fanfiction for our soul

XIAH “also kill the bastard like you” P3


sebelumnya, saya slaku author yg membuat ff ini ikhlas senantiasa *halah* jika kalian para pembaca kurang ‘mau’ memberi komentar ToT yg jelas pada intinya saya hnya mau ff ini diminati dan sdikit ‘bermutu’. Paling tidak, saya bisa dikenal sdh ckup #ngarep ==”

Warning : Alternative Universe, Out Of Character.
Disclaimer : I do not own them.
Genre : Action, Romance, Suspense.
Note : Sho-ai and Straight, Adult (18+)
Main pair : JunChun
By : Intan9095

#

Chapter Three : Decode

#

“Akkh…”

Tangan kirinya terangkat, menempatkan telapaknya pada pipi kiri yang baru saja mendapat tampar dari ibunya. Memerah seiring menjalarnya rasa nyeri. Micky hanya tertunduk tanpa memberi respon pada hal tersebut. Tangan wanita itu kembali menepuk bahu Micky, “Aku melakukan ini karena aku menyayangimu. Jangan pernah dekat-dekat denganya, sewaktu-waktu, kamu bisa mati.” Lirihnya.

Micky mengadah, kedua iris rube bertemu.

Dan ia sadar, sedalam-dalamnya ia menggali sebuah jawaban dari semua pertanyaanya pada kedua mata ibunya, tidak akan membuahkan hasil. Menyadari, ibunya hanya menyunggingkan senyum kecil lalu menarik tanganya dan melangkah mundur.Berbalik menjauhi tempat dengan memberi isyarat pada anak buahnya untuk meninggalkan tempat denganya.

Ketika pintu garasi dibukakan oleh salah seorang anggota, walau samar-samar, wanita ini dapat mendengar apa yang dilontarkan Micky saat itu,

“Aku bisa membuktikan semua persepsimu adalah samar.”

Wanita tersebut menarik nafas panjang dan melengang keluar tanpa merespon. Pintu tertutup bersamaanya dengan kursi kayu terbanting dan hancur porak-poranda.

“Nyonya, apa anda sudah tahu siapa pria yang di temui tuan kemarin?” tanya salah seorang anggota pribadi wanita tersebut sembari menyamai langkahnya.

“Tidak. Tapi, aku sudah mendapat sebuah jawaban dari apa yang telah aku analisis.”

Semuanya terdiam dilingkupi keheningan yang hanya bersuarakan setapak sepatu berpantovel anggota.

“Dia adalah….”

############################

“Xiah.”

Kedua pupil lolite Yunho membulat. Di tatapnya kedua pupil topaz Changmin meminta penjelasan lebih, namun yang bersangkutan tidak memberi respon apapun selain kembali memutar kursi lalu berkutat kembali pada notebook biru kelamnya. Sesekali ia meraih cup tinggi bertuliskan McD berisikan cola dan menyedotnya.

Changmin menghela nafas panjang, “Tsk, aku tidak tahu harus memulai dari mana, hmm…” kedua tanganya dilipat di atas meja dengan menatap gusar pada layar notebook..

Changmin POV

Bagaimana aku harus menjelaskan sekarang? Semuanya sudah berlalu bertahun-tahun, hah. Bagaimana juga aku bisa… ha, Yunho. Dia tidak pernah tahu bagaimana cerita ini berjalan, mungkin tidak akan pernah mau peduli. Aku melihat kewibawaanya yang duduk tegap melihat antrian kasir di samping dengan seksama.

Hari sabtu, seharusnya dengan mengajaknya ‘liburan’ aku bisa tahu sisi lain dari pria ini, seharusnya. Apa setiap hari, setiap bulan bahkan selama hidupnya hanya tampang kecut yang menganggambarkan dirinya? Kami-sama! Tidak ada yang lebih baik untuk aku lihat apa? Sudah itu, dia terlihat tua pula, Ha, aku sangat bersyukur karena masih dikaruniai ke-awet-muda-an sampai sekarang.

“Changmin.”

Sekarang dia memanggilku. Kemungkinan-kemungkinan yang dilakukanya adalah kembali menginterogasiku atau menyuruhku lagi untuk membelikannya es krim. Lebih baik tidak perlu digubris. Masih banyak hal penting yang harus aku lakukan di notebook ini, biar dia rasakan jika tidak di pedulikan itu menyebalkan.

“Changmin, berhenti.”

Kemungkinan lain, sudah berani mengintimidasiku. Ha, Kami-sama… apa aku boleh untuk hari ini menyesali telah meminta dia bekerja sama? Bolehkah? Hmp, lebih baik aku pulang. Ya itu benar. Pulang, merebahkan diri di ranjang nan empuk lalu mandi dan setelah itu makan—dan oh! Hari ini aku bisa memesan bebas makanan rupanya, ah…aku bisa minta belikan apa saja. Dan itu juga menjadi keberuntunganku dalam sehari tidak melihat tampang tua berkecut seperti Jung Yunho ini. Hahaha!

“Aku dapat membaca itu semua, Changmin.”

Changmin POV off

Jemari pria berkulit porselen berhenti menari-nari pada keyboard. Mulutnya menjeblak setengah membuka dengan ketidaknyamanan yang di hadapinya sekarang. Perlahan, kedua matanya memutar ke sudut mata demi sebuah jawaban dari pertanyaan yang sedetik lalu terlintas, ‘Benda apa yang menempel di kepalaku?’ dan tidak sampai dua detik ganti memutuskan untuk tidak mengetahui jawaban, sebaiknya. Lebih baik karena jawabanya adalah moncong pistol silver mengkilap sudah siap menjebol kepalanya—jika sampai ia salah berbuat itu akan terjadi. Sayang nyawa, sayang nyawa. Lebih baik tidak merespon.

Perlahan , Yunho mencondongkan badanya lebih dekat pada Changmin. Kepalanya ikut demikian sampai jarak antara wajah Changmin dengan Yunho menipis, semakin.

Kali pertama yang menajubkan untuk Shim Changmin berhasil mendapat kesempatan untuk dapat pada posisi ‘berbahaya’ seperti ini, lebihnya lagi dengan Yunho. Tidak dapat dijabar ulang bahkan memang tidak tahu bagaimana Changmin sekarang, wajah itu terlalu dekat, terlalu dan sangat sangat dekat. Sampai hidung keduanyapun bersentuhan kecil. Andai barusan ia memilih duduk di seberang Yunho, ia tidak akan mendapat jarak se-minim sekarang.

“Mau mulai macam-macam denganku, hm?”

Diketahui satu hal yang terjadi adalah…antara kedua pipi Changmin yang sedikit bersemu dan kedua matanya yang semakin menyipit. Rona merah muncul di kedua pipinya ketika Yunho berdesis kecil dengan deru nafas yang menerpa wajahnya. Itu sangat terasa. Jangan anggap ini dilebih-lebihkan, silahkan coba kalian dekati para buronan besar dengan jarak seperti ini di tambah dengan sebuah senjata sudah siap pada pelipismu dan sekali dilakoni akan mati, bagaimana?

“Ma-maaf…tolong kamu men-”

“Aku tua? Tampang tua katamu? Che, kalau begitu aku yang akan membuat tampangmu tidak kalah buruk sekarang.”

Tangan porselenya yang lain segera mencegat tangan Yunho yang mulai merogoh sesuatu di saku celananya. Mau dia sedang bercanda atau tidak, ceritanya akan lain. Apapun itu, yang harus diketahui Changmin adalah kenapa pria ini tahu apa yang di pikirkanya barusan? Apa ternyata dia juga memiliki kekuatan mistis? Ah…notebook.. Kedua matanya beralih pada layar notebook dan memperhatikan apa yang layar tampilkan di sana, menjeblak, Changmin tersenyum penuh penyesalan dan kekhawatiran dengan nyawa belahan jiwa tersayang—berlebihan.

Hari pertama, mendapat pelajaran tentang; jangan mendekati benda apapun itu yang dapat menjabarkan isi hati ketika bersama Yunho dalam bentuk apapun.

Jelas, sangat jelas dengan ukuran font mencolok, tertulis semua umpatan Changmin barusan. Sekarang Changmin baru menyadari, kebiasaanya yang menulis diari juga adalah poin buruk ketika dengan sendirinya ia sudah mengetik unek-uneknya pada Yunho. Sekarang, tinggal menunggu peluru itu benar-benar menjebol kepalanya atau menunggu respon Yunho selanjutnya. Changmin memilih option pertama ketimbang harus berurusan dengan si darah dingin ini.

###################

Serpihan kaca menjadi senjata terakhir wanita berkulit sedikit tan ini untuk mengorek kembali apa yang ada di dalam leher para agen mentri yang di incarnya dengan pria berkulit tan pula. Lorong nan dulunya di warnai dengan hitam keabu-abuan dengan marmer hijau telah dinodai dengan banyaknya bercak serta darah yang merembes dari korban terakhir—mungkin sekarang yang terakhir di temui Krystal dan Junsu. Selongsong peluru habis, pakailah benda terdekat yang memungkinan untuk merengut nyawa.

Selagi Junsu menyelesaikan ‘korban’nya, Krystal telah duluan melempar pria yang baru saja melukai paha kirinya dengan cutter kecil. Sekarang, yang harus di carinya adalah dimana pintu masuknya ruangan cleaning service? Oke, menarik. Dari sekian penjahat yang ada, hanya mereka yang memilih ruang tersebut ketimbang tangga darurat atau lompat langsung dari jendela.

Belum sampai selangkah, sebuah tangan sudah menarik lenganya untuk berhenti.

“Aku selesaikan sendiri..”

Di tengah temaram pagi—tirai tebal menutupi jendela-jendela juga menutup masuknya sinar sang surya, hanya sepintas yang terlihat dari wujud mereka. Mata. Sesama hitam, sesama gelap, sesama bengis dan sesama musuh. Keduanya diam dilingkupi suhu dingin pada tempat. Umumnya, selalu hanya pandangan penuh cinta pada setiap pasangan kekasih, umumnya. Umumnya untuk mereka adalah saling membenci. Bukan cinta, bukan kasih sayang atau cinta sebatas teman.

Oh, ada yang lupa. Bahkan teman pun tidak. Tidak bisa digambarkan sekarang bagaimana maksudnya, hanya menjelaskan kepalsuan untuk kedamaian dan pengkhianatan. Tiga. Tiga kesalahan dan dosa yang telah mereka perbuat. Kedamaian hanya untuk dunia masing-masing. Kedamaian hanya pada orang terpilih dari masing-masing. Kedamaian yang dicapai harus melakukan proses penghancuran, memalsukan dan tentunya pengkhianatan.

“Jangan mulai melanggar perjanjian. Saat kita bersama, jangan berani memerintahku.”

“Aku tidak peduli. Aku sudah disini, maka aku lakukan.”

Pertahanan tak kandas. Junsu tetap menenggelami diri pada kelamnya gelap dari kedua iris mata Krystal. Caranya untuk menaklukan berjunjung kemenangan untuk Junsu adalah berbicara dengan mata. Namun, tidak seperti harapan. Krystal menepis cengkraman Junsu lalu tetap beranjak dari tempat. Tidak mau kalah, Junsu kembali menarik Krystal yang langsung mendapat tonjok.

“Aku lakukan sendiri! Kau…kau juga ingin melakukanya sendiri ‘kan? Lakukan! Aku tidak peduli!”

Jeritan Krystal di mulai dengan mengarahkan ujung serpihan kaca pada leher Junsu yang meleset pada tembok. Yang bersangkutan sudah terlebih sampai pada lemari yang bersatu dengan dinding yang menjeblak membuka. Yang dicarinya sekarang dimana pemutih pakaian dan deterjen. Mungkin pencarianya harus ditunda oleh kursi kecil berbahan alumunium tebal terlempar kearahnya. Junsu melompat ke belakang dan sempat terjungkir di lantai, tidak sampai sedetik ketika ia bangkit berdiri lalu menahan kedua tangan Krystal yang hampir kembali menusuknya. Mata itu kembali memandang dengan tajam.

“Jangan buat aku sampai melukai wanita.” desisnya semakin mencengkram genggaman terhadap pergelangan tangan Krystal.

Dan hanya mendapat balasan sebuah seringai kecil dari lawan. Krystal menginjak kaki telapak atas kaki kiri Junsu lalu menendang perutnya dengan lutut kaki kananya. Sukses, Junsu menjungkir kembali sembari memegangi perutnya yang nyerinya mulai menjalar. Pada kesempatan itu, Krystal sudah mengambil dua bahan yang barusan tengah dicari oleh Junsu. Tidak sampai barang itu di bawanya, Junsu sudah menerjang Krystal hingga terbanting jatuh pada lantai bernodai darah. 2 botol berguling lepas dari genggaman Krystal, perhalan kedua tutup botol tersebut lepas…

DUAGH!

Sekali lagi, Krystal menghantam kening Junsu dengan keningnya sendiri dan itu tidak kunjung membuat Junsu lengah, ia yakin sekarang keningnya akan mulai mengeluarkan darah bersamaan dengan kening Krystal akibat gesekan serpihan kaca dengan kulit yang menempel pada keningnya barusan. Sekarang, bagaimana caranya untuk ‘menjinakan’ istrinya ini tanpa harus melukainya. Dalam masa hidupnya, selalu berpengangan pada satu prinsip untuk tidak melukai wanita dalam bentuk apapun dan kesalahan apapun dan kecuali yang notabene tidak penting—dilihat dari sekian ratus bahkan ribuan wanita terlibat dalam setiap aksinya hingga meninggal dengan proses yang sadis maupun tidak. Harus bagaimana? Bagaimana? Satu-satunya cara ada menghantam tengkuknya dengan sikut lalu ia akan tertidur pingsan. Tidak mungkin. Che, andai lawanya adalah sesama pria, mungkin sejak tadi ia sudah memenggal kepalanya.

Tunggu.

Bau ini…

“Shit! Sudah tercampur!!” umpat Junsu melihat sudah merembes luas deterjen dengan pemutih pakaian yang semakin kental baunya jelas sudah menjadi racun. Tidak, tidak bisa melarikan diri. Ia harus membunuh sisa komplotan yang berhasil melihat wajahnya, ya itu harus. Atau tidak tamatlah. Lagian, mau kabur dengan cara apapun, gedung sudah di kepung.

Junsu yang sangking terhanyut pada asumsi-asumsinya, Krystal mengambil kesempatan itu untuk membebaskan diri dari tubuhnya yang sempat tertindih tubuh Junsu dengan menyampingkan kepalanya dengan kasar hingga menjeduk dinding dengan suara keras. Luka di alami Junsu di bagian kepala. Dengan cepat, Krystal sudah berhasil mengambil pistol hitam kesayangan Junsu dari balik jasnya. Bagaimanapun, ia harus cepat melarikan diri sebelum paru-parunya mengkerut oleh racun yang tidak sengaja di buatnya.

Berlari cepat menuju jendela yang tidak memiliki gorden, ia pecahkan dengan menembakinya berulang kali dan melihat ke bawah yang ternyata dirinya sudah berada pada ketinggian 4 lantai. Masih minim, Pistol di tanganya, Itu berarti, ia dapat melakukan apapun.

Pagar, pagar beranda di lantai atas, ya, Tanpa basa-basi, ia arahkan moncong pistol pada ujung pagar di samping kananya aga teratas lalu menembakinya. Hanya jalan atas yang bisa menyelamatkanya. Di lain tempat, Junsu masih dengan sedikit nafas memegap mendekati botol dengan menjadikan lengan kemejanya sebagai cadar penutup ringan alat pernafasan yang sudah ia robek. Sesaat menarik nafas dan di tahanya saat kembali menuangkan isi dari kedua botol tersebut semakin meluas pada lorong. Tidak ada cara lain, selain berharap pada-Nya agar nyawanya tidak ikut rempuk. Nasi sudah menjadi bubur, maka tetap harus dilanjutkan walau kegagalan akan di terimanya.

Suara derap sepatu berpantovel dari kejauhan menandakan posisi Junsu telah di temukan, dan itu berarti, dia memiliki dua ‘tugas’ yang harus d tuntaskan dalam kesamaan waktu. Junsu membuka dua kantung panjang di kedua pahanya—terutama harus bersusah-susah mengakat roknya dulu mengingat penyamaranya sebagai ‘wanita’ masih berlanjut walau sudah melepastopeng elastis dan bajunya barusan, Sepasang matanya mengira-ngira kemana ‘mereka’ akan mengepungnya di antara tiga lorong di hadapanya saat ini.

“Ah, lama! Kalau begini, aku sudah tidak punya ide lagi!” rutuknya langsung berguling ke samping kanan dan menemukan sniper sejumlah orang banyak hampir mendekati tempatnya. Keterkejutan tampak pada sniper-sniper tersebut ketika Junsu keluar begitu saja dari balik dinding, tanpa membuang waktu, mereka langsung membidik Junsu dan menarik pelatuk… tidak sampai dua detik sebelumnya mereka langsung limbung jatuh ke lantai. Ada kejang pada diri mereka.

Sepertinya racun dari dua senyawa kimia itu telah merusak jaringan pernafasan paru-paru mereka. Beruntung bagi Junsu yang menahan nafas hanya langsung mendekati para sniper tersebut dan mengambil sebagian senjata api pada kantung pinggang dan di simpanya pada ransel besar yang di sampirkanya di lengan kanan hasil ‘penemuan’ dari seorang sniper di sana. Baru saja Junsu bangkit, tiba-tiba pandanganya beralih pada sepatu yang dikenakan ‘korban’nya, Junsu kembali berjongkok dan melepas sepatunya.

TAP TAP TAP!

Para sniper lain datang. Junsu berbalik menghampiri lemari berisi bahan-bahan kimia yang salah satunya ia mendapatkan deterjen barusan. Deru langkah para sniper semakin terdengar jelas, dengan tergesa-gesa Junsu terus mengobrak-abrik mencari sesuatu di antara jejeran botol pada rak hingga membuat sebagianya berjantuhan.

Switch. Kerongkongan Junsu terasa hangat dan perih, ia bernafas. Ini berarti sebentar lagi nasibnya akan sama pada korban-korban di lantai itu, tidak… tidak bisa, Junsu harus segera pergi sebelum akses pernafasnya benar-benar mati.

“Brengsek! Kemana benda itu, hah!?” Junsu menjerit frustasi. Ah… namun Junsu tidak habis akal ketika menemukan tiga ember berisi air yang telah kotor—mungkin sehabis di pakai untuk pel. Dirogohnya sebuah pistol mitraliur HK MP7 mengkilap di tangan kirinya dan tangan lainya mengangat ember-ember itu pada troley logam putih di samping lemari barusan.

DOR!

Sebuah perluru melubangi ganggang troley dan itu hampir melubangi tangan Junsu. Para sniper sudah menemukanya, Junsu segera mengkat pistolnya dan menarik pelatuk. Otomatis tidak hanya satu peluru yang keluar, bahkan lebih banyak sampai beberapa sniper yang jaraknya hanya 15 meter tersebut tumbang. Ia berbalik mendorong troleynya ke tempat yang lebih luas menjauhi para sniper yang jumlahnya semakin banyak mulai mengejarnya.

Biasanya Junsu jika sedang berlari langkahnya juga akan ikut besar dan kecepatanya juga tidak terlalu lambat, hanya karena sepatu hak dan lantai yang masih basah membuatnya harus ekstra hati-hati. Tangan kirinya masih terus berkutat pada pistol yang terus menembaki sniper-sniper di belakangnya. Sesekali pandanganyapun berlarih ke belakang juga pada jalan di depanya. Bulir-bulir keringat dengan darah yang bersatu di dahinya turun hingga pada kelopak mata Junsu dan itu membuat pengelihatanya buram juga agak lengket.

Sedikit lagi… sedikit lagi tempat yang di tujunya akan tercapai. Dadanya semakin sesak. Peluru habis. Ha, berapa lama Junsu menekan pelatuk itu memangnya? Frustasi, Junsu membanting pistol tersebut, berbalik membelakangi para sniper.. Dengan tenaga yang tersisa, berusaha mempercepat larinya dan menjaga posisi troley agar tidak menumpahkan air pada ember yang di bawanya.

Sebuah pintu.

Switch. Junsu membelok, membuka pintu besi putih dengan menjulurkan kartu ID bertulisan Broune—yang tak lain adalah milik pembawa acara yang ia ambil pada oprah beberapa jam lalu—pada konten sistem unutk membuka pintu, laser hijau menditeksi dalam hitungan detik, Junsu segera memutar kenop besar di tengahnya. Mendorong troley masuk dan menutup pintu tepat ketika segerombolan sniper tinggal berjarak 12 meter dari tempatnya.

################

Di kala alumunium pagar terjatuh ketika peluru memutus—yang dengan nekatnya Krystal menggunakan—kabel listrik membelit pagar hingga mematahkan tulang punggung para sniper di bawah, Kystal melepas higheelnya, talinya ia gigit untuk membawa sepatu, sementara tangan dan kakinya berusaha untuk memanjat ke lantai atas melalui pinggiran jendela dan pagar lain yang memungkinkan. Sebagian sniper yang selamat membidik Krystal sekali lagi dan peluru berhasil menempus bahu kanannya.

Krystal sempat menjerit kecil sembari mengigit bibir bawahnya, rasa perih pada lenganya hampir membuatnya memutuskan untuk lompat. Hampir, karena selanjutnya Krystal tetap meneruskan gerakanya, berusaha memudarkan rasa perih itu dan terus naik pada pagar dan pipa air di dinding. Beruntung ia sudah melepas kostum penyamaranya, sekarang hanya mengenakan celana jeans abu-abu dan kemeja putih agak melonggar yang sudah ternoda akibat merembesnya darah dari bahunya juga noda darah dari korbanya barusan.

Tangan kananya menggapai-gapai dataran pada atap, akhirnya ia sampai pada teratas gedung.

Deru nafasnya mulai tersengal-sengal karena membagi tenaganya untuk memanjat, menahan nyeri di pundak juga untuk menghindari setiap tembakan sniper. Dengan sedikit tertatih, perlahan melangkah pada atap gedung yang luas dan ada 3 bagian teksturnya cembung berwarna putih. Lengan kirinya terus memegang bahu kananya yang sudah di penuhi darah. Pistolnya sudah terbuang entah kemana. Tiba-tiba beberapa sniper ikut muncul dari pinggiran atap, sepertinya mereka berhasil mengejar Krystal sampai ke sini di tengah teriknya panas matahari yang menggerahkan. Krystal yang diliputi kegusaran antara rasa sakit dan pening tidak menyadari keberadaan sniper yang semakin dekat denganya…

Tangan itu menarik bahu Krystal…

BUGH!!

###############

“Berhenti! Tidak ada jalan bagimu untuk melarikan diri lagi!!”

‘Aish, seharusnya aku tahu kalau para sniper di sini lebih jenius.’ pikir Junsu masih sambil mendorong troley sampai pada tempat yang lebih luas. Di jejeri rak-rak tinggi berisi kaset rekaman dan alat soundsystem sampai barang lainya yang di definisi sebagai alat utama pada opera. Keselarasan para benda bermuatan elektron di setiap sudut pada ruangan mendominasi gelap dan aura menusuk—yang dimaksud adalah pendingin ruangan yang tak ayal membuat penat Junsu berkecamuk. Tidak ada lubang ventilasi udara, tidak ada jendela, tidak ada pintu, tidak ada apapun. Junsu geram. Tak segan, Junsu segera mengambil sebuah ember dari troley dan menumpahkan segala isinya pada lantai beralaskan marmer granit.

Semua dilakukan dengan sama sampai ember terakhir. Tidak cukup.

Tidak ada keran disini—tentu saja dengan akalnya yang di atas rata-rata seharusnya ia bisa menemukan setitik sumber air dari setiap inci ruangan. Kedua matanya menangkap Air Conditioner itu, besar dan selang-selang putih yang mencuat di pakui pada dinding-dinding. Namun, yang hampir membuat mentalitasnya menciut adalah bagaimana caranya mencabuti selang-selang tersebut sementara tingginya bahkan hampir empat meter.

“Ayolah, aku bukan spiderman!” Junsu membanting ember terakhir dari genggamanya. Masih memandang pada lintasan kemana benih air itu keluar dari selang spiral tersebut. Tiba-tiba Junsu menemukan sejenis kain. Hitam dan menutupi satu sisi pada dinding. Ya, sebersit cahaya menyelinap masuk dari pinggiranya, itu jendela. Tanpa pikir panjang, Junsu segera mengusap kening yang mulai terasa lengket oleh darah dan berlari pada objek tersebut. Sepertinya sniper-sniper itu berhasil membuka pintu pada lorong berkode barusan. Kaki kananya terangkat meminjak speaker kotak di samping rak. Memanjat pinggiran berkayu itu dan beridiri di atasnya, berjalan perlahan di atas rak menuju objek. Segera menarik paksa selang. Air keluar dari dalam sana dengan deras.

##############

Sesosok pria terjembab jatuh—niatnya adalah menembaki kepala Krystal. Sniper berhasil mengejarnya sampai ke atap. Apa harus lompat? Oh, bagus saja jika Krystal lompat dari ketinggian tidak main-main ini maka rencana yang disusunya dengan Junsu berakhir sudah selama enam tahun ini. Pria berbalut rompi hitam itu kembali berdiri, Krystal menarik pistol revolvernya dan menyikut selangkanganya dengan lututnya. Sebelum sniper lainya sampai, Krystal segera menarik pelatuk secara instens, selongsong peluru meloncat keluar dari badan pistol ketika benih peluru merengut nyawa pria itu.

Sniper 1 berhasil menyampai posisi Krystal berada—hendak meretaki bahunya yang telah di dahuli jackpot di tengkuk lehernya oleh sikut Krystal. Sniper 2 dan 3 membidik Krystal dari kejauhan, namun tak ayal menjadikan sniper lainya korban karena berusaha mengejar Krystal yang mengartikan tembakan mereka meleset. Sniper lainya berhasil meninju pipi kananya, segera Krystal menendang selangkangan sniper tersebut dengan lututnya dan pekelahian lainya berlanjut.

Tidak bisa. Lenganya banyak mengeluarkan darah sementara para sniper sudah berdatangan semakin banyak. Jika lenganya tidak cedera seperti sekarang, mungkin sudah ia patahkan kaki mereka semua dan melarikan diri. Ha, mengenai melarikan diri, bukankah ia sudah membaca struktur bangunan oprah ini sebelumnya?

Banyak jalan yang kemungkinan membuatnya bisa melarikan diri, satu-satunya cara adalah mengingat kembali jalan-jalan itu dan bukan waktunya untuk menggunakan cara itu dalam situasi genting sekarang. Mau sekuat apapun, Krystal tetaplah wanita yang tenaganya kalah banding dengan pria. Mau menggunakan otot pun yang lawanya hampir belasan itu malah akan menjerumuskan dalam jeruji besi dan sempurnalah impian untuk membuka kedok…

“Sudah tidak dapat melarikan diri, Xiah,” sebuah suara tetua mencuat gendang telinga Krystal. Sosok itu membelah barisan sniper di depanya untuk melihat siapa-anggota-Xiah-itu, “bahkan aku dibuat terkejut ternyata salah satunya adalah seorang manusia yang sangat di muliakan di muka bumi ini.”

Seringai tampak pada wajahnya. Krystal memutar kedua pupilnya sembari menarik nafas dalam-dalam. Tidak mau peduli itu siapa dan maunya apa sekarang. Tujuan terakhir Krystal saat ini adalah segera meninggalkan tempat ini. Sebersit gambar muncul di benaknya. Struktur gedung ini. Ya, ia tahu sekarang bagian mana ia bisa melarikan diri ketimbang menghiraukan para peringkusnya.

Sebuah helikopter mendekati atap gedung, walau jaraknya kurang lebih hanya 12 meter, pendengaran Krystal masih bisa menangkap gelombang udara yang saling bertabrakan dengan udara lainya di atas sana. Posisi Krystal sekarang tidak begitu jauh dari pada peringkus yang dipunggungnginya, sebelah tanganya mencengkram kuat kemeja putihnya, tangan kananya terangkat mengusap bercak darah yang keluar dari sudut bibir dan keningnya dengan punggung tanganya dan berakhir dengan merogoh saku celananya.

“Menyerahlah, akui semua dosamu dan akan kami tangkap pemimpinmu. Kau tidak perlu takut akan terancam mati karena kami akan melindungimu, my pet.”

Shut up.

Krystal menampik senapan yang nyaris mententuh punggungnya oleh tetua tersebut lalu menendang selangkangany, ia segera melompat ke samping untuk mengambil sebuah pistol dari seorang sniper yang Krystal pukul sebelumnya.

Satu… tidak, bahkan sampai delapan sisanya mulai menembak Krystal beruntun. Sementara Krystal yang tengah berguling menuju tepi atap gedung oprah, setiap lima detik membalas tembakan tersebut dengan pistolnya. Ketika pandanganya menangkap helikopter yang mulai mendarat, Krystal segera membuang pistolnya dan merogoh sesuatu dari kantung celananya. Segera Krystal lempar dua peledak kecil tersebut ke arah mereka yang salah satunya tepat mengenai badan helikopter.

Ledakan besar tak terhindarka.

################

“Dimana dia?”

“Mungkin sedang menyusun bahan peledak atau semacamnya. Tidak perlu khawatir.”

“Bisa saja ia bersembunyi, sisanya, segera jaga dua pintu barusan! Di sini tidak ada jendela, dia tidak akan bisa melarikan diri!”

“Ya,ya. Walau ia berhasil pun itu tidak masalah, asalkan aku dapat melihat sosok Xiah yang sebenarnya.”

“Terserahmu!”

4 sniper yang menempatkan posisi di samping rak membuat perseteruan yang tidak menyadari adanya seseorang mengendap di dekat mereka. Tiba-tiba ia menarik bahu salah seorang sniper lalu menyikut tarangnya dengan sikut lenganya.

Terkejut, para sniper lainya segera mengangkat pistol yang ditampik oleh Junsu. Perkelahian pun terjadi. Sulit digambarkan seperti apa kejadianya saat itu. Semua peringkus yang telah meminjak tempat tersebut ikut terbawa suasana hingga sebagian peringkus hampir seluruhnya mengalami luka yang monoton. Junsu berlari menjauhi mereka di antara rak yang menyulitkan pandang untuk menemukanya. Pada lorong di antara dua rak, Junsu memberhentikan langkahnya. Menggerling kedua matanya ke segala arah ketika derap sepatu para sniper sudah tidak kembali terdengar. Junsu menguatkan batinya dengan persepsi mereka sedang mengatur rencana di beberapa balik rak sambil terus mengawasi posisinya.

Dengan merogoh Micro Uzi dari kantung celananya, Junsu megarahkan moncol pistiol tersebut ke samping kanan dan menekan pelatuknya. Secara otomatis, banyaknya selongsong peluru keluar dari dalam sana.

“Arrgh!!”

Suara yang mengaduh kesakitan. Seringai kecil tampak pada wajah porselen Junsu. Ia berbalik dan menemukan seorang sniper yang siap menusuknya dengan pisau kecilnya, tidak habis cara, Junsu segera mengambil dua kotak kaset berlogam di rak dan di lemparnya tepat mengenai dahi sniper tersebut. Seorang lagi datang, mengarahkan pisaunya pada punggung Junsu yang sayangnya malah mengenai sniper yang barusan menjadi korban ‘kotak kaset’nya. Tidak sampai di situ, sebagian dari mereka mulai mendekati tempat Junsu dan itu menutup jalanya untuk melarikan diri. Ha, jika menggunakan pistol itu terlalu biasa, bagaimana dengan barang-barang yang ada di rak saja?

Dan terjadilah aksi saling melempar barang dari rak ke rak lainya dan melompat dari rak satu ke rak dua dan terus terjadi sampai pria yang dahulunya memiliki rambut pirang itu membelah kerumunan dari mereka menuju tempat awal Junsu melepas selang Air Conditioner sebelumnya. Andai ia tidak terisolasi seperti sekarang, mungkin ia sudah menggunakan Krystal untuk menjadi ‘tameng’nya saat ini.

Ah, mereka tidak menyadari, langkah mereka untuk mengejar Junsu semakin terasa basah oleh genangan air di lantai. Ya, memang tidak menyadari karena terlalu membabi buta dalam menghabiskan senapan demi seorang pria yang lihainya di atas rata-rata dalam menghindar. Setelah dengan susah payah menahan sakit pada tumitnya dalam menaiki rak, pandanganya terarah ke bawah melihat peringkusnya hampir seluruhnya masuk pada daerah ‘perangkap’nya, di potongnya kabel beraliran listrik yang masih aktif dari lubang penghubung sistem untuk oprah dengan belati yang ia dapat. Menarik nafas panjang dan di jatuhkanya kabel tersebut ke bawah.

Tidak banyak yang harus digambarkan bagaimana kejadian selanjutnya. Sudah dapat terbayang seperti apa reaksi yang ditimbulkan bila listrik bertemu air, ‘kan?

Junsu menoleh, di tatapnya sehelai kain hitam yang menutupi sesuatu. Cukup lama waktu yang digunakanya dalam berperang batin untuk menyingkap kain itu atau di diamkanya dan pergi dari ruangan melalui jalur yang sama—kenyataanya mustahil karena ia sendiri tidak bisa turun dengan tegangan listrik di bawah sana yang bisa saja langsung menghanguskanya. Sesaat, Junsu melupakan segala dilema tersebut dengan berbaring sembarimengatur nafasnya yang semenjak tadi terus terengah-engah. Ia bisa mengingat dari sekian hal yang dilakukanya untuk mengambil card program selalu berhasil melarikan diri dan tidak seperti yang sekarang bisa terjebak yang jumlah snipernya tidak lebih dari hari kemarin.

Ada sesak di antara pernafasanya. Mungkin racun dari kejadian sebelumnya masih bereaksi pada paru-parunya. Mungkin. Karena ada kemungkinan lain yang pernah dijabarkan oleh Krystal tentang ungkapan sesak itu bukan berarti kenyataanya sesak, namun sesak ketika merasakan halnya yang dialami setiap kaum. Terbesit wajah itu… membuat rasa sesak itu semakin menjadi. Mengapa, mengapa harus Micky? Mengapa harus dia yang membuatnya harus berpikir keras mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sejak semalam lalu?

Tidak, tidak. Bukan saat yang tepat untuk berpikir rasional di saat genting sekarang. Junsu kembali memastikan kantung pinggangnya yang masih berisi card program dan kembali mencari cara untuk keluar dari dalam ruang sistem ini. Kain… kain hitam itu membuatnya kembali dalam posisi duduk dan mengulurkan lengan kananya untuk menyingkapnya, memuncual lubang besar yang berlorong panjang penuh dengan debu.

###############

Suara bertabraknya antara kulit dengan air membuahkan gemercik air yang bertumpahan ke pingir kolam. Melompat dari ketinggian yang tak kira-kira dan ternyata struktur yang sekenanya di ingat hingga Krystal meloncat dan mendarat di sini. Kolam ikan. Memalukan. Tapi jika di pandang dengan sikap intelek mafia, caranya mengambil keputusan tersebut sangat menajubkan—terlebih yang melakukan kegiatan ekstrim itu adalah wanita. Beruntung baginya yang sejak kecil sudah sering di latih pernafasan renang hingga tertahan lima menit itu pun kenyataanya ia bisa dan ia gunakan untuk bersembunyi di dasar kolam sambil mendekati pinggiran kolam.

Lima menit berlalu, kepalanya muncul dari dalam kolam dan melirik ke sekitar. Setelah di rasa aman, Krystal naik ke pinggiran kolam dengan sisa tenaganya untuk menahan rasa perih dari luka yang mencuat lebar dari lenganya. Bagaimanapun, Krystal tetaplah seorang wanita yang tidak bermental baja seperti pria dalam hal luka sekarang.

“Haa—haa. Sial! Haa—kemana Junsu sekarang…” gumamnya terdengar kesal sembari merogoh sesuatu di celananya. Sialnya, ponselnya sudah terlanjur kebasahan dan tentunya sudah tidak bisa di harapkan lagi kegunaanya. Tunggu, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pada kantung lainya. Setelah membenarkan posisi duduknya di pinggiran, ia mengambil benda berbentuk panjang berlogam yang terpahat acak di ujungnya. Seringai semakin mengembang di wajahnya ketika sebuah nama bergelantung pada benda tersebut.

Kunci mobil, milik salah seorang sniper yang menjadi korbanya di dalan gedung sebelumnya. Segera Krystal bangkit berdiri dengan sedikit kepayahan dan berlari kecil menuju area parkir yang jaraknya hanya beberapa meter dari tempatnya. Ia menekan tombol unlock dan lampu yang berkedip dua kali itu muncul dari C-class 230 berwarna coklat menua. Tidak memperdulikan bagaimana tubuhnya yang basah kuyup itu ikut membasahi jok kursi saat memasuki mobil, ia langsung menyalakan mesin dan menjalankanya keluar area parkir mencari posisi Junsu yang kemungkinan sudah berhasil meloloskan diri.

Berputar-putar pada setapak jalan aspal di sekitar gedung, tak terhitung jumlah pot, tempat sampah dan mobil yang Krystal tabrak, pikiranya kalut dalam pencarian sosok adorable itu. Tiba-tiba pagar kecil yang menutupi pembuangan udara dari ventilasi hitam terbanting jatuh menabrak kap mobil yang dikendarai Krystal. Terkejut, Krystal segera menekan pedal rem mendadak yang keterkejutanya semakin menjadi ketika sebuah tubuh ikut menabrak kap mobilnya yang keluar dari lubang tersebut.

Junsu.

Kedua mata Krystal membulat, “Junsu!” Kystal berseru kencang seraya keluar dari dalam mobil.

Menghampiri sosok yang terlihat mulai memucat dengan kondisinya yang sudah tidak memungkinkan dia baik-baik saja. Dipapahnya Junsu ke dalam mobil dan membaringkan dirinya pada jok belakang. Krystal kembali pada kemudi dan menginjak pedal gas, laju mobil yang sebelumnya lebih lambat sekarang menjadi sebaliknya.

Terlalu nekat. Junsu terlalu sensitif terhadap debu walau hanya semacam sebutir beras ia sudah pasti akan merasakan pusing, lalu bagaimana sekarang? Menggunakan jalur ventilasi yang justru membuatnya sendiri terkapar karena terlalu banyak menghirup udara kotor.

Mengingat mobil mereka sebelumnya sempat menjadi ‘korban’ balap liar di Seoul, mungkin untuk kedepanya mereka akan menggunakan mobil curian ini.

‘Barusan itu…’ Junsu membantin seraya mengerjapkan kedua matanya.

Flashback..

Helai rambut warna gading itu meneteskan peluh keringat. Saat itulah dua ‘saudari’ kembali di pertemukan, juga selalu dalam ke-tidak benaran waktu.

Oniks dan Safir…

Dua benua menyatukan insting tuk membuahkan asumsi, meliputi alir emosi dengan terfokus pada benua lain. Membuat dunia gelap. Dunia mereka, dunia yang telah menghitam menambah kegelapan belaka, menutup sirna rapat-rapat, membuang persepsi mentah-mentah. Tidak samanya, dan akan selalu berbeda di lihat seringai—tidak di pahami pemilik oniks ini, hanya cukup dengan ekspresi stoic. Melupakan yang lalu, pertemuan berakhir dengan di tandai tanya belum mereka pahami satu sama lain.

Junsu menyadari, bahwa semenjak sebelumnya… pria ini, pria di dekat pintu ruang yang baru saja tampak yang bernamakan Kim Jaejoong ini… mengawasinya dari salah seorang anggota sniper sebagai penyamaranya yang membuatnya terjebak. Dalam persekian detik, seulas senyum kecil mengembang pada wajahnya. Hanya sejenak, ketika mendapati Junsu tetap pada keangkuhanya seraya memasuki lubang ventilasi.

#############To Be Continued#############


6 responses

  1. Zeedictator

    waooooo.. ceritanya kompleks banget.. keren bgt chingu, cm otakq kadang2 ga nyampe gara2 kbanyakan castnya. ehehehehe.. bingung mo komen apa. intinya kasian junsu, selamatkan dy authoooor. wahahahahha.. ditunggu lanjutannya..

    14 Desember 2010 pukul 22:43

  2. riananotraina

    panjang amat thor,,
    *pendek protes,, panjang protes*
    ntar segini lg ya thor,,,
    hehe

    18 Desember 2010 pukul 12:14

  3. nitip comment dlu chai…

    Nnti kalau udh ampe rmh aku bca…

    18 Desember 2010 pukul 17:43

  4. Tanjunxiu

    MataQ pusiiing ¤kepala kali yg bnr¤ panjang n memuaskan 😛 mnrutQ pov.y krg jlas ching, bca.y jd bingung ¤halah do2l.y nampak¤ crita.y menakjubkn, author pnter yah bwt ni ff,,,, HWAITING

    20 Desember 2010 pukul 21:05

  5. ellYChun9

    MataQ pusiiing ¤kepala kali yg bnr¤ panjang n memuaskan 😛 mnrutQ pov.y krg jlas ching, bca.y jd bingung ¤halah do2l.y nampak¤ crita.y menakjubkn, author pnter yah bwt ni ff,,,, HWAITING

    20 Desember 2010 pukul 21:07

  6. Angel_LovelyXiah

    anyeong
    ak reader bru..
    fic ini jdx JunChun y?bwt Homin jg author kn bgs*blink2*ak lg pingin fic HominT.Tlnjt!Fighting!

    5 Juni 2011 pukul 16:11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s