang datang pun bukan
Setelah pemberkatan selesai, sungje dan geonil menyalami
“ini suaminya sungje? Ganteng banget!!” kata nenek sungje pada geonil.
“gamsahamnida, halmeoni..” geonil mengangguk sopan.
“udah.. biasa aja! Ga usah pake bahasa resmi. Udah jadi keluarga kok..” kata nenek sungje.
Geonil mengangguk sambil tersenyum. “ne..”
“oh ya, orangtua kamu mana?” tanya nenek sungje.
“mampus!!” pekik geonil dalam hati. Akhirnya pertanyaan yang tidak diinginkan meluncur juga dari mulut orang yang telah menjadi keluarganya. Padahal mama papa sungje tidak pernah membicarakan tentang orangtuanya.
Sungje yang disebelahnya menatap geonil iba. Geonil sudah bilang tadi malam tentang keluarganya ketika sungje sudah menutup matanya lebih dari setengah. Jadi ia tidak tahu pasti apa yang geonil bicarakan tadi malam.
“halmeoni, kimchi buatan halmeoni mana? Aku mau!!” kata sungje mengalihkan perhatian sang nenek.
“aduh.. cucu nenek ini masih suka kimchi toh! Yaudah, ayoo!!” nenek memeluk lengan (?) sungje yang lebih tinggi darinya. Lalu membawanya ke tempat kimchi berada XD
Geonil menghembuskan nafas lega setelah sungje membawa neneknya ke tempat yang jauh darinya. Ia memang sudah menceritakan masalah keluarga pada sungje ketika sang istri setengah sadar, agar tidak menolaknya. Tapi kemungkinan besar sungje tidak mengerti apa masalahnya. Untungnya, sungje mengerti arti wajah khawatirnya tadi.
Geonil bersikap sopan ketika keluarga sungje menyalaminya satu persatu. Membungkukkan badan, tersenyum dan mengucapkan salam. Sungje yang melihatnya hanya bisa menahan muntah saking muaknya dengan sikap geonil yang sok sopan itu.
“cih!! Sok banget!!” umpat sungje dalam hati.
“kenapa, je? Cemburu ya geonil-nya dikerebungin sepupu kamu?” tanya sang nenek mencoba menebak.
Sungje tercekat. Ingin tertawa keras menanggapi dugaan sang nenek. Tapi kimchi di mulutnya masih penuh dan harus segera di telan sebelum meledak bersama tawanya.
“cemburu? Ga salah?” kata sungje setelah menelan kimchi-nya.
“lagian muka kamu pedes banget gitu. Ahh.. halmeoni juga pernah kok! Persis kayak kamu. Sampe malem pertama gagal karna halmeoni cemburu duluan!” curhat sang nenek.
Sungje tertawa kecil. Geli. Tapi dalam hati ia berharap, ‘malam pertamanya’ akan gagal seperti sang nenek. Daripada ia harus meladeni gombalan-gombalan geonil yang ‘garing’ dan memuakkan.
“perut kamu nambah gede, Je! Kamu juga belum lulus kan?” kata nenek sambil mengelus perut sungje yang agak membesar.
“iya!” sungje memasukkan sesendok kimchi ke mulutnya.
“maafin halmeoni ya, Je..” nenek memasang wajah menyesal.
“aniyo!! Bukan salah halmeoni kok!! Emang udah takdirnya begini, mau diapain? Mau bantah omongan Tuhan?”
“aku.. mengganggu ya?” geonil tiba-tiba datang. Membuat sungje mulai bad mood.
“ganggu banget!!” jawab sungje dongkol.
Geonil tersenyum pada nenek sungje. “annyeonghaseyo, halmeoni..”
“ya ampun.. kamu kok sopan banget sih? Sungje beruntung banget punya kamu..” kata nenek sungje sambil mengusap kepala geonil yang jauh lebih tinggi darinya (?) *itu tuh laki gue neneeeeek !!!!!!!! #gandenggeonil #digamparinmilkyway
Sungje menutup mulutnya. Bersiap memuntahkan makanan yang sudah ia telan dari tadi pagi.
“ya udah deh. Halmeoni pergi aja. Ga mau ganggu kalian.” Halmeoni menepuk pundak sungje dan geonil bergantian. “jaga sungje baik-baik ya, Nil. Dia kan lagi hamil..”
Geonil kaget. Jelaslah. Kenapa sang nenek bisa tahu??
“ga usah sok kaget gitu deh!” kata sungje kesal. “halmeoni nyalahin diri sendiri mulu tau!”
“kok—“
Sungje langsung pergi dari hadapan geonil sebelum lelaki itu menyelesaikan pertanyaannya. Tapi geonil tidak mengejar. Ia hanya menghela nafas dan diam di tempat. Mengamati sungje yang sedang bercengkrama dengan sepupu-sepupunya.
“geonil oppaaaaaa…” tiba-tiba beberapa keponakan sungje berkumpul di depan geonil. Dengan senyum gugup geonil membalasnya.
Seseorang tiba-tiba menepuk pundak geonil. Reflek geonil langsung berbalik untuk mengetahui siapa yang menepuk pundaknya.
“masih ingat?” tanyanya sambil mengedipkan satu matanya. Lalu mengajak geonil ke tempat yang sepi sambil makan-makan.
*
“jadi kau sepupunya sungje? Tapi kenapa dia memperlakukanmu seperti budak di rumah sakit?” tanya geonil bingung.
“haaah..” kwangsu menghela nafas. “aku juga bingung. Ya.. dia memang selalu begitu. Aku terus yang selalu dijadikan sasarannya!!”
Geonil meminum jus apelnya. “lalu kenapa kau juga pasrah diperlakukan begitu?”
Kwangsu menggelengkan kepala. “dia cucu kesayangan nenek. Kalau dia sampai terluka karena aku, bisa-bisa namaku dicoret dari daftar keluarga ini!”
Geonil ikut menggelengkan kepala. “kau bisa jaga rahasia kan, kalau anak di dalam kandungan sungje bukan anakku? Tapi anak jihyuk?”
Kwangsu mengangguk. “sekarang aku bisa menjaga mulutku kok. Kau tenang saja!!”
Geonil tersenyum sambil mengangguk. “gomapta..”
“ne..”
Hening~ dua laki-laki itu sama-sama tidak bicara. Mereka sibuk dengan makanan dan minuman masing-masing. Juga pikirannya.
“jaga dia ya..” pesan kwangsu memecah kesunyian.
Geonil mengangguk.
“buat dia luluh. Dia itu sebenarnya tidak peka. Jadi.. susah untuk mendapatkan hatinya.”
Geonil tertawa kecil. “tapi kenapa jihyuk yang bodoh itu bisa mendapatkannya? Ck!! Dunia memang tidak adil!”
“hanya Tuhan yang adil di dunia ini.”
Geonil mengangguk. Mengiyakan. Lalu mencoba mencari sungje di tengah kerumunan keluarganya.
“aku tidak melihat keluargamu..” kata kwangsu lagi.
“kalau kau bisa menjaga rahasia, aku bisa ceritakan sekarang.” Balas geonil.
***
Akhirnya malam pertama itu datang juga. Sungje dan geonil tinggal di tempat yang sudah disediakan oleh keluarga sungje. Hanya rumah biasa. Tidak bertingkat, tapi mempunyai taman yang lumayan luas untuk bermain. Disitu tersedia ring basket.
Tapi malam pertama itu tidak seindah yang dibayangkan. Hanya ada kesunyian dan keheningan yang menghias. Sungje dan geonil sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.
“kenapa nenekmu bisa tahu kalau kau hamil?” tanya geonil memecah keheningan malam pertama mereka.
Sungje tetap fokus pada laptopnya, bermain starcraft. Geonil hanya bisa pasrah. Tidak mungkin mengganggunya yang sedang berkonsentrasi pada game.
Setelah mem-pause game-nya, sungje menatap geonil. “mau tahu??”
Geonil mengangguk.
Sungje tersenyum mengejek. Lalu kembali memfokuskan diri ke komputernya. Game starcraft berlanjut lagi.
“aku pikir kau tidak akan percaya ini..” kata sungje sambil terus mengotak-atik keyboard laptopnya.
“aku tidak akan percaya kalau kau belum cerita, nyonya park!!”
Sungje kesal. Ia kembali mem-pause gamenya dan menatap geonil dengan tatapan dongkol. Nyonya park??
“aku bukan nyonya, bakka!!” kata sungje.
“apa? Tuan kim? Itu berlaku kalau kau tidak hamil diluar nikah seperti ini, nyonya~” balas geonil sambil mengambil salah satu buku pelajarannya. Lalu membacanya tanpa konsentrasi tinggi.
“so what?! Ini kan takdir!! Aku mempunyai rahim dan aku bisa menyimpan bayi di dalam sini!”
“maka itu! Kau tahu kalau kau punya rahim dan bisa menyimpan bayi, kenapa kau meremehkannya dan malah menghadirkannya lebih awal?”
Sungje mulai geram. Ia menatap geonil yang wajahnya ditutupi buku sejarah itu dengan kesal. Namja cantik itu bangkit. Lalu membanting kasar buku sejarahnya ke bawah.
“itu terserah aku, kapan aku mau menghadirkannya, kapan aku mau membuangnya jauh-jauh! Kau tidak ada urusannya dengan ini!”
Geonil tertawa kecil. “tapi karena kau sekarang istriku, dan aku sudah dititipi banyak amanat untuk menjagamu, jadi urusanmu juga urusanku.”
Sungje sebenarnya ingin menampar pipi geonil kencang-kencang. Kalau perlu sampai berbekas dan tidak bisa hilang. Tapi ia mengurungkan niatnya. Ia takut kalau membenci geonil. Kata halmeoni, “kalo kamu benci orang pas hamil, bisa-bisa anaknya mirip orang yang kamu benci!”. Dan sungje tidak mau itu terjadi. Disaat ibu-ibu dan perempuan lain memimpikan geonil untuk menjadi menantu atau suami idaman untuk memperbaiki keturunan, sungje tidak. Lebih baik mirip kwangsu yang ‘rada-rada’ daripada mirip geonil yang ‘sok’ dan ‘belagu’-nya tingkat dewa. *author dibakar milkyway
“urusanmu belum selesai denganku, nyonya~” goda geonil saat sungje beranjak dari hadapannya.
“berhenti panggil aku itu! Aku bisa menceraikanmu hari ini juga, dan membencimu selamanya!”
“ok, kim sungje.” Kata geonil. “park sungje maksudnya.”
Sungje menghela nafas untuk menenangkan diri. Lalu masuk ke kamar yang seharusnya di tempatinya bersama geonil.
***
Geonil mengucek matanya yang masih ditutupi kabut tebal dreamland. Sinar matahari mencoba masuk dan menerobos dinding pertahanan dreamland. Tapi kabut dreamland masih sangat pekat untuk bisa dimasuki sinar matahari. Jadilah geonil baru bisa bangun setelah sungje menepuk pipinya berkali-kali.
“emang enak tidur di sofa dari kemaren!” kata sungje dengan senyum dinginnya.
Geonil tersenyum. “asalkan dibangunin sama kamu, semuanya enak!”
Sungje menampar pelan pipi geonil. Lalu berdiri untuk memperlihatkan kerapiannya pada geonil.
“sekarang jam berapa?” tanya geonil.
“liat aja sendiri!” jawab sungje galak. “aku berangkat!”
Sungje langsung berjalan keluar. Meninggalkan geonil yang masih setengah sadar di atas sofa.
***
Geonil datang ke sekolah telat. Tentu saja karena sungje membangunkannya 20 menit sebelum bel masuk. Perlu waktu 15 menit dari rumah barunya itu untuk sampai ke sekolah. Untung saja geonil hanya telat beberapa menit. Ia pun bisa langsung masuk dengan mudahnya tanpa harus berurusan dengan guru piket.
Tidak ada yang berubah di diri geonil setelah menikah dengan sungje. Tidak ada juga yang berubah dari diri teman-temannya. Padahal ia sudah resmi menjadi suami untuk kim sungje, namja cantik nan terhormat yang paling diminati anak-anak sekolah ini.
Tapi teman-temannya baru menyadari, kalau geonil si kutu buku yang teladan itu, DATANG TERLAMBAT! Tidak seperti biasanya..
Tapi tidak ada yang berani protes atau menegurnya. Karena selain tertutup, geonil itu dingin dan mempunyai ‘hak’ untuk melakukan apapun di sekolah ini.
Ada banyak hal yang belum diketahui sungje dari geonil. Pertama, bahwa geonil itu bukan anak miskin yang mempunyai rumah di tempat kumuh seperti yang geonil tempati itu. Kedua, geonil mempunyai hak dan kekuasaan atas balkon atas sekolah untuk merenung dan melakukan apa saja. Bahkan ia bisa tidur dengan nyenyak disitu. Ketiga, geonil juga mempunyai kekuasaan terhadap perpustakaan. Ia bisa meminjam banyak buku tanpa harus mengembalikan dengan tepat waktu. Keempat, sungje tidak tahu dimana kelas geonil, jangankan itu. Sungje saja tidak tahu di tingkat berapa geonil berada. Kelima, sungje tidak tahu kapan geonil menyukainya. Dan poin-poin tak penting lainnya yang belum diketahui sungje.
Pelajaran pertama adalah biologi. Tidak biasanya geonil ada di kelas ketika pelajaran ini. Paling hanya numpang duduk dan tidak melakukan apapun. Geonil memang paling membenci pelajaran ini. Tapi setiap ulangan, pasti mendapat nilai yang tinggi. Anak-anak sekelas tidak ada yang percaya kalau itu nilai murni. Paling itu nilai hasil sogokannya bersama guru tua bergelar doktor itu.
*
Sementara itu di kelas 3-1, sungje mencoba berkonsentrasi dengan pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Biologi. Setiap kata-kata yang keluar dari mulut sang guru tidak ada artinya bagi sungje. Ia tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena rasa kantuk yang amat sangat mengganggunya.
“aih.. lapaaar!!” gumam sungje pelan sambil mengelus perutnya. Ia baru sadar kalau hari ini Tuhan masih membiarkannya menyimpan janinnya.
“oh tuhan.. apakah semuda ini aku harus melihatmu??” gumam sungje sambil menggeleng.
***
Istirahat tiba. Sungje keluar kelas tanpa merapikan alat-alat tulisnya yang berserakan di atas meja. Hanya satu yang bisa ia jadikan tujuan sekarang. Balkon atas sekolah.
Melewati tangga yang letaknya tertutup dan tidak diketahui anak-anak, sungje dengan sigap naik. Tanpa disadarinya, seorang lelaki juga mengikutinya.
“kangen yaa?” tanya geonil setelah sungje baru saja menginjakkan kaki di lantai balkon atas.
Reflek sungje membalikkan badan. Rasa kaget membuatnya kehilangan keseimbangan. Tanpa bisa mencengkram kuat besi pembatas sungje jatuh. Mengikuti arah gravitasi. Tapi letak geonil yang tidak jauh dari sungje membantunya menangkap lelaki cantik itu. Badan tegap geonil yang sudah ‘siap’ dengan beban baru itu berhasil mempertahankan keseimbangannya di atas anak tangga yang lumayan sempit untuknya.
“kalo terpesona nggak usah gitu juga dong.. untung tempat ini tertutup. Jadi ga ada yang tau kalo kamu terpesona duluan sama aku..” kata geonil menggoda.
Sungje kembali menyeimbangkan dirinya. Ia berdiri di atas anak tangga diatas geonil. Lalu menjitaknya keras.
“siapa yang terpesona?? Ngimpi!!” balas sungje tak terima.
“oh ya??” geonil tersenyum sambil berkacak dada. “terus ngapain disitu?”
“mau kesana aja..”
“ehem?? Mau kesana aja? Atau mau kesana ketemu geonil??”
Wajah sungje memerah menahan amarah. Enak aja dibilang mau ketemu geonil!! Dengusnya dalam hati.
“udah ketauan, sayang.. udah yuk, kesana aja! Disana banyak makanan baru loh!!” geonil naik ke anak tangga tempat sungje berdiri. Lalu merangkulnya dan berjalan bersamanya. Walaupun dengan sedikit pemaksaan, sungje akhirnya ikut naik.
Sesampainya di balkon atas, sungje langsung berdiri di tembok pembatas gedung (?). Angin sepoi-sepoi berhembus melewati wajahnya. Angin itu menyibakkan rambut sungje ke belakang. Membuatnya terlihat lebih ‘fresh’ daripada tadi.
Sungje menghembuskan nafas panjang berkali-kali. Lalu menunduk kemudian mendongak lagi. Lalu tersenyum sambil menghela nafas lega.
Semua adegan itu terekam di otak geonil tanpa terkecuali. Setiap inchi gerakannya terpotret jelas dan dibingkai dengan indah di dalam memori otaknya. Senyum lelaki cantik yang sedang menikmati angin yang berhembus itu menjadi daya tariknya sendiri. Senyum itu.. bukan senyum biasa. Tapi.. senyum luar biasa..
*
“ya Tuhan.. hari ini aku masih bisa menikmati ini..” ucap sungje dalam hati.
Kini masalahnya bertambah lagi. Selain karena kehamilannya, tapi juga karena umurnya. Sungje tidak mempunyai penyakit khusus yang mematikan seperti kanker, stroke, atau jantung. Tapi.. ini tidak ada di dunia medis. Terlalu sulit bagi orang selain keluarganya memaklumi ini.
“sungje-ah!” panggil geonil karena sungje tidak bergeming dari tadi.
Angin sepoi-sepoi itu seakan menina-bobokannya. Membawa pergi suara-suara dan juga masalah-masalahnya ke tempat mereka berada.
Dengan cepat geonil langsung menangkap tubuh sungje yang ambruk. Dengan hati-hati ia mendudukannya ke atas kursi. Dengan kaki panjangnya, geonil mengambil kursi lainnya untuk didudukinya.
Mata itu terpejam sempurna. Nafasnya masih teratur. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang amat sangat. Sungje tertidur.
Geonil menyandarkan kepala istrinya ke bahunya. Lalu mengelusnya dengan sayang.
“sweet dream, my prince..” kata geonil pelan. “mimpiin aku yaa..”
***
TBC
HUAHAAHAHAHAHAAAA AKHIRNYA !!!!!!!
Akhirnya chapter 3 muncul juga dah ni di blog !! fiuhhhh~~ #buangnapaslega
Mian ya kalo ga memuaskan. Saya lagi marahan ama GeonJe gara-gara mereka tebar pesona mulu di depan saya ==
Okeeeh, mian ya kalo chap ini kependekan XDD


Time To Love part 2


Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”

Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg

Length : ga banyak-banyak (?)

Cast :

–       park geonil *Cho Shin Sung*

–       kim sungje *Cho Shin Sung*

–       other Cho Shin Sung members~

Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerima apa adanya. Maukah geonil mengakui anak itu setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?

Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^

A/N : inilah chapter 2 dari ff nista ala laila a.k.a anaknya yunjae dan geonje *yunhak pundung

Belom ada rahasia terkuak sih.. tapi nanti bakal terbuka dengan sendirinya ^^

Don’t forget, gue author amatiran *walaupun udah dari kelas 1 jadi author dadakan* ga mungkin bikin ff keren kayak yang laen.. hoho~~

 

***

 

<< Prev

 

Sungje berbaring di kasur tempat geonil tidur. Keadaannya sama seperti sofa tadi. Sama sekali tidak empuk!

“ahh~~ kalau aku punya uang aku benar-benar ingin mengganti perabotannya! Benar-benar tidak seperti perabotan manusia.” Sungje menggeleng.

“huh??” sungje langsung bangun dan melihat sebuah bingkai di meja belajar geonil yang diposisikan tengkurap. Sungje mengangkatnya dengan hati-hati dan ragu. Ini bukan miliknya.

“j-jihyuk..??”

 

PART 2 >>

 

Sungje menggelengkan kepalanya terus untuk memastikan matanya benar. Berkali-kali ia lihat foto yang ada di dalam bingkai itu. Foto dua orang namja, yang satu geonil, dan yang satu—

“Makanan siap..” kata geonil dingin.

Sungje kembali membalikkan bingkai foto itu. Lalu berdiri dan keluar bersama geonil.

 

*

 

“kau penasaran kan kenapa jihyuk ada di foto itu bersamaku?” tanya geonil seakan mengetahui kesunyian sungje (?)

Sungje mengangguk. Lalu menyuap sesendok nasi.

“kenapa kau bisa tahu aku bingung karena itu?” tanya sungje.

Geonil tertawa kecil. “ck.. dari tadi aku memperhatikanmu, tahu! Kau terus memperhatikan fotonya! Entah fotoku atau jihyuk yang kau lihat.”

Sungje melempar garpu ke arah geonil. Tapi langsung bisa ditangkap geonil.

“aku belum mau menceritakan hubungan sebenarnya. Tapi pasti aku ceritakan kok..” kata geonil tanpa disuruh.

Sungje mendengus. “memangnya aku suruh kau menceritakan hubungan sebenarnya? Aku tidak mau tahu apapun masalah di keluargamu!”

“kalau keluarga jihyuk?” geonil berusaha mengompori.

“sudahlah!! Otakku lama-lama bisa meledak kalau kau mengucapkan namanya. Aku benar-benar merindukannya!” *ini curhatan author !! ASLI LAGI KANGEN ABAH JIHYUK !!

Sungje membalikkan sendoknya dan berdiri dari kursinya.

“kalau mau pulang besok saja. Sekarang banyak ‘penunggu’ di jalan!” kata geonil mencoba menakuti sungje. *ni anak jail amat ihh!! ck..

“huh??” sungje kembali duduk. “maksudmu??”

“aku pernah melihat, eumm..” geonil berdeham agar suaranya terdengar se-horor mungkin. “aku terbangun malam itu, dan aku menatap ke arah jendela. Ada kegaduhan diluar. Dan saat aku lihat, tidak ada siapa-siapa. Dan suaranya masih ada. So? Ada ‘penunggu’nya kan?”

Sungje menahan mulutnya agar tidak berteriak memalukan dirinya sendiri. Keringat dingin sudah mengucur dari dahinya.

Geonil hampir saja tertawa keras. Tapi demi menjaga aktingnya, dan juga sungje, maka ia menutup mulutnya rapat-rapat.

“kau menakutiku!!” sungje mengepalkan tangannya.

“tapi itu kenyataannya..” geonil membereskan piring yang berantakan di atas meja. “sudah jam 12. ke kamar sana!”

Sungje langsung menggeleng. “kalau denganmu aku kesana!”

Geonil menggeleng sambil tersenyum. “wae? Kau sudah mulai menerimaku?”

“ya sudah, aku pulang saja! Dari tadi kau menggodaku terus!” sungje berdiri dan mengambil tas-nya.

“kau kan tahu aku menyukaimu. Mumpung sedang dekat, lebih baik aku jahili terus.”

“GEONIIIIIIIIIIIIIIIL!!!!!” sungje melempar tas-nya yang penuh dengan buku.

 

*

 

Sungje menutup pelan rumah susun geonil. Bukan rumahnya juga sih, karena dia hanya menumpang.

Sungje masih kesal karena geonil menjahilinya. Tapi perasaan takut menghantuinya setelah ia turun satu tangga.

“ahh.. itu kan hanya akal-akalannya saja! Kenapa aku harus takut?” sungje berusaha mensugesti dirinya sendiri agar tidak takut. “Sungje-ya, fighting!!”

Sungje berjalan penuh percaya diri ke bawah. Lalu melanjutkan jalan di kegelapan tengah malam. Suara burung hantu milik salah satu pemilik rumah susun berhasil membuat nyali sungje ciut.

Khukhu..kukhu..

“aaaaaa~~!!!” tanpa sadar sungje berteriak. Tapi ia langsung menutup mulutnya.

 

Sementara itu, geonil memperhatikan semua kejadian itu dari dalam dan tertawa puas. Sungje berhasil melawan ketakutannya juga ternyata..

 

*

 

Keesokan paginya, geonil dibuat kaget plus sport jantung lagi oleh sungje. Namja cantik itu menjelaskan semua yang terjadi tadi malam.

“kau tahu, umma dan appaku hampir menamparku tadi malam karena pulang sendirian! Naik taxi pula. Sudah tahu keluargaku benci dengan taxi!” sungje mengatakannya dengan wajah pucat. “dan mereka memberi ‘kita’ hukuman!!”

Mata geonil langsung membulat sempurna. Hukuman apa lagi? Cambuk? No.. no.. no.. aku sudah kapok!! Kata geonil dalam hati.

“hukuman apa?” geonil berusaha bertanya, walaupun perasaannya kini campur aduk. Takut, kaget dan marah.

“WE WILL GET MARRIED!!! DUA MINGGU LAGI!!” teriak sungje yang terdengar seperti orang yang amat sangat panik.

“MWOOOOOOO?!!! AISHHHH.. AKU BELUM SIAP!!” geonil mengacak rambutnya.

“KAU KIRA AKU SUDAH SIAP?!! SAMA SEKALI TIDAK!!”

Geonil menendang kursi reot yang ada di dekatnya sampai hancur. “sialan!! Jihyuk sialaaaaaaan!!” maki geonil.

Sungje jadi merasa bersalah telah melibatkan geonil dalam masalahnya sendiri. Mana jihyuk pakai acara kabur keluar negeri. Dan hebatnya lagi, jihyuk ke luar negeri SEHARI sebelum sungje periksa kandungan!

“mianhae..” sesal sungje sambil menundukkan kepala.

Hati geonil langsung luluh mendengar ungkapan penyesalan dari bibir sungje. Ia tersenyum lalu mengelus puncak kepala sungje dengan sayang.

“gwaenchana. Aku kan sudah janji. Hmm.. pasti kau belum makan cukup? Eh aku sudah belikan susu! Kau mau?”

“ANI!!” tolak sungje langsung. “aku tidak suka susu!”

“ini kan untuk anakmu, bukan untukmu, weeekk :p” goda geonil yang berhasil membuat wajah sungje memerah.

“aaahhh!! Ternyata kau benar-benar jahil ya??”

Geonil tertawa kecil. Lalu mengeluarkan sesuatu dari tas-nya.

“aku memang jahil dari dulu. Mau tahu siapa yang sering kukerjai dari kecil? Tapi sekarang dia malah mengerjaiku balik, malah lebih parah dari mengerjai.”

Sungje menggeleng. “aku kan sudah bilang, tidak mau tahu masalah apapun yang terjadi di keluargamu!”

“ya sudah. Ternyata kau bukan orang yang penuh penasaran seperti yang kemarin ya.”

Sungje meninju pundak geonil. “keumanhae!! Aku tidak mau ingat itu lagi.” Sungje berbalik badan untuk kembali ke kelasnya. Sudah beberapa kali ia membolos di pagi hari.

“bawa susunya kalau mau kebawah!” kata geonil tanpa membalik badannya sambil mengaduk-ngaduk sesuatu (?)

“ani!”

“ya sudah. Aku tidak mau menikah denganmu nanti!”

Sungje langsung mempan.

“nah gitu dong!! Ini..” geonil menyerahkan segelas susu hangat pada sungje.

“dapat air darimana? Dari got-kah?” tanya sungje sengit.

“mana mungkin aku berani menaruh air comberan di gelas istriku?” goda geonil.

“amit-amit!!”

Geonil hanya menanggapinya dengan tawa garing.

 

*

 

“benar, orang tuamu tidak memberiku waktu untuk menjadi ‘suami’ yang baik?” tanya geonil dua hari berikutnya.

Sungje mendengus. “dari kemarinpun aku sudah bilang KALAU MEREKA INGIN SECEPATNYA!! Kan kandunganku hampir 3 bulan..”

Geonil mengangguk. “then?”

“kata mereka, kalau aku ngidam di rumah kan tidak ada yang mau jalan mencarinya. Nanti anaknya ileran terus..”

Geonil tertawa keras. Membuat sungje reflek menyumpal mulut geonil lengan jasnya yang tidak dipakai.

“panggil aku saja.” Geonil tersenyum.

“ogah!!”

 

*

 

Sungje langsung pulang tanpa menunggu geonil setelah bel berbunyi. Ia langsung membuka pintu BMW ayahnya yang stay di depan gerbang.

Di rumah, ia langsung disambut oleh ayahnya yang menyuruhnya untuk periksa kandungan. Sebenarnya ia ingin menolaknya mentah-mentah. Tapi karena ia anak yang baik, jadilah sungje ikut ayahnya ke rumah sakit. Bertemu dengan dokter kwangsu yang sudah tahu kehamilan sungje.

“kalau bukan karena kau aku tidak mungkin kesini, bodoh!!!” sungje mengeplak kepala dokter kwangsu dengan topinya.

Dokter kwangsu mengelus kepalanya. “jweisonghamnida, tuan. Aku kan keceplosan!”

“alah.. dasar!! Kau tidak tahu kan malunya aku karena meminta tolong geonil mengakuinya!”

Dokter kwangsu memasang wajah bersalahnya. “jweisonghamnida..”

“ya sudah. Mulai saja pemeriksaannya. Aku tidak mau marah-marah lagi!”

 

*

 

“akhirnya..” sungje merebahkan dirinya di kasur empuknya. Ia berguling-gulingan saking lelahnya. Ternyata setelah memeriksa kandungan ibunya langsung menariknya ke butik untuk memilih-milih dress. Tapi belum ada satupun yang dibeli karena sungje ngambek duluan.

Drrrttttt… drrrrtttt..

HP sungje bergetar dua kali. Menandakan SMS masuk. Mata Sungje langsung melebar kala melihat jumlah message yang ditinggalkannya lebih dari 2 jam. 32 message!! Dan pengirimnya pun hanya satu orang!

“ckck.. benar-benar banyak pulsa orang ini!”

Sungje membuka pesan itu satu-satu dan menghapusnya setelah membacanya. Lalu ia tinggalkan HP-nya dan tidur.

 

*

 

Geonil menatap bingung kala melihat sungje diam tanpa ekspresi di balkon atas tempatnya biasa merenung. Geonil melangkah mendekati lelaki itu.

“kau menangis?” tanya geonil sedikit panik.

Sungje mengangguk.

“wae?”

Sungje diam. Geonil menarik nafas dalam dan menghembuskannya.

“kau bisa cerita sekarang padaku. Tenang saja. Tempat ini kan tertutup.” Geonil mencoba memancing sungje. “kau tidak mau menikah? Okay. Aku akan bilang pada orangtuamu.”

“gwaenchana. Aku bisa mengatasi sendiri.” Kata sungje dengan suara bergetar.

Geonil mengambil botol minum dari tas-nya. “ini, minum dulu!”

Sungje menggeleng. “tidak perlu. Aku mau kembali ke kelas!”

Sungje maju dan berjalan dengan langkah gontai. Geonil langsung menarik tangannya dari belakang.

“kau tidak bisa ke bawah kalau tidak mau cerita!” ancam geonil.

“lepass!!!” sungje menghentakkan tangannya ke bawah. Tapi cengkraman elang geonil tetap saja tidak bisa dikalahkan.

“lalu untuk apa kau kesini kalau tidak ada masalah? Menungguku?” tanya geonil jahil (lagi)

Sungje menatap sinis geonil. “ckckck.. memangnya tidak ada yang bisa aku tunggu ya? Terus bermimpi kalau aku menunggumu!”

“aku selalu menunggu..”

 

*

 

“tidak pulang?” tanya geonil langsung ketika ia melihat sungje berdiri mematung di depan pagar. Padahal mobil BMW ayahnya stay di depan.

Sungje menggeleng. Geonil menghembuskan nafas panjang.

“ada apa?” tanyanya lembut.

Sungje menatap geonil. Matanya dipenuhi oleh keputusasaan. Berkaca-kaca, tapi tidak bisa mengeluarkan air matanya. Reflek geonil langsung memeluknya. Kejadian itupun langsung menjadi tontonan gratis untuk anak-anak supernova high school.

Geonil tidak merasa malu atau apapun karena memeluk calon istrinya di depan umum. Malah ia makin mengeratkan pelukannya setelah mendengar isak kecil dari sungje.

“jweisonghamnida..” seorang pelayan dari keluarga sungje membungkukkan badan ke geonil. Ia lalu menyuruh geonil untuk menunduk sedikit karena ingin memberitahukan sesuatu yang membuat sungje jadi semerana itu.

“ok. Aku ikut!” geonil mengangguk lalu menuntun sungje yang masih ada di pelukannya naik ke BMW ayahnya.

 

*

 

“aku tidak mau pakai dress!!!” teriak sungje setelah ibunya memamerkan dress-dress cantik untuk pernikahan.

Ibunya menghela nafas. “sungje-ah..”

“anii!! Aku tidak mau pakai, TITIK!!!” sungje langsung berdiri dari tempatnya dan berjalan meninggalkan tempat.

“tanggung jawablah dengan kesalahanmu!” gertak geonil yang membuat langkah panjang sungje terhenti.

Sungje tersenyum sinis membelakangi geonil. “cih! Memangnya kau bisa bertanggung jawab dengan kesalahanmu sendiri?”

“bahkan kesalahanmu pun aku bisa pertanggung jawabkan.” Balas geonil sinis.

Ibu sungje mengernyitkan dahi. Tidak mengerti pembicaraan dua lelaki yang beranjak dewasa ini.

“aku bisa beberkan semuanya kalau kau mau, kim sungje!” kata geonil setelah itu.

Sungje membalikkan badannya. “aku tidak mau terbongkar sekarang, park geonil. Jadi, apa yang harus aku lakukan? Memakai dress di hari pernikahan?” sungje mengernyitkan dahi.

“apa harus aku yang pakai dress-nya? Kau mau aku jadi wanitanya dan kau jadi lebih pendek dari sang wanita? Eum?” tawar geonil dengan senyum menawannya *sumpah dah gue ga bisa lepasin pandangan ni anak kalo lagi senyum ==

“ya sudah kau saja! Aku bisa menambahkan sol di sepatuku kalau mau.” Sungje membalas dengan sewot.

“aku juga bisa kalau begitu.”

“ya sudah. Aku tetap jadi pengantin lelakinya!”

“pengantin lelaki? Secantik itu?”

“bukannya kau yang ingin menjadi wanitanya? Tadi kau bilang kan??” sungje mengedipkan sebelah matanya untuk membalas geonil.

“siapa yang mau? Kan aku mengatas namakan kau..”

“AAARRRRRGGGGGHHHHHHH!!!!!!”

Akhirnya, setelah tawar-menawar tidak jelas yang dilakukan geonil dan sungje, mereka sepakat pernikahan itu akan dilaksanakan, dengan sungje sebagai model wanitanya.

Semua dress yang ada dicoba sungje. Ada yang kekecilan, ada yang pas tapi warnanya ‘nggak banget’, dan ada juga yang pas dan bagus, tapi tidak diminati sungje.

“padahal ini bagus loh je! Kenapa nggak mau sih, sayang?” tanya mrs kim bingung.

“kenapa nggak dua-duanya aja pake tuxedo sih, mi? Aku nggak suka banget ih!!” jawab sungje dengan manjanya *UMMAAAAA!! GUE TERPESONA U,U

“aneh dong nanti.. kan nggak enak juga diliat orang..” kata mrs kim bijaksana.

“ya udah! Nggak usah nikah juga nggak papa kan? Ayolah, mi!!” sungje menatap ibunya dengan puppy eyes.

Mrs kim menggeleng sambil mengelus rambut putra semata wayangnya. Lalu mengecup pucuk kepalanya dengan sayang.

“mami juga nggak mau liat kamu nikah semuda ini, sayang..” air mata mrs kim keluar begitu saja. “mami masih mau ngeliat kamu main-main dan nakal-nakalan. Mami nggak akan marah!”

Air mata sungje juga langsung mengalir deras. Ia memeluk ibunya agar tidak terekspos wajahnya yang sembab.

“ckck.. ternyata manja..” batin geonil sambil tersenyum kecil.

“umm.. ajumma, boleh aku undur diri?” pamit geonil ragu. Ia ingin pergi bukan karena bosan. Tapi karena ia tidak mau mengganggu moment keluarga kim, dan juga tidak mau mengingat masa lalu yang kelamnya.

“eh? Mianhae.. gara-gara sungje manjanya kumat, jadinya kamu didiemin..” sekarang mrs kim memakai bahasa yang biasa dipakai untuk berbicara dengan anaknya.

Geonil tersenyum. “a-aniyo, ajumma.. aku harus pergi..”

“ya sudah.” Umma sungje tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sekaranglah waktunya berbicara dengan anak semata wayangnya yang sudah dewasa itu.

 

*

 

Seperti biasanya. Geonil dibuat sport jantung (?) oleh sungje karena ia datang tiba-tiba setelah geonil memasuki gerbang pagi-pagi sekali. Nafas sungje tak beraturan saat mengatakan pengumuman lanjutan tentang pernikahannya. Untungnya masih pagi dan tidak ada yang datang setelah geonil. Jadilah sungje blak-blakan di depan gerbang.

“umma sudah bilang ke appa kalau pernikahan ini tidak bisa ditunda sampai minggu depan!” kata sungje.

“umma dan appa? Bukannya ‘mami-papi’??”

Sungje menendang kaki geonil dengan segenap tenaga ala lelaki biasa. “tidak ada waktu bercanda! Besok kita sudah melaksanakan pemberkatan!”

Mata geonil langsung melebar.

Hari ini sabtu. Besok.. MINGGU?!! Batin geonil berteriak sendiri.

“nanti kau jadi tamu istimewa keluarga kim!” sungje tersenyum sinis. “nanti appa akan menjemput di depan mall.”

Sungje langsung berlari menjauhi geonil.

“YAAA, JANGAN LARI!!!!!” teriak geonil panik sambil berlari mendekati sungje.

 

*

 

Pulang sekolah..

 

Sungje lebih dulu sampai di tempat janjian. Sekarang, tepat 8 menit ia menunggu kedatangan geonil dan juga ayahnya.

Suasana sore di kota seoul itu terlihat sangat sibuk. Kendaraan melimpah ruah di jalanan seperti sampah. Cahaya pudar matahari tenggelam dan lampu kota bercampur menjadi pemandangan indah menyinari kota.

Sungje mengalihkan pandangannya ke samping. Toko bulgogi. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Cacing perut dan anaknya menginginkan makanan itu.

“mau kemana?” tanya seseorang dengan suara berat khas-nya yang membuat sungje tidak jadi melangkahkan kakinya.

Sungje menatap geonil dengan tatapan memohon. Jari telunjuknya menunjuk satu toko pinggiran yang menjual bulgogi. Geonil menghela nafas.

“ayolaah.. aku benar-benar ingin! Anak ini juga ingin..” kata sungje.

Geonil mengangguk. Lalu berjalan di belakang sungje, mengikutinya. Sungje memesan bulgogi banyak sekali. Geonil saja sampai tidak berkedip memandang seplastik sedang penuh (?) bulgogi.

“ada appa!!” pekik sungje ketika keluar dari toko bulgogi itu. Ia menyerahkan plastik hitam itu ke geonil untuk di amankan.

“aku titip, ok?” kata sungje sambil berjalan dengan cool-nya ke mobil BMW ayahnya.

“apa itu?” tanya ayah sungje menunjuk bungkusan plastik.

“bulgogi.” Jawab geonil jujur sambil tersenyum. “aku sudah lama tidak memakannya..”

“oh..” mr kim tidak berkomentar lebih. Ia menyuruh sungje dan geonil masuk ke dalam mobil dan membawa mereka ke rumah untuk memberitahukan semua yang sudah direncanakannya dan juga istrinya.

 

Akankah pernikahan itu dilaksanakan? Akankah berhasil seperti yang kita (?) harapkan? Dan apakah rumah tangga geonil dan sungje bisa dibangun meskipun sungje tidak mencintai geonil? Tunggu jawabannya di part selanjutnya, yang Insya Allah di-share ga lama dari yang ini ^^

 

TBC

 

***

 

Untuk kesekian kalinya, gue minta maaf karna ga memuaskan pemirsa semua (?) *plakk

Gue Cuma nyalurin apa-apa yang ada di pikiran. Kalo ngeganggu, mendingan ga usah dibaca ^^


Bad Boy Good Boy Part 4


Title : “bad boy good boy”

Genre : yaoi, comedy (garing), crazy lah pokonya (?)

Rate : PG 13

Length : chaptered (4/??)

Main cast : GD X TOP

 

Hola hola hola holaaaaaaa !!!!!!

I’m back again bawain ff GTOP yang udah beberapa taun lumutan di blog 😀 *plak

Ada yang masih inget dan pengen lanjutannya? Silakan dibaca *mending ada yang mau

Ingat *banyak bacot* semua bahasa ancur disini disengaja..!! so, mau protes langsung sama saya aja..

 

****

 

 

<< previous part

 

“KELUAR DAN JANGAN KEMBALI LAGI..!!!”

Ji yong menghembuskan nafas panjang sambil tersenyum terpaksa. Lalu berdiri dan melangkahkan kaki kecilnya keluar. Seung hyun memandanginya dengan pandangan biasa. Setelah itu kepalanya kembali berdenyut. Sakit.. sangat sakit..

“arrrggghhh..” rintih seung hyun sambil memegangi kepalanya. “ji yong-ah, mana es-nya??”

Sunyi~

Seung hyun baru ingat kalau ia baru saja mengusir ji yong. Seung hyun meraba-raba lantai untuk menemukan benda kecil yang dibalut kain putih itu. Akhirnya ia menemukannya. Dan langsung menempelkannya di kepalanya.

“ji yong-ah..” teriak seung hyun. “ji yong!!” panggil seung hyun. “JI YONG..!! KAJIMA..!!”

Seung hyun langsung berlari keluar setelah memastikan kepalanya tidak pusing lagi, dan juga setelah memakai pakaian ekstra hangat untuk menghangatkan tubuhnya di malam berhujan ini.

 

Part 4 >>

 

Ji yong memeluk dirinya sendiri karena kedinginan di sebuah ruko yang sudah tutup. Ia menyesali perbuatannya yang mengiyakan permintaan seung hyun. Kenapa aku yang keluar? Ahh~ pabo!!!!

Sementara itu, seung hyun dengan susah payah mencari ji yong. Kenapa susah? Karena ada game center yang baru dibuka, dan game-game yang dibawa adalah game-game terbaru dan paling daebak di pasaran. Akhirnya ia ikut mengantri walaupun akhirnya ia harus menelan pil pahit karena harus mengalah pada anak yang lebih muda darinya.

Ia keluar dan melanjutkan misi mencari ji yong. Tapi saat sudah sampai tempat yang agak jauh, seung hyun lupa kalau ia tadi membawa mobil. Dan ia pun kembali kesana untuk menjemput mobil cantiknya yang stay tune (?) di parkiran game center.

Setelah menaiki mobil, ia memastikan tidak ada yang ketinggalan lagi. Dan pergi meninggalkan game center yang makin lama makin padat. Ini setan apa sih yang ada di tubuh gue? Kenapa sampe sekarang gue kagak berhasil nemuin ji yong? Ckckck..

Kita tinggalkan keun seung hyun yang satu ini, dan kembali melihat ji yong yang madesu.

Ji yong mengecek HP-nya. Siapa tahu seung hyun SMS. Tapi buru-buru ia mengenyahkan pikiran gilanya dan membuka aplikasi game. Dipilihlah miami knight dan jadilah “ji yong in wonderland” *AUTHOR GILA..!!!

PLUP..

“yahh.. lupa nge-cass!! Bakka bakka!!” ji yong mengutuki dirinya sendiri karena lupa mengecas HP-nya. Batre sekarat, diusir, ga bawa duit, matilah..

 

***

 

Seung hyun sedang menyetir di jalan sekitar myong dong. Tetap ramai seperti biasanya. Ia memperhatikan jalan, siapa tahu ji yong muncul dengan senyum manisnya yang selalu menggoda author untuk selingkuh *astagfirullah.. dari tadi gue rusuh deh ==”

Ia meraba-raba saku celananya untuk mencari benda kotak berwarna hitam yang selalu digunakan untuk menelepon dan SMS, tentunya kalau ada pulsa. Kalau tidak? Ya tidak dipakai. Kasihan si HP..

“ampun dah! Kan di cass. Gimana mau dibawa? Ahh~~ susah lagi deh!!” kata seung hyun sambil memukul tombol klakson. Dan terdengarlah TIIIIIIN~ dengan suara yang keras. Membuat orang-orang langsung kesal dan memaki-maki mobil seung hyun *bukan orangnya loh..

 

Sekarang, keduanya memliki kendala yang sama. HP ketinggalan, dan tidak ada hiburan. Semuanya serba baheula (?) tidak ada HP, tidak ada alat komunikasi, bahkan kentongan pun tidak ada. Mungkin itu akan membantu sedikit walaupun orang-orang akan mengira seung hyun sedang ronda gratisan.

 

In author mind :

 

Seung hyun : *mukul kentongan, pake kaos warna putih, pake sarung di selempangin, celana pendek* JI YONG.. JI YONG..!!

Tung.. tung.. tung.. tung.. tung..

Orang-orang : ada apa sih ? ==”

Anak kecil : bang, ada yang ulang tahun ya? *ga nyambung !!

Kakak anak kecil itu : bukan ultah, dodol!! Itu penjual cendol!

Anak kecil : cendol? Padahal aku nyari dawet..

Kakak : abang sih pengennya pocari sweat. Lee jung hoon ganteng sih!!

Anak kecil : abang gak normal !!

 

#ok, abaikan ini dan kembali ke cerita

 

***

 

Karena author baik hati dan tidak sombong, ada baiknya author mempertemukan mereka. Disinilah mereka bertemu^^

 

“hiks.. hiks.. ji yong..” isak seung hyun karena tidak menemukan ji yong, padahal sudah dua jam lebih ia mengitari kota seoul.

Seorang cowok manis berbadan gembul seperti doraemon mendatangi seung hyun. Ia menanyakan kabar ke seung hyun.

“emang kamu siapa?” tanya seung hyun polos, sambil menyeka air matanya.

Dan musik trot look at me, gwi-seon pun langsung mengalun keras memekakan telinga pengunjung pasar (?) myong dong. Semuanya menutup kuping dan orang yang baru ditemui seung hyun yang gajenya tidak terhingga itu langsung bernyanyi.

“ANNYEONGHASEYO DAESUNG IMNIDA~!!” ia berteriak dengan kencangnya melebihi suara gita ketawa yang sampe 10 oktaf (?) dan suara changmin DBSK dicampur changmin 2AM bersama dengan jonghyun shinee yang digabungkan. Pengennya sih tambahin sungje supernova. Tapi suara dia ga tinggi-tinggi amat #digiles uje

Seung hyun langsung menutup kupingnya sambil berteriak untuk menghentikan hentakan musik bar (?) ala nenek moyang dulu. Ia meminjam suara orang-orang yang ditulis di atas dan memanggil nama JIYONG.

“JIYONG~A PULANG..!! AKU TIDAK AKAN MENGUSIRMU LAGI..!!”

Ji yong mendengar teriakan itu. Ia langsung bangun dari tidurnya yang hanya diberi alas kardus pemberian seorang pedagang indonesia yang menjual indomie.

“ga mungkin seung hyun punya suara segede itu! Ckckck..”

Jiyong kembali merebahkan dirinya. Lalu memejamkan mata perlahan. Dan dia tidak ingat lagi ada dimana.

 

*lah.. lah.. ga jadi ketemu dong GTOP??? *author lari ke pelukan sungje

 

***

 

Keesokkan harinya, ji yong dan seung hyun terbangun di waktu yang sama—walaupun tidak ada yang menyadari—dan langsung mencari tahu dimana tempat yang sedang mereka tumpangi.

 

@ seung hyun place

 

Seung hyun membuka matanya dan menyadari bahwa keramaian ini tidak ada di kamarnya. Ia mengedarkan pandangan kesana-kemari untuk mengetahui dimana ia berada.

“mah.. mah.. kasian!!” kata seorang anak kecil pada ibunya sambil menunjuk seung hyun yang sedang menatap mobilnya dengan wajah madesu.

“iya.. saking pengennya sama mobil itu sampe diliatin! Ckckck..” balas ibunya sambil menatap iba ke seung hyun.

“kasih duit dong ma.. kasiaaan!!”

“iya.. iya..” ibu itu mengambil uang kertas bertuliskan berapa won *gue males nulis nominal* “nih kasih ke mas-nya..”

Anak itu segera berlari ke arah seung hyun. Lalu memberikan uang yang diberi ibunya pada seung hyun.

“buat apa?” tanya seung hyun.

“ini buat hyung. Emang sih gak cukup buat beli mobil itu. Tapi ini cukup kok buat hyung makan!” kata anak kecil itu polos.

Seung hyun hampir saja berteriak untuk mengatakan bahwa itu mobilnya. Mobil kesayangannya yang dipakai untuk berjalan-jalan dan mencari ‘istri’-nya.

“semoga hyung bisa beli mobil yang lebih bagus dari yang ini. Amiiiiin~” anak kecil itu lalu pergi dari hadapan seung hyun.

Orang ini mobil gue! Batin seung hyun. Ahh.. mending cari dia aja dah!

Seung hyun mengambil kunci di saku jaketnya. Lalu ia menekan sebuah tombol. Setelah itu ia masuk ke dalam mobil dan kembali melanjutkan misi yang tertunda.

 

@ ji yong place

 

Ji yong berjalan tak tentu arah. Ia baru saja diusir oleh pemilik kios dan harus menanggung malu dari orang-orang yang berlalu lalang di pasar. Ji yong bingung akan tinggal dimana setelahnya. Ia tidak punya uang untuk menyewa tempat, tidak punya nyali untuk kembali ke rumah orangtuanya, dan tidak cukup tenaga untuk berjalan.

TIIIIIIIIIIIIN~~

Ji yong tidak sadar kalau ia sudah sampai di jalan besar. Dan ia menyebrangi jalan di trotoar—padahal rambu pejalan kaki berwarna merah. Sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan membuat jiyong terpental—walau hanya beberapa meter.

“auuuuuu.. dasar orang kaya!!” kata jiyong sambil memegangi pantatnya yang jatuh duluan.

Seorang pemuda dengan gagahnya keluar dari mobil berwarna merah itu. Bukannya menolong, pemuda itu malah memarahi ji yong.

“ya! Punya mata gak sih? Itu rambu warnanya merah!” sembur pemuda itu kejam.

Jiyong menghentikan kegiatan mengusap pantatnya. Ia menatap si pemuda penabraknya dan langsung terkejut.

“j-jiyong??” tanyanya tak percaya.

“s-seungri?” balas jiyong.

Lelaki bernama seungri itu langsung mengulurkan tangannya untuk membantu jiyong berdiri. ia langsung mempersilakan jiyong naik ke mobilnya.

“kenapa sendirian di jalan?” tanya seungri di dalam mobil.

Jiyong menggeleng. “diusir seung hyun!”

DEG—

“s-seung hyun?” tanya seungri bingung. “ada hubungan apa kau dengannya?”

“k-kami—“

 

VI
VI
VI like this
Come step to this

 

Lagu what can I do mengalun lembut dari HP seungri. Tanda ada telepon masuk. Ia lalu memasang headset dan berbicara dengan sang penelpon.

“ne?.. ohh.. iya.. ada lah.. ok..”

Seungri melepas headsetnya dan menatap lelaki di sebelahnya sambil tersenyum manis. Detak jantung jiyong jadi tidak karuan melihat senyum manis lelaki itu.

“umm.. kau tidak ikut camping?” tanya seungri membuyarkan lamunan jiyong.

“eh?” jiyong baru ingat. HARI INI HARI CAMPING!!

“aku juga tidak ikut. Banyak malah yang tidak ikut!” kata seungri.

“issshhh.. aku lupa!! Aku ingin ikut!!” kata jiyong dengan paniknya.

“tenanglah..” seungri mencoba menenangkan lelaki manis di sebelahnya. “minggu depan ada camping lagi kok. Dijamin lebih seru dari yang sekarang.”

 

~~~

 

Seung hyun kembali ke rumah dengan perasaan cemas. Ia takut terjadi sesuatu pada ‘istri’ paksaannya.

Seung hyun mencari HP LG optimus yang selalu menemani hari-harinya saat ada pulsa. Ia lalu menekan angka 3 sampai operator menyambungkannya dengan si pemilik nomor ber-dial 3.

“number you are calling, is out of area..”

“shittt!! Dimana sih dia??” seung hyun kembali menekan angka 3 agak lama. Tapi tetap saja jawaban yang di lontarkan operator sama.

“apa gue telpon seungri?” tanyanya pada diri sendiri. “tapi dia kan ga tau nomor jiyong! Tatap muka aja kayaknya ga pernah!”

Tapi ia buru-buru mengingat kejadian lain. “pernah deng waktu di kantin. Kan jiyong nabrak seungri ampe jatoh! Ckckckck..”

Seung hyun kembali bermonolog, “uhmm.. nanti malah ditanyain lagi sama seungri hubungan gue sama jiyong apaan. Kan ga mungkin gue bilang suami-istri! Yang ada pingsan dia.”

“okelah..” seung hyun mencari nomor telepon seungri di phonebook-nya.

“yoboseyo?”

“eh, gue ke rumah lo ya!!”

“ngapain?”

“gue stress ni vi.. okay??”

“umm.. yaudah deh..”

“oke!! Thanks seungri-ku cintaku sayangku manisku..”

 

***

 

Sementara itu di seberang, seungri mengeliatkan tubuhnya di sofa karena geli dengan ucapan seung hyun.

“amit-amit.. amit-amit..”

Ji yong keluar dari kamar mandi dan langsung disambut mantra gaje seungri. Ia memiringkan wajahnya untuk memastikan bahwa itu bukanlah mimpi.

“kenapa?” tanya jiyong polos.

Seungri langsung memposisikan dirinya duduk dengan rapi di sofa. Ia mempersilakan tamunya duduk di sampingnya.

TING TONG.. ASSALAMUALAIKUM..

“yahh udah dateng ni!” kata seungri.

“siapa?” tanya jiyong.

“kalo di sekolah kita temen sekelas, tapi diluar, kita sepupu!” jawab seungri sambil berdiri dari posisinya.

Ji yong menggeleng. “bodo amat!”

 

***

 

Seungri menatap sepupunya dari atas-bawah, dari kiri-kanan, serong kiri-serong kanan. Tidak ada yang berubah dari sepupunya yang satu ini.

“apa maksud lo tadi bilang pake sayang cinta manis?” tanya seungri ketus.

Seung hyun memanyunkan bibirnya *sumpah gw ngebayangin jadi kesel ndiri ==”*

“udah ih! Geli gue! Masuk aja..” seungri menyuruh tamu tak diundangnya itu masuk. *lah?? Tadi kan dibolehin.. gimana sih..?

Ji yong menoleh ke belakang. Dua orang lelaki tampan nan perkasa (?) di mata wanita datang dengan gayanya yang cool. Ji yong tidak mengedipkan mata melihat salah satu dari mereka.

“j-j-ji-yong??” pekik seung hyun.

“aaaaahhhhh.. sssshhh..”

“gggggrrrrrrr…”

“mmmppphhhh…”

 

TBC

 

*lah.. lah.. kok jadi gini ??? ganti ganti!!* *penonton ke-ce-wa karna ga jadi TBC

 

Seungri menatap sepupunya dari atas-bawah, dari kiri-kanan, serong kiri-serong kanan. Tidak ada yang berubah dari sepupunya yang satu ini.

“apa maksud lo tadi bilang pake sayang cinta manis?” tanya seungri ketus.

Seung hyun memanyunkan bibirnya *sumpah gw ngebayangin jadi kesel ndiri ==”*

“udah ih! Geli gue! Masuk aja..” seungri menyuruh tamu tak diundangnya itu masuk.

Ji yong menoleh ke belakang. Dua orang lelaki tampan nan perkasa (?) di mata wanita datang dengan gayanya yang cool. Ji yong tidak mengedipkan mata melihat salah satu dari mereka.

“j-j-ji-yong??” pekik seung hyun.

“s-s-seung..”

“YONGIEEEEEEEEEEE!!!!!!”

“HYUNNIEEEEEEEEEE!!!!”

“I MISS U!!!!”

“MISS U TOO!!!”

Mereka melepas rindu hanya dengan ucapan seperti itu. Tanpa ada pelukan ala film india, tanpa ada ciuman ala film korea, dan tanpa ada bokep ala film jepang.

Seungri hanya bisa menganga lebar. Di bawahnya sudah tersedia sebuah ember besar yang siap menampung ilernya yang berjatuhan layaknya hujan turun di atas payung hitam (?)

Ternyata hubungan jiyong dan seung hyun makin hancur saja! Bukannya tambah baik, malah aneh. Yaah.. emang pasangan aneh #dilemparGTOPkedormsupernovatepatnyakepelukansungje

“kenapa kamu ngilang?!”

“loh kan kamu yang ngusir?”

“siapa yang ngusir?”

“kamu!”

“oh iya!!” seung hyun menepuk jidatnya. “TAPI KENAPA KAMU PERGI?!”

“kan diusir!”

“oh iya!!”

Hening~

Iler seungri bertambah banyak di bak cucian *author lieur* seung hyun menatap wajah madesu istri/suaminya. Lalu melangkah ke depan satu langkah. Otomatis jiyong juga ikutan mundur satu langkah ke belakang.

 

#backsound : semakin ku kejar semakin kau jauh – 5 minutes

 

“jiyong-ah..” seung hyun memasang tampang panik.

“jangan deket-deket!!” kata jiyong sambil terus mundur ke belakang.

“jiyong-ah, wae?? Salah apa aku sama kamu??”

“awas aja!! Jangan deket-deket!!”

Jiyong meraba benda di belakangnya. Sebuah raket listrik!! Jiyong mengayunkannya ke depan seung hyun. Kini seung hyun yang menghindar. Mana mau sih orang ganteng kayak seung hyun mau kehilangan muka gantengnya??? Yang punya muka jelek aja ga mau mukanya ilang!

“LABA-LABANYA KE MUKA!!!!!” teriak jiyong panik. Tanpa basa-basi ia mengayunkan raket listriknya ke muka seung hyun. And then…

 

TBC *asli !!!!!

 

Huahahahaaa..

Makin ancur aja nih ff !!

Udah ah ga mau lanjutin ==” *readers pesta

Padahal rencananya pengen masukin NC *mumpung lagi bokep ni otak

Yaudah lah.. udah nasib Cuma sampe segini.. ga papa kan ???

 

Oh ya, sedikit promo !!

Follow twit saya yah @GeoniLaila *mention ya kalo mau follback !! tenang..saya pasti follback kok ^^

Trus visit my blog juga : http://kumpulanfanfic.wordpress.com

 

Makasih !!!! xDD