fanfiction for our soul

XIAH “also kill the bastard like you” P2


Warning : Alternative Universe, Out Of Character.
Disclaimer : I do not own them.
Genre : Action, Romance, Suspense.
Note : Sho-ai and Straight, Adult (18+)
Main pair : JunChun
By : Intan9095

#

Chapter Two: Last Smile

#

Pagi menjelang bersamaan dengan riuh cicitan burung di setiap dahan pepohonan menyambut terbitnya matahari dari ufuk. Kembali hujan mengguyuri ibu kota Jepang yang kali ini hanya gerimis kecil—dilihat dari banyaknya pejalan kaki sama sekali tidak menggunakan payung. Suasana yang cocok untuk duduk di teras rumah dengan memandangi keasrian perkebunan sembari menyeruput teh panas di sebuah kursi kayu dengan hikmat menghirup udara segar. Ah, sepertinya baru akan terjadi untuk seorang Micky di masa yang akan datang karena justru sebaliknya terjadi padanya.

Berdiri seorang diri di tengah kerumunan pria-pria besar bersenjatakan sebuah pistol yang membidik dirinya. Bersama seorang wanita yang umurnya sudah mencapai kepala empat tengah melipat kedua tanganya di depan dada. Micky hanya tertunduk menatap lantai. Kedua tanganya mengepal kuat, wanita tersebut semakin memperkecil jarak di antara mereka. Sebuah tangan menepuk bahu Micky membuatnya sedikit terkesiap lalu mengadahkan kepalanya.

PLAK!

##

Inggris, London.

Royal Opera House. Tidak banyak yang dapat digamparkan bagaimana bentuk dan setiap tekstur pada bangunan besar nan mewah—jauh lebih mewah dari Sydney Opera House. Jelasnya, lebih banyak di dominasi oleh warna gading lebih gelap dengan ribuan lampu kekuningan dan sebagian lampu putih menyorot pada pintu utama gedung yang ramai oleh para penonton dari berbagai negara datang memasuki gedung yang sebagian besar banyak memakai mantel tebal dengan warna senada—hitam.

Berpergian pada musim dingin bukan waktu yang tepat karena nantinya ketika sampai pada opera berlangsung, sangat di pastikan AC di sana akan menyala seperti biasa. Ya, mungkin saja untuk sekarang itu tidak akan terjadi karena siapa yang beraninya memasang sistem mengerikan itu pada musim dingin sekarang?

Dan ya, orang sinting mana yang pagi-pagi buta begini sudah harus menjadwalkan pembukaan oprah pada pukul 7.30? Walaupun ternyata sudah hampir seribu orang menempati kursi dari dua ribu tiket yang terjual.

Sebuah Limousine Chrysler putih berhenti di depan anak tangga yang jumlahnya puluhan itu dengan elegan, berwarna putih mengkilap. Seorang pria berpenampilan formal lengkap dengan topi khas pengawal jendral membuka pintu mobil dan mempersilahkan tuanya untuk turun. Munculah sosok pria dengan setelan jas dan mantel berbulu putih lebat yang menutupi kemeja sampai panjangnya selutut, paling tidak celana coklat berbahan kain masih jelas terlihat. Lalu di belakangnya, muncul seorang wanita cantik yang rambutnya digelung ke atas pirang dengan gaun hitam—yang lagi-lagi tidak bisa di gambarkan dengan gamblang seperti apa. Sebelum pria di depanya menaiki satu anak tangga, tangan wanita itu sudah menariknya,

“Ladies first, seharusnya aku pun yang turun duluan barusan, che.” Decaknya sambil cemberut.

“Hahaha, sorry honey. Silahkan.”

“Aku mau ke toilet dulu!” seru wanita itu langsung mengambil langkah cepat memasuki gedung. Kekasihnya hanya bisa menghela nafas panjang.

##

Pria berbalut mantel berbulu lebat berdiri tak jauh dari lorong menuju toilet. Ia menunggu kekasihnya kembali dari toilet walau sudah hampir lebih dari 5 menit lamanya, memang ada benarnya wanita selalu menjadikan toilet sebagai ‘salon’ efektif. Sementara di tempat wanita itu sendiri, terlihat ia sedang bercermin dengan membetulkan gelungan rambutnya, tak berapa lama setelah merasa sudah benar-benar rapih, ia mengambil tas kecil putih berbahan kulit di pinggiran wastafel dan melangkah ke arah pintu. Tangan kirinya mengulur memegang kenop pintu dan mendorongnya kebawah, pintu terbuka pelan dan ia langsung beranjak, ya, sampai langkahnya terhenti ketika mendapati gaunya menyangkut pada kenop,

“Yah, kenapa bisa menyangkut?”

Tangan lainya berusaha untuk melepas gaunya dengan hati-hati, saat itu tepat muncul seseorang yang baru saja keluar dari bilik kamar mandi menghampiri wanita tersebut. Seseorang yang memiliki sepasang mata hitam dengan wajah ‘imut’ yang sudah dapat diketahui siapa dia. Tanganya terulur beserta seringai kecil…

“Can i help you?”

##

Charice Pempengco. Penyanyi gadis muda berumur 15 tahun asal Philipine, diundang untung mendukung acara oprah yang di selenggarakan oleh Houston sendiri. Menyanyikan lagu abadi Houston berjudul ‘I Have Nothing’ memang sesuatu yang tidak mudah, namun untuk pagi ini, suara emas Charice membuat semua penonton terpukau sangat, bahkan saat di pertengahan lagu, sebagian orang banyak sudah berdiri dan bertepuk tangan untuknya. Di bagian kursi VIP, paling depan dan tepatnya tempat para kolonel konglomerat berasal, sosok wanita bergaun hitam dengan badan—well, agak ramping khas pria lalu rambutnya yang di gelung dengan tambahan topi kecil berbulu. Bersama kekasihnya—pria yang barusan menungguinya dari toilet—saling memegang erat tangan satu sama lain, kedua mata oniks wanita tersebut memandang halus pada panggung.

“Excusme, nyonya Jardon. Butuh minum?”

Sebuah suara kecil yang berasal dari pelayan wanita membuka kereta minum membuyarkan konsentrasi dari yang di sebut nyonya Jardon tersebut, ia beralih pada pelayan yang menawarinya, tidak ada jawaban, hanya menggeleng pelan dan pelayan tersebut mengangguk dan menawarkan pada penonton lainya. Bisa mengetahui nama tamu VIP itu adalah kewajiban pelayan di sana, agar lebih terhormat. Remang-remang lampu keorange-an di langit-langit tidak sebagai penerang utama oprah ini berlangsung, tidak terlalu gelap.

“Kita harus melewati hari ini penuh dengan kebahagiaan, aku harap adikmu mengetahui hari ini adalah hari jadi kita yang ke-enam.” Jardon—sang pria—memecah keheningan di antara mereka berdua.

Tidak ada jawaban dari sang kekasih, hanya senyum yang terukir di wajahnya sebagai balasan.

Pandangan wanita dari kekasih Jardon tersebut beralih pada suatu tempat yang letaknya ada jauh di atas, kursi penonton VIP bagian utara. Hanya dalam sedetik ia kembali melihat penampilan spektakuler Charice yang mulai mengakhiri penampilanya dan pembawa acara—pria asal Amerika memasuki panggung. Seringai tajam mengarah pada pembawa acara tersebut, tepat berasal dari kekasih Jardon. Di ikuti oleh seorang gadis lainya sebagai pasanganya.

“Terimakasih pada hadirin yang sudah menyempatkan diri untuk datang…”

Ia menarik tanganya dari genggaman Jardon,

“Tepat pada hari ini, Selasa tanggal enam bulan Januari tahun dua ribu tujuh. Kami…”

Mengambil tas besar berbentu persegi hitam dari kolong kursinya,

“Maka, kami mengundang para bintang besar dari sebagian Asia…”

Membuka resleting tas dan mengambil beberapa alat berwarna hitam dari dalam sana lalu di masukanya ke dalam mantel,

“Mengingat ini awal tahun, setelah ini kami berencana untuk memberi kalian…”

Ketika hendak akan berdiri, Jardon kembali menarik lenganya dengan mimik wajah keheranan dan meminta penjelasan, wanita tersebut hanya tersenyum tipis seperti meremehkan, “Nikmati saja.” Gumamnya dengan suara berat khas lelaki yang membuat kedua mata Jardon membulat mendengarnya. Tanpa membuang waktu, wanita tersebut kembali berdiri,

“Dan berikutnya…”

Melangkah dengan cepat lalu kedua tanganya merogoh sesuatu dari dalam mantel, mengeluarkan pistol hitam mengkilap pada kedua tanganya dan di arahkanya pada para security dii setiap sudut,

DOR! DOR!

“KYAAAA!!!”

Pembawa acara tersebut seketika menghentikan kata-katanya, kedua matanya membulat, terkejut. Dengan cepat wanita tersebut langsung menembaki beberapa kotak sistem di samping kiri panggung dan semua pintu otomatis terkunci. Semua orang di sana berlarian tak tentu arah menghindar darinya yang masih terus menembaki sebagian orang yang sudah di rencanakanya di setiap kursi penonton. Pistol mengarah pada kursi para undangan di lantai dua dan tiga serta empat—ha, betapa luasnya tempat oprah ini.

Sebagian security yang masih lolos dari tembakanya segera menghampirinya dan hendak menghantam wanita tersebut dengan palang besi, tidak sampai palang besi itu mendarat di punggungnya, ia sudah berbalik dan menendang perut security 1, menghantam pelipis security 2 dengan pistol, menjedukkan kepalanya pada dagu security 3, dan mencekik leher security 4 dengan lengan kiri yang memegang pistol yang sudah kehabisan peluru. Setelah security 4 kehilangan kesadaran, ia melempar pria tersebut lalu melempar pistolnya sembarang arah mengenai sebagian orang dengan kencang hingga keningnya berdarah dan wanita tersebut tidak peduli. Ia mengambil lagi handgun yang lebih besar dari balik mantelnya lalu menembaki seluruh orang di lantai 2 dari ujung ke ujung agar tidak membuang waktu dan melempar empat peledak kecil pada seluruh orang di tempatnya berada.

DUAAR!

Ledakan sedang berhasil merengut banyak nyawa yang tidak ikut andil dalam rencana, tidak peduli siapapun korbanya, yang jelas orang-orang yang akan di bunuhnya telah berada di antara mereka maka mereka harus menerima resiko ikut terbunuh.

Tiba-tiba muncul beberapa orang berpakaian seperti patroli—dan sangat yakin itu adalah polisi setempat muncul dari balik panggung. Gadis muda yang masih berada di samping pria sebagai pasanganya barusan melihat pria tersebut mulai mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan tempat dengan langkah besar, namun gadis tersebut sudah menarik lehernya dan menyekapnya di antara lengan gadis itu. Tangan lainya segera mengambil handgun besar yang sama dengan nyonyta Jardon di bawah panggung sana dan langsung menembaki para polisi yang hampir mendekati tempatnya.

Terdengar alarm pada gedung berbunyi hampir pada seluruh gedung oprah, gadis muda ini menggeram kesal sembari mengigiti bibir bawahnya. Tidak di duga-duga pria yang di sekapnya langsung menghantam rahang gadis tersebut dengan sikunya dan segera melepaskan diri. Gadis berambut hitam kelam bermata oniks tersebut meringis terjatuh ke lantai panggung yang di lapisi kayu, belum sempat pria itu keluar dari panggung melewati pintu barat, gadis itu sudah menembak paha kirinya hingga membuatnya terbanting jatuh. Gadis itu langsung mendakitnya lalu menjambak rambut pria tersebut hingga kepalanya terangkat,

“Dengar, hidupmu tinggal beberapa detik lagi, maka jangan banyak tingkah di depanku!”

“Bitch!! Who are you!?”

DUAGH!

Segumpal bercak darah keluar dari mulut pria tersebut ketika sebuah tonjokan ia dapati di pipinya dari wanita bermantel barusan yang berhasil lari dari ledakan. Ia memberi kode pada gadis muda itu untuk menangani sebagian polisi yang datang kembali, gadis itu segera berbalik lalu menanggalkan wig dan jas hijaunya.. Wanita yang masih ada di sana membalik tubuh pria tersebut lalu duduk atas perutnya, moncong pistol menempel pada kening pria tersebut,

Bastard.” Desisnya. Tanganya merogoh saku celananya dan menemukan apa yang ia cari lalu di masukanya pada kantung hitam yang membelit pinggangnya, dengan seringai puas ia menatap pria di bawahnya mulai memucat.

Ia mencibir, “Terlalu lemah, mengecewakan.”

“Si-siapa kamu?! Penyeludup!!”

“Aku?” perlahan ia menarik pelatuk, “Namaku, Kim Junsu, selamat tinggal, pecundang.” Dan senyuman terakhir yang dapat di lihat pria itu dari seorang Junsu.

DOR!

To be continued

##

err.ada yg msih bingung ndak sma critanya? -,- sya prjelas klo junchan ntu smpet mnyamar jdi nyonya Jardon *jd yg ditemui ms. jardon d toilet itu adlh junchan XD* knp chap ini pendek?? krena emng sya maunya pendek -,- #ditabokpanci

5 responses

  1. riananotraina

    pendek,,pendek,,
    we want more,, we want more,,
    *demo d dpn rmh author*
    betewe, aq mau tny satu hal yg jd pikiranku selama baca ni ff..
    akang chun di bawah yah?
    *taboked*

    14 November 2010 pukul 11:31

    • intan9095

      d bawah? d bawah apanya yak? kwkwk XDD

      16 November 2010 pukul 21:57

  2. maksudnye posisinyaaa….

    16 November 2010 pukul 22:05

  3. riananotraina

    iya kan iya kan??
    akang chun di bawah kan?
    abang su yg di atas
    wkwkwkwk
    tp masa akang chun di bawah sih..?
    *ga bisa bayangin*

    16 November 2010 pukul 22:36

  4. huaaaaaaaa ga nyangka junchan yg immuet jd sngt mengerikan sprti itu…. bner3 pnsaran dech ma khrnya gmn..

    31 Juli 2011 pukul 11:34

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s