fanfiction for our soul

XIAH “also kill the bastard like you”


Warning : Alternative Universe, Out Of Character.

Disclaimer : I do not own them.

Genre : Action, Romance, Suspense.

Note : Boyslove (Yaoi), slight Straight, PG 15 – ?, cerita masih dalam bagian masa lampau, akan jelas setelah masuk multichap.

Author : Intan9095

#

PROLOG 2

#

3 tahun kemudian…

12 September 2004, Seoul, Korea Selatan.


“Ya! Junsu-ah!” sosok pemuda berambut final fantasy melambaikan tanganya pada Junsu yang  baru saja akan menaiki taksi di lobby airport. Ia tersenyu, hangat sembari berlari kecil  mendekati Junsu,

“Ah, kau.”

Langkah Jaejoong terhenti. Belum sampai ia di hadapan Junsu, ia sudah mendapat balasan tidak  enak hati. Jaejoong mendengus,

“Bocah, apa yang telah kamu lakukan sampai menjadi beruang kutub sekarang?”

Junsu tidak menjawab. Hanya memutar kedua matanya lalu menutup pintu taksi, “Batal.”  ucapnya dingin dari jendela pintu belakang pada supir taksi. Junsu kembali memakai ranselnya  yang sempat ia simpan di lantai lalu meninggalkan Jaejoong. Jaejoong bengong.

‘Cih, bocah itu!’ Jaejoong mengejar langkah Junsu yang masuk ke dalam sebuah cafe kecil di  depan airport.

Pintu di buka, bunyi lonceng tergema. Jaejoong memandang seluruh ruangan mencari Junsu, namun pandanganya terhenti pada salah seorang pelayan di  dekat lorong menuju toilet. Yang terlintas di benak Jaejoong saat melihat pemuda berkaki  panjang dengan perawakan polos serta masih sangat muda itu adalah…

“Dia itu manusia atau tiang listrik di depan apartemenku ya? Mirip sekali.” gumam Jaejoong  sarkas. Sayangnya, sekecil apapun ia bersuara, ternyata sosok yang sedang dipikirkannya sudah mendelik kearahnya. Ternyata, juga memiliki gelombang pendengaran yang  kuat sekalipun 10 meter juga.

Jaejoong mendesah panjang, kembali pada misinya mencari Junsu dan baru sedetik ia menoleh  ke kiri, ia menemukan pemuda yang dicarinya. Hanya dengan mengenakan t-shirt tanpa lengan  dan panjang bajunya sampai se-paha, bergambar wanita yang agak sedikit ‘vulgar’ ternyata.  Gambaran mengenai style pakaian Junsu silahkan ingat pakaianya yang Junsu pakai saat di  pantai, Sydney *XD* dan sepatu vans biru polos. Jaejoong segera menghampiri tempat Junsu  yang sedang berkutat pada sebuah buku tebal.

“Kim Junsu, kamu lupa padaku? Itu menyedihkan.”

“Hn.”

“Aish! Kemana Junsu si pantat bebek itu?! Haaah~”

Jaejoong menghempaskan diri pada sofa di seberang Junsu dan menenggelamkan punggungnya  dalam-dalam pada sandaran sofa empuk. Keningnya berkedut jengkel sampai-sampai perlu  memijitnya dengan jemari kirinya, matanya menatap lurus ke arah Junsu yang tertunduk dengan  hikmat membaca bukunya.

Keheningan melingkupi keduanya. Tidak ada suara yang keluar dari mereka kecuali gerakan  Jaejoong yang merubah-ubah posisi agar lebih nyaman sementara pergantian lembar-lembar  kertas dari buku Junsu dan suara lainya yang biasa terjadi di tempat-tempat seperti ini. Pemuda  pemilik safir dan rambut jenis final fantasy ini tidak melepas objek dari kedua matanya untuk  terus mengingat kenangan demi kenangan semasa belum adanya organisasi yang terbentuk  dalam masa itu.

Bocah lelaki kecil, memiliki sepasang mata berbinar dengan tubuh mungil, serta manis. Ah,  kenangan itu…

“Tidak kuduga, cita-cita memiliki rambut es krimmu tercapai juga. Kupikir warnanya akan  menjadi hijau atau ungu, malah mungkin merah muda. Tapi ternyata malah warna uban. Benar- benar konyol.”

Ya, apa yang di harapkan Jaejoong agar Junsu dapat berkata tanpa irit bicara memang tercapai  namun tidak untuk tata bahasanya yang jauh lebih buruk dari yang di bayangkan. Baginya, itu  ucapan ironis dari seorang adorable seperti Junsu. Atau memang sudah tidak ada lagi kesan- kesan itu? Apa memang sudah jadi beruang liar seperti apa yang diduga-duganya?

Jaejoong bangkit dan sedikit mencondongkan tubuhnyapada Junsu dan merampas buku dari  genggaman Junsu dengan kasar.

“Bocah tidak tahu sopan santun! Aku ini lebih tua darimu tahu! Ck, menyebalkan!”

“Kembalikan, kau merampok bukuku dan itu termasuk melanggar aturan pihak berwajib dan–”

“Berhenti! Sudahlah! Kamu ini memang keras kepala sekarang, memangnya istrimu telah  berbuat apa padamu sih? Setahuku Krystal adalah gadis baik dan periang, seharunya kamu juga  akan seperti dia! Huh!”

“Maaf, ada yang mau di pesan?”

Keduanya beralih pada suara bernada sarkasme yang tak lain adalah pelayan cafe, berkaki  panjang dan perawakan polos bagai tak memiliki dosa dan sangat muda. Ha, kedua mata topaz  pemuda tinggi itu jauh memicing ke arah Jaejoong dari pada memandang pemuda lainya.

“Jangan mengumbar kemesraan di hadapanku, memuakkan.”

Lagi. Jaejoong jawsdrop kali ini, keningnya berkedut frustasi. Tanpa membalas Junsu, ia  langsung mengambil menu di tangan pemilik topaz di hadapanya dengan sama kasarnya.  Sekarang sudah benar-benar tidak bisa santai lagi, kedua orang di depanya telah membuatnya  harus menahan diri untuk tidak menjambak rambut, JAIM, wajib.

“Susu panas, satu.” Jaejoong kembali menaruh buku menu di meja, tepatnya di hadapan pelayan  berdiri. Dari apa yang di pesan Jaejoong memang sengaja menyindir si pirang di sebrangnya  dengan cuma-cuma dan dia yakin si pirang menyadarinya–cara memandangnyapun sudah  mengerikan, Jaejoong menampak ekspresi takut yang di buat-buat. Ia segera beralih melirik tag  name pelayan, “Shim Changmin, jangan lama-lama ya pesananku. Ah satu lagi, aku suka kamu.”

Cengok.

“What do you think?!”

“Maksud anda?!”

“Ha? Ada apa ini? Kok malah-”

“Oh my God sun.”

“Hei! Anda pirang! Menjijikan! Muncrat tahu!”

“Aish! ma-maksudku bukan-”

“Fitnah, Aku tidak pernah muncrat dalam seumur hidup saat berbicara.”

“Alesan! Yang jelas tanganku jadi kotor! Ah! Kamu ubanan! Maksudnya apa barusan?!”

“Enggak sopan!! Model ini lagi trend! Dasar udik!”

“Bastard.”

“Kalian berdua ini ya… arrgh!” geram Changmin mengebu-ngebu dengan kedua tanganya  mengepal kuat di samping. Kedua matanya berkilat-kilat. Pertemuan 3 pupil, 3 jenis mineral yang sangat menarik. Hanya yang satu bercedak  jengkel dan satunya pada ekspresi dingin dan tenang.

Tanpa mengambil buku menu, Changmin segera meninggalkan tempat menuju kasir membuat  bon pesanan Jaejoong barusan. Bagaimanapun juga, pengunjung adalah raja. Ya, Changmin  harus bersabar dan lupakan kejadian barusan.

‘Sial, kata-katanya barusan terus terngiang! Aish!’ pikir Changmin menggerutu sendiri di samping  meja kasir dengan menuntul-nuntulkan koin logam di tanganya. Penjaga kasir hanya bisa ikut  jawsdrop.

Hah. Dia bahkan tidak tahu siapa dia dan siapa pula pemuda pirang itu. Keduanya bagai api dan  es. Peduli apalah tentang mereka. Namun, cukup untuk menarik perhatianya. Changmin melirik  mereka dari sudut matanya,

‘Sangat menarik. Aku yakin, mereka bukan orang biasa.’

“Ck, dia itu sudah salah paham duluan! Junsu-ah, kamu juga semakin menyebalkan. Aku tidak  mengerti bagaimana jalan hidup ini, mengapa orang banyak bertingkah diluar dugaan.” desis  Jaejoong menyimpan buku tebal Junsu di sampingnya, di sofa.  Butuh beberapa detik baginya  untuk kembali rileks lalu menghirup oksigen banyak mengisi paru-parunya yang ikut frustasi  ternyata *lebay*.

Kini, kedua matanya kembali menatap lurus kearah Junsu yang menerawang jauh keluar jendela,  memandang hamparan luas landasan di sana. Jaejoong menopang dagu dengan kedua tanganya  di atas meja, jari-jarinya saling bertaut, menatap dengan keseriusan.

Menyadari dirinya di perhatikan dalam-dalam, Junsu menghembus nafas panjang. Kedua oniks  berputar ke kiri mendelik pada Jaejoong dari sudut matanya.

“Berapa umurmu sekarang?”

“Mau memberiku kado, hah?”

“Cih, memang tidak bisa santai ya ka-”

“10 tahun lalu aku ditinggalkan dan di buang oleh keluarga. Tidak lagi mempunyai tempat untuk  berteduh, bahkan kau menolakku saat mendatangi rumahmu. Yang aku punya hanya beberapa  senjata dan ilmu dalam menggunakanya aku kembangkan sendiri. Untungnya tidak sia-sia aku  mempelajari itu semua bertahun-tahun karena aku bertemu dengan Krystal,  ia menyaksikan dengan jelas bagaimana aku menjatuhkan bodyguardnya ketika mereka  bersikap dingin terhadapku sebagai anak jelata di jalanan. Hanya dengan 2 tahun, akhirnya aku  dapat-”

Junsu menghembus nafas panjang. Keduamatanya menjadi suram ditelan kegelapan setelah  tidak sadar semua kenangan terlintas jelas di benaknya. Kedua tanganya mengepal geram di  atas meja.

“Lupakan.” Junsu menutup kedua matanya dengan perlahan, menetral diri saat  jantungnya mulai memompa cepat darah.

Suara gemuruh udara dari Airlines ANA mendarat di landasan begitu nyaring hingga sebagian  pengunjung cafe menutup telinganya. Mata itu…oniks yang terus mengamati keberadaan  airlines sampai mendarat sekarang terus diamatinya lekat-lekat. Beruntung karena tepat waktu,  sebagian bulir-bulir hujan mulai berjatuhan menabrak bumi, mengalir sempurna dari lorong pipa  pinggiran atap sampai kaca pemisah Junsu dengan pagar tinggi beraliran tinggi.

Sempurna…seharusnya. Keluar dari airport dengan tenang lalu pulang ke pekarangan lama dan  berharap mereka masih mengingat dan mau menganggap pemuda pirang hidup selain dari  kematianya karena kecelakaan. Kesalahan apa yang diperbuat? Ia hanya ingat melukai sang  ayah di bawah sadar. Tidak ada kebohongan namun apa peduli mereka semua, tetap menaruh  dendam pada bocah kecil dan memutuskan menjadikanya ‘sampah’.

“Susu panas. Ini pesanan anda.”

Sebuah suara itu lagi. Rendah dan bergetar. Beribawa walau tidak akan bisa sewibawa cara  berkomunikasi Junsu sampai saat ini. Tidak bersikap dingin dan acuh seperti dia pula. Senyum  terpampang jelas di wajah bening tanpa cacat tersebut, bukan, senyum di selubungi aura gelap.  Ternyata pemuda ini masih menaruh ‘perhatian’ Jaejoong yang tengah menatapnya.

Biru dan Coklat.

Apapun senyum itu, Jaejoong lebih terpukau pada kedua mata topaz Changmin. Tersirat  kelembutan pengganti kata tak terucap, ia tahu tidak mungkin langsung ramah pada dirinya  setelah kejadian barusan. Tapi ia sudah mengetahui…seharusnya. Mata memang tidak bisa  berbohong. Selalu jujur. Jaejoong semakin larut pada keindahan topaz, sampai melupakan si  pirang yang tertunduk lemah.

Changmin beralih, memutus kontak. Untuk pertama kalinya kegugupan hinggap sampai rasa  debar jantung tak tertahankan membuatnya merinding. Ada banyak kisah yang tertera pada  kedua mata safir itu, dan Changmin tidak dapat menggalinya begitu saja, pertemuan awal sudah   membuatnya hampir memutuskan untuk berhenti mencari sesuatu yang unik tentang dua  pemuda di depanya.

“Thank you.”

Changmin bergegas menaruh gelas berisi susu panas di meja lalu beranjak meninggalkan  tempat…

“Yang barusan itu, ehm… aku menyukai matamu. Hanya itu.”

Pemuda berkaki panjang pemilik topaz itupun berhenti yang baru saja beberapa meter dari  tempatnya. Beruntung sepi, tidak banyak orang yang akan terkejut mendengar penyataan  tenang dari pemuda tampan berbahu lebar itu. Tanpa membalas, Changmin kembali berjalan  meninggalkan tempat dengan cepat. Sudah cukup, ia harus segera mengambil waktu  istirahatnya di kabin untuk memulihkan detak jantung tak beraturan ini. Sementara Jaejoong  sendiri hanya menyeringai penuh maksud dan menghela nafas.

“Tapi aku jauh lebih menyukai kedua mata oniks ini…” kini ia beralih lagi pada Junsu.

“Hn. Cepat habiskan, aku ingin cepat pu-”

“Ikut denganku, akan aku temani. Tidak ada penolakan, beruang kutub.”

Tatapan tajam mengarah ke Jaejoong yang tidak memperdulikan mau itu membunuh atau  semacamnya, mulai hari ini harus bisa terbiasa dengan hal-hal pesimis tersebut.

“Peduli apa dengan masa lalumu, itu sudah berlalu. Aku menyayangimu, bahkan kamu sudah  memiliki istri dengan bibit penghasilan besar. Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Semua sudah ada di hadapanmu. Tapi maaf, aku tidak bisa menerima apabila  kamu memintaku untuk ikut bersama organisasimu. Aku bisa mendirikan markasku sendiri, aku bisa  mengembangkanya, karena aku juga punya tujuan lain dengan bekal ilmu yang sama sepertimu. Aku  harap kita tetap bisa bekerja sama tanpa ada permusuhan.”

Keduanya saling bertemu, biru dan hitam. Terang dan gelap. Kalimat terakhir barusan  mengartikan sama saja agen yang di miliki Junsu berkabut hitam dan akan di lawan oleh  Jaejoong yang mengartikan berkabut putih. Apa ini sebuah tantangan tidak langsung darinya?  Atau mengajukan perang? Oh, jaman sekarang tidak ada lagi perang.

“Apa itu berarti, kau…”

“Ya. Aku yakin, suatu saat nanti aku akan melihat bagaimana peluru dari pistol kesayanganku menembus otak tololmu.”

BUAGH!

Jackpot bogem mentah di dapati Kim Jaejoong, sukses mengenai pelipisnya dari seorang beruang yang di sebutnya. Sofa terpelanting ke belakang di sertai gelas susu yang tersenggol tangan Jaejoong membuatnya jatuh pecah. Junsu melompat ke meja dan kembali menonjok wajah Jaejoong bertubi-tubi sampai mejapun ikut goyah dan jatuh.

Semua pandangan para pengunjung membulat terkejut. Sebagian segera keluar tanpa membayar pesananya dengan ketakutan. Sebagian menyaksikan bagaimana kedua pemuda tampan yang terkesan highclass itu saling kelahi. Sebagian lagi menjerit dan berhamburan keluar.

“Brengsek!” umpat Junsu lalu melayangkan kepalan pada wajahnya lagi dan segera di tahan oleh tangan Jaejoong yang lainya.

Posisi Jaejoong sangat tidak menguntungkan dengan ditindih tubuh Junsu. Kepalan lainya menyusul ke perutnya dan menghasilkan bercak darah di mulutnya. Sebelah kaki Jaejoong menangkup kaki kiri Junsu lalu menariknya dan memutar posisi sebaliknya. Sayangnya si pirang lebih lihai untuk membiarkan Jaejoong memukul lantai sementara dirinya sudah bangkit dalam posisi tegap kembali.

“Tidak ada yang pernah bisa melukaiku, kau harus ingat itu, bodoh.”

Entah dari mana benda itu muncul, moncong pistol kesayanganya sudah mengarah tepat ke jantung Jaejoong yang masih dalam posisi setengah berbaring dengan menyangga tubuh dengan lengan kirinya. Keduanya saling memandang penuh kebencian, tidak peduli bagaimana semua orang di sana menatap ngeri pada keduanya, Tangan kanan kiri Junsu yang bebas bersembunyi di dalam saku celana.

Termasuk Changmin yang mengintip semua kejadian barusan dari balik pintu. Tidak dapat di gambarkan bagaimana ekspresinya saat itu, kabinnya gelap dan hanya menampakan kedua matanya yang berkilat.

Jaejoong geram, menggigiti bibir bawah dan semakin menyipiti kedua matanya. Pelatuk perlahan ditarik…

DOR!

#

End of prolog

m(_ _)m

maaf, membosankan ya? iya ~ sya ndak smpet edit2 bgian yg ga pentingnya nih T^T komen ya… saya mohon T^T ini udah slese bgian prolog kok😀

16 responses

  1. riananotraina

    bahasa.a tinggi sekali
    aq ga ngerti2 amat,
    T_T
    *dasar otak letoy*
    jd jae mati gt??
    itu td kok ada DOR!
    suara tembakan junsu kan?
    cerita.a bagus,,
    jarang” baca ff db genre action…
    yun ntar muncul ga?

    27 September 2010 pukul 19:58

    • intan9095

      hoalah O,o
      hmm, mati enggaknya liat ikuti sja cerita ini😄
      iya suara dri pistol junchan ,
      makasi❤
      munculah, liat aja di banner *promosi*
      mkasi ya dah mau baca😀

      27 September 2010 pukul 20:14

  2. fellyn

    kereeen….
    karakter junsu dingin yaaah

    lanjutin nya jgn lama2 yah..
    soalnya penassaran ma keadaan jaejoong oppa…

    27 September 2010 pukul 21:04

    • intan9095

      iyak, kali2 dingin dong😄
      sip sip

      28 September 2010 pukul 18:41

  3. riananotraina

    oke dah
    aq tunggu kelanjutan.a,

    27 September 2010 pukul 21:08

  4. Zeedictator

    waa. bagus ceritanya.. aq suka bgt ama cerita yg ga menye2.. hm, ntar pairingnya jd jaemin ya? boleh jg. hbs bosen kl yunjae mulu. :p

    woo junsu galak bgt. –“

    27 September 2010 pukul 23:35

    • intan9095

      makasi<3
      gak manye2?? manye2 tuh paan yaK
      O,o
      mslh pair itu rhasia, ikut aja critanya XDD *wkwk*
      aslinya jg kan junchan emng galak -,-
      *buka aib**disate*

      28 September 2010 pukul 19:56

  5. intaaaan

    awas ajj kau bqin jaeku metong…

    *siapin golok buat next ff klu si jae metong*

    28 September 2010 pukul 00:58

    • intan9095

      wkaka, metong kagak ya?
      wkwk😄 kita liat ntar hehehe

      28 September 2010 pukul 19:57

  6. Kim Yuki

    wah…junchan mkin kyen…
    Dya mkin dgin..sdgin es batu yg bru kluar dri freezer.

    Omo….knpa da suara ‘DOR’??
    Joongieku g mti kan?? Jgan d matiin lah joongie.a….
    Q msh blm siap jd jnda.#pletak *d jtak yunho*

    pkokx Kim Jaejoongq g bleh ampe mati.
    *nyiapin golok breng hanae klo chap dpan JJ d bkin mati!*

    cpet lanjut..!!!

    28 September 2010 pukul 20:16

  7. riri

    Anyeong new reader nie:-)

    waa, junsu sadisnya, tp cool🙂
    jejung q *d.geplak yunho* d.tmbk? omoo tdaaaaak… tar q ma cpa?*ga pntng* hehe
    lanjut jut..

    30 September 2010 pukul 11:49

  8. ieie041093

    cepet lanjutin
    q belum bisa mudeng kenapa junsu jadi gtu
    terus mrk py organisasi pa?
    Trus trus trus
    q pusing bacanya…
    *dijitak*

    weiw…minjae slg suka ye?
    Hehe

    lanjuuut
    q tunggu moment yoosu muncul
    huhu

    3 Oktober 2010 pukul 08:58

  9. pnazaran ma lnjutanx,

    26 Maret 2011 pukul 14:58

  10. JungAngel_LovelyXiah

    Wah,My Junsu mw bnuh Umma JJ,tp nnti klo Appa Uno ngeduda ma ak aj*dtndng Umma JJ#pluk My Junsu*Bhsx sdkit tdk ak mngrti

    28 Juni 2011 pukul 08:17

  11. wuuuuuuuuuuuuuihhhhhhhhh………… critanya kren, tp agak susah dimngerti…

    31 Juli 2011 pukul 10:49

  12. han aram

    bahasa narasi nha rada rumit ia author..

    btw..
    junsu sama jeje itu temenan, rival, apa musuhan?
    disini couple nha jeje itu changmin yah?

    22 September 2011 pukul 10:03

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s