fanfiction for our soul

songfic : i have nothing part 2


mianhe.. mianhe kalo ga jelas gini ff.a…

saya emang ga bakat *bow

komen ya yg iklas bilang aja kalo ga suka critanya. trus komen deh alesannya. nanti pasti ga saya lanjutin.. ok ?? gomawo buat yg udah baca !! *bowing low

 

“hah??”

“kau belum pernah kan? Ini adalah syarat untuk menjadi bandel sejati!”

Sam menunjukkan sesuatu yang berbentuk bubuk berwarna putih di dalam plastik obat warna putih di depan mataku. Aku menatapnya sesaat. Sebenarnya aku ingin menolaknya. Tapi sam biasanya akan mengadukanku pada alan dan alan akan menambahkan bebanku lagi.

“ayolah, jae! Ini untuk kebaikanmu!!” bujuk sam.

“kebaikan?” tanyaku sinis. “kau ingin aku menghisap ini?”

Sam mengangguk. Lalu memberikan benda itu di tanganku. Aku menatap kebawah dan melihat bubuk putih yang memuakkan itu.

“sam, sorry. I cant do it boy!” kataku sambil memberi benda itu ke tangan sam.

“jae joong, please! You must try it, ok?” bujuk sam lagi.

“NO!”

“really?”

“umm.. yeah!”

“oh joongie..”

Deg—

Nama itu.. aku jadi ingat orang yang memanggilku dengan nama joongie itu! Yunho hyung!! Bagaimana kabarnya sekarang?

“sammy, jae joong!!” sentak seseorang keras.

Sam langsung menepuk pundakku dan tersenyum tanpa arti. Lalu pergi. Kemudian mr larry datang dan menamparku.

“jae joong!!!” geramnya. “apa lagi yang kau lakukan???”

“a-aku..” aku tidak bisa menjawabnya. “AKU DIJEBAK!!”

“dijebak?”

“iya! I know that I’m a naughty boy. But, I can’t do it—“

“enough! Aku bosan mendengar alasanmu!”

“TAPI INI BENAR! AKU TIDAK MELAKUKANNYA! AKU DIJEBAK! AKU DIJEBAK SAMUEL JONAS DAN KAWAN-KAWAN!”

“kau berani membentakku??”

“aku berani kalau saja aku tidak bersalah!”

“shit!” mr larry langsung melayangkan tamparan ke pipiku. Tamparan ini lebih keras dari yang tadi. “JAE JOONG, KAU TAHU, INI APA? INI PUTAU!!”

“I know it mister! But, it’s not my mistake!”

“jelas lah! Kau membuat—“

Si larry itu terus saja berbicara yang membuat kupingku ini menjadi besar sebesar gajah dan merah semerah cherry.

 

*Author POV*

 

Jae joong menerima hukuman dari mr larry atas tuduhannya itu. Ia dibawa ke ruang guru dan menerima sebuah map merah untuk diberikan pada orang tuanya yang berisi hukuman skors sebulan untuk jae joong. Bagi jae joong, itu adalah keberuntungan. Tapi bagi orang tuanya, ini sangat menyakitkan. Berkali-kali jae joong harus menerima hukuman cambuk dan tendang dari ayahnya, young woon.

“beritahukan ayah sekali lagi, punya siapa itu?” tanya young woon emosi.

Jae joong mengangkat kepalanya yang terasa berat. Darah bercucuran di lantai marmer yang indah itu. “itu punya SAM! Bukan punyaku. Puas?” jawab jae joong mengulang jawabannya tadi.

PLAK!

Jae joong kembali mendapat cambukan lagi dari ayahnya. Lalu tendangan kuat di perutnya. Lengkap sudah penderitaannya. Ia tidak bisa bergerak lagi. Bernafas saja rasanya seperti ditiban kapal titanic yang besar itu.

“ini.. bukan.. salahku..” kata jae joong lirih. “yunho hyung.. ini bukan salah joongie!”

Young woon tercekat mendengar perkataan anak laki-lakinya ini. Ada perasaan merasa bersalah karena ia memisahkannya dengan yunho di saat ia masih muda. Ia mengalihkan pandang ke anak laki-lakinya itu. Jae joong memegangi perutnya. Beberapa kali jae joong memuntahkan darah dari mulutnya itu sambil menggumamkan kata “yunho”

“ah.. yunho hyung.. sakit!!” kata jae joong lagi. Kali ini nadanya lebih lirih. Lebih terdengar seperti bisikan. Akhirnya young woon membawanya ke rumah sakit.

 

*yunho POV*

 

Aku mencoba bersikap lebih baik dari kemarin. Sudah 8 tahun ini aku selalu diam, seperti anak autis yang hanya bisa diam dan tidak bisa berkomunikasi dengan anak seusianya. Aku selalu memikirkan jae joong, yang sekarang entah dimana. Appa tidak pernah memberitahukanku dimana ia berada. Bahkan untuk sekedar menanyakan kabarnya saja aku selalu mendapat omelan dari appa. Katanya jae joong harus dilupakan. Untuk apa aku melupakannya kalau aku akan mengingatnya lagi? Aku tidak bisa melupakannya walaupun dengan cara apapun! Hanya dia yang bisa mengubahku ke kehidupan semula! Percayalah.

Dug!

Seperti ada yang menendang perutku. Aku menengok kesana kemari untuk mencari sesuatu yang mungkin menyakiti perutku. Dug! Dug! Kali ini lebih sakit! Aku memegangi perutku yang kaku ini sambil meneriakkan nama jae joong. Entah kenapa hanya dia yang ada di pikiranku. Ugh.. sakit! Jae joong, apakah kau merasakan ini? Joongie!! Kau dengar hyung kan?

 

Stay in my arms if you dare

Or must I imagine you there

 

*author POV*

 

“joongie, sini kalau kau takut!” gumam yunho sambil mencoba meraih sesutu yang tidak ada disana. “joongie, sini sayang. Hyung sakit nih.. kamu sakit nggak?”

Yunho terus berbicara dengan halusinasinya. Dua pembantunya, mbak jeje dan mbak chunijem yang melihat anak majikannya yang paling ganteng itu langsung bergidik ngeri membayangkan jae joong yang menjadi makhluk halus yang mengganggu yunho. Mbak chunijem dengan sedikit keberaniannya mengambil telepon rumah yang ada di meja dekat ruang tv di dekat yunho untuk menelepon majikannya.

“nyonya, mas yunho kesakitan nggak tahu kenapa. Terus dia manggil-manggil mas jae joong.. iya saya tunggu!.. sekarang lagi manggil dokter.. eh dokternya dateng.. cepat ya nyah!” kata mbak chunijem di telepon.

 

@ philadelphia

 

Young woon mondar-mandir sepanjang koridor untuk menenangkan pikirannya terhadap anaknya yang sedang menunggu kesembuhan di dalam sana. Young woon merasa bersalah. Bukan hanya karena ia memukulnya sampai terjadi seperti itu, tapi juga karena kejadian 16 tahun lalu itu berkelebat di pikirannya.

“untuk apa aku menukarnya kalau akhirnya aku tidak bisa mengurusnya. Ayah macam apa aku?” pikir young woon dalam hati. Ia mengacak-acak rambutnya untuk menghilangkan setiap potongan-potongan kejadian yang tersusun seperti film yang belum di edit.

Young woon jatuh terduduk di depan ruang dimana jae joong sedang diperiksa. Ia menangisi nasibnya yang telah memisahkan dua anak tak bersalah, dan menyiksa anak sampai seperti ini.

“tidak ada gunanya kau menangisi nasib!” kata seseorang. “tidak ada yang perlu ditangisi lagi. Buka lembaran baru dan kita lewati bersama!”

Young woon mendongakkan kepala. Ia tersenyum pada perempuan di depannya itu. Lalu berdiri memeluk perempuan itu.

“aku bukan ayah yang baik! Aku bukan ayah yang baik!” kata young woon di pelukan istrinya itu, yoo jin.

Yoo jin memeluk suaminya erat untuk menguatkannya. “young woonnie, kita harus memulainya dari awal!” yoo jin melepaskan pelukannya. “hanya satu yang bisa kita lakukan! Mempertemukannya dengan yunho!”

Young woon tersentak. “ma-mana mungkin? Aku—sudah berjanji pada yong hwa!”

Yoo jin mengelus pipi suaminya sambil tersenyum. “janji harus ditepati. Tapi, ini demi kebaikan jae joong! Sekali.. saja! Aku yakin ia bisa menerimanya!”

Young woon memikirkan gagasan istrinya. Ia tidak yakin dengan gagasan itu. Ia terlanjur janji kalau tidak akan mempertemukan jae joong dengan yunho setelah masa kontraknya habis. Tapi masa kontraknya belum habis. Young woon memutus kontrak ditengah jalan karena ia lelah mengurus heechul, si bengal yang manja.

“bagaimana keadaan jae joong, dok?” tanya yoo jin pada dokter yang baru keluar.

Dokter itu mengusap rambutnya. Lalu memandang dua suami istri itu. “saya akan jelaskan di ruangan saya!”

 

@ seoul

 

BRAK!

Pintu langsung di dobrak oleh yong hwa dan hye na—orang tua yunho—yang panik mendengar berita anaknya tiba-tiba sakit sambil memanggil nama jae joong. Suami istri itu langsung ke kamar yunho di sebelah kanan kamar tamu.

“yunho!” hye na langsung memeluk yunho yang terbaring lemas di kasurnya. Lalu mengalihkan pandang ke dokter yoon, dokter langganan keluarga. “yunho kenapa dok?”

Dokter yoon menggelengkan kepala bingung. “saya sendiri juga bingung!”

“dokter gimana sih!” bentak yong hwa. “masa’ kaya gitu aja nggak tahu?”

“tapi benar, tidak ada gejala penyakit apapun di dirinya!” jawab dokter yoon yakin.

“ma-mana mungkin??” kata yong hwa bingung.

“joongie.. joongie..” gumam yunho sambil menggerak-gerakkan tangannya. Seperti orang yang hendak menggapai sesuatu. “joongie, hyung disini! Joongie..”

Hye na langsung menggenggam tangan yunho dan menangis di sisi kasur. Yong hwa reflek langsung memeluk istrinya sambil menenangkan yunho.

“yun, joongie tidak ada! Yun, tidak ada joongie, kau dengar?” kata yong hwa.

“ani.. joongie, jangan tinggalkan hyung! Joongie.. jangan marah. Joongie, hyung tidak akan meninggalkanmu lagi!” butiran air mata jatuh melalui pipi mulus yunho yang langsung dihapus oleh hye na. “joongie, disini..”

 

Don’t walk away from me

I have nothing.. nothing.. nothing..

If I don’t have you..

@ philadelphia

 

*jae joong POV*

 

Aku membuka mataku dan kembali menghadapi kenyataan. Mataku harus menyesuaikan diri dengan cahaya yang dipancarkan sang surya padaku. Aku terus mengerjap-ngerjapkan mata untuk menyadari dimana aku sekarang. Karena belum juga menyadari tempatnya, aku langsung bangun dari posisi tidurku. Tapi uhh.. perutku rasanya sakit. Seperti ada batu yang dilemparkan ke perutku sehingga rasanya benar-benar menyakitkan.

“jae joong, kau sudah bangun nak?” tanya seorang perempuan yang sekarang harus ku panggil omma.

“ne, omma.. arrgg—“ jawabku disertai erangan kesakitan.

“jangan bangun dulu!” omma mengembalikanku ke posisi semula. “kamu belum pulih!”

Ya iyalah! Mana mungkin ada orang yang langsung pulih dengan hitungan jam setelah dipukuli hanya karena terkena hukuman skors?

“masih sakit?” tanya omma sambil memegangi perutku.

Aku langsung menepisnya. “aku tidak hamil. Jadi tidak perlu repot urus perutku!”

“umm.. omma keluar dulu ya! Kau mau makan? Biar omma yang belikan.”

“tidak perlu! Aku bisa tahan tanpa makan.”

Omma langsung keluar kamar. Ffiuhh.. aku mendesah lega karena tidak ada siapa-siapa di tempat ini. Aku baru sadar, aku ada di rumah sakit. Tempat yang sering kujadikan tempat untuk bermain petak umpet bersama yoon jun hyung, anaknya dokter yoon. Huh.. masa lalu yang kelam.

Oh ya, aku tadi memimpikan sesuatu yang tak nyata. Aku mimpi aku dan yunho hyung sedang berada di sebuah labirin yang membingungkan. Tiba-tiba aku menghilang entah kemana. Yunho hyung terus berteriak memanggil namaku. Haah.. tidak mungkin yunho hyung melakukannya! Hanya mimpi. But, I like it!

 

*author POV*

 

Sementara itu diluar ruangan, young woon dan yoo jin sedang memikirkan cara untuk membuat jae joong melupakan orang yang pernah mengisi pikirannya dulu—bahkan sekarang.

“jin-ah, sepertinya memang benar gagasanmu!” kata young woon. “kita memang harus mempertemukan jae joong dengan yunho!”

“ya!” yoo jin mengangguk. “hanya itu! Hanya yunho yang bisa membuatnya mengerti agar ia bisa melupakannya!”

“kita atur waktu dan tempatnya!”

Young woon mengambil HP-nya dari saku jaket dan memencet nomor telepon yong hwa yang sudah lama putus kontak.

 

@ seoul

 

*yunho POV*

 

Sebuah suara menyuruhku untuk bangun dan menyadari kehidupanku yang sebenarnya. Ini hanya mimpi! Mimpi yang tidak mungkin terwujudkan. Aku tersenyum pilu mengingatnya.

“kau merasa baikan?” tanya appa lembut.

“lumayan!” kataku sambil tersenyum.

“yun, kau tersenyum lagi!!” kata omma sambil memelukku. “kemana senyummu selama ini nak?”

Aku tertegun mendengar perkataan omma. Benar juga. Selama 8 tahun ini aku tidak tersenyum karena terus memikirkan adikku yang tercinta itu. Andai saja omma dan appa tidak melakukan hal itu. Pasti aku tidak akan mengenal jae joong dan menjalani kehidupan dengan sempurna tanpa membuat orang bersedih. Selama ini, hanya jae joong yang menemaniku di saat senang dan susah. Ia akan mendengarkan semua yang ku bicarakan. Termasuk curhatan-curhatanku tentang cinta pertamaku dulu, ji yeon. Saat aku mencoba pacaran joongie selalu menghalangi. Alasannya karena ia selalu mengeluh sakit. Joongie.. joongie. Kenangan itu malah membuatku mengingat masa lalu yang kelam itu. Sakit sekali hati ini!

 

You see through right to the heart of me

You break down my walls of the strenght of you love

*jae joong POV*

 

Satu yang masih ku ingat kalau aku harus dilarikan ke rumah sakit kalau tiba-tiba perutku ditendang, pasti yunho hyung selalu datang dan menyemangatiku. Ia pasti akan meminjamkan dadanya untukku.

 

*flashback*

 

“yunho hyung, jangan pergi!” kataku sambil menangis.

Yunho hyung merangkulku erat. Ia lalu mengelus kepalaku lembut. “jangan nangis lagi, ok? Hyung nggak bakal ninggalin adik hyung yang paling cengeng ini sendiri!”

“janji?” aku mengangkat kelingking kecilku.

Yunho hyung juga mengangkat kelingking besarnya dan mengaitkannya pada kelingking kecilku. “janji!”

 

*end of flashback*

 

Sekarang hanya aku sendiri. Dinding pertahananku runtuh saat melihat di ruangan ini tidak ada orang. Selama 8 tahun ini aku tidak pernah masuk rumah sakit lagi. Perutku ini sudah bisa ku lindungi tanpa bantuan yunho hyung.

 

I never knew love like I’ve known it with you

Will a memory survive one I can hold on to

*yunho POV*

 

“appa,” kataku. “bagaimana kabar joongie?”

Appa mendengus kesal. “appa sudah bilang, jangan pernah bicara tentang dia lagi! Kau tidak tahu kan apa permasalahannya?”

“memang tidak tahu makanya aku ingin tahu!”

“apa kau masih mengingat anak itu? Kenapa kau terus mengingatnya?”

“karena aku tidak mau melupakannya!”

Appa menghembuskan nafas menyerah. Ya. Aku tahu dia menyerah karena dari dulu aku disuruh melupakan adikku yang paling manis itu tanpa alasan. Sekarang aku harus menyesuaikan diri dengan adik kandungku yang bernama jung hee chul. Anggap saja heechul itu jae joong. Mudah kan? Kata appa dulu. Menganggap heechul seperti joongie kecilku itu tidak mungkin! Apakah heechul pernah menunjukkan angka 100 padaku dengan senyum mengembang seperti kue diberi powder? Tidak! Apakah heechul pernah tersenyum jahil padaku saat aku membaca buku? Tidak pernah! Boro-boro tersenyum jahil. Tersenyum biasa padaku saja tidak pernah! Apakah heechul pernah datang ke kamarku dan menghiburku yang sedang bersedih? Heuh, aku tidak yakin dia akan melakukannya! Apa heechul pernah merengek minta sesuatu padaku dengan puppy eyes-nya? Tidak! Heechul hanya sering memaksaku untuk mengeluarkan uang dan akan mengadukannya pada appa kalau saja aku tak memberinya. Sedangkan joongie, jika permintaannya tidak di penuhi, ia hanya akan masuk ke kamarnya dan menangis tanpa suara di dalam. Jelas kan perbedaan antara JUNG JAE JOONG dan KIM HEE CHUL? Perbedaan mereka itu 360 derajat!

Aku menghembuskan nafas lesu dari mulutku. Lalu menarik selimut lembutku itu sampai ke atas kepala dan memejamkan mata.

 

*yong hwa POV*

 

Yunho menutupi dirinya dengan selimut. Dari tadi aku memikirkan cara agar yunho melupakan apa yang pernah terjadi padanya dan ‘mantan’ adiknya itu. Oh tuhan, aku dirugikan oleh anak itu. Yunho menjadi anak yang pendiam dan seperti anak autis semenjak jae joong pergi. Sekarang ada heechul. Tetapi tetap saja tidak memperbaiki keadaan. Aku tahu jae joong dan heechul itu berbeda. Semua bisa melihatnya sendiri kalau jae joong adalah anak yang baik, sopan, dan cerdas. Sedangkan heechul, anak kandungku itu tidak ada baik-baiknya sama sekali, tidak ada sopan-sopannya sama sekali, dan tidak ada kata cerdas di otaknya! Beda dengan jae joong yang benar-benar cerdas. Tuhan, apakah ini ujian darimu untukku? Beri aku petunjuk untuk mengembalikan pikiran yunho!

 

*end of POV*

 

*Author POV*

 

@ philadelphia

 

Young woon tidak bisa menghubungi yonghwa. Ia mendesah kesal karena harapannya untuk membuat jae joong bertemu untuk yang terakhir kalinya dengan yunho pupus.

“kenapa tidak bisa dihubungi?” tanya young woon kesal pada istrinya. “kata sekretarisnya ini!”

“mungkin ia mengganti nomornya!” jawab yoo jin lembut.

Young woon mengangguk pasrah. Lalu kembali ke ruangan jae joong untuk berbicara empat mata dengan anak itu.

“jae joong, kau sudah banyak berbuat kesalahan bulan ini!” kata young woon pada jae joong. “awal bulan, kau membully adik kelasmu. 3 hari kemudian kau melakukan pemukulan. Tanggal 6, kau membuat onar sekolah. tanggal 10 kau melakukan pemalakan. Dan kemarin, tanggal 24 kau menyalahgunakan narkoba!”

“aku tidak melakukannya. Sungguh!” kata jae joong.

“lalu, itu punya siapa? Kau pernah mencoba kan?”

Jae joong mendesah kesal. “kalau aku pernah mencoba, aku pasti akan menjadi orang yang paling beruntung di dunia! Aku selalu tersenyum, tertawa, dan bersenang-senang!”

“itu kau tahu!”

“tapi itu punya SAM! Ahh.. sebentar lagi kebenaran terungkap!”

Jae joong mentap kosong ke luar jendela. Di luar ia bisa melihat awan putih bergerombol membentuk sebuah bentuk yang tidak diketahui. Jae joong menatap awan yang berbentuk seperti hati. Ia membayangkan hati itu di patah dua dan membentuk dua wajah. Yang satu jung yunho, yang satu kim jae joong.

“kapan aku bisa pulang?” tanya jae joong kesal.

“mungkin besok. Aku akan bicara dengan dokter. Setelah itu, kau harus memulai hidup baru di new york.”

Benar. Besoknya jae joong sudah diperbolehkan pulang. Dua hari setelahnya, ia dan appanya pindah ke new york untuk memulai hidup baru.

“jae joong-ah, cepat! Semua sudah siap!!” teriak young woon.

“ne, appa!” jawab jae joong lalu keluar dari ‘home sweet home’-nya dan masuk ke mobil.

Perjalanan dari philadelphia sampai new york kira-kira 1 ½ jam. *ngasal* Jae joong harus ekstra sabar berada di dalam mobil selama itu. Baginya, di mobil satu menit saja sudah seperti 1 tahun untuknya. Ia tidak pernah tahan di mobil. 8 tahun lalu jae joong sangat senang berada di mobil. Karena ada kakaknya tercinta. Tapi semenjak itu, jae joong tidak pernah mau naik mobil.

“jae joong-ah, kau harus merubah sikapmu di new york nanti!” kata young woon pada jae joong yang sedang asyik mendengarkan lagu dari i-podnya. “jae joong-ah!” bentak young woon.

Jae joong langsung melepas headset-nya. Lalu mendengar semua ucapan yang dilontarkan dengan cepat dan jelas dari mulut ayahnya.

“appa,” kata jae joong dengan wajah panik.

“ada apa? Kau tidak mabuk kan?” tanya young woon sambil menepuk-nepuk pundak jae joong.

Jae joong menggeleng sambil menunjuk arah depan. “appa, balik badan!”

“untuk apa?”

“APPA!!!!”

 

TBC

18 responses

  1. Reny machi

    Keren bgt….
    Sukses…sukses..
    BuatQ nangis hiks..hiks..:'(:'(:'(

    D tunggu klanjutnx….
    Fighting….

    19 Februari 2011 pukul 19:01

  2. eka u-know

    wah itu kenapa? kecelakaan??

    hadoh kapan jae ketemu ma Yunpanya ce??
    kguk sabar nieh, ketemuin cepet ya^^

    19 Februari 2011 pukul 19:28

  3. Laila_VIP257

    Hohoho..
    Saya suka bertele” jadi ga ktemu” #dilempar sendal ama yunjae#

    Onnie, aq minta alamat fb/twitter dong.. Kalo bs sih no. Hp.. Hehe.. #digampar

    19 Februari 2011 pukul 19:42

  4. ka9uno

    boleh aku juga ya…fb ku eka u-know
    ntar aku kasih nope di inbox aja..saeng fbnya apa??

    19 Februari 2011 pukul 20:24

  5. pecintaFF

    yaaaa , koq TBC ,
    lagii seruuu ,
    aaah authoor bkiin pnasaaran nii ,
    lanjutaan’a buruuan , gak pake lamaaaa … *maksa modeON*

    19 Februari 2011 pukul 20:35

  6. Laila_VIP257

    Okeoke..
    Author.a sibuk (?) ngurus suami orang (?) jadi TBC.. Hahaha..
    Gomawo udah baca ni epep geje *bow

    19 Februari 2011 pukul 21:35

  7. Kim Cherry

    annyeong…
    wah bener2 nih.. kenapa author2 disini pada bikin ff yg menguras air mata dan menyebabkan banjir bandang dimana2[?]..
    bisa2 stok air mata saia abis sekali pakai nih..
    next chap bikin ff yg bikin senyum donk..
    ngg tega jaema digituin..
    ayo pertemukan cinta mereka..

    19 Februari 2011 pukul 21:56

  8. RiezmaSuka-suka

    Ceritanya bgus thor,cm mnrutq agk bertele-tele (apa akunya yg g sabaran yah?)hehe.cpt prtemukan kmbali joongie ma uno!!klo gak,ntar author tak demo.

    19 Februari 2011 pukul 22:39

  9. Laila_VIP257

    @kim : hahaha.. Jgn nangis mulu dong.. #kasih lolipop sebungkus (?) tenang.. Saya udah pikirin endingya kok !
    @riezma : emang terlalu bertele-tele. Keinget cerita pinokio biar ga ketauan boong #abaikan#
    Tenang,, cuma sampe part 3 kok.. Haha.. Smoga besok or lusa bisa dinikmati (?) gomawo udah baca.. Hehe..

    19 Februari 2011 pukul 22:54

  10. Huaaa,,,
    ceritanya bikin q nangis,,,
    q ga’ tega lht jongie ama yunnie kayak gitu,,
    mreka bener2 punya ikatan yg kuat. Meski udah bertahun2 pisah tp te2p aja ga’ bsa lupa 1 sama lain,,,
    harus happy ending ya!! (puppy eyes,,,)
    jgn lama2 updetnya,,,

    20 Februari 2011 pukul 09:23

  11. yg nyupir it appa na jeje y….wduh apa jgn2 d chap slnjut na akan trjadi kecelakaan….smga tiiidddddaakkkk

    20 Februari 2011 pukul 09:28

  12. Tanjunxiu

    Aq ko’ masih bingung yah ma ni ff? *LOL*
    iya nih, kapan yunjae.y ketemuan? Kaya.y yunjae punya ikatan batin yg kuat ya, mpe isa ngerasain sakit bareng, uhh so sweeet ^^

    20 Februari 2011 pukul 10:49

  13. eka u-know

    fb aku namanya eka u-know say, coba aja cari.. ntar aku kasih numb di inboxnya aja..ok^^

    20 Februari 2011 pukul 20:43

  14. Sheyoon Galz

    Itu yunho knapa ikut2an ksakitan jg pas jae dipukulin appax??kontak batin kah?aigooo,,sgitu kuatx prasaan mreka smpe2 yg 1 sakit yg 1 jg ikutan sakit..^^
    Knapa jae sm appax pindah k new york itu??masih sngat bingung sm masalah 2 keluarga itu..masalah kontrak & tuker2an anak itu..knapa pula appax yunho maksa bgt biar yunho nglupain jae..bingung..kabur ke part akhirx dulu deh..^^

    21 Februari 2011 pukul 22:36

  15. ada apa itu.. knpa lg itu..

    23 Maret 2011 pukul 17:23

  16. han aram

    ihhhh..
    papa nha yunnho keras kepala banget siii..
    ntar klo udah kehilangan dua” nha baru nyesel..
    sebel deh..

    21 September 2011 pukul 09:44

  17. DewiAriyani

    Appanya jae jahat amat sih koq mukulin anak ampe masuk RS gitu….pantesan aja jae kagak betah hidup ama klrga barunya ortunya aja kejam kayak gitu…sungguh malang nasibmu jae…ƪ‎​​‎​(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ʃ
    Itu jae ama appanya kecelakaan ya.??? Duh mudah2an gak apa2 ya jaenya…

    16 Oktober 2011 pukul 13:18

  18. ChanNuriza

    loh kenapa?? kenapa?? #panik
    segitu deketnya hubungan kakak adek mereka.. aaahh so sweeet.. >//////<

    29 Januari 2012 pukul 21:37

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s