fanfiction for our soul

Time To Love part 3


Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”
Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg
Length : ga banyak-banyak (?)
Cast :
–    park geonil *Cho Shin Sung*
–    kim sungje *Cho Shin Sung*
–    other Cho Shin Sung members~
Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerima apa adanya. Maukah geonil mengakui anak itu setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?
Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^
A/N : mian ya semuanya, part ini lama banget munculnya !! sampe di todong sayah #plaak
mulai part ini, bahasa akan disesuaikan (?) jadi bahasanya ga kayak di 2 part sebelumnya..😄

kalo ketinggalan bisa baca : prolog | part 1 | part 2
***
<< prev
Pulang sekolah..
Sungje lebih dulu sampai di tempat janjian. Sekarang, tepat 8 menit ia menunggu kedatangan geonil dan juga ayahnya.
Suasana sore di kota seoul itu terlihat sangat sibuk. Kendaraan melimpah ruah di jalanan seperti sampah. Cahaya pudar matahari tenggelam dan lampu kota bercampur menjadi pemandangan indah menyinari kota.
Sungje mengalihkan pandangannya ke samping. Toko bulgogi. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Cacing perut dan anaknya menginginkan makanan itu.
“mau kemana?” tanya seseorang dengan suara berat khas-nya yang membuat sungje tidak jadi melangkahkan kakinya.
Sungje menatap geonil dengan tatapan memohon. Jari telunjuknya menunjuk satu toko pinggiran yang menjual bulgogi. Geonil menghela nafas.
“ayolaah.. aku benar-benar ingin! Anak ini juga ingin..” kata sungje.
Geonil mengangguk. Lalu berjalan di belakang sungje, mengikutinya. Sungje memesan bulgogi banyak sekali. Geonil saja sampai tidak berkedip memandang seplastik sedang penuh (?) bulgogi.
“ada appa!!” pekik sungje ketika keluar dari toko bulgogi itu. Ia menyerahkan plastik hitam itu ke geonil untuk di amankan.
“aku titip, ok?” kata sungje sambil berjalan dengan cool-nya ke mobil BMW ayahnya.
“apa itu?” tanya ayah sungje menunjuk bungkusan plastik.
“bulgogi.” Jawab geonil jujur sambil tersenyum. “aku sudah lama tidak memakannya..”
“oh..” mr kim tidak berkomentar lebih. Ia menyuruh sungje dan geonil masuk ke dalam mobil dan membawa mereka ke rumah untuk memberitahukan semua yang sudah direncanakannya dan juga istrinya.
Part 3 >>
Geonil mengangguk-anggukan kepalanya ketika ibu sungje memberitahukan semua rencananya. Sedangkan sungje terus menggerutu karena tidak mau mendengar penjelasan orangtuanya lebih jauh.
“ya sudah. Sekarang kalian tidur di satu kamar. Kamarnya nanti ditunjukkan .” Kata ayah sungje ramah. “ikuti saja wanita itu.”
Geonil mengangguk. Lalu berdiri sambil menggandeng sungje. Sungje terpaksa mengikuti. Daripada nanti masalahnya tambah panjang.
“kami pamit..” kata geonil sambil menundukkan kepala hormat. Lalu merangkul pundak sungje sampai di luar.
Ngapain sih pake acara peluk-peluk gini?! Kalo tau bakal gini kejadiannya mendingan ga usah ngelibatin geonil deh!! Dumel sungje dalam hati. Geonil malah makin mengeratkan rangkulan pundaknya diluar. Pinter banget cari kesempatan!
Sampai di kamar yang ditunjukkan pengurus rumah keluarga kim, sungje dan geonil masuk ke kamar itu. Kamarnya benar-benar rapi. Sudah diberi hiasan-hiasan seperti bunga dan balon. Ada satu tulisan besar ditulis diatas kain besar, “SELAMAT DATANG KELUARGA BARU!!”
Geonil tersenyum. Keluarga baru?
“puas?!” kata sungje sambil menutup pintu.
Geonil mengangguk. “sangat! Akhirnya orang yang kucintai kudapatkan juga!”
PLAAK!!
“auwww…” rintih geonil karena punggungnya dipukul sungje dengan kencang. “aishh.. hamil saja masih kuat!”
“hahaha.. kau belum tahu siapa KIM SUNGJE yang sebenarnya kan? Inilah kenyataannya!!” sungje membanggakan dirinya. “mau melihat kamarku? Biar kutunjukkan!”
Sungje membuka pintu. Lalu pergi ke arah kamarnya. Geonil yang punggungnya masih kesakitan karena cambukan ayah sungje tempo hari, ditambah pukulan mematikan sungje masih mengelus punggungnya. Tapi akhirnya ia mengikuti langkah panjang sungje ke kamarnya.
“ini koleksi pialaku..” pamer sungje sambil menunjuk satu lemari besar berisi piala dari berbagai kejuaraan..
“taekwondo?” geonil mengernyit sendiri mendengar kata-katanya.
“iya! Makanya, jangan macam-macam! Walaupun perutku membesar juga aku akan tetap melakukan jurus-jurus mematikan taekwondo!!” balas sungje sambil membusungkan dada.
“bangga?” tanya geonil jahil.
“iyalah.. kasiaan deh nggak punya sesuatu untuk dibanggain!”
“siapa bilang? Belum liat isi rumahku kan?”
Sungje berakting mengingat-ingat. “ehm.. setahuku di rumah itu hanya ada perabotan yang reot, hampir rusak semua, tidak ada yang layak, makanan hanya seadanya, baju tidak ada yang stylish, lalu—“ sungje menggeleng. “just that. No more..”
Geonil tersenyum sambil menggeleng. “mau ke rumahku besok? Eum?”
“ani!! Kawasan kumuh. Mana mau aku kesana? Ckck..” kata sungje.
Geonil menggeleng. “that’s not mine..”
*
Pagi-pagi sekali geonil sudah bangun. Bukan pagi. Masih dinihari. Pukul 3 pagi.
Namja tampan itu menatap seseorang di seberang. Di atas kasur. Ia tertidur. Manis sekali. Geonil sampai terpesona. Ah.. memang sering terpesona ia oleh kecantikan sungje.
“do you know, aku benar-benar menyesal pernah menunjukkan kau padanya.” Gumam geonil. “tapi kini aku di dekatmu, walaupun kau tidak pernah menganggapku..”
Geonil berdiri dari sofa. Ia lalu duduk di atas kasur. Menatap wajah manis sungje yang tertidur pulas karena letih. Tangannya mengelus pipi mulus sungje.
“aku yakin, waktu pasti akan mengizinkanmu mencintaiku..” geonil merapikan rambut sungje. “good night, my prince..”
*
Pernikahan ini di desain khusus (?) oleh keluarga sungje karena ini pernikahan yang tidak biasa, laki-laki dengan laki-laki. Disini kedua laki-laki sama-sama memakai tuxedo. Tidak ada yang memakai gaun. Tamu yang datang pun bukan
Setelah pemberkatan selesai, sungje dan geonil menyalami
“ini suaminya sungje? Ganteng banget!!” kata nenek sungje pada geonil.
“gamsahamnida, halmeoni..” geonil mengangguk sopan.
“udah.. biasa aja! Ga usah pake bahasa resmi. Udah jadi keluarga kok..” kata nenek sungje.
Geonil mengangguk sambil tersenyum. “ne..”
“oh ya, orangtua kamu mana?” tanya nenek sungje.
“mampus!!” pekik geonil dalam hati. Akhirnya pertanyaan yang tidak diinginkan meluncur juga dari mulut orang yang telah menjadi keluarganya. Padahal mama papa sungje tidak pernah membicarakan tentang orangtuanya.
Sungje yang disebelahnya menatap geonil iba. Geonil sudah bilang tadi malam tentang keluarganya ketika sungje sudah menutup matanya lebih dari setengah. Jadi ia tidak tahu pasti apa yang geonil bicarakan tadi malam.
“halmeoni, kimchi buatan halmeoni mana? Aku mau!!” kata sungje mengalihkan perhatian sang nenek.
“aduh.. cucu nenek ini masih suka kimchi toh! Yaudah, ayoo!!” nenek memeluk lengan (?) sungje yang lebih tinggi darinya. Lalu membawanya ke tempat kimchi berada😄
Geonil menghembuskan nafas lega setelah sungje membawa neneknya ke tempat yang jauh darinya. Ia memang sudah menceritakan masalah keluarga pada sungje ketika sang istri setengah sadar, agar tidak menolaknya. Tapi kemungkinan besar sungje tidak mengerti apa masalahnya. Untungnya, sungje mengerti arti wajah khawatirnya tadi.
Geonil bersikap sopan ketika keluarga sungje menyalaminya satu persatu. Membungkukkan badan, tersenyum dan mengucapkan salam. Sungje yang melihatnya hanya bisa menahan muntah saking muaknya dengan sikap geonil yang sok sopan itu.
“cih!! Sok banget!!” umpat sungje dalam hati.
“kenapa, je? Cemburu ya geonil-nya dikerebungin sepupu kamu?” tanya sang nenek mencoba menebak.
Sungje tercekat. Ingin tertawa keras menanggapi dugaan sang nenek. Tapi kimchi di mulutnya masih penuh dan harus segera di telan sebelum meledak bersama tawanya.
“cemburu? Ga salah?” kata sungje setelah menelan kimchi-nya.
“lagian muka kamu pedes banget gitu. Ahh.. halmeoni juga pernah kok! Persis kayak kamu. Sampe malem pertama gagal karna halmeoni cemburu duluan!” curhat sang nenek.
Sungje tertawa kecil. Geli. Tapi dalam hati ia berharap, ‘malam pertamanya’ akan gagal seperti sang nenek. Daripada ia harus meladeni gombalan-gombalan geonil yang ‘garing’ dan memuakkan.
“perut kamu nambah gede, Je! Kamu juga belum lulus kan?” kata nenek sambil mengelus perut sungje yang agak membesar.
“iya!” sungje memasukkan sesendok kimchi ke mulutnya.
“maafin halmeoni ya, Je..” nenek memasang wajah menyesal.
“aniyo!! Bukan salah halmeoni kok!! Emang udah takdirnya begini, mau diapain? Mau bantah omongan Tuhan?”
“aku.. mengganggu ya?” geonil tiba-tiba datang. Membuat sungje mulai bad mood.
“ganggu banget!!” jawab sungje dongkol.
Geonil tersenyum pada nenek sungje. “annyeonghaseyo, halmeoni..”
“ya ampun.. kamu kok sopan banget sih? Sungje beruntung banget punya kamu..” kata nenek sungje sambil mengusap kepala geonil yang jauh lebih tinggi darinya (?) *itu tuh laki gue neneeeeek !!!!!!!! #gandenggeonil #digamparinmilkyway
Sungje menutup mulutnya. Bersiap memuntahkan makanan yang sudah ia telan dari tadi pagi.
“ya udah deh. Halmeoni pergi aja. Ga mau ganggu kalian.” Halmeoni menepuk pundak sungje dan geonil bergantian. “jaga sungje baik-baik ya, Nil. Dia kan lagi hamil..”
Geonil kaget. Jelaslah. Kenapa sang nenek bisa tahu??
“ga usah sok kaget gitu deh!” kata sungje kesal. “halmeoni nyalahin diri sendiri mulu tau!”
“kok—“
Sungje langsung pergi dari hadapan geonil sebelum lelaki itu menyelesaikan pertanyaannya. Tapi geonil tidak mengejar. Ia hanya menghela nafas dan diam di tempat. Mengamati sungje yang sedang bercengkrama dengan sepupu-sepupunya.
“geonil oppaaaaaa…” tiba-tiba beberapa keponakan sungje berkumpul di depan geonil. Dengan senyum gugup geonil membalasnya.
Seseorang tiba-tiba menepuk pundak geonil. Reflek geonil langsung berbalik untuk mengetahui siapa yang menepuk pundaknya.
“masih ingat?” tanyanya sambil mengedipkan satu matanya. Lalu mengajak geonil ke tempat yang sepi sambil makan-makan.
*
“jadi kau sepupunya sungje? Tapi kenapa dia memperlakukanmu seperti budak di rumah sakit?” tanya geonil bingung.
“haaah..” kwangsu menghela nafas. “aku juga bingung. Ya.. dia memang selalu begitu. Aku terus yang selalu dijadikan sasarannya!!”
Geonil meminum jus apelnya. “lalu kenapa kau juga pasrah diperlakukan begitu?”
Kwangsu menggelengkan kepala. “dia cucu kesayangan nenek. Kalau dia sampai terluka karena aku, bisa-bisa namaku dicoret dari daftar keluarga ini!”
Geonil ikut menggelengkan kepala. “kau bisa jaga rahasia kan, kalau anak di dalam kandungan sungje bukan anakku? Tapi anak jihyuk?”
Kwangsu mengangguk. “sekarang aku bisa menjaga mulutku kok. Kau tenang saja!!”
Geonil tersenyum sambil mengangguk. “gomapta..”
“ne..”
Hening~ dua laki-laki itu sama-sama tidak bicara. Mereka sibuk dengan makanan dan minuman masing-masing. Juga pikirannya.
“jaga dia ya..” pesan kwangsu memecah kesunyian.
Geonil mengangguk.
“buat dia luluh. Dia itu sebenarnya tidak peka. Jadi.. susah untuk mendapatkan hatinya.”
Geonil tertawa kecil. “tapi kenapa jihyuk yang bodoh itu bisa mendapatkannya? Ck!! Dunia memang tidak adil!”
“hanya Tuhan yang adil di dunia ini.”
Geonil mengangguk. Mengiyakan. Lalu mencoba mencari sungje di tengah kerumunan keluarganya.
“aku tidak melihat keluargamu..” kata kwangsu lagi.
“kalau kau bisa menjaga rahasia, aku bisa ceritakan sekarang.” Balas geonil.
***
Akhirnya malam pertama itu datang juga. Sungje dan geonil tinggal di tempat yang sudah disediakan oleh keluarga sungje. Hanya rumah biasa. Tidak bertingkat, tapi mempunyai taman yang lumayan luas untuk bermain. Disitu tersedia ring basket.
Tapi malam pertama itu tidak seindah yang dibayangkan. Hanya ada kesunyian dan keheningan yang menghias. Sungje dan geonil sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.
“kenapa nenekmu bisa tahu kalau kau hamil?” tanya geonil memecah keheningan malam pertama mereka.
Sungje tetap fokus pada laptopnya, bermain starcraft. Geonil hanya bisa pasrah. Tidak mungkin mengganggunya yang sedang berkonsentrasi pada game.
Setelah mem-pause game-nya, sungje menatap geonil. “mau tahu??”
Geonil mengangguk.
Sungje tersenyum mengejek. Lalu kembali memfokuskan diri ke komputernya. Game starcraft berlanjut lagi.
“aku pikir kau tidak akan percaya ini..” kata sungje sambil terus mengotak-atik keyboard laptopnya.
“aku tidak akan percaya kalau kau belum cerita, nyonya park!!”
Sungje kesal. Ia kembali mem-pause gamenya dan menatap geonil dengan tatapan dongkol. Nyonya park??
“aku bukan nyonya, bakka!!” kata sungje.
“apa? Tuan kim? Itu berlaku kalau kau tidak hamil diluar nikah seperti ini, nyonya~” balas geonil sambil mengambil salah satu buku pelajarannya. Lalu membacanya tanpa konsentrasi tinggi.
“so what?! Ini kan takdir!! Aku mempunyai rahim dan aku bisa menyimpan bayi di dalam sini!”
“maka itu! Kau tahu kalau kau punya rahim dan bisa menyimpan bayi, kenapa kau meremehkannya dan malah menghadirkannya lebih awal?”
Sungje mulai geram. Ia menatap geonil yang wajahnya ditutupi buku sejarah itu dengan kesal. Namja cantik itu bangkit. Lalu membanting kasar buku sejarahnya ke bawah.
“itu terserah aku, kapan aku mau menghadirkannya, kapan aku mau membuangnya jauh-jauh! Kau tidak ada urusannya dengan ini!”
Geonil tertawa kecil. “tapi karena kau sekarang istriku, dan aku sudah dititipi banyak amanat untuk menjagamu, jadi urusanmu juga urusanku.”
Sungje sebenarnya ingin menampar pipi geonil kencang-kencang. Kalau perlu sampai berbekas dan tidak bisa hilang. Tapi ia mengurungkan niatnya. Ia takut kalau membenci geonil. Kata halmeoni, “kalo kamu benci orang pas hamil, bisa-bisa anaknya mirip orang yang kamu benci!”. Dan sungje tidak mau itu terjadi. Disaat ibu-ibu dan perempuan lain memimpikan geonil untuk menjadi menantu atau suami idaman untuk memperbaiki keturunan, sungje tidak. Lebih baik mirip kwangsu yang ‘rada-rada’ daripada mirip geonil yang ‘sok’ dan ‘belagu’-nya tingkat dewa. *author dibakar milkyway
“urusanmu belum selesai denganku, nyonya~” goda geonil saat sungje beranjak dari hadapannya.
“berhenti panggil aku itu! Aku bisa menceraikanmu hari ini juga, dan membencimu selamanya!”
“ok, kim sungje.” Kata geonil. “park sungje maksudnya.”
Sungje menghela nafas untuk menenangkan diri. Lalu masuk ke kamar yang seharusnya di tempatinya bersama geonil.
***
Geonil mengucek matanya yang masih ditutupi kabut tebal dreamland. Sinar matahari mencoba masuk dan menerobos dinding pertahanan dreamland. Tapi kabut dreamland masih sangat pekat untuk bisa dimasuki sinar matahari. Jadilah geonil baru bisa bangun setelah sungje menepuk pipinya berkali-kali.
“emang enak tidur di sofa dari kemaren!” kata sungje dengan senyum dinginnya.
Geonil tersenyum. “asalkan dibangunin sama kamu, semuanya enak!”
Sungje menampar pelan pipi geonil. Lalu berdiri untuk memperlihatkan kerapiannya pada geonil.
“sekarang jam berapa?” tanya geonil.
“liat aja sendiri!” jawab sungje galak. “aku berangkat!”
Sungje langsung berjalan keluar. Meninggalkan geonil yang masih setengah sadar di atas sofa.
***
Geonil datang ke sekolah telat. Tentu saja karena sungje membangunkannya 20 menit sebelum bel masuk. Perlu waktu 15 menit dari rumah barunya itu untuk sampai ke sekolah. Untung saja geonil hanya telat beberapa menit. Ia pun bisa langsung masuk dengan mudahnya tanpa harus berurusan dengan guru piket.
Tidak ada yang berubah di diri geonil setelah menikah dengan sungje. Tidak ada juga yang berubah dari diri teman-temannya. Padahal ia sudah resmi menjadi suami untuk kim sungje, namja cantik nan terhormat yang paling diminati anak-anak sekolah ini.
Tapi teman-temannya baru menyadari, kalau geonil si kutu buku yang teladan itu, DATANG TERLAMBAT! Tidak seperti biasanya..
Tapi tidak ada yang berani protes atau menegurnya. Karena selain tertutup, geonil itu dingin dan mempunyai ‘hak’ untuk melakukan apapun di sekolah ini.
Ada banyak hal yang belum diketahui sungje dari geonil. Pertama, bahwa geonil itu bukan anak miskin yang mempunyai rumah di tempat kumuh seperti yang geonil tempati itu. Kedua, geonil mempunyai hak dan kekuasaan atas balkon atas sekolah untuk merenung dan melakukan apa saja. Bahkan ia bisa tidur dengan nyenyak disitu. Ketiga, geonil juga mempunyai kekuasaan terhadap perpustakaan. Ia bisa meminjam banyak buku tanpa harus mengembalikan dengan tepat waktu. Keempat, sungje tidak tahu dimana kelas geonil, jangankan itu. Sungje saja tidak tahu di tingkat berapa geonil berada. Kelima, sungje tidak tahu kapan geonil menyukainya. Dan poin-poin tak penting lainnya yang belum diketahui sungje.
Pelajaran pertama adalah biologi. Tidak biasanya geonil ada di kelas ketika pelajaran ini. Paling hanya numpang duduk dan tidak melakukan apapun. Geonil memang paling membenci pelajaran ini. Tapi setiap ulangan, pasti mendapat nilai yang tinggi. Anak-anak sekelas tidak ada yang percaya kalau itu nilai murni. Paling itu nilai hasil sogokannya bersama guru tua bergelar doktor itu.
*
Sementara itu di kelas 3-1, sungje mencoba berkonsentrasi dengan pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Biologi. Setiap kata-kata yang keluar dari mulut sang guru tidak ada artinya bagi sungje. Ia tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena rasa kantuk yang amat sangat mengganggunya.
“aih.. lapaaar!!” gumam sungje pelan sambil mengelus perutnya. Ia baru sadar kalau hari ini Tuhan masih membiarkannya menyimpan janinnya.
“oh tuhan.. apakah semuda ini aku harus melihatmu??” gumam sungje sambil menggeleng.
***
Istirahat tiba. Sungje keluar kelas tanpa merapikan alat-alat tulisnya yang berserakan di atas meja. Hanya satu yang bisa ia jadikan tujuan sekarang. Balkon atas sekolah.
Melewati tangga yang letaknya tertutup dan tidak diketahui anak-anak, sungje dengan sigap naik. Tanpa disadarinya, seorang lelaki juga mengikutinya.
“kangen yaa?” tanya geonil setelah sungje baru saja menginjakkan kaki di lantai balkon atas.
Reflek sungje membalikkan badan. Rasa kaget membuatnya kehilangan keseimbangan. Tanpa bisa mencengkram kuat besi pembatas sungje jatuh. Mengikuti arah gravitasi. Tapi letak geonil yang tidak jauh dari sungje membantunya menangkap lelaki cantik itu. Badan tegap geonil yang sudah ‘siap’ dengan beban baru itu berhasil mempertahankan keseimbangannya di atas anak tangga yang lumayan sempit untuknya.
“kalo terpesona nggak usah gitu juga dong.. untung tempat ini tertutup. Jadi ga ada yang tau kalo kamu terpesona duluan sama aku..” kata geonil menggoda.
Sungje kembali menyeimbangkan dirinya. Ia berdiri di atas anak tangga diatas geonil. Lalu menjitaknya keras.
“siapa yang terpesona?? Ngimpi!!” balas sungje tak terima.
“oh ya??” geonil tersenyum sambil berkacak dada. “terus ngapain disitu?”
“mau kesana aja..”
“ehem?? Mau kesana aja? Atau mau kesana ketemu geonil??”
Wajah sungje memerah menahan amarah. Enak aja dibilang mau ketemu geonil!! Dengusnya dalam hati.
“udah ketauan, sayang.. udah yuk, kesana aja! Disana banyak makanan baru loh!!” geonil naik ke anak tangga tempat sungje berdiri. Lalu merangkulnya dan berjalan bersamanya. Walaupun dengan sedikit pemaksaan, sungje akhirnya ikut naik.
Sesampainya di balkon atas, sungje langsung berdiri di tembok pembatas gedung (?). Angin sepoi-sepoi berhembus melewati wajahnya. Angin itu menyibakkan rambut sungje ke belakang. Membuatnya terlihat lebih ‘fresh’ daripada tadi.
Sungje menghembuskan nafas panjang berkali-kali. Lalu menunduk kemudian mendongak lagi. Lalu tersenyum sambil menghela nafas lega.
Semua adegan itu terekam di otak geonil tanpa terkecuali. Setiap inchi gerakannya terpotret jelas dan dibingkai dengan indah di dalam memori otaknya. Senyum lelaki cantik yang sedang menikmati angin yang berhembus itu menjadi daya tariknya sendiri. Senyum itu.. bukan senyum biasa. Tapi.. senyum luar biasa..
*
“ya Tuhan.. hari ini aku masih bisa menikmati ini..” ucap sungje dalam hati.
Kini masalahnya bertambah lagi. Selain karena kehamilannya, tapi juga karena umurnya. Sungje tidak mempunyai penyakit khusus yang mematikan seperti kanker, stroke, atau jantung. Tapi.. ini tidak ada di dunia medis. Terlalu sulit bagi orang selain keluarganya memaklumi ini.
“sungje-ah!” panggil geonil karena sungje tidak bergeming dari tadi.
Angin sepoi-sepoi itu seakan menina-bobokannya. Membawa pergi suara-suara dan juga masalah-masalahnya ke tempat mereka berada.
Dengan cepat geonil langsung menangkap tubuh sungje yang ambruk. Dengan hati-hati ia mendudukannya ke atas kursi. Dengan kaki panjangnya, geonil mengambil kursi lainnya untuk didudukinya.
Mata itu terpejam sempurna. Nafasnya masih teratur. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang amat sangat. Sungje tertidur.
Geonil menyandarkan kepala istrinya ke bahunya. Lalu mengelusnya dengan sayang.
“sweet dream, my prince..” kata geonil pelan. “mimpiin aku yaa..”
***
TBC
HUAHAAHAHAHAHAAAA AKHIRNYA !!!!!!!
Akhirnya chapter 3 muncul juga dah ni di blog !! fiuhhhh~~ #buangnapaslega
Mian ya kalo ga memuaskan. Saya lagi marahan ama GeonJe gara-gara mereka tebar pesona mulu di depan saya ==
Okeeeh, mian ya kalo chap ini kependekan XDD

8 responses

  1. QistHee

    akhirnya muncul juga, klo ga ada link part sebelumnya lupa jalan ceritanya, hehe XP

    lanjut thor..
    penasaran sama geonil, dia itu sebenernya siapa?? ko bisa foto bareng jhyuk.. ko bisa..ko bisa.. #plak

    ditunggu part selanjutnya ya, jangan lama2 ^^~

    11 Februari 2012 pukul 13:27

  2. hahahaaa gomawo udah mau baca n tinggalin jejak !!! ^__^

    Geonil itu papah saya (?) hahahaaa #dibakarmilkyway

    yaaa ditunggu aja lanjutannya ^^

    27 Februari 2012 pukul 18:33

  3. adegan waktu sungje tidur itu slalu so weet ya >_<
    Ahh, Sungje…….. jadi pengen……. #plak di tampar geonil @_@
    cepat lanjutkan thor, hwaiting!

    2 Maret 2012 pukul 05:08

  4. ehemmmmmmmm~~~ *istri sungje marah *suaminya bakar rumah (?)
    gomawo udah mau baca :))

    9 Maret 2012 pukul 20:01

  5. cika_lee19

    selalu suka gayana sunje oppa, min next chapter buruan yeah….!!!! saranghae…

    23 April 2012 pukul 06:57

  6. Ping-balik: Time To Love Part 4 « Yaoi Fanfiction

  7. bagus?!!! seneng bcnya geonil oppa trz smngat y br dpt cnta sang istri he he

    15 Juli 2012 pukul 16:13

  8. Aduuuuh sungje ini astagfirullah inget kamu udah hamil muda nikah muda jangan sampe mati muda ne wakakaka😀 ehem semakin saya membaca ff ini semakin pula saya kecanduan pingin tahu dan baca next part-nya jadi gomawo thor permisi saya mau baca next chap dulu permisi *bow 90 derajat annyeong di comment selanjutnya hahahahaha

    9 Agustus 2012 pukul 21:15

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s