fanfiction for our soul

[Lomba Fanfiction Genre 2] Meaningful Separation Part 1


 

Meaningful Separation

Part 1

By Flowery

 

 

***

 

 

Warning: BoyxBoy Love. EunHae pairing. Enough said.

 

 

***

 

 

Bosan adalah satu kata yang menakutkan. Bagi Donghae, pastinya. Ia selalu takut seseorang yang dekat dengannya mengatakan kata itu kepadanya. Ditambah lagi, Donghae tidak percaya diri dan selalu merasa dirinya bukan apa-apa. Jadi ketika kata-kata itu keluar dari bibir pacarnya, ia hanya terdiam, tidak tahu mau menjawab apa.

 

Eunhyuk merasa bosan. Ia bosan dengan hubungannya, dengan kehidupannya, dan dengan apa yang sedang dikerjakannya. Ditambah teman-temannya yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing, ia jadi tambah muak. Mungkin inilah titik jenuh yang sedang dirasakannya. Memasuki tahun ketiga hubungannya dengan Donghae, di saat ia membutuhkan sesuatu yang berbeda, mereka malah tetap monoton. Eunhyuk merasa Donghae tidak dapat menjadi pemuas dahaga yang seharusnya ia dapatkan.

 

Pada saat yang bersamaan, Eunhyuk bertemu dengan Henry, namja cantik yang mempunyai badan super bagus, uang yang berlimpah, dan kehidupan glamour. Mungkin kata-kata terakhir itu yang diinginkan oleh Eunhyuk. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang baru. Apalagi usia Henry beberapa tahun di bawahnya, dan tidak seumuran seperti ia dan Donghae. Mulai dari pola pikir, sifat manja, emosi yang meledak-ledak tentu saja, sampai rasa cemburu dan posesif yang berlebihan dirasakan oleh Eunhyuk saat Henry mendekatinya.

 

Henry sangat menyukai Eunhyuk semenjak ia duduk di bangku SMA dan ia sampai mengambil jurusan yang sama dengan Eunhyuk di kampusnya. Apapun dilakukannya agar bisa dekat dengan Lee Hyukjae.

 

Di saat rasa bosannya memuncak dan rasanya semakin hari semakin dingin tatapannya terhadap Donghae, Henry menyatakan bahwa ia tidak sanggup berpisah lagi dengan Eunhyuk, setelah mencuri sebuah ciuman dari bibirnya di mobil. Hubungan badan pun tak terelakkan. Satu hal yang tak pernah dilakukan Eunhyuk pada Donghae, dilakukannya pada Henry, sang bocah yang telah membangkitkan gairahnya untuk menjelajahi hidupnya dan mencoba hal-hal baru.

 

Eunhyuk menyukai perubahan suasana yang dilakukan oleh Henry, karena itu ia memutuskan untuk melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya: Memutuskan Donghae.

 

“Aku bosan. Maaf, kita sudah tidak bisa lagi…”

 

Hanya itu yang meluncur dari mulutnya. Setelah itu, tanpa menunggu reaksi Donghae atau bahkan repot-repot melihat mukanya, Eunhyuk melangkah pergi dengan dingin. Hubungan tiga tahun yang sudah dibina pupus sudah. Tapi Eunhyuk tidak merasa kehilangan. Yang dirasakannya hanyalah kebahagiaan akan hubungan baru yang sudah menantinya. Bersama Henry, si mochi nan imut. Yang penuh dengan ekspresi.

 

Dan ia tidak akan menyesal…

 

 

***

 

 

“Putus???”, Sungmin tersedak.

 

Donghae tersenyum kuat. “Bukankah itu yang memang akan terjadi?”

 

“Hae! Kau ini! Jadi perasaan kalian selama ini? Semua yang telah kalian bangun bersama?”

 

Donghae menggeleng lemah. “Perasaan kami tidak sama, Sungmin… Mungkin hanya perasaanku saja. Aku tidak bisa memaksanya… Entah mungkin selama ini ia sudah terus-terusan memendam rasa bosannya ini, hehe…”

 

Sungmin menatap sahabatnya tidak percaya. “Hae…kau, kau tidak berusaha memperjuangkan?”

 

Donghae sedikit tersentak dengan pertanyaan Sungmin. Ia berusaha berpikir, tapi otaknya tidak dapat memikirkan apapun untuk saat ini. Begitu Eunhyuk memutuskan untuk melangkah pergi dari hubungan mereka, ia tidak dapat menangis, tidak sedih, tidak meratapi. Ia merasa pantas mendapat sikap dingin Eunhyuk. Ia memang membosankan. Ataukah seharusnya ia melakukan apa yang dikatakan Sungmin? Memperjuangkan?

 

“Donghae?”

 

Sungguh ia tidak bersyukur apabila ia marah pada Eunhyuk. Tiga tahun sudah lebih dari cukup diberi waktu untuk mencintai Eunhyuk. Apalagi yang ia inginkan?

 

Pikirkan kebahagiaan Hyukkie, Donghae.

 

“Tidak…tidak apa-apa. Inilah yang seharusnya terjadi, Sungminnie, memang ini,” Donghae tersenyum manis, saking manisnya menyayat hati Sungmin. “Aku tidak pantas akan Hyukkie…”

 

 

***

 

 

Pada hari pertama mereka jadian, yang dilakukan Eunhyuk dan Henry hanyalah seks. Berbagai macam variasi dan posisi mereka lakukan tanpa henti. Jeritan dan erangan Henry menyiksa Eunhyuk, membuatnya ingin lebih membahagiakan Henry. Kau mungkin akan berpikir bahwa seorang Lee Hyukjae adalah sex machine, dibandingkan sebuah dance machine. Seks kilat di kamar mandi, di mobil, di taksi, di taman, di manapun mereka bisa pun dilakukan. Bibir Henry yang mencibir seksi selalu berhasil membuat Eunhyuk menuruti keinginannya.

 

Jantung Eunhyuk berdebar-debar. Hal baru yang tidak pernah dirasakannya. Ia merasa tertantang, adrenalinnya terpompa.

 

It’s good to be an explorer.

 

“Menyenangkan sekali ya, Eunhyuk-hyung..”, Henry menyender manja di tangan Eunhyuk.

 

Eunhyuk hanya tersenyum sebelum membiarkan bibirnya dicium lagi oleh Henry.

 

Ya, lumayan…

 

 

***

 

 

“Menyebalkan,” Sungmin menggerutu saat melihat sosok Eunhyuk dan Henry yang menempel manja di lengannya. “Pamer sekali sih.”

 

Donghae mengikuti mata Sungmin dan tersenyum kecut. “Eh..tapi lucu ya..kelihatannya Henry sayang sekali….”

 

Leher Sungmin seakan hendak patah akibat memalingkannya begitu cepat. “Eh, itu mantanmu, loh. Mantanmu yang masih sangat kau cintai, Hae. Mana ada orang yang berkomentar mantannya lucu jalan dengan pacar barunya? Kau sakit? Kau gila? Atau kau terlalu baik hati?”

 

“Sudahlah, Minnie…selama Hyukkie bahagia…”

 

“Ck, kau ini…”

 

Sungmin tetap berceramah sepanjang jalan dan Donghae memberanikan diri melirik pasangan tersebut sekali lagi. Henry kelihatan…berbeda. Henry kelihatan begitu hidup, meluap-luap, ceria, sungguh berbeda 180 derajat darinya. Pastinya Henry tidak seperti dirinya…tidak membosankan.

 

Meski begitu, Donghae tidak dapat memungkiri bahwa hatinya begitu perih melihat Eunhyuk tersenyum penuh kasih sayang pada Henry.

 

 

***

 

 

Henry mengungkapkan keinginannya untuk mencoba minuman keras. Eunhyuk menatap kekasihnya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu sadar bahwa ia sudah cukup umur. Henry mencibir dan mencubit lengannya keras. Eunhyuk tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit. Seolah-olah ia sudah setahun tidak tertawa.

 

Sudah bisa dipastikan hasilnya: Henry mabuk. Syukurlah badannya yang kecil membuatnya gampang untuk digendong. Sesampainya di apartemen Henry, ia masih harus bersabar menemani Henry memuntahkan kembali isi perutnya. Ditepuknya kepala namja yang lebih muda itu dengan penuh kasih sayang. “Kan tadi aku sudah bilang Hae…Hen…”

 

Eunhyuk tertegun. Apakah aku baru saja akan menyebut namanya?

 

Henry batuk. “Hehehe…iya Eunhyuk-hyung..aww, kepalaku pusing…”

 

“Besok pagi akan lebih parah lagi hangover-mu,” Eunhyuk menggelengkan kepalanya. “Sudah, jangan pikirkan apapun lagi malam ini. Ayo tidur.”

 

“Hmm…Hyung akan tetap disampingku kan? Jangan pulang, ya…”

 

Eunhyuk terdiam. Sungguh ia tak terbiasa diperlakukan seperti ini. Ia tidak terbiasa dengan sikap Henry yang sama sekali berbeda dengan Donghae. Ia lebih terbuka, lebih blak-blakan, dan lebih bisa mengungkapkan isi hatinya. Permintaan-permintaan yang diajukan Henry tidak berlebihan. Bahkan, begitulah seharusnya permintaan seseorang terhadap pacarnya.

 

Henry meletakkan kepalanya di dada Eunhyuk dan mulai bernafas teratur. Tertidur. Eunhyuk berusaha membuang jauh-jauh pikiran yang berhubungan dengan Donghae sebelum akhirnya membawa Henry ke tempat tidur.

 

 

***

 

 

Donghae terbangun dan menatap jam dinding di kamarnya. Badannya basah oleh keringat. Ia membawa kedua tangannya ke mukanya, dan menatap ke sebelahnya, dimana biasanya ada sosok yang menemaninya tidur. Sosok yang terbangun apabila Donghae membuat gerakan aneh sedikit saja. Sosok yang memeluknya erat apabila Donghae terbangun di pagi hari, seperti saat sekarang ini, dan menemaninya kembali tidur.

 

Rasa rindu menyiksanya.

 

Sudah berapa lama sejak mereka berpisah? Cukup lama. Sebulan? Dua bulan?

 

Kemarin Donghae menangis tersedu-sedu di hadapan Sungmin. Ia tak sengaja melihat EunRy berciuman di depan locker. Rasa tegar yang selama ini dibangunnya menjadi hancur. Segala pertahanannya pupus sudah. Menyesali. Merutuk. Meratapi semua yang telah terjadi. Apakah seharusnya ia keras kepala? Apakah ia seharusnya marah pada Eunhyuk, memaksanya memikirkan perkataannya kembali?

 

Sungmin tak dapat menjawabnya. Ia hanya memeluk sahabatnya erat. Membisikkan padanya ia harus mengeluarkan semua yang ada dalam hatinya. Bahwa tidak ada seorang pun yang akan mengerti, kecuali Tuhan, apabila ia tidak mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Donghae pun tak sanggup lagi menahan semua yang telah disimpannya. Ia menangis, melepaskan semua beban di hati dalam pelukan Sungmin.

 

 

***

 

 

“Clubbing?”, Donghae menatap Sungmin dengan tidak percaya.

 

“Yah! Kau butuh hiburan, tahu! Siapa tahu ada cowok cakep yang bisa jadi pengganti Eunhyuk.”

 

“Um…aku tidak bisa mencintai orang baru untuk sekarang, Sungminnie..”

 

“Baik, baik, paling tidak untuk menyembuhkan hatimu saja dulu, siapa tahu ada yang bisa menarik hatimu..”

 

Donghae menghela nafas, merasa kalah. “Ya sudah…kapan? Siapa saja?”

 

“YES!!”

 

 

***

 

 

“Clubbing?”

 

Henry mengangguk semangat, matanya menatap Eunhyuk dengan memelas.

 

“Entahlah, Henry…aku sedang tidak bersemangat…”

 

“Huaaa…pleasee? Pleaseee Hyung?”

 

Eunhyuk masih duduk di tempat tidur hanya dengan memakai celana panjang. Mereka baru saja make love, tapi Eunhyuk merasa dirinya hampa.

 

Beberapa hari belakangan ini Eunhyuk mulai merasa aneh. Ia mulai menatap Henry dengan asing. Permintaan-permintaan Henry yang biasanya dikabulkannya perlahan-lahan ditolaknya. Henry sangat kaget dan menangis, bertanya apa ada yang salah. Eunhyuk tidak bisa menjawab. Ia lalu mulai membelikan Eunhyuk barang-barang mewah sebagai permintaan maaf.

 

Donghae.

 

Nama itulah penyebab Eunhyuk tidak sanggup fokus lagi pada Henry.

 

Saat Henry manja padanya dan meminta sebuah ciuman darinya, Eunhyuk menyadari bahwa Donghae melihat mereka berciuman. Hanya sebuah ciuman singkat yang membuat Henry tersenyum senang dan memeluknya, tanpa menyadari pandangan Eunhyuk tidak lagi ke arahnya. Mata mereka bertemu, dan Donghae mengekspresikan sesuatu yang tidak pernah Eunhyuk lihat sebelumnya.

 

Terluka.

 

Ia kelihatan begitu sedih dan terluka, sampai akhirnya Donghae memutuskan pandangannya duluan dan berlari menjauh.

 

Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan??, jerit Eunhyuk dalam hatinya.

 

Eunhyuk mulai merasa tidak bahagia. Yang dilakukannya hanyalah melampiaskan kekesalan pada Henry. Berbagai alasan dan kemarahan mulai hinggap di pikirannya. Seharusnya kalau kau tidak suka Donghae tertutup padamu, katakan saja! Bukankah itu yang dilakukan sepasang kekasih? Saling berkomunikasi? Saling menjaga agar hubungan itu tidak hambar? Jika kau memang merasa tidak puas padanya, seharusnya kau katakan padanya apa keinginanmu, dan dengarkan keinginannya! Semudah itu!

 

“Hyung?”

 

Henry memandangnya cemas. Cantik sekali. Eunhyuk menyentuh pipinya, dan Henry memejamkan matanya, menikmati elusan jari Eunhyuk di pipinya.

 

“Maafkan aku…”

 

“Hyung?”

 

“Kau begitu cantik dan sempurna, tapi aku tidak bisa…”

 

Kata-kata terakhir hampir sama dengan apa yang diucapkannya pada Donghae dua bulan yang lalu. Ia berharap mendapat respon yang sama. Di luar dugaannya, Henry menangis sejadi-jadinya dan tidak menginginkan Eunhyuk putus dengannya.

 

“Apa salahku Hyung? Apa kekuranganku? Apa yang membuatmu tidak bisa?”

 

Eunhyuk tertegun. Kenapa Henry bersikap seperti apa yang ia inginkan?

 

“Maaf, Hyung…beritahu aku….aku akan berubah demi dirimu… Katakan saja apa yang Hyung ingin aku ubah, aku akan merubah semuanya…”, Henry berkata sambil menangis dan memeluk tubuh Eunhyuk yang tanpa baju dari belakang. “Aku mohon, Hyung…”

 

Semua yang aku inginkan Donghae untuk mengucapkannya…kenapa bisa kau yang mengucapkannya padaku???

 

“Maaf, Henry…aku…aku masih sangat mencintai Donghae…”

 

 

 

 

To Be Continued.

9 responses

  1. wiw, ceritax sedih..:/ kasian mas donghae jadi terluka bgtu.. tpi coba dy lebih brani ngmong k si unyuk, pasti ga’ bakal putus tuh.. ahh, tpi salah unyuk juga, seenakx aja mutusin hae.. ahh, saya bngung.. /plak ^.^v ditunggu next partx..😉

    9 Juli 2011 pukul 07:19

  2. annyonghaseyoo~….
    aku suka banget sama sad storyyy…..
    lanjuuuttttttt….
    ceritanya bagus, n nguras emosi, pas bacanya tu, rasanya gimana gitu dadanya…
    benaran gak bohongggg….
    akuuuu sukaaaaaa….
    moga menanggggg…..
    annyong~…

    10 Juli 2011 pukul 17:15

  3. Huaaa gomawo, seneng sekali baca komennya… hwaiting! ^^

    10 Juli 2011 pukul 22:16

  4. Lidyaatrueelf^^

    Huwaaa..
    Hiks.. Hikss..
    Begimana nih entar lanjutannya?
    Jangan sad ending yak thor..
    Saya pengennya yang happy ending..
    *author: emang elo siapa?*
    hoho.
    Bgus thor ceritanya.
    Gak bertele-tele.
    *menurut saya*
    keke..
    Semoga menang yaa..?
    Jangan sad ending yak thor..
    Saya pengennya yang happy ending..
    *author: emang elo siapa?*
    hoho.
    Bgus thor ceritanya.
    Gak bertele-tele.
    *menurut saya*
    keke..
    Semoga menang yaa..

    11 Juli 2011 pukul 20:55

  5. HAEPPAAAAAAAAAAAAAAAAAA*terjang Haeppa*
    jangan sedih Chagi, aq selalu ada untukmu*ditendang Eunhyuk Oppa ke planet monyet*
    Haeppa sabar banget sih, jd terharu TT^TT
    Cintanya tulus banget ke Hyukie Oppa.
    Happy ending ya Author sshi~~~~~
    Kasihan Happa, tp lok mw oang buat gantiin Hyukie Oppa di hati Haeppa, saya siap dengan posisi tersebut ^^v
    Happa my Chagi~~~~~Saranghae~~~~~, cintaku sebanyak ikan yg ada di lautan, ditambah yg di kolam, akuarium dan juga ikan2 yg ada di empang milik tetanggaku.*ditendang Author*
    Keren, semoga menang ^^
    Hwaiting!!!

    19 Juli 2011 pukul 17:51

  6. lee

    huwee..ceritanya menyentuh sangat nih….kasihan donghaenya karean gak bisa jujur dianya jadi sakit sendiri….lanjutkan chingu ..keren nih FFnya……

    17 Agustus 2011 pukul 21:48

  7. ajulle

    kyaa … Aku jadi ikut kebawa suasana bacanya euy , authornya keren aku ampe ikutan ngerasa sakit hati tuh ama si eunhyuk #plak *di gampar jewel gara-gara ga pake oppa manggilnya*

    24 Agustus 2011 pukul 20:12

  8. Huwee… *terharu* terima kasih atas dukungannya untuk fic yang tak seberapa ini… udah ada kok lanjutannya, nunggu di post aja sama adminnya yaa… semoga semuanya suka… <333

    8 September 2011 pukul 00:01

  9. lyndha mazeltov

    Salut untuk author
    Ceritanya menurutku sangat amat menyedihkan
    Padahal ini baru part 1
    Tp udah kerenn
    Lanjut author flower
    Im your fans

    15 Januari 2012 pukul 20:09

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s