fanfiction for our soul

Time To Love Part 4


Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”
Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg
Length : ga banyak-banyak (?)
Cast :
–    park geonil *Cho Shin Sung*
–    kim sungje *Cho Shin Sung*
–    other Cho Shin Sung members~
Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerima apa adanya. Maukah geonil mengakui anak itu setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?
Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^
A/N : wahahaaaaaaa gue lupa akhirnya sama ff yang udah lumutan ini. kalo sering ke blog gue pasti udah tau sampe part 7. kkk
kalo ada yang lupa ceritanya, monggo di review~ Prolog | Part 1 | Part 2 | Part 3
yang mau tau siapa castnya, mohon maaf saya belom bisa kasih fotonya *lupa kebawa -_-

***

 

<< previous

“ya Tuhan.. hari ini aku masih bisa menikmati ini..” ucap sungje dalam hati.
Kini masalahnya bertambah lagi. Selain karena kehamilannya, tapi juga karena umurnya. Sungje tidak mempunyai penyakit khusus yang mematikan seperti kanker, stroke, atau jantung. Tapi.. ini tidak ada di dunia medis. Terlalu sulit bagi orang selain keluarganya memaklumi ini.
“sungje-ah!” panggil geonil karena sungje tidak bergeming dari tadi.
Angin sepoi-sepoi itu seakan menina-bobokannya. Membawa pergi suara-suara dan juga masalah-masalahnya ke tempat mereka berada.
Dengan cepat geonil langsung menangkap tubuh sungje yang ambruk. Dengan hati-hati ia mendudukannya ke atas kursi. Dengan kaki panjangnya, geonil mengambil kursi lainnya untuk didudukinya.
Mata itu terpejam sempurna. Nafasnya masih teratur. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang amat sangat. Sungje tertidur.
Geonil menyandarkan kepala istrinya ke bahunya. Lalu mengelusnya dengan sayang.
“sweet dream, my prince..” kata geonil pelan. “mimpiin aku yaa..”

***

>> part 4 <<

— tiga minggu setelah menikah —

“Kau sudah mencari rumah baru?” tanya Sungje pada Geonil ketika lelaki itu sedang asyik mengotak-atik rumus untuk mencari jawaban.
Geonil tetap asyik pada pekerjaannya. Tidak mempedulikan Sungje yang sedari tadi terus membicarakan tentang rumah baru.
“GEONIIIIIIIIIL!!!!!” teriak Sungje jengkel sambil melempar tempat pensil ke kepala Geonil.
“Aaaah!!!” Geonil mengelus kepalanya. “Sakit tahu!!”
“Aku tidak peduli!” kata Sungje sambil memalingkan muka. “Kau harus mencari rumah baru!”
“Untuk apa?” tanya Geonil bingung. Pandangannya masih ke rentetan soal fisika yang memuakkan.
“UNTUK DIMAKAN!!” jawab Sungje jengkel.
Geonil meletakkan pulpennya. Lalu menatap Sungje dengan penuh perhatian bak seorang suami dari negeri dongeng (?)
“Bukankah rumah ini sudah menjadi milik kita? Eum?” tanya Geonil lembut.
“KATA SIAPA?! INI RUMAH HANYA UNTUK SEBULAN DITUMPANGI!!” Sungje menjawab dengan suara meninggi.
Geonil mengusap kupingnya. Kebiasaan Sungje selama 3 minggu ini kalau tidak makan bulgogi atau kimchi, ya.. marah-marah. Dan marah-marahnya itu bisa membuat gendang telinga pecah saking kerasnya suara dia.
“Ara.. Ara.. kenapa kau tidak memberitahuku dari kemarin-kemarin? Biar aku mencari pekerjaan dan—“
“DARI KEMARIN JUGA AKU SUDAH BILANG!! KAU TERUS PACARAN DENGAN RUMUS-RUMUS TAK JELAS ITU!!!!” teriak Sungje emosi.
“Hyung, jangan marah-marah! Nanti anak kita—“
“ANAKMU?!! SEJAK KAPAN?! INI ANAKKU DAN—“
“alright! Alright!” Geonil mengusap kupingnya lagi. “Aku akan mencari tempat tinggal besok.”
Geonil duduk di sebelah Sungje. Dengan tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya ke wajah Sungje. Wajah Sungje langsung memerah. Geonil tertawa dibuatnya.
“Kalau kau sering berteriak, aku akan menciummu! Camkan itu!” kata Geonil sambil berlalu ke kamarnya.
Sungje menatap Geonil sampai bayangannya hilang ditelan ruangan yang ia masuki. Ia lalu mengusap bibirnya. Memberi mantra agar tidak tersentuh sedikitpun oleh namja aneh dan gila bernama Park Geonil.
Tapi sebenarnya Geonil itu namja yang berani. Berani mengambil resiko. Ia berani menikah dengan Sungje yang berstatus sudah dihamili pria lain. Ia juga berani jujur pada ayah dan ibu Sungje tentang kondisi keluarganya. Orangtuanya sudah meninggal ketika ia masih 10 tahun. Tapi Geonil tidak pernah menceritakan tentang warisan yang ia terima. Juga tentang hubungannya dengan pria yang menghamili Sungje.
“Mau kemana? Malam-malam begini…” Sungje menatap bingung ke arah Geonil yang sudah rapi memakai celana panjang dan jaket tebal.
“Mencari pekerjaan. Siapa tahu ada.” Jawab Geonil sambil tersenyum manis.
“Untuk?”
“Kita perlu tempat tinggal kan? Makannya aku akan mencari pekerjaan.”
Sungje menatap keluar. Langit malam yang tidak berhias bintang. Dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan deras.
“Kenapa harus malam-malam?!” tanya Sungje. Ada sedikit nada khawatir di dalam pengucapannya. Dan Geonil menyadarinya.
“Siang-siang banyak yang melamar. Kalau malam hanya 1% yang berani melamar. Dan itu aku!” Geonil menghela nafas. “Ah.. boleh aku keluar, istriku?”
Badan Sungje mendadak panas dingin. Geli dengan perkataan Geonil yang menyebutnya sebagai ‘istri’-nya. Padahal ia tidak menganggap Geonil apa-apa.
“Boleh tidak? Sebagai suami yang baik, aku harus meminta izin pada istriku untuk pergi keluar!” kata Geonil lagi.
Sungje menghela nafas. “Terserah!”
“Terserahnya.. err.. sepertinya kau tidak menginginkanku keluar rumah. Okay. Aku disini saja! Lagian sudah mendung. Pasti hujan!”
Tepat sedetik kemudian terdengar suara gaduh rintikan air hujan diluar. Geonil tersenyum. Lalu menunjuk jendela.
“Untung aku minta izin! Kalau tidak, aku yakin aku pasti sakit besok! Ada ulangan biologi. Aku tidak mau izin.”
Sungje diam. Tapi dalam hati ia lega. Setidaknya ia tidak sendiri di rumah di saat hujan seperti ini. Sungje menatap keluar. Hujan semakin deras. Hatinya kembali mensyukuri perkataannya tadi. Kalau Geonil sakit, siapa yang akan menjaganya?
“ANI!!!!! Aishhh apa yang kupikirkan?!” Sungje merutuki dirinya sendiri. “Ah.. lapar! Ingin kimchi buatan nenek!”

****

Sudah pukul 12 malam. Semakin sepi dunia luar. Mungkin hanya ada satu-dua kendaraan yang lewat.
Sungje menatap keluar kamar. Pintunya sengaja tidak ia tutup karena hujan lebat diluar membuatnya takut sendiri. Geonil menawari jasa menjaga Sungje dari luar. Tentu saja Sungje menyetujuinya. Asalkan tidak masuk ke kamar dan tidur bersamanya.
Kriuuukkk..
Perut Sungje berbunyi. Hanya satu yang ia ingini. Kimchi buatan sang nenek! Tapi bagaimana ia memintanya? Tidak mungkin ia pergi keluar sendiri. Yang ada nanti keluarganya marah, belum lagi omelan Geonil yang pastinya lebih panjang dari sabang sampai merauke. Bisa-bisa anaknya lahir baru selesai marah-marahnya.
“Biasanya juga tega!!” malaikat jahat di sebelah kiri Sungje berbisik.
“Jangan! Lelaki berhati cheonsa itu sedang tidur. Tidak mungkin kan kau membangunkannya?” malaikat baik di sebelah kanannya ikut berkicau.
“Biasanya juga tega! Memangnya baru sekali kau menyuruhnya?” malaikat jahat kembali memanasi.
“Kim Sungje, apa kau pernah memperlakukan orang dengan sebaik-baiknya? Sekaranglah saatnya..”
Sungje mengacak rambutnya. “KENAPA KALIAN HARUS ADA DUA?! DAN KALIAN JUGA BERBEDA PENDAPAT?! AKU KAN BINGUNG!!!” teriak Sungje tanpa sadar.
“Eunggghhhh..” terdengar lenguhan panjang dari depan. Geonil bangun!!
“Gawat!!!” Sungje kembali membaringkan dirinya di kasur. Lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Dua malaikat berbeda jenis itu tertawa cekikikan.
“Sialan! Bukannya membantu malah tertawa!!” ucap Sungje dalam hati.

*improvisasi gagal*

%%%

“Kenapa tidak bilang? Aku akan kesana kok!” kata Geonil sambil tersenyum. Walaupun terlihat lelah.
“Tidak usah kalau kau tidak bisa! Kau pasti lelah kan?” kata Sungje.
Geonil menggeleng. “Kau tunggu sini saja. Nenek pasti memaklumi cucunya yang suka kimchi kan?”
“Tapi…”
Geonil menghela nafas. “Apa? Kan kau yang selalu bilang ‘nanti anaknya ileran kalau tidak di turuti permintaannya’.”
“Jarak—“
“Tidak usah memikirkan jarak. Aku bisa berjalan saja. Kau menunggu disini saja.”
“Benar?” Sungje memasang raut wajah tak yakin.
Geonil mengangguk. “Keurom!”
“Kau disini saja. Jangan kemana-mana! Aktifkan terus HP-mu, kalau ada apa-apa telepon aku, ne?”

—- 4 jam kemudian —-

“Ini benar-benar buatan nenek!!” Sungje melahap kimchi buatan neneknya yang langsung dari sang nenek dengan penuh nafsu.
Geonil menghela nafas lega. Usahanya tidak sia-sia. Berjalan lebih dari satu jam pulang pergi, ditambah menunggu sang nenek membuat kimchi yang terkenal enak seantero keluarga dengan porsi yang banyak. Sebenarnya bahan pembuatan kimchi yang terkenal enak itu tinggal sedikit. Untungnya keluarga Sungje mempunyai tanah luas yang berisi (?) berbagai sayur dan buah-buahan. Kembali lelaki itu harus berjalan lima menit untuk mencapai kesana.
“Apa ada halangan?” tanya Sungje sambil terus melahap kimchi-nya. Kali ini di mangkuk yang ketiga.
“Err.. tidak.” Jawab Geonil.
“Bahan makanan tidak habis kan?”
Geonil tertawa kecil. “Kalau habis aku akan menjitakmu dengan cintaku!” *anjirrrr gombal gagal!! #digamparG
Sungje mendengus kesal. Lalu menjitak Geonil dengan sendok yang ada di tangannya. Geonil mengelus kepalanya kesakitan.
“Gombalanmu bikin sakit perut! Nih!! Lanjutkan makan! Aku mau tidur!” kata Sungje sambil melahap sisa kimchi di mangkuk ketiga.
Geonil mendengus. “Apa yang bisa dimakan?! Mangkuknya? Ckck..”

******

“Kau… kelas 2?” tanya Sungje heran ketika melihat Geonil melangkahkan kakinya ke kelas 2-1.
“Ne!” jawab Geonil dingin. “Baru tahu ya?”
Sungje mengangguk polos.
“Kelas 3-1 ada di atas kan? 10 menit lagi bel masuk!” kata Geonil membuyarkan lamunan Sungje. “Kalau kau merindukanku, tinggal ke atas. Tapi tunggu aku menyelesaikan ulangan biologiku!”
Sungje menggerutu geli di dalam hati. Lalu segera pergi dari hadapan si namja dingin bernama Park Geonil, bukan namja penuh perhatian Park Geonil.

&&&

“Dia benar-benar kelas 2?! Berarti dia adik kelasku? Dia lebih muda dariku? Aishhh jinjja!!” Sungje terus memikirkan kejadian tadi pagi.
Memang sudah hampir sebulan pernikahan itu berjalan. Dan Sungje tidak pernah sekalipun mau tahu urusan Geonil. Kelasnya, hobby-nya, makanan kesukaannya, minuman kesukannya. Yang ia tahu hanyalah Geonil menyukainya, dan pernah menyatakan cintanya dan ditolak mentah-mentah.
Angin sepoi-sepoi bertiup melewati balkon atas. Sungje menghela nafas. Membayangkan anak yang ada di kandungannya ikut pergi bersama angin kencang itu. Tapi kemudian ia sadar, tidak mungkin ia menyingkirkannya karena anak itu hadir karenanya. Karena kesalahannya.
“Jihyuk-ah, odiya?” gumam Sungje merindukan sosok itu. Lelaki tampan yang menjadi pujaannya. Yang sedang menempuh pendidikan kedokterannya di luar negeri.
“Aku akan kembali. Berjanjilah kau akan selalu ada untukku!” kata Jihyuk waktu itu. Sungje menatap langit nanar. Hanya jihyuk yang bisa memeluknya hangat di saat seperti ini.
“Disini dingin,” kata seseorang sambil memakaikan jaketnya di badan Sungje. “Kau bisa sakit. Anakmu juga ikut merasakan sakit. Tapi akulah yang lebih sakit karena melihat orang yang kusayangi sakit.”
Sungje menatap Geonil. Lalu kembali memalingkan muka. Wajah Geonil yang terlihat dingin tapi penuh perhatian itu membanjiri pikirannya.
“Aku ingat Jihyuk pernah bilang kalau ia akan kembali, dia juga memintaku untuk selalu ada untuknya..” kata Sungje sambil menerawang ke langit.
“Tapi akhirnya dia tidak kembali kan?” Geonil mengernyit kesal.
“Belum!”
“Tapi kau sudah milikku sekarang. Kau tidak boleh ada untuknya.”
Sungje menatap Geonil kesal. “Mwo?!”
“Kau ingat perjanjian kita? Jika aku mengakui anak di dalam kandunganmu itu sebagai anakku, maka kau akan belajar mencintaiku. Apa kau sudah lupa?”
Sungje diam.
“Karena kau sudah berjanji, aku akan selalu menagihnya. Janji itu utang, bukan?” tanya Geonil dingin. “Aku akan mencari pekerjaan nanti. Kau pulang sendiri, ya? Ini uang untuk membeli makan. Aku kan belum memasak!”
Sungje menghela nafas. Lalu menerima uang yang dipegang Geonil dan memasukkannya ke saku jas-nya. Setelah itu Geonil pergi. Bersama angin siang yang panas.

****

Malam hari, jam 12 malam…

Sungje menunggu dengan cemas. Dari tadi ia mencoba memejamkan mata. Tapi akhirnya ia membuka matanya lagi dan keluar kamar. Keadaan masih sama. Akhirnya ia memutuskan untuk menonton tv.
Tapi perhatiannya tidak terpusat pada layar tv yang menampilkan drama yang diulangi terus menerus. Perhatiannya lebih ke pintu jati berwarna cokelat.
“Aish.. aku mau kimchi yang dibuat Geonil..” tiba-tiba pikiran Sungje melayang jauh. Bawaan bayi selalu aneh-aneh.
“Geonil mana sih? Sudah jam 12 malam malah belum pulang!” ucap Sungje sambil mengerucutkan bibir.
“Ada yang kangen nih!” ucap seseorang. Sungje hampir terlonjak kaget mendengarnya. “Tadi kau mau apa? Kimchi buatan siapa?”
Geonil kembali menggoda Sungje. Penyakit lamanya kumat. Sungje kembali menelan ludah pahit mendengar godaan Geonil.
“Tadi mau kimchi buatan siapa? Tidak mungkin kan aku mendengar suara zombie?” goda Geonil lagi.
“Buatan nenek!!” jawab Sungje gondok.
“Eum? Kudengar.. dia mengucapkan nama.. G-Ge… nuguya?”
“GEONIL!! PUAS?!”
Geonil tersenyum manis sambil mengangguk senang. Rasa lelahnya setelah bekerja setelah pulang sekolah terbayar sudah.
“Kau menungguku?” tanya Geonil lembut. “Mau kimchi?”
“Buatanmu! Aku ingin masakanmu!” ucap Sungje jujur.
Geonil menghela nafas. “Tapi aku tidak punya bahan untuk membuatnya. Dan pasar juga… mana ada yang buka malam-malam begini?”
“Kau bisa mengambilnya di kebun milik keluargaku kan?”
“Kita sudah dewasa. Tidak bisa terus-terusan bergantung pada orang lain. Terutama orangtua.”
Sungje menghela nafas. “Lalu bagaimana?”
Geonil kembali menggoda Sungje. “Molla~ biarkan saja anaknya ileran!”
“AISHHHH GEONIIIIIIIIL!!!!!” Sungje menonjok Geonil dengan kepalan tangannya. Geonil tetap tertawa kecil sambil menangkis tinju-tinju yang dilontarkan Sungje.

****

Malam telah larut. Seperti tidak ada kehidupan. Geonil terus mengayuh sepeda bututnya untuk mencari pasar yang buka.
Kakinya berhenti mengayuh setelah melewati sebuah rumah besar berlantai 3 dengan gaya classic berwarna cokelat putih yang besar dan sangat mewah. Ingatannya kembali melayang ke umur 10 tahun. Ketika keluarganya masih lengkap. Ia mempunyai ayah, ibu dan seorang kakak perempuan. Hidup dalam buai kasih sayang yang melimpah, fasilitas yang amat sangat lengkap tanpa ada batasan dan kebahagiaan yang tidak terkira. Tapi itu semua sudah tidak berlaku sejak kecelakaan di umurnya yang baru saja menginjak 10 tahun. Kala itu kedua orangtuanya dan kakaknya ingin memberikan surprise untuk Geonil di suatu tempat. Mata Geonil ditutup. Ia tidak tahu apa-apa kecuali rasa gugup dan penasaran.
“Apakah kalian pikir ini tidak terlalu cepat? Kenapa kalian meninggalkanku dan kehidupan lamaku?” Geonil berbicara sendiri. Menggumam tepatnya.
Angin malam berhembus. Seakan bersimpati pada Geonil yang kehilangan keluarganya dengan mata tertutup di umur 10 tahun. Tapi itu lebih baik. Daripada melihat tubuh keluarganya terpanggang kena kobaran api dari mobil. Geonil satu-satunya korban selamat dalam ledakan mobil sedan mewah ayahnya itu.
Orang-orang bilang, ia anak ajaib. Anak yang sangat beruntung karena bisa selamat dari maut. Entah bagaimana caranya, padahal matanya ditutup. Tapi bagi Geonil kecil tidak. Ia merasa Tuhan sangat jahat padanya. Mengambil semua yang ia punya.
Geonil tersenyum lemah. Lalu mengayuh kembali sepedanya dan membuang gambar-gambar tentang masa kecilnya dari pikirannya. Geonil tidak mau memikirkannya lagi. Karena sekarang ia punya Sungje. Walaupun Sungje juga tidak berjanji untuk selamanya. Setidaknya ia berjanji akan mencintainya. Dan selalu ada..

***

“Aku pulang!!” teriak Geonil setelah pulang dari pasar pukul 3 pagi.
Tidak ada jawaban. Tentu saja karena Sungje tertidur pulas di sofa tanpa mematikan tv. Tidak ada acara lagi sekarang. Geonil menaruh sayur-sayuran yang dibelinya tadi ke dapur. Lalu mematikan tv di ruang keluarga.
“Ckckck.. Sudah dibelikan malah tidur!” Geonil tersenyum kecil. Kali ini ia benar-benar merasa beruntung. Merasa Tuhan adil padanya.
Geonil mengangkat tubuh besar Sungje ke kamar. Lalu menyelimutinya sampai menutupi badannya. Kemudian ia tersenyum. Dan kembali mensyukuri nikmat Tuhan yang paling indah ini.
“Saranghae~” ucap Geonil. Sangat tulus dari hatinya.

***

Sungje terbangun lebih dulu daripada Geonil. Ia berjalan keluar kamar dan langsung melihat Geonil tertidur di sofa seperti biasa. Memeluk dirinya sendiri karena tidak ada selimut.
“Ah~ what the hell aku bangun jam 8!” Sungje menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan mendekati Geonil yang sedang tertidur pulas.
“Kau pasti lelah! Iya kan?” Sungje menyibak rambut Geonil yang menutupi wajahnya. “Tampan~”
Hup!!
Sungje menutup mulutnya. Tidak percaya kalau ia mengatakannya! Mengatakan bahwa Geonil tampan, memang tampan, dan amat sangat tampan dilihat dari dekat. Sungje segera berlari ke kamar. Menutup wajahnya yang memerah karena malu dan takut akan kejahilan Geonil yang diluar batas.
Tapi untungnya Geonil tidak membalas apa-apa. Ia masih tidur. Sangat pulas. Akhirnya Sungje memberanikan diri keluar kamar.
Perhatiannya langsung tertuju pada tas yang ada tak jauh dari sofa. Ia membuka tas hitam besar itu. Di dalamnya ada handphone, baju, handuk, buku, dan album foto. Sungje mengambil album foto itu pelan-pelan. Lalu membukanya pelan-pelan pula. Takut ketahuan.
Foto pertama.. Geonil kecil sedang tersenyum
Foto kedua… Geonil kecil lagi, sedang tersenyum sambil melambaikan tangan pada kamera
Foto ketiga.. Geonil mengerucutkan bibirnya. Sangat manis! Terlihat sangat kekanakan. tidak sepertinya sekarang, dingin dan misterius.
Foto keempat.. Geonil bersama seorang perempuan kecil, tapi umurnya sepertinya lebih tua dari Geonil.
Foto kelima.. Geonil sedang berenang. Begitupun sampai foto ke-limabelas. Foto-foto Geonil waktu kecil sedang berenang. Ada yang bersama gadis kecil itu, lalu sedang memeluk ibunya, membawa piala dengan keadaan badan yang masih basah. Tapi satu yang menjadi pusat perhatiannya. Foto Geonil kecil dengan seorang anak laki-laki kecil, bergigi kelinci dan berambut panjang. Berkulit putih dengan badan yang berisi.
“Ck! Seperti mengenalnya…” gumam Sungje. “Ngapain dia bawa album foto ini? Isinya foto kecil semua!”
Saat Sungje sedang memikirkan anak kecil yang berada di samping Geonil kecil, album foto itu terangkat. Diangkat tepatnya.
“G-Geonil…”
“Siapa yang menyuruhmu mengacak tasku?” Geonil menatap Sungje tajam. Sangat tajam. Membuat Sungje bergidik ngeri.
“A-Aku…”
Geonil langsung membawa album foto itu ke belakang. Sungje tidak mengikutinya. Ia tidak berani menampakkan dirinya di depan Geonil yang sedang marah.
Kali ini Geonil benar-benar misterius. Tidak seperti waktu kecil yang terlihat selalu tersenyum, bahagia dan tertawa. Geonil membuatnya penasaran. Sangat penasaran!!

TBC

otte?? leave some comment yaa !!
adn follow my twitter @geooniil2 ^^

4 responses

  1. Sooyeon Choi

    Daebak pokoknya, aku senyum senyum sendiri bacanya!! Seru. Lanjut ya😀 fighting ^.^9

    2 Agustus 2012 pukul 12:14

  2. DewiAriyani

    Selalu aja nih cerita bikin penasaran…hehehehe
    Kapan ya sungje bakalan cinta ama geonil…
    Suka banget pas geonil lagi godain sungje..lucu soalx ^^
    Pokokx daebak deh
    Lanjutannya jgn lama2 ya thor..
    Hwaiting.!!

    7 Agustus 2012 pukul 08:57

  3. Aaaaaah tuhaaaaan tidakkk tbc tbc tbc what tbc?! Andwaeeeeee cepat berikan kami ceritan lanjutannya! Jebal jebal cepat update!! Ooooooh😦

    9 Agustus 2012 pukul 21:35

  4. DAEBAAAAKKK!!!
    part selanjutx cptn d update ya!
    aq penasaran bgt nih sama end nya!
    si sung je melahirkan pa nggak akhirx… wkwkwkwk … xD

    13 Desember 2012 pukul 16:34

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s