fanfiction for our soul

[Lomba Fanfiction Genre 1] Boku no Karappo na Tenohira


TITLE               : Boku no Karappo na Tenohira

AUTHOR          : Funazuka Rinou

FANDOM         : the GazettE ( Uruha, Kai, Ruki, Reita, Aoi ). Eccentric Agent And ( Kili, Ikuma )

+++++++++++++++++++++

[ I will burry everything that was important to me in blossoms under this tree.

 ~Harusaki Sentimental – Plastic Tree~]

Kali ini guru mata pelajaran kimia tidak hadir sehingga para pengacau kelas seolah mendapat peluang yang besar untuk mengekspresikan diri mereka. Suasana kelas begitu ramai dan beberapa siswa menjadi terpengaruh untuk melakukan hal-hal membuat keadaan kelas semakin riuh, tetapi tidak untuk Uruha yang tetap fokus dengan goresan demi goresan pen yang ia aplikasikan ke dalam sketchbook di hadapannya.

“Gitar lagi?” Sahut Reita tiba-tiba sambil menepuk pundak Uruha

“Eh?.. ee.. apa urusanmu?!”

“Tidak usah gugup begitu, hahaha.” Reita meninggalkan bangku uruha dan kembali mengacaukan suasana kelas bersama gerombolan pengacau kelas lainnya.

Sambil terus berjaga-jaga Uruha melanjutkan kembali sketsa gitar yang dibuatnya, sepertinya dia benar-benar tidak ingin ada seorangpun yang mengetahui apa yang dibuatnya.

Pandangan Uruha terarah ke luar kelas saat dia mulai mengistirahatkan matanya yang telah lelah. Dari sela pintu yang terbuka lebar, terlihat sosok seorang pemuda jangkung, tegap, dan tampan sedang bercanda bersama teman-teman  dekatnya. Dia Kili, dia adalah ketua kelas 11-C, dia adalah pribadi yang baik dan bertanggung jawab di mata Uruha. Dia sangat pantas untuk berada di posisi itu, batin Uruha.

Kili pernah memperlakukan Uruha dengan sangat baik, bahkan membantunya berdiri saat ia terjatuh di depan kelas, hal itu sangat membuatnya terkesan dan kagum terhadap Kili. Walau begitu, Kili dan Uruha tidak sedekat itu. Mereka jarang sekali berbincang secara langsung, bahkan terkesan jauh. Uruha sendiri merasa canggung tiap kali harus berhadapan dengan Kili. Kili bukanlah orang yang pendiam, begitu juga Uruha. Hanya saja, ketika berhadapan dengan Uru, Kili menjadi lebih kaku dari biasanya, hal inilah yang membuat Uruha menjadi canggung dan tidak seheboh saat bersama teman-temannya yang lain saat harus berhadapan dengan Kili. Walau sebenarnya tersimpan keinginan untuk bisa mengenal Kili lebih dekat lagi. Sedekat dia dengan teman-temannya. Atau mungkin lebih?

Uruha membelalakan matanya, dia terkejut setengah mati dan mulai mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Dengan mata terpejam dia menggelelng-geleng kan kepalanya dengan keras dan memukul kasar kepalanya.

“Hentikan itu !” batinnya.

************************

            “Hei Uru~chan, bagaimana kalau sore ini kita pergi ke pameran musik bersama?”

“Tidak ah Ru, aku tidak ada waktu.” Ucap Uru lemas sambil meletakkan tangan kanannya di bahu Ruki.

“Hey, ayolah, banyak model bass terbaru di sana, aku ingin melihatnya.” Sahut Reita lirih. Uruha tetap berjalan sampai kedua kakinya menapak di luar batas sekolah tanpa menoleh ke arah Reita yang sangat berharap atas responnya.

“Kai, bagaimana denganmu, kau ikut?” Ruki beralih membujuk Kai.

“Tentu, aku pasti ikut.”

“Naaah, kau dengar itu Uru? Kau juga harus ikut.” Sentak Rei girang

“Iya-iya, baik. Memang siapa saja yang ikut?”

“Aku, Kau, Ru, Kai, Ikuma, dan Kili.”

DEG

Kili?!

*************************

            Uruha tertegun menatapi detil demi detil gitar elektrik di hadapannya. Matanya berbinar-binar menunjukkan bahwa dia benar-benar kagum dengan design gitar berwarna ungu itu. Kini dia mengalihkan pandangannya ke arah lorong di sebelah kanannya. Terlihat Kili juga memandangi gitar-gitar elektrik yang terpampang di lorong itu. Entah mengapa Uruha merasa dia ingin Kili mendatanginya dan melihat-lihat serta mengomentari gitar-gitar itu bersamanya. Tetapi sisi akal sehat Uruha menentangnya, dan lagi dia menggeleng-gelengkan serta menepuk kepalanya dengan keras. Dalam hati dia berseru “CUKUP”

Tiba-tiba sesorang muncul memasuki lorong tempat Kili berada. Dia Yume. Dia adalah wanita yang dekat dengan Kili.

Yume juga datang?!

Mereka berdua bercanda dengan hebohnya. Dan mereka berdua tertawa bersama. Terbesit di pikiran Uru andai dia bisa membuat Kili tertawa selepas itu, lagipula Uru juga adalah orang yang bisa membuat suasana menjadi ramai, bahkan lebih dari Yume, tetapi…

Uruha memalingkan wajahnya dan pergi meninggalkan ruangan tempat ia berpijak dan bergegas mencari Ruki, Reita dan yang lainnya.

*************************

            Malam telah tiba. Lampu-lampu jalanan mulai terlihat terang dan bintang-bintang di langit berkerlipan menghiasi gelapnya langit Sendai. Malam ini mereka mampir ke kedai ramen kecil untuk sekedar menghapus rasa lelah.

“Kili? Benda apa itu di mangkukmu?” seru Uruha memulai pembicaraan sambil menunjuk sebuah naruto yang berbentuk aneh.

“Ha? Haha entahlah, kau suka bentuknya? hahaha.”

“Itu adalah kotoran hewan. Biasa, Kili adalah pemakan segala yang suka memakan apa saja termasuk kotoran” sahut Reita lancang sambil tertawa lepas

“Kenapa? Apa kau ingin kotoranmu kumakan juga?”

“Hiiieeeehhh, Kili aku tidak menyangka sebelumnya, ternyata makananmu sangat berkelas” ucap Uru sambil melebarkan tawanya.

“Kau mau coba?”

“Hei-hei! Bisakah kalian diam?!” Seru Ruki dengan nada yang cukup tinggi. Sepertinya dia mulai kehilangan selera makannya. Semua tertawa, suasana kedai yang tadinya sepi menjadi riuh hanya karena 6 orang pemuda yang semuanya tidak bisa diam.

Malam itu adalah malam yang berkesan. Terutama bagi Uru. Dia senang, dia telah berhasil mengekspresikan dirinya kepada Kili. Semoga saja ini akan berlangsung terus.

*************************

            Rasa lelah menyelimuti Uruha yang telah terbaring lemas di kasurnya. Dia menoleh ke arah dinding kamarnya yang dipenuhi gambar sketsa gitar buatannya. Dia menjulurkan tangan kanannya dan seolah-olah menyentuh salah satu gitar di kertas berukuran A4 yang tertempel di dinding kamarnya.

“Andai aku bisa memainkannya” ucapnya lirih

Uruha menarik tangannya dan menghadapkan telapak tangannya ke depan wajahnya. Dipandanginya telapak tangannya lekat-lekat. Matanya mulai berkaca-kaca, dan dadanya mulai terasa begitu sesak. Kenangan yang terekam jelas adalah saat dia mulai mencoba memainkan gitar akustik. Dan gagal. Dia bahkan pernah mengikuti les bermain gitar, tetapi tetap saja gagal. Sampai-sampai guru lesnyapun mengatakan. “Sepertinya ini memang bukan bakatmu”.

Meskipun tidak bisa memainkan gitar sama sekali, kecintaannya terhadap gitar tidak luntur sedikitpun. Dia tetap mencintai gitar dan tidak pernah berhenti berharap kedua tangannya akan berhasil memainkan sebuah gitar.

Tiba-tiba kenangan malam itu terbesit di pikiran Uruha. Tentang Kili. Lagi, kedua sisi Uruha yang bertentangan membuat Uruha semakin pusing. Di satu sisi, dia ingin lebih dekat lagi dengan Kili. Dan jauh di dalam dirinya, dia ingin selalu bersama Kili. Tetapi sisi nya yang lain menentang keras semua itu. Uruha masih ingin menjadi seorang pria normal yang menyukai wanita. Bukan Kili. Bukan seorang pria. Kata-kata yang selalu terucap saat dia mulai tergoyah akan Kili adalah “Hentikan! Cukup! Aku seorang pria normal! Apa-apaan semua ini?! Dia hanyalah teman sekelasku dan selamanya akan tetap seperti itu!”. Pertentangan demi pertentangan batin inilah yang begitu menggoyahkan kondisi psikologis Uruha, ditambah lagi harapannya yang begitu besar terhadap gitar. Dia mulai kacau. Dia sudah tidak tahan lagi dengan segala pemikiran-pemikiran yang begitu mengganggunya. Segera dia menutup kedua matanya, berharap dia bisa merasa lebih tenang.

************************

            Hari demi hari berlalu dengan cepat. Disela itu, Kili dan Uruha sudah mulai dekat entah melalui e-mail ataupun pesan singkat, walau Kili masih kaku saat berhadapan dengan Uruha secara langsung. Begitupun Uruha, walau dia juga canggung, tetapi sebisa mungkin dia terlihat seru dan menyenangkan di hadapan Kili. Dengan harapan, Kili juga akan bersikap serupa.

“Kau ada waktu untuk latihan sore ini?”

“Ya, tentu saja. Jadi latihannya sore ini? Aku pikir lusa.”

“Ya, aku juga berpikir begitu, tetapi Ken dan Peco ada acara besok lusa.” Kili terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan dari Ikuma. Seoertinya ada yang ia rencanakan.

“Hoo begitu, baiklah. Bagaimana kalau kali ini aku membawa gitarku sendiri? Aku baru saja membelinya. Yaaah, anggap saja percobaan.”

“Wooo, kau sudah beli rupanya. Wah, tak apa, itu ide bagus.” Seru Ikuma mengisyaratkan kekagumannya. Tanpa mereka sadari, seseorang menguping pembicaraan mereka. Yap benar, Uruha. Satu hal yang membuat Uruha bersemangat kali ini

“Kili seorang gitarist?!” Serunya pelan. Dia semakin bersemangat untuk kembali menyentuh gitar.

******************************

Kriiiiinggg

“Moshi-moshi”

“Moshi-moshi, Uru.”

“Ayah?”

“Besok sore kau ada waktu?”

“Ya, ada apa?”

“Ayah akan mengenalkanmu pada guru bermain gitar, dia adalah teman baru ayah kau tertarik?”

“Hontou?” wajah Uruha berbinar

“Ya, kebetulan besok lusa ayah akan pergi ke rumahnya, jadi sekalian saja ayah mengenalkanmu.”

“B..baiklah.”

“Oh, iya, ayah lupa. Ayah tidak bisa pergi ke sana bersamamu, karena sebelumnya ayah ada urusan dengannya, jadi ayah berangkat pagi. Kau tidak apa-apa kian berangkat sendiri. Nanti di rumah ayah beri tahu alamatnya.”

“Iya, baiklah,  tidak apa-apa.”

“Yasudah sampai jumpa nanti.”

“Baiklah.”

Kegembiraan terlukis jelas di wajah Uruha. Dia tidak bisa menutupi kegembiraannya, dia terus tersenyum dan terlihat ceria. Reita dan Ruki menatapnya heran. Uruha menyadari tatapan kedua temannya, tetapi dia tidak peduli. Satu-satunya hal yang diinginkannya hanyalah segera bertemu guru barunya dan bermain gitar.

“Rei,”

“Hmm?”

“ tebak apa?”

“Gitar?”

“Aku juga berpendapat seperti itu.”

Reita dan Ruki lebih memilih untuk berhenti memperhatikan Uruha dan kembali dengan urusan mereka. Toh meskipun mereka terus-terusan memandangi Uruha, kebahagiaan Uruha juga tidak akan bisa mereka rasakan.

*****************************

           Hari yang ditunggu-tunggu Uruha telah tiba. Hari dimana dia akan berlatih bermain gitar kembali. Dengan penuh harap, dia memohon kelancaran pada hari ini. Tetapi….

“Haaaa…. ini dia pasangan baru di kelas kita!!!” celoteh salah satu siswa. Uruha menoleh ke arah pusat perhatian. Kili dan Yume! Mereka datang ke sekolah dengan bergandengan tangan!. Wajah Yume memerah karena tersipu oleh perlakuan para penghuni kelas. Semua, kecuali Uruha. Uruha terdiam, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Di satu sisi dia merasa terkejut dan shock, di sisi lain dia berusaha menolak dan berpikir untuk apa dia kecewa. Ini hal yang wajar, justru jika dia merasa kecewa, itu adalah hal yang tidak wajar. Uruha tetap terdiam meski sesekali ikut tersenyum dan tertawa saat mendengar gurauan tentang hubungan Kili dan Yume. Tentu saja itu adalah senyum palsu yang dibuatnya. Senyum untuk menutupi rasa sakitnya, rasa sakit yang tidak wajar menurutnya. Namun apapun itu, rasa sakit tetap rasa sakit. Yang akan tetap terasa sakit walau berusaha menutupinya.

****************************

            Uruha melaju dengan kecepatan motor 110km/jam. Dia berusaha fokus dan berpikir untuk sampai pada tujuan tepat waktu. Dia akan pergi ke rumah guru barunya, bermain gitar dan bertemu ayahnya, dia harus merasa bahagia. Akan tetapi kenangan-kenangan saat di sekolah terus menerus menempel di otaknya. Dia berusaha menepis tetapi selalu saja kenangan itu muncul di pikirannya.

Tanpa pikir panjang, dia melakukan lagi hal yang biasa dilakukannya pada saat-saat seperti ini, dan tentu saja hal itu akan memecah konsentrasinya saat berkendara. Di saat yang bersamaan, sebuah truk melaju tepat di belakangnya. Supir truk mabuk sehingga tidak menyadari keberadaan Uruha di depannya. kecelakaan tidak dapat dihindari, Uruha terpental cukup jauh. Dia terjatuh dengan tangan kanan yang tertindih badannya. Uruha masih bisa berpikir saat itu, dia berusaha menggerakkan tubuhnya untuk menyelamatkan tangannya, tiba-tiba sebuah mobil yang melaju dari arah berlawanan bergerak mendekatinya. Uruha menoleh lemas. Walau hanya samar-samar, Uruha dapat melihat ban mobil yang perlahan-lahan menghancurkan tangan kirinya. Dia tidak bisa merasakan apapun…

**********************

“AAAAAAARRRRGGGGHHHH!!!!!” Uruha tersentak dan segera bangkit dari tempat tidurnya. Nafasnya tersengal-sengal, jantungnya berdebar begitu cepat, badannya basah akan keringat dingin. Dia sangat panic.

Dia melihat ke sekeliling, dan mulai mengenali tempat dia berada sekarang.

“Kamarku?! Aku?” dia mulai menggerakkan kedua tangannya dan mendapati kedua tangannya yang masih utuh. Perasaan lega yang begitu besar melunturkan rasa panic yang sedari tadi mengganggunya. Dia tersenyum senang dan menggerakkan kedua tangannya memosisikannya untuk menutupi kedua matanya.

Itu hanya mimpi

Perlahan Uruha membuka kedua matanya. Kini dia berada di sebuah ruangan bercat putih yang dipenuhi peralatan medis.

“Rumah sakit?” ucapnya lirih. Uruha berusaha terbangun, tetapi dia tidak bisa. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan tangannya tidak dapat digerakkan dengan mudah.

Dia tetap berusaha menggerakkan kedua tangannya untuk memastikan tidak ada hal buruk terjadi. Dan..

Mata Uruha terbelalak lebar, wajahnya pucat, keringat dingin mengucur deras saat dia mendapati kedua tangannya hilang! Tangannya hanya sebatas siku saja. Tangannya di amputasi! Dia tidak akan bisa dan tidak akan pernah bisa bermain gitar lagi. Impiannya benar-benar hancur. Dia sudah kehilangan 100% kesempatannya bermain gitar. Kesempatannya mewujudkan impiannya menjadi seorang gitaris. Tanpa terasa air mata deras mengalir membanjiri pipi pucatnya. Mulutnya menganga lebar. Rasa shock yang luar biasa meledak dalam dirinya. Dia menangis tanpa suara dengan nafas yang tidak beraturan.

INI NYATA?!

“Uru~kun.” Seru Ibu Uruha sesaat ketika membuka pintu bilik. Wanita paruh baya itu mendekati Uruha dengan berlinang air mata, seolah tidak kuasa melihat reaksi anaknya yang begitu terkejut akan kondisinya. Dia meletakkan kepala Uruha ke dalam pelukannya dan terus menangis. Uruha terus menangis tanpa mengeluarkan suara. Nafasnya semakin tidak karuan, suhu tubuhnya semakin panas dan tubuhnya lemas.

“Uru, kau sudah sadar.” Ayah Uruha mulai memasuki bilik dan kemudian turut memeluk istri dan anak kesayangannya dengan air mata yang mulai mengalir dari kedua matanya.

********************

Sudah 7 hari Uruha tidak mau makan. Kalaupun makan dia hanya akan membuka mulutnya sekali saja. Dia terus-menerus terdiam. Tatapannya kosong. Wajahnya pucat. Tubuhnya semakin kurus. Dia terlihat seperti mayat hidup.

Seorang tamu datang menemuinya. Tanpa menolehpun Uruha sudah mengetahui siapa yang datang. Jantungnya sudah berdegup lebih kencang dari sebelumnya.

“Uruha, bagaimana kabarmu?” Ucap Kili lembut dengan senyumnya yang lebih lembut dari suaranya. Uruha tetap tidak menjawab. Dia tetap terduduk diam dengan pandangan kosong.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman?” Sahut Kili sambil menyiapkan kursi roda.

Jalan-jalan?!

*********************

Mereka berdua kini duduk di kursi taman rumah sakit yang cukup luas sambil memandangi pemandangan sekitar yang cukup menyejukkan. Banyak pepohonan, dan suara cicitan burung di sore hari yang menentramkan pikiran.

“Kau sudah lama tidak melihat dunia luar bukan?” Kili mengawali pembicaraan. Uruha tetap terdiam.

“Kau suka cicitan burung?” Uruha tetap tidak menjawab.

“Oh, kau tidak suka ya. Lalu apa yang kau suka? Siapa tahu dengan melihat hal yang kau sukai kau akan segera sembuh.” Tiba-tiba sepercik memori muncul di pikiran Kili.

“Oh iya, kau suka gitar bukan?”

DEG

Jantung Uruha berdegup lebih kencang, dan bahkan sangat kencang sementara tubuh lemahnya sulit untuk mengimbangi. Mengimbangi degupan jantungnya dan psikologisnya yang mulai goyah karena mendengar kata “gitar”.

“Aku lelah~” Ucap Uruha lirih tanpa memalingkan pandangannya yang kosong.

“Ah, aa… b.. baiklah, kau bisa istirahat di pundakku.” Kili meletakkan kepala Uruha di pundaknya yang lebar dengan lembut. Memastikan Uruha benar-benar merasa nyaman.

Kili teringat akan sesuatu yang telah ia siapkan dan dia sudah berencana akan memberikannya kepada Uruha saat dia telah berhasil menghibur Uruha dan menidurkannya. Dia ingin Uruha membacanya saat ia mulai terbangun dari tidurnya. Kili mulai merogoh sakunya dan mengambil anplop kecil yang berisikan surat untuk Uruha.

Uruha memejamkan kedua matanya perlahan. Mengubur semua impian dan harapannya yang begitu besar terhadap gitar. Impiannya untuk bisa bermain gitar pupus sudah. Tidak ada lagi harapan. Begitu juga akan Kili, dia adalah seorang pria. Kili juga seorang pria. Akhirnya Uruha mengakui perasaannya terhadap Kili. Perasaan yang dipandamnya dan ditolaknya sekian lama. Perasaan yang ingin dibuangnya jauh-jauh. Perasaan cinta yang begitu besar. Rasa cinta yang ingin dibuangnya karena ia rasa itu tidak normal. Kini semua hal yang dicintainya dan diimpikannya harus pergi dan hilang selamanya. Terkubur dalam-dalam di dalam jasad penuh harap. Uruha tau, ini adalah akhir yang menyakitkan untuknya.  Air mata Uruha mengalir perlahan seiring dengan hembusan nafasnya yang terakhir. Dia pergi meninggalkan semua impian dan harapannya yang belum sempat terwujud.

Kili menoleh ke arah Uruha. Dia menyeka air mata yang membasahi pipi Uruha yang pucat dan dingin. Dan tangan Kili tidak dapat merasakan hembusan nafas Uruha lagi.

“Uruha?”

*************************

Uruha,

Ada yang ingin kukatakan padamu

Mungkin ini terasa menggelikan

Sejak aku mulai mengenalmu, aku merasa berbeda

Aku merasa seperti orang sakit jiwa

Aku bahkan tidak sanggup menatap kedua matamu

Begitu besar hal yang ku sembunyikan darimu

Hanya saja saat aku berada di dekatmu, aku tidak bisa mengatakannya

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu

Meskipun aku pikir ini tidak wajar

Meskipun aku sudah berusaha keras berpikir sebagai pria normal dan bersama seorang gadis

Tetapi…..

Aku ingin memilikimu

Aku ingin memilikimu meski ini tidak normal

Aku ingin menjagamu

Aku ingin ,menggenggam kedua tanganmu

Aku ingin bersamamu

Aku tau ini menjijikkan

Tapi inilah kenyataannya

Kili

*************************

Bagaimana jika hal yang kau sukai adalah hal yang tidak bisa kau lakukan sama sekali?

 

Dan hal yang kau impikan adalah hal yang sama sekali tidak memberimu kesempatan untuk mewujudkannya?

-TAMAT-

12 responses

  1. Sumpah nih ff kren bget !
    Wlaupun castx gk aq knal -_-”
    bhsax jg enak bget.
    Gk nyangka klo endingx bs sesedih ini. Jjur aq suka bget nih ff.
    Smoga menang, yah ! Fighting !esedih ini. Jjur aq suka bget nih ff.
    Smoga menang, yah ! Fighting !

    9 Juli 2011 pukul 21:15

    • Makasih banyak ya atas doanya.. ^^

      21 Juli 2011 pukul 10:56

  2. Dianavl

    Akhirnya si uruha mati ya chingu?….kasian banget..pdhl ternyata si kili juga suka sma uruha…smoga menang chingu 🙂

    10 Juli 2011 pukul 12:57

    • Makasih banyak ya…^^

      21 Juli 2011 pukul 10:57

  3. annyonghaseyoo~…..
    jujur aja aku gak tau cast’na…
    kayaknya bukan nama orang korea melainkan jepang, bener gax sih???
    tapi ceritanya bagus kok….
    annyong~…

    10 Juli 2011 pukul 17:29

    • Iya,jujur aja, aku ga terlalu suka Korea. hehe. thanks ya. ^^~

      21 Juli 2011 pukul 10:58

      • aikomisha

        memang, ai prefer to japan than korea. tapi korea juga ada sisi positive’na juga, ndug. ai agak “nggeh” sama korea garagara nonton he is beautiful.. >w<

        21 Juli 2011 pukul 20:08

  4. aikomisha

    ehemm~~~

    21 Juli 2011 pukul 19:58

    • ya emang ada positivnya. aku juga sempet suka. tapi ga terlalu. bukan ga suka. ^^

      1 Agustus 2011 pukul 16:07

  5. waaaahhh .. FF nya baguuusss ,, hehe … keren keren :::) kasian ya killi nya …
    ayoooo terus bikin FF lagi yaa🙂
    ini bagus ::) hehe

    26 Juli 2011 pukul 18:26

    • Thanks. =D

      1 Agustus 2011 pukul 16:08

  6. Cherry Chibi

    satu kata: KEREN!!!!!😄
    bagus banget~~ >.<
    bahasanya bagus, pemilihan katanya jg^^~~ n critanya tentunya jg bagus~~!
    fellnya dapet banget

    ending yg gk kusangka… hwaaa!! kukira bakl happy endingTT___TT
    owh poor kili~~

    7 Agustus 2011 pukul 14:32

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s