fanfiction for our soul

XIAH “also kill the bastard like you” 1B


Warning : Alternative Universe, Out Of Character.
Disclaimer : I do not own them.
Genre : Action, Romance, Suspense.
Note : Boyslove, slight Straight. JUNCHUN, JUNKRYS, HOMIN, YUNJAE, etc.
Author : intan9095

 


 

Sosok pria yang baru saja berlutut di belakang pemuda tersebut sebagai kehormatan pada pemimpin tiba-tiba terhempas keras pada tumpukan balok-balok kayu. Cukup menggunakan sikut lengan kiri untuk menabrak pelipis si pria hingga terpelanting, tidak peduli mau umurnya jauh lebih tua atau muda, baginya semuanya adalah bawahanya, melakukan semaunya dengan tidak memikirkan konsekuensi. Ia mengambil mantel warna gading kelam panjang dari meja dengan kasar, mengenakanya sembari berlajan ke arah pintu, sebelum langkahnya meninggalkan tempat favoritenya, sepasang lolite mendelik tajam pada bawahan yang masih meringis akibat rasa nyeri hebat di pundaknya.

“Kau sangat mengganggu.” desisnya sarkas lalu meninggalkan ruangan, tidak lupa membanting pintu ketika menutupnya. Tidak perlu repot-repot untuk para anggota yang menutup pintu untuknya  karena mereka sudah merasa bau-bau membunuh tuanya semakin menyengat dan mereka tidak mau hari terakhir mereka hidup di tempat ini, tempat yang di penuhi peristiwa dengan berakhir penghabisan darah.

Bunyi sepatu berpantovel dari pemuda tinggi yang selalu pada ekspresi angkuh dan bertutur kata wibawa—lebih tepatnya selalu menjadi ironis tergema di lorong. Pandanganya masih mengarah pada lantai sementara kedua tanganya bersembunyi di balik saku celana. Langkahnya teratur mengikuti garis marmer keabuan, bebera anggota organisasi lainya telah berada samping pintu marmer hitam berkaca yang salah seorang sudah membungkuk.

Beda dengan yang sebelumnya, terang oleh banyaknya lampu putih dan terlihat lebih layak ketimbang ruangan sebelumnya. Di dominasi warna gading pada dinding dan warna lantai  yang senada. Sepintas ia melirik sebagian anggota yang jumlahnya hanya 4 itu, mengenakan pakaian formal serta mantel yang sama denganya, dengan logo organisasinya sendiri.

“Tidak perlu, aku bukan jendral.”

Mereka menatap sang pemimpin dengan sedikit kegalauan, salah seorang yang tengah membungkuk tersebut langsung menegakkan kembali punggunya lalu tersenyum hangat pada sang pemimpin, “Sepertinya sudah sembuh ya? Hahaha!” katanya sambil menepuk-nepuk bahu pemuda tersebut. Ia hanya membalas dengan tawa kecil lalu melepas mantelnya dan di berikan kepada anggota lainya.

“Siapa di dalam?” tanyanya sembari menepuk bahu pria yang agak pendek darinya yang masih tersenyum kearahnya.

“Loh? bukanya sudah tahu ya?”

“Yunho-sama, mungkin anda akan terkejut jika tahu tamu itu sebelum masuk.” ujar pria lainya.

Beberapa detik pemuda beranama Yunho ini menatap para anggotanya secara bergantian, mencari tahu di setiap mata mereka tentang keberadaan tamunya di dalam apa memang hanya klien biasa atau… seseorang yang tidak di harapkanya selama ini. Kedua mata lolite yang sempat meredup itu memicing tajam pada anggotanya, ia langsung menepis tangan anggota lainya yang barusan menepuk bahu lalu membuka mendorong pintunya sampai menjeblak terbuka.

Sofa putih panjang, sebuah meja kayu jati yang tingginya tidak sampai 80 sentimeter, perapian besar yang terbuat dari batu bata merah dengan api yang sudah menyala serta seorang lelaki tinggi dengan mengenakan celana baggy hijau 3/4 dan kaos hitam berlogo jenis Polo di punggungya, memunggungi tempat Yunho berada sembari melipat kedua tanganya di dada—dan itu terlihat jelas karena bayang-bayangnya muncul pada kaca di hadapan lelaki tersebut.

Rambut kecoklatan sedikit acak-acakan di terpa sinar matahari, Yunho dapat melihat jelas dari kaca tersebut, lelaki itu menatap keluar sana dengan pandangan teduh serta senyum tipis yang masih samar-samar apa memang tersenyum atau tidak. Dilihat para anggotanya berdiri tidak jauh dari tempatnya dan lelaki tersebut sebagai pengawas. Mungkin menyadari kedatangan pemilik markas, ia berbalik sembari memasukan kedua tanganya ke dalam saku celana. Mereka bertemu pandang.

Coklat dan Biru.

Yunho melangkah mendekati tempat lelaki di hadapanya tanpa melepas kontak mata, sangat pelan. Yang sekarang ada di benaknya adalah mencari tahu siapa dia dan mengapa datang ke sini. Karena Yunho sendiri memang tidak mengenalnya, mungkin anak buah musuh bebuyutan yang sedang menyamar? Ia melihat senyum hangat yang di berikan lelaki berkaki panjang itu padanya.

“Konnichiwa, Yunho-kun.”

Langahnya terhenti. Pandangan mereka masih bertemu, senyum itu masih tampak jelas di wajah porselen lelaki tersebut. Rasa pusing tiba-tiba saja mengelilingi kepalanya, sangat membuatnya pening sampai harus menggunakan telapak tangan kananya untuk memijit keningnya sendiri, saat itu Yunho memutus kontak mata.

Ekspresi lelaki tersebut berubah menjadi sedikit khawatir—walau sebenarnya hanya sedang bersandiwara karena ia tidak mau terlihat tidak peduli pada orang penting di hadapanya. Ia lalu mendekati tempat Yunho.

“Anda, tidak apa-apa?” tangan lelaki itu terulur mengarah pada pundak Yunho, segera Yunho tepis dengan kasar lalu mengembalikan tangan kananya kembali masuk ke dalam saku, sementara kedua tangan lelaki tersebut ada di samping.

“Siapa kau?” tanya Yunho dingin.

“Aku klien yang meminta jasamu, aku harap kamu bersedia mau membantukui, Yunho-kun.”

Tidak ada jawaban dari Yunho. Matanya masih menyelidiki sesuatu dari dalam yang mengaku klienya. Lelaki tersebut berputar dan berjalan ke arah sofa putih mengambil tas ranselnya lalu mengambil sesuatu dari dalam sana. Yunho mengernyit, ‘Aku barusan tidak melihat ransel itu.’ pikirnya masih mengawasi gerak-gerik si klien yang kembali menhampirinya dengan membawa sebuah map hijau dan pena.

“Silahkan anda baca proposal ini, anda akan mengerti nantinya, dan aku harap hari ini juga anda membuat keputusan.” ujar lelaki itu sembari menodongkan map pada Yunho. Dengan mata yang masih mengawas, ia meraih map tersebut dari tangan porselen si klien. Ia berbalik lalu menghampiri sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana. Perlahan ia membuka map itu dan melihat secarik kertas di sana. Hanya dalam puluhan detik ia kembali menutup map dan menatap si klien.

“Aku tidak mengerti, dari apa yang tertera di sini anda bermaksud untuk gabung dengan agen kami? Ha, kami menolak.”

“Bukan, bukan seperti itu Yunho-kun. Aku yakin anda juga akan sangat terkesima dengan misiku. Misi yang sama denganmu.”

Lelaki itu berbalik lalu kembali mendekati kaca setelah menghela nafas panjang. Kedua mata topaz yang di milikinya mengarah ke bawah, melihat deretan mobil yang berhenti di depan lampu lalu lintas. Markas agen Yunho memang terletak pada gedung bertingkat sampai 5 lantai, ini adalah cara mereka untuk menutupi kecurigaan masyarakat tentang keberadaan mereka.

Karena tidak mungkin agen pembunuh seperti mereka akan menjadikan sebuah gedung sebagai markas—sebagian lainya selalu pada tempat terpencil. Yunho bangkit lalu mengjampiri klienya masih dengan membawa map di tanganya, klien melipat kedua tanganya di dada dan menoleh ke arah Yunho yang menatapnya meminta penjelasan.

Klien menyeringai kecil, “Lihat bis abu-abu itu,” kedua matanya mengarah pada bis yang di maksud, Yunho mengikuti arah pada tersebut dan menemukan bis panjang di posisi ke 3 dari depan.

“Di dalam situ, ada seseorang yang pernah aku temui di tempat kerjaku di Seoul, bersama temanya yang berisik hanya dia yang bersikap tidak peduli. Aku tertarik padanya ketika dengan jelas aku melihat ia bersama temanya membuat kericuhan di cafe, well… dengan senjata-senjata yang semakin membuatku kagum dan dia… sekarang ada di sini, di dalam bis itu,” kedua topaznya mengarah pada Yunho,

“Musuhmu, ada di dalam situ.”

Kedua mata Yunho membelak, ia menoleh dan mempertemukan kembali pandangan mereka. Lelaki itu kembali melanjutkan, “Dan ia tinggal bersama istri tercinta, Krystal. Ah, aku lupa, kini namanya menjadi… Kim Krystal.”seringainya tampak jelas pada wajah porselenya ketika aura membunuh di rasakanya dari sosok pemimpin U-know, agenya. Aura dendam dan membunuh bercampur, emosinya memuncak sampai map di tanganya ikut rusak saat tanganya mengepal.

“Aku mengucapkan banyak terimakasih karena telah mau ikut bekerja sama, aku, Shim Changmin, salam kenal.”


Sesuatu, sesuatu seperti ada yang menusuk tanpa wujud membuat Junsu menarik tanganya dari tangan Micky dan berbalik. Kedua oniksnya melihat keluar jendela dengan tajam. Ia yakin, ia merasakan keberadaan seseorang… bukan, tapi lebih.

Ya, seseorang yang sangat membencinya dan bagai kutukan selalu menghantui mimpi-mimpi Junsu. Ia tidak mendapati hal-hal yang mengganjal di luar sana, tapi ia menyadari ada sesuatu yang aneh pada gedung tinggi 2 blok dari gedung pertama ke belakang. Bis kembali jalan dengan kecepatan tinggi, ya, selama sopir bis ini masih waras, Junsu bisa bersikap tenang jika nyawanya tidak terancam jika bis ini mengalami kecelakaan karena seenaknya mengebut.

“Ano, kamu tidak apa-apa, Kim-san?”

“Jangan panggil aku dengan nama itu.”

Micky membeku. Sepasang mata oniks tersebut sudah memandanganya lagi, kali ini bukan tatapan dingin seperti barusan, namun penuh dengan ancaman-ancaman. Micky menelan ludah lalu menunduk, “Go-gomennasai, Junsu-san.”

Junsu menghela nafas panjang sembari memejamkan mata, ia harus bersikap tenang, ia harus lupakan kejadian barusan.

“Tidak apa-apa, panggil saja Junsu, aku bukan orang penting kok. Hm, mau main ke rumahku?”

Kami-sama! Apa yang telah Junsu katakan hampir membuatnya sendiri terserang stroke ringan—Oke, berlebihan, tapi ia tidak habis pikir ini baru pertemuan pertamanya dengan Micky dan tidak terhitung sampai 1jam lalu dengan tenang menawarkan untuk datang ke rumahnya sementara ia menolak teman-temanya di tempat kerja yang mau datang ke rumahnya.

Ajaib, Junsu mulai bersikap sedikit gelisah. Jika Micky menerima tawaran itu, maka habislah semua rencananya, rumahnya yang di penuhi alat-alat senjata akan ketahuan tentang agennya saat itu juga. Semoga menolak, menolak.

“He? Ke rumahmu? Boleh juga, aku sedang nganggur di rumah, ternyata kamu orang baik ya!”

Oh, pemuda ini… innocent atau bagaimana?

Di ajak seperti itu pada orang yang baru di kenalnya langsung di terima, bagaimana kalau ternyata Junsu malah akan membunuhnya? Atau merampoknya? Menculik? Apa mungkin ia sudah tahu Junsu bukan orang seperti itu? Junsu hanya menghela nafas panjang lagi ketika pada kalimat terakhir yang di ucapkan Micky dengan senang. Baik, orang baik… orang baik mana yang telah membunuh orang banyak? Bahkan membunuh ayahnya sendiri, semasa kecil sering mencuri dan memiliki organisasi hitam pula. Walau bukan punyanya juga sih.

“Turun di sini. Rumahku ada di komplek blok M nomor 32E,”

Micky melihat ke samping dan menemukan gang kecil menuju komplek yang Junsu maksud, ia mengangguk lalu turun dari bis beberapa menit setelah bis ini berhenti pada halte bersama Junsu sebelum bis ini kembali berangkat. Beruntung bagi Junsu karena tempat tinggalnya jauh dari kawasan organisasi U-know.


“Yappari! Ternyata masih SMA ya? Kyaa~ kamu imut banget lho!”

“Hehehe, kakak juga cantik, aku kira kakak masih sekolah, ternyata kakak istrinya Junsu-san! Beruntungnya~”

“Aish, padahal umurku sudah kepala dua, ternyata masih awet muda ya! Panggil aku Krystal aja, oke?”

“Eh? Ba-baik Krystal-neechan!”

“Jangan! Cukup Krystal aja! Kita ‘kan teman!”

“Te-teman?”

Krystal mengangguk cepat, “Uhm!”

“Aaah! Arigatou nee—uhm, maksudku Krystal!”

Dengan malangnya, Junsu, berdiri di depan kompor dengan memakai celemek merah muda yang dengan ogah-ogahan memasak sup untuk makan malam. Wajahnya jauh lebih kusut dari pertama ia dan Micky memasuki rumah. Sedang, sederhana, hanya 2 lantai dan taman kecil di halaman depan dan halaman belakang serta garasi dan lahan parkir yang memuat 1 mobil. Pagar serta gerbang berwarna hitam tinggi dan dinding luar rumah berwarna merah. Seorang istri, seorang anak perempuan dan seorang pembantu yang membawa anaknya.

Ketika baru membuka pintu, Junsu sudah disambut oleh pelukan hangat dari Krystal sebagai ucapan ‘selamat datang’ dan sempat-sempatnya bermain mata dengan Micky. Di sengaja atau tidak, Krystal hanya memakai kimono tebal dalam keadaan sedikit basah dan itu bertanda habis mandi.

Tidak di duga-duga, sebuah celemek merah muda di keluarkanya dari balik punggung lalu mengikat talinya di leher Junsu dan pinggang dengan cepat, memintanya yang memasak untuk hari ini. Ck, padahal belum juga membuka sepatu. Akhirnya, dengan langkah lunglai Junsu memasuki ruang makan yang bergabung dengan dapur di ikuti Micky.

Lagi, tidak di duga-duga, saat Krystal dan Micky tengah mengobrol, ternyata pemuda tersebut masih duduk di bangku 3 SMA di salah satu gakuen yang baru-baru ini selesai di resmikan sebagai gakuen baru di Tokyo. Micky juga mempunyai peliharaan anjing. Ah, tempat tinggalnya ternyata lumayan dekat, bukan…sangat dekat karena sekomplek.

Tunggu.

Ada yang terlewatkan, ya. Pertemuan pertama di bis itu, segerombolan pria besar yang memandanginya tajam, Junsu berani bersumpah ketika Micky mengucapkan kata ‘maaf’ untuknya, rasa terkejut muncul dari mimik pria-pria tersebut. Di tambah lagi dengan mereka turun dari bis, Junsu diam-diam sempat melirik ke tempat para pria barusan tempati dan telah kosong. Mungkin, mungkin saja…

Kedua oniks Junsu berputar melirik Micky dari sudut matanya, bagaimanapun juga, ini terlalu aneh untuk anak berumur 17 tahun mempercayainya yang bahkan 7 tahun lebih  tua darinya. Sampai datang kesini tanpa ada rasa takut atau kegugupan sama sekali. Sebuah kecurigaan muncul, sebuah alasan mengenai Micky adalah dia bagian dari organasisasi hitam lainya yang menyamar dan diam-diam akan menghancurkan rencana Junsu.

Satu kemungkinan, saat pernikahanya dulu dengan Krystal, ia masih belum mengetahui jelas organisasi mana yang datang atas perintah pemimpinya untuk mengacaukan acaranya. Krystal hanya mengatakan kemungkinan itu adalah suruhan ibunya yang selalu menentang perilaku Krystal. Kalau di ingat-ingat, pernikahanya itu…

“Honey~ kamu masak atau lagi meracik racun untuk membunuh kami, sih?”

“Tidak, tidak. Lupakan.”

Krystal mengernyit keheranan. Ia bangkit mendekati Junsu—setelah puas mengobrol dengan Micky di ruang makan lalu mengaluhi leher Junsu dengan kedua tanganya. Junsu masih berkutat pada pikiranya, ada hal lain yang membuatnya pening. Ya, rumahnya sekarang bagai disihir oleh tokoh legendaris yang tak lain adalah Harry Potter, tidak ada senjata yang malah  bergant oleh lukisan-lukisan suasana masehi dan barang-barang lainya yang ‘normal’. Apa Krystal telah menyadari kedatangan tamu dari beberapa jam lalu?

“Ada apa?” tanya Junsu datar mulai kembali tersadar dari dunia lain. Kedua tanganya kembali memegangi pinggiran wajan dengan lampin di sebelah tangan kiri dan tangan lainya memegang irus yang tengah mengaduk sup.

Krystal cemberut, “Senyum dong sekali-kali, nanti wajahnya cepat keriputan lho!”

“Hn.”

Oke, harus mencharger kesabaran terlebih dahulu jika ingin memulai pembicaraan dengan putra Kim ini. Tidak ada kata lain yang ingin di ucapkanya selain dua huruf tidak jelas artinya, mengingat sudah tinggal seatap hampir 6 tahun lamanya, Krystal belum bisa merubah wajah stoic kesayangan Junsu dengan yang lebih ‘segar’. Bahkan, anaknya sendiri sempat menangis ketakutan melihat wajah menyeramkan Junsu. Kalau dilihat-lihat, Junsu itu sebenarnya memang manis dan sangat sangat tampan, tidak ada jeleknya walau mau dandani seperti monyet pun. Sayangnya, sekali sudah menampakan stoic andalanya, lupakan pernyataan mengenai hal mengagumkan barusan, tidak akan berlaku dilihat dari sisi mana pun, ‘Kan?

Sembari menggerutu kecil, Krystal menarik kedua tanganya dan mendorong bahu Junsu kesal, Ia berbalik dan kembali pada tempat sebelumnya.

“Suami macam apa dia? Aku seperti memiliki suami berwujud patung.” desis Krystal masih memandang punggung Junsu sangat kesal.

Micky berdehem, “Ehm, kalau aku menganggu, lebih baik a-”

“AH! Enggak kok sayang~”

“E-eh?!”

Junsu mendengus, “Che, kebiasaan.”mengingat dimana dan kapanpun jika merasa senang dengan siapapun Krystal–dengan wajah berseri-seri akan mengatakan ‘sayang’ sekalipun pada pedagang es cendol (?).


Derit suara gerbang digeser, sepasang kaki keluar dari dalam sana ketika gerbang dibuka, tampak senyum ramah di wajahnya setelah membungkuk memberi salam pada kedua orang di depanya. Rube kelam yang di milikinya mengarah pada sepasang suami istri yang tengah menghampirinya, namun di kedua mata tersebut tidak ada sama sekali yang turut sama dengan air wajahnya kini. Begitu mereka sampai di ambang gerbang, Micky segera meninggalkan tempat dengan sedikit tergesa-gesa sembari sesekali melirik jam tangan sportnya. Sebelum Micky mencapai 10 meter, Krystal berseru sambil melambaikan tanganya,

“Main lagi ya ke sini! Be carefull!!”

Dengan tersenyum lebar hingga sempat Micky melihatnya sebelum benar-benar hilang di tikungan, Junsu mengernyit ketika Micky mengarah pada jalan keluar dari komplek, setahu ia, barsuan Micky menjelaskan ia tinggal hanya beberapa blok dari rumahnya. Atau mungkin hanya beralasan agar bisa terus berlama-lama di kediamanya? Tapi kenyaatanya, Micky memilih pulang lebih dulu sebelum benar-benar petang berganti menjadi malam dan tentu dengan alasan ‘ibuku khawatir’.

Selagi Junsu kalut dengan pikiranya, Krystal kembali menurunkan lengan kirinya dan senyumnya memudar ketika sosok itu hilang. Wajah yang sama stoic-nya dengan Junsu, ia lalu berbalik lalu membuka tali kimononya,

“Cepat kemasi barang-barangmu, kita harus berangkat sekarang.” Ujarnya lalu berlalu meninggalkan Junsu yang—sedikit—terhenyak begitu mendapati Krystal yang sudah mengenakan celana legging hitam, t-shit abu-abu dengan mantel tipis berwarna gading. Di paha kiri sudah terpasang kantung kecil hitam berisi sebagian senjata dan belum lagi kantung kecil dipinggang kirinya. Ketika ia sampai di depan pintu, ia mengeluarkan sebuah tali ikat rambut warna putih lalu menggelung rambutnya.

Ia berbalik, sepertinya harus menjelaskanya dulu, ia berbalik lagi lalu berjalan masuk dengan cepat di ikuti Junsu yang mengejarnya setelah menutup pintu dengan kencang hingga meghasilkan suara debam-an kecil. Junsu segera menyesejajari langkahnya dengan Krystal.

“Aku tidak menyadari ternyata alasanmu dengan sehabis mandi serta menggunakan kimono barusan adalah sebagai tipuan untuk Micky. Ada apa sebenarnya?”

“Tidak perlu banyak bicara, lekas kerjakan apa yang telah aku perintahkan. Kita datangi acara oprah besok pagi, ada yang harus kamu lakukan.”

“Maksudmu? Kau tertarik dengan acara seperti itu?!” kali ini nada berbicara Junsu lebih tinggi dan agak membentak ketika Krytal membuka lemari abu-abu di kamar mereka yang letaknya paling belakang. Sebelum menjawab pertanyaan Junsu, ia sudah membuka sebuah kotak besar di dalam lemari pakaian yang di sembunyikan di antara tumpukan baju.Menarik keluar dua senapan, delapan buah peledak kecil berukuran 4 lebar x panjang, tiga buah pistol Ruger Elsie dan sebuah kotak hijau gelap berisikan bahan-bahan peledak dan cadangan peluru.

Semuanya di masukan dalam ransel olah raga warna merah terang di atas ranjang dengan cepat, sebelum semuanya benar-benar selesai, ia meninggalkan sebuah pistol lalu mengarahkanya pada kepala Junsu yang berada di samping kananya.

Kedua oniksnya memandang tajam, “I’ll kill you now if you-“

“Ok, ok. Calm down.” Kedua tangan Junsu mengangkat di depan pistol sebelum sebuah peluru membolongi kepalanya. Ia benci jika harus bersikap lemah seperti ini, tapi apa boleh buat. Yang harus ia lakukan adalah cukup menuruti peritah Krystal dan akan mendapat penjelasanya mungkin ketika di perjalanan. Ia berbalik lalu segera mengeluarkan tasnya dari kolong kasur, selagi ia melipat pakaian…

“Bagaimana rumah ini bisa begitu cepat berubah?”

Krystal terkekeh kecil, “Karena dua anggota kita mengawasimu dan melihatmu bersama Micky di dalam bis dan memberitahuku kamu mengajaknya kemari, maka aku segera mendekorasi rumah sebisaku dalam 15 menit.”

Ha, kini Junsu mengerti mengapa segerombolan pria di dalam bis saat itu terus memandangnya. Ternyata…Apa? Dua orang?

Kenyataanya, yang Junsu lihat bahkan lebih dari empat orang. Ya, kesimpulan yang dapat Junsu simpan sebagai poin pertama dalam daftar kecurigaanya—oke, lagi-lagi ini berlebihan, yang jelas ia menaruh poin bahwa pria-pria tersebut bodyguard atau semacam agen-agen kecil yang di punyai Micky, tidak salah lagi, semua bukti sudah jelas, namun… apa mungkin anak sepolos dan dari dengan diam-diam Junsu mengecek tasnya, hanya terdapat barang-barang yang biasanya anak muda bawa dan di dalam ponselnyapun tidak ada yang mencurigakan semua, Micky salah seorang agen atau organisasi yang menyamar?

“Apa anggota lainya ikut terlibat?”

Tidak ada balasan sampai menit selanjutnya, sampai mereka keluar dari rumah dengan sebuah mobil audi biru mengkilap, hanya terus di kelilingi keheningan. Junsu hanya di perintah lagi untuk menuju airport tanpa tahu tujuan yang sebenarnya. Dari balik kaca spion, Junsu dapat melihat Krystal yang hanya terus membenahi alat-alatnya. Lalu sebuah suara mulai memecah keheningan.

“Sebenarnya, organisasi kita tidak terlibat, hanya kita berdua dan kita akan ke Inggris malam ini juga.”

Hampir saja Junsu akan menabrak sebuah truk bila ia tidak dapat mengendalikan kesadaranya antara mencerna perkataan Krystal dan… ya ini aneh, sangat aneh karena sosok Micky terus terngiang-ngiang di benaknya. Entahlah, Junsu bahkan tidak ingat lagi apa yang sedang di pikirkanya tentang bocah sekolah itu.

“Akan aku beritahu tujuanku nanti di airlines.”

Kata-kata terakhir Krystal sebelum akhirnya mobil terhenti di depan lampu yang menunjukan cahaya merah dalam kurun waktu 125 detik lamanya dan kedua bibir masing-masing saling bertemu ketika Krystal mengalungi tanganya di leher Junsu dan membawanya mendekat. Pada detik 60 ciuman mereka memanas, detik selanjutnya terus berlanjut sampai ketika lampur hijau menyala, mobil dijalankan dengan Krystal yang kembali pada posisi duduknya sambil mengenakan kembali mantel yang sempat menjadi korban ‘permainan’ tangan Junsu, sebuah tanda merah tampak jelas pada rahangnya dan sosok pemuda di sampingnya hanya menyeringai kecil.

Walau,tidak di lakukan atas dasar yang bernama cinta.

Seperti halnya ketika kembali mengingat bocah pirang berlarian mengitari danau bersama bocah berambut hitam kelam yang memiliki safir saling tertawa dan mengejar satu sama lain. Bermain petk umpet lalu salah seorang terluka, dengan segala kekhawatiran, bocah pemilik mata safir itu memapahnya pada sang kedua orang tuanya dan ia dapat melihat jelas bagaimana si bocah pirang sedikit meringis ketika kapas beroleskan obat merah mulai menuntul-nuntulkan pada luka di lututnya, sang ibu mengecup puncak kepala si bocah pirang lalu mendekapnya erat-erat, menghilangkan rasa perih pada kakinya.

Kasih sayang penuh di di dasari oleh cinta,Walau hanya mengenangnya—kejadian yang berlangsung tidak lebih dari 12 tahun di rasakanya.

Tiba-tiba sebuah mobil menyerempet mobil mereka…

To Be Continued

4 responses

  1. Kim Yuki

    knpa joongie-q blum kluar jg y?

    Wah, wkin kren ni crita. P lg crystal, dya emank agen yg hbat!!

    Ayo cpt d lnjtin ja lah ni crita!!!
    LANJUT…!!!!

    16 Oktober 2010 pukul 16:26

  2. riananotraina

    minnie keluar,,
    yey!

    17 Oktober 2010 pukul 07:26

  3. Zeedictator

    woo.. bingung ni mo bela kubu yg mana.. yg pasti ceritanya bagussss,, hm, ini ntar ga ada unsur cinta2annya ya?

    17 Oktober 2010 pukul 23:16

  4. Yucassielf

    Wah asyik smua.a dah nongol kcuali jaema.. -_-a
    Eh author, dsini chunpa jd nax baek” y?? Chunpa keren abiz dah..jgn” Junpa mulai sk ma Chunpa y?? O.o
    lanjut…

    18 Oktober 2010 pukul 15:50

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s