fanfiction for our soul

Time To Love part 1


Title : “Time To Love” *ga tau dah ni nyambung apa kagak ==”

Genre : comedy (?), romance (?), family, shonen-ai, yaoi, mpreg

Length : ga banyak-banyak (?)

Cast :

–       park geonil *Cho Shin Sung*

–       kim sungje *Cho Shin Sung*

–       other Cho Shin Sung members~

Summary : kim sungje, namja cantik yang kaya dan terhormat meminta tolong kepada park geonil, si kutu buku yang menyukainya untuk mengakui anak di dalam kandungannya itu sebagai anaknya, dengan jaminan sungje akan belajar mencintai geonil dan menerima apa adanya. Maukah geonil mengakui anak itu setelah sungje menolak cintanya mentah-mentah?

Disclaimer : all cast in this ff is belong to me *digaplak* and the story also mine. Jadi kalo ternyata ada ff yang mirip ama ff ini, itu bukan kesengajaan ^^

A/N : mian lanjutannya lama di blog ini. Karna saya nunggu respon yang lumayan biar yakin.. ^_^

 

***

 

Pagi itu sungje benar-benar tidak bisa fokus dengan pelajaran yang diberikan oleh Changmin sonsaengnim, guru matematikanya. Tangannya dari tadi berusaha untuk menopang dagunya.

“kim sungje!!” panggil changmin sonsaengnim dengan nada mencekam (?)

Mata Sungje langsung terbuka lebih lebar dari yang tadi. Ia menatap gurunya yang tampan itu.

“ne, sonsaengnim?” tanya sungje hati-hati.

“apa rumus untuk !@#$%^&*()” *author masih kelas 3 SMP, jadi kagak tau dah pelajaran MTK slaen pitagoras, kali-kalian, tambah-tambahan, kurang-kurangan, bagi-bagian, ama bangun datar #plak

Sungje menggaruk kepalanya. “apa ya??”

Semua anak langsung tertawa mendengar jawaban bodoh sungje. Tidak biasanya sungje jadi bodoh seperti ini. Biasanya kalau pelajaran matematika ia langsung menancap.

“kau amnesia?” tanya changmin sonsaengnim. “keluarlah. Cari udara segar!”

Sungje mengangguk. Lalu keluar dari ruang kelas yang sekarang jadi membosankan. Ia berjalan lunglai ke lantai atas untuk mengistirahatkan diri sebentar. Entah kenapa ia memilih tempat itu. Padahal sungje paling malas kalau harus naik ke atas.

“geonil-ssi??” pekik sungje ketika melihat geonil ada disana.

Geonil melepas headsetnya. Lalu menurunkan buku yang dibacanya dan tersenyum manis menatap sungje *author melting #plakk

“eh sungje!” kata geonil ramah. “morningsickness ya?”

Sungje menggaruk kepalanya. “m-morning—“

“morningsickness. Penyakit ibu hamil. Jadi dia akan mengantuk tiap pagi.” Jawab geonil menjelaskan.

Sungje manggut-manggut. “TAPI AKU BUKAN IBU!!!”

Geonil tertawa geli. “so? Ayah hamil, begitu?”

“aishhhh!!!!!” dengus sungje kesal.

“sini!” geonil berdiri dari kursi yang dia duduki untuk mempersilakan sungje duduk disana.

“a-aku akan—“

“sini!! Kau mau diberi pertanyaan oleh Mr Shim yang perfeksionis itu? Kau tidak akan bisa berkonsentrasi. Istirahat saja dulu disini..” kata geonil sambil menarik tubuh sungje agar duduk di kursinya tadi.

Grep! *??*

Sungje berhasil didudukkan oleh geonil. Karena badan geonil yang besar itu tidak bisa dikalahkan tubuh kecil sungje. Yeah, seperti gajah melawan semut.

“kau tidak masuk ke kelas?” tanya sungje berbasa basi.

Geonil menggeleng sambil menatap langit. “aku memang terlihat kutu buku dan pintar. Tapi sebenarnya aku paling malas bertemu dengan orang. Apalagi menerima pelajaran seperti ini. Ck.. aku sudah bisa!”

Sungje membatin. Siapa yang bilang??

“tapi sejak aku bertemu kau, aku menyukaimu, aku beranikan diri untuk dekat denganmu, dengan sesama manusia.”

“memangnya kau makhluk apaan?” tanya sungje heran.

“aku juga bingung..” jawab geonil. Geonil mengambil satu bangku reot untuk di letakkan di sebelah sungje.

“mwo??” sungje membulatkan matanya ketika geonil menepuk pundaknya.

“aku bisa meminjamkan bahuku untuk kau tidur. Bayimu perlu istirahat.” Jelas geonil lembut.

“ini kan anak kita, geonil-ssi!!!” geram sungje sambil memukul bahu geonil.

“ne.. ne.. sebegitu besarnyakah kau ingin aku menjadi ayah dari bayi ini? Ckck..” geonil menggelengkan kepala. “baby, umma-mu ingin aku jadi appa-mu. Tak apa kan?”

Sungje menjitak kepala geonil kesal. “enak saja!! Huh!! Sampai matipun baby-ku ini tidak mau menerimamu menjadi appanya!!”

Geonil tersenyum menggoda. “tapi umma-nya yang menginginkanku menjadi appa-nya..”

 

*

 

Pagi-pagi sekali sungje sudah datang. Ia langsung berlari untuk mencari sosok itu. Sosok yang dimintai tolong untuk bertanggung jawab atas janinnya. Padahal bukan dia yang menghamilinya. Ck.. *author ngegeleng*

“geonil-ssi, kau dimana? Issshhh!!!” sungje mengedarkan pandang ke penjuru taman tempat geonil biasa mangkal (?)

“untuk apa kau mencariku?” tanya seseorang tiba-tiba. “dan jangan panggil aku dengan akhiran –ssi. Aku tidak suka mendengarnya. Panggil saja geonil. Seperti sudah kenal lama!”

Sungje membelalakkan matanya kaget. Tapi ia lega karena geonil tiba-tiba muncul tanpa di teriaki dulu.

“ne, park geonil. Appa dan umma-ku sudah tahu kehamilanku ini!” kata sungje to the point.

“mwo-a?? bagaimana bisa??” geonil ikut membelalakkan mata kaget. Darimana bisa orang tua sungje mengetahuinya?

“issshhh!!”desah sungje kesal. “si kwangsu gila itu yang bilang ke appa!!! Oh my.. habislah aku~”

“kwangsu??”

Sungje mendengus. “dokter yang memeriksa kehamilanku.”

“memangnya, hubungan orangtuamu dan kwangsu itu, baik?”

Sungje hampir saja melempar kepala geonil dengan sepatunya yang khusus di desain oleh perancang italia. *inget secret garden dah ==”

“kau itu benar menyukaiku tidak sih? Masa’ kau tidak tahu kalau orangtuaku itu dokter disana! Appa-ku direktur pula di RS itu. Ckck.. U make me so crazy, boy!!!” pekik sungje sambil menendang apapun yang ada disitu. Termasuk kaki geonil *cuciaaan deh appa!! xD

Sungje mengacak rambutnya sendiri. Diikuti Geonil yang juga mengacak rambutnya sendiri. Entah kenapa ia ikut bingung. #plaaak

 

***

 

“YAA, DOKTER SIALAAAAN!!” teriak sungje di ruangan dokter kwangsu.

Dokter kwangsu yang sedang memeriksa ibu hamil langsung menoleh. Ah.. dia sudah menduga kejadian murkanya sungje akan terjadi.

“nanti dulu, ne? aku selesaikan dulu memeriksa nyonya ini..” dokter kwangsu beralasan.

Sungje mendial seseorang dari HP-nya. Dan hanya mengatakan ‘ke ruangan dokter kwangsu’. Lalu seorang dokter masuk kesana.

“ada apa, sungje-ya?” tanya jung yunhak, dokter kandungan juga. Dia salah satu teman sungje. Dan itulah yang membuatnya tidak memakai bahasa formal untuk berbicara dengan sungje.

“aku ada perlu dengan dokter kwangsu sekarang. Aku minta tolong, periksa ibu itu.” Perintah sungje sambil berlalu dari ruangan itu.

 

*

 

Sungje terus mondar-mandir di lantai atas gedung rumah sakit itu sambil mengomel pada dokter kwangsu yang telah membocorkan rahasia pribadinya. Dia memakai bahasa yang santai dan terdengar ‘kasar’ pada orang yang lebih tua *in fact, sungje yang lebih tua dari kwangsu J

“kau sadar, orangtuaku langsung mengintrogasiku. Mereka bertanya siapa ayah dari bayi ini. Kan tidak mungkin kalau kubilang jihyuk! Ckck.. dasar bodoh!!” cecar sungje.

Dokter kwangsu menunduk. “jeongmal mianhe, tuan.. bukan begitu maksudku. Aku keceplosan. Yeah.. itulah sifatku.” Kemudian ia mendongak lagi. Menatap dua mata indah sungje. “tapi aku tidak beritahukan ayahnya kok padamu! Jadi kau bisa sedikit tenang.”

Sungje melempar jas sekolahnya yang diletakan melingkar di lehernya ke tubuh dokter kwangsu.

“tenang.. tenang.. jidatmu tenang!” sungje menggigit bibir bawahnya sebelum mengatakan hal yang kasar lagi. “bagaimana aku bisa tenang, sedangkan orang tuaku sedang berusaha mencari tahu siapa ayah dari bayi yang ku kandung ini!”

Dokter kwangsu ikut menggigit bibir. “mianhae.. jeongmal.. aku tidak sengaja bilang pada direktur kim tentang itu..”

“sudah terjadi, tidak bisa diulang lagi..” seseorang tiba-tiba muncul, park geonil.

Sungje menyeringai kesal. “kenapa kau datang?!”

Geonil mendengus kesal. “sepertinya tadi kau yang mengajakku kesini ya? Kenapa aku yang jadi patung borobudur? Ckck..” sindirnya.

Sungje menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan amarah.

“okay.. lalu bagaimana? Kau bisa cari solusi? Jangan hanya diam seperti patung borobudur begitu!” cecar sungje.

Geonil mengangguk. Lalu berjalan ke sebelah sungje. Dokter kwangsu yang melihatnya hanya bisa memandang mereka aneh.

“kau kira aku sebodoh apa? Aku bisa kok berbicara dengan orangtuamu tentang bayi itu.” Kata geonil santai.

Plakk!!

Satu tamparan gratis langsung didapat geonil. Tapi geonil tidak menampilkan wajah kesakitan atau kesalnya. Malah kepalanya tidak bergeser satu mili-pun.

“dia kan bukan jihyuk!” tiba-tiba dokter kwangsu langsung menyahut.

Sungje mengepalkan tangannya tanda kesal. “memang dia bukan jihyuk!! Dimana-mana juga lebih tampan jihyuk!!”

“mwooo?? Ok! Aku tidak jadi bantu..” geonil yang merasa sakit hati langsung membalikkan badan.

“Ani.. ani.. ani.. jangan marah, ne? Aku minta maaf..” sungje menarik tangan geonil agar tidak pergi. “kenalkan dokter kwangsu, ini park geonil. Dia adalah ayah baru untuk baby-ku.”

“n-ne..” dokter kwangsu manggut-manggut.

“okay. Urusan perkenalan selesai. Sekarang tinggal urusanmu denganku saja. Kajja!!” sungje menarik lengan geonil seperti yeoja yang bermanja pada namja-nya.

 

*

 

“kau belum makan kan?” tanya geonil setelah turun tangga. Sungje sudah melepaskan tangannya dari lengan geonil. Tadi itu hanya acting..

Sungje menggeleng. “aku belum lapar. Dari tadi perutku mual.. heuhhh!!”

“kau harus makan. Ingat seseorang yang ada di perutmu itu..”

“stttt.. jangan kencang-kencang!! Aku malu kalau ketahuan hamil. Mereka semua kan tahu kalau aku putra tunggal direktur kim!” bisik sungje.

“ne.. ne, sajangnim!!” balas geonil dengan nada pelan juga. Setelah keluar dari gedung RS, langsung saja bibir geonil seperti petasan betawi (?) mengungkapkan semua yang dia ketahui tentang ibu hamil.

“ibu hamil perlu banyak nutrisi untuk anaknya juga. Mereka juga perlu susu agar janinnya mendapat asupan nutrisi yang baik untuk otaknya. Untuk urusan itu, aku tidak tahu pasti.”

Sungje meremas rambutnya. “Ckck.. kenapa harus aku yang mendapatkan hal yang seperti ini? Aisshhh.. benar-benar mual.”

Geonil mencari tempat yang pas untuk sungje mengeluarkan makanan yang entah kapan terakhir dia makan. Lalu lelaki tampan itu menarik sungje ke kamar mandi rumah sakit yang ada diluar *anggeplah di RS itu ada kamar mandi diluarnya

“kenapa kau mengajakku ke tempat ini?!!” tanya sungje yang sudah benar-benar mual.

“daripada kau muntah di jalan, aku yang repot. Lebih baik disini saja!” jawab geonil sambil mendorong sungje ke dalam.

 

*

 

Sungje keluar kamar mandi dalam keadaan lemas. Bagaimana tidak, semua makanan dikuras habis di tempat itu.

“makan lagi ya?” tawar geonil setengah panik sambil mencengkram kuat bahu sungje dari samping.

Sungje menggeleng. “aniyo!! Perutku tidak enak. Sumpah!!”

“tapi kau harus. Umm.. makanan yang hangat saja. Soup?”

Sungje menggeleng lemah. “sudah kubilang perutku tidak enak!!” sungje melepaskan cengkraman geonil dengan paksa. “aku sudah dijemput. Bye..”

 

***

 

“GEONIL-AAAAAAA!!!!”

Geonil tersentak kaget mendengar teriakan seseorang yang memanggil namanya. Berkali-kali ia mengelus kupingnya dan juga dadanya.

“jebal!!!” sungje memasang wajah memelasnya.

Geonil kembali menarik sungje ke tempat biasa ia bersantai. Walaupun sungje harus bersusah payah untuk sampai kesana.

“ada apa? Sekarang kau bilang saja disini..” kata geonil sambil duduk di kursinya yang biasa.

“memangnya tidak ketahuan?” tanya sungje khawatir sambil mendelik sana-sini untuk memastikan tidak ada paparazi yang mengintip.

“ck.. ini ruangan pribadiku! Tidak ada yang boleh kesini kecuali aku, dan orang yang kusuruh.” Jawab geonil bangga.

“jadi aku suruhanmu?!!”

“back to topic pleasee!!” sindir geonil sambil mengambil satu buku dari satu meja disana.

Sungje menarik nafas. Lalu membuangnya lagi untuk menenangkan diri. Menyampaikan berita yang bisa membuatnya jantungan.

“umma dan appa ingin bertemu denganmu nanti, SEPULANG SEKOLAH!!” panik sungje.

“mwo-aaa???” geonil langsung berdiri dari tempatnya. “kenapa secepat ini?!!”

Sungje menggeleng frustasi. “aku juga tidak tahu kenapa kejadiannya jadi seperti ini. Mereka sudah tahu siapa namamu dan sekarang sedang mencari latar belakangmu. Aigooo.. sudah seperti sinetron saja!!”

Geonil mengacak rambutnya. Kali ini rambutnya sudah tidak rapi lagi. Terlihat seperti orang baru bangun tidur, lalu kesetrum. Yeah.. sangat aneh. *ga berani bayangin ==”

“aisshhh.. kukira bakal lama aku bertemu dengan mereka. Aku kan belum ada persiapan!” kata geonil.

TTTTTTTTEEEEEEEETTTTTTTT..

Suara yang paling dibenci oleh anak-anak. Tak terkecuali anak pintar seperti geonil dan sungje. Apalagi dua orang ini sedang dirundung masalah yang penuh dengan ketidak jelasan.

“sudahlah~ aku mau bolos!” sungje menarik kursi yang berada di dekat geonil. “otokhae?”

Geonil tampak berfikir. Lalu menggeleng ragu karena keputusan sendiri.

“kau sendiri kan yang bilang kau bisa berbicara dengan orangtuaku!! Mana janjimu itu?!!” cecar sungje langsung dengan mata yang menahan amarah.

“bukan begitu..”

“lalu bagaimana??” sungje memutus ucapan geonil. “kau harus bertanggung jawab dengan kata-katamu kemarin!!”

“kau juga harus bertanggung jawab atas perbuatanmu sendiri! Ini semua kesalahanmu! Kau melakukan ‘itu’ dengan jihyuk. Orang yang paling kubenci di dunia ini!”

Sungje menelan ludah untuk melawan argumen geonil. “ne.. aku tahu aku yang salah. Maaf aku telah melibatkanmu!”

Sungje minta maaf? Dengan suara kecil dan sangat menyesal? Tidak ada candaan di matanya?? Batin geonil bertanya sendiri tentang perubahan drastis ini.

“ulljima.. sekarang aku yang minta maaf sudah membentakmu. Jangan marah, ne??” geonil mengelus punggung sungje untuk menenangkannya.

“hiks.. kenapa.. aku jadi.. hiks.. sensitif begini??” tanya sungje yang masih bingung dengan perubahan drastisnya. Biasanya kalau dia frustasi hanya pergi ke club malam untuk sekedar mendengarkan musik disko.

“itulah perasaan seorang ibu..” geonil menepuk pelan pundak sungje. “tapi sepertinya, kau bukanlah tipe ibu yang seperti itu. Itu hanyalah bawaan bayimu. Kau jangan banyak tekanan ya.. panggil aku kalau ada sesuatu..”

Deg—

Entah kenapa, jantung sungje seperti berhenti berdegup ketika geonil mengatakan itu. Apakah cinta itu mulai tumbuh? Tapi kenapa bisa secepat itu? Dia juga belum bisa melupakan jihyuk, dan juga yunhak yang diam-diam juga ia sukai. *sarap si sungje !!!😄

“sungje-ah, kau tidak masuk ke kelas?” tanya geonil.

Sungje menggeleng. “aku ngantuk. Hoammmmm..”

“aku mau ke kelas. Otokke??”

Sungje menghembuskan nafas panjang. Sudah tidak mampu marah-marah seperti biasa dan beradu mulut. “ya sudah. Aku ingin tidur sebentar saja.. benar-benar ngantuk. Pusing pula kepalaku..”

Geonil mendekatkan kursinya ke sebelah sungje untuk meminjamkan bahunya seperti kemarin. “kau sudah makan? Aku ada roti.”

Sungje mengangguk. Tadi pagi tidak sempat sarapan. Geonil mengeluarkan kotak bekalnya yang berisi roti.

“tapi.. apakah baik untuk bayimu?” tanya geonil ragu.

Sungje langsung mengambil kotak bekal geonil dari pangkuan tuannya. “yang penting aku makan dulu. Aku benar-benar lapar!”

“jadi kau belum makan dari tadi? Ya ampun.. okay.. okay.. kau diam disini ya.. aku belikan makan.”

“andwaaaeeee!!” pekik sungje dengan mulut penuh roti. “aku tak mau sendiri. Kau disini saja ya? Biar aku suruh orang untuk—“

“ani. Biar aku saja.”

 

*

 

Geonil bisa tersenyum lega melihat semangat makan sungje. 5 roti bakar yang ada di kotak bekalnya dirampas sudah. Lalu salad yang dipesan juga langsung habis. Tadinya sungje ingin makan spageti. Tapi yahh.. geonil tidak mau mengambil resiko anaknya suka makanan mahal kalau sungje memakannya (?)

Angin pagi berhembus mengenai kulit dua lelaki itu diatas atap. Tapi mereka hanya bisa diam dan tidak bergeming. Angin itu perlahan bisa menyejukkan dari kepenatan masalah yang sedang diderita.

“je-ah, kau tahu, aku benar-benar bingung dengan masalah ini. Apakah yang harus aku katakan pada mereka? Bagaimana tanggapan orangtuamu nanti? Yeah.. aku masih bingung. Bisa kau beritahuku sekarang?” tanya geonil yang sama sekali tak ditanggapi oleh sungje.

“je-ah, do you hear it? Aku ingin tahu orangtuamu. Aku ingin memastikan kalau aku tidak akan mati kalau mengakui anak si brengsek itu anakku.”

Plokkk!! (?)

Kepala sungje langsung jatuh ke atas paha geonil. Lelaki cantik itu tertidur dengan pulasnya, dan membiarkan geonil sibuk berargumen sendiri tanpa tanggapan. Geonil menahan tawanya agar tidak mengganggunya.

“goodnight for you, baby~”

 

*

 

Pulang sekolah, sungje dan geonil janjian bertemu di kedai bulgogi yang agak jauh dari sekolah. Sungje sampai duluan disana. Dan sedang menunggu geonil sambil makan bulgogi.

“ajumma, bulgoginya enak!” kata sungje sambil memakan bulgogi yang ke-6.

Ajumma penjual bulgogi itu tersenyum. “ah.. gamsahamnida. Ah.. mau beli berapa pak? Oh ok.. tunggu..”

Sungje tersenyum melihat kesibukan ajumma itu. Hal yang belum pernah ia lakukan akhirnya ia lakukan. Tersenyum tulus pada orang biasa, memakan makanan jalanan.

“kim sungje!!!!” seseorang tiba-tiba mengambil piring bulgogi yang masih bersisa.

“apfffa yanghhhh kfffauuuu laffkuhkan????” tanya sungje dengan mulut penuh.

Geonil menarik sungje dari tempat duduknya. “ajumma, apa orang ini sudah bayar??”

Ajumma penjual bulgogi menoleh ke arah geonil. “ah.. belum.”

“berapa?”

Ajumma itu menghitung pesanan sungje. “ah ya.. 15000 won. Tapi ku diskon jadi 10000 won.”

Geonil mengambil uang dari saku celananya. Lalu memberikannya pada ajumma penjual bulgogi dan pergi bersama sungje yang terus meronta.

“geonil-ah, wae?? Aku kan sedang makan enak!!” kata sungje sambil terus memukul lengan geonil dengan kesal.

“kau itu, tidak ingat siapa yang kau hidupi sekarang? Kau tidak memikirkan nasibnya kan? Ck.. dasar bodoh!”

Sungje menatap geonil dengan tatapan benci. “aku tidak pernah makan makanan seenak itu sebelumnya! Memangnya kenapa kalau aku memakannya? Ada yang salah?”

Geonil berhenti di sebuah gang sempit yang sepi. Lalu melepaskan tangannya di lengan sungje.

“banyak! Kau bisa membunuh anakmu dengan makanan tak sehat itu.” Balas geonil dengan nada mengancam.

“biarkan saja! Kalau anak ini mati kan kau tak perlu bertanggung jawab untuk kesalahanku sendiri. Kau bebas!” sungje membalasnya dengan sengit.

Geonil menampar sungje pelan. “kau tak sadar, kalau umma-mu juga melewati masa sulit seperti ini? Mungkin dia sedang sibuk-sibuknya bekerja dan bermesraan dengan appa-mu, lalu tiba-tiba kau hadir ke perutnya. Bagaimana perasaannya? Sama sepertimu, bodoh!”

Sungje kembali menjadi dirinya sendiri. Ia menonjok hidung geonil dan menghasilkan darah yang keluar dari dua lubang hidungnya.

“kita jadi tidak bertemu dengan orangtuamu?” tanya geonil tak mengacuhkan hidungnya yang terus mengeluarkan darah dan menempel di kemeja putihnya.

“sebesar itukah keinginanmu untuk bertemu dengan orangtuaku?” tanya sungje sinis.

“aku mau masalah ini cepat selesai.” Jawab geonil dengan nada santai.

“ya sudah. Harusnya kau biarkan aku memakan makanan sampah itu sampai anak ini mati di dalam!”

Geonil hampir saja melayangkan tamparan ke pipi putih sungje. Tapi hati nuraninya malah menyuruhnya untuk menyimpan tenaganya untuk hal yang lebih penting dan bermanfaat saja.

“kajja!” geonil berjalan ke tempat ia menitipkan mobil sewaannya tadi.

“mobil siapa?” tanya sungje berbasa basi karena melihat geonil kembali ke dirinya sendiri, menjadi sosok dingin yang ditakuti anak-anak.

“sewaan.” Jawab geonil singkat. Lalu membuka pintu kiri mobil untuk mempersilakan sungje masuk. Setelah itu geonil memutar arah ke pintu kanan untuk menjalankan mobil.

 

*

 

Suasana mencekam langsung dirasakan geonil dan sungje ketika kedua orang tua sungje duduk di kursi kebesaran keluarga. Kedua orangtua sungje tidak terlihat setua usianya. Mereka masih tetap cantik dan tampan, dan juga berwibawa. Ayah sungje adalah direktur, pemilik, serta dokter besar di RS Nasional Seoul *jangan tanya gue ini dimana* sedangkan ibunya adalah kepala sekolah serta guru di sekolah khusus wanita.

“annyeonghaseyo ajumma, ajusshi..” geonil berdiri dan menyapa ‘calon’ mertuanya.

Setelah dua orangtua sungje mengangguk, geonil kembali duduk dan bersiap menenangkan diri dari kecanggungan ini.

“siapa namamu?” tanya Mr Kim dengan nada dingin. Persis seperti sungje kalau sedang jutek.

“park geonil.” Jawab geonil sambil tersenyum manis.

Kedua orangtua sungje sempat tersentak. Lalu kembali memasang wajah berwibawanya seperti tadi.

“apa benar, kau menghamili putra kami?” tanya mr kim dengan nada dingin.

Geonil menghembuskan nafas panjang. “jweisonghamnida. Memang benar.. aku menghamilinya.”

PLAKK!!

Geonil langsung mendapat tamparan gratis dari appa sungje di pipi kanannya. Kini lukanya bertambah. Tadi tonjokan di hidung dari sungje, sekarang tamparan di pipi dari appa sungje.

“wae?? Memangnya kau tidak bisa menunggu? Putra kami masih kecil! Dia masih 17 tahun, belum bisa menjadi ibu yang baik!” appa sungje murka. “lagipula, berapa kali kau ‘bermain’ dengannya?”

Geonil tidak menyangka akan ada pertanyaan menohok seperti ini. Geonil belum pernah sama sekali melakukannya. Pacaran saja belum pernah. Dari kecil dia memang pendiam dan kelewat dingin.

“lebih dari batas minimum. Aku tidak pernah bisa mengendalikan nafsuku. Aku.. benar-benar terpesona olehnya..” geonil beralasan bodoh.

“dasar anak jaman sekarang! Kau tahu, aku tidak pernah suka ada orang yang menyentuh SEDIKITPUN putra kami, berlian berharga kami!” mr kim menatap sungje tajam.

“jweisonghamnida..” geonil menunduk meminta maaf.

Appa sungje menghembuskan nafas panjang. Ia sudah tidak bisa mempercayai orang di depannya.

“sungje-ah, sepertinya kau tidak pernah memperkenalkan dia padaku?” sekarang umma sungje menatap ke arah geonil dengan heran.

“ah.. itu..” sungje menggaruk kepalanya. “bagaimana ya menjelaskannya?’’

“katakan yang jujur padaku,” appa sungje melepas sabuk yang dikenakannya. “apa benar kau yang menghamili anakku?”

Geonil mengangguk. “ne..”

PLAKKK!!

Satu cambukan..

“apa benar, kau bernama geonil?” appa sungje kembali mengajukan pertanyaan. Geonil harus ekstra kuat menjawabnya. Karena cambukan dari appa sungje benar-benar sakit. Pantas saja orang dulu selalu takut dengan hukuman cambuk.

“ne..”

PLAKKKK!!

“kau bukan jihyuk kan?”

Geonil menggeram kesal mendengar nama itu. Nama yang membuatnya harus terseret dalam hubungan tersembunyi ia dan sungje.

“bukan. Aku geonil.” Geonil tetap mengulas senyum manis yang membuat sungje bergidik ngeri.

Appa sungje melempar sabuknya ke belakang. Geonil bisa menghela nafas lega di dalam hatinya.

“huh.. aku rasa kau anak yang pintar.” Pikir mr kim.

Geonil tersenyum malu. Sungje kembali harus menahan mual melihat senyum geonil.

“apa yang bisa kau pertanggung jawabkan untuk putra kami satu-satunya?” mr kim bertanya dengan nada yang kembali dingin.

Geonil mengangguk. “aku yang salah disini,” geonil menghela nafas. “aku harus menikahinya, dan menafkahinya. Juga menjaganya dan juga anak—ku..”

Mr kim mengangguk. “okay.. tapi aku tidak mau membantumu untuk urusan ekonomi. Aku tidak mau berbagi warisan denganmu juga. Jadi, setelah aku, sungje harus menggantikanku menjadi direktur utama di RS.”

“tenang saja.. aku bukan orang yang suka dengan pekerjaan seperti itu. Kedudukan yang tinggi membuatku pusing. Aku menopang banyak amanat, dan aku takut aku malah berkhianat. Yeah.. begitulah yang kupikirkan.”

Mr kim tersenyum. Senyum itu tulus diberikan selain dengan pasiennya. Ia menepuk pundak geonil dan mengangguk.

“kau harus menikahinya, sebelum perutnya membesar.” Kata mr kim.

Geonil mengangguk. “ne..”

 

*

 

“aishh.. pelan-pelan.. ahh~~” geonil meringis kesakitan kala sungje mengobati luka cambuk yang diberikan oleh ayah sungje.

“cih, dasar lemah! Hanya dua kali saja sampai kesakitan seperti dicambuk seribu kali!” kata sungje sambil merengut kesal.

“kau tidak pernah dicambuk, huh? Benar-benar sakit! Apalagi cambukan ayahmu. Orangtua-ku tidak pernah mau mencambukku sekencang itu!” geonil mengatakannya sambil meringis.

“dasar lemah!! Aku yang hamil saja masih bisa kuat.”

Geonil langsung bangun dari posisi tengkurapnya. “aishh.. aku sampai lupa kalau kau hamil. Sudah makan lagi? Eh.. aku belum belikan susu ya? Aigo-ya.. padahal tadi aku ke supermarket! Kenapa aku tidak beli sekalian? Dasar!!”

“jadi kau tadi telat karena itu?!! Oh geonil!! Kau benar-benar yaa!!”

Sungje langsung melempar guling ke arah geonil. Kemudian ia mengambil bantal dan memukul-mukulkannya ke punggung geonil.

“aahhh!! Sakit sungje!! Kau tidak tahu rasa sakit yang di derita suamimu ini?”

“mwo? Suami? Ckck..” sungje menggeleng. Lalu berbisik pada geonil. “hanya jihyuk yang masih ada di pikiranku..”

 

*

 

Di sisi lain, kedua orangtua sungje melihat adegan demi adegan romantis antara anaknya dengan geonil.

“aku yakin sungje tidak salah memilihnya..” kata mr kim bahagia.

“yeah.. sungje tidak pernah sebahagia ini kan?” timpal mrs kim ikut bahagia.

 

***

 

“angin pagi ini benar-benar enak kan?” tanya geonil membuyarkan lamunan sungje.

Semenjak sungje meminta bantuan geonil, ia jadi sering ke lantai atas. Walaupun perjuangannya kesana sangat berat.

“aku yakin kau akan terus membolos jika disini terus. Kembali ke kelas ya?” tawar geonil.

Sungje menggeleng. “aku tidak mau! Biar saja aku bolos. Aku selalu merasa mual melihat apapun yang ada di depanku.”

“termasuk aku?” geonil tersenyum manis.

“terutama kau..”

Sungje kembali merasa mual pada perutnya. Reflek ia memeluk geonil yang ada di depannya.

“YA.. gwaenchana? Wae?” geonil mulai panik karena makin lama pelukan sungje itu makin kencang. “aku bisa tambah tinggi lagi kalau kau menggencetku seperti itu.. kkkhhhh~~”

“perutku tak enak.. hiks.. ahhh geonil!!” rintih sungje sambil terus mengeratkan pelukannya.

Geonil mengatur nafasnya yang sesak karena jantungnya berdetak tak karuan. Lalu mengangkat tangannya yang bergetar untuk memeluk sungje. Semoga saja pelukannya itu menghangatkannya.

“bagaimana?” tanya geonil sambil terus mengelus punggung sungje.

Sungje mengangguk di dada geonil. “hmm.. hangat.”

 

*

 

TTTTTEEEEEEEETTTTTTTTTTT..

Bel pulang berteriak nyaring. Sungje langsung menghembuskan nafas lega karena lelah menyerap pelajaran yang tiada hentinya. Ia membereskan bukunya dan menggendong tasnya ke pundak.

“ahhh.. lapar!” sungje mengelus perutnya.

Seseorang yang tidak pernah diundang menyodorkan semangkuk bubur untuk sungje. Yang pasti geonil.

“kalau kurang ke rumahku saja. Aku akan masak.” Kata geonil.

Sungje menerima semangkuk bubur itu dengan ragu *ga mungkin diracun, je !! Ayang gue ga pernah mau ngeracunin lu !! XDD

Sungje meletakkan semangkuk bubur itu di atas meja. Lalu ia duduk untuk memakannya.

“kau tak makan?” tanya sungje sambil terus menyuap bubur itu.

Geonil menggeleng. “kau dulu, baru aku.”

Sungje menyendokkan sesendok bubur. Lalu menyodorkannya ke mulut geonil. Geonil sempat memundurkan kursinya.

“ani.. kau saja. Aku tidak mau makan! Kau saja yang membutuhkan.” Geonil menolaknya mentah-mentah.

“ahhh!! Ayolah~ makan!! Aaaa~~”

Geonil tersenyum. Lalu membuka mulutnya. “aaaa~”

Mereka berdua tertawa bersama di kelas kosong itu. Makanan yang porsinya sedikit itu dimakan berdua.

“YAA! Ku kira kalian setan tertawa di kelas.” Kata si penjaga sekolah, membuyarkan kemesraan mereka.

“omona.. jadi kau mengira kita setan? Ahh~ kalian sudah dengar legenda sekolah ini ya?” kata geonil bermaksud menakuti sungje. Tapi akhirnya sang penjaga sekolah juga ikut takut dan malah mengusir mereka berdua karena kelas mau di kunci.

 

*

 

“memangnya legenda apa sih? Kau tahu banyak tentang sekolah ini?” tanya sungje sesampainya di gerbang, menunggu jemputannya.

“akan kuceritakan di tempat dan waktu yang tepat.” Jawab geonil untuk membuat sungje penasaran.

“ahh.. kenapa tidak sekarang saja??” sungje merengek minta diceritakan.

“ani..” geonil menggeleng.

“geonil-ssi, tell me please!!”

“no!!”

Geonil terus menolak permintaan sungje dengan maksud menjahilinya. Tapi ternyata sungje malah mengikuti geonil yang berjalan melewati gang-gang sempit untuk sampai di rumahnya.

“kau mengikutiku hanya untuk mendengarkan misteri yang belum jelas?” tanya geonil jahil.

“aku kan orangnya penuh penasaran!” sungje merebahkan tubuh di sofa rumah geonil. “aaahh.. ini terbuat dari apa sih? Keras sekali!”

Sungje melihat ke sekeliling rumah geonil. Tidak ada yang mewah disini. Dandanan geonil juga seperti orang yang biasa saja. Tapi kenapa bisa masuk ke sekolah elite khusus pria?

“aku mau memasak makanan dulu untukmu. Kasihan anak itu tidak diberi makan.” Geonil berjalan ke dapur setelah mengganti bajunya di kamar.

Sungje mengangguk. Lalu berdiri untuk melihat isi rumah geonil yang sempit itu.

“geon, boleh aku masuk kamarmu?” tanya sungje dari depan kamar geonil.

“masuk saja!!” jawab geonil dari dapur.

Sungje membuka pintu kamar geonil. Benar-benar membuatnya terkejut. Ia tak habis fikir kalau ini kamar geonil. Rapi!

Temboknya bercat biru. Ada satu rak buku besar yang berisi buku-buku pelajarannya dan buku-buku lain. Sungje menggelengkan kepala melihat koleksi bukunya.

“ck.. dasar kutu buku!”

Sungje berbaring di kasur tempat geonil tidur. Keadaannya sama seperti sofa tadi. Sama sekali tidak empuk!

“ahh~~ kalau aku punya uang aku benar-benar ingin mengganti perabotannya! Benar-benar tidak seperti perabotan manusia.” Sungje menggeleng.

“huh??” sungje langsung bangun dan melihat sebuah bingkai di meja belajar geonil yang diposisikan tengkurap. Sungje mengangkatnya dengan hati-hati dan ragu. Ini bukan miliknya.

“j-jihyuk..??”

 

***

 

TBC

 

A/N : Ahhh~~ kepanjangan yaaa?? Mian deh !! gue lagi semangat buat GeonJe couple nih !! hohoho~~ *padahal bikin ini tuh sambil senyum-senyum sendiri..

Penasaran gak ama lanjutannya?? Kalo ngga ya diberhentiin aja deh.. #ga tanggung jawab

Thank’s ya yang udah mau baca dan ninggalin jejak. Buat yang baca tapi ga ninggalin jejak, makasih juga ya udah mau baca ff nista ini !!

 

14 responses

  1. park ha rin

    cpetan ya lanjutannya,udh nyesek ni nggu next partxD

    14 Oktober 2011 pukul 14:48

    • siiiip😀
      tunggu ff ini direspon banyak orang yaaa… :Dmakasih udah mau baca ^^

      16 Oktober 2011 pukul 15:22

  2. jangan di berentiin ff nya min,penasaran sama cerita walau gak tau siapa yang main -_____-,di tunggu next capter😀

    14 Oktober 2011 pukul 17:19

    • insya allah nggak..
      ni masih jadi fave ff-ku :))
      hahahaaa…

      16 Oktober 2011 pukul 15:25

  3. SAENG..
    LANJUUUUT..
    Bener2 penasaran. Kenapa ada fotonya jihyuk? Dibingkai lagi. Hahaha.

    15 Oktober 2011 pukul 00:40

    • saya juga penasaran sendiri *salahsendiribuatnyagamikir #plakk

      16 Oktober 2011 pukul 15:26

  4. Leeta emin

    Aaa lanjut yah,, klo bsa kash tau d fb leeta emin (plaak) sya ngefans sama sungje *gg da yg nanya* ff nya bagus,, hehehe

    18 Oktober 2011 pukul 19:12

    • saya ngefans sama sungmo #digeplak
      makasih chinguuu!!! *plaak

      20 Oktober 2011 pukul 19:53

  5. geonil2

    newbie nih.. sebenernya gw Yunjae shipper (Yunho Jaejoong) (Yunhak Sungje) hehe.. tapi ff nya bagus kok, yah jgn sampai aja abis ini gw malah ngeship Gunje keke, lanjutin thor!!

    5 Januari 2012 pukul 02:13

    • kalo YunJe aye bingung siapa yang bakal jadi uke XDD #natapduaorangyangmukanyamukauke
      okeee ^^

      9 Januari 2012 pukul 15:41

  6. Ping-balik: Time To Love part 3 « Yaoi Fanfiction

  7. DewiAriyani

    Seru2 banget nih crtanya…
    Aku suka alur ceritanya gak terlalu ribet jd bisa diikuti dgn baik…
    Sungguh sangat penasaran ama lanjutannya jd mau buru2 ke next partnya…
    Buat authornya tetap semangatx buat nulis lanjutan nih ff..jgn diberhentiin nnt kami para reader bisa kecewa..^^

    22 Februari 2012 pukul 18:08

  8. Ping-balik: Time To Love Part 4 « Yaoi Fanfiction

  9. So HILLARIOUS! Sumpah rame banget ini ff eh ternyata setelah aku buka wp lain emang ini sama judulnya jg sama pengarangnya jg sama gilaknya apa lagi 100% orang yg sama yg buat tp kok bisa mungkin ada org lain yg credit atau copast karya author gila itu? Hahaha *peace thor hehe lanjut next chap langsung!😀

    9 Agustus 2012 pukul 20:32

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s