fanfiction for our soul

[lomba fanfic Genre 1] Hidup Yang Bahagia


Pair: Sasunaru
Author: Botol Pasir

HIDUP YANG BAHAGIA

Ini sudah ke sekian kalinya kulangkahkan kakiku menyusuri koridor-koridor rumah sakit.

Setiap hari, dengan harapan baru.

Entah sudah berapa banyak pagi, aku berdoa kepada Tuhan. Memohon agar kau menampakkan kilauan langit biru dimatamu. Menampakkan kilauan ruby yang membuat mataku tidak bosan memandangimu.

Kau masih diam disana. Setiap kali melihatmu yang hanya diam tanpa melakukan apapun, membuatku bertanya apakah sifatku sudah menginfeksi dirimu? Aku tertawa memikirkannya.

Ingatkah kau, saat pertama kali kita bertemu? Di tengah terpaan sinar matahari yang terik, kau sibuk membawa koper besarmu. Itu pertama kalinya kau datang ke Negara ini. Bulir-bulir keringat membasahi keningmu. Kau kebingungan melihat selembar kertas kecil ditanganmu, lusuh dan lembab karena keringat. Matamu terus-menerus melihat petunjuk jalan yang ada di perempatan. Kau menggaruk-garuk kepalamu.

Kau bertanya tentang Nagasaki sedangkan kau ada di Tokyo. Wajahmu memucat, kau panic. Dengan tergagap kau bertanya berapa hari kau bisa sampai ke sana.

Satu hari jika memakai kereta, itu yang kukatakan. Wajahmu semakin pucat. Peluh bercucuran semakin deras di keningmu. Kau bingung, dompetmu seperti halnya lembaran kertas. Tipis.

Kau terlihat bodoh saat itu.

Ah, maaf aku tidak bermaksud mengatakannya.

Aku tahu kau tidak suka aku menyebutmu bodoh. Kau selalu marah dan langsung menyebutku `pantat ayam`. Kau ingat?

Aku tahu kau ingat.

Hei, Apa kau memimpikanku malam ini?

Aku selalu memimpikanmu setiap malam. Hanya duduk bersamamu di padang rumput menatap langit. Kau tahu, saat aku terjaga dari tidurku, pipiku selalu basah. Mungkin aku menangis mengingatmu.

Aku tahu aku merindukanmu.

Merindukan senyummu yang selalu memamerkan deretan gigi putihmu.

Merindukan semua kekonyolanmu.

Merindukan suara melengkingmu yang memanggilku `pantat ayam`.

Aku rindu segalanya bersamamu.

Sekarang kau pasti berfikir kenapa sudah beberapa hari ini aku tidak menanyakan kabarmu.

Aku sudah tahu kabarmu baik-baik saja walaupun dia berkata aku harus merelakanmu.

Aku sudah tahu kau menyukai tempat ini, karena itu kau tidak rela meninggalkannya.

Aku sudah tahu kau hanya marah padaku, kerena aku menikahinya.

Yah, kau masih sangat marah bukan, karena itu setiap hari kau selalu mengacuhkankan.

Aku bersumpah aku mencintaimu, hanya kamu. Bahkan dia pun tahu.

Dia pernah bertanya padaku apa kau sangat berarti bagiku. Yah, kau segalanya.

Dia tertawa mendengarnya.

Aku tahu dia tidak menertawakanku tetapi menertawakan dirinya. Kami dua orang yang sama, sama-sama menderita.

Kau tahu, setiap malamnya ia tersentak kaget dari tidurnya, bulir keringat membasahi keningnya, pipinya pun selalu basah, karenanya ia enggan untuk tidur. Wajahnya semakin lama semakin kusam dan tegang, terkadang aku kasihan padanya. Ia sendirian.

Aku sangat bersyukur aku masih memilikimu.

Kami selalu duduk bersama di tengah malam, walaupun hanya menatap bulan. Terkadang dia bercerita tentang seseorang yang hidupnya terbatas karena ia seorang wanita. Aku tahu itu adalah dia. Kau tahu, dia bukanlah seorang geisha biasa. Aku menyadarinya.

Dia memiliki potensi besar di dalam dirinya, sayangnya ia terjebak dalam tubuh wanitanya juga terjebak di zaman yang salah, sama halnya dengan kita. Kau menyadarinyakan? Wanita hanya dianggap angin lalu bagaimana pun hebatnya mereka. Kau pernah mengatakannya pula dan kau pun membencinya. Dia punya segala hal yang dimiliki seorang pemimpin, kebijaksanaan, tekat juga ambisi yang besar.

Kami sama-sama berharap berada di dunia ideal bagi kita, kau dan aku dan juga untuknya. Dimana tidak ada pembatas siapa diri kita, pria ataukah wanita. Bisakah itu?

Mungkinkah berpuluh-puluh tahun ataupun beratus-ratus tahun yang akan datang?

`Teruslah berharap!` itu yang selalu biarawan kuil katakan. Aku selalu datang kesana setiap paginya, mendengar sutra yang selalu mereka rapalkan. Aku berdoa pada Budha untukmu, hanya untukmu. Egoiskah aku, di tengah dunia yang sedang kacau karena perang aku hanya berdoa untuk mu? Yah, aku akui aku memang egois.

Kau tahu semakin lama, aku semakin aneh. Nafsuku terhadap ramen menjadi menggila, sepertimu. Aku bisa menghabiskan puluhan mangkuk sekali makan. Entah berapa kali aku harus keluar masuk kamar mandi setelahnya.

Kau diam.

Sekarang pun kau tidak lagi tertawa saat kau tahu aku menderita karena ramenmu.

Kau hanya berbaring di ranjangmu. Apa sebegitu nyamankah di sini? Tidakkah kau mencium bau alcohol di mana-mana. Apa aku pernah katakan, seberapa tidak sukanya aku pada tempat ini. Mual, rasanya mual harus mencium bebauan seperti ini. Tidakkah kau memikirkanku.

Lagi-lagi kau diam.

Sekarang tubuhmu sudah tidak sebugar dulu. Aku bisa melihat cekungan dipipimu. Kilau rambut pirangmupun sudah tidak lagi bersinar. Bibir mungilmu sudah tidak lagi semerah dulu. Kau semakin kurus, hanya kulit yang membalut tulangmu. Tanganmu sudah sangat lemah, tidak berdaya. Jari-jari yang dulu kau gunakan untuk menulis sudah tidak lagi berkarya.

Kau hanya terbaring di sini, di ranjangmu dengan infuse yang menjadi penyokong hidupmu. Ini semua salahku. Sedikitpun kau tidak salah. Tidak seharusnya orang tuaku membuatmu begini.

Setiap hari ketakutan selalu membayangiku. Takut jika mereka tahu kau masih hidup. Takut jika kau meninggalkanku. Takut jika semuanya berakhir dengan cepat.

Kau tahu apa yang bisa membuatku bertahan? Hanya kau.

Tangan mu yang selalu menyentuh pipiku. Berharap jika itu benar-benar kau. Itu yang kubutuhkan. Khayalan yang membuatku bertahan.

Aku memang menyukai keheningan tetapi keheningan saat bersamamu membuatku seakan mati.

Aku tidak menyalahkan mereka yang membuatmu begini. Aku tidak menyalahkan keadaan yang menentang kita. Aku tidak menyalahkan siapa pun.

Itukah yang ingin kau dengar dari mulutku. Aku tidak bisa.

Aku tidak mungkin tidak menyalahkan orang tuaku yang membuatmu begini. Aku tidak mungkin tidak menyalahkan keadaan yang menentang kita. Aku tidak mungkin tidak menyalahkan semua orang. Salahkah aku? Salahkah kau? Salahkah kita? Aku pria, kau pun pria. Salahkah kita jika bersama?

Di luar sana banyak orang yang menentang kita, menganggap `sial` diri kita. Mereka menyalahkan kita atas semua kekacauan yang terjadi.

Mereka munafik, begitupun aku.

Kau tahu betapa muaknya aku berpura-pura bersikap `senormal` yang mereka katakan. Semakin lama aku semakin jauh dari diriku.

Ingin rasanya aku mengeluarkan semuanya, tetapi untuk apa? Mereka tidak akan mengerti bagaimana aku mencintaimu.

Kalau mereka mengatakanku menjijikan, aku memang menjijikan.

Hei, tidakkah kau merindukan aku. Tidak inginkah kau melihat seberapa tampannya aku?

Kau ingat sudah berapa lama kau tertidur?

Tiga tahun. Bukankah itu cukup lama?

Sekarang kau mulai egois.

Kau membiarkanku sendirian, bukan?

Cepatlah bangun.

Kau tahu, aku menemukan sesuatu yang indah.

Sebuah pulau di Amerika Selatan.

Kita bisa membangun sebuah pondok kecil di sana, hanya berdua.

Kau tahu bagaimana indahnya pantai di sana?

Langit yang biru membentang menyatu dengan birunya laut, mengingatkanku padamu.

Kita bisa makan siang di hamparan pasir putih, hanya berdua.

Kita bisa melakukan apa saja di sana. Tidak ada mereka, orang tuaku, atau siapa pun yang menentang kita.

Kita akan hidup bahagia sampai tua.

Hidup yang selalu kita harapkan.

Aku tidak berani mengharapkan apapun bahkan meminta apapun yang ku ingin hanya bersamamu menjalani hidup berdua denganmu.

Cepatlah bangun.

Aku menunggumu.

One response

  1. Back-Total yaoi addict

    Wakakakkk.. Kata-kata yang digunakan baguss.. Plotnya mudah dicerna! meski singkat, tapi perasaan sasuke tersampaikan sekali..
    Sungguh menarik..
    GOOD JOB!

    18 Juli 2011 pukul 19:40

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s