fanfiction for our soul

[FF/YAOI/NC/KwangMin/ONESHOOT] I Love You A Thousand Times


Title : I Love You A Thousand Times
Genre : shonen-ai, YAOI, NC, comedy, romance,  friendship
Length : oneshoot
Cast :
–    Lee Kwang Haeng / Rascal Kwanghaeng *CO-ED school / SPEED*
–    Choi Sung Min / Solid Sungmin *CO-ED school / SPEED*
–    Other Co-Ed boys members~
A/N : kyaaaaaaaaaaaaaaa I’m back !!!!!! #tebarmenyan
gue balik lagi !! author gila yang jarang ngeshare ff~ jujur, pikiran gue kebanyakan straight sekarang u,u

adakah yang merindukan diriku??? #digampar semoga ada !! ini ff co-ed school yaoi pertama gue !! jadi mohon maaf kalo ada sedikit kesalahan di ff ini XDD *sedikit? banyak kaliii!!
Okay, lets read~!!

***

TEEEEETTTTTTTTTTTTTT
Anak-anak terlonjak kaget sekaligus senang karena akhirnya sekolah berakhir. Murid-murid dari SMA khusus laki-laki itu langsung berlari keluar kelas.
Lee Kwanghaeng, salah satu murid dari SMA itu dengan cepat menghilang dari pandangan. Berlari ke gedung di samping, gedung SMP yang se-yayasan dengan SMA-nya.
“Hai Sungmin!!” sapa Kwanghaeng ketika seorang lelaki cantik berpakaian khas SMP keluar dari gerbang.
“Hai juga, Kwang hyung!!” balas lelaki cantik itu sambil tersenyum manis.
“Kau pasti lelah.” Tebak Kwanghaeng, sekedar untuk berbasa basi.
“Hmm.. Nee.. Hyung juga kan?”
Kwanghaeng mengangguk. Lalu mengajak lelaki cantik bernama Sungmin itu keluar gedung sekolah.
Kwanghaeng sudah lama menyukai Sungmin. Hanya saja ia tidak berani menyatakannya. Perbedaan umur Kwanghaeng dan Sungmin yang terpaut 5 tahun lebih membuatnya ragu. Sekarang Sungmin baru kelas 1 SMP. Masih terlalu kecil untuk dipacari. Makanya Kwanghaeng hanya memendam perasaannya. Kasus yang terlalu ‘basi’ dan sering di kalangan anak labil seumurannya.
“Tadi belajar apa?” tanya Kwanghaeng lagi. Maksudnya lagi-lagi hanya berbasa basi.
“biologi, fisika, olahraga, dan bahasa. Memang kenapa?” jawab Sungmin, yang akhirnya juga melempar pertanyaan lagi.
“Gwaenchana. Hanya bertanya. Memang tidak boleh?” Kwanghaeng mengedipkan sebelah matanya.
“Sendirinya hyung belajar apa?” tanya Sungmin pula.
“emm.. apa ya? Hampir sama. Tapi ga ada biologinya. Hehe..”
“Ohh..”
Kwanghaeng mengambil motornya dari parkiran. Lalu menstarter motornya dan memanaskannya sebentar.
“Naik!” kata Kwanghaeng pada Sungmin.
“Emm.. nee..” Sungmin menaiki motor gede milik Kwanghaeng.

***

“Makasih ya, hyung udah nganterin.” Ucap Sungmin sambil tersenyum manis.
“Slow aja kali. Iya sama-sama. Hati-hati ya, Sungmin!” kata Kwanghaeng.
“Ah hyung! Tinggal masuk ke rumah aja kok pake ucapan hati-hati..”
“Nanti kalau Sungmin jatuh di kolam, gimana?”
“Cuma kolam ikan kan? Jatuh juga lecet dikit.”
“Kan sakit. Ga pernah kan nyemplung ke kolam ikan? Malu tahu sama ikannya!! Masa manusia ga bisa bedain kolam renang sama kolam ikan?”
Sungmin tertawa geli menanggapi candaan Kwanghaeng yang menurutnya lucu. Dari dulu malah. Makanya Sungmin lebih suka main bersama Kwanghaeng daripada yang lain.
“Besok mau berangkat bareng gak?” tanya Kwanghaeng.
“Kalo nggak ngerepotin sih.. yaa…” Sungmin mengangguk. “Ya udah.”
“Oke deh!! Bye, Sungmin!! Jangan lupa liat jalan! Nanti malu sama ikan!”
Sungmin tersenyum. Lalu melambaikan tangannya dan masuk ke dalam rumah. Masih dengan perasaan berbunga-bunga.

***

“Masih ngejar sepupu gue?” tanya seseorang ketika Kwanghaeng menunggu di depan rumah Sungmin.
“Eh Noori! Sejak kapan lo dateng?” tanya Kwanghaeng balik pada Noori, sahabat kecilnya.
“Tadi malem. Mumpung libur. Bosen di asrama. Mampir deh ke rumah om Choi!” jawab Noori. “Eh, lo masih suka tuh main sama Sungmin? Ga malu lagi?”
Kwanghaeng mendengus kesal. “Gue udah SMA, dia SMP. Buat apa gue malu? Cuma beda dikit!”
Ya, Kwanghaeng dulu malu dekat dengan Sungmin yang umurnya beda jauh. Waktu itu Sungmin masih SD, sedangkan Kwanghaeng sudah SMP.
“Noori hyung, ngapain disini?” tanya Sungmin kesal melihat sepupunya ada di dekat Kwanghaeng.
“Oke, gue mau nganter Sungmin ke sekolah. Bye!!” Kwanghaeng langsung menggas motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Reflek Sungmin berteriak sambil memeluk pinggang Kwanghaeng.
“Ckck.. cari kesempatan aja tu anak!” umpat Noori sambil menggelengkan kepala melihat sahabat kecil dan sepupunya itu berangkat bersama.

***

“Hai Sungmin!! Udah pulang?” tanya Kwanghaeng ketika Sungmin lewat di depannya begitu saja.
“Eeeeh Kwang hyung! Sudahlah!! Kalau belum kenapa aku disini?” tanya Sungmin balik.
Kwanghaeng menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Begini nih rasanya jatuh cinta! Begitu pikir Kwanghaeng.
“Mau pulang?”
Sungmin mengangguk. “Iya. Udah ngantuk!”
“Ya udah. Sungmin tunggu sini, aku jemput motor dulu ya!”
Beberapa menit kemudian, Kwanghaeng kembali ke hadapan Sungmin. Sungmin hendak naik. Tapi Kwanghaeng mencengkram tangannya dan mendekatkan wajahnya. Sungmin hampir berteriak. Tapi tidak bisa menolak juga. Ia malah menutup matanya.
“Mau jalan-jalan gak? Malam minggu. Sayang kalau tidak dimanfaatkan!!” kata Kwanghaeng sambil menaikkan kedua alisnya.
Fiuhhh~
Sungmin bernafas lega karena ternyata Kwanghaeng tidak berniat menciumnya. Ia pun segera naik ke motor gede Kwanghaeng yang harganya ratusan juta itu.
“Mau gak? Kan belum dijawab tadi!” tuntut Kwanghaeng setengah memaksa.
“I-iya deh.” jawab Sungmin akhirnya.
Kwanghaeng melepas jaketnya. Lalu memberikannya pada Sungmin.
“Pakai! Malam ini dingin. Aku mau ngebut!” kata Kwanghaeng.
Sungmin menerima jaket Kwanghaeng. Setelah memastikan Sungmin memakainya, Kwanghaeng melajukan motornya perlahan. Makin lama makin kencang. Seperti debaran di hatinya.
“Kwang hyung, jangan ngebut banget dong!!” pinta Sungmin setengah panik.
Kwanghaeng tentu tidak mendengarnya karena ia memacu motornya dengan kecepatan tinggi, ditambah melawan arus angin. Jadilah suara Sungmin yang tergolong kecil itu terbawa angin tanpa terdengar oleh Kwanghaeng yang memakai helm.
Sungmin mengeratkan pelukannya di pinggang Kwanghaeng. Ia menutup matanya. Takut akan sesuatu yang terjadi. Ia benar-benar panik dan menyesal. Kenapa mau menerima ajakan Kwanghaeng begitu saja? Padahal Kwanghaeng itu kalau menyetir.. lebih dari kesetanan!
Makin lama motor itu berkurang kecepatannya. Berkurang juga erat pelukan Sungmin pada pinggang Kwanghaeng.
Ngeeeeeek~ (?)
Kwanghaeng mendengus kesal. Motornya berhenti tepat di tepi jalan. Kwanghaeng membuka helmnya. Lalu turun dari motor dan memeriksa bensinnya. Sungmin ikut turun tanpa melakukan apapun.
“Aishhhhh jinjja!! Kenapa harus hari ini?!! Saekki!!” Kwanghaeng menendang motor gedenya itu tanpa perasaan. Benar-benar kesal ia sekarang.
“K-kenapa hyung?” tanya Sungmin hati-hati.
Suasana hati Kwanghaeng perlahan membaik. Ia menatap Sungmin dengan tatapan madesu-nya sambil menunjuk panah bensinnya.
“Abis ya hyung?” kata Sungmin dengan nada sedih. Padahal dalam hati ia bersyukur, karena Kwanghaeng pasti akan lebih pelan-pelan lagi menjalankan motornya.
“Cari tukang bensin dimana ya? Ishhhh!!” Kwanghaeng mengacak rambutnya yang sudah berantakan.
Sungmin mengamit tangan Kwanghaeng. Berusaha menenangkannya. Kelemahan Sungmin dari dulu itu takut dengan ekspresi orang marah. Apalagi di dekatnya. Bisa-bisa dia loncat ke jurang saking ngerinya.
Kwanghaeng membalas mengamit tangan Sungmin. Lalu tersenyum sambil mengacak rambutnya.
“Kita dorong? Ah.. aku aja deh. Aku nggak mau bikin Sungmin capek.” Kwanghaeng menarik standar. Lalu mendorongnya pelan-pelan. Dibantu Sungmin di belakang.
“Sungmin, nggak usah! Biar aku aja..” kata Kwanghaeng menyuruh Sungmin untuk tidak mendorong motornya.
“Emang kenapa? Kan aku tadi naik juga.”
“Ya udah deh. Kalo capek bilang ya..”

***

Setelah motor terisi bensin, Kwanghaeng mengajak Sungmin ke danau. Membeli es kelapa muda langganannya dari dulu.
“Enak kan?” tanya Kwanghaeng bangga.
Sungmin hanya mengangguk karena mulutnya penuh kelapa dan airnya. Kwanghaeng tertawa kecil.
“Sungmin belum pernah kesini?” tanya Kwanghaeng, berbasa-basi seperti biasa.
Sungmin menggeleng. Mulutnya masih penuh.
“Jadi ini pertama kali?”
Sungmin mengangguk lagi. Sebenarnya ia enggan menjawab. Karena Kwanghaeng basa basinya terlalu—ahh.. membuatnya pusing pokoknya!
“Sungmin pernah pacaran?”
Sungmin menggeleng. “Nggak.”
“Kenapa? Sungmin kan…”
“Masih gantengan hyung kemana-mana! Harusnya hyung yang punya pacar! Hyung juga udah SMA.”
Kwanghaeng blushing. Hatinya berbunga-bunga. Dunia di sekelilingnya berubah drastis. Bukannya malam yang penuh bintang dan penuh masalah, tapi pagi hari di musim semi.
“Hyung kenapa belum pacaran?” tanya Sungmin, ganti berbasa-basi.
“Karena…” Kwanghaeng menggantungkan perkataannya. Lalu menatap Sungmin dengan tatapan nakalnya seperti biasa. “Aku mencintai seseorang. Dan dia… masih kecil dan.. sama sekali belum mengerti dunia dewasa.”
Sungmin mengangguk. Dalam hati ia bertanya-tanya, siapa orang itu? Kenapa seberuntung itu?
“Tapi.. hyung udah menyatakan cinta?”
Kwanghaeng menggeleng. “Nggak berani. Dianya masih polos. Aku suka sama kepolosannya. Takutnya kalau aku pacarin.. ilang polosnya!”
Sungmin mengangguk lagi. Kali ini wajahnya ditekuk. Kwanghaeng sebenarnya menyadarinya. Hanya saja ia tidak mau menarik kesimpulan.
“Aku juga suka sama orang. Dia tampan, pintar, jago main basket, jago nyanyi, jago dance, baik…”
Giliran Kwanghaeng yang penasaran. Siapa orang itu? Kenapa bisa seberuntung itu mendapatkan hati Sungmin?!
“Sungmin, mau jadi pacarku nggak?” kata Kwanghaeng cepat.
Sungmin langsung tersedak mendengar ucapan Kwanghaeng. Dengan panik Kwanghaeng mencari cara untuk menghentikan sedakan (?) Sungmin.
“Sungmin nggak papa kan?” tanya Kwanghaeng panik.
Sungmin mengangguk. “Hyung sih ngomongnya pas aku lagi makan! Kan kaget~”
Kwanghaeng mengerucutkan bibir. “Kan aku takut keduluan orang. Makanya aku langsung nyatain.”
Sungmin menghela nafas. Speechless. Entahlah ia tidak tahu apa yang harus dijawabnya.
“Mau nggak? Keburu aku diambil orang!” kata Kwanghaeng, super duper ge-er.
“Iya deh!” jawab Sungmin langsung sambil menunduk. Menyembunyikan wajah memerahnya.
“Jawabnya yang ikhlas dong! Masa Cuma ‘iya deh’. Maksa banget!!”
Sungmin mengernyit kesal. “Iya, aku juga mau jadi pacar hyung!!”
“Masih maksa nadanya!”
“aku mau jadi pacar hyung!!”
“Apa??”
“AKU MAU JADI PACAR HYUNG!! PUAS?!” Sungmin berteriak. Membuat perhatian orang-orang tertuju pada mereka. Sungmin panik. Sedangkan Kwanghaeng tetap stay cool. Ia malah mengorek-ngorek buah kelapa yang masih ada.
“Ada syaratnya!!” kata Kwanghaeng setelah menelan air kelapa yang terakhir.
“Apa?”
“Panggil aku chagi!”
“Ani!”
Kwanghaeng menatap Sungmin marah. Hanya untuk menjahilinya, tentu saja.
“Wae??”
“Aku lebih suka memanggil hyung, karena… kita lebih dekat dengan panggilan itu.”
Kwanghaeng mengangguk senang. Lalu mengelus rambut Sungmin sayang. Setelah itu mengecup keningnya.
“Saranghae, Sungmin sayang…”

***

— Dua minggu kemudian —

Sungmin tersenyum senang setelah keluar dari kelas. Ia membawa surat pemberitahuan tentang camp gabungan dari SMP dan SMA Co-Ed. Seperti biasa ia menunggu di depan pintu gerbang. Menunggu kekasih barunya datang.
“Hai sungmin!!” kata Kwanghaeng sambil tersenyum—terpaksa.
“Hyung…”
“Kenapa Sungmin?”
Sungmin menatap Kwanghaeng dengan wajah polos dan penuh perhatiannya. Lalu menggenggam tangan Kwanghaeng yang dingin.
“Hyung sakit?”
Kwanghaeng menggeleng. “Nggak..”
“Terus?”

*

Sungmin tertawa kecil mendengar alasan Kwanghaeng tidak semangat hari itu. Kwanghaeng menceritakannya di tempat pertama mereka menyatakan cinta.
“Kok kamu ketawa? Seneng ya liat pacarnya menderita!” Kwanghaeng memasang wajah cemberut.
Sungmin menghentikan tawanya. Lalu menatap Kwanghaeng dengan mata penuh rasa kecewa. “Seneng gimana? Nanti aku disana sama siapa? Masa sendirian?”
“Kamu ikut?”
Sungmin mengangguk.
“Yaudah. Kalo gitu aku ikut!!” ucap Kwanghaeng langsung.
“Jinjja?!!”
Kwanghaeng mengangguk. Lalu Sungmin tersenyum senang sambil bersorak girang. Kwanghaeng menyukai saat ini. Saat Sungmin tersenyum karenanya.

***

“Gila!! Ini tenda apa rumah? Gede banget!!” tanya Kangho, teman Kwanghaeng, takjub.
Kwnghaeng tersenyum sambil menatap Sungmin penuh cinta.
“Gila!! Gue ikut ya?” pinta Yoosung sambil menatap heran ke tenda yang dibawa Kwanghaeng.
“NGGAK!! Enak aja ikut-ikut!” tolak Kwanghaeng mentah-mentah.
“Sejak kapan lo jahat sama gue, Kwang?”
Kwanghaeng merangkul Sungmin di sebelahnya. “Sejak gue jadiin Sungmin pacar gue! Mau apa lo?!”
Yoosung dan Kangho mendengus kesal.
“Terus gue sama siapa?” tanya Kangho bingung.
“Tuh sama si Yoosung aja! Apa susahnya sih?” jawab Kwanghaeng disambut sambitan topi dari Yoosung.
“Ogah gue sama orgil kayak dia!” kata Yoosung. Lalu berjalan mencari tempat untuk membuat tenda.
“Oke. Silakan berduaan!!” Kangho melambaikan tangan. Lalu ikut berjalan ke arah Yoosung.

***

“Kenapa temen hyung ga disini aja? Kan biar rame. Lagipula.. ini gede banget!” kata Sungmin setelah duduk di dalam tenda besar Kwanghaeng.
“Rame sih ada mereka. Tapi.. NGEGANGGU!! Berisik tau!!” kata Kwanghaeng.
“Tapi kan seru..”
“Seru apanya? Enakan berdua kayak gini!” Kwanghaeng memeluk tubuh Sungmin dari belakang. Lalu menyandarkan kepalanya ke dadanya.
“Kamu denger gak?”
“Denger apa?” tanya Sungmin bingung.
“Denger detak jantung aku. Bisa kamu sembuhin gak?”
Sungmin tersenyum malu di dada Kwanghaeng. Wajahnya memerah. Hatinya berbunga-bunga. Dunia di sekelilingnya benar-benar indah sekarang.
“Eh, pacaran mulu!” Kangho membuka tenda Kwanghaeng tanpa permisi. “Cari kayu bakar buat api unggun nanti!”
“Iya ntar gue cari. Lo duluan aja! Ganggu aja!” kata Kwanghaeng kesal.
Kangho tersenyum bodoh. Lalu kembali menutup pintu tenda Kwanghaeng dan Sungmin. Tapi..
“Udah disuruh!! Cepetan!!” kata Kangho lagi.
“Ah!! Ganggu aja lo!” Kwanghaeng akhirnya menarik tangan Sungmin paksa. Mengajaknya mencari kayu bakar.
“Ehhhh kamu ngapain bawa anak SMP nyari ke hutan?” tanya Han sonsaengnim, guru Kwanghaeng.
“Daripada saya bawa anak tuyul mendingan bawa anak SMP kan saem? Tapi dijamin aman deh!!” Kwanghaeng memberi jaminan.
“Ya sudah. Cari yang banyak! Kalau bisa buat sampe minggu depan.” Kata Han sonsaengnim lagi.
“Bukannya kita lusa pulang ya? Buat apa banyak-banyak? Bapak ngarang bebas deh!” Kwanghaeng langsung membawa Sungmin kabur, karena Han sonsaengnim sering menyambit muridnya yang tidak patuh dengan sepatu.

***

“Hyung baru pertama kali ikut camping ya?” tanya Sungmin polos setelah anak-anak santap malam. Kwanghaeng dan Sungmin sama-sama membawa kopi cappucino. Mereka menyeduhnya dengan sisa air yang teman-temannya buat.
“Ne.. dan itu semua karena kau!” Kwanghaeng mengacak rambut Sungmin gemas. Lalu mengecup pipinya kilat. Tapi walaupun begitu, wajah Sungmin tetap menampakkan rona merahnya.
Sungmin menyandarkan kepalanya di lengan Kwanghaeng. Lalu mencari tangannya di tengah kegelapan. Setelah itu menggenggamnya penuh kehangatan.
“Tangan hyung hangat~” ucap Sungmin, polos!
“Baru sadar, eoh?” tanya Kwanghaeng jahil. “Lebih hangat mana dengan ini.” Kwanghaeng menyambar bibir tipis Sungmin. Melumatnya lembut tanpa mendapat perlawanan. Sungmin tidak tahu harus berbuat apa. Nafasnya tercekat. Oksigennya hampir habis.
“Hmmmmppppphhhhh…” desah Sungmin di tengah ciuman mereka.
Kwanghaeng memperdalam ciumannya. Ia menekan kepala Sungmin dan mendekatkan tubuhnya ke tubuh kecil Sungmin.
“hosh.. hosh.. hosh…” Sungmin langsung mengambil nafas dalam-dalam setelah ciuman itu dilepaskan. Kwanghaeng puas. Hasratnya terpenuhi.
“Hyung…” Sungmin menatap Kwanghaeng. Tatapannya tidak bisa di artikan. “Hyung…”
Kwanghaeng terdiam. Baru datang rasa itu. Rasa menyesal. Itu ciuman pertama Sungmin! Bisa dipastikan Sungmin tidak bisa terima.
“Ya!! Cepat tidur!” teriak salah satu guru SMP. Kwanghaeng menatap sekeliling. Tidak ada makhluk lain yang terlihat kecuali dua guru laki-laki yang sedang berjaga malam.
“Tidur yuk. Udah malem.” Kwanghaeng mengajak Sungmin ke dalam.

***

Sungmin terus bergerak mencari tempat untuk tidur yang nyaman. Ia tidak bisa tidur dari tadi. Entah apa penyebabnya. Apakah karena kopi cappucino yang tadi ia minum bersama Kwanghaeng atau… ciumannya dengan Kwanghaeng?
Sungmin terus memegangi bibir merahnya. Tidak percaya kalau Kwanghaeng menciumnya! Lama!! Kalau ia boleh jujur, ia ingin melakukannya sekali lagi.
“Kok belum tidur?” tanya Kwanghaeng lembut dengan suara bergetar.
“Nggak bisa tidur.” Jawab Sungmin sambil membalikkan badan menghadap Kwanghaeng.
“Mau kupeluk eoh?” tanya Kwanghaeng menggoda. Wajah Sungmin memerah lagi.
“Hyung…” Sungmin memanggil Kwanghaeng. “Aku mau ciuman lagi..”
DUAGHHHHHHHHH!!!
Kwanghaeng seperti ditonjok. Matanya 100% melebar. Rasa kantuknya hilang ditelan pernyataan Sungmin.
“Ciuman itu enak. Pengen lagi..” kata Sungmin polos.
Kwanghaeng tersenyum. Lalu menatap Sungmin lekat-lekat. Ia mengelus pipi mulus Sungmin.
“Kita lebih aja. Mau?” tanya Kwanghaeng.
Sungmin tidak mengerti. Terlalu polos bagi anak umur 14 tahun untuk mengerti itu. Tapi Sungmin penasaran. Lagipula ia percaya Kwanghaeng tidak akan melakukan yang terburuk untuknya.
Perlahan Kwanghaeng mendekatkan wajahnya ke wajah Sungmin. Lalu meraih bibir Sungmin dengan bibirnya. Awalnya memang lembut. Sangat lembut. Sampai-sampai Sungmin terbuai dan ikut menggerakkan bibirnya. Ia membuka bibirnya sedikit. Lalu dirasakannya sebuah benda berliur mengelilingi rongga mulutnya.
“mmmpphhhhhhh.. ckck… mpphhhh…” desah mereka berdua pelan.
Perlahan Kwanghaeng bangun dari posisinya tanpa melepas ikatan bibir mereka. Sungmin merasakan bagian bawahnya mulai tegak sempurna. Sungmin mengeliat. Ingin ‘membenarkan’ posisi junior kecilnya.
Ciuman Kwanghaeng perlahan turun ke lehernya. Sungmin terkikik geli ketika Kwanghaeng menghisapnya pelan. Kemudian hisapannya tambah dalam dan meninggalkan bekas kemerahan. Sungmin meringis pelan.
“Tenanglah. Tidak akan lama.” Kata Kwanghaeng lembut. Lalu membuka satu persatu kancing kemeja Sungmin.
Sungmin sempat bingung. Tapi akhirnya ia menerima saja. Apalagi setelah Kwanghaeng menghisap putingnya. Langsung terasa nikmat sampai seluruh badan.
“Ahhhh…” desah Sungmin tanpa sadar. Kwanghaeng tersenyum. Lalu kembali melumat dan menghisap puting kanan Sungmin. Tangan kirinya bertugas memelintir puting Sungmin satu lagi. Kembali Sungmin merasa darahnya berdesir dari atas kepala sampai ujung kaki.
“Hyung-ahhhhhhh… shhhhhh… mpphhhhhhh…” Sungmin menutup rapat pahanya. Tapi senjatanya yang terbungkus celana jeans itu menyembul. Kwanghaeng pun juga.
Kwanghaeng melepas celananya yang sesak. Lalu memperlihatkan junior besar nan tegaknya pada Sungmin. Tanpa disuruh Sungmin langsung bangun dan memijat pelan junior super Kwanghaeng.
“Kyeoptaa~” ucap Sungmin. Lalu memainkannya dengan jarinya sambil tertawa.
“Ya!! Hisaphhhh… ahhhkuuuuu… ahhh…” belum sempat Kwanghaeng menyelesaikan kalimatnya, seorang guru datang dan berteriak dari luar. Bayangannya tercetak di dalam tenda.
“Kalian sudah tidur?” tanya guru itu. Kwanghaeng langsung menaikkan selimut dan menundukkan paksa kepala Sungmin dan menutupi tubuh keduanya dengan selimut. Takut ketahuan.
“Oh.. ternyata sudah!” ucap guru itu akhirnya. Lalu kembali ke tempatnya berjaga.
Kwanghaeng dan Sungmin sama-sama menghela nafas lega. Mereka saling bertatapan. Kwanghaeng lalu tertawa kecil sambil mencubit pipi Sungmin.
“Mau lanjut lagi?” tanya Kwanghaeng menawarkan.
Sungmin mengangguk.
“Tapi jangan bersuara ya..” bisik Kwanghaeng lembut. Lalu kembali membuka selimut yang menutupi tubuh mereka berdua dan melanjutkan permainan.
Sungmin mulai memainkan junior besar Kwanghaeng di mulutnya. Ia menyedotnya kuat dan menggigit pelan ujung juniornya. Kwanghaeng hanya bisa menggigit bibir bawah sambil meremas selimut untuk mengekspresikan rasa nikmatnya.
“Hyunghhh.. mau keluar!!” kata Kwanghaeng pelan sambil menahan desahannya.
Crooot~~
Cairan sperma dari junior Kwanghaeng menyembur memenuhi mulut Sungmin. Sungmin langsung memuntahkannya karena kaget.
“Mianhae..” kata Kwanghaeng sambil mengelus tengkuk Sungmin.
“Gwaenchana…” balas Sungmin lemas.
“Adikmu mau..” Kwanghaeng mengelus junior kecil Sungmin yang masih berbalut kain.
Sungmin tersenyum. Hampir saja ia mengeluarkan suara kalau Kwanghaeng tidak menempelkan jari telunjuknya ke bibir Sungmin. Kwanghaeng kembali mencicipi bibir Sungmin. Sambil berciuman Kwanghaeng membuka pakaian yang melekat di tubuh Sungmin. Sungmin juga membantu Kwanghaeng membuka pakaiannya. Tanpa mereka sadari mereka sudah benar-benar bersih. Tidak ada sehelai benangpun melekat di tubuh mereka. Kini posisi mereka seperti di awal. Kwanghaeng on top.
Kwanghaeng menggenggam junior Sungmin yang lebih kecil darinya. Lalu mengocoknya pelan.
“Ahhh.. ahhh hyunggggghhhhh… shhhhhhh….” Kwanghaeng sudah tidak mempedulikan lagi desahan Sungmin yang terdengar keras itu. Baginya suara desahan Sungmin itu manis.
Kwanghaeng terus memainkan junior kecil Sungmin di tangannya. Ketika junior Sungmin mulai berkedut, Kwanghaeng memasukkan juniornya ke mulutnya.
“Hyungggg… mauu pipisssssshhhhhhhh… ahhhhhhh…”
Sungmin mencoba menahan rasa ingin ‘pipis’nya itu. Wajahnya pucat. Tapi Kwanghaeng tidak berkomentar dan melepaskan juniornya dari mulutnya.
“Hyunggggg akuuuuuu mau pipisssshhhhhh ahhhhhhhhh…” tanpa bisa ditahan, Sungmin mengeluarkan cairannya. Tubuhnya menegang. Hatinya lega. Raut wajahnya juga ikut lega. Kwanghaeng terus meminum cairan sperma yang di keluarkan Sungmin.
“Hyung minum…” Sungmin menatap tak yakin ke arah Kwanghaeng yang sepertinya masih mencari sisa-sisa cairan keluaran Sungmin di sekitar mulutnya.
“Itu sperma. Cairan laki-laki. Bukan air kencing. Kalau kau merasa mau pipis, berarti kau akan orgasme.” Kwanghaeng tersenyum lembut. “Mau ke bagian inti?”
Sungmin mengangguk. Lalu membenarkan posisinya dan melebarkan pahanya. Entah ia dapat ide darimana untuk melebarkan paha. Kwanghaeng pun tidak bisa bersabar. Ia langsung memasukkan juniornya ke hole Sungmin tanpa pemanasan.
“Hyuunnngggggggg sakiiiiiiiiittttttt!!!!!” teriak Sungmin tanpa sadar. Kwanghaeng langsung menutup mulut Sungmin paksa. Langkah seseorang terdengar mendekat. Kwanghaeng kembali menarik selimut menutupi tubuh telanjang mereka berdua.
“Sepertinya mengigau!” lapor guru yang mengamati tenda Kwanghaeng. Lalu kembali berjaga di tempat guru satunya lagi berjaga.
“Mian hyung..” Sungmin memasang wajah bersalah.
“Gwaenchana. Aku juga salah.” Kwanghaeng mengelus pipi Sungmin lagi. Kembali ia mengarahkan bibirnya ke bibir Sungmin.
Sungmin terbawa suasana. Ia membalas pagutan bibir Kwanghaeng. Mereka beradu lidah dan bertukar saliva. Beberapa liur ada yang keluar dari bibir keduanya.
“errghhhhhhh…” Sungmin mengerang pelan ketika bibirnya digigit pelan oleh Kwanghaeng untuk menghentikan ciumannya. Kwanghaeng kembali memberikan bekas cium di leher Sungmin sambil memelintir putingnya lagi. Lalu kembali mencoba menerobos hole Sungmin yang belum pernah dimasuki oleh siapapun.
“Shhhhh…” rintih Sungmin pelan untuk menjaga suasana.
Kwanghaeng mencoba memasukkan junior besarnya ke lubang Sungmin. Ia menggerakkan pinggulnya.
“Ahhh… ahhhh… hyuuuungggggg-ahhhhhhh…”
“Waittttt….” Kwanghaeng akhirnya bisa memasukkan junior besarnya ke lubang Sungmin selang 7 menit. Ia beristirahat sejenak. Kembali mencicipi bibir Sungmin. Menghisap bibir atasnya kemudian menggigit bibir bawahnya.
Kwanghaeng menaikkan tubuhnya perlahan. Lalu mempercepat genjotannya sampai membuat tubuh Sungmin ikut bergetar. Tangan Kwanghaeng bertumpu pada pundak Sungmin.
“ahhhhhh shhhhhhhhhhhh… mmmppppphhhhhhh….. hhhhhhhhhaahhhhhhh…” Sungmin terus mendesah dengan suara kecil yang hanya terdengar di kupingnya dan juga kuping Kwanghaeng. Ia tidak tahan menahan rasa nikmat ini.
Croooootttt~
Tanpa pemberitahuan lebih dahulu junior Sungmin dan Kwanghaeng mengeluarkan cairan di waktu yang sama. Sungmin merasa kehangatan di dalam dirinya. Kwanghaeng lalu ambruk di tubuhnya. Tubuhnya yang basah penuh keringat terasa sangat lengket. Tapi itu tidak masalah bagi Sungmin.
“Gomawo.” Kata Kwanghaeng setelah mencabut juniornya dan kembali merebahkan diri di sebelah Sungmin.
“Untuk apa?” tanya Sungmin bingung.
“Untuk semuanya.” Jawab Kwanghaeng lagi. Ia mengambil pakaian yang berceceran di dalam tenda. Lalu menepikannya. Setelah itu ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya.
“Saranghae~” ucap Kwanghaeng sambil menutup matanya. Mengantuk, tapi masih sempat tersenyum.
Sungmin membalas senyum manis Kwanghaeng. “Na do saranghae, Kwanghaeng hyung.”
Sungmin memejamkan matanya perlahan. Menggeser tubuhnya agar makin dekat dengan Kwanghaeng. Mendengar lagu pengantar tidurnya, detak jantung Kwanghaeng.

***

“KWANGHAENG, SUNGMIN, BANGUN!!!!!!!!!!” teriak orang dari luar.
“YAA!! KWANGHAENG BANGUUUUUUN!!!!!” sahut yang lainnya.
Kwanghaeng membuka matanya perlahan. Lalu menyesuaikan matanya dengan cahaya matahari yang ada. Sayup-sayup suara teriakan orang diluar memanggil namanya terdengar.
“Chagi, ireona!!” Kwanghaeng menggoyangkan tubuh Sungmin pelan. “Sungmin sayaaang, kita dalam masalah.” Bisiknya.
Sungmin melenguh pelan. Hal yang dirasakan pertama kali adalah sakit di bagian bawahnya. Tapi ia berusaha bangun dan memakai pakaian yang semalam melekat di tubuhnya.

*

“Sakit..” rintih Sungmin ketika sedang memancing di sungai yang tak jauh dari tenda mereka.
“Awalnya begitu. Aku juga sakit.” Jawab Kwanghaeng sambil terus memperhatikan pancingannya.
“Tapi hyung terlihat biasa.”
Kwanghaeng tersenyum lebar. “It’s because of you..”
Sungmin menyandarkan kepalanya ke pundak Kwanghaeng. Ia memperhatikan pancingannya. Berharap ada ikan yang tertarik pada umpannya.
“Cepat beritahu aku apa yang terjadi semalam!!” bisik Yoosung yang tiba-tiba datang di samping Kwanghaeng.
Kwanghaeng dan Sungje sama-sama kaget.
“Palli!! Aku akan menjaga rahasia!!” timpal Kangho di belakangnya.
Kwanghaeng menatap Sungmin. Kali ini wajahnya terlihat panik. Terlebih Sungmin. Ia takut sesuatu akan terjadi.
“Kalau tidak, kalian bisa kan jelaskan siapa yang mendesah malam-malam?”
DUARRRRRRRRRRRR!!!!!
Sungmin dan Kwanghaeng sama-sama mengatupkan bibir.

*******

END

NC-nya kurang ya? Romancenya kurang ya? Komedinya kurang ya? Ahhh endingnya ancur yah???
Maafkan saya !!
Ini kemauan saya, bang rascal dan mas solid XDD

8 responses

  1. aulia

    alur ceritanya bagus,, tpi ncnya kurang hot..😛

    9 April 2012 pukul 12:22

  2. hahahaaaa mian v^^
    saya ga ahli bikin NC #PLAAAK

    14 April 2012 pukul 19:11

  3. DewiAriyani

    Aduh mereka msh kecil udah nc-an apalgi ngelakuinx pas lagi camping…
    Tuh sungminx polos amat sih..hehehhe
    Ceritanya keren
    Nc-anx lumayan deh tp bacax deg-degan krn takut ketahuan ama gurux :p

    24 April 2012 pukul 10:43

  4. teukseob

    hhhhuuuaaaaa
    neomu joayo ><
    hahaha
    ngakak di bagian kwanghaeng bilang "dari pda bawa anak tuyul"
    wkwk😄
    aku suka KwangMin CO-ED couple
    akhir ny bias ku ada yg seme kikikiki😄 *peluk kwangppa*
    ayo buat ff co-ed lagi hehehe😄
    di tunggu😀

    14 Juni 2012 pukul 17:12

  5. okee ^^ gomawo udah baca + komen ^^

    ehem.. kwanghaeng punya saya #digaploksungje

    18 Juni 2012 pukul 15:11

  6. SeHyu

    Thor..Ini Ff nya keren banget,romantis pula..Di tunggu ff lainnya ya thor..

    24 Maret 2014 pukul 02:52

  7. Lia oktaviani

    Waaah saya baru nemu ini ff. Sugeee thor. Ganbatte ne thor… Kalo boleh krisar… Ettoo bahasanya kurang baku…

    1 Oktober 2014 pukul 19:29

    • bahasanya emang disengajain begitu biar terkesan easyreading/? hohoh… makasih udah baca + komentar🙂

      12 Oktober 2014 pukul 18:53

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s